Anda di halaman 1dari 16

Mata Kuliah : Analisis Thermodinamika Dosen Tugas Kelompok : Prof. Dr. Ir.

Effendy Arif, ME : Makalah Presentase : IV

Hari/Tanggal : Senin 04 Juni 2012

Penelitian Termodinamika Dan Termofisika Penggunaan Hidrokarbon Dalam Mesin Pendingin Rumah Tangga (Kulkas)

DI BUAT OLEH :
Novarini Amrullah Ariyanto P2201211409 P2201211002 P2201211402

JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Abstrak Bidang penelitian mencari dan mengembangkan pendinginan dan pengkondisian udara yang diaplikasikan pada penggunaan refrigerant yang dihubungkan tidak hanya pada kebutuhan pemeliharaan lingkungan semata, tapi juga mempunyai kepentingan yang lebih besar mengenai perubahan yang dibutuhkan untuk efisiensi energi dari peralatan. Berdasarkan gambaran tersebut, pemaparan ini berhubungan dengan evaluasi termodinamika pada penggunaan refrigerant hidrokarbon pada sistem pendingin rumah tangga (kulkas) yang menggunakan HFC134a sebagai fluida kerja. Suatu analisis teori perhitungan telah mengembangkan R134a, propane (R290a) dan pemilihan campuran (R290/R600a, persentase masing-masing 60%/40%, R290/R600a/R134a, persentase masing-masing 40%/30%/30% dan R600a/R290, persentase masing-masing 50%/50%) dalam siklus refrigerasi standard ASHRAE, dengan menggunakan sifat-sifat

termodinamika dan termofisik yang disediakan oleh software REFPROP 6.0. Hasil simulasi perhitungan antara fluida yang digabungkan (dicampur) adalah untuk mengetahui bukti/fakta yang terbaik untuk HFC134a. Pada tulisan ini, telah diketahui bahwa hidrokarbon mengurangi tingkatan tekanan pada kondensor dan evaporator, selama daya kompresi yang lebih kecil yang dibutuhkan system, karena sifatsifat termo-physical yang dimiliki fluida. Penggunaan fluida ini juga menjadikan

temperatur lebih rendah pada kondsisi keluar kompresor, memperpanjang usia komponen utama pada system.

PENDAHULUAN Refrigeran hidrokarbon dapat digunakan sebagai alternatif pengganti CFC,dan HCFC. refrigeran ini memiliki ODP nol dan GWP rendah, dan dapat digunakan langsung pada sistem CFC dan HCFC penghematan daya yang cukup signifikan. 1.1 Latar Belakang Mesin refrigerasi merupakan mesin yang sangat luas penggunaannya. Penerapan teknik refrigerasi yang terbanyak adalah dalam proses pendinginan yaitu pengkondisian udara dan refrigerasi industri yang meliputi pemrosesan, pengawetan makanan, peyerapan kalor dan bahan-bahan kimia, perminyakan dan industri petrokimia. Komponen terpenting dalam mesin refrigerasi adalah refrigeran. Refrigeran merupakan fluida kerja yang bersikulasi dalam siklus refrigerasi. Refrigeran menyerap panas dari satu lokasi dan membuangnya ke lokasi yang lain, biasanya melalui mekanisme evaporasi dan kondensasi. Perkembangan mutakhir dibidang refrigeran utamanya didorong oleh dua masalah lingkungan, yaitu lubang ozon dan pemanasan global. Sifat merusak ozon yang dimiliki oleh refrigeran utama yang digunakan pada periode ke-dua, yakni CFCs. Setelah keberadaan lubang ozon di lapisan atmosfir diverifikasi secara saintifik, perjanjian internasional untuk mengatur dan mengatur dan melarang penggunaan zat-zat perusak ozon disepakati pada 1987 yang terkenal dengan sebutan protokol Montreal. CFC s dan HCFCs merupakan dua refrigeran utama yang dijadwalkan untuk dihapuskan masingmasing pada tahun 1996 dan 2030 untuk negara-negara maju. Sedangkan untuk negaranegara berkembang, kedua refrigeran utama tersebut masing-masing dijadwalkan untuk dihapus pada tahun 2010 (CFCs) dan 2040 (HCFCs) . Pada tahun 1997, Protokol Kyoto mengatur pembatasan dan pengurangan gas-gas peyebab efek rumah kaca, termasuk HFCs. Protokol Montreal memaksa para peneliti dan industri refrigerasi membuat refrigeran sintetik baru, HFCs (Hinro Flouro Carbons) untuk menggantikan refrigeran lama yang yang ber-klorin yang dituduh menjadi penyebab rusaknya lapisan ozon. Weatherhead dan Andersen (2006) mengemukakan bahwa sejak 8 tahun terakhir, penipisan kolom lapisan ozon tidak terjadi lagi. Kedua peneliti ini meyakini akan terjadinya pemulihan lapisan ozon. Meski demikian, keduanya tidak secara jelas merujuk turunnya penggunaan zat perusak ozon sebagai penyebab pulihnya lapisan ozon. Powell (2002) menyebutkan bahwa adanya kerjasama yang sangat baik antara prosedur refrigeran dan perusahaan pengguna refrigeran telah memungkinkan terjadinya transisi mulus dari era penggunaaan CFC s

secarabesar-besaran di tahun 1986 hingga penghapusan dan penggantiannya dengan R134a di tahun 1996. Banyak kalangan menyebutkan bahwa Protokol Montreal adalah salah satu perjanjian internasional dibidang lingkungan yang paling berhasil diterapkan. Saat ini, HCFC s (yang pada dasarnya merupakan pengganti transisional untuk CFCs) telah memiliki dua kandidat pengganti yakni R410A (campuran dengan sifat mendekati zeotrop) dan R407C (campuran azeotrop) (Kruse,2000). Jika Protokol Montreal dan Kyoto dilaksanakan secara penuh dan konsisten, maka secara umum pada saat ini belum ada pilihan refrigeran komersial selain refrigeran alami. Meskipun perlu dicatat bahwa baru-baru ini terdapat produsen refrigeran yang mengklaim keberhasilannya membuat refrigeran yang tidak merusak ozon dan tidak menimbulkan pemanasan global ASHRAE, 2006). Beberapa refrigeran alami yang sudah digunakan pada mesin refrigerasi adalah amonia (NH3), hidrokarbon (HC), Carbon Dioksida (CO2), air dan udara (Riffat dkk, 1997). Kata alami menekankan keberadaan zat-zat tersebut yang berasal dari sumber biologis ataupun geologis, meskipun saat ini beberapa produk refrigeran alami masih didapatkan dari sumber daya alam yang terbarukan, misalnya hidrokarbon yang didapatkan dari oil-cracking, serta amonia dan CO2 yang didapatkan dari gas alam (Powell, 2002). Isu pengaruh dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh penggunaan refrigeran begitu marak pada saat ini. Pada awalnya ODS (Ozone Depleting Substance), dan berlanjut pada saat ini mengenai GWP (Global Warming Potential). Isu-isi tersebut mendorong berbagai pihak terutama kalangan peneliti maupun produsen mencari refrigeran yang aman terhadap lingkungan.Dengan latar belakang ini mereka mencoba kembali menggunakan refriferan hidrokarbon, seperti kita ketahui bahwa pada awal mesin refrigerasi kompresi uap ditemukan hidrokarbon sudah digunakan. Pada saat ini refrigeran hidrokarbon dipersiapkan sebagai refrigeran alternatif untuk digunakan sebagai pengganti CFC12, HFC134a dan HCFC22. Setiap senyawa hidrokarbon memiliki karakteristik fisik yang berbeda-beda dengan refrigeran yang akan digantikannya, untuk mendapatkan karakteristik fisik sama atau mendekati dengan refrigeran yang akan digantikannya dilakukan pencampuran senyawa hidrokarbon seperti propana, isobutana dan normal butana. Menurut Presiden Direktur PT. Citra Total Buana Biru, Ir. Ahmad Fahmi, diperlukan bahan pengganti CFC yang lebih ramah lingkungan dan menghemat energi. Bahan seperti ini sudah ditemukan oleh sejumlah dosen dan mahasiswa ITB yang melakukan penelitian

mendalam. Hasilnya ditemukan refrigeran jenis hidrokarbon yaitu HCR-12, HCR-22 dan HCR-1341. Ketiga jenis refrigeran ini memberikan tiga keuntungan hemat energi, ramah lingkungan karena tidak merusak ozon dan menimbulkan pemanasan global, dan bisa memperpanjang usia kompresor mesin pendingin. Mengingat besarnya pengaruh jenis refrigeran terhadap dampak lingkungan maka kami bermaksud mengkaji prestasi mesin pendingin dengan menggunakan beberapa jenis refrigeran melalui penulisan makalah ini. 1.2 Tujuan Penulisan Untuk Menganalisis dan mengembangkan R134a, propane (R290a) dan pemilihan campuran (R290/R600a masing-masing 60%/40% , R290/R600a/R134a, masing-masing 40%/30%/30% dan R600a/R290, masing-masing 50%/50%) dalam siklus refrigerasi standard ASHRAE, dengan menggunakan sifat-sifat termodinamika dan termofisik yang disediakan oleh software REFPROP 6.0 1.3 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kepustakaan, yaitu diambil dari beberapa sumber yang berhubungan dengan materi tentang : termodinamika dan termofisika Hidrokarbon dalam penggunaannya sebagai refrigeran dalam skala rumah tangga. 1.4 Batasan Masalah Mengingat luasnya permasalahan dalam refrigerasi, maka kami membatasi

permaalahan dalam penulisan makalah ini kami memberikan batasan masalah sebagai berikut : 1. Pembahasan hanya dilakukan untuk jenis refrigeran R134a, R290, R600a Beserta campuranya 2. Penulisan makalah ini tidak menganalisa penggunaan refrigeran terhadap kerusakan lingkungan 3. Penulisan makalah ini tidak menganalisis reaksi kimia pada refrigeran

LANDASAN TEORI Pertama kami telah mengembangkan analisis komputasi teoritis dari sistem pendingin yang diusulkan untuk mendapatkan perkiraan proses operasi sistem serta kinerjanya. Untuk analisis ini kami menggunakan perangkat lunak khusus, yaitu REFPROP 6,0 (McLinden et al., 1998), untuk mengevaluasi sifat termodinamika dan thermophysical dari refrigeran. Sebuah analisis teoretis diterapkan untuk penggunaan R134a, propana (R290) dan campuran yang dipilih dari R290/R600a persentase masing-masing 60%/40%,

R290/R600a/R134a persentase masing-masing 40% /30% / 30% dan R290/R600a persentase masing-masing 50/50% dalam siklus pendinginan standar ASHRAE (penguapan suhu: -23,3 C, suhu kondensasi : 54,4 C, suhu cairan dan hisap: 32,2 C) dengan menggunakan sifat-sifat termodinamika REFPROP 6.0, seperti yang

direkomendasikan oleh Kim et al. (1998). Koefisien kinerja sistem untuk pendinginan komersial dan domestik meningkat dari 10 sampai 20% bila menggunakan campuran hidrokarbon yang mengandung R600a dan R290 (Sekhar et al., 2004). Untuk simulasi pada lemari es Kompresi Uap beberapa asumsi yang diperlukan. a. Kondisi Operasi Steady b. Tidak terjadi kehilangan tekanan pada pipa, yaitu, perubahan tekanan terjadi hanya pada kompresor dan tabung kapiler c. Keuntungan atau kerugian panas diabaikan d. kompresor menyediakan efisiensi volumetrik yang ideal dan efisiensi isentropik ideal 75% (Fatouh dan El Kafafy, 2006). Gambar 1 menunjukkan model siklus termodinamika yang digunakan dalam analisis teoritis dan komputasi.

Gambar 1. Termodinamika siklus nyata dari lemari es rumah tangga. (Borges et al., 2010)

Untuk drop-in penerimaan fluida kerja dalam sistem pendinginan yang sudah ada, beberapa karakteristik kinerja yang penting harus dipertimbangkan. Ini adalah: operasi tekanan, kapasitas pendinginan volumetrik, koefisien kinerja dan suhu kompresor discharge (Fatouh dan El Kafafy, 2006). Refrigeran harus memiliki jumlah minimum karakteristik penting yang

menguntungkan, di antaranya yang paling signifikan adalah: kepadatan rendah dalam fase cair, panas laten penguapan yang tinggi, volume spesifik rendah dalam fasa uap dan panas jenis yang rendah dalam fasa cair. Karakteristik ini akan dievaluasi dan dibandingkan antara cairan tersebut, seperti yang direkomendasikan oleh Poggi dkk. Kapasitas pendinginan volumetrik (Qvol) adalah ukuran dari ukuran kompresor untuk kondisi operasi yang diperlukan. Menyatakan efek pendinginan diperoleh per 1 m3 refrigeran masuk dalam kompresor (Poggi et al., 2008). Perlu dicatat bahwa, dengan meningkatnya kapasitas pendinginan volumetrik, ukuran kompresor yang dibutuhkan berkurang. Kapasitas pendinginan volumetrik (Qvol) dapat diperkirakan sebagai berikut =
( )

vol

.. (1)

Dimana : : Enthalpy spesifik Kondisi jenuh pada bagian masuk kompresor : Enthalpy spesifik refrigeran yang masuk dalam evaporator : Volume Spesifik Kondisi jenuh pada bagian masuk kompresor Menurut gambar 1 Rasio tekanan (PR) didefinisikan sebagai perbandingan antara tekanan kondensasi (Pcond) and Tekanan Evaporasi (Pevap) Persamaan Rasio Tekanan (PR):

PR =

(2)

Tekanan kondensasi dan Evaporasi dihitung berdasarkan Temperatur Kondensasi dan Temperatus Evaporasi.

Koefisien Kinerja (COP) Koefisien kinerja (COP) berhubungan dengan kapasitas pendinginan dan daya yang diperlukan dan menunjukkan konsumsi daya keseluruhan untuk beban yang diinginkan. COP tinggi berarti konsumsi energi rendah untuk penyerapan daya pendinginan ruang yang sama untuk didinginkan. Persamaan COP :

COP =
Dimana : Qevap : kapasitas pendinginan Pcomp : daya yang diperlukan untuk menggerakkan kompresor Persamaan keseimbangan energi kapasitas pendinginan evaporator :

Qevap = mr . ( h5 - h4)
Persamaan Daya yang diperlukan untuk menggerakkan kompresor :

Pcomp = mr . ( h2 - h1)
Entalpi spesifik sebenarnya dari uap refrigeran superheated meninggalkan kompresor (h) Persamaanya sebagai berikut :

Dimana :
s,comp

: efisiensi isoentropic kompresor

h,is : entalpi spesifik superheated uap refrigeran meninggalkan kompresor untuk proses kompresi isentropic Aliran massa refrigeran (mr) dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan berikut (Tashtoush et al., 2002) Persamaan Aliran massa refrigerant (mr)

dimana : Qevap : kapasitas pendinginan dalam kW qevap : efek pendinginan spesifik dalam kJ / kg

Suhu keluaran kompresor (T) merupakan parameter penting, karena efeknya pada komponen kompresor dan stabilitas pelumas. Suhu ini ditentukan dengan menggunakan data dan tekanan kondensasi dan entalpi spesifik nyata di outlet kompresor, ditentukan oleh Persamaan. (6) Dalam analisis siklus, kapasitas pendinginan yang sama diterapkan untuk semua simulasi refrigeran dipertimbangkan. Pendinginan siklus kapasitas 143 W diperoleh dengan konversi kapasitas pembekuan (3,5 kg/24h) dari lemari es rumah tangga L 210, yang disediakan oleh produsen. HASIL DAN PEMBAHASAN Menerapkan berbagai persamaan sirkuit pendingin diperlihatkan dalam Gambar 1 di bawah kondisi yang telah ditentukan operasi (siklus ASHRAE) dan menggunakan perangkat lunak REFPROP 6,0 (McLinden et al., 1998) diperoleh data yang berhubungan dengan operasi refrigeran dipilih. Table1 menunjukkan hasil ini. Gambar 2 menyajikan bahwa densitas uap R290/R600a (50:50) adalah lebih rendah untuk berbagai macam suhu operasi, dan dengan demikian pengurangan yang diharapkan dalam pekerjaan kompresi diperlukan. Penurunan kepadatan adalah faktor yang lebih penting daripada panas laten penguapan dari cairan (Poggi et al., 2008). Penurunan R134a dalam campuran mengarah ke penurunan daya yang diperlukan untuk kompresi dan perpindahan panas di kondensor. Campuran hidrokarbon dengan R134a memberikan peningkatan dalam pelumasan dan miscibility dari minyak dengan R134a (Tashtoush et al., 2002). densitas Uap di bawah kondisi pengisap pada campuran R290 menyajikan lebih kecil daripada R134a, sesuai dengan biaya lebih sedikit cairan diperlukan dalam sistem dalam kaitannya dengan R134a (Sekhar et al., 2004).

Gambar.2 Variasi Densitas Uap Vs Temperatur

Menurut gambar 3, R290/R600a (50:50) dan R290/R600a (60:40) memberikan densitas cairan paling rendah, sehingga mengurangi kerugian gesekan dalam sistem (Sekhar et al., 2004). Dalam berbagai sistem pendinginan porsi minyak pelumas yang bersirkulasi dengan refrigeran berdasarkan berbagai komponen sistem. Efek minyak sangat berkorelasi dengan kemampuan untuk melarutkan refrigeran dalam pelumas. Tingginya kadar kelarutan refrigeran menyebabkan penurunan viskositas dari refrigeran / pelumas, yang bermanfaat untuk pengembalian minyak untuk kompresor, namun dapat bertindak melalui pelumasan bantalan.

Gambar.3 Variasi densitas cairan Vs Temperatur

Gambar 4 menunjukkan karakteristik viskositas pendingin dengan suhu yang berbeda, teramati bahwa R290/R600a (60:40) dan R290/R600a (50:50) memiliki nilai viskositas paling rendah di Kisaran suhu . Hal ini memberikan pengurangan kerugian tekanan dalam pipa dari pendingin circuit.

Gambar 4. Pariasi Viskositas Vs Temperatur

Gambar 5 menunjukkan variasi dalam kondisi Volume spesifik pengisap (suhu pengisap) dari kompresor. Hal ini diamati bahwa nilai-nilai yang lebih tinggi dari volume spesifik di pengisap kompresor menyediakan kapasitas pendinginan yang lebih tinggi volumetrik, sehingga kebutuhan untuk perpindahan lebih tinggi dari kompresor dengan kapasitas pendinginan yang sama dari sistem. Hal ini diamati bahwa untuk melakukan drop-in sistem pendinginan, cairan pengganti harus memiliki kapasitas pendinginan yang serupa ukurannya ke cairan asli sehingga tidak perlu diganti kompresor. Dalam hal ini, teramati bahwa R290/R600a (50:50) menunjukkan volume tertinggi. R290/R600a (60:40) mempunyai nilai lebih dekat dengan R134a.

Gambar 5. Volume spesifik bagian masuk kompresor Vs Temperatur

Gambar 6 dan 7 menunjukkan uap dan konduktivitas termal cairan refrigeran berbagai macam diperiksa sebagai fungsi temperatur. Hal ini diamati bahwa R134a memiliki konduktivitas paling rendah sepanjang rentang . Sebagai fraksi R134a berkurang, nilainilai ini meningkat. R290/R600a (60:40) dan (50:50) memiliki konduktivitas lebih tinggi sepanjang rentang suhu, yang secara substansial sama antara kedua campuran. Fakta ini menyediakan tingkat perpindahan panas yang lebih tinggi untuk sistem pendingin.

Gambar 6. Variasi Konduktivitas termal uap Vs Temperatur

Gambar 7. Variasi konduktivitas termal cair Vs Temperatur

Tabel 1. Perhitungan Jenis refrigerant parameter siklus ASHRAE.


Refrigerant

R134a

R290

R600a

R600a

R290/R600a

R290/R600a/R134a

( 60 : 40) ( 50:50)
Tekanan Kondensasi@ 54.4 C (kpa) Tekanan Evaporasi@ 23.3 C (kpa) Perbedaan Tekanan 1355,2 798,87 1229,9 1132,7 1132,7
0 0

( 40: 30 : 30 )

1470,0

1883,0

761,3

1370,5

1259,0

1604,0

114,8

216,6

62,43

140,6

126,3

174,7

1429,3

Rasio Tekanan Pendinginan Efek


Kapasitas Pendinginan Volumetric (kj/m3)

12,80 185,85

8,70 354,47

12,19 335,90

9,74 347,85

9,96 345,90

9,18 279,70

743,719

1171,9 1

414,149

819,718

751,188

980,391

COP Kapasitas Pendinginan (W) Aliran massa Temperatur Keluar ( C) Temperatur masuk pipa kapiler ( C) Volume Spesifik masuk(m /kg) Panas Spesifik Cairan (kj/kgK) 1,44733 2,8002 7 Densitas Cair (kg/m )
3 3 0 0

2,049

2,041

2,171

2,093

2,117

2,0

2,773 139,5

1,452 134,5

1,532 120,2

1,479 128,8

1,488 127,0

1,840 126,0

32,2

32,2

32,2

32,2

32,2

32,2

0,2121

0,2571

0,6894

0,3607

0,3914

0,2425

2,49904

2,65510

2,63428

2,28916

1183,27

483,44 5

542,291

505,718

511,576

588,688

Ketika menganalisis Tabel 1 dapat dicatat Bahwa panas laten penguapan (efek pendinginan) dari Campuran R290/R600a Itu sekitar dua kali dari R134a. Namun, karena volume spesifik rendah R134a di pengisap, kapasitas volumetrik kedua fluida pendingin serupa. Untuk dapat diterima oleh fluida kerja sebagai pengganti yang berasal dari sistem pendingin, kapasitas pendinginan volumetrik dan kinerja yang sama dibandingkan dengan pendingin asli yang diperlukan ( El Kafafy dan Fatouh, 2006). Fraksi massa yang tinggi dari propana (R290) memberikan Suhu kondensasi tinggi dan Evaporasi kurang, yang dapat Menyebabkan luas pada pembentukan penguapan . Campuran dari R290/R600a (60:40) memiliki solusi terbaik dalam hal ini.

PENUTUP Upaya penelitian dan pengembangan di bidang pendinginan dan AC berlaku untuk penggunaan pendingin alami tidak hanya terkait dengan kelompok untuk melestarikan lingkungan, subjek juga memiliki kepentingan tinggi, karena Peningkatan Efisiensi Energi peralatan. Hidrokarbon, seperti cairan cair gas (LPG), ramah lingkungan dan tersedia di alam, penggunaan zat ini sebagai pendingin di lemari es domestik sangat menarik. Menurut analisis termodinamika yang dikembangkan untuk hidrokarbon cairan dapat dicatat Bahwa tekanan Rendah dalam Kondensor dan Evaporator. Penggunaan R290 dan campuran yang melibatkan hidrokarbon memberikan tiga kali lipat dari panas laten penguapan dibandingkan dengan R134a. Faktor ini Mengarah ke pengurangan sekitar 50% dibutuhkan massa pendingin dalam sistem pendingin apapun kapasitas yang sama Peralatan tersebut. Hidrokarbon yang lebih rendah memberikan debit kompresor, dan kemudian mereka kacau untuk menyediakan komponen ini. Koefisien kinerja sistem dengan hidrokarbon dan campuran sekitar 5% dibandingkan dengan R134a.Akibatnya, Kerja kompresi yang lebih rendah diperlukan untuk hidrokarbon dibandingkan dengan R134a karena Properti thermophysical. Dalam rangka konsolidasi hidrokarbon dan campurannya sebagai pengganti cairan sintetis, seperti HFC134a, Industri pendinginan upaya tersebut harus fokus pada pengembangan kompresor cocok untuk kapasitas pendinginan volumetrik pendinginan alam, dan pengembangan metodologi desain baru dari pertukaran panas, tanpa campuran berperilaku berbeda dari cairan murni sehubungan dengan perubahan fasa. Lampiran-Lampiran : 1. Tekanan Vs Sifat-sifat Termodinamika yang lain 2. Nomenklatur

Nomenklatur
COP = koefisien kinerja h = Entalpi spesifik, kJ/kg P = Tekanan, kPa P = Daya kompresi, kW PR = Rasio tekanan Q = Kapasitas pendingin, kW q = Efek pendinginan, kJ / kg T = Temperatur 0C v = Volume Spesifik (m3/kg) = Efisiensi