Anda di halaman 1dari 5

1

PENDAHULUAN BAB 1

1.1 Latar belakang Penggunaan plastik semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia hal ini disebabkan oleh banyaknya keunggulan yang dapat diperoleh dibandingkan bahan kemasan yang lain. Plastik jauh lebih ringan dibandingkan gelas atau logam dan tidak mudah pecah. Selain itu penggunaan kemasan dengan berbahan plastik khususnya plastik sintetik dapat membuat makanan yang dikemas lebih tahan lama. Penggunaan plastik menimbulkan masalah baru berupa penimbunan sampah. Sampah plastik rata-rata memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah. menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia

menunjukkan bahwa jumlah sampah plastik yang terbuang mencapai 26.500 ton per hari. Data tersebut juga didukung oleh data dunia yang diperoleh dari Suyatma, 2007. Sampah dunia ternyata didominasi oleh sampah plastik dengan persentase 32%. Meningkatnya jumlah sampah plastik ini menjadi sebuah hal yang dapat mengancam kestabilan ekosistem,mengingat plastik yang digunakan saat ini adalah plastik sintesis yang membutuhkan waktu 500-1000 tahun untuk terurai didalam tanah.

Permasalahan tersebut tidak dengan serta merta dapat terselesaikan melalui pelarangan atau pengurangan penggunaan plastik. Penggunaan kemasan

biodegradable diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi permasalahan lingkungan, dan pemanasan global. Kemasan plastik biodegradable merupakan sebuah teknologi baru dalam perkembangan industri dunia. Plastik biodegradable dapat dibuat dari polimer alami, salah satunya adalah pati. Plastik tersebut dikenal dengan Poli asam laktat. Poli asam laktat adalah polimer yang tersusun dari monomer asam laktat yang disatukan langsung dari asam laktat maupun secara tidak langsung melalui pembentukan laktida (dimer asam laktat). Asam laktat adalah senyawa asam hidroksi paling sederhana yang terdiri atas atom karbonasimetris. Asam ini bisa dihasilkan dari fermentasi karbohidrat oleh bakteri dalam bentuk asam L-laktat maupun asam D-laktat (Hartman 1998). Beberapa penelitian pembuatan poli asam laktat telah dilakukan misalnya pada tahun 2005, Liesbetini Hartono,dkk melakukan penelitian, yaitu rekayasa proses produksi poli asam laktat dari pati sagu sebagai bahan baku plastik biodegradable. Pada tahun 2006, Hanny Widjaja, dkk melakukan penelitian mengenai sintesis Poli asam laktat dari limbah pembuatan Indigenous search untuk pembuatan plastik ramah lingkungan. Pengembangan penelitian khususnya untuk memperkaya sumber bahan baku sintesis poli asam laktat terus dilakukan, bahan

baku yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah pati sagu, kulit pisang, pati singkong, pati jagung, talas dll.Sumber bahan pati yang melimpah dan jarang dimamfaatkan oleh masyarakat pada umumnya sangat memungkinkan sebagai bahan baku plastik biodegradable. Salah satunya adalah biji nangka(Artocarpus Heterophyllus Lamk). Biji nangka (Artocarpus Heterophyllus Lamk) merupakan bahan buangan dari nangka. Rata-rata tiap buah berisi biji yang beratnya sepertiga dari berat buah, sisanya adalah kulit dan daging buah. Hingga saat ini biji nangka masih merupakan bahan non-ekonomis, dilihat dari dua hal pertama yaitu biji nangka merupakan limbah buangan konsumen nangka, kedua sangat jarang biji nangka dimanfaatkan secara optimal (Sukarti, 1984). Rata-rata Kandungan karbohidrat biji nangka 36,7%dari 100 gr bagian yang dapat dimakan. Dengan demikian, biji nangka bisa diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi salah stunya sebagai bahan baku pembuatan poli asam laktat. Ada tiga metode yang bisa digunakan dalam pembuatan poli asam laktat diantaranya adalah Polikondensasi langsung, Kondensasi dehidrasi azeotropik, dan polimerisasi pembukaan cincin (ring opening polymerization, ROP). Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode polimerisasi azeotropik. Metode ini merupakan pengembangan dari metode polikondensasi langsung yang dapat menghasilkan bobot yang lebih tinggi dengan proses sederhana ( Ajioka et al, 1998 dalam Hasibuan , 2006). Sintetsis poli asam laktat dengan metode

azeotropik pernah dilakukan oleh Ahmad Ibrahim dkk, dari hasil penelitian tersebut didapatkan rendemen optimum poli asam laktat didapatkan melalui perlakuan lama polimerisasi 30 jam dan konsentrasi katalis 0,5% yaitu sebesar 72%. Sedangkan bobot molekul optimum yang didapatkan adalah 22.000 ( Jurnal sains materi Indonesia,vol. 8, 2006). Bobot molekul poli asam laktat yang dihasilkan pada penelitian ini masih relative rendah hal ini dikarenakan pelarut xilena yang digunakan kurang baik sebagai pelarut azeotropik (Proikakis et al, 2002) Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini bertujuan mempelajari lebih lanjut proses polimerisasi asam laktat dari pati biji nangka menjadi poli asam laktat melalui reaksi polikondensasi azeotropik dengan menggunakan pelarut difenil eter dan katalis Sn(II)Oct. Poli asam laktat yang dihasilkan ditujukan sebagai bahan baku pembuatan plastik biodegradable. 1.2 Rumusan masalah 1. Apakah pati biji nangka dapat di sintesis menjadi plastik biodegradable? 2. Berapa besar asam laktat yang dihasilkan dari pati biji nangka menjadi asam laktat dengan bantuan bakteri Lactobacilus Derlbrueckii? 3. Berapa besar bobot molekul poli asam latat yang dihasilkan dari reaksi polikondensasi azeotropik?

1.3 Tujuan Penelitian 1. 2. Mengetahui apakah pati biji nangka dapat dijadikan plastic biodegradable Mengetahui persentasi konversi glukosa dari pati biji nangka menjadi asam laktat dengan bakteri Lactobacilus Derlbrueckii 3. Mengetahui berat molekul azeotropik poli asam laktat yang dihasilkan dari reaksi

1.3 Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi tambahan bagi masyarakat mengenai potensi biji nangka, serta dapat menjadi referensi dalam pembuatan polimer biodegradable khususnya pembuatan poli asam laktat sebagai bahan baku pembuatan plastik yang mudah teruarai/ terdegradasi