Anda di halaman 1dari 3

Balada Social Media: Siapkan Mental untuk Membaca Easy come, easy go.

. Sebuah kalimat yang menggambarkan romansa kaum muda di era digital. Keberadaan multimedia tak hanya mengeliminasi ruang dan waktu, tetapi juga pola serta tahap pembangunan hubungan interpersonal. Mari kita kembali pada zaman manakala orang tua kita masih muda- mudi. Dua sejoli yang mungkin bertemu di kesempatan acak, kemudian secara malu- malu berkenalan. Berlanjut pada adegan mengantarkan si perempuan pulang menggunakan sepeda tua. Untuk melanjutkan kisah kasihnya, dibutuhkan proses surat- menyurat secara intensif. Dan, sepucuk surat membutuhkan waktu kurang- lebih tiga hari supaya sampai tujuan. Itupun bergantung pada pilihan perangko yang dipakai. Tercermin, bagaimana hubungan terasa makan waktu. Perlu upaya untuk sekadar menjalin relasi yang lebih intim. Kembali ke masa kini. Berkaca pada diri sendiri. Sudahkah Anda menerima BBM ( BlackBerry Messanger) atau Whatsapp dari pasangan? Jika sudah, apakah Anda mengecek last update- nya? Jangan- jangan, Anda curiga hanya karena waktu yang tertera tidak sesuai dengan terakhir kali ia mengirim pesan pada Anda? Lantas menerka, kira- kira dengan siapa ia berkirim pesan setelahnya? Pertanyaan tadi menggiring pada analisis ringan, bagaimana media sosial mempengaruhi keintiman dalam hubungan kaum muda. Seperti yang telah dipaparkan, gampangnya pengaksesan informasi memudahkan kaum muda dalam menjalin hubungan. Media sosial yang seyogyanya merupakan media online, di mana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi; mampu mempersingkat penetrasi sosial yang terjadi. Menurut Altman dan Taylor ( 1973), terdapat empat tahap pengembangan hubungan, yakni: (1) orientasi; (2) pertukaran afektif eksploratif; (3) pertukaran afektif; dan (4) pertukaran seimbang. Melalui bantuan jejaring sosial seperti Twitter misalnya, seseorang dapat mengungkapkan informasi yang berlaku umum. Misal, si A berceloteh bahwa dirinya berstatus single, si B yang menaruh perhatian padanya memanfaatkan kesempatan tersebut dengan cara mengirim direct message, butuh curhat? Minta ID Yahoo! Messenger atau pin BB dong. Jika tahap ini dirasa bermanfaat oleh keduanya selaku pelaku hubungan, mereka akan bergerak ke tahap selanjutnya. Berbalas pesan instan, kemudian memutuskan waktu kencan hingga terjadi pertukaran afektif secara penuh. Sesederhana itu.

Penempatan media sebagai konstruksi sebuah hubungan tak pelak menimbulkan pengaruh signifikan atas hubungan itu sendiri. Proses pertukaran informasi antar keduanya semakin intensif, bahkan dalam hitungan detik. Membuat semakin dekat, di mana jarak bukan lagi penghambat. Namun, membuat kesakralan dipertanyakan. Terlalu mudah berkomunikasi membuat pertukaran informasi menjadi suatu pola rutin nan teratur. Sebatas kebiasaan, bukan lagi hal yang dinantikan. Sesuatu yang terlalu mudah cenderung menghilangkan rasa penasaran. Bisa dikatakan, ia juga berlaku pada keintiman sebuah hubungan. Seseorang bisa kapan saja berkata I love you pada pasangan melalui pesan instan. Idealnya, kalimat tersebut merupakan simbol afektif, bukan cuma tekstual. Bagaimana bisa penerima mencermati kode nonverbal yang dimunculkan secara non-strategis oleh pengirim tanpa bertatap langsung? Inilah yang kemudian memunculkan asumsi, media sosial turut mempermudah seseorang memanipulasi hubungan. Bahasa populernya, selingkuh. Sedemikian simpelnya pertukaran pesan dapat dilakukan, memberikan opsi bagi pelaku untuk melakukan lebih dari satu hubungan sekaligus. Transaksi afeksi yang dilakukan sebatas pesan instan mendegradasi keutuhan kode afektif antar pelaku. Meningkatkan kecenderungan berbohong. Seperti yang diterangkan Buller dan Burgoon ( 1996) dalam Interpersonal- Deception Theory, kebohongan melibatkan manipulasi informasi, perilaku, dan citra yang dilakukan dengan sengaja untuk membuat orang lain memercayai kesimpulan atau keyakinan yang palsu. Pelaku yang berbohong mungkin mengalami sejumlah ketakutan tertentu yang biasanya bocor pada perilaku non- strategis (perilaku yang tidak dimanipulasi), misalnya suara yang tersendat atau berbicara tanpa berani menatap mata pasangan. Semakin tinggi keinteraktifan yang terjadi pada proses komunikasi, semakin tinggi pula kemungkinan pasangan untuk mengungkap kebohongan. Berkomunikasi melalui pesan instan menduduki tingkat interaksi terendah. Kita tidak dapat mendapatkan data kognitif yang cukup untuk saling menilai maksud atau kecurigaan masing- masing. Lantas apa yang biasanya dilakukan, terutama oleh kaum muda, untuk mendeteksi apakah pasangannya menyembunyikan sesuatu atau tidak? Mengecek linimasa jejaring sosialnya. Yang lebih ekstrem, membuka media interaktif pribadinya, katakanlah telepon genggam. Tidak ada lagi privasi ketika upaya pendeteksian kebohongan harus dilakukan melalui cara seperti itu. Kepraktisan yang ditawarkan kecanggihan media justru menjadikan kita senantiasa curiga. Apakah ada pesan instan bernada intim yang dikirim orang lain pada pasangan? Itulah satu- satunya indikasi yang dengan gamblangnya menunjukkan seberapa jauh komitmen dijunjung. Kepercayaan letaknya bukan

di hape, tak sepenuhnya membantu. Bisa jadi, konsensus untuk tidak saling melanggar area pribadi justru dimanfaatkan pasangan untuk memperlancar kebohongannya. Simalakama. Begitu muak atas pelanggaran komitmen yang diperantarai media, melahirkan sebuah konsep baru di kalangan kaum muda. Aku suka kamu, kamu suka aku. Thats it. Buat apa komitmen kalau nantinya dilanggar? Yaudahlah ya. Akhirnya, sebuah hubungan bisa terjalin begitu cepat. Begitu mudah datang, begitu mudah hilang. Ada solusi? Bisa jadi, solusi Anda merupakan penemuan paling ditunggu abad ini.

REFERENSI: Littlejohn, Stephen. W, Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.

Amnesti Marta. S ( 09/ 281860/ SP/ 23327)