Anda di halaman 1dari 1

Sudah 6 Tahun Jadi Presiden, Kenapa APBN SBY Paling Banyak untuk Belanja Pemerintah, Pertanda KKN Makin

Subur?
REP | 18 August 2011 | 09:38 1213 49 | www.kompasiana.com

Mencermati angka-angka RAPBN sebesar Rp 1.415.5 Trilyun yang diajukan Pemerintah di Gedung Parlemen dua hari lalu, membuat saya ingin memberikan analisa bahwa RAPBN yang diajukan oleh SBY benar-benar mengajarkan bangsa ini untuk berprilaku konsumtif, terutama pemerintah dan juga masyarakat umum, kenapa? karena APBN sebanyak Rp 954 Trilyun( 60% ) yang akan dikucurkan pada tahun 2012 mendatang adalah untuk belanja kebutuhan Pegawai pemerintah sendiri/belanja barang, kemudian rakyat diberikan subsidi BBM sebesar 182 Trilyun untuk membeli BBM, artinya rakyat diajari untuk terus membeli kenderaan lewat berbagai cara dan diberikan bensin murah sebagai bantuan Pemerintah. Peningkatan belanja pemerintah dari tahun-ketahun semakin meningkat dan semakin menciderai keadilan dimasyarakat lihatlah besarnya biaya belanja Departemen dan non department dari kementerian yang dipimpin oleh SBY saat ini, belanja kementerian dan lembaga, Rp476,6 triliun; belanja non-kementerian dan lembaga, Rp477,5 triliun; dan transfer ke daerah, Rp464,4 triliun, ini menandakan bahwa penerimaan negara lewat pajak dan non pajak dihabiskan untuk membeli segala keperluan pegawai Negeri mulai dari pusat hingga daerah. Penggunaan uang rakyat untuk kesejahteraan pegawai pemerintah adalah salah besar dalam berbangsa dan bernegara, karena dana-dana yang dipungut dari rakyat dan hasil kekayaan Alam semestinya dipergunakan untuk kemakmuran Rakyat, seperti pembangunan infrastruktur yang saat ini sangat memprihatinkan, jalan lintas propinsi yang hancurhancuran, sarana angkutan umum yang amboradul, baik kreta api, bus, maupun kapal laut semuanya sangat minim, sementara para pengawai pemerintah untuk rapat membahas kemiskinan saja harus diadakan di hotel bintang lima, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang banyak menguras uang rakyat. Proses penggunaan APBN untuk belanja barang modal pemerintah sudah pasti tempat paling subur untuk melakukan Korupsi dan Kolusi, pengadaan barang untuk harga diatas 1 Milyar sudah tentu porsi Bapak A, dan pengadaan barang pemerintah untuk porsi diatas 100 Milyar sudah tentu harus persetujuan Bapak B dan seterusnya hingga pengadaan yang bernilai Trilyun, semuanya harus berpusat pada orang ternama di Negeri ini. Barang-barang tersebut semuanya moyoritas barang import dan lokal dan pengadaanya pun berpusat pada lingkaran elit, entah lewat proses hubungan diplomatik, dengan menggunakan broker tertentu, dan kebanyakan pemerintah memberikan informasi sangat sedikit dan tidak jelas kepada rakyat dengan alasan Rahasia Negara, kenapa? entahlah , anda tentu sudah membaca pola permainan komisi anggaran diparlemen dan kerjasama yang rapi antara Legislatif dan Eksekutif Negara, dan tentunya arah yang akan dicapai adalah kemakmuran bagi mereka sendiri, sebaliknya rakyat sebagai pemegang mandat hanya gigit jari saja. Dilain pihak pembukaan Industri padat karya yang memerlukan permodalan untuk menampung lonjakan angkatan kerja, jauh luput dari perhatian SBY, penghentian pengiriman tenaga informal ke Luar Negeri dengan wacana membuka lapangan kerja didaerah dengan melibatkan Pemda, sepertinya hanya wacana saja. Dan kini rakyat semakin banyak yang menjadi tukang ojek dan pedagang kali lima, pekerjaan-pekerjaan kreativitas ini lahir dari inisiatif rakyat sendiri, oleh karena begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak bagi rakyat itu sendiri. Benarlah apa yang dikatakan oleh orang tua dulu, Pemerintah dan pejabat negara ini berpesta diatas penderitaan rakyat. Jumlah rakyat miskin saat ini diperkirakan naik terus, oleh karena ketidak mampuan rakyat untuk membeli kebutuhan pokok, apalagi untuk menikmati pendidikan bagi anak-anak mereka, dan lihatlah begitu banyak anakanak yang jadi pengemis dan gelandangan dilampu-lampu merah diperkotaan, sebaliknya dipedesaan anakanak yang seharusnya mengenyam pendidikan, justru harus banting tulang untuk membantu orang tuanya dengan menjadi buruh tani maupun pekerja serabutan, adakah SBY melihat mereka itu?

Sensei Joes Document