Anda di halaman 1dari 8

Kedai Kopi, Kopi Susu Oleh Sandra Saffira Desitasari

Aries berdiri diam di depan layar yang menunjukkan semua penerbangan dari Dubai ke tujuan masing-masing. Penerbangan ke Jenewa masih tiga jam lagi, yang berarti ia memiliki waktu untuk berjalan-jalan mengelilingi terminal tiga Dubai International Airport. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Baginya, lebih baik ia duduk di sebuah kedai kopi, sambil minum kopi susu hangat dan membaca buku. Tetapi hatinya memberontak kecil begitu ia mengatakan ia ingin membaca buku. Untuk sekarang, ia tidak ingin membaca buku. Ia tidak ingin pikirannya dicekoki dengan ideide penulis buku yang ia bawa. Ia ingin pikirannya tenang dan bebas untuk sekarang, ia tak ingin pikirannya diganggu atau menyerap hal-hal baru. Ia ingin pikirannya berhenti di waktu yang sekarang dan memikirkan saat-saatnya di Jakarta. Kedai kopi? Kopi susu? Ia tersenyum kecil, dan mulai berjalan ke arah gate penerbangannya. Di dekat gate itu, akan ada kedai kopi yang mungkin akan sepi, karena gate itu terletak di ujung terminal. Ia sama sekali tidak tertarik melihat barang-barang yang dijajakan di butik-butik bebas pajak. Uang yang ia miliki cukup untuk membeli barang apapun yang ia mau di butik paling mahal di dunia ini. Jika ia memiliki uang itu, mengapa ia harus repot-repot membeli di toko bebas pajak? Setiap langkah yang ia ambil, menyusuri jalan menuju kedai kopi yang ia inginkan, membuat pikirannya semakin melayang. Kedai kopi. Kopi susu. Hari itu Jakarta hujan deras. Ia datang ke kedai kopi yang biasa ia datangi setiap hari Jumat sore untuk menikmati sore hari ibu kota, bagaimanapun cuacanya, sambil menikmati campuran kopi dan karamel yang tersedia di kedai itu. Sengaja, hari itu, ia mengambil tempat duduk di pojok, di dekat jendela, agar tidak ada yang mengganggunya dan agar ia tidak terganggu.

Jumat sore selalu menyediakan suasana yang enak untuk ditonton. Anak-anak SMP dan SMA yang kaya datang dalam gerombolan, memesan minuman es kesukaan mereka, duduk di tengah kedai kopi sambil mengobrol, ribut, tertawa kencang. Mereka datang dengan mobil pribadi mereka, dengan atau tanpa supir. Banyak juga mahasiswa yang datang, tanpa buku mereka. Mereka biasanya datang dalam kelompok yang lebih kecil, ribut namun tidak terlalu ribut seperti anak-anak remaja itu. Ada juga karyawan-karyawan kantor yang masih muda. Mereka biasanya lebih memilih mampir ke kedai itu sebelum pulang ke rumah mereka. Mereka seperti para mahasiswa, ribut namun tidak terlalu ribut. Aries tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan mereka. Tetapi, Jumat sore itu lain. Banyak yang datang, kedai itu penuh. Seorang wanita muda, sepertinya seorang mahasiswi, masuk ke dalam kedai. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda terlihat sedikit basah, lengannya mengepit helm motor berwarna abu-abu, dan kedua tangannya dengan cekatan melipat jas hujan transparannya. Celananya jinsnya basah kuyup, begitu juga dengan sepatu kanvasnya. Anak-anak remaja yang manja dan kaya itu melihat wanita itu dengan tatapan bingung dan aneh, seolah pengunjung kedai itu hanya untuk mereka yang membawa mobil. Di hari itu, sebenarnya banyak yang datang dengan keadaan sama dengan wanita itu, tetapi entah mengapa, ia yang paling menarik perhatian. Entah mengapa. Aries menghela nafas. Ia telah berada di gate penerbangannya. Tepat di depan gate itu adalah sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai. Sempurna, pikirnya. Ia ikut mengantre, berpikir bahwa mungkin ia akan memesan kopi susu biasa dengan makanan kecil yang disediakan.

Maaf, boleh saya duduk disini? Ya, ya, silakan. Nggak ada orang, kok.

Aries memilih tempat duduk yang menghadap ke taman besar di dalam terminal itu. Ia memperhatikan orang-orang yang lewat, membawa-bawa koper atau hanya sekedar tas

tangan. Mereka berada dalam kesibukan masing-masing, sehingga nyaris tidak ada interaksi antar individual, kecuali mereka yang bepergian dalam kelompok. Banyak yang bergegas, membalap waktu agar tidak ketinggalan penerbangan. Banyak juga yang seperti dirinya, berjalan santai sambil melihat-lihat apa yang dijual di toko-toko dalam terminal ini. Perhatiannya kini tertuju pada orang-orang di kedai kopi ini. Jelas sekali terlihat kelelahan di wajah mereka. Mereka yang perempuan biasanya memakai atau membawa kardigan, takut-takut jika mereka akan kedinginan di bawah terjangan udara dingin bandara dan udara dingin di dalam pesawat. Ia melihat jamnya. Pukul empat pagi. Ia melihat ke luar kaca raksasa yang melapisi terminal bandara ini. Gelap, sangat gelap. Hanya terlihat titik-titik merah yang menandakan rute take-off dan landing para pesawat, juga titik merah di tubuh si pesawat itu sendiri. Titik-titik merah itu pun terlihat buram, karena kaca-kaca ini memantulkan cahaya dari interior terminal ini. Aries menghela nafas. Ia meneguk kopinya.

Di hari itu di Jakarta, gadis itu duduk di hadapannya. Helm motor dan jas hujannya ia taruh di bawahnya, tas kecilnya ia taruh di pangkuannya. Di meja kecil yang memisahkan mereka berdua, ia melihat pesanan wanita itu: kopi hangat, entah kopi apa, dan kue cokelat. Matanya merambat naik, dari makanannya ke lututnya, ke tasnya, lalu ke tangannya, yang sepertinya gemetar. Ia memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa dan melanjutkan membaca bukunya, walau diam-diam, ia memperhatikan apa yang gadis itu lakukan, dari sudut matanya. Akhirnya, gadis itu mulai meneguk kopinya. Setetes air mata jatuh dari matanya. Oh, sial. Ia paling tidak tahan melihat seorang perempuan menangis. Ia menaruh bukunya di mejanya dan mengeluarkan sapu tangannya dari kantong celananya. Gue nggak suka lihat perempuan nangis, ujarnya, tangannya. sambil memberikan sapu

Wanita itu terpana, dan pelan, ia mengambil sapu tangan dari tangan Aries. Makasih. Maaf, gue jadi nangis gini. Tapi, makasih, ujarnya pelan.

Aries mengeluarkan sebuah buku tulis saku dan sebuah pulpen dari dalam tasnya, dan mulai membuka satu per satu halaman di buku itu. Coret-coretan yang berisi campuran huruf dan angka, dalam campuran bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, dan Jerman. Orang biasa yang membacanya akan butuh waktu cukup lama untuk mengerti maksud tulisannya. Intelijen akan menganggap buku tulis kecil ini sebagai harta karun, karena ini akan menjadi kunci untuk menangkapnya. Ia terus membalik halaman-halaman di buku itu. Daftar berisi jadwal penerbangan ke berbagai negara, beberapa bulan lalu. Daftar berisi kebiasaan-kebiasaan targetnya, tempat yang sering didatangi, dan orang-orang yang ditemui. Kotak kecil berisi garis tipis yang berjumlah tujuh, menandakan jumlah orang-orang yang telah ia bunuh. Dalam buku tulis itu, satu target hanya menempati maksimal empat halaman. Ia merenung, mengingat hidupnya, sambil terus membalik halaman-halaman yang ada, pelan-pelan. Bandara adalah tempat terbaik untuk merenungi hidupnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Bandara adalah tempat dimana waktu adalah harta, dimana orangorang berlomba mengejar penerbangan mereka agar tak tertinggal. Bandara adalah batas negara, karena disinilah orang-orang secara resmi memasuki suatu negara. Bandara adalah tempat yang penuh intelijen dan orang-orang pemerintah. Namun, tidak ada yang akan mampu mengenalinya. Sebelum berangkat meninggalkan Indonesia, ia telah menjalani operasi plastik yang mengubah wajahnya secara keseluruhan. Kulitnya kini berwarna lebih kuning dari sebelumnya. Ia tidak menyimpan foto atau gambar dirinya sebelum operasi plastik, agar ia tidak berhenti di masa lalu. Dokter yang menanganinya telah dibunuh, kliniknya dan dokumen-dokumen mengenai dirinya dan operasi ini telah dibakar. Hanya ada kemungkinan yang sangat kecil Interpol dapat menemukan keberadaannya. Seseorang dari agensi dimana ia bekerja telah

menyiapkan identitas baru, termasuk kewarganegaraan baru. Semua telah diatur agar ia tampak seperti seorang Asia yang memiliki kewarganegaraan Swiss, namun lama tinggal di Indonesia. Semua itu dilakukan agar ia dapat dengan mulus melaksanakan misi-misi selanjutnya, sampai tubuhnya tak mampu membunuh lagi, sampai ia mati. Tempat tinggal telah disediakan, uang telah disediakan, mobil telah disediakan, dan dokumen-dokumen lain telah disediakan. Yang terpenting adalah ia keluar dari Indonesia sebagai orang lain, bukan sebagai Aries. Tangannya berhenti membalikkan kertas. Ia sampai di halaman yang ia mau. Di halaman itu adalah sketsa wajah wanita yang waktu itu duduk di hadapannya, di kedai kopi di Jakarta pada waktu hujan deras, di suatu Jumat. Rambutnya hitam sedada. Dahulu ia memiliki poni, namun poni itu telah memanjang sehingga rambutnya seolah ditata menjadi belah tengah. Senyumannya kecil dan ayu, bibirnya tipis dan hidungnya pesek. Sketsa ini hanya menunjukkan wanita itu dari kepala hingga dada, layaknya foto paspor, namun sketsa ini sangat realistik hingga Aries langsung membayangkan wanita itu tersenyum padanya, di depannya, di bandara ini juga. Namun, pekerjaannya tidak mengizinkannya untuk memiliki hubungan yang sangat personal dengan orang lain. Menjadi dekat dengan wanita ini juga berarti ia membahayakan nyawa wanita ini, karena banyak orang dari agensinya yang akan mengawasinya. Menjadi dekat dengan wanita ini juga akan membahayakan posisinya, karena Interpol pasti akan menginterogasi wanita itu untuk sampai kepada dirinya. Begitu ia nanti menaiki pesawat menuju Jenewa, itu akan menjadi titik dalam hidupnya, dimana ia tidak akan menghubungi wanita itu. Ia akan terus menyimpan sketsanya, tetapi ia tidak akan mengadakan kontak sekecil apapun dengan wanita itu. Jika mereka secara tidak sengaja bertemu, ia tidak akan menyapa wanita itu. Ia akan berusaha untuk tidak berbicara dekat wanita itu, karena wanita itu akan mengenali suaranya, dan akan mencari-cari dimana dirinya.

Lo nggak apa-apa?

Wanita itu tersenyum kecil. Gue putus sama pacar gue. Dan gue ada masalahmasalah kecil lain, yang ada hubungannya sama kuliah gue. Mungkin kedengerannya ringan buat lo, tapi karena semua masalah itu terjadinya deket-deket ini, gue jadi down, ia tertawa pelan. Ini kenapa gue jadi curhat, ya? Tapi gue minta maaf, tiba-tiba nangis. Cengeng banget. Ia menggeleng pelan. Kalau lo mau ngomongin masalah lo, ngomong aja. Gue akan dengerin.

Aries mengeluarkan secarik kertas kecil dari kantong kecil di halaman terakhir buku sakunya. Di atas kertas kecil itu, tertulis nomor telepon wanita itu, dalam tulisan tangan wanita itu sendiri. Tulisannya kecil dan bundar, menempati hanya seperempat kertas itu. Ia mengambil telepon genggamnya dari dalam tasnya. Sinyal penuh. Ia menggunakan nomor Dubai, bukan nomor Indonesia, dan nomornya bukan nomor prabayar, tetapi abodemen. Pelan, ia mulai mengetik nomor yang tertulis pada kertas itu. Sudah berminggu-minggu ia tidak mengontak wanita itu. Terakhir mereka melakukan kontak adalah ketika ia membunuh target terbarunya, dan ia melakukan pembunuhan itu di depan mata wanita itu. Setelah itu, berkali-kali wanita itu berusaha menghubunginya ke nomor teleponnya yang lama, yang telah ia berikan kepada seorang gelandangan. Ia tahu karena ia mengawasi gelandangan itu selama beberapa hari setelahnya. Polisi pasti telah melacak nomornya, dan ia tidak bisa membiarkan polisi menemukannya. Jika ia bersikeras mengontak wanita itu setelah pembunuhan itu terjadi, polisi akan melacaknya, dan habislah ia. Polisi pasti saat ini sedang melacak nomor wanita itu: sms dan panggilan yang ia kirim dan terima. Jika ia menelpon wanita itu sekarang, polisi akan melacaknya. Makanya, sekarang, beberapa anak buahnya yang tersebar di kota Dubai akan mengadakan panggilan telpon ke Jakarta, menggunakan nomor dari negara yang berbeda-beda. Apapun yang terjadi mulai sekarang, ia pasrah saja. Ia akan berada di negara paling netral di dunia ini, dengan identitas baru. Agensinya telah mengurus semuanya. Ia akan

aman. Jika ia tidak aman, ia akan lari. Dengan semua kemampuannya, ia akan aman dalam pelarian. Dan ia mempunyai kenalan di Afrika dan di Pasifik, juga di negara-negara bekas Soviet. Aries menghela nafas. Sebelum menghilang dari kehidupannya sepenuhnya, ia harus mengatakan banyak hal kepada wanita itu. Ia menekan tombol call di layar telepon genggamnya, dan menunggu sampai panggilannya dijawab. Halo? panggilannya dijawab oleh seorang wanita, suaranya serak dan terdengar seolah ia baru bangun tidur. Halo, Nola. Kini, ia merasa ia kembali ke kedai kopi itu di jumat sore di Jakarta yang sedang hujan deras, lengkap dengan perempuan itu meneguk kopi susunya. Ini akan menjadi kontak terakhir mereka.

Nama lengkap: Sandra Saffira Desitasari Nama yang diinginkan untuk ditulis di buku: Sandra Saffira Desitasari Email: sandra.saffira@gmail.com Akun twitter: @ssaffiraa No telepon: (+34) 600 304 637 Kegiatan sehari-hari atau cerpen yang pernah dimuat atau buku yang pernah terbit: Mahasiswi desain interior. Hobi menggambar, menulis, dan mendengarkan musik. Memiliki banyak ide yang belum direalisasikan. Saat ini sedang menulis sebuah novel petualangan. Belum pernah menerbitkan tulisan sebelum ini.