Anda di halaman 1dari 61

MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT, TELINGA, DAN MATA

Disusun guna memenuhi tugas: Mata Kuliah Dosen : : Biomedik II Ns. Sumardi Hartono, S.Kep

Disusun oleh: 1. Andika Pamungkas 10.0523.F

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS PEKALONGAN 2011

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb Seperti kita ketahui bersama, bahwa sampai saat ini masih jarang ada makalah ada resume tentang Anatomi fisiologi yang dapat membantu siswa Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam proses belajar . anatomi fisiologi merupakan ilmu yang sangat penting artinya sebagai penunjang Ilmu kesehatan Masyarakat lainnya seperti farmakologi, epidemiologi, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi ini penulis mencoba menyusun sebuah makalah Anatomi dan Fisiologi untuk mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, makalah ini dapat terwujud setelah saya mencari beberapa buku referensi tentang Anatomi dan Fisiologi di perpustakaan dan mendapatkan beberapa referensi di internet. Penulis sebagai mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam mencari materi kuliah Anatomi dan Fisiologi karena kurangnya sumber buku yang membahas lengkap tentang Anatomi dan Fisiologi. Selain itu banyak mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam penguasaan materi Anatomi dan Fisiologi, terutama mempelajari istilah dalam bahasa latin. Dengan dibuatnya makalah ini semoga mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam mempelajari Anatomi dan Fisiologi. Penulis menyadari teknik menyusun dan materi yang saya sajikan masih jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna perbaikan makalah ini. Selain itu penulis juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini dan terbitnya makalah Anatomi dan Fisiologi mata, telinga, dan kulit. Semoga dengan segala kekurangan yang ada, sekecil apapun buku ini akan bermanfaat. Wassalamualaikum wr.wb

Andika Pamungkas

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi ................................................................................. ii

........................................................................................... iii .......................................................................... 1

BAB I Pendahuluan

BAB II Isi dan Pembahasan A. Anatomi dan Fisiologi kulit B. Anatomi dan Fisiologi telinga C. Anatomi dan Fisiologi mata BAB III Penutup A. Kesimpulan B. Kritik dan Saran Daftar Pustaka

BAB II ISI DAN PEMBAHASAN


A. INDERA PERABA
Kulit merupakan bagian tubuh yang paling utama yang perlu diperhatikan dalam tata kecantikan kulit. Pemahaman tentang anatomi dan fisiologi kulit akan membantu mempermudah perawatan kulit untuk mendapatkan kulit wajah yang segar, lembab, halus, lentur dan bersih. Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian tubuh, membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. Luas kulit pada manusia rata-rata + 2 meter persegi dengan berat 10 kg jika ditimbang dengan lemaknya atau 4 kg jika tanpa lemak atau beratnya sekitar 16 % dari berat badan seseorang. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (keratinisasi dan pelepasan sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari. Kulit merupakan suatu kelenjar holokrin yang cukup besar dan seperti jaringan tubuh lainnya, kulit juga bernafas (respirasi), menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Kulit menyerap oksigen yang diambil lebih banyak dari aliran darah, begitu pula dalam pengeluaran karbondioksida yang lebih banyak dikeluarkan melalui aliran darah. Kecepatan penyerapan oksigen ke dalam kulit dan pengeluaran karbondioksida dari kulit tergantung pada banyak faktor di dalam maupun di luar kulit, seperti temperatur udara atau suhu, komposisi gas di sekitar kulit, kelembaban udara, kecepatan aliran darah ke kulit, tekanan gas di dalam darah kulit, penyakit-penyakit kulit, usia, keadaan vitamin dan hormon di kulit, perubahan dalam metabolisme sel kulit dan pemakaian bahan kimia pada kulit. Sifat-sifat anatomis dan fisiologis kulit di berbagai daerah tubuh sangat berbeda. Sifat-sifat anatomis yang khas, berhubungan erat dengan tuntutan tuntutan faali yang berbeda di masing-masing daerah tubuh, seperti halnya kulit di telapak tangan, telapak kaki, kelopak mata, ketiak dan bagian lainnya merupakan pencerminan penyesuaiannya kepadafungsinya masing - masing. Kulit di daerah - daerah tersebut berbeda ketebalannya, keeratan hubungannya dengan lapisan bagian dalam, dan berbeda pula dalam jenis serta banyaknya andeksa yang ada di dalam lapisan kulitnya. Pada permukaan kulit terlihat adanya alur-alur atau garis-garis halus yang membentuk pola yang berbeda di berbagai daerah tubuh serta bersifat khas bagi setiap orang, seperti yang ada

pada jari-jari tangan, telapak tangan dan telapak kaki atau dikenal dengan pola sidik jari (dermatoglifi). Kulit menutup tubuh manusia pada daerah tubuh yang paling luas dari kepala sampai ke kaki. Kulit wajah yang sehat dan cantik akan tampak kencang, lentur, dan lembab, kondisi ini tidak akan menetap selamanya, sejalan dengan perkembangan usia, ketika kondisi tubuh menurun, kulit tidak hanya menjadi kering tapi juga suram dan berkeriput. Keadaan ini makin mudah terjadi setelah melewati usia tiga puluhan. Saat itu fungsi kelenjar minyak mengendur, sehingga kulit terasa lebih kering dibandingkan dengan sebelumnya. Diduga dengan bertambahnya usia, kadar asam amino pembentuk kalogen pun berkurang sehingga kalogen yang terbentuk bermutu rendah, selain itu kalogen kehilangan kelembaban dan menjadi kering serta kaku. Akibatnya jaringan penunjang itu tak mampu menopang kulit dengan baik, seperti yang tampak pada kulit orang tua yang makin lama makin kendur dan kurang lentur. Perubahan susunan molekul kalogen ini merupakan salah satu faktor utama yang membuat kulit manusia lebih cepat keriput, timbul pigmentasi, kehilangan kelembaban dan elastisitas. Kapan tandatanda penuaan itu muncul, tergantung pada usaha kita untuk melindungi dan merawatnya secara baik. A. Struktur Kulit Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu : kulit ari (epidermis), sebagai lapisan yang paling luar, kulit jangat (dermis, korium atau kutis) dan jaringan penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau subkutis). Sebagai gambaran, penampang lintang dan visualisasi struktur lapisan kulit tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

1. Kulit Ari (epidermis) Epidermis merupakan bagian kulit paling luar yang paling menarik untuk diperhatikan dalam perawatan kulit, karena kosmetik dipakai pada bagian epidermis. Ketebalan epidermis berbeda-beda pada berbagai bagian tubuh, yang paling tebal berukuran 1 milimeter misalnya pada telapak tangan dan telapak kaki, dan yang paling tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata, pipi, dahi dan perut. Sel-sel epidermis disebut keratinosit. Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel dari plasma yang merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis ke dalam epidermis. Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu: a. Lapisan tanduk (stratum corneum) Lapisan tanduk merupakan lapisan epidermis yang paling atas, dan menutupi semua lapisan epiderma lebih ke dalam. Lapisan tanduk terdiri atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung air. Pada telapak tangan dan telapak kaki jumlah baris keratinosit jauh lebih banyak, karena di bagian ini lapisan tanduk jauh lebih tebal. Lapisan tanduk ini sebagian besar terdiri atas keratin yaitu sejenis protein yang tidak larut dalam air dan sangat resisten terhadap bahan-bahan kimia. Lapisan ini dikenal dengan lapisan horny, terdiri dari milyaran sel pipih yang mudah terlepas dan digantikan oleh sel yang baru setiap 4 minggu, karena usia setiap sel biasanya hanya 28 hari. Pada saat terlepas, kondisi kulit akan terasa sedikit kasar sampai muncul lapisan baru. Proses pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung sepanjang hidup, menjadikan kulit ari memiliki self repairing capacity atau kemampuan memperbaiki diri. Bertambahnya usia dapat menyebabkan proses keratinisasi berjalan lebih lambat. Ketika usia mencapai sekitar 60 tahunan, proses keratinisasi, membutuhkan waktu sekitar 45 - 50 hari, akibatnya lapisan tanduk yang sudah menjadi lebih kasar, lebih kering, lebih tebal, timbul bercak-bercak putih karena melanosit lambat bekerja dan penyebaran melanin tidak lagi merata serta tidak lagi cepat digantikan oleh lapisan tanduk baru. Daya elastisitas kulit pada lapisan ini sangat kecil, dan lapisan ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya penguapan air dari lapis kulit lebih dalam sehingga mampu memelihara tonus dan turgor kulit, tetapi lapisan tanduk memiliki daya serap air yang cukup besar. b. Lapisan bening (stratum lucidum) Lapisan bening disebut juga lapisan barrier, terletak tepat di bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagai penyambung lapisan tanduk dengan lapisan berbutir. Lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel

jernih yang kecil-kecil, tipis dan bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar (tembus cahaya). Lapisan ini sangat tampak jelas pada telapak tangan dan telapak kaki. Proses keratinisasi bermula dari lapisan bening. c. Lapisan berbutir (stratum granulosum) Lapisan berbutir tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya, berbutir kasa dan berinti mengkerut. Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit telapak tangan dan telapak kaki. d. Lapisan bertaju (stratum spinosum) Lapisan bertaju disebut juga lapisan malphigi terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan perantaraan jembatan-jembatan protoplasma berbentuk kubus. Jika sel-sel lapisan saling berlepasan, maka seakan-akan selnya bertaju. Setiap sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut protein. Sel-sel pada lapisan taju normal, tersusun menjadi beberapa baris. Bentuk sel berkisar antara bulat ke bersudut banyak (polygonal), dan makin ke arah permukaan kulit makin besar ukurannya. Diantara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang berguna untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan pengantaran butir-butir melanin. Sel-sel di bagian lapis taju yang lebih dalam, banyak yang berada dalam salah satu tahap mitosis. Kesatuan lapisan taju mempunyai susunan kimiawi yang khas; inti sel dalam bagian basal lapis taju mengandung kolesterol, asam amino dan glutation. e. Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale) Lapisan benih merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris sel torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan dermis. Alas sel-sel torak ini bergerigi dan bersatu dengan lamina basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur halus yang membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh lamina basalis cukup besar terhadap pengaturan metabolisme demo epidermal dan fungsi-fungsi vital kulit. Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah banyak melalui mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisanlapisan lebih atas, akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan benih terdapat pula sel-sel bening (clear cells, melanoblas atau melanosit) pembuat pigmen melanin kulit.

2. Kulit Jangat (dermis)

Kulit jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa, tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar palit atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot penegak rambut (muskulus arektor pili). Sel-sel umbi rambut yang berada di dasar kandung rambut, terus-menerus membelah dalam membentuk batang rambut. Kelenjar palit yang menempel di saluran kandung rambut, menghasilkan minyak yang mencapai permukaan kulit melalui muara kandung rambut. Kulit jangat sering disebut kulit sebenarnya dan 95 % kulit jangat membentuk ketebalan kulit. Ketebalan rata-rata kulit jangat diperkirakan antara 1 - 2 mm dan yang paling tipis terdapat di kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak tangan dan telapak kaki. Susunan dasar kulit jangat dibentuk oleh serat-serat, matriks interfibrilar yang menyerupai selai dan sel-sel. Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat, memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar. Masing masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin. Saraf perasa juga memungkinkan segera bereaksi terhadap hal-hal yang dapat merugikan diri kita. Jika kita mendadak menjadi sangat takut atau sangat tegang, otot penegak rambut yang menempel dikandung rambut, akan mengerut dan menjadikan bulu roma atau bulu kuduk berdiri. Kelenjar palit yan menempel di kandung rambut memproduksi minyak untuk melumasi permukaan kulit dan batang rambut. Sekresi minyaknya dikeluarkan melalui muara kandung rambut. Kelenjar keringat menghasilkan cairan keringat yang dikeluarkan ke permukaan kulit melalui pori-pori kulit. Di permukaan kulit, minyak dan keringat membentuk lapisan pelindung yang disebut acid mantel atau sawar asam dengan nilai pH sekitar 5,5. Sawar asam merupakan penghalang alami yang efektif dalam menangkal berkembang biaknya jamur, bakteri dan berbagai jasad renik lainnya di permukaan kulit. Keberadaan dan keseimbangan nilai pH, perlu terus-menerus dipertahankan dan dijaga agar jangan sampai menghilang oleh pemakaian kosmetika. Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis yang dapat membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein ini yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan penunjang, karena fungsinya dalam membentuk jaringan-jaringan kulit yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit. Berkurangnya protein akan menyebabkan kulit menjadi kurang elastis dan mudah mengendur hingga timbul kerutan. Faktor lain yang menyebabkan kulit berkerut yaitu faktor usia atau kekurangan gizi. Dari fungsi ini tampak bahwa kolagen mempunyai peran penting bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Perlu diperhatikan bahwa luka yang

terjadi di kulit jangat dapat menimbulkan cacat permanen, hal ini disebabkan kulit jangat tidak memiliki kemampuan memperbaiki diri sendiri seperti yang dimiliki kulit ari. Di dalam lapisan kulit jangat terdapat dua macam kelenjar, yaitu: a. Kelenjar keringat Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar) dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada permukaan kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat dipermukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak. Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat tertentu. Ada dua jenis kelenjar keringat yaitu: 1) Kelenjar keringat ekrin, kelenjar keringat ini mensekresi cairan jernih, yaitu keringat yang mengandung 95 97 persen air dan mengandung beberapa mineral, seperti garam, sodium klorida, granula minyak, glusida dan sampingan dari metabolisma seluler. Kelenjar keringat ini terdapat di seluruh kulit, mulai dari telapak tangan dan telapak kaki sampai ke kulit kepala. Jumlahnya di seluruh badan sekitar dua juta dan menghasilkan 14 liter keringat dalam waktu 24 jam pada orang dewasa. Bentuk kelenjar keringat ekrin langsing, bergulung-gulung dan salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit yang tidak ada rambutnya. 2) Kelenjar keringat apokrin, yang hanya terdapat di daerah ketiak, puting susu, pusar, daerah kelamin dan daerah sekitar dubur (anogenital) menghasilkan cairan yang agak kental, berwarna keputih-putihan serta berbau khas pada setiap orang. Sel kelenjar ini mudah rusak dan sifatnya alkali sehingga dapat menimbulkan bau. Muaranya berdekatan dengan muara kelenjar sebasea pada saluran folikel rambut. Kelenjar keringat apokrin jumlahnya tidak terlalu banyak dan hanya sedikit cairan yang disekresikan dari kelenjar ini. Kelenjar apokrin mulai aktif setelah usia akil baligh dan aktivitas kelenjar ini dipengaruhi oleh hormon. b. Kelenjar palit Kelenjar palit terletak pada bagian atas kulit jangat berdekatan dengan kandung rambut terdiri dari gelembung-gelembung kecil yang bermuara ke dalam kandung rambut (folikel). Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit dan menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum atau urap kulit. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, kelenjar palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian muka. Pada umumnya, satu batang

rambut hanya mempunyai satu kelenjar palit atau kelenjar sebasea yang bermuara pada saluran folikel rambut. Pada kulit kepala, kelenjar palit atau kelenjar sebasea menghasilkan minyak untuk melumasi rambut dan kulit kepala. Pada kebotakan orang dewasa, ditemukan bahwa kelenjar palit atau kelenjar sebasea membesar sedangkan folikel rambut mengecil. Pada kulit badan termasuk pada bagian wajah, jika produksi minyak dari kelenjar palit atau kelenjar sebasea berlebihan, maka kulit akan lebih berminyak sehingga memudahkan timbulnya jerawat. 3. Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis) Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta makin kehilangan kontur. B. Fungsi Kulit Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut : 1. Pelindung atau proteksi Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau rangsangan fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari. 2. Penerima rangsang Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi. 3. Pengatur panas atau thermoregulasi Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,50C. Ketika terjadi perubahan pada suhu luar, darah dan

kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah satu fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan, sedangkan panas akan hilang dengan penguapan keringat. 4. Pengeluaran (ekskresi) Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjarkelenjar keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari. 5. Penyimpanan. Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak. 6. Penyerapan terbatas Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya. 7. Penunjang penampilan Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan. Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak rambut. C. Warna Kulit Warna kulit sangat beragam, dari yang berwarna putih mulus, kuning, coklat, kemerahan atau hitam. Setiap warna kulit mempunyai keunikan tersendiri yang jika dirawat dengan baik dapat menampilkan karakter yang menarik. Warna kulit terutama ditentukan oleh : 1. Oxyhemoglobin yang berwarna merah 2. Hemoglobin tereduksi yang berwarna merah kebiruan 3. Melanin yang berwarna coklat 4. Keratohyalin yang memberikan penampakan opaque pada kulit, serta 5. Lapisan stratum corneum yang memiliki warna putih kekuningan atau keabu-abuan. Dari semua bahan-bahan pembangun warna kulit, yang paling menentukan warna kulit adalah pigmen melanin. Banyaknya pigmen melanin di dalam kulit ditentukan oleh faktor-faktor ras, individu, dan lingkungan. Melanin dibuat dari tirosin sejenis asam amino dan dengan

oksidasi, tirosin diubah menjadi butir-butir melanin yang berwarna coklat, serta untuk proses ini perlu adanya enzim tirosinase dan oksigen. Oksidasi tirosin menjadi melanin berlangsung lebih lancar pada suhu yang lebih tinggi atau di bawah sinar ultra violet. Jumlah, tipe, ukuran dan distribusi pigmen melanin ini akan menentukan variasi warna kulit berbagai golongan ras atau bangsa di dunia. Proses pembentukan pigmen melanin kulit terjadi pada butir-butir melanosom yang dihasilkan oleh sel-sel melanosit yang terdapat di antara sel-sel basal keratinosit didalam lapisan benih. D. Jenis-jenis Kulit Upaya untuk perawatan kulit secara benar dapat dilakukan dengan terlebih dahulu harus mengenal jenis-jenis kulit dan ciri atau sifat-sifatnya agar dapat menentukan cara-cara perawatan yang tepat, memilih kosmetik yang sesuai, menentukan warna untuk tata rias serta untuk menentukan tindakan koreksi baik dalam perawatan maupun dalam tata rias. Kulit yang sehat memiliki ciri: 1. Kulit memiliki kelembaban cukup, sehingga terlihat basah atau berembun 2. Kulit senantiasa kenyal dan kencang 3. Menampilkan kecerahan warna kulit yang sesungguhnya 4. Kulit terlihat mulus, lembut dan bersih dari noda, jerawat atau jamur 5. Kulit terlihat segar dan bercahaya 6. Memiliki sedikit kerutan sesuai usia. Pada umumnya jenis kulit manusia dapat dikelompokkan menjadi: 1. Kulit Normal Kulit normal cenderung mudah dirawat. Kelenjar minyak (sebaceous gland) pada kulit normal biasanya tidak bandel, karena minyak (sebum) yang dikeluarkan seimbang, tidak berlebihan ataupun kekurangan. Meski demikian, kulit normal tetap harus dirawat agar senantiasa bersih, kencang, lembut dan segar. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran pada kulit normal dapat menjadi jerawat. Selain itu kulit yang tidak terawat akan mudah mengalami penuaan dini seperti keriput dan tampilannya pun tampak lelah. Ciri-ciri kulit normal adalah kulit lembut, lembab berembun, segar dan bercahaya, halus dan mulus, tanpa jerawat, elastis, serta tidak terlihat minyak yang berlebihan juga tidak terlihat kering. Meskipun jika dilihat sepintas tidak bermasalah, kulit normal tetap harus dijaga dan dirawat dengan baik, karena jika tidak dirawat, kekenyalan dan kelembaban kulit normal akan terganggu,terjadi penumpukan kulit mati dan kotoran dapat menyebabkan timbulnya jerawat. 2. Kulit Berminyak

Kulit berminyak banyak dialami oleh wanita di daerah tropis. Karena pengaruh hormonal, kulit berminyak biasa dijumpai pada remaja puteri usia sekitar 20 tahunan, meski ada juga pada wanita usia 30-40 tahun yang mengalaminya. Penyebab kulit berminyak adalah karena kelenjar minyak (sebaceous gland) sangat produktif, hingga tidak mampu mengontrol jumlah minyak (sebum) yang harus dikeluarkan. Sebaceaous gland pada kulit berminyak yang biasanya terletak di lapisan dermis, mudah terpicu untuk bekerja lebih aktif. Pemicunya dapat berupa faktor internal atau faktor eksternal, yaitu: a. Faktor internal meliputi: 1) Faktor genetis, anak dari orang tua yang memiliki jenis kulit berminyak, cenderung akan memiliki kulit berminyak pula. 2) Faktor hormon, hormon manusia sangat mempengaruhi produksi keringat. Karena itulah pada wanita yang sedang menstruasi atau hamil akan lebih sering berkeringat. Selain itu stres dan banyak gerak juga dapat menjadi pemicu keringat berlebihan. b. Faktor eksternal meliputi: 1) Udara panas dan lembab. 2) Makanan yang dapat merangsang keluarnya keringat seperti makanan yang terlalu pedas baik karena cabai atau merica, makanan yang terlalu asin, makanan yang berbumbu menyengat seperti bawang putih, makanan yang terlalu berminyak serta makanan dan minuman yang terlalu panas. Kulit berminyak memerlukan perawatan khusus dibandingkan kulit normal. Pada jenis kulit ini, minyak berlebihan yang dibiarkan akan menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri yang pada saat selanjutnya akan menjadi jerawat, radang atau infeksi. Merawat kulit berminyak bukan berarti membuat kulit benarbenar bebas minyak, karena minyak pada kulit tetap diperlukan sebagai alat pelindung alami dari sengatan sinar matahari, bahan kimia yang terkandung dalam kosmetika maupun terhadap polusi. Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar kadar sebum tetap seimbang dan kulit tetap dalam keadaan bersih agar bakteri penyebab jerawat dapat terhambat. Memiliki jenis kulit berminyak, memiliki kelebihan yaitu membantu menjaga kelembaban lapisan dermis hingga memper-lambat timbulnya keriput. Ciri-ciri kulit berminyak yaitu : minyak di daerah T tampak berlebihan, tekstur kulit tebal dengan pori-pori besar hingga mudah menyerap kotoran, mudah berjerawat, tampilan wajah berkilat, riasan wajah seringkali tidak dapat melekat dengan baik dan cepat luntur serta tidak mudah timbul kerutan. 3. Kulit Kering

Kulit kering memiliki karakteristik yang cukup merepotkan bagi pemiliknya, karena pada umumnya kulit kering menimbulkan efek yang tidak segar pada kulit, dan kulitpun cenderung terlihat berkeriput. Kulit kering memiliki kadar minyak atau sebum yang sangat rendah dan cenderung sensitif, sehingga terlihat parched karena kulit tidak mampu mempertahankan kelembabannya. Ciri dari kulit kering adalah kulit terasa kaku seperti tertarik setelah mencuci muka dan akan mereda setelah dilapisi dengan krim pelembab. Kondisi kulit dapat menjadi lebih buruk apabila terkena angin, perubahan cuaca dari dingin ke panas atau sebaliknya. Garis atau kerutan sekitar pipi, mata dan sekitar bibir dapat muncul dengan mudah pada wajah yang berkulit kering. Berbagai faktor yang menjadi penyebab kulit menjadi kering, diantaranya: a. Faktor genetik Faktor genetik merupakan kondisi bawaan seseorang, termasuk kondisi kulit wajah yang kering. b. Kondisi struktur kulit Kondisi kelenjar minyak yang tidak mampu memberi cukup lubrikasi untuk kulit, menimbulkan dehidrasi pada kulit. c. Pola makan Pola makan yang buruk, kekurangan nutrisi tertentu seperti vitamin A dan vitamin B merupakan salah satu pemicu kulit menjadi kering. d. Faktor lingkungan Pengaruh lingkungan seperti terpapar sinar matahari, angin, udara dingin, radikal bebas atau paparan sabun yang berlebihan saat mandi atau mencuci muka pun akan sangat berpengaruh pada pembentukan kulit kering e. Penyakit kulit Kondisi lainnya yang sangat berpeluang menjadi penyebab kulitkering adalah karena kulit terserang penyakit tertentu seperti eksim, psoriasis dan sebagainya. Kulit kering merupakan bentuk lain dari tanda tidak aktifnya kelenjar thyroid dan komplikasi pada penderita diabetes. Kulit kering terjadi jika keseimbangan kadar minyak terganggu. Pada kulit berminyak terjadi kelebihan minyak dan pada kulit kering justru kekurangan minyak. Kandungan lemak pada kulit kering sangat sedikit, sehingga mudah terjadi penuaan dini yang ditandai keriput dan kulit terlihat lelah serta terlihat kasar. Kulit kering memerlukan perawatan yang bersifat pemberian nutrisi agar kadar minyak tetap seimbang dan kulit dapat selalu terjaga kelembabannya. Salah satu keuntungan kulit kering adalah riasan wajah dapat lebih awet, karena kadar sebum dalam lapisan dermis tidak berlebihan hingga riasan tidak mudah luntur.

Kulit kering memiliki ciri-ciri kulit halus tetapi mudah menjadi kasar, mudah merekah dan terlihat kusam karena gangguan proses keratinisasi kulit ari, tidak terlihat minyak berlebihan di daerah T yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi kelenjar keringat dan kelenjar palit atau kelenjar minyak. Ciri lainnya yaitu mudah timbul kerutan yang disebabkan oleh menurunnya elastisitas kulit dan berkurangnya daya kerut otot-otot, mudah timbul noda hitam, mudah bersisik, riasan yang dikenakan tidak mudah luntur, reaktivitas dan kepekaan dinding pembuluh darah terhadap rangsangan-rangsangan berkurang sehingga peredaran darah tidak sempurna dan kulit akan tampak pucat, suram dan lelah. 4. Kulit Sensitif Diagnosis kulit sensitif didasarkan atas gejala-gejala penambahan warna, dan reaksi cepat terhadap rangsangan. Kulit sensitif biasanya lebih tipis dari jenis kulit lain sehingga sangat peka terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan alergi (allergen). Pembuluh darah kapiler dan ujung saraf pada kulit sensitif terletak sangat dekat dengan permukaan kulit. Jika terkena allergen, reaksinya pun sangat cepat. Bentuk-bentuk reaksi pada kulit sensitif biasanya berupa bercak merah, gatal, iritasi hingga luka yang jika tidak dirawat secara baik dan benar akan berdampak serius. Warna kemerahan pada kulit sensitif disebabkan allergen memacu pembuluh darah dan memperbanyak aliran darah ke permukaan kulit. Berdasarkan sifatnya tadi, perawatan kulit sensitif ditujukan untuk melindungi kulit serta mengurangi dan menanggulangi iritasi. Kulit sensitif seringkali tidak dapat diamati secara langsung, diperlukan bantuan dokter kulit atau dermatolog untuk memeriksanya dalam tes alergi-imunologi. Dalam pemeriksaan alergi, biasanya pasien akan diberi beberapa allergen untuk mengetahui kadar sensitivitas kulit. Kulit sensitif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : mudah alergi, cepat bereaksi terhadap allergen, mudah iritasi dan terluka, tekstur kulit tipis, pembuluh darah kapiler dan ujung saraf berada sangat dekat dengan permukaan kulit sehingga kulit mudah terlihat kemerahan. Faktor-faktor yang dapat menjadi allergen bagi kulit sensitif antara lain makanan yang pedas dan berbumbu tajam, kafein, nikotin dan minuman beralkohol, niasin atau vitamin B3, kandungan parfum dan pewarna dalam kosmetika, sinar ultraviolet dan gangguan stres. Kulit sensitif berbeda dengan kulit reaktif. Meski timbul bercak kemerahan atau gatal-gatal akibat penggunaan kosmetika tertentu, belum tentu menjadi gejala atau tanda kulit sensitif. Kemungkinan bercak kemerahan tadi hanya menandakan iritasi ringan, yang akan hilang sendiri. Kulit reaktif seperti ini dapat menjadi sensitif jika iritasi kemudian meluas dan sukar sembuh. Untuk membedakannya perlu dilakukan tes alergi-imunologi oleh dokter kulit.

E. Kelainan-kelainan Kulit Kelainan-kelainan kulit yang sering dialami kaum wanita, biasanya meliputi kelainan pada kelenjar palit seperti jerawat (akne) dan komedo, kelainan karena tumbuhan pada kulit, kelainan karena gangguan pigmentasi, kelainan karena infeksi jamur, penuaan dini serta kelainan karena alergi. 1. Kelainan pada kelenjar palit a. Jerawat Masalah paling sering terjadi pada kulit berminyak adalah jerawat, meskipun tidak tertutup kemungkinan timbul pada jenis kulit lain. Pada dasarnya jerawat disebabkan oleh tumbuhnya kotoran dan sel kulit mati yang mengakibatkan folikel dan pertumbuhan sebum terhambat. Produksi minyak pada kulit biasanya disalurkan melalui folikel rambut. Kotoran atau sel kulit mati yang tidak dibersihkan akan menyumbat saluran ini hingga minyak yang ke luar akan bertumpuk dan menjadi komedo. Jika terkena bakteri akne, komedo akan menjadi jerawat. Jerawat atau akne adalah suatu penyakit radang yang mengenai susunan pilosebaseus yaitu kelenjar palit dengan folikel rambutnya. Jerawat sangat umum terdapat pada anak-anak masa pubertas dan dianggap fisiologis oleh karena perubahan hormonal. Timbunan lemak di bawah kulit ini selain membuat kulit kasar, tidak rata juga tidak enak dipandang mata. Penderita umumnya mempunyai jenis kulit berminyak. Kulit kasar akan makin menjadi, pada kulit yang kurang memproduksi minyak, seperti mereka yang termasuk kategori berkulit kering. Selain perubahan hormonal, kesalahan memilih kosmetik juga dapat menyebabkan timbulnya jerawat. Kurang lebih 90% remaja, wanita dan pria terkena jerawat dan biasanya menghilang sebelum usia mencapai 20 tahun tetapi dapat pula berlangsung terus. Perkecualian, jerawat juga sering dialami oleh wanita dewasa yang menjadi akseptor KB dengan pil bahkan pada wanita saat memasuki masa menopause. Jerawat timbul di daerah sebore yaitu daerah kulit yang mengandung lebih banyak kelenjar palit di daerah kulit yang lain. Daerah sebore terdapat pada daerah hidung, pipi, dahi dan dagu serta di dada dan punggung. 1) Gejala timbulnya jerawat: a) Peningkatan produksi sebum. b) Munculnya kondisi abnormal karena bakteri atau jamur sering kali menimbulkan rasa sakit. c) Terjadi penebalan jaringan terkadang menjadi benjolan kecil. d) Peningkatan hormon estrogen.

2) Tahap terjadinya jerawat: a) Pada kulit yang semula dalam kondisi normal, sering kali terjadi penumpukan kotoran dan sel kulit mati karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan, khususnya pada kulit yang memiliki tingkat reproduksi minyak yang tinggi. Akibatnya saluran kandung rambut (folikel) menjadi tersumbat. b) Sel kulit mati dan kotoran yang menumpuk tersebut kemudian terkena bakteri acne, maka timbulah jerawat.

c) Dalam waktu tertentu, jerawat yang tidak diobati akan mengalami pembengkakan (membesar dan berwarna kemerahan), disebut papule.

d) Bila peradangan semakin parah, sel darah putih mulai naik ke permukaan kulit dalam bentuk nanah (pus), jerawat tersebut disebut pastules. Jerawat radang terjadi akibat folikel yang ada di dalam dermis mengembang karena berisi lemak padat, kemudian pecah, menyebabkan serbuan sel darah putih ke area folikel

sebasea, sehingga terjadilah reaksi radang. Peradangan akan semakin parah jika kuman dari luar ikut masuk ke dalam jerawat akibat perlakuan yang salah seperti dipijat dengan kuku atau benda lain yang tidak steril. Jerawat radang mempunyai ciri berwarna merah, cepat membesar, berisi nanah dan terasa nyeri.

e) Bila jerawat mengandung nanah, lemak dan cairan-cairan lain berarti jerawat sudah berada pada kondisi terparah, disebut cyst.

f) Bila cyst tidak terawat, maka jaringan kolagen akan mengalami kerusakan sampai pada lapisan dermis, sehingga kulit atau wajah menjadi bopeng (Scar). 3) Faktor- Faktor Penyebab Timbulnya Jerawat : Beberapa faktor penyebab timbulnya masalah-masalah atau kelainan-kelainan kulit pada kelenjar palit atau jerawat yaitu : a) Genetik Mereka yang orang tuanya berjerawat selagi muda, maka anaknya akan lebih mudah terkena jerawat dibandingkan mereka yang tidak memiliki genetik berjerawat, dan biasanya penderita, keadaannya cukup parah (bernanah). Mereka yang tidak memiliki genetik berjerawat meskipun pola hidupnya tidak baik, mereka tidak mudah terkena jerawat. b) Umur dan jenis kelamin Pada umumnya jerawat muncul pada usia pubertas dan remaja (usia 13-19 tahun), yang disebabkan masalah hormonal yang belum stabil dalam memproduksi sebum. Wanita lebih banyak

terkena dibanding pria tetapi umumnya jerawat pada pria lebih parah keadaannya. c) Makanan Menurut penelitian yang dilakukan oleh sebuah institusi kecantikan kulit di Amerika Serikat (Academy of Dermatology) mengatakan bahwa jerawat tidak disebabkan oleh makanan. Tidak ada makanan yang secara signifikan dapat menimbulkan jerawat, tetapi ternyata sebuah hasil studi kasus yang terbaru, membuktikan hal yang bertolak belakang. Para pakar peneliti di Colorado State University Department of Health and Exercise menemukan bahwa makanan yang mengandung kadar gula dan kadar karbo hidrat yang tinggi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menimbulkan jerawat. Secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa mengkonsumsi terlalu banyak gula dapat meningkatkan kadar insulin dalam darah, dimana hal tersebut memicu produksi hormon androgen yang membuat kulit jadi berminyak. Dan kadar minyak yang tinggi dalam kulit merupakan pemicu paling besar terhadap timbulnya jerawat. d) Gangguan pencernaan makanan Tidak teraturnya pembuangan kotoran dapat mempengaruhi timbulnya jerawat. e) Alergi terhadap makanan Sifat alergi terhadap beberapa zat protein, karbohidrat dan lemak dapat menjadikan jerawat lebih parah. f) Mekanis Kebiasaan memegang atau memencet jerawat menyebabkan jerawat lebih parah, karena luka yang terjadi memungkinkan infeksi dan menyebabkan penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. g) Iklim Iklim yang lembab dan panas menyebabkan kelenjar palit bekerja lebih cepat dan dapat memperburuk keadaan jerawat. h) Psikis Pengaruh tekanan pada pikiran dapat menimbulkan jerawat. i) Faktor hormonal Hormon androgen memegang peranan yang penting dalam merangsang pembentukan palit oleh kelenjar sebasea dan dalam mempengaruhi proses pertandukan di sekitar muara folikel. Tidak terdapatnya jerawat pada laki-laki membuktikan adanya pengaruh endokrin. j) Kosmetika Penggunaan kosmetika yang melekat pada kulit dan menutupi pori-pori, jika tidak segera dibersihkan akan menyumbat saluran

kelenjar palit dan menimbulkan jerawat yang disebut komedo. Kosmetik yang paling umum menjadi penyebab timbulnya jerawat yaitu kosmetik pelembab yang langsung menempel pada kulit. 4) Pencegahan Timbulnya Jerawat Perawatan kulit bagian wajah berbeda dengan perawatan kulit bagian tubuh lainnya, karena tingkat polusi bagian wajah lebih tinggi daripada kulit tubuh lainnya. Wajah memilki banyak kelenjar sebasea dan keringat, sehingga jika cuaca panas akan mudah berkeringat, lengket dan kasar. Perawatan wajah untuk mencegah timbulnya jerawat dapat dilakukan dengan cara berikut: a) Bersihkan wajah 3 kali sehari, kulit wajah harus bersih saat istirahat di rumah dan saat tidur. b) Hindari menggosok wajah secara kasar, karena dapat menimbulkan iritasi c) Kulit wajah banyak mengandung kelenjar lemak dan kelenjar keringat. Oleh sebab itu hindari wajah dari debu atau kotoran lain karena akan lebih mudah lengket. d) Pilih alas bedak yang mengandung air. e) Gunakan bedak tabur ke kulit wajah dengan menggunakan puff atau bantalan bedak bersih. f) Jangan memijit atau mengeluarkan sendiri jerawat, karena dapat mengakibatkan infeksi. g) Memakai riasan tebal untuk menutupi jerawat dapat mengakibatkan infeksi dan merangsang bertambahnya jerawat. h) Perbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan. Batasi asupan lemak jenuh dalam makanan seharihari seperti durian, alpukat, kacang tanah dan cokelat. b. Komedo Komedo adalah nama ilmiah dari pori-pori yang tersumbat. Komedo merupakan sumbatan lemak yang asalnya dari produksi lemak tubuh kita. Komedo sebagai bentuk permulaan jerawat berupa gumpalan massa atau sebum yang tersumbat di dalam saluran susunan pilosebaseus. Sebum adalah salah satu kelenjar minyak yang dihasilkan kelenjar kulit yaitu kelenjar sebasea. Ketika sel-sel kulit mati dan kelenjar minyak yang berlebihan pada kulit tidak dibersihkan, maka sel-sel mati menumpuk di kulit, minyak di permukaan kulit kemudian menutup sel-sel kulit, maka terjadilah penyumbatan. 2. Gangguan Pigmentasi Warna kulit manusia ditentukan oleh berbagai faktor, yang terpenting adalah jumlah pigmen melanin kulit, peredaran darah, tebal tipisnya

lapisan tanduk dan adanya zat-zat warna lain yang bukan melanin yaitu darah dan kalogen. Dalam keadaan normal, melanin dihasilkan secara teratur oleh sel melanosit. Melanin, selain memberi warna pada kulit, juga berfungsi melindungi kulit dari terpaan sinar matahari yang dapat merusak struktur kulit, dan kulit menjadi gelap. Melanin sangat berguna melindungi kulit terhadap penyinaran sinar ultra violet. Pembentukan pigmen melanin dirangsang oleh sinar ultra violet. Kelainan pada proses pembentukan pigmen melanin kulit, yaitu: a. Melanosis Salah satu penyakit melanosis adalah melasma (chloasma), yaitu adanya bercak-bercak berwarna coklat kehitaman (hiperpigmentasi) di kulit muka yang sangat khas seperti di daerah pipi, dahi dan bibir atas. Melasma sering timbul karena kehamilan, pil kontrasepsi, pemakaian kosmetik dan sinar matahari. Melasma karena kehamilan, dapat menghilang setelah melahirkan. Melasma karena kosmetika terjadi karena fotosensitisasi oleh zat tertentu seperti zat pemutih. Zat ini menyebabkan kulit lebih rentan terhadap sinar ultra violet sehingga lebih mudah dan cepat membentuk melanin.

b. Gangguan pigmentasi dapat berupa gangguan fungsi kelenjar minyak yakni pengeluaran minyak yang berlebihan dan bila terjadi penyumbatan saluran kelenjar palit dapat terjadi millium atau akne yang dapat meradang, gangguan pertandukan kulit yakni pada bagian muka terdapat berbagai macam keratinosis kulit seperti hiperkeratinisasi atau kekolotan dan pada bagian badan, tangan dan kaki terjadi penyisikan kulit seperti sisik ikan, kulit merah dan bersisik, kapalan serta katimumul atau mata ikan, juga gangguan peredaran darah berupa pelebaran pembuluh darah rambut. c. Lentigo Lentigo yaitu sejenis naevus pigmentosus yang terlihat menyerupai ephilides, licin berwarna coklat tua. Lentigo tidak akan memudar walaupun dalam musim dingin, serta dapat pula terjadi di bagian tubuh yang tertutup pakaian.

d. Vitiligo Vitiligo adalah gangguan pigmentasi pada kulit yang ditandai dengan terjainya bercak-bercak putih karena kehilangan melanin. Kelainan ini terjadi secara turun temurun. Bercak ini dapat berukuran besar atau kecil, berbentuk bulat atau tidak menentu tetapi bila bersatu bisa menjadi lebih besar. Bercak-bercak ini lebih sensitif terhadap sinar matahari. Vitiligo lebih banyak terjadi di daerah tropik, terutama pada orang-orang berkulit gelap. 3. Infeksi Jamur Kelainan kulit karena infeksi jamur antara lain disebabkan oleh segolongan jamur dermatofita (dermatofitosis), ragi candida (kandidosis kulit) dan jamur malassezia furtur. Kelainan kulit karena infeksi jamur dapat berupa: a. Panu Panu adalah bentuk lain dari dermatofitosis yaitu infeksi jamur dangkal yang disebabkan oleh fungus mallasezia furtur. Penyakit ini tampak sebagai bercak-bercak yang kadang tersebar di seluruh tubuh. Bercak ini dapat berwarna putih kelabu, kecoklat-coklatan atau kehitam-hitaman yang disertai pengelupasan sisik-sisik halus. Panu banyak ditemukan di Indonesia terutama pada mereka yang kurang memperhatikan kebersihan badan. Penyakit ini dapat menyebabkan rasa gatal. b. Kurap Kurap merupakan dermatofitosis yang berupa infeksi kulit berbentuk bulat-bulat besar dengan diameter 3 - 4 cm, pinggirnya meninggi, dan berwarna merah sedang di bagian tengahnya bersisik halus menimbulkan rasa gatal. Kelainan ini dapat terjadi pada anakanak, remaja, hingga dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Kurap bisa menular. c. Tinea pedis (athletesfoot) Tinea pedis adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada kaki terutama pada telapak kaki dan sela-sela jari kaki. Tinea pedis banyak dijumpai pada laki-laki dibandingkan pada wanita.

Gambaran klinis yang terlihat, berbeda, dari perlunakan kulit di selasela jari, pertandukan yang berlebihan, reaksi eksim, gelembunggelembung sampai retak-retak kulit yang diiringi rasa sakit. 4. Alergi (Hipersensisitivitas) Alergi atau hipersensitivitas adalah perubahan kemampuan tubuh yang didapat dan khas untuk bereaksi terhadap zat (alergen dan antigen) yang menempel atau masuk ke dalam tubuh. Pada hakekatnya, alergi termasuk kompleks kekebalan (imunitas) dan bersifat reaksi kekebalan (imunologik) khas antara alergen dengan zat lain (antibodi) yang dibentuk oleh tubuh. Daya reaksi imunologik tubuh, khususnya kulit terhadap zatzat asing yang berkhasiat sebagai antigen bersifat amat khas dan berlangsung amat lama. Zat-zat yang dapat menyebabkan alergi antara lain berupa: a. Makanan, minuman dan obat-obatan. b. Bahan-bahan yang ditempelkan pada kulit seperti kosmetika (alas bedak, bedak, lipstik, parfum, hair spray, cat rambut) dan obat-obatan (salep, balsam atau krim). c. Bahan yang dihirup seperti udara, debu. Pada umumnya reaksi alergi pada kulit menunjukkan gejala kulit terlihat merah, gatal, bengkak, sesak napas dan pingsan. Reaksi alergi dapat terjadi segera setelah kontak dengan zat tersebut atau beberapa saat setelah kontak dengan zat-zat tersebut. Sebagai langkah pencegahan, hindari penggunaan zat atau bahan yang dapat menimbulkan alergi. 5. Penuaan Dini Sebum berfungsi sebagai pertahanan terhadap musuh utama kecantikan wanita yaitu penuaan dini. Penuaan dini sering terjadi pada kulit yang berjenis kering, karena kadar sebum dalam kulit kering sangat sedikit. Biasanya penuaan dini ditandai dengan kondisi kulit terlihat lelah, kering, bersisik, kasar dan disertai munculnya keriput dan noda hitam atau flek. Penuaan dini disebabkan oleh dua faktor yaitu pertama faktor internal, seperti keturunan, kesehatan dan daya tahan, dan kejiwaan. Faktor internal merupakan proses alamiah yang tidak mungkin dihindari setiap manusia. Hal ini dapat juga dipicu oleh stres dan perubahan hormonal, dan faktor ini hanya dapat dikurangi efeknya, dengan cara perawatan wajah yang tepat, rutin dan lembut, mengurangi stres serta mencoba hidup santai. Penyebab yang kedua adalah faktor eksternal yang meliputi: a. Radikal bebas yaitu molekul ganas yang menggerogoti sel-sel tubuh termasuk jaringan kalogen. Sebagian ahli berpendapat bahwa radikal bebas terbentuk sebagai efek polusi lingkungan, paparan sinar

matahari, pemakaian air yang tercampur bahan kimia, perubahan cuaca dan faktor lain yang mengganggu pertumbuhan normal kalogen. Pencegahan radikal bebas dapat dilakukan dengan mengatur pola makan, diet yang mengandung protein tinggi dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin seperti buah dan sayuran. Dengan gizi yang baik, struktur sel akan membaik hingga proses penuaan dini dapat diperlambat. b. Sinar matahari. Untuk menghindari pengaruh buruk sinar matahari, hindari saat sinar matahari memancarkan sinar ultra violet di titik kulminasi (antara pukul 10.00 15.00) dan selalu mengenakan tabir surya pada wajah dan bagian tubuh yang terbuka setiap keluar ruangan. c. Kelembaban udara. Kelembaban udara yang tinggi dan tidak stabil seperti di alam tropis ini, menjadi penyebab terjadinya penuaan dini, terutama jika kulit tidak dilindungi dengan baik. Salah satu cara melindungi kelembaban kulit adalah dengan mengenakan pelembab yang dapat mempertahankan kadar air dalam kulit. Untuk melindungi kelembutan kulit, gunakan pelembab pada wajah dan body lotion yang sesuai dengan jenis kulit pada seluruh tubuh terutama yang tidak terlindungi oleh pakaian. Pelembab yang baik untuk melembabkan kulit kering dan kulit normal, pilih bahan pelembab yang mengandung humektan sebagai pengikat air yaitu asam alfa-hidroksi A-HA/AlphaHidroksi Acid) Sinar matahari dapat menimbulkan masalah pada kulit, terutama pada mereka yang suka mandi matahari atau terkena terpaan langsung sinar matahari secara terus menerus yang mengakibatkan kulit keriput dan timbul penuaan lebih dini. Sinar matahari diduga kuat sebagai penyebab kanker kulit. Bila terpaksa harus melakukan kegiatan di bawah terpaan sinar matahari, gunakan topi pelindung dan oleskan krim pelindung yang mengandung Sun Protection Factor (SPF) 15. Tips menjaga kecantikan dan kesehatan kulit (penuaan dini) Selalu menggunakan tabir surya/sun block/sun cream sedini mungkin dengan SPF (Sun Protecting Factor) 15 yang mengandung titanium dioksida dan avobenzena untuk melindungi kulit dari sinar matahari yang mengakibatkan kelainan warna kulit, kerutan dan kulit menjadi kendur. a. Lakukan perawatan secara teratur, meliputi penggunaan scrub atau peeling (untuk menghilangkan sel-sel kulit mati), memperbaiki sirkulasi darah/getah bening di kulit dengan massage, pemberian nutrisi, serum, gel atau masker yang mengandung bahan-bahan yang melembabkan kulit dan berfungsi sebagai antioksidan. b. Perbanyak mengkonsumsi sayur dan buah segar berwarna sebagai sumber nutrisi dan antioksidan untuk menjaga kecantikan kulit. Hindari junk food atau produk olahan.

c. Mengkonsumsi produk dari bahan kacang kedelai (tahu, tempe, susu kacang kedelai), kurma dan minum teh yang berasal dari biji adas sebagai sumber estrogen alami. d. Minum air putih paling sedikit 2,5 liter perhari untuk menjaga kelembaban kulit dan kurangi konsumsi kopi dan soft drink. e. Minum teh hijau minimal 2 cangkir sehari, karena mengandung antioksidan yang lebih paten. f. Mengkonsumsi suplemen antioksidan seperti vitamin A (betakarotin), vitamin C, vitamin E, vitamin B-kompleks dan beberapa mineral seperti selenium seng. g. Lakukan olahraga yang dapat menggerakkan sebagian otot di tubuh seperti jalan cepat, jogging, senam aerobik, berenang minimal 3 kali seminggu. Hal ini dapat melancarkan aliran darah/getah bening, sehingga asupan nutrisi dan oksigen pada sel-sel lebih baik serta mempercepat pembentukan sel-sel kulit yang baru. 6. Kelainan Kelenjar Keringat Kelainan-kelainan kulit yang disebabkan terganggunya kelenjar keringat yaitu: a. Biang keringat (miliaria), yaitu suatu kelainan kulit yang disebabkan oleh adanya retensi keringat akibat tersumbatnya poripori kelenjar keringat. Timbulnya biang keringat biasanya kalau udara panas atau lembab. Penyumbatan pori-pori kelenjar keringat disebabkan oleh bakteri-bakteri yang menimbulkan peradangan atau pembengkakan, akibatnya kulit menjadi gatal. Biang keringat terdapat di daerah dahi, leher, dada dan punggung. b. Hiperidrosis, yaitu suatu keadaan bilamana keringat dihasilkan berlebihan. Kelebihan keringat dapat terjadi di seluruh badan atau hanya setempat misalnya di telapak tangan atau kaki. Hiperdrosis dapat terjadi secara fisiologis, karena suatu penyakit dan faktor psikis. c. Anidrosis yaitu suatu keadaan bila kulit tidak dapat berkeringat, yang disebabkan kelenjar keringat tidak mampu berfungsi lagi atau karena suatu penyakit. d. Bromidrosis yaitu terdapatnya keringat yang berbau atau biasa disebut bau badan yang mungkin disebabkan oleh bakteri di kulit yang mengadakan dekomposisi keringat, atau karena kelenjar keringat apokrin bekerja lebih aktif. Bromidrosis selalu disertai hiperdrosis dan higiene kulit yang baik dapat mencegah bromidrosis.

B. INDERA PENDENGARAN
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan), anatominya juga sangat rumit . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. A. Bagian anatomi telinga terdiri dari: 1. Telinga luar Telinga luar adalah bagian telinga yang terdapat sebelah luar membran timpani. Telinga luar terdiri dari: a. Daun telinga Aurikula atau daun telinga adalah suatu lempengan tulang rawan yang berlekuk-lekuk ditutupi oleh kulit dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot dan ligamentum, berfungsi sebagai tempat untuk menampung gelombang suara yang datang dari luar masuk ke dalam telinga. b. Membran timpani Membran timpani adalah antara telinga luar dan telinga tengah yang terdapat selaput gendang telinga. Bagian membran timpani sebelah atas disebut pars flacida (membran shrapnel) bagian yang lebih besar disebelah bawah disebut pars tensa membran timpani. Membran timpani terdiri 3 lapisan, yaitu: 1) Lapisan squamosa 2) Lapisan mukosa 3) Lapisan fibrosa terdiri serat melingkar dan serat radial c. Saluran liang telinga luar Sepertiga luar saluran telinga luar tersusun atas tulang rawan, tulang keras dan mengandung folikel rambut, kelenjar serumentosa, dan kelenjar sebasea (kelenjar minyak). Sedangkan 2/3 dalam saluran telinga luar tersusun atas tulang, dan tidak mengandung kelenjar. Saluran telinga luar

dilapisi kulit sebagai kelanjutan kulit daun telinga. Di bagian dalam, kulit saluran telinga luar membentuk lapisan terluar gendang telinga. Panjang saluran telinga luar sekitar 2,5 cm sampai 3 cm (orang dewasa) dengan diameter 1 cm, dan bentuknya mirip huruf S kurus. Fungsi utama saluran telinga luar adalah mengumpulkan dan mengarahkan input suara dari luar menuju gendang telinga. Telinga luar merupakan tulang rawan (kartilago) yang dilapisi oleh kulit, daun telinga kaku tetapi juga lentur. Suara yang ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. Gendang telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga luar. Aurikula atau daun telinga adalah suatu lempengan tulang rawan yang berlekuk-lekuk ditutupi oleh kulit dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot dan ligamentum, berfungsi sebagai tempat untuk menampung gelombang suara yang datang dari luar masuk ke dalam telinga. Meatus akustikus eksterna atau liang telinga adalah saluran penghubung aurikula dengan membran timpani yang panjangnya sekitar 2,5 cm terdiri dari tulang rawan dan tulang keras, saluran ini mengandung rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat, khususnya menghasilkan sekret-sekret yang berbentuk serum. Membran timpani adalah antara telinga luar dan telinga tengah yang terdapat selaput gendang telinga. 2. Telinga tengah Telinga tengah terdiri dari: a. Membran timpani Membran timpani adalah antara telinga luar dan telinga tengah yang terdapat selaput gendang telinga. Membran timpani terdiri 3 lapisan, yaitu: 1) Lapisan squamosa 2) Lapisan mukosa 3) Lapisan fibrosa terdiri serat melingkar dan serat radial Bagian membran timpani sebelah atas disebut pars flacida (membran shrapnel) bagian yang lebih besar disebelah bawah disebut pars tensa membran timpani. b. Kavum timpani Kavum timpani adalah rongga di dalam tulang temporalis yang mempunyai tiga buah tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus,

dan stapes yang melekat pada bagian dalam membran timpani dan bagian dasar tulang stapes membuka pada fenestra ovalis. c. Tulang tulang pendengaran Tulang tulang pendengaran terdiri atas Maleus (palu), tapes (sanggurdi), dan Incus (landasan). d. Tuba eustachius Tuba eustachius adalah saluran tulang rawan yang panjangnya sekitar 3,7 cm berjalan miring ke bawah agak ke depan, dilapisi oleh lapisan mukosa. Tuba eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Bagian lateral tuba eustakius adalah yang bertulang sementara dua pertiga bagian medial bersifat kartilaginosa. Origo otot tensor timpani terletak di sebelah atas bagian bertulang sementara kanalis karotikus terlclak di bagian bawahnya. Bagian bertulang rawan berjalan melintasi dasar tengkorak untuk masuk ke faring di atas otot konstriktor superior. Bagian ini biasanya tertutup tapi dapat dibuka melalui kontraksi otot levator palatinum dan tensor palatinum yang masing-masing disarafi pleksus faringealis dan saraf mandibularis. Tuba eustakius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani. e. Antrum timpani Antrum timpani adalah rongga tidaak teratur yang agak luas yang terletak di bagian bawah samping dari kavum timpani. Antrum timpani dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani, rongga ini berhubungan dengan bebrapa rongga kecil yang disebut sellula mastoid yang terdapat di belakang bawah antrum di dalam tulang temporalis. Namun dengan adanya hubungan ini dapat mengakibatkan menjalarnya proses radang. Telinga tengah yang terisi udara dapat diibaratkan sebagai suatu kotak dengan enam sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Promon-torium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membrana timpani sehingga kotak

tersebut lebih sempit pada bagian tengah. Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa krani media. Pada bagian atas dinding posterior terdapat aditus antrum tulang mastoid dan di bawahnya adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah saraf fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju ke leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral menjadi sinus sig-modeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Di atas kanalis ini, muara tuba eustakius dan otot tensor timpani yang menempati daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus. Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas, membrana timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium ini. Fenestra rotundum terletak di posteroinferior dari promontorium, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopi berulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di posterior. Rongga mastoid berbentuk seperti piramid bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa krani media. Dinding medial

adalah dinding lateral fosa krani posterior. Sinus sigmoideus terletak di bawah dura mater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antruin. Tonjolan kanalis semisirkularis lateralis menonjol ke dalam antrum. Di bawah ke dua patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi di posterior aurikula 3. Telinga dalam Terletak pada bagian tulang keras pilorus temporalis, terdapat reseptor pendengaran dan alat pendengar ini disebut labirin. Labirintus osseous adalah serangkaian saluran bawah yang dikelilingi oleh cairan yang disebut perilimfe. Telinga dalam terdiri atas bagian-bagian, yaitu: a. Vestibulum Bagian tengah labirintus osseous pada vestibulum ini membuka fenestra rotundum dan pada bagian belakang atas menerima muara kanalis semisirkularis. b. Koklea Koklea berbentuk seperti rumah siput yang melingkar sebanyak 2,5 kali putaran. Terdiri dari cairan kental dan organ Corti, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. Jika kita memotong koklea secara transversal, maka di dalam koklea terdapat 3 buah kompartemen, yaitu skala vestibulum, kavum timpani, dan kanalis koklearis. Membrana Reissneri memisahkan skala vestibuli dari skala media, sedangkan membrana basilaris memisahkan skala media dari skala timpani. Di dalam skala vestibuli dan skala timpani terdapat perilimfe, suatu cairan yang mirip dengan cairan ekstraseluler. Dan di dalam skala media terdapat endolimfe, cairan yang mirip dengan cairan intraseluler. Di dalam skala media inilah terletak organo korti.

c. Kanalis semisirkularis Saluran yang berbentuk setengah lingkaran yang terdiri dari tiga saluran, yang satu dengan yang lain membentuk sudut 90 derajat, kanalis semisirkularis superior, kanalis semi sirkularis posterior, dan kanalis semi sirkularis lateralis. berfungsi membantu menjaga keseimbangan. Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya, hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. Sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar). d. Labirintus membranosus, yang terdiri dari: 1) Utrikulus Berbentuk seperti kantong lonjong dan agak gepeng terpaut pada tempatnya oleh jaringan ikat, disini terdapat saraf (nervus akustikus) pada bagian depan dan sampingnya ada daerah lonjong yang disebut makula akustika utrikulo. Pada dinding belakang utrikulus ada muara dari duktus semi sirkularis daan pada dinding depannya ada tabung halus yang disebut utrikulosa sirkularis, saluran yang menghubungkan utrikulus dengan sakulus. 2) Sakulus Bentuknya agak lonjong lebih kecil dari utrikulus, terletak pada bagian depan dan bawah dari vestibulum dan terpaut erat oleh jaringan ikat, dimana terdapaat nervus akustikus. Pada bagian depan sakulus terdapat serabut-serabut halus cabang nervus akustikus berakhir pada makula akustika sakuli. Pada permukaan bawah sakulus ada duktus reunien yang menghubungkan sakulus dengan duktus koklearis, di bagian sudut sakulus ada saluran halus yang disebut duktus endo limfatikus berjalan melalui aquaduktus vestibularis menuju permukaan bagian bawah tulang temporalis berakhir sebagai kantong buntu yang disebut sakus endo limfatikus, yang terletak tepat di lapisan otak duramater.

3) Duktus semi sirkularis Ada tiga tabung selaput semi sirkularis yang berjalan dalam kanalis semi sirkularis (superior, posterior, dan lateralis). Luas penampangnya sekitar sepertiga penampang kanalis semi sirkularis. Bagian duktus yang melebar disebut ampula selaput, setiap ampula selaput mengandung satu celah sulkus ampularis yang merupakan tempat masuknya cabang ampula nervus akustikus, sebelah dalam ada kristal ampularis yang terlihat menonjol ke dalam yang menerima ujung-ujung saraf. 4) Duktus koklerais Saluran yang bentuknya seperti segitiga yang dibatasi oleh koklea timpani, atap duktus koklearis terdapat membran vestibularisdan pada alasnya terdapat membran basilaris. Duktus koklearis mulai dari kantong buntu (seikum vestibular) dan berakhir tepat di seberang kanalis lamina spiralis pada kantong buntu (seikum ampulare). Pada membran basilaris terdapat organ korti sepanjang duktus koklearis yaang merupakan hearing sense organ. Bentuk telinga dalam sedemikian kompleksnya sehingga disebut sebagai labirin. Derivat vesikel otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membran yang terisi endolimfe, satu-satunya cairan ekstrasclular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe (tinggi natrium, rendah kalium) yang terdapat dalam kapsula otika. Labirin tulang dan membran memiliki bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pa superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan organ pendengaran kita. Koklea melingkar seperti rumah siput dengan dua dan satu-setengah putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus, berisi berkas saraf dan suplai arteri dari arteri vertebral. Serabut saraf kemudian berjalan menerobos suatu lamina tulang yaitu lamina spiralis oseus untuk mencapai sel-sel sensorik organ Corti. Rongga koklea bertulang dibagi menjadi tiga

bagian oleh duktus koklearis yang panjangnya 35 mm dan berisi endolimfe. Bagian atas adalah skala vestibu berisi perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membrana Reissner yang tipis. Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oeh lamina spiralis oseus dan membrana basilaris. Perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dikenal sebagai helikotrema. Membrana basilaris scmpit pada basisnya (nada tinggi) dan melebar pada apeks (nada rendah). Terletak di atas membrana basilaris dari basis ke apcks adalah organ Corti, yang mcngandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3.000) dan tiga baris sel rambut luar (12.000). Sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan horisontal dari suatu jungkat-jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan aferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan asclular, dikenal sebagai membrana tektoria. Membrana tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terlelak di medial disebut sebagai limbus. Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis scmisirkularis. Utri-kulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel rambut ini adalah sualu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otolil akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.

Sakulus berhubungan dengan ulrikulus melalui suatu duktus senipit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang sel reseptor. B. Anatomi Gendang Telinga Gendang telinga dapat kita lihat dari liang telinga seperti selaput sangat tipis berwarna keputihan , merupakan bagian dari telinga tengah dan mempunyai fungsi sangat penting yaitu mengubah gelombang suara menjadi gelombang getar. Gendang telinga ini juga sekaligus menjadi pembatas antara telinga luar dan telinga tengah ,sehingga paparan dari luar dapat dicegah masuk kedalam telinga tengah yang mempunyai hubungan melalui saluran langsung ke otak. Gelombang suara yang masuk kedalam telinga melalui liang telinga ,langsung diubah menjadi gelombang getar melalui gendang telinga yang kemudian getaran ini dieruskan melalui tiga tulang penghantar getar sampai kerumah siput yang akan merubahnya menjadi impuls listrik saraf yang akan diterima saraf otak kita. Bagimana bila gendang telinga kita robek ,dapat dipastikan proses penghantaran tadi akan terganggu dan itu artinya pendengaran kita juga akan terganggu sampai dengan tuli ,tergantung dari seberapa besar robekan yang terjadi. C. Proses, fisiologi, dan keseimbangan pendengaran Seseorang dapat mendengar melalui getaran yang dialirkan melalui udara atau tulang langsung ke koklea. Aliran suara melalui udara lebih baik dibandingkan dengan aliran suara melalui tulang. Getaran suara ditangkap oleh daun Telinga yang dialirkan ke liang telinga dan mengenai membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain yang ditimbulkan oleh getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara dimana kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membran timpani bergetar, getaran-getaran tersebut diteruskan menuju inkus dan stapes melalui maleus

yang terkait pada membran timpani. Karena getaran yang timbul pada setiap tulang itu sendiri maka tulang akan memperbesar getaran yang kemudian disalurkan ke fenestra vestibuler menuju perilimfe. Getaran perilimfe dialihkan melalui membran menuju endolimfe dalam saluran koklea dan rangsangan mencapai ujung ujung akhir saraf dalam organ korti selanjutnya dihantarkan ke otak. Perasaan pendengaran ditafsirkan otak sebagai suara yang enak atau tidak enak, gelombang suara akan menimbulkan bunyi. Nesus yang terbesar dalam kanalis semisirkularis menghantarkan impuls-impuls menuju otak. Impuls-impuls ini dibangkitkan dalam kanalis semisirkularis, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran-saluran itu. Hal ini mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang didorong ke salah satu sisi maka kepalanya cenderung miring ke arah lain (berlawanan dengan arah badan yang didorong) guna mempertahankan keseimbangan, berat badan diatur, posisi badan dipertahankan sehingga jatuhnya badan dapat dipertahankan. Perubahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkularis inilah yang merangsang impuls, respons badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat badan serta mempertahankan keseimbangan. C. Gangguan Fisiologi Telinga Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif, sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli syaraf, tuli koklea, dan tuli retrokoklea. 1. Tuli konduktif a) Penyebab dari telinga luar disebabkan oleh atresia liang telinga (keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tertutup secara congenital), serumen obturan, otitis eksterna cryrcumsripta, dan osteoma liang telinga. b) Penyebab dari telinga tengah disebabkan oleh tuba katar, sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpani skelerosis, hemotimpani, dan dislokasi tulang pendengaran. 2. Tuli sensori neural (perseptif) Dibagi menjadi tuli sensori neural coklea dan tuli sensori neural retrokoklea. a) Tuli sensori neural coclea disebabkan oleh aplasia (kongenital), labirintitis oleh bakteri/virus, intoksikasi obat dan alkohol, trauma kapitis, trauma akustik, terpapar bising, dan presbicusis. b) Tuli sensori neural retrokoklea disebabkan oleh neuroma akustik, tumor sudut pons serebellum, cidera otak, dan perdarahan otak.

Tuli secara umum disebut juga presbikusis, yaitu penurunan kemampuan mendengar pada usia lanjut. Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan garpu tala (512, 1024 ds 20448 Hz), tes bisik, dan audiometer nada murni. Secara fisiologis telinga dapat mendengar nada murni antara 20 18.000 Hz. Pendengaran sehari-hari efektif antara 500 2000 Hz. Pemeriksaan pendengaran dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan garpu tala dan kuantitatif dengan menggunakan audiometer. 3. Vertigo Didefinisikan sebagai halusinasi atau ilusi gerakan gerakan seseorang lingkungan seseorang yang dirasakan. Kebanyakan orang yang menderita vertigo menggambarkan rasa berputar putar atau merasa seolah-olah benda berputar mengitari. Vertigo adalah gejala klasik yang dialami ketika te disfungsi yang cukup cepat dan asimetris sistem vestibuler perifer (telinga dalam). 4. Tinnitus (Telinga berdenging) Telinga berdenging sebenarnya bukanlah penyakit, melainkan gejala awal yang dapat menyebabkan sejumlah kondisi medis. Seperti berkurangnya atau hilangnya pendengaran karena terjadinya kerusakan pada mata atau indikasi dari penyakit sistem sirkulasi pada tubuh. Meski tak sampai menganggu penampilan, namun bisa dipastikan menimbulkan ketidaknyamanan serta menghilangkan kosentrasi saat melakukan segala macam aktivitas. Gejala dari tinnitus ada beberapa macam, yaitu diantaranya: a) Penderita mengalami gangguan seolah suara-suara tersebut ditimbulkan dari luar telinga padahal justru sebaliknya. Suara-suara tersebut berasala dari dalam telinga sendiri.

b) Telinga terdengar berisik, seperti berdenging, berdengung, berdenyut, menderum, atau berbunyi. c) Bunyi-bunyian yang terdengar bisa bervariasi mulai pelan sampai memekakkan telinga. d) Dari hari ke hari pendengaran semakin berkurang hingga akhirnya menghilang sama sekali. Penyebab tinnitus karena di dalam telinga terdapat ribuan sel-sel pendengaran yang menjaga sinyal listrik dan rambut mikroskopik membentuk jumbai pada permukaan dari masing-masing sel-sel pendengaran. Saat kondisi normal, rambut-rambut ini bergerak seirama dengan tekanan dari gelombang suara. Pergerakan ini dipicu sel-sel untuk memutus sinyal listrik melalui jaringan syaraf dari pendengaran. Otak

akan menerjemahkan sinyal ini sebagai suara. Jika rambut-rambut ini mengalami kerusakan, mereka akan bergerak secara random pada keadaan yang konstan. Karena tidak mampu menahan pengisian listrik, pada sel-sel pendengaran terjadi kebocoran. Sinyal-sinyal listrik ke otak sebagai bunyi yang amat berisik. Kerusakan sel-sel pendengaran di dalam telinga bisa disebabkan oleh: a)Pertambahan usia secara otomatis akan mengurangi kemampuan pendengaran seseorang. b)Telinga mengalami trauma sehingga terjadi pengikisan kemampuan pendengaran. Itu sebabnya sangat tidak dianjurkan untuk terlalu sering mendengar suara yang terlalu keras dalam periode yang lama. c)Efek samping penggunaan obat tertentu dalam waktu yang lama. Seperti penggunaan aspirin, obat untuk malaria atau obat kram pada kaki, antibiotik dan obat anti radang. Biasanya bunyi-bunyian yang mengganggu tersebut akan hilang saat konsumsi obat-obatan tersebut dihentikan. d)Gangguan pada rahang atau terjadinya perubahan pada tulang pada telinga. e)Terlalu banyak minum minuman beralkohol f)Bergesernya tulang pada telinga bagian tengah berdampak pada pendengaran. g)Terjadinya trauma akibat benturan pada kepala atau leher yang berdampak pada telinga bagian dalam. h)Terjadinya kelebihan cairan telinga (congek) karena menderita infeksi telinga. i)Menderita tekanan darah tinggi dan adanya tumor pada kepala atau leher. Pencegahan tinnitus dapat dilakukan dengan menghindari penyebab stress sebisa mungkin. Sebab stress dapat memperburuk dampak tinnitus. Selain itu istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, hindari tempat yang bising, kendalikan tekanan darah, dan hindari konsumsi rokok dan kopi. Pengobatan tinnitus tergantung pada penyebabnya. Tapi jika dikarenakan faktor usia serta kerusakan permanen dari dalam telinga, maka gangguan ini tak dapat disembuhkan. Namun jika bunyi denging diakibatkan kondisi kesehatan yang lain, dokter akan mengambil langkah untuk mengurangi gangguan tersebut.

D. Gambar anatomi telinga 1. Bagian-bagian telinga

2. Membran timpani dan rumah siput

Keterangan gambar potongan rumah siput: 1. Skala vestibuli 2. Skala media 3. Skala timpani 4. Sel rambut luar 5. Sel rambut dalam 6. Saraf pendengaran

C. INDERA PENGELIHATAN
Indera pengelihatan yang terletak pada mata (organ visus) terdiri dari organ okuli assesoria (alat bantu mata) dan okulus (bola mata). Saraf indera pengelihatan, saraf optikus (urat saraf kranial kedua), timbul dari sel-sel ganglion dalam retina, bergabung untuk membentuk saraf optikus. 1. ALIS Dua potong kulit tebal yang melengkung ditumbuhi oleh bulu yang berfungsi sebagai pelindung mata dari sinar matahari yang sangat terik dan sebagai alat kecantikan. 2. KELOPAK MATA Terdiri dari dua bagian kelopak mata atas dan kelopak mata bawah, fungsinya adalah sebagai pelindung mata sewaktu-waktu jika ada gangguan pada mata (menutup dan membuka mata). Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata. Kelopak mata secara refleks segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing, angin, debu dan cahaya yang sangat terang. Ketika berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh permukaan mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban permukaan mata. Tanpa kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering, terluka dan tidak tembus cahaya. Bagian dalam kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga membungkus permukaan mata. Lapisan kelopak mata terdiri dari lima lapisan, yaitu: a. Lapisan kukit tipis di bagian tubuh manusia dan tidak mengandung lemak sub kutan. b. Lapisan otot orbikularis okuli yang berfungsi untuk menutup mata. c. Jaringan areolar yaitu rongga dibawah otot orbikularis okuli yang berhubungan dengan mata kanan dan kiri serta berhubungan dengan lapisan subaponeurotik dari kulit kepala. d. Tarsus, yaitu jaringan fibrous atau serat padat dengan sedikit jaringan elastis. e. Konjungtiva palpebra atau konjungtiva tarsalis yang melekat dengan tarsus.

3. KELENJAR AIR MATA Terdiri dari kelenjar majemuk yang terlihat pada sudut sebelah atas rongga orbita, kelenjar itu mengeluarkan air mata yang dialirkan ke dalam kantong konjungtiva dari dalam saluran kelenjar lakrimalis, bila bola mata dikedipkan maka air mata akan menggenangi seluruh permukaan bola mata, sebagian besar cairan air mata menguap dan sebagian lagi masuk ke dalam hidung melalui saluran nasolakrimalis. Air mata mengalir dari mata ke dalam hidung melalui 2 duktus lakrimalis, setiap duktus memiliki lubang di ujung kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga kelembaban dan kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil yang masuk ke mata. Selain itu, air mata kaya akan antibodi yang membantu mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata juga berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata. 4. ORGAN OKULI ASSESORIA Organ okuli assesoria (alat pembantu mata), terdapat disekitar bola mata yang sangat erat hubungannya dengan mata, yang terdiri dari: A. Kavum Orbita Kavum orbita merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut dengan puncaknya mengarah ke depan, dan ke dalam. Dinding rongga mata dibentuk oleh tulang: 1) Os frontalis 2) Os zigomatikum 3) Os slenodial 4) Os etmodial 5) Os palatum 6) Os lakrimal Rongga mata mempunyai beberapa celah yang menghubungkan rongga mata dengan rongga otak, rongga hidung, rongga etmodialis, dan sebagainya. Rongga mata ini berisi jaringan lemak, otot, fasia, saraf, pembuluh darah, dan aparatus lakrimalis. Aparatus lakrimal penting untuk produksi dan pengaliran air mata. Air mata mengandung garam, mukosa dan

lisozim suatu bakteriosida. Cairan ini membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembabannya. Berkedip menekan kelenjar lakrimal dan menyebabkan produksi air mata. Air mata keluar melalui pungtum papila lakrimal, yang menyambung kantong lakrimal. Kantong membuka ke dalam duktus nasolakrimal yang ada pada gilirannya akan masuk ke rongga nasal. B. Supersilium (Alis mata) Supersilium adalah batas orbita dan potong kulit tebal yang tebal dan melengkung, ditumbuhi oleh bulu pendek yang berfungsi sebagai kosmetik atau alat kecantikan. C. Palpebra (Kelopak mata) Palpebra adalah dua buah lipatan atas dan bawah kulit kulit yang terletak di depan bulbus okuli, kelopak mata atas lebih besar daripada kelopak mata bawah. Kelopak mata atas lebih mudah digerakkan karena terdiri dari mulkulus palpebra superior. Pada bagian samping mata terdapat silia (bulu mata) dan tarsus yang merupakan bagian dari kelopak yang berlipat-lipat. Pada tarsus terdapat kelenjar tarsalia, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, membasahi dan melicinkan permukaan bola mata serta bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata. D. Bola Mata atau bulbus okuli Bola mata berdiameter 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar. Didalam bola mata terdapat kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata dan saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga hidung. Pada bola mata dapat dibedakan dinding dan isinya atau alat-alat penyusunnya. Bola mata dibatasi oleh dinding yang terdiri dari tiga lapisan, yakni: 1) Lapisan luar atau tunika fibrosa a) Sklera, merupakan lapisan terluar dan berwarna putih. sklera memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat perlekatan untuk otot ekstrensik. Bagian depan sklera tertutup oleh kantong konjungtiva. b) Kornea merupakan perpanjangan anterior yang transparan dari sklera di bagian depan mata. Bagian ini mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya.

2) Lapisan tengah atau tunika vaskular atau uvea. Yaitu diantaranya: a) Koroid, merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah kecuali bagian depan. Hal ini erat kaitannya dengan fungsi koroid sebagai penyedia makanan bagi bagian-bagian lain dari mata. b) Badan siliaris, suatu penebalan di bagian anterior lapisan koroid, mengandung pembuluh darah dan otot siliaris. Otot melekat pada ligamen suspensiorik, tempat perlekatan lensa. c) Iris atau selaput pelangi, bagian inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan warna mata. Pupil, merupakan ruang terbuka yang bulat pada iris yang harus dilalui cahaya untuk dapat masuk ke anterior mata. Ukuran pupil dapat berubah secara refleks yang dikendalikan otot-otot melingkar pada iris. Perubahan ini berkaitan dengan intensitas cahaya yang diterima mata. Jika cahaya yang diterima sangat terang maka pupil akan mengecil (kontriksi) dan bila redup maka pupil akan melebar (delatasi). 3) Lapisan dalam Lapisan dalam yakni retina atau sering disebut selaput jala. Lapisan ini merupakan lapisan yang tipis dan transparan, terdiri dari lapisan terpigmentasi luar dan lapisan jaringan saraf dalam. Lapisan terpigmentasi luar pada retina melekat pada lapisan koroid. Lapisan ini adalah lapisan tunggal sel epitel kuboidal yang mengandung pigmen melanin dan berfungsi untuk menyerap cahaya berlebih dan mencegah refleksi internal berkas cahaya yang melalui bola mata. Lapisan ini juga menyimpan vitamin A. Lapisan jarigan saraf dalam (optikal), yang terletak bersebelahan dengan lapisan terpigmentasi adalah struktur kompleks yang terdiri dari berbagai jenis neuron yang tersusun dalam sedikitnya sepuluh lapisan terpisah. Sel batang adalah neuron silindris bipolar yang bermodifikasi menjadi dendrit sensitif cahaya. Setiap mata berisi sekitar 120 juta sel batang terletak terutama pada perifer retina. Sel batang tidak sensitif terhadap warna dan bertanggung jawab untuk penglihatan di malam hari. Sel kerucut berperan dalam persepsi warna. Sel ini berfungsi pada tingkat intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam penglihatan siang hari. Sel kerucut mengandung iodopsin (retinal yang terikat pada opsin yang berbeda dengan osin pada sel batang. Iodopsin ini bisa saja bersifat sensitif biru, sensitif merah dan sensitif hijau. Jadi ketika ketiga unsur warna ini tidak terdapat pada sel kerucut seseorang maka orang itu akan menderita buta warna total, namun jika tidak terdfapat salah satunya saja maka orang tersebut akan menderita buta warna sebagian. Neuron bipolar membentuk lapisan tengah dan menghubungkan sel batang dan sel kerucut ke sel-sel ganglion. Sel ganglion mengandung akson yang bergabung pada regia khusus dalam retina untuk membentuk saraf optik. Sel horizontal dan sel

amakrin merupakan sel lain yang ditemukan dalm retina, sel ini berperan untuk menghubungkan sinaps-sinaps lateral. Bintik buta (diskus optik) adalah titik keluar saraf optik. Karena tidak ada fotoreseptor pada area ini maka tidak ada sensasi penglihatan yang terjadi saat cahaya jatuh ke area ini. Lutea makula adalah area kekuningan yang terletak agak lateral terhadap pusat. Fovea adalah pelekukan sentral makula lutea yang tidak memiliki sel batang dan hanya mengandung sel kerucut. Bagian ini adalah pusat visual mata, bayangan yang terfokus di sini akan diinterpretasikan dengan jelas dan tajam oleh otak. E. Muskulus Okuli (Otot penggerak bola mata) Merupakan otot ekstrinsik mata yang terdiri dari tujuh buah otot, enam buah otot diantaranya melekat dengan os kavum orbitalis dan satu buah mengangkat kelopak mata ke atas. Otot ini menggerakkan mata dengan fungsi ganda dan untuk pergerakan mata tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot. Otot penggerak bola mata terdiri enam otot yaitu: a. Muskulus levator palpebralis superior inferior, berfungsi mengangkat kelopak mata. b. Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, berfungsi untuk menutup mata. c. Muskulus rektus okuli inferior (otot disekitar mata), berfungsi untuk menutup mata. d. Muskulus rektus okuli medial (otot disekitar mata), berfungsi menggerakkan mata dalam (bola mata). e. Muskulus obliques okuli inferior, berfungsi menggerakkan bola mata ke bawah dan ke dalam. f. Muskulus obliques okuli superior, berfungsi memutar mata ke atas, ke bawah, dan ke luar. Muskulus rektus okuli berorigo pada anulus tendineus komunis, yang merupakan sarang fibrosus yang menyelubungi nervus optikus. Strabismus atau juling disebabkan tidak seimbangnya atau paralise kelumpuhan fungsi dari salah satu otot mata. F. Konjungtiva Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva palbebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekal erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada fornices superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera dan menjadi

konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat berkali-kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. Duktus-duklus kelenjar lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior, kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Lipatan konjungtiva bulbaris yang tebal, mudah bergerak dan lunak (plika semilunaris) terletak di kanthus internus dan membentuk kelopak mata ketiga pada beberapa binatang. Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan zona transisi yang mengandung clemen kulit dan membran mukosa. Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karunkula, dan di dekat sambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel -sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen. Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada noconatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari Jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata. Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan funginya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar Krause berada di forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas. Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persarafan dari

percabangan (oftalmik) pertama nervus V. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. Penyakit pada konjungtiva disebut "keratokonjungtivitis vernalis" ini juga dikenal sebagai "konjungtivitis musiman" atau "konjungtivitis musim kemarau", adalah penyakit alergi bilateral yang jarang terjadi, biasanya mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada perempuan. Alergen spesifiknya sulit dilacak, namun pasien keratokonjungtivitis vernalis kadangkadang menampakkan manifestasi alergi lainnya yang berhubungan dengan sensitivitas tepung sari rumput. Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah dingin. Penyakit ini hampir selalu lebih parah selama musim semi, musim panas dan musim gugur daripada di musim dingin. Pasien umumnya mengeluh gatal dan mata berserat-serat. Biasanya terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lainnya) dan kadang-kadang pada pasien muda juga terjadi keratokonjungtivitis. Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebrae superior sering memiliki papila raksasa mirip batu kali. Setiap papila raksasa berbentuk poligonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler. Mungkin terdapat tahi mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda Maxwell-Lyons). Pada beberapa kasus, terutama pada orang negro turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di limbus, yaitu pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (arcus) sering terlihat pada kornea dekat papila limbus. Bintik-bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasien dengan keratokonjungtivitis vernal selama fase aktif dari penyakit ini. Banyak eosinofil dan granulac eosinofilik bebas terdapat di dalam sediaan hapus yang terpulas giemsa dari eksudat konjungtiva. Sering tampak mikropannus pada keratokonjungtivitis vernal palpebra dan limbus, namun pannus besar jarang dijumpai. Biasanya tidak timbul parut pada konjungtiva kecuali jika pasien telah mengalami krioterapi, pengangkatan papila, iradiasi, atau prosedur yang dapat merusak lainnya. Mungkin timbul ulkus kornea superfisial tameng lonjong dan terletak di superior dan dapat berakibat parut ringan pada kornea. Sering terdapat keratitis epitelial difus khas. Tidak satu pun Iesi kornea ini berespons baik terhadap terapi standar. Terjadinya penyakit ini mungkin disertai dengan keratokonus. Karena keratokonjungtivitis vernal adalah penyakit yang sembuh sendiri, maka dalam proses penyembuhan dan pengobatannya perlu diingat bahwa medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai jangka panjang. Steroid topikal atau sistemik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengaruhi penyakit kornea ini, dan efek sampingnya (glaukoma, katarak, dan komplikasi lain) dapat sangat

merugikan. Cromolyn topikal adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat. Vasokonstriktor, kompres dingin dan kompres es ada manfaatnya, dan tidur (jika mungkin juga bekerja) di ruang sejuk ber AC sangat menyamankan pasien. Gejala paling berat adalah seorang pasien yang sangat fotofobik sehingga tidak dapat berbuat apa-apa, seringkali dapat ditolong dengan kuur pendek steroid topikal atau sistemik, diikuti dengan vasokonstriktor, kompres dingin, dan secara teratur memakai tetes mata cromolyn. Medikasi anti-radang non-steroid yang lebih baru, seperti ketorolac dan iodoxamide, cukup bermanfaat mengurangi gejala. Seperti telah disinggung di atas, penggunaan steroid berkepanjangan hendaknya dihindari karena sangat sering diikuti keratitis herpes simpleks, katarak, glaukoma, dan ulkus kornea fungal dan oportunistik lainnya. Studi klinik baru-baru ini menunjukkan bahwa tetes mata cyclosporine 1% topikal efektif untuk kasus yang tak responsif berat. Desensitisasi terhadap tepung sari rumput dan antigen lain belum membuahkan hasil. Blefaritis dan konjungtivitis stafilokok adalah komplikasi yang serin terjadi dan harus segera diterapi. Kekambuhan pasti terjadi, khususnya pada musim semi dan musim panas, tetapi setelah sejumlah kekambuhan papillae sama sekali menghilang, tanpa meninggalkanjaringan parut. Konjungtiva merupakan membran mukosa yang meliputi palpebra dan bola mata. Ada 3 bagian, yaitu: 1) Konjungtiva palpebra Hubungannya dengan tarsus sangat erat. Meiboom yang ada didalamnya, tampak membayang sebagai garis sejajar berwarna putih. Permukaan licin, dicelah Konjungtiva terdapat kelenjar Henle. Konjungtiva palpebra terdiri dari sel epitel siliridris. Dibawahnya, stroma dengan bentuk adenoid dengan banyak pembuluh getah bening. 2) Konjungtiva forniks Struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi hubungan dengan jaringan dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukanlekukan. Juga mengandung banyak pembuluh darah. Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila terdapat peradangan mata. 3) Konjungtiva bulbi Permukaan dalam kelopak mata disebut konjungtiva palpebra merupakan lapisan mukosa, bagian yang membelok ke kanan disebut konjungtiva bulbi, pada konjungtiva ini banyak sekali kelenjar-kelenjar limfe dan pembuluh darah.

5. OKULUS (MATA) Meliputi bola mata atau bulbus okuli yang terhubung dengan saraf optikus otak yang merupakan bagian penting dari organ visus. Okulus terdiri dari: A. Tunika okuli, terdiri dari: 1. Kornea Kornea adalah selaput yang tembus cahaya, kornea merupakan pembungkus dari membran pupil, bilik anterior, dan iris serta dapat membantu memfokuskan cahaya. Penampang kornea lebih tebal dari sklera, terdiri dari lima lapisan epitel kornea, dua lamina elastiaka anterior (bowmeoteliun), tiga substansi propia, empat lamina elastika posterior dan lima endotelium. Kornea tidak mengandung pembuluh darah perlalihan antara kornea disebut sclero corneal function. Kornea atau selaput bening sangat penting bagi ketajaman penglihatan manusia. Fungsi utama kornea adalah meneruskan cahaya yang masuk ke mata dan sebagai pelindung bagian dalam bola mata. Kornea memiliki inervasi saraf tetapi avaskuler (tidak memiliki suplai darah). Cahaya tersebut diteruskan ke bagian mata yang lebih dalam dan berakhir pada retina. Karena fungsinya itu, maka kornea mempunyai beberapa sifat, yaitu tidak berwarna (bening) dan tidak mempunyai pembuluh darah. Kerusakan pada kornea dapat menyebabkan kebutaan. Kornea mata orang yang sudah meninggal dapat didonorkan untuk menyembuhkan orang lain dari kebutaan. Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu: a. Epitel Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden, ikatan ini menghambat pengaliran air, eliktrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren dan epitel berasal dari ektoderm permukaan. b. Membran Bowman Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.

c. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer serat kolagen ini bercabang, terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. d. Membran Descement Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basal. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. e. Endotel Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden. 2. Sklera Sklera merupakan lapisan fibrous atau serat yang elastis dan relatif kuat, sklera merupakan bagian dinding luar bola mata dan membentuk bagian putih mata, bagian depan sklera tertutup oleh kantong konjungtiva. Sklera adalah bagian pelindung mata yang berwarna putih buram (tidak tembus cahaya) di bagian luar bola mata. Sklera Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata. B. Tunika vaskulosa okuli Merupakan lapisan tengah dan sangat peka terhadap pembuluh darah. Lapisan ini menurut letaknya terbagi atas tiga bagian. Yaitu: 1. koroid Koroid merupakan bagian belakang tunika vaskulosa yang mempunyai selaput yang tipis dan lembab. Berfungsi untuk memberikan nutrisi atau makanan pada mata. Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.

2. Korpus siliaris Korpus siliaris merupakan lapisan yang tebal terbentang dari ora serata sampai ke iris. Bentuk korpus siliaris seperti cincin, terdiri dari orbikulus siliaris, korona siliaris dan muskulus siliaris terdapat pada bagian luar korpus siliaris antara sklera dan korona siliaris. Berfungsi sebagai tempat terjadinya akomodasi, pada proses melihat muskulus siliaris harus berkontraksi. 3. Iris Iris atau selaput pelangi merupakan bagian terdepan tunika vaskulosa okuli yang terletak dibelakang kornea, iris mempunyai pembuluh darah dan warna karena mempunyai pigmen, berbentuk bulat seperti piring dengan luas penampang 12 mm, tebal mm, ditengah terletak bagian berlubang yang disebut pupil. Iris berfungsi memberikan warna atau pigmen pada mata. Warna iris memberikan warna pada mata. Warna iris ini sangat dipengaruhi oleh jenis ras atau bangsa. Selaput pelangi orang Indonesia pada umumnya berwarna coklat kehitaman. Iris bekerja sama dengan pupil untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke mata sehingga sesuai dengan kebutuhan. Bagian belakang dari ujung iris menempel pada lensa mata, sedangkan ujung pinggirnya melanjut sampai ke korpus siliaris. Pada iris terdapat dua buah otot, yaitu muskulus sfinter pupila pada pinggir iris, dan muskulus dilatator pupila terdapat agak ke pangkal iris dan banyak mengandung pembuluh darah dan sangat mudah terkena radang yang dapat menjalar ke korpus siliaris. 4. Pupil Pupil adalah celah (lubung) bundar yang ada di tengah-tengah, pupil akan menghentikan cahaya agar tidak terlalu banyak masuk ke maa. Dalam cahaya redup, otot-otot iris menjadi relaks sehingga pupil melebar. Melebarnya pupil memungkinkan cahaya semakin banyak masuk ke mata. Ukuran pupil dikontrol oleh otot sfinter pupil, yang membuka dan menutup iris. Pupil berguna untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke dalam mata. 5. Retina Retina mengandung saraf-saraf cahaya dan pembuluh darah. Bagian retina yang paling sensitif adalah makula, yang memiliki ratusan ujung saraf. Banyaknya ujung saraf ini menyebabkan gambaran visuil yang tajam. Retina mengubah gambaran tersebut menjadi gelombang listrik yang oleh saraf optikus dibawa ke otak. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta.

6. Lensa mata Lensa mata merupakan lensa cembung yang terbuat dari bahan bening, berserat dan kenyal, berfungsi memfokuskan dan mengatur pembiasan cahaya yang masuk ke mata agar jatuh tepat pada retina atau selaput jala. Dengan demikian, mata dapat melihat dengan jelas. Lensa mata mempunyai kemampuan untuk mencembung dan memipih untuk memfokuskan jatuhnya cahaya. Kemampuan lensa mata untuk mengubah kecembungannya disebut daya akomodasi. Lensa letaknya terdapat di belakang iris dan pupil. Dengan merubah bentuknya, lensa memfokuskan cahaya ke retina. Jika mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot silier akan berkontraksi, sehingga lensa menjadi berakomodasi menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Akibatnya lensa mata berbentuk pipih. Jika mata memfokuskan pada objek yang jauh, maka otot silier akan mengendur dan lensa menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Sejalan dengan pertambahan usia, lensa menjadi kurang lentur, kemampuannya untuk menebal menjadi berkurang sehingga kemampuannya untuk memfokuskan objek yang dekat juga berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia 3. Tunika nervosa Tunika nervosa adalah lapisan terdalam bola mata yang disebut retina. Retina merupakan lapisan yang berisi ujung-ujung saraf yang sangat peka terhadap cahaya. Retina berfungsi untuk menangkap bayangan yang dibentuk oleh lensa mata. Retina merupakan bagian saraf pada mata, tersusun oleh sel saraf dan serat-seratnya. Retina berperan sebagai reseptor rangsang cahaya. Retina tersusun dari sel kerucut yang bertanggung jawab untuk penglihatan warna dan sel batang yang bertanggung jawab untuk penglihatan di tempat gelap. Pada daerah makula lutea, retina mengalami penyederhanaan sesuai dengan fungsinya agar dapat melihat dengan jelas. Retina terbagi atas tiga bagian, yaitu: a. Pars optika retina, dimulai dari kutub belakang bola mata sampai di depan khatulistiwa bola mata. b. Pars siliaris, merupakan lapisan yang dilapisi bagian dalam korpus siliar. c. Pars iridika, melapisi bagian permukaan belakang iris. Retina terdapat dibagian belakang sampai ke nervus optikus. Retina terdiri dari 10 lapisan, yaitu: a. Lapisan 1 adalah lapisan berpigmen. b. Lapisan 2, 4, dan 5 lapisan adalah lapisan fotoreseptika. c. Lapisan 5 (sisa), 6, 7, 8, dan 9 adalah lapisan neuron. d. Lapisan 3 dan 10 sebagaai lapisan penunjang.

Bulbus okuli atau bola mata berisi tiga cairan refrakting media dan masing-masing cairan mempunyai kekentalan yang berbeda. Ketiga cairan tersebut, yaitu: a. Aques humor Cairan seperti limfe yang mengisi bagian depan mata, cairan ini diperkirakan dihasilkan oleh prosessus siliaris kemudian masuk ke dalam kamera okuli posterior, melalui celah fontana (sudut iris) masuk ke dalam kamera okuli anterior. Aquos humor berfungsi mengendalikan tekanan bola mata (selain badan kaca) dan menjaga bentuk kantong bola mata. Selain itu, aques humor merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea. b. Lensa kristalina Lensa kristalina merupakan masa yang tembus cahaya, berbentuk bikonkaf yang terletak diantara iris dan korpus vitorus yang sangat elastis. Kedua ujung lensa ini diikat oleh ligamentum suspensorium, lensa ini terdiri dari lima lapisan. c. Vitreous humor Vitreous humor merupakan cairan bening kental seperti agar-agar, berfungsi untuk menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata. Vitreous humor terletak diantara lensa dan retina. Berisi 4/5 bagian daripada bulbus okuli sehingga mata ini tidak kempes. Terdiri dari air 99% dan sisanya kolagen dan asam hialuronat yang memberi bentuk dan konsistensinya mirip gel, karena kemampuannya mengikat air. 6. REFRAKSI MATA Bila cahaya yang jatuh di atas mata menimbulkan bayangan yang letaknya difokuskan pada retina. Bayangan itu akan menembus dan diubah oleh kornea lensa badan eques dan vitreous, lensa membiaskan cahaya dan memfokuskan bayangan pada retina bersatu menangkap sebuah titik bayangan yang difokuskan. 7. MEKANISME PENGELIHATAN Penglihatan bermula dari masuknya seberkas cahaya (yang sebenarnya terdiri dari berbagai intensitas dan membawa suatau bentuk obyek tertentu), ke dalam mata dan dibiaskan (difokuskan) pada retina (selaput jala yang melapisi dinding dalam bola mata). Kemampuan seseorang untuk melihat dengan tajam (terfokus), sangat tergantung pada kemampuan media refraktif didalam bola mata untuk mengarahkan perjalanan berkas cahaya tersebut agar terarah tepat ke retina. Yang dimaksud media refraktif di sini terutama adalah kornea (selaput bening) dan lensa mata. karakteristik umum dari

media refraktif adalah bersifat jernih (bening, transparan, lalu-pandang). Karakteristik spesifik alamiah dari kornea adalah mempunyai bentuk multi lengkung yang tersusun sistematik (asferik) dan terdiri dari jaringan (kolagen) yang mempunyai indeks bias tinggi. Sedangkan karakteristik spesifik dari lensa mata adalah bentuk kecembungannya yang dapat diubahubah sesuai dengan kebutuhan pembiasan, karena bersifat kenyal (sampai umur tertentu). Efek makin cembungnya lensa mata adalah akomodasi, yaitu dimana cahaya akan lebih terfokus didepan retina. Hasil unjuk kerja keseluruhan dari media refraktif ini sangant ditentukan pula oleh panjangnya sumbu bolamata. Fase terakhir dari seluruh rangkaian proses penglihatan adalah interprestasi. Layaknya suatu film seluloid didalam kamera, maka retina berfungsi merekam gambar yang diterimanya (sudah dalam keadaan terfokus), lalu mengubah gambar tersebut menjadi implus-implus listrik (melalui proses sintesa foto elektrik) dan akhirnya mengalirkannya ke otak (susunan saraf pusat) untuk diinterpretasikan (diartikan) sebagai gambar atau obyek yang terlihat oleh mata tersebut. 8.KELAINAN ATAU PENYAKIT PADA MATA Kelainan atau penyakit pada mata banyak macamnya, namun beberapa diantaranya akan dijelaskan sebagai berikut, yaitu: A. Kelainan refraksi Kelainan refraksi adalah kelainan panjang sumbu bolamata atau kelainan media refraktif merupakan penyebab dari miopia (rabun jauh), dan hipermetropia (rabun dekat). Presbiopia atau rabun tua terjadi bila lensa mata hilang kemampuannya untuk memfokuskan cahaya pada penglihatan dekat. Keadaan-keadaan ini disebut kelainan refraksi, karena kelainan ini mempengaruhi kerja mata dalam membiaskan cahaya dan memfokuskannya ke retina. B. Miopia (Rabun jauh) Miopia atau rabun jauh yaitu suatu keadaan dimana mata mampu melihat obyek yang dekat, tetapi kabur bila melihat objek-objek yang jauh letaknya. Miopia adalah Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias membentuk bayangan di depan retina. Kata miopia berasal dari bahasa Yunani yang berarti memincangkan mata, karena penderita kelainan ini selalu memincangkan mata dalam usahanya untuk melihat lebih jelas objek-objek yang jauh letaknya. Itulah karakteristik utama dari penderita miopia. Miopia sering disertai dengan gangguan mata silindris (astigmatis). Miopia paling banyak dijumpai pada anak-anak, biasanya ditemukan pada waktu pemeriksaan skrining di sekolah. Pada umumnya miopia merupakan kelainan yang diturunkan oleh orang tuanya sehingga banyak dijumpai pada usia dini sekolah. Ciri khas dari perkembangan miopia adalah derajat

kelainan yang meningkat terus sampai usia remaja kemudian menurun pada usia dewasa muda. Walaupun agak jarang, miopia dapat pula disebabkan oleh perubahan kelengkungan kornea atau oleh kelainan bentuk lensa mata. Karena itu untuk memperoleh gambaran penyebab yang lebih jelas pada seseorang, riwayat adanya miopia di dalam keluarga perlu di kemukakan. Lazimnya miopia terjadi karena memanjangnya sumbu bola mata. Mata yang penampang seharusnya bulat, akibat proses pemanjangan ini kemudian berbentuk bulat telur. Selanjutnya, pemanjangan sumbu ini menyebabkan media refraktif sulit memfokuskan berkas cahaya terfokus di depan retina. Berkas cahaya terfokus didepan retina. Sejalan dengan memanjangnya sumbu bolamata, derajat miopia pun akan bertambah. Pada usia anak-anak sampai remaja, proses pemanjangan bolamata dapat merupakan bagian dari pertumbuhan tubuh. Pertambahan derajat miopia membutuhkan kacamata yang kiat berat derajat kekuatannya, karena itu pada masa usia dini dianjurkan agar pemeriksaan diulang setiap 6 bulan pada golongan usia antara 20-40 tahun, progresivitas miopia akan melambat. Meskipun demikian pertambahannya tetap ada, terutama pada mereka yang baru mulai menderita miopia diatas usia 20 tahun. Gejala pada miopia terdapat beberapa macam, yaitu diantaranya: 1. Gejala Subyektif Penglihatan jauh kabur, sedangkan dekat tetap terang (near sighnet) serta disertai penyempitan mata bila terus menerus berakomodasi dan timbul rasa kemeng. Kadang-kadang dilapangan pandangan penderita melihat titik-titik,benang-benang, nyamuk-nyamuk yang disebabkan pandangan berkunang-kunang. Kemudian mata menjadi lekas capek, pusing, dan cepat mengantuk. 2. Gejala Obyektif Kamera ocule pada posterior dalam, disebabkan tidak dipakainya otototot akomodasi. Pupil melebar disebut myriasis, akibat tidak atau kurangnya berakomodasi. Retina menjadi tipis dan nampak menjadi belang seperti macan disebut trigoid. Matanya sedikit agak menonjol (Exoplthalmus). Penderita miopia harus memeriksakan matanya secara teratur guna mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada retina. Jika retina lepas, maka satu-satunya cara untuk memperbaikinya adalah pembedahan. Cara pengobatan untuk mengatasi gangguan penglihatan akibat miopia adalah dengan penggunaan kacamata berlensa minus atau lensa kontak. Fungsi lensa disini hanya mengubah arah perjalanan cahaya agar berkas yang tadinya tanpa kacamata akan jatuh didepan retina dapat dibiaskan dan jatuh tepat diretina. Selain kacamata minus, miopia dapat dikoreksi dengan caracara:

1. Mengubah bentuk lengkung depan kornea Hingga saat ini belum ditemukan suatu bukti ilmiahpun bahwa lensa kontak sanggup mengobati miopia secara permanen, namun beberapa penelitian saat ini ditujukan kepada kemungkinan mengubah bentuk lengkung depan kornea dengan jalan memakai lensa kontak keras secara teratur pada usia dini. Ini terutama pada miopia yang disebabkan oleh kelainan bentuk kornea. Cara pembedahan ini telah ditempuh pula untuk mengubah bentuk lengkung depan kornea baik dengan teknik Radial Keratomi maupun dengan dengan teknik Laser Excimer yang lebih unggul karena hasilnya yang tepat ramal (predictable). 2. Melumpuhkan akomodasi Prisipnya adalah berdasarkan suatu teori yang menyatakan bahwa miopia (terutama anak-anak) disebabkan oleh akomodasi yang terlalu sering dan berlebihan. Dengan tetes mata atropin sulpat, akomodasi diharapkan lumpuh untuk sementara. Namun berbagai penelitian menunjukan bahwa cara ini tidak selalu berhasil dengan baik. C. Astigmatisme Astigmatisme adalah Kelainana mata, dimana sinar-sinar sejajar yang masuk ke bola mata tidak dibiaskan pada satu titik, tetapi lebih dari satu titik (berupa garis). Astigmatisme ada 2 macam, yaitu : 1. Atisgmatisme Irregularis Astigmatisme irregularis yaitu titik-titik bias tidak teratur, hal ini disebabkan karena permukaan bagian luar kornea tidak teratur disebabkan karena penyakit mata kerakiris atau adanya radang pemakaian lensa kontak, karena irregularisnya dinetralisir oleh air mata. Bila astigmatisme disertai dengan nebula (bintik buta pada kornea) maka pemakaian lensa kontak tidak ada gunanya. Untuk mengetahui Astigmatisme irregularis superfisialis atau frofunda dapat digunakan alat yang sederhana seperti placido (suatu lingkaran hitam yang mempunyai gambar lingkaranlingkaran putih) Apabila terdapat kekeruhan pada kornea, penderita hanya dapat dibantu dengan transplantasi kornea. 2. Astigmatisme Regularis Astigmatisme regularis penyebabnya adalah cornea (90%) dan Lensa (10%). Disini ditemukan dua titik bias yang terletak pada sumbu mata. Yang disebabkan adanya dua bidang utama yang saling tegak lurus, dimana yang satu mempunyai daya bias yang terkuat dan yang lain mempunyai daya bias yang terlemah. Astigmatisme regularis beraturan mempunyai bidang utama vertikal (90 derajat) dan berdaya bias kuat. Namun pada bidang horisontal (190 derajat) mempunyai daya bias lemah. Sedangkan pada astigmatisme regularis tidak beraturan mempunyai

bidang vertikal (90 derajat) dan berdaya bias lemah. Namun pada bidang horisonta l(180 derajat) mempunyai daya kuat. Kornea merupakan jendela mata. Kornea yang normal berbentuk bundar dan licin, seperti halnya kelereng. Pada astigmata, kornea lebih melengkung ke satu arah, berbentuk oval. Astigmata menyebabkan distorsi atau pandangan kabur pada objek jarak dekat maupun jarak jauh. Penglihatan penderita hampir menyerupai penglihatan di rumah kaca, dimana seseorang terlihat terlalu tinggi, terlalu lebar atau terlalu kurus. Astigmata bisa ditemukan bersamasama dengan miopia maupun hipermetropia. Penanganan astigmatisme dapat dilakukan dengan kacamata silindris dan harus melakukan pemerikasaan refraksi. Pengobatannya dengan alat bantu berupa kacamata berlensa rangkap dan dengan cara pemeriksaan refraksi yaitu dengan subjective trial lens dan trial frame. Pencegahan astigmatisme dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, yaitu diantaranya: a. Jangan melakukan kegiatan membaca di tempat yang kurang mempunyai cahaya atau terlalu redup atau terlalu silau. b. Pada waktu membaca jagalah jarak antara buku dan mata sekitar 30 cm. c. Jangan membiasakan membaca buku sambil berbaring ataupun tiduran.

d. Hindarilah mata dari kotoran seperti debu, atau benda yang menggangu. e. Periksalah ke dokter atau rumah sakit jika mata terasa sakit. C. Hipermetropia (Rabun dekat) Hipermetropia atau rabun dekat adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibiaskan membentuk bayangan di belakang retina. Jadi mata hanya dapat melihat jarak jauh. Cahaya dari objek jarak dekat (misalnya ketika membaca buku), tidak dapat terfokus secara jelas pada retina. Mata terlalu pendek sehingga objek jarak dekat terlihat kabur. Hipermetropia dapat diturunkan pada keturunan. Jadi misalnya pada bayi dan anak-anak cenderung mengalami hipermetropia ringan. Sejalan dengan pertumbuhan dan bertambah panjangnya mata, hipermetropia semakin berkurang. Hipermetropia atau rabun dekat dapat ditolong dengan kacamata berlensa cembung (positif). Pencegahannya dengan cara menghindari kekurangan kadar gula, membiasakan pola baca yang baik dan harus menjaga mata agar tetap terjaga dengan baik serta merawatnya setiap hari dan apabila terjadi hal-hal yang membahayakan harap segera diperiksakan kerumah sakit. Hipermetropia dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

a. Hipermetropia manifesta. b. Hipermetropia latenta. c. Hipermetropia totalis. D. Presbiopia Presbiopia atau mata tua adalah mata yang tidak dapat melihat jauh dan dekat. Pada usia muda, lensa mata masih lunak dan lentur, sehingga bentuknya bisa berubah-ubah guna memfokuskan objek dekat dan objek jauh. Setelah berusia 40 tahun, lensa menjadi lebih kaku. Lensa tidak dapat dengan mudah merubah bentuknya sehingga lebih sulit untuk membaca pada jarak dekat. Hal ini merupakan suatu keadaan yang normal, yang disebut dengan presbiopia. Penanganan Presbiopi atau mata tua biasanya ditolong dengan kacamata rangkap dan harus harus melakukan terapi. Pencegahan presbiopia dapat dilakukan dengan cara menghindari rasa capek, sakit kepala, rasa kemeng pada sekitar mata, pusing dan harus menjaga mata agar tetap baik dengan merawatnya setiap hari dan apabila terjadi hal-hal yang membahayakan harap segera diperiksakan kerumah sakit. Presbiopia bisa terjadi bersamaan dengan miopia, hipermetropia maupun astigmatisme. E. Katarak Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun. Lensa mata menjadi keruh dan cahaya tidak dapat menembusinya, bervariasi sesuai tingkatannya dari sedikit sampai keburaman total dan menghalangi jalan cahaya. dalam perkembangan katarak yang terkait dengan usia penderita dapat menyebabkan penguatan lensa, menyebabkan penderita menderita miopi, menguning secara bertahap dan keburaman lensa dapat mengurangi persepsi akan warna biru. Katarak biasanya berlangsung perlahan-lahan menyebabkan kehilangan penglihatan dan berpotensi membutakan jika tidak diobati. Kondisi ini biasanya memengaruhi kedua mata, tapi hampir selalu satu mata dipengaruhi lebih awal dari yang lain. Sebuah katarak senilis, yang terjadi pada usia lanjut, pertama kali akan terjadi keburaman dalam lensa, kemudian pembengkakan lensa dan penyusutan akhir dengan kehilangan transparasi seluruhnya. Selain itu, seiring waktu lapisan luar katarak akan mencair dan membentuk cairan putih susu, yang dapat menyebabkan peradangan berat jika pecah kapsul lensa dan terjadi kebocoran. bila tidak diobati, katarak dapat menyebabkan glaukoma.

F. Buta warna Buta warna adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak dapat melihat warna sama sekali. Cacat tersebut dinamakan buta warna yang mempenagruhi total maupun sebagian kemampuan individu untuk membedakan warna. Variasi dari buta warna yang dibawa sejak lahir cukup nyata, antara lain : 1. Kromatisme atau Akromatopsia, adalah kebutaan warna total dimana semua warna dilihat sebagai tingkatan warna abu-abu 2. Diakromatisme, adalah kebutaan tidak sempurna yang menyangkut ketidakmampuan untuk membedakan warna-warna merah dan hijau. Untuk kesimpangsiuran warna ini ada tiga tipe, yaitu : a. Deutrinophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut hijau sehingga ia tidak dapat melihat warna hijau. b. Protanophia, yaitu orang yang kehilangan kerucut merah sehingga ia buta warna merah. c. Tritanophia, yaitu kondisi yang ditandai oleh ketidakberesan dalam warna biru dan kuning dimana conus biru atau kuning tidak peka terhadap suatu daerah spektrum visual. 9. GAMBAR ANATOMI MATA a. Gambar bagian-bagian mata

b. Gambar konjungtivitis

c. Gambar otot penggerak mata

d. Katarak

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Indera pengelihatan berupa mata terdiri dari kornea, sklera, muskulus okuli, koroid, retina. korpus siliaris, iris, konjungtiva, dan lain sebagainya. Fungsi mata adalah sebagai indera pengelihatan yang menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina dengan perantaraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke pusat pengelihatan manusia yang ada pada otak untuk kemudian ditafsirkan. Penyakit akibat gangguan mata yaitu diantaranya ada katarak, presbiopi, miopi, hipermetropi, dan buta warna. Indera pendengaran berupa telinga terdiri dari aurikula, meatus akustikus eksterna, kavum timpani, antrum timpani, tuba auditiva eustaki, labirintus osseous, vestibulum, kanalis semi sirkularis, sakulus, utrikulus, duktus semi sirkularis, duktus koklearis, dan lain sebagainya. Fungsi dari telinga adalah alat pendengaran dan alat keseimbangan manusia. Penyakit akibat gangguan telinga yaitu tinnitus, vertigo, tuli, dan masih banyak lagi penyakit lainnya. Indera peraba berupa kulit yang terdiri dari eepidermis, dermis, hipodermis, stratum granulosum, stratum spinosum, stratum, akantosum, dan lain sebagainya. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus, respirasi dan pengaturan suhu tubuh, produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultra violet matahari. Penyakit akibat gangguan kulit yaitu jerawat, komedo, alergi gatal, panu, kadas, kurap, dan gangguan pigmentasi. B. Saran Untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih baik berkualitas, maka sudah seharusnya kita menjaga seluruh organ tubuh kita dengan baik. Agar organ tubuh kita dapat berfungsi sesuai fungsinya masing-masing. Selain itu hindari hal-hal yang dapat merusak organ tubuh kita, agar terhindar dari penyakit yang dapat menganggu dan merusak organ tubuh kita. Karena dengan merawat organ tubuh kita sendiri sama saja dengan mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan tuhan kepada kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
Danie. S. Wibowo Dr. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis, Jakarta, 1997 Gramedia H. Syaifudin, B.Ac Drs. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat , Jakarta, 1997, EGC Ganong W. F. Fisiologi Kedokteran, Jakarta, 1995, EGC http/www.informasikesehatantht.com http://www.conectique.com/tips_solution/health/disease/article.php?article_id= 6258 http://www.blogdokter.net/2008/07/20/tinitus-telinga-berdenging/