Anda di halaman 1dari 29

VII.

EVOLUSI SWITCHING DALAM SENTRAL

VII.1. FUNGSI DARI SISTEM SWITCHING Tugas-tugas utama sistem switching dalam sentral adalah : 1. Attending: Sistem terus menerus memonitoring semua saluran untuk mendeteksi adanya sinyal call request tanda minta pelayanan . 2. Information receiving: Setlh mengetahui nomor pemanggil maka selanjutnya sistem mencatat address signal yakni nomor pelanggan tujuan. 3. Information processing: Sistem harus memproses informasi address signaliing ini. 4. Busy testing: Menentukan apakah saluran dalam kondisi bebas atau tidak 5 Interconnection: Hubungan pembicaraan langsung antar 2 pelanggan dapat terwujud melalui tiga tahapan hubungan berikut yaitu : a. Hubungan ke terminal pemanggil b. Hubungan ke terminal yang dipanggil c. Hubungan antara kedua terminal 6. Alerting: Sinyal alert adalah ringing current yang harus dikirimkan ke pelanggan yang dipanggil sebagai tanda adanya panggilan yang masuk. 7. Supervision : Sekiranya terminal yg dipanggil menjawab, maka sistem secara kontinu melakukan pengawasan terhadap lintasan pembicaraan tersebut. 8. Release : Jika pembicaraan antara kedua pelanggan telah selesai maka sistem memutuskan lintasan hubungan antara keduanya tergantung siapa yg meletakkan hand set lebih dahulu yakni: a. Memutuskan hubungan ke terminal pemanggil b. Memtuskan hubungan ke terminal yang dipanggil VII.2. TEKNIK SWITCHING DALAM SENTRAL

VII-1

Teknik switching adalah cara pengaturan / pergerakan perangkat switching sedemikian rupa sehingga lintasan langsung dapat diperoleh antara satu pelanggan dgn pelanggan lainnya sebagaimana Gbr VII-1

ALAT SWITCHING

A B C D E

F G H J

ALAT SWITCHING

GbrVII-1: Alat switching yg menghubungkan pelanggan : a. Hanya 1 pasang pelanggan yang terhubung b. Terdapat 2 pasang pelanggan terhubung (A&F dan B&K) Dalam pelaksanaan sambungan ini alat switching dibedakan atas: 1. Direct Control System / Pergerakan Pimpinan Langsung : Call Number (CN) yang berupa deretan pulsa secara langsung tahap demi tahap mengerjakan alat switching yang ada disentral. 2. Indirect Control System / Pergerakan Pimpinan Tidak Langsung : Call Number yg berupa deretan pulsa ditransformasikan dulu dlm bentuk kode sebelum mengerjakan alat switching disentral. VII.2.1 DIRECT CONTROLLED SYSTEM (DCS)

Pelanggan A CN

PS

GS1

GS2

FS

Pelanggan B

SENTRAL TELEPON

Gbr.VII-1: Bagan dasar Direct Controlled System dgn tahapan switching


VII-2

Pre Selector(PS),Group Selector (GS) dan Final Selector(FS) 1.


2.

PS mengunci diri saat pelanggan mengangkat handset sebagai pertanda bahwa pelanggan pemanggil tdk lagi dpt dihubungi pelanggan manapun. Pulsa-pulsa piringan pilih yang dikirim oleh pelanggan ke sentral, secara langsung tahap demi tahap mengerjakan GS1,GS2 & FS untuk mencapai pelanggan tujuan yg diinginkan

VII.2.2 INDIRECT CONTROLLED SYSTEM (DCS)


Pelanggan A CN
REGISTER

PS

GS1

GS2

FS
EQ

Pelanggan B

SENTRAL TELEPON

Gbr.VII-2: Proses penyambungan Indirect Controlled System Kelebihan ICS dibandingkan DCS : Dapat digunakan untuk sistem dekadis maupun non dekadis. Dapat melakukan koreksi pulsa bila diperlukan. Dapat melakukan inter digit time, waiting time dan routing. Kekurangan ICS dibandingkan DCS : 1. Sistemnya lebih kompleks dan lebih mahal. 2. Penambahan kapasitas harus disertai penambahan Register 3. Bila satu Register rusak maka sejumlah pelanggan menderita. 4. Life time-nya lebih cepat tercapai. VII.3. PERANGKAT DALAM SENTRAL VII.3.1. TAHAP KONSENTRASI DAN INTERKONEKSI Demi pertimbangan ekonomis biaya, maka apabila jumlah pelanggan relatif besar ketersediaan alat switching harus dibatasi, sehingga dibutuhkan tahap
VII-3

1. 2. 3.

konsentrasi dan tahap interkoneksi sebagai penghubung connecting circuit sebagaimana terlihat pada Gbr.VII-3a.

CONCENTRATION SWITCH

a.

1 2 3 4 5 . 30
30 l.e

SENTRAL TELEPON

INTERCONECTION SWITCH

6 cc

31 32 33 34 35 . 60
2 o.j

30
2 i.j

CONCENTRATION SWITCH

SENTRAL TELEPON

1 2 3 4 5 6 7 8 . 60

4 t.j. 6 cc

60 l.e.

INTERCONECTION SWITCH

2 o.j

2 i.j

LineEquipment

Tahap Konsentrasi

c.

X Y

o.j

Gbr.VII-3: Tahap konsentrasi dan Interkoneksi pada sentral dgn: Tahap Interkoneksi i.j dari 2 kelompok a. Pelanggan terdiri
VII-4

b. Pelanggan sudah menjadi 1 kelompok c. Tahap konsentrasi dan interkoneksi yang merupakan bagian dari suatu sentral. Penjelasan dari perangkat yang terdapat pada Gbr.VII-3a 1. Connecting circuit: Perangkat yang menentukan jumlah pasangan pembicaraan yang dapat dilayani secara bersamaan, pada contoh jlh connecting circuit=6 2. Concentration switch: a. Menghubungkan saluran pemanggil dgn connection circuit cc yg bebas. b. Menghubungkan terminating junction t.j. dgn saluran yg dipanggil 3. Interconnection switch : Menghubungkan connecting circuit cc dgn terminating junction t.j./ service junction s.j / outgoing junction o.j. 4. Karena sentral punya 60 pelanggan dengan 6 connecting circuit, maka tingkat pelayanan yang tersedia adalah 10%. Karena pada umumnya pelanggan pemanggil dan pelanggan tujuan berada dalam satu kelompok (satu sentral), maka Gbr.VII-3b akan jadi lebih realistis sebagai bagan sederhana suatu sentral telepon. Dalam Gbr.VII-3b terlihat bahwa tahap konsentrasi secara langsung akan terhubung ke pelanggan pemanggil maupun pelanggan tujuan. VII.3.2. PROSESOR / REGISTER / TRANSLATOR Apabila Gbr.VII-3 diatas dilengkapi dengan Prosesor / Register / Translator sebagai pengendali alat switching, maka tambahan perangkat tsb menjadikan tampilan suatu sentral punya konfigurasi sebagaimana pada Gbr.VII-4.
LineEquipment Tahap Konsentrasi

Pr

Pr Tahap Interkoneksi

Reg/Trans

VII-5

Gbr.VII-4: Bagan sentral sederhana yang dilengkapi dengan Prosesor/Register/Translator. VII.3.3. MACAM CALL DAN LINTASAN HUBUNGAN PEMBICARAAN Macam panggilan/call yang mungkin berlangsung dalam suatu sentral sebgm terlihat pada Gbr VII-5 dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Originating call : Merupakan call dari pelanggan yang berada dalam sentral, kemanapun tujuan hubungannya. 2. Intern call : Merupakan call yang berlangsung antar 2 pelanggan dalam satu sentral 3. Outgoing call : Merupakan call dari pelanggan dalam sentral dgn tujuan ke pelanggan dalam sentral lain. 4. Incoming call Merupakan call yang menuju ke pelanggan dalam suatu sentral yang berasal dari pelanggan dari sentral lain. 5. Transit call : Call yang berlangsung antar 2 sentral lain yang berbeda, sedang sentral yang diamati hanya berfungsi sebagai transit. 6. Terminating call : Call yg menuju ke pelanggan dlm sentral, dari manapun asal panggilan tersebut.
SENTRAL A 1 3 2 5 4 SENTRAL C

22

SENTRAL B

Gbr.VII-5: Lintasan hubungan pembicaraan dalam sentral dimana: Original call (1) = Intern call(2) + Outgoing call(3) Incoming call (4) = Transit call (5) + Terminating call (6) Bila ditinjau lokasi dari para pelanggan yg membentuk lintasan hubungan pembicaraan, maka lintasan hubungan tersebut dapat dibedakan atas: 1. Kedua pelanggan berada dalam sentral yang sama.
VII-6

2. Kedua pelanggan baik sebagai pemangil maupun yang dipanggil berada dalam sentral berbeda yg terhubung oleh lintasan langsung. 3. Kedua pelanggan baik sebagai pemangil maupun yang dipanggil berada dalam 2 sentral berbeda yang tidak punya lintasan langsung Berdasarkan hal tersebut di atas maka lintasan hubungan pembicaraan antar 2 pelanggan sebagaimana terlihat pada Gbr.VII-6a dapat dibedakan atas: 1. Lintasan hubungan intern (1) 2. Lintasan hubungan incoming (2) 3. Lintasan hubungan outgoing (3) 4. Lintasan hubungan transit (4) Bila dilengkapi dengan lintasan hubungan pembicaraan yg dimaksud diatas, maka konfigurasi sentral akan menjadi sebagaimana Gbr.VII-6b.
4 Sentral Telepon I 1 2 B C

Sentral Telepon II

Sentral Telepon III

1 D

3 E

1 F

a .

LineEquipment

Macam lintasan hubungan ditinjau dari Sentral II : Lintasan hubungan intern Lintasan hubungan incoming Lintasan hubungan outgoing Lintasan hubungan transit

Tahap Konsentrasi
Pr

Intern

b.

Pr Outgoing Reg/Trans Pr

Transit Incoming

Pr

Sentral Telepon

Tahap Interkoneksi

VII-7

Gbr.VII-6: Macam lintasan hubungan pembicaraan telepon: a. Intern,outgoing,incoming dan transit antar 3 sentral b. Intern,outgoing,incoming dan transit dlm 1 sentral VII.3.4. LINTASAN SIGNALING DALAM SENTRAL TELEPON Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa Prosesor bertugas mengendalikan semua alat sambung / switching guna menghubungan 2 pelanggan yg akan membentuk lintasan pembicaraan. Dalam mengendalikan alat switching ini, Prosesor mengirimkan signaling ke alat sambung / switching yang akan dikendalikannya. Walau signaling juga merupakan sinyal informasi namun dalam transmisinya pengirimannya dilaksanakan melalui lintasan yg terpisah dari lintasan sinyal pembicaraan. Sehubungan hal diatas, maka berbagai sinyal yang merambat dalam jaringan telepon sebgaimana Gbr.VII-7 dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Message m: Sinyal informasi yg berupa sinyal audio dan dipertukarkan antar pelanggan. 2. Signal message sm: Sinyal informasi berupa sinyal audio yg digunakan untuk memberikan informasi kepada pelanggan tentang kondisi alat sambung. 3. Signal s: Informasi tentang kondisi alat sambung yang dikomunikasikan kepada alat sambung / perangkat, sehingga bukan berupa sinyal audio 4. Data d: Informasi data tentang segala hal yang dibutuhkan Prosesor, seperti kondisi atau alamat dari pelanggan/sentral/kanal/dsb yang juga bukan sinyal audio. 5. Order o: Instruksi yang dikirim oleh Prosesor kepada berbagai alat sambung yang berada dibawah kendalinya.
Line Equipment

Tahap Konsentrasi Pr

r
m s d o

d s m

SENTRAL TELEPON Pr
m-d s-d s

sdo

Tahap Interkoneksi

Reg/Trans

VII-8

Gbr.VII-7: Bagan sederhana suatu sentral yang dilengkapi : Prosesor/Register/Translator. Lintasan signaling m, sm, s, d dan o VII.4. SEJARAH PERKEMBANGAN SENTRAL / EXCHANGE Tabel VII-1 : Macam sentral sesuai masa perkembangannya
1880 No 1 2 Nama Sentral Manual Exchange SxS Exchange -Tanpa Register -Dengan Register Crossbar Exchange Semi Electronics Exchange Full Electronics Exch Digital Exchange Integrated Service Digital Nework (ISDN) TDTS : Time Division Time Sharing W dan SPL : Wired & Stored Program Logics 1900 1920 1940 1960 1980 2000

3 4 5 6 7

Tabel VII-2 : Perbedaan teknis dari sentral sesuai perkembangannya


No 1 2 3 4 Nama Sentral SxS Crossbar Semi Electronic Full Electronic Konsentrasi Lnts signaling Lnts bicara rele rele rele rele (matriks) (matriks) elektronis rele (matriks) (matriks) elektronis elektronis Interkoneksi Lnts signaling Lnts bicara rele rele rele rele (matriks) (matriks) elektronis rele (matriks) (matriks) elektronis elektronis VII-9

Digital

(matrik) digital (matriks)

(matrik) digital (matriks)

(matrik) digital (matriks)

(matrik) digital (matriks)

VII.5. CROSSBAR EXCHANGE VII.5.1 KONFIGURASI SENTRAL CROSSBAR Sentral Crossbar menggunakan rele sebagai alat swithcingnya akan tetapi rele tsb telah dalam bentuk matriks yang menjadikan bentuk fisisnya lebih kompak,relatif kecil dan praktis dibanding pendahulunya. Konfigurasi dari Crossbar Exchange dengan switching matriksnya pada tahapan Konsentrasi dan Interkoneksi dapat dilihat pada Gbr.VII-9.

01-10

t.j

11-20

21-30 TAHAP KONSENTRASI

or.j
TAHAP INTERKONEKSI

s.j
31-40

o.j.

41-50

i.j

Dari luar sentral

51-60

MatriksF F

Matriks G

COMMON PROCESSOR

VII-10

Gbr.VII-9: Bagan suatu Crossbar Exchange dengan tahapan matriks: 1. Concentration Switch : 6 matriks A dan 6 matriks B 2. Interconnection Switch: masing matriks C,D dan E ada 3 3. Register Switch: 1 matriks F, 1 matriks G Bagian utama dari Crosbar Exchange sebagaimana Gbr.VIII-2 terdiri dari: 1. Concentration Switch 2. Interconnection Switch 3. Register Switch 4. Junctor 5. Processor - Register - Translator. 6. Subscriber / pelanggan CONCENTRATION SWITCH : Fungsi Concentration Switch adalah untuk menghubungkan inputnya berupa pelanggan ke outputnya yg berupa Originating Junctor (or.j) atau Terminating Junctor (t.j) dimana : 1. Pelanggan terhubung ke Origintaing Junctor (or.j) pada saat memanggil 2. Terminting Junctor (t.j) terhubung ke pelanggan saat dipanggil Concentration Switch terdiri dari 12 matriks dalam 2 tahapan sebagai berikut: 1. Matriks A(10x3) ada 6 buah, menghubunkan pelanggan dgn matriks B 2. Matriks B(3x2) ada 6 buah, menghubungkan matriks A dgn or.j. INTERCONNECTION SWITCH : Fungsi Interconnection Switch adalah untuk menghubungkan inputnya yang berupa Originting Junctor kepada outputnya yang berupa Terminating Junctor (t.j), Service Juntor (s.j) atau Otgoing Junctor (o.j). Concentration Switch terdiri dari 12 matriks dalam 3 tahapan sebagai berikut: 1. Matriks C(3x3) ada 3 buah, menghubungkan Originating Junctor (or.j) atau Incoming Junctor (i.j) dengan matriks D 2. Matriks D(3x3) ada 3 buah, menghubungkan matriks C dgn E 3. Matriks E(3x3) ada 3 buah, menghubungkan matriks D dengan Originating Junctor (or.j) , Service Junctor (s.j) dan Terminting Junctor (t.j) REGISTER SWITCH : Register Switch ada 2 buah yakni matriks F dan matriks G yang berfungsi: 1. Fungsi Matriks F(6x2) adalah menghubungkan or.j dan Register-Translator bagi lintasan signaling yang dikirim oleh pelanggan pemanggil. 2. Fungsi matriks G(3x2) adalah untuk menghubungkan Incoming Junction (i.j) dgn Register-Translator bagi lintasan signaling pelanggan sentral lain. JUNCTOR : Merupakan titik hubung antar tahapan dalam sentral, terdiri atas :
VII-11

1. Originating Junctor menghubungkan tahap Konsentrasi dgn or.j atau t.j 2. Terminating Junctor penghubung tahap Interkoneksi dgn Konsentrasi 3. Service Junctor (s.j) menghubungkan tahap Konsentrasi kepada sistem pelayanan sentral sesuai keinginan pelanggan , seperti 108, 129, dsb. 4. Outgoing Junctor (o.j) menghubungkan tahap Konsentrasi ke lintasan menuju luar sentral sesuai keinginan pelanggan misal ke sentral lain dlm wilayah lokal, SLJJ maupun SLI. PELANGGAN : Merupakan input matriks A, 10 pelangg tiap matriks shg total 60 pelanggan.

VII.5.2 LINTASAN HUBUNGAN PEMBICARAAN Lintasan hubungan pembicaraan yang akan dibahas adalah untuk : 1. Lintasan hubungan pembicaraan intern : Pembicaran dikatakan punya hubungan intern apabila baik pelanggan pemanggil maupun yang dipanggil berada dam sentral yang sama. Misalkan Pelanggan no. 05 memanggil pelangg no.29. Lintasannya: Pelanggan 05 - A1(5,2) - B2(1,1) - or.j2 - C2(1,1) - D1(1,3) - E1(1,3) - t.j1 B1(2,3) - A3(1,9) - Pelanggan 29. 2. Lintasan hubungan pembicaraan outgoing: Pembicaraan dikatakan punya hubungan outgoing apabila pelanggan yang ada di suatu sentral meminta disambungkan ke pelanggan yang berada disentral lain. Misalkan Pelanggan no.33 akan melaksanakan hubungan outgoing. Lintasannya: Pelangan 33 - A4(3,2) - B5(1,1) - or.j5 - C2(2,3) - D3(2,1) E3(3,1) - o.j. 3. Lintasan hubungan pembicaraan incoming Pembicaraan dikatakan punya hubungan incoming apabila pelanggan dari sentral lain minta disambungkan kepelanggan yang ada dimaksud. Misalkan masuk dari incoming junctor I.j3 menuju pelanggan no.57. Lintasannya : i.j3 - C3(3,3) - D3(3,3) - E3(3,2) - t.j6 - B6(2,1) - A6(3,7) Pelanggan 57 4. Lintasan hubungan pembicaraan transit Pembicaraan dikatakan punya hubungan transit bila kedua pelanggan yang berbicara berada dalam 2 sentral lain berbeda, sedang sentral yang ditinjau hanya berfungsi sebagai tempat liwat. Lintasannya : i.j1 - C1(3,3) - D3(1,1) - E3(3,1) - o.j
VII-12

VII.5.2. LINTASAN HUBUNGAN SIGNALING Lintasan signaling adalah lintasan yang digunakan untuk menyalurkan informasi signaling.Lintasan ini pada hakekatnya sama dengan lintasan pembicaraan, hanya saja setelah mencapai or.j , signaling diteruskan dulu ke Register-Translator untuk mengolah CN (Call Number) yg dikirim Pemanggil menjadi Equipment Number (EN). Selanjutnya EN ini tahap demi tahap digunakan untuk mengerjakan alat switching yang terdapat pada Interconection Switch. Lintasan signaling dapat dibedakan atas: 1. Hubungan intern Misalkan Pelanggan no. 05 memanggil pelangg no.29 Lintasannya : Pelanggan 05 - A1(5,2) - B2(1,1) - or.j2 - F(2,1) - or.j2 Originating Register o.r. - Translator Marker - Originating Register F(2,2) - or.j2 - C2(1,1) - D1(1,3) - E1(1,3) - t.j1 - B1(2,3) - A3(1,9) Pelanggan 29. 2. Hubungan outgoing Misalkan Pelanggan no.33 akan melaksanakan hubungan outgoing. Lintasannya: Pelanggan 33 - A4(3,2) - B5(1,1) - or.j5 - F(5,1) - Originating Register o.r. - Translator Marker - Originating Register - F(2,5) - or.j5 - C2(2,3) D3(2,1) E3(3,1) - o.j. 3. Hubungan incoming Misalkan masuk dari incoming junctor I.j3 menuju pelanggan no.57. Lintasannya : i i. j3 - (tambahkan sendiri) - C3(3,3) - D3(3,3) - E3(3,2) - t.j6 - B6(2,1) - A6(3,7) Pelangg.57 4. Hubungan transit Lintasannya : i.j1 (tambahkan sendiri) - C1(3,3) - D3(1,1) - E3(3,1) - o.j VII.5.3. KESIMPULAN CROSSBAR EXCHANGE Hal khusus tahap konsentrasi dan interkoneksi pada Crossbar Exchange dapat dijelaskan sebagai berikut: Tahap konsentrasi :
VII-13

Terdiri dari rele matriks A (input/output 60/18) dan B (input/output 12/6) sehingga terjadi pengkonsentrasian jumlah input/output (60/6) Tahap interkoneksi : Terdiri dari rele matriks C(in/out 6/9),D(in/out 9/9) dan E(in/out 9/9) dg pilihan lintasan pembicaraan l: intern, outgoing atau layanan lokal . VII.6. SEMI ELECTRONICS EXCHANGE VII.6.1 KONFIGURASI SEMI ELECTRONICS EXCHANGE Sebagaimana telah dikemukakan bahwa konfigurasi dasar semua sentral adalah sama, dimana semua sentral hanya mempunyai 2 kelompok alat switching, yakni tahap konsentrasi dan tahap interkoneksi. Kedua tahap switch dari Semi Electronics Exchange juga berupa matriks, sehingga bagan sentralnya seperti Gbr.VII-10, dinamakan semi elektronis karena alat switching utk lintasan signaling telah menggunakan komponen elektronis sebagaimana halnya dengan Prosesornya, tapi switch lintasan bicara masih menggunakan rele. Semi Electronics Exchange merupakan hasil pengembangan Crossbar Exchange guna memenuhi tuntutan kebutuhan diatas dgn cara: 1. Menggunakan prosesor elektronis 2. Menggunakan switching matriks elektronis, tetapi baru digunakan bagi lintasan signaling, sedang lintasan pembicaraan msh tetap berupa rele. Itulah sebabnya maka sentral ini dinamakan Semi Elektronis. Guna mencapai hal tersebut, diselenggarakan proses kerja berdasar : 1. Time Division : Proses pelayanan yg dilakukan sedemikian rupa shg perangkat switching digunakan secara bergantian / sistem antrian TIME DIVISION SCANNING : Merupakan penerapan konsep Time Division dalam Semi Electronics Exchange dalam pendeteksian pelanggan yang angkat handset sesuai urutan pelanggan yang meminta. Meski antri, namun karena proses berlangsung sangat cepat hanya dlm hitungan mdetik, tingkat kepuasan pelanggan sudah terpenuhi. 2. Space Division Proses pelayanan yang dilakukan sedemikian rupa dimana perangkat switching digunakan secara bersamaan / efisiensi waktu 3. Time Division Time Sharing Proses pelayanan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga perangkat switching dimanfaatkan sama ditinjau dari peralatan maupun waktunya, berarti efisien sistem dan waktu, sehingga pelayanan semakin lbh cepat Contoh:
VII-14

TIME DIVISION TIME SCANNING: Prosesor elektronis kecepatan tinggi bekerja dengan memanfaatkan alat switching yang bisa bekerja secara antrian ( time division ) maupun secara bersama ( time sharing ), sehingga kemampuannya menyimpan/ mengelola data telah memenuhi tuntutan kebutuhan. VII.6.2 TIME DIVISION SCANNING Time Division Scanning merupakan salah satu proses yang berlangsung dalam sentral secara antrian / time division, khusus bagi Semi Electronics Exchange ini akan diberikan contoh dalam pendeteksian para pelanggan yang angkat handset. Sejumlah pelanggan hampir mustahil angkat handset secara bersamaan sehingga semuanya dimasukkan dalam antrian untuk dideteksi bergantian. Secara lengkap perangkat Time Division Scanning (TDS) dapat dilihat pada Gbr.VII-10 sedang penyederhanaannya dlm bagan pohon dapat dilihat pada Gbr.VII-11.

Exchange line

LINE ADDRESS

L P M

Tr1 Tr2 Tr4

Tr3 Tr6

Tr5

G7 G3 G4 G5 G6

G1

G2

LINE DATA STORE

COMMON PROCESSOR VII-15

Gbr.VII-11: Rangkaian lengkap dari Time Division Scanning bagi pendeteksian pelanggan yang mengangkat handset. ( hanya dalam konsep umum bagan rangkaian ) VII.6.2.a BAGIAN-BAGIAN UTAMA TDS : 1. 2. 3. 4. 5. Common Processor Line Address ( LA ) Line data Stores ( LDS ) Setiap prosesor punya 16 Gate G2 dan 16 kawat mark Setiap Gate G2 punya : a. 8 Gate G1,G3,G4,G5,G6,G7 b. 8 Transistor Tr2, Tr4, Tr6. 6. Dgn demikian jumlah masing2 Gate G1,G3,G4,G5,G6,G7 adalah 128 Dan jumlah masing2 transistor Tr2, Tr4, Tr6 adalah juga 128 7. Setiap transistor Tr2, Tr4 dan Tr6 punya : a. 8 transistor Tr1, Tr3 dan Tr5 b. 8 Exchange lines c. 8 Pelanggan 8. Dengan demikian jumlah masing2 Gate Tr1, Tr3 dan Tr5 , exchange lines dan pelanggan adalah 1024.

VII.6.2.b. CARA KERJA RANGKAIAN TDS: 1. Pelanggan angkat handset 2. Terjadi lintasan arus state of L menuju Prosesor berisi alamat Pelangg 3. Prosesor memberi jawaban berupa lintasan arus Mark sebagai tanda bahwa pelanggan pemanggil tsb adalah titik awal lintasan. 4. Selanjutnya lintasan arus state of P mengalir menuju Prosesor memberi status sibuk kpd pelanggan yang angkat handset, sehingga yang bersangkutan utk sementara tdk dapat dipanggil.

VII-16

VII.6.2.c. BAGAN POHON PERANGKAT TDS


Exch

Line 1

Exch line 2

Exch Line 8

Exch Line 1017

Exch Line 1023

Exch Line 1024

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 Tr4, Tr6 1

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 Tr4, Tr6 2 1024

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 TR4, Tr6 8

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 Tr4, Tr6

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 Tr4, Tr6 1017

G3,G4 G5,G6 G7,Tr2 TR4, Tr6 1023

8
G1, Tr1, Tr3, Tr5 1 G1, Tr1, Tr3, Tr5 2 G2 1 2 G1, Tr1 Tr3 Tr5 8 G2

8
G1, Tr1, Tr3, Tr5

8
G1, Tr1, Tr3, Tr5 G1, Tr1, Tr2, Tr5 121 G2 3 G2 15 G1, Tr1, Tr3, Tr5 127 G2 16 G1, Tr1, Tr3, Tr5 128

COMMON PROCESOR

Gbr.VII-12:

Penyederhanaan perangkat yang digunakan untuk mendeteksi pelanggan yang angkat handset.

Catatan: Address ( G2 ) : 4 digit ( alasannya? ) Address ( G1. ) : 3 digit ( alasannya ? )


VII-17

Address ( G3 .) : 3 digit ( alasannya ? ) Addres total : 10 digit Mengapa pendeteksian harus dilakukan secara bergantian/antrian ? Tentukan Equipment Number Pelanggan 25, 256, 873, 1020. Untuk (Eq.N) pelanggan diatas, tulis nomor masing2 G2,G1 dan G3 Terangkan lintasan yang menyebabkan bekerjanya gate2 diatas.

VII.6.3 TIME DIVISION TIME SHARING (TDTS) VII.6.3.a RANGKAIAN LENGKAP TDTS

Gbr.7.13 merupakan rangkaian Register sebagai salah satu contoh dari perangkat yang mempunyai prinsipTDTS.
m.p . INPUT OUTPUT
:4 :8 :2 :4 256KHz

64KHz 8KH z 4KHz 1KHz 125Hz

INPUT
DB nut

OUTPUT
A Po MK

:8

To and from DATA STORE

VII-18 COMMON PROCESSOR

Gbr.7-13 : Rangkaian lengkap dari konfigurasi TDTS VII.6.3.b FUNGSI TDTS PADA REGISTER Melaksanakan proses dlm memori berkaitan dgn penyimpanan/pengiriman /pengolahan/penerimaan data atau signaling. Proses tsb dpt berlangsung secara bergantian (Time Division) maupun bersamaan (Time sharing). VII.6.3.c BAGIAN UTAMA REGISTER DGN TDTS 1. Bagian Input punya 4 kawat: kawat DB, kawat P, kawat L (2bh) 2. Bagian output punya 4 kawat: Kawat Lo(2bh), kawat Po dan kawat MK 3. Data Transmission Transducers berupa 6 rangkaian bistable : DB, dt ( dial tone) , n.u.t.( number unobtainable tone ), A, Po dan MK. 4. Data Stores terdiri dari SR1, SR2 dan SR3. 5. Pulse Generator dengan 5 macam frekuensi, yakni: a. 256 KHZ berasal dari m.p.( Master Pulse ) dengan 3 terminal output ( strobe, shift, divider ) b. 64 KHz dengan 4 terminal output (n4.0, n4.1, n4.2 , n4.3 ) c. 8 KHz dengan 8 terminal output ( n8.0 , n8.1, n8.2..,n8.7 ) d. 4 KHz dengan 2 terminal output ( c2.0 dan c2.1 ) e. 1 KHz dengan 4 terminal output ( q4.0, q4.1, q4.2 dan q4.3 ) f. 125Hz dengan 8 terminal output ( q8.0, q8.1, q8.2,.q8.7) VII.6.3.d CARA KERJA REGISTER DGN TDTS 1. Karena TDTS punya prinsip pembagian waktu/antrian/series dan kerja paralel/bersamaan), maka dlm pelaksanaan tugasnya, satu sama lain bagian utama diatas dapat bekerja seri / paralel. 2. Dgn demikian sementara melayani sinyal/data yg masuk, Register juga dapat mengirim sinyal/data ataupun instruksi bagi pelaksanaan tugas penyimpanan maupun berkomunikasi dengan Common Processor.
VII-19

3. Sinkronisasi on-off nya Gate diatur oleh output sinyal generator yang

sesuai dengan kebutuhan frekuensinya. 4. Tugas : Sebutkan contoh dari : Gate yang dapat kerja paralel. Pulsa/sinyal trigger guna mengerjakan gate2 tersebut.

VII.6.3.d SIMBOL AKTIVITAS DARI PROSESOR 1. Aktivitas dalam TDS / TDTS berdasar fungsinya dibedakan : a. Memory M b. Process P Simbol kedua aktivitas tersebut diperlihatkan pada Gbr.VII-14
s,d d M P sm,s,d,o d

Gbr.VII-14: Simbol Prosesor dan Memory Semi Electronics Exchange


2. Setiap tahap punya Prosesor masing-masing, sehingga dgn demikian

harus ada aturan yang mengatur hubungannya satu sama lain. 3. Berdasarkan hal diatas terdapat 4 konfigurasi yang mengatur hubungan antara tahapan Prosesor tsb sebagaimana diperlihatkan Gbr.VII-15 : a. Basic Processors : Lintasan hubungan intern antar 2 pelanggan. b. Series Division : Secara bersamaan melayani hubungan lintasan intern, outgoing dan incoming maupun transit. c. Series & Parallel Space Division : Secara bersamaan melayani hubungan lintasan intern, outgoing dan incoming maupun transit dalam jumlah besar. d. Series Space and Parallel Time Division: Secara bersamaan melayani hubungan lintasan intern, outgoing dan incoming maupun transit dalam jumlah besar. Tetapi Prosesor yang digunakan bekerja lebih kecil karena prinsip Time Division.
VII-20

a.

le tj
M P M P M P

le

b.

le
M P

or.j ij
M P M P M P

oj tj le
M P

c.
le
M P

or.j ij
M P M P M P M P M P

oj tj le
M P

M P

d.

le
M P

or.j ij
M M M P M P

oj tj le
M P

VII-21

Gbr.VII-15 : Konfigurasi aktivitas Prosesor yang terbagi atas: a. Basic Processors b. Series Division c. Series & Parallel Space Division d. Series Space and Parallel Time Division

VII.7.

FULL ELECTRONICS EXCHANGE

VII.7.1 KONFIGURASI FULL ELECTRONICS EXCHANGE Sebagaimana telah dikemukakan bahwa konfigurasi dasar semua sentral adalah sama, dimana semua sentral hanya mempunyai 2 kelompok alat switching, yakni tahap konsentrasi dan tahap interkoneksi. Dalam hal ini dinamakan full elektronis krn seluruh alat switchingnya tlh menggunakan komponen elektronis Kedua tahap switch dari Full Electronics Exchange sebagaimana terlihat pada Gbr.VII-17 terdiri dari : 1. Tahap Konsentrasi bertujuan memperkecil jlh jalan keluar dibanding dengan jumlah jalan masuk, melalui beberapa kemungkinan metode TDM tergantung sinyal informasi yang bisa analog atau digital, yakni: a. Pelanggan - Connecting circuit : PAM - TDM b. Pelanggan - Connecting Circuit : PCM - TDM c. Pelanggan - Connecting Circuit : MOD - TDM 2. Tahap Interkonekasi bertujuan memperbesar kembali jumlah jalan keluar dibanding dengan jlh jalan masuk, melalui kemungkinan yakni: a. Connecting circuit - Junction : PAM - TDM b. Connecting Circuit - Junction : PCM - TDM c. Connecting Circuit - Junction : MOD - TDM
MULTIPLEX DEMULTIPLEX 100 5

95

10.000

VII-22

Gbr.VII-16: Sistem Multipleks pada Full Electronics Exchange: a. Konsentrasi/Multiplex:(10.000-100): PAM-TDM, PCM-TDM, MOD-TDM b. Interkoneksi/Multiplex: (95 - 5) : PAM-TDM,PCM-TDM MOD-TDM VII.7.2 CONCENTRATION AND INTERCONNECTION SWITCH PADA PAM-TDM PCM-TDM FULL ELECRONICS EXCHANGE
No Analog PAM Yes No TDM Yes Analog Analog Analog

No Digit Mod Yes

PAM TDM

Analog

MOD

No TDM Yes Analog

No

Single Digit

MOD TDM

No TDM PCM-TDM Yes Analog PCM TDM

Yes

VII-23 INTERKONEKSI

KONSENTRASI

Gbr.VII-18: Metode pada tahap Konsentrasi dan Interkoneksi

VII.8. DIGITAL SWITCHING SYSTEM


Digital Exchange mempunyai tahapan Konsentrasi dan Interkoneksi yang didisain dgn tahapan switching yang berdasarkan konsep: - Space Switch - Time Switch - Combination Switch VII.8.1. SPACE SWITCH ( ORDE 3x3 )
B 4 A 3 B 2 C 1

in c o m in g h ig h w a y 1 A 4 A 3 A 2 A 1

A 4

C 3

C 2

A 1

C 4 B 4 B 3 B 2 B 1 t4

B 3 t3

A 2 t2

B 1 t1

o u t g o in g h ig h w a y C 4 t4 C 3 t3 C 2 t2 C 1 t1

P C M -W o rd t1 t2 t3 t4 3 2 1 2

(1 ) 1 3 3 1

(2 ) 2 1 2 3

(3 )

C o n tr o l m em o ry

Keterangan :
VII-24

1. Space Switch pada dasarnya berupa matriks dengan orde (N x N), dimana masing-masing crosspoint adalah suatu gerbang elektronik. Masing-masing crosspoint dikontrol oleh memory yang menentukan jalan masuk / incoming highway dan jalan keluar / outgoing highway. 2. Beberapa PCM-Word pada incoming highway dapat disambungkan ke outgoing haighway tanpa merobah time slot. 3. Crosspoint pada jaringan penghubung tersebut berupa AND-GATE. Setiap time slot pada incoming highway akan melalui AND-GATE ini. 4. Satu pintu AND (AND-GATE) dapat menyambungkan 8000 kali/detik. Dengan demikian pada putaran penuh, ke-empat time slot akan lewat 8000 kali/detik. 5. Pengoperasian urutan ON-OFF pintu / gerbang AND pada setiap kolom matriks dilakukan oleh kontrol memori, sedangkan kontrol address dalam memori akan bekerja bila AND-GATE dalam keadaan ON sesuai dengan incoming highway yang tersambung. Contoh : Incoming highway terdiri dari 3 jalur, masing-masing mempunyai 4 kanal sehingga daya tampungnya adalah 12 kanal . Penyederhanaan konfigurasi diatas :

A4

A3

A2

A1

B4

B3

B2

B1

SS

C4

C3 t3

C2 t2

C1 t1 t4 t3 t2 t1

in c o m in g h ig h w a y t1 t2 t3 t4 3 2 1 2 1 1 3 3 2 3 2 1

O u tg o i n g h i g h w a y

Simbol Space Switch

VII-25

(a ) . . . m n

(b ) . . .

a ta u

(a ) m n

(b )

Ket : a : Jumlah time slot tiap jalur m : Jumlah jalur masuk n : Jumlah jalur keluar m = n atau m n VII.8.2 TIME SWITCH
c y c lic w r i te i n
A 4 A 3 A 2 A 1

t1 t2

A 1 A 2 A 3 A 4

a r b i tr a r y c o n tr o ll e d re a d o u t
A 2 A 1 A 3 A 4

t4

t3

t2

t1 t4

in c o m in g h ig h w a y

t3

t4

t3

t2

t1

o u tg o in g h ig h w a y

2 1 3 4 t4 t3 t2 t1

c o n tr o l m e m o ry

Keterangan : 1. Beberapa PCM-Word yang menempati time slot tertentu pada jalur dari incoming highway, akan disambungkan sedemikian rupa sehingga pada outgoing highway PCM-Word tersebut menempati time slot berbeda tetapi pada jalur yang sama. 2. Proses addressing dilakukan oleh 2 buah saklar putar. Saklar putar pada outgoing highway dikendalikan oleh control memory. 3. Sampling rate : 8000Hz Setiap detik terkirim 8000 PCM-Word Periode sampling : 125 detik 4. Penyederhanaan :
VII-26

A4

A3

A 2

A 1 TS

A2

A1

A4

A3

in c o m in g h ig h w a y

c o n tr o l m e m o ry

5. Tujuan dari time switch : Mempersiapkan susunan / urutan PCM-Word agar pada saat diproses oleh space switch akan berada pada outgoing highway yang diinginkan. Simbol Time Switch

(a )

a / b

(b )

Ket : a : Jumlah time slot pada jalur masuk b : Jumlah time slot pada jalur keluar a = b atau a b VII.8.3. COMBINATION SWITCH

VII-27

A 1 B 1 C 1 D 1 A 2 B 2 C 2 D 2 A 3 B 3 C 3

M U LT IPLEX ER

2
3 4

D E M U L T IPL EX E R
a rb itr a ry c o n tr o lle d read o ut
A1 B3 B4 C 3 C 2 D1 D2 C1

A4 B4 C4 D4

A3 B3 C3 D3

A2 B2 C2 D2

A1 B1 C 1 D1

. . .

t4

t3

t2

t1

t4

t3

t2

t1

c y c li c w r i te i n
15
16

D 3 A 4 B 4 C 4 D 4

o u tg o in g h i g h w a y

c o n tr o l m e m o r y 5 10 14 11 7 4 8 9 3

Note : - Incoming highway / outgoing highway : 4 jalur - Masing-masing jalur punya 4 jalur shg daya tampungnya 16 kanal Keterangan : 1. Karena beroperasi pada kecepatan tinggi, maka switch dapat menyambungkan PCM-Word yg berasal dari time slot beberapa jalur incoming highway, menuju time slot lain pada beberapa jalur keluar. 2. Hal tersebut dilakukan dengan cara multipleks, dimana jalur dari multipleks ke memori data mempunyai kecepatan 4 kali kecepatan pada incoming highway. 3. Selanjutnya demultiplekser membagi PCM-Word tersebut ke 4 jalur outgoing highway seperti semula. 4. Pada prinsipnya combination switch sama dengan time switch, sehingga PCM-Word pada incoming highway dapat disambungkan ke sebarang time slot pada sebarang jalur di outgoing highway. Simbol Combination Switch
VII-28

(a ) . . .

(b ) a b . . .

a ta u

(a ) m
a / b

(b ) n

Ket : a : Jumlah time slot tiap jalur masuk b : Jumlah time slot tiap jalur keluar m : Jumlah jalur masuk n : Jumlah jalur keluar a = b atau a b m = n atau m n

VII-29