Anda di halaman 1dari 12

STUDI KOMPARATIF PRESTASI BELAJAR ANTARA METODE KERJA KELOMPOK DI SMK BINA KARYA TEKNIK DENGAN METODE CERAMAH DI SMK KARYA GUNA PADA MATA PELAJARAN GAMBAR TEKNIK LISTRIK

Rangga Nugroho Alumni Angkatan 2012 Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro dan Supervise Field di PT Gama Sentausa Abadi

Aris Sunawar Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro

Suyitno Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektro

Eva Indriani

Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika Noreg

5215111734

The purpose of this study was to determine the difference method of learning achievement in the vocational group work techniques with Bina Karya lecture method in order to work SMK Jakarta on the subjects of electrical engineering drawings. On the Based on the obtained results the following conclussions, There was no difference in learning achievement between group workings methods with the lecture method. That which obtained tcount 0.9723 and 2.045 tcount smaller so the results were compared with it can be concluded accepted and 1 rejected ( 0.9723 < 5 % for 2.045 ).

Kata kunci: Prestasi belajar, Gambar teknik listrik, Ceramah.

Metode Kerja kelompok, Metode

Kegiatan belajar-mengajar merupakan

kegiatan inti dan utama dalam sebuah

proses pendidikan. Kegiatan belajar-

mengajar secara formal dilakukan di

sekolah. Mengutip pendapat Tim Dosen

FIP IKIP Malang (1981:130) Sekolah

merupakan lembaga pendidikan formal

yang mempunyai dua aspek penting, yaitu

aspek individual dan aspek sosial.

Pendidikan sekolah bertugas

mempengaruhi dan menciptakan kondisi

yang memungkinkan pribadi anak didik

secara optimal, dan pendidikan sekolah

bertugas mendidik agar anak didiknya

dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Winkel mendefinisikan bahwa Sebagai upaya pemecahan maka tujuan proses pendidikan pada tiap jenjang sekolah perlu disesuaikan dengan proposisi-proposisi tertentu mengenai psikologi dan perkembangan anak didik, pada jenjang mana mereka berada dan tujuan apa yang diharapkan (1986 : 20).

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu jenjang pendidikan yang ditempuh oleh anak Indonesia dalam mengikuti kegiatan pembelajaran secara formal.

SMK merupakan jenjang tahap yang strategis dan kritis bagi perkembangan dan masa depan anak Indonesia. Pada tahap tersebut, anak Indonesia bersiap untuk memasuki dunia kerja yang penuh tantangan dan kompetisi.

Ganbar teknik merupakan mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan yang wajib dipelajari siswa. Mata pelajaran gambar teknik diharapkan mampu memberi bekal kepada siswa untuk dapat menghadapi tantangan di dunia kerja di masa yang akan datang.

Mata pelajaran Gambar teknik dibagi menjadi teori dan praktik. Dalam proses pembelajaran teori diharapkan siswa dapat memahami fungsi pada alat gambar teknik

dan menerapkan standarisasi dan normalisasi gambar teknik ketenagalistrikan dan membaca gambar instalasi ketenagalistrikan. Dalam proses pembelajaran praktik diharapkan siswa dapat memahami dan menggambarkan suatu garis pada gambar dan simbol- simbol gambar teknik listrik.

Dalam proses pembelajaran banyak siswa yang menganggap bahwa pelajaran Gambar teknik merupakan pelajaran yang sulit. Guru harus memiliki pandangan yang luas dan mampu membimbing siswanya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk mencapai tujuan belajar di sekolah proses belajar mengajar di kelas tidak cukup dengan ditatanya program pengajaran di dalam kurikulum. Pengelolaan proses belajar mengajar sepenuhnya diserahkan pada kemampuan guru. Tidak jarang guru yang kurang mampu melakukan pengelolaan proses belajar mengajar karena kurang memiliki wawasan yang jelas mengenai dasar dan hakekat proses belajar-mengajar serta penerapannya dalam kelas, khususnya dalam pelajaran Gambar teknik listrik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar-mengajar.

Mengingat hal tesebut

perlu

dicarikan

suatu

pendekatan

yang

dapat

dikembangkan menjadi suatu bentuk metode belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Metode yang efektif dan efisien akan tercipta bila metode dapat menunjang prestasi belajar siswa yang memadai dan siswa dapat menguasai materi tersebut. Kadar prestasi belajar siswa sangat tergantung kepada apa yang dipelajari bagi dirinya sendiri.

Penguasaan materi pelajaran sedikit banyak dipengaruhi oleh peran serta aktifitas siswa sendiri dalam keseluruhan proses belajar-mengajar.

Fokus permasalahan sekarang adalah bagaimana membuat iklim kegiatan belajar-mengajar agar kegiatan siswa cukup tinggi dan berhasil baik, serta bermanfaat bagi siswa, kehidupan, dan lingkungannya untuk waktu sekarang dan yang akan datang.

KAJIAN TEORI

Banyak definisi tentang belajar yang dikemukakan oleh para ahli, dan perumusannya berbeda-beda. Namun demikian pengertian-pengertian yang dikemukakan oleh para ahli mempunyai kesamaan dalam satu hal yaitu, bahwa belajar merupakan suatu proses pembentukan atau perubahan tingkah laku pada diri sesorang.

Pembentukan atau perubahan tingkah laku dapat terjadi dalam bentuk pengetahuan, pengertian, kebiasaan, sikap, dan apresiasi seseorang terhadap sesuatu. Seseorang yang telah mengalami peristiwa belajar akan memiliki sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki dan dikuasainya.

Dalam kaitannya dengan belajar sebagai proses perubahan tingkah laku, maka belajar juga akan menimbulkan hasil dimana tampak sifat-sifat dan tanda-tanda perilaku baru setelah pengalaman belajar berlangsung. Hasil belajar disebut kemampuan. Di sekolah kemampuan yang timbul setelah belajar biasa disebut sebagai prestasi belajar. Prestasi belajar dapat diamati melalui suatu alat ukur atau tes mengenai sejumlah pelajaran yang telah diberikan.

Nasution (1996:17) mendefinisikan prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai sesorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Sedangkan menurut Winkel (1996:17) mengartikan definisi prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.

Prestasi belajar yang dicapai oleh seseorang siswa ataupun siswi akan memberikan gambaran tentang tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap

sejumlah materi pelajaran yang tersusun dalam tiga tingkatan kemampuan yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Gambar teknik listrik merupakan mata pelajaran pokok dan wajib di SMK. Gambar teknik listrik adalah salah satu materi pokok dan penting bagi siswa dalam melangkah ke arah penguasaan

kelistrikan.

Pelajaran Gambar teknik listrik pada kelas X pada semester 1 pada garis besarnya dibagi dalam tiga materi pokok, yaitu mengoperasikan peralatan gambar, menggambar dengan standarisasi gambar teknik listrik dan membaca simbol-simbol gambar teknik listrik.

Pada akhirnya tujuan dari hasil belajar gambar teknik listrik yang terpenting adalah sebagai berikut:

a. Siswa dapat memahami tentang prinsip- prinsip penggunaan alat gambar.

b. Siswa dapat memahami dan mengenal alat-alat gambar teknik.

c. Siswa dapat memahami dan mengenal macam-macam alat gambar.

d. Siswa dapat memahami dan mengenal standarisasi gambar teknik listrik.

e. Siswa dapat memahami dan mengenal simbol-simbol dalam gambar teknik listrik.

A. Hakikat Metode Kerja Kelompok

untuk

mendapatkan nilai yang optimis bergantung pada motivasi, situasi, kondisi, gaya belajar, dan faktor lain yang mempengaruhinya.

Keberhasilan belajar siswa

Perlu dicarikan suatu pendekatan dalam proses belajar-mengajar yang lebih menekankan pada aspek belajarnya untuk mengacu keberhasilan siswa agar tercapai nilai yang diinginkan khususnya pada mata pelajaran Gambar teknik listrik.

Pendekatan proses kerja kelompok merupakan alternatif yang dapat dikembangakan menjadi suatu metode belajar mengajar yang dapat menunjang terciptanya kondisi belajar dan peningkatan hasil belajar.

Metode kerja kelompok dipandang sebagai kesatuan terpadu untuk mencapai satu tujuan pelajaran tertentu dengan cara bergotong royong.

Metode kerja kelompok mempunyai ciri dan mengarah kepada tujuan melaui kerja sama secara rasional untuk memecahkan masalah belajar perorangan dari setiap anggota kelompoknya. Ciri kelompok yang berupa kesatuan dari beberapa individu, kerjasama, dan pertukaran

pendapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan belajar.

Proses yang mendasari kegiatan ialah guru tidak lagi memberikan peranan yang dominan. Kelas dibagi dalam beberapa kelompok guna menjelajajahi, berfikir, dan berbuat untuk memecahkan masalah secara kooperatif. Masalah yang akan dibahas mungkin dilontarkan oleh guru atau siswa yang disusun melalui tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Setiap kelompok menghimpun pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan akan kepemimpinan mereka dalam rangka memecahkan masalah. Guru memberi petunjuk atau membantu jika di butuhkan.

Dari keterangan di atas dapatlah dikatakan bahwa kerja kelompok dibentuk karena anggotanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai tujuan belajar. Dengan kegiatan belajar bersama siswa dapat lebih mudah mencapai suatu jalan keluar dibandingkan dengan usaha sendiri.

Dalam proses belajar mengajar Gambar teknik listrik kegiatan tsb memang sangat menarik karena melibatkan partisipasi aktif para siswa. Manfaat pengajaran melalui kerja kelompok sebenarnya merupakan suatu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa

tentang pengertian dan dan manfaat ganbar teknik listrik.

B. Hakikat Metode Ceramah

Metode mengajar dengan ceramah sudah umum dan paling banyak digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dalam proses kegiatan belajarnya peranan guru sangatlah dominan, sedangkan siswa hanya mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting dari materi yang disampaikan guru.

Sebagaimana dikatakan Tim Didaktik, Metodik, Kurikulum IKIP Surabaya (1981:41) bahwa Rumusan dasar dari metode ceramah adalah penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dalam pengajaran kemampuan guru dalam penguasaan, pengaturan, dan penyampaian sangat dibutuhkan. Semangat mengajar gurupun mempengaruhi berhasilnya proses belajar mengajar. Guru harus dapat membina komunikasi tentang bagaimana menariknya dan pentingnya mata pelajaran yang disampaikan.

Peranan guru masih dominan walau sesekali guru menyelingi teknik bertanya yang dirancang untuk memeriksa apakah siswa memahami pelajaran atau tidak. Guru juga memperkenankan siswa untuk mengajukan pertanyaan namun tidak mendorong komunikasi antar siswa.

Dalam pelajaran gambar teknik listrik, proses belajar mengajar melalui metode ceramah memang sangat baik untuk menyampaikan materi secara faktual dan mengingatkan kembali secara tepat, akan tetapi tidak menonjol untuk pengertian secara komprehensif dan pengingatan kembali yang ditunda.

Dalam pelajaran Gambar teknik listrik melalui metode ceramah masih menghendaki peranan guru. Dalam penyampaian materi, guru menjelaskan tentang beberapa fungsi alat gambar teknik listrik, bermacam-macam fungsi garis, dan standarisasi garis menurut ISO alalu dituliskannya materi pada papan tulis serta siswa menyalinnya dan pada akhirnya diadakan tanya jawab dan latihan.

Metode ceramah dapat diberikan bila tujuan yang ingin dicapai berupa penguasaan materi. Keuntungan dari metode ceramah dapat menjangkau materi yang diajarkan dengan cepat dan dalam jumlah yang siswa banyak. Dan adapun kelemahan metode ceramah yaitu kurang melibatkan partisipasi siswa dalam pencapaian pengetahuan. Secara mental siswa kurang dilibatkan dalam kegiatan semacam, sehingga siswa tidak mampu mengembangkan suatu materi gambar teknik listrik.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Karya Guna Jakarta dan SMK Bina Karya Teknik Bekasi Jurusan Teknik Instalasi Teknik Tenaga Listrik tahun ajaran 2011/2012. Adapun waktu penelitian dilaksanakan dalam jangka waktu 6 bulan.

Penelitian ini menggunakan metode dalam bentuk penelitian komparatif, yaitu penelitian untuk melihat perbedaan pengaruh antara variabel yang diteliti melalui perlakuan. Yang dijadikan variabel bebas dalam penelitian adalah metode kerja kelompok dan metode ceramah tanya jawab, sedangkan yang dijadikan variabel terikat adalah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran gambar teknik listrik.

Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan cara random siswa di dalam kelas atau pemilihan sampel dilakukan dengan mengundi siswa-siswa. Setiap anggota dalam kelas yang terpilih melalui undian merupakan sampel yang diperlukan dalam penelitian.

Jumlah kelas X pada jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Karya Guna berjumlah 30 orang dan jumlah kelas X pada jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik SMK Bina Karya Teknik Bekasi berjumlah 30 orang. Sampel yang dilakukan sebanyak 2 (dua) kelompok yang ditarik melalui undian tadi, satu kelompok untuk eksperimen 1(satu) dan

satu kelompok lagi untuk eksperimen 2 (dua).

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah Pre-Test yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Tes yang digunakan berupa tes objektif bentuk multiple choice lima option. Jumlah item keseluruhan adalah 30. Setiap item memounyai bobot nilai 1. Dengan demikian jumlah nilai maksimum untuk keseluruhan tes adalah 30.

Suatu tes sebagai instrumen penelitian dikatakan valid apabila instrumen tersebut mengukur apa yang akan diukur dan instrumen dapat pula dikatakan reliable apabila dilakukan pengulangan untuk melakukan hal yang sama. Instrumen tersebut akan mempunyai hasil yang sama atau ajeg.

1. Validitas Instrumen

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Dalam penelitian, peneliti menggunakan uji validitas isi. Variabel dikembangkan menjadi butir-butir pertanyaan yang telah terlebih dahulu dikonsultasikan kepada dosen pembimbing selanjutnya dinilai kevalidannya oleh guru yang bersangkutan. Namun dikarenakan guru tersebut hanya 1 orang, maka peneliti juga melakukan validilitas butir soal.

2. Realibilitas Instrumen

Realibilitas merupakan terjemahan dari kata realibility yang berasal dari kata rely dan ability, pengukuran yang mempunyai realibilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel.

Dalam aplikasinya, reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabel yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabelitas mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya koefisien yang makin rendah mendekati 0 berarti semakin rendahnya reliabilitas.

A. Deskripsi Data

Hasil Penelitian

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Data siswa SMK Karya Guna

 

Kelas Interval

Frekuensi

Frekuensi Kumulatif (Fkum)

No

(Ki)

Absolut (f)

1

60

- 64

8

8

2

65

- 69

3

11

3

70

- 74

4

15

4

75

- 79

4

19

 

5 80

- 84

8

27

 

6 85

- 89

3

30

 

Jumlah

30

 

Keterangan :

Sampel yang digunakan adalah kelas X SMK Karya Guna. Sampel berjumlah 30 orang. Nilai

minimal = 60, nilai maksimal = 88; banyak kelas = 5; interval kelas = 6.

Gambar 1 Histogram Variabel Siswa SMK Karya Guna

Frekuensi Absolut

8 6 4 2 0 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89
8
6
4
2
0
60-64
65-69
70-74
75-79
80-84
85-89

Frekuensi Absolut

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Data siswa SMK Bina Karya Teknik

No

Kelas Interval

Frekuensi

Frekuensi Kumulatif (Fkum)

(Ki)

Absolut (f)

1

64 - 68

4

4

2 69-73

7

11

3 74-78

4

15

4 79-83

6

21

5 84-88

8

29

6 89-93

1

30

Jumlah

30

 

Keterangan :

Sampel yang digunakan adalah kelas X SMK Bina Karya Teknik. Sampel berjumlah 30 orang. Nilai minimal = 65, nilai maksimal =86; banyak kelas = 6; interval kelas = 2.

Gambar 2. Histogram Variabel Siswa SMK Bina Karya Teknik

Frekuensi Absolut

8 6 4 Frekuensi Absolut 2 0 64-68 69-73 74-78 79-83 84-88 89-93
8
6
4
Frekuensi Absolut
2
0
64-68
69-73
74-78
79-83
84-88
89-93

B. Hasil Pengujian Persyaratan Analisis

Sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis, terlebih dahulu dilakukan

pengujian persyratan hipotesis yang meiputi: Perhitungan normalitas, Pengujian Homogenitas, dan Pengujian Uji- t 1. Hasil Pengujian Normalitas

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan uji liliefors dengan taraf signifikansi α = 0, 05. Hasil perhitungan diperoleh dari sampel kelas X SMK Karya Guna dengan maksimum atau = 0.119 , sedangkan

0,161. Jadi

(0,005) =

< . Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa sampel untuk siswa kelas X SMK Karya Guna berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk sampel siswa kelas X SMK Bina Karya Tehnik diperoleh hasil perhitungan untuk maksimum atau

= 0,121, sedangkan (0,005) = 0,161. Jadi < . Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa sampel untuk siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2. Hasil Pengujian Homogenitas

Pengujian homogenitas sampel yang dilakukan terhadap siswa kelas X SMK Karya Guna dengan siswa kelas X D. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh dan dilanjutkan dengan pengujian hipootesis, hasil penelitian sebagai

SMK Bina Karya Teknik dilakukan dengan uji-t dengan taraf nyata α = 0,05. Hasil perhitungan menunjukkan = 1,09 dan = 1,86. Dari

kriteria tolak jika < ,

dan karena < maka 1

diterima. Artinya sampel siswa kelas X SMK Karya Guna dan siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik tersebut berdistribusi homogen.

C. Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian

Dari perhitungan, diperoleh nilai simpangan baku gabungan sebesar 16,02, untuk perhitungan uji t nilai = 0,9723. Sedangkan nilai

= 2,045. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis nol yang digunakan, karena < , maka diterima dan

1 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hasil belajar mata pelajaran gambar teknik listrik pada siswa kelas X SMK Karya Guna dengan siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik.

berikut : nilai rata-rata siswa kelas X SMK Karya Guna sebesar 73,86 dan nilai rata-rata siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik sebesar 78,13. Jadi nilai rata-rata siswa kelas X SMK Bina

Karya Teknik > siswa kelas X SMK

yang

berarti

bahwa

data

siswa

Bina Karya Teknik. Uji normalitas

berdistribusi

homogen.

Pada

uji

diperoleh < yang

hipotesis terdapat < berarti

populasi

berdistribusi normal. Pada uji homogenitas diperoleh <

menunjukkan bahwa

yang

berarti

bahwa

data

siswa

berdistribusi

homogen.

Pada

uji

hipotesis terdapat < berarti

diterima yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar mata pelajaran gambar teknik listrik dengan siswa yang menggunakan metode ceramah dengan siswa yang menggunakan metode kerja kelompok.

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh dan dilanjutkan dengan pengujian hipootesis, hasil penelitian sebagai berikut : nilai rata-rata siswa kelas X SMK Karya Guna sebesar 73,86 dan nilai rata-rata siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik sebesar 78,13. Jadi nilai rata-rata siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik > siswa kelas X SMK Bina Karya Teknik. Uji normalitas diperoleh < yang

populasi

menunjukkan bahwa

berdistribusi normal. Pada uji homogenitas diperoleh <

diterima yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar mata pelajaran gambar teknik listrik dengan siswa yang menggunakan metode ceramah dengan siswa yang menggunakan metode kerja kelompok

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara metode belajar kelompok dengan metode ceramah terhadap hasil belajar siswa berdasarkan penafsiran dan pengujian hipotesis, maka penelitian menyimpulkan bahwa:

1. Hasil belajar gambar teknik listrik siswa yang menggunakan metode kerja kelompok mempunyai hasil belajar yang sama dengan hasil belajar gambar teknik listrik yang menggunakan metode ceramah.

2. Kesimpulan di atas memberi suatu pengertian bahwa penggunaan metode yang tepat mempunyai peranan penting dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

SARAN

Berdasarkan kepada penelitian yang telah dicapai maka adanya beberapa saran agar proses mengajar bisa jauh lenih baik dan efisien, adapun beberapa saran sebagai :

1. Guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar hendaknya menggunakan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran yang akan di pelajari mahasiswa, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal .

2. Hendaknya siswa benar benar aktif dalam belajar agar guru dapat membimbing ke arah tersebut, sehingga proses belajar mengajar dapat optimal.

3. Dalam metode kerja kelompok, siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar dan dapat juga menambah motivasi siswa untuk dapat mengeluarkan pikiran, pengetahuan dan pandangan siswa dalam suatu objek dalam menggunakan metode ceramah siswa akan mendapatkan fasilitas belajar secara hirarki dengan beberapa konsep yang diberikan oleh guru.

4. Dari semua metode belajar yang baik diasumsikan dapat mencapai tujuan mengajar secara baik pula. Oleh karena tidak ada metode mengajar terbaik untuk seluruh situasi, maka seorang guru dalam rangka pengajaran

setidaknya menimbang sejumlah situasi sebelum menentukan metode mengajar tertentu.

RUJUKAN PUSTAKA

Tim Didaktik, Metodik, Kurikulum IKIP. 1981. Pengantar Didaktik, Metodik, Kurikulum PBM. Jakarta :

Rajawali.

Tim Dosen FIP IKIP. 1989. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Malang: Fakultas I lmu Pendidikan, IKIP Malang.

W. S. Winkel. 1986. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Gramedia.