Anda di halaman 1dari 17

Nama : julianus tommy

NIM :235110014

Kelas

: D. Sore

Tugas Individu

“KONDISI EKONOMI DALAM KERAGAMAN SUMBER DAYA DALAM GEOMORFOLOGI PULAU KALIMANTAN.”

Persebaran Sumber Daya Alam di Indonesia

  • 1. Persebaran hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan Negara kita memiliki wilayah daratan dan perairan yang sangat luas. Sebagian besar wilayah daratnya merupakan tanah yang subur. Banyak sekali hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Perairan Indonesia juga kaya akan hasil perikanan. Selain itu, di banyak tempat juga melakukan usaha pertenakan. a. Persebaran hasil pertanian

Padi (beras), Daerah penghasil padi (beras) antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi

Nama : julianus tommy NIM :235110014 Kelas : D. Sore Tugas Individu “KONDISI EKONOMI DALAM KERAGAMANSumatera Barat , Sumatera Selatan , Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat. " id="pdf-obj-0-32" src="pdf-obj-0-32.jpg">

Utara, dan Nusa

Tenggara Barat.

Jagung, Daerah penghasil jagung antara lain Jawa Tengah (Wonosobo, Semarang,

Jepara, dan Rembang); Jawa Timur (Besuki, Madura); serta Sulawesi (Minahasa dan sekitar danau Tempe). Ubi kayu (singkong, Daerah penghasil singkong adalah Sumatera Selatan, Lampung,

Madura, Jawa Tengah (Wonogiri), dan Yogyakarta (Wonosari). Kedelai, Daerah penghasil kedelai adalah Jawa Tengah (Kedu, Surakarta, Pekalongan,

Tegal, Jepara, Rembang), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Jember). Kacang tanah, Daerah penghasil kacang tanah ialah Sumatera Timur, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Surakarta, Semarang, Jepara, Rembang, Pati), Jawa Barat (Cirebon, Priangan), Bali, dan Nusa Tenggara Barat (Lombok).

b. Persebaran hasil perkebunan

Hasil perkebunan negara kita antara lain tebu, tembakau, teh, kopi, karet, kelapa (kopra),

kelapa sawit, cokelat, pala, cengkeh, lada,

 Jagung, Daerah penghasil jagung antara lain Jawa Tengah (Wonosobo, Semarang,  Jepara, dan Rembang); <aJawa Timur (Besuki, Madura); serta Sulawesi (Minahasa dan sekitar danau Tempe). Ubi kayu (singkong, Daerah penghasil singkong adalah Sumatera Selatan, Lampung,  Madura, Jawa Tengah (Wonogiri), dan Yogyakarta (Wonosari). Kedelai, Daerah penghasil kedelai adalah Jawa Tengah (Kedu, Surakarta, Pekalongan,  Tegal, Jepara, Rembang), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Jember). Kacang tanah, Daerah penghasil kacang tanah ialah Sumatera Timur, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Surakarta, Semarang, Jepara, Rembang, Pati), Jawa Barat (Cirebon, Priangan ) , Bali, dan Nusa Tenggara Barat (Lombok). b. Persebaran hasil perkebunan Hasil perkebunan negara kita antara lain tebu, tembakau, teh, kopi, karet, kelapa (kopra), kelapa sawit, cokelat, pala, cengkeh, lada, dan vanili.  Tebu, Daerah penghasil tebu, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa  Timur, dan Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam). Tembakau, Daerah penghasil tembakau ialah Sumatera Utara (Deli), Sumatera Barat  (Payakumbuh), Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Tengah (Surakarta, Klaten, Dieng, Kedu, Temanggung, Parakan, Wonosobo), dan Jawa Timur (Bojonegoro, Besuki). Teh, Daerah penghasil teh, yaitu Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Garut), Jawa Tengah  (Pegunungan Dieng, Wonosobo, Temanggung, Pekalongan), Sumatera Utara ( Pematang Siantar ) , dan Sumatera Barat. Kopi, Daerah penghasil kopi, yaitu Jawa Barat (Bogor, Priangan), Jawa Timur  (Kediri, Besuki), Sumatera Selatan (Palembang), Bengkulu (Bukit Barisan), Sumatera Utara (Deli, Tapanuli), Lampung (Liwa), Sulawesi (Pegunungan Verbeek), Flores (Manggarai). Karet, Daerah penghasil karet, yaitu D.I. Aceh (Tanah gayo, Alas), Sumatera Utara  (Kisaran, Deli, Serdang), Bengkulu (Rejang Lebong), Jawa Barat (Sukabumi, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas, Batang), Jawa Timur (Kawi, Kelud), dan Kalimantan Selatan ( pegunungan Meratus). Kelapa (kopra), Daerah penghasil kelapa, yaitu Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Kediri), Sulawesi Utara " id="pdf-obj-1-37" src="pdf-obj-1-37.jpg">

dan vanili.

Tebu, Daerah penghasil tebu, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa

Timur, dan Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam). Tembakau, Daerah penghasil tembakau ialah Sumatera Utara (Deli), Sumatera Barat

(Payakumbuh), Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang), Jawa Tengah (Surakarta, Klaten, Dieng, Kedu, Temanggung, Parakan, Wonosobo), dan Jawa Timur (Bojonegoro, Besuki). Teh, Daerah penghasil teh, yaitu Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Garut), Jawa Tengah

(Pegunungan Dieng, Wonosobo, Temanggung, Pekalongan), Sumatera Utara (Pematang Siantar), dan Sumatera Barat. Kopi, Daerah penghasil kopi, yaitu Jawa Barat (Bogor, Priangan), Jawa Timur

(Kediri, Besuki), Sumatera Selatan (Palembang), Bengkulu (Bukit Barisan), Sumatera Utara (Deli, Tapanuli), Lampung (Liwa), Sulawesi (Pegunungan Verbeek), Flores (Manggarai). Karet, Daerah penghasil karet, yaitu D.I. Aceh (Tanah gayo, Alas), Sumatera Utara

(Kisaran, Deli, Serdang), Bengkulu (Rejang Lebong), Jawa Barat (Sukabumi, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas, Batang), Jawa Timur (Kawi, Kelud), dan Kalimantan Selatan ( pegunungan Meratus). Kelapa (kopra), Daerah penghasil kelapa, yaitu Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), D.I. Yogyakarta, Jawa Timur (Kediri), Sulawesi Utara

(Minahasa, Sangihe, Talaud, Gorontalo), dan Kalimantan Selatan (pegunungan Meratus). Kelapa Sawit, Daerah penghasil kelapa sawit ialah D.I. Aceh (Pulau Simelue),

Sumatera Utara (Pulau Nias, Pulau Prayan, Medan, Pematang Siantar). Cokelat, Daerah penghasil cokelat ialah Jawa Tengah (Salatiga) dan Sulawesi

Tenggara. Pala, Daerah penghasil pala ialah Jawa Barat dan Maluku.

Cengkeh, Daerah penghasil cengkeh ialah Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara

(Tapanuli), Jawa Barat (Banten, Priangan), Jawa Tengah (Banyumas), Sulawesi Utara (Minahasa), dan Maluku. Lada Daerah penghasil lada ialah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan (Palembang,

Pulau Bangka), dan Kalimantan Barat. Vanili, Dihasilkan di daerah Flores (Manggarai, Bajawa), Papua, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

c. Persebaran hasil kehutanan

Hasil kehutanan negara kita antara lain kayu dan rotan. Jenis kayu yang dihasilkan antara lain

keruing, meranti, agathis, jati, cendana, akasia, dan rasamala.

Kayu keruing, kayu meranti, dan kayu agathis terutama dihasilkan di daerah-daerah

Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Kayu jati dihasilkan di daerah Jawa Tengah. Kayu cendana banyak dihasilkan di Nusa Tenggara Timur.

Akasia dan rasamala dihasilkan di daerah Jawa Barat.

Rotan dihasilkan dari daerah Kalimantan, Sumatera Barat, Sumatera Utara.

d. Persebaran hasil peternakan

Hasil peternakan negara kita antara lain sapi, kerbau, kuda, dan babi.

Ternak sapi. Daerah penghasil ternak sapi adalah Sumatera (Aceh), Jawa, Madura,

Bali, Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa). Ternak kerbau. Daerah penghasil kerbau adalah Aceh, Sulawesi, dan Jawa.

Ternak kuda. Daerah penghasil kuda adalah Nusa Tenggara Timur (Pulau Sumba) dan

Sumatera Barat. Ternak babi. Daerah penghasil ternak babi adalah Bali, Maluku, Sulawesi Utara (Minahasa), Sumatera Utara (Tapanuli), Jawa Barat (Karawang)

e. Persebaran hasil perikanan

Budi daya udang dan bandeng, terdapat di pantai utara Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Daerah penangkapan ikan (nelayan tradisional dan modern) antara lain Sumatera

Timur (Bagan Siapi-api), Bengkalis untuk jenis ikan terubuk. Sedangkan ikan tenggiri, cumi-cumi, udang, rumput laut, dan ikan layang-layang ditangkap dari daerah Laut Jawa, Selat Sunda, Pantai Selatan (Cilacap), Selat Bali, Selat Flores, dan Selat Makasar. Kepulauan Maluku (Ambon) menghasilkan tiram, mutiara, dan tongkol. Budidaya ikan di darat. Budidaya ikan di darat itu ada bermacam- macam, antara lain di tambak/empang, waduk/bendungan, sawah (minapadi), sungai (sistem keramba), dan di danau.

2. Peta persebaran pertambangan

Hasil bahan tambang negara Indonesia antara lain minyak bumi, bauksit (bijih alumunium),

batu bara, besi, timah, emas, tembaga,

2. Peta persebaran pertambangan Hasil bahan tambang negara Indonesia antara lain minyak bumi, bauksit (bijih alumunium),

nikel, marmer,

mangan, aspal, belerang, dan yodium. Berikut ini daerah persebarannya.

Minyak bumi, Ada banyak tambang minyak bumi di Indonesia. Daerahdaerah penghasil tambang minyak sebagai berikut.

Tambang minyak di pulau Sumatera terdapat di Aceh (Lhoksumawe dan Peureula); Sumatera Utara (Tanjung Pura); Riau (Sunpakning, Dumai); dan Sumatera Selatan (Plaju, Sungai Gerong, Muara Enim).Tambang minyak di pulau Jawa terdapat di Wonokromo, Delta (Jawa Timur); Cepu, Cilacap di (Jawa Tengah); dan Majalengka, Jatibarang (Jawa Barat).Tambang minyak di pulau Kalimantan terdapat di Balikpapan, Pulau Tarakan, Pulau Bunyu dan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) serta Amuntai, Tanjung, dan Rantau (Kalimantan Selatan)Maluku (Pulau Seram dan Tenggara), sertaIrian Jaya (Klamono, Sorong, dan Babo).

Bauksit (bijih aluminium), Penambangan bauksit berada di daerah Riau (Pulau

Bintan) dan Kalimantan Barat (Singkawang). Batu bara, Penambangan batu bara terdapat di Sumatera Barat (Ombilin, Sawahlunto),

Sumatera Selatan (Bukit Asam, Tanjungenim), Kalimantan Timur (Lembah Sungai Berau, Samarinda), Kalimantan Selatan (Kotabaru/Pulau Laut), Kalimantan tengah (Purukcahu), Sulawesi Selatan (Makassar), dan Papua (Klamono). Besi, Penambangan besi terdapat di daerah Lampung (Gunung Tegak), Kalimantan

Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan Verbeek), dan Jawa Tengah (Cilacap). Timah, Penambangan timah terdapat di daerah Pulau Bangka (Sungai Liat), Pulau

Belitung (Manggara), dan Pulau Singkep (Dabo). Emas, Penambangan emas terdapat di daerah Nangroe Aceh Darussalam (Meulaboh),

Riau (Logos), Bengkulu (Rejang Lebong), Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow, Minahasa), Kalimantan Barat (Sambas), Jawa Barat (Cikotok, Pongkor), dan Freeport (Timika, Papua). Tembaga, Penambangan tembaga terdapat di daerah Irian Jaya (Tembagapura).

Nikel, Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Soroako).

Marmer, Ditambang dari daerah Jawa Timur (Tulungagung), Lampung, Makassar, Timor.

Mangan, Ditambang dari daerah Yogyakarta (Kliripan), Jawa Barat (Tasikmalaya),

dan Kalimantan Selatan (Martapura). Aspal, Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Pulau Buton).

Belerang, Ditambang dari daerah Jawa Barat (Gunung Patuha), Jawa Timur (Gunung

Welirang). Yodium, Ditambang dari daerah Jawa Tengah (Semarang), Jawa Timur (Mojokerto.

Dari data diatas saya kan menjabarkan tentang kondisi ekonomi secara geomorfologi pulau kalimantan.

Kalimantan mempunyai luas sekitar 539.032 km,yang mana sebagian besar wilayahnya merupakan daratan,sehingga banyak sumber daya alam yang terkandung didalamnya.

Kalimantan memiliki hutan yang lebat. Namun, wilayah hutan itu semakin berkurang akibat maraknya aksi penebangan pohon. Hutan Kalimantan ialah habitat alami bagi hewan orang utan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, tapir dan beberapa spesies yang terancam punah. [3] Karena kekayaan alamnya, wilayah Kalimantan Indonesia merupakan salah satu dari enam koridor ekonomi yang dicanangkan pemerintah Republik Indonesia dimana Kalimantan ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional di Indonesia. [34] Dengan jumlah penduduk yang hanya 5,6% persen dari total penduduk nasional RI, Kalimantan-Indonesia memberi kontribusi sebesar 9,3% terhadap PDB nasional RI yang dihasilkan dari kekayaan alamnya. Sementara daerah lain, porsi sumbangannya terhadap PDB nasional hampir sama atau kurang dari porsi prosentase jumlah penduduknya terhadap nasional. Porsi investasi di Kalimantan terhadap total investasi nasional RI yang hanya 0,6%. Hal ini amat kontras dengan porsi investasi yang tertanam di Jawa yang besarnya mencapai 72,3% dari total investasi secara nasional. Ini jelas mengisyaratkan bahwa Kalimantan adalah daerah yang terancam tidak berkembang secara ekonomi karena sebagian besar pendapatan yang dihasilkan di daerah ini dibawa ke pulau Jawa. [35] Kalimantan kaya dengan barang tambang diantaranya intan.

Sejarah Eksploitasi Sumberdaya Alam Kalimantan

Tekanan dari luar untuk memenuhi kebutuhan hidup dewasa ini lebih intrusif lagi. Pertama- tama disebabkan tekanan ekonomis memaksa eksplorasi kekayaan sumber daya alam dengan mengonversi yang tumbuh di atas bumi misalnya, kayu hutan hujan menjadi bahan baku pada pabrik plywood serta kilang gergaji. Hutan dan tanah dusun juga dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kedua, kekayaan dari perut bumi, yakni mineral-mineral digali dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk permintaan

Kedua, kekayaan dari perut bumi, yakni mineral-mineral digali dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk permintaan pasar dunia. Itu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pasca tradisional lebih diprioritaskan dibandingkan kebutuhan masyarakat pra modern. Bahan

mentah sebenarnya terletak di “Lebensraum” kelompok tradisional. Sejak lama Kalimantan

dilihat sebagai sumber alam yang tidak ada habis-habisnya, padahal sumber itu sebenarnya

terbatas.

Permintaan kayu pasar dunia masih kuat, sementara produksi kayu bulat turun karena sulit memperpanjang izin atau menebang pohon secara ilegal. Pada waktu melakukan perjalanan salah seorang penumpang yang bekerja di pabrik kayu plywood memkonfirmasikan keadaan di Kalimantan Barat bahwa keperluan bahan mentah pabrik yang memproduksi plywood kurang cukup.

Untuk mengatasi masalah bahan baku di Kalimantan ada kayu bulat yang masuk dari Papua. Penebangan pohon untuk kebutuhan komersial tidak terjadi di seluruh daerah Kalimantan.

Sejarah eksploitasi mineral pertama yang penting mungkin adalah pertambangan dan pengolahan bijih besi yang terdapat di berbagai tempat di seluruh Borneo. Dengan diperkenalkannya keterampilan penggarapan besi dari daratan Asia diantara abad ke-5 dan ke-10 Masehi (Bellwood 1985), Sungai Apo Kayan dan Sungai Montalat di daerah hulu

daerah aliran S. Barito, Sungai Mantikai yaitu anak Sungai Sambas, Sungai Tayan yaitu anak

Sungai

Kapuas di Kalimantan Barat, mempunyai endapan biji besi dan terkenal dengan

.. peleburan dan pembuatan barang-barang dari besi.(Ave dan King 1986)

Emas dan intan juga dikumpulkan sejak dahulu , diperdagangkan ke istana-istana Sultan dan kepada pedagang-pedagang Hindu dan Cina. Menurut tradisi orang Dayak sendiri hampir tidak pernah membuat dan memakai perhiasan emas (Sellato 1989a), tetapi perdagangan emas mempengaruhi kebudayaan pulau ini. Emas telah di ekspor dari Borneo bagian barat kira-kira sejak abad ke-13 dan menjelang akhir abad ke -17 pedagang-pedagang Cina telah mengumpulkan muatan-muatan emas di Sambas (Hamilton 1930).

Penambangan emas secara komersial pertama di Kalimantan di lakukan oleh masyarakat Tionghoa. Dalam keramaian mencari emas pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19,

ladang emas terkaya dan termudah dicapai dikerjakan dahulu, tambang emas terbesar berada di Sambas dan Pontianak di sekitar Mandor.

Masyarakat Tionghoa kemudian berpindah ke arah barat di wilayah Landak, pungguh daerah aliran Sungai Kapuas, dan setelah cadangan emas habis mereka mulai membuka tambang- tambang yang sangat kecil di daerah pedalaman. Menjelang pertengahan abad ke-19, industri pertambangan emas di Kalimatan menurun dengan cepat tetapi meninggalkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kebudayaan

Sekarang ini Kalimantan telah terbagi-bagi dalam konsesi-konsesi pertambangan emas. Di Sambas Kalimantan Barat di kaki Pegunungan Schwaner, Kalimantan Tengah dan Sungai Kelian Kalimantan Timur telah dibuka pertambangan emas

Penambangan Batubara secara terbuka dibawah pengawasan kesultanan sudah mulai beroperasai di Kalimantan menjelang abad ke-19, yang menghasilkan batubara bermutu rendah dalam jumlah kecil untuk penggunaan setempat (Lindblad 1988). Tambang kecil milik negara di Palaran dekat Tenggarong di Kesultanan Kutai merupakan suatu contoh yang khas.

Tambang batubara modern yang pertama di Kalimatan adalah tambang “Oranje Nassau’ yang dibka oleh Belanda di Pengaron, Kalimantan Selatan pada tahun 1849. Tambang ini lebih diarahkan untuk menujukkan haknya terhadap kekayaan mineral pulau itu dan bukan karena potensi komeresialnya (Lindblad 1988).

Dengan pertimbangan serupa Inggris mendirikan “British North Borneo Company” untuk

bekerja di Sabah, kerena mereka tertarik kepada tambang batubara di Labuan. Hak-hak

kolonial ini hanya dapat didirikan dengan beberapa kerepotan.

Pada tahun 1888 perusahaan batubara Belanda (Oost-Borneo Maatchappij) mendirikan sebuah tambang batubara besar di Batu Panggal di tepi Sungai Mahakam. Ada pula kegiatan pribum secara kecil-kecilan yang dilakukan di Martapura sepanjang Sungai Barito, sepanjang Mahakam Hulu dan Sungai Berau. Pada tahun 1903, dengan penanaman modal Belanda, tambang batubara terbesar di Pulau Laut mulai berproduksi dan menjelang tahun 1910 telah menghasilkan kira-kira 25 % dari semua keluaran Indonesia (Lindblad 1988).

Produksi tambang-tambang yang besar milik Belanda di ekspor, sedangkan kegiatan-kegiatan produksi yang lebih kecil diarahkan untuk pemasaran setempat. Kualitas batubara yang rendah dan tersedianya batubara dari Eropa yang lebih murah, terutama dari Inggris, akhirnya menyebabkan kemunduran pada pertambangan besar Belanda di Kalimantan. Namun penemuan ladang-ladang batubara baru akhirnya-akhirnya ini menyebabkan timbulnya perhatian baru terhadap batubara Kalimantan

Pertambangan mineral di Kalimantan dengan pola Penanaman Modal Asing di mulai dengan kontrak kerja Generasi III+, yaitu Indo Muro Kencana di Kalimantan Tengah dan Kelian Equatorial Mining di Kalimantan Timur. Sedangkan Pertambangan Batu Bara di mulai dengan Generasi Pertama oleh Adaro dan Arutmin di Kalimantan Selatan dan di Kalimantan Timur oleh Berau Coal, Indominco Mandiri, KPC, Kideco Jaya Agung, Multi Harapan Utama, Tanito Harum.

Saat ini setidaknya terdapat 21 perusahaan besar pertambangan di Kalsel, 15 perusahaan besar pertambangan di Kaltim dan 154 KP dan 13 PKP2B perusahan pertambangan di Kalimantan Tengah

Eksploitasi kayu di Kalimantan telah berlangsung lama dan menempati kedudukan yang penting selama penjajahan Belanda. Mulai tahun 1904 sejumlah konsesi penebagan hutan telah diberikan di bagian hulu Sungai Barito dan daerah-daerah Swapraja di pantai timur, khusunya Kutai (Potter 1988).

Kayu yang di eksploitasi 80% adalah kayu Depterocarpaceae, sedangkan kayu yang berasal dari pantai timur terutama adalah kayu besi (van Braam 1914). Hamparan hutan Dipterocarpaceae yang luas di pantai timur lebih sukar untuk dieksploitasi dan berbagai upaya pada permulaan gagal, meskipun dengan penanaman modal besar (Potter 1988).

Tahun 1942 petugas-petugas penjajah Belanda menyiapkan peta hutan yang bersipat menyeluruh untk karesidenan Borneo Selatan dan Borneo Timur (meliputi Kalteng-sel-tim) yang menunjukkan bahwa 94% luas karesidenan merupakan daerah yang tertutup hutan. Angka-angka mengenai luas lahan berhutan yang diterbitkan pada tahun 1929 masih dijadikan dasar dalam pemberian ijin konsesi penebangan hutan pada tahun 1975 (Hamzah 1978; Potter 1988).

Sejak jaman penjajahan pelestarian hutan telah mendapat perhatian. Empat kawasan hutan ditetapkan sebagai cagar hidrologi di Borneo Tenggara yaitu gunung-gunung di Pulau Laut, dan tiga cagar alam meliputi Pegunungan Meratus yang membujur dari utara ke selatan (van Suchtelen 1933).

Pembalakan kayu secara massif dimulai pada tahun 1967, saat itu 77% luas hutan atau seluas 41.470.000 dinyatakan milik negara. Pada waktu itu pemerintah menghadapi masalah- masalah ekonomi yang berat sehingga membirikan konsesi kayu dengan murah kepada perusahaan-perusahaan asing yang berniat untuk mengeksploitasi hutan tropis yang luas.

Menjelang tahun 1972 luas daerah konsesi mencapai 26,2 juta hektar dan kemudian meningkat menjadi 31 juta ha pada tahun 1982 terutama di Kalteng dan Kaltim (Ave dan King).

Industri Perkebunan Besar di Kalimantan bermula di Kalimantan Barat sekitar awal tahun 1980-an, oleh PTPN, sebuah BUMN. Di Kalimantan Barat di pegang oleh PTP/PTPN VII dengan kontor direksi di Pontianak. Dari sana muncul fenomena Sanggau sebagai Primadona Sawit. Lahan yang digunakan untuk kegiatan budidaya perkebunan ini dapat dikatakan sebagai APL (Area Penggunaan Lain) yang berasal dari kawasan hutan.

Tahun 2006 di Kalimantan Tengah telah dialokasikan areal seluas 4.5 juta ha untuk Perkebunan Besar Swasta. Saat ini terdapat 104 PBS operasional dengan seluas 1,7 juta ha dan 196 PBS belum operasional seluas 2,8 juta ha.

Kalimantan Selatan berencana membangun seluas 1,1 juta ha, dimana 400 ribu ha sudah operasional dan peruntukan baru untuk perkebunan sawit seluas 700 ribu ha. Sedangkan di Kalimantan Timur dilakukan pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan seluas 2,6 juta ha [2005], dimana 4,09 juta hektare yang diperuntukkan bagi 186 perusahaan, namun yang aktif 34 perusahaan. Sementara Kalimantan Barat [Juli 2006] telah memberikan ijin lokasi

perkebunan kelapa sawit seluas 1.461.648 ha kepada 79 perusahaan. Dari jumlah itu seluas 127.100 ha merupakan kawasan hutan yang dialihfungsikan / konvesi. Dengan demikian total se-Kalimantan akan di bangun perkebunan tidak kurang dari ± 10 juta hektare.

Sayangnya, pembangunan dan exploitasi sumberdaya alam, khususnya hutan untuk perkebunan dan konversi lainnya di Kalimantan tidak memperhitungkan kondisi tutupan hutan yang sudah semakin menipis dimana : Hutan primer hanya tersisa 15.65 %, Hutan sekunder 16,93 % Hutan primer lahan basah 0.26%, hutan sekunder lahan basah 11.31 % dan sisanya sebesar 55.84 % kawasan non hutan. [Sumber : Analisa Citra landsat 2003].

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM KALIMANTAN

Kekayaan Alam dan Sumbangannya

perkebunan kelapa sawit seluas 1.461.648 ha kepada 79 perusahaan. Dari jumlah itu seluas 127.100 ha merupakan

Kalimantan: Kaya Akan Kekayaan (Foto: RIAK BUMI)

Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia . Pulau ini terkenal kaya dengan berbagai sumber daya alam seperti hutan dan tambang. Hutan misalnya, selama masa orde baru menjadi sumber pendapatan yang signifikan. Lebih dari 50 % Hak Pengusahaan Hutan berada di pulau nomor tiga terbesar di dunia ini. Paska orde baru-pun hutan Kalimantan masih memegang peran penting. Total produksi kayu nasional sekitar 70% masih berasal dari sini.

Akan halnya tambang, sejak lama Kalimantan sudah dikenal kaya akan berbagai jenis tambang seperti minyak bumi, gas, emas dan batubara. Berbagai perusahaan besar baik swasta maupun BUMN telah lama melakukan kegiatan tambang, misalnya minyak, gas bumi, dan batubara di berbagai tempat di Kalimantan . Dalam masa desentralisasi, tambang masih menjadi primadona. Batubara misalnya menjadi andalan beberapa kabupaten seperti Tanah Bumbu dan Kotabaru di Kalimantan Selatan dan Kutai Barat di Kalimantan Timur. Minyak tetap menjadi andalan utama di Kalimantan Timur.

Kekayaan Alam Kalimantan: Memberikan Keuntungan Devisa (Foto: Mike Harisson) Pendapatan nasional dan daerah pun mendapat kontribusi

Kekayaan Alam Kalimantan: Memberikan Keuntungan Devisa (Foto: Mike Harisson)

Pendapatan nasional dan daerah pun mendapat kontribusi memadai dari kekayaan alam Kalimantan. Seorang anggota DPR Kaltim dalam kegiatan seminar Himpunan Mahasiswa Biologi se-Indonesia di Samarinda awal Juli mengemukakan untuk 2005 Kaltim menyumbang Rp 200 trilyun untuk devisa nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 % berasal dari pengelolaan sumber daya alam seperti pertambangan, kehutanan dan perkebunan. Data BPS Kaltim 2003 misalnya mencatat bahwa sektor ekonomi yang sangat berperan dalam pendapatan rejional, selain dari industri pengolahan (38,70 %), diperoleh dari sektor pertambangan (35,68 %). Angka ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk Kalimantan Selatan, beberapa kabupaten misalnya sangat mengandalkan pendapatan dari tambang batu bara. Kalimantan Tengah sangat mengandalkan pendapatan dari hutan dan perkebunan (kopra, sawit dan karet). Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kalteng Desember 2006 menunjukkan sektor kehutanan misalnya (kayu olahan seperti moulding dan plywood) memiliki nilai ekspor US$ 74,5 juta. Sumbangan pada Kesejahteraan?

Jika pada masa era orde baru pengelolaan sumber daya alam di Kalimantan disinyalir hanya menguntungkan pihak tertentu saja, pada era desentralisasi diharapkan agar partisipasi dan manfaat kekayaan alam dapat lebih mensejahterakan masyarakat. Namun kenyataannya, meski kaya akan sumber daya alam, angka kemiskinan masih tergolong tinggi. Jumlah penduduk miskin Kalimantan Timur 2006 misalnya, menunjukkan kenaikan sekitar 30 % dibanding tahun sebelumnya. Plt Gubernur Kaltim, Yurnalis Ngayoh, menyatakan pada 2005 ada sekitar 464 ribu, sementara 2006 tercatat 606 ribu jiwa yang tergolong miskin. Total penduduk propinsi sekitar 3,9 juta jiwa.

Untuk propinsi Kalimantan Selatan, Gubernur Rudy Ariffin, pada Maret 2007 mengungkapkan kondisi kemiskinan di Kalsel juga memprihatinkan. Sebanyak 983.792 jiwa atau sekitar 31 % dari 3,3 juta penduduk Kalsel berada dalam kondisi miskin. Sementara itu, untuk Kalimantan Tengah, BPS Kalteng menunjukkan data bahwa pada 2004 jumlah penduduk miskin sekitar 10,44 % dari total penduduk hampir 2 juta jiwa. Dampak Lain

Lebih lanjut, pengelolaan sumber daya alam yang sampai sekarang lebih banyak bersifat eksploitatif, menimbulkan dampak sosial lain seperti konflik antara masyarakat dengan perusahaan tambang dan konflik horisontal antar sesama masyarakat. Berbagai praktek

illegalpun masih kerap terjadi di depan mata seperti pertambangan dan pembalakan kayu (illegal mining, illegal logging). Untuk kayu misalnya, Walhi Kalsel (2003) memperkirakan ada sekitar 5 juta m3 kayu per tahun yang dibabat secara illegal di Kalimantan Selatan.

Pengelolaan sumber daya alam yang masih cenderung eksploitatif juga berdampak pada kerusakan lingkungan. Untuk hutan di Kalimantan Selatan misalnya, data WALHI Kalsel menunjukkan pada 2001-2002 setiap harinya terjadi pengurangan luas hutan sebesar 140 ha. Untuk skala nasional, deforestasi hutan 2000-2005 misalnya, menurut FAO, mencapai 1,8 juta ha/tahun. Angka ini lebih rendah dari angka resmi Dephut yaitu 2,8 juta ha/tahun. Walaupun ada yang menilai kontroversial, data Greenpeace pada 2007 misalnya menunjukkan tingkat penghancuran hutan Indonesia, termasuk Kalimantan, setara dengan 51 km2 setiap harinya. Pada gilirannya, berbagai akibat turunan dari semua inipun muncul seperti sungai yang tercemar, banjir dan gagal panen.

illegalpun masih kerap terjadi di depan mata seperti pertambangan dan pembalakan kayu (illegal mining, illegal logging).

Perubahan Iklim: Telah Menimbulkan Berbagai Dampak (Foto: Swary Utani Dewi)

Kemudian, dalam beberapa tahun terakhir muncul fenomena perubahan iklim (climate change). Perubahan iklim ini menyebabkan berbagai hal seperti pencairan es di kutub, cuaca yang sulit diprediksi, curah hujan yang lebih banyak di berbagai tempat dan kekeringan yang lebih cepat terjadi di tempat lain. Deforestasi hutan Kalimantan , beserta kebakaran hutan dan lahan gambut yang kerap terjadi, dinyatakan sebagai salah satu pendorong perubahan iklim. Kemampuan hutan untuk menahan karbon begitu terkurangi sejalan dengan tingkat deforestasi hutan yang masih tinggi di Kalimantan . Kebakaran hutan yang terjadi tahun 1997-1998 di pulau ini menghasilkan lepasan CO2 lebih dari 1 gigaton.

Kenapa Terjadi?

Beberapa hal yang menjadi penyebab adalah:

Orientasi Jangka Pendek. Eksploitasi sumber daya alam di berbagai tempat di Kalimantan menjadi terlihat berorientasi jangka pendek untuk mendapat keuntungan sesaat. Pertambangan batubara misalnya, seringkali dilakukan di areal yang seharusnya berfungsi lindung. Pengerukan batubara yang tidak disertai dengan upaya nyata reklamasi lingkungan menyebabkan bekas-bekas galian batubara menjadi warisan dari aktivitas tersebut. Dampak-dampak lanjutannya sudah bisa ditebak dan nyata terjadi, sebut saja ketegangan dan konflik sosial serta bencana akibat kerusakan lingkungan.

Kebijakan yang Tidak Memihak. Banyak fakta menunjukkan kebijakan yang terjadi kerap menjadi pendorong pengelolaan sumber daya alam yang salah kaprah, yang justru tidak membuat sejahtera rakyat banyak dan menyumbang pada kerusakan alam. Pada masa orde baru, pemberian HPH kepada beberapa pengusaha (50 % lebih HPH berada di Kalimantan), terbukti tidak memberi manfaat bagi masyarakat dan bahkan memberikan andil besar bagi tingkat pengurangan luas hutan yang begitu tinggi.

Di era otonomi daerah, kebijakan yang diharapkan bisa memihak, kerap masih terpeleset. Di propinsi Kalimantan Selatan misalnya, beberapa bupati telah mengeluarkan ijin kuasa pertambangan (KP) yang dinilai tidak tepat. Seorang peneliti, seperti dikutip Banjarmasin Post 9 April 2007, mencatat bahwa ada sekitar 200 kuasa pertambangan (KP) yang mengeksploitasi 87.411 ha Hutan Lindung Meratus. Bahkan, dari data Dinas Kehutanan

Kalsel tercatat 6 kabupaten di Kalsel yang hutan lindungnya sudah “dikapling” oleh

pengusaha tambang. Padahal, maraknya eksploitasi tambang (batubara) di propinsi ini dituding banyak pihak sebagai penyebab berbagai bencana seperti banjir.

Kebijakan yang Tidak Memihak. Banyak fakta menunjukkan kebijakan yang terjadi kerap menjadi pendorong pengelolaan sumber daya

Pengelolaan SDA: Belum Banyak Melibatkan Masyarakat (Foto: RIAK BUMI)

Partisipasi yang Rendah dari Stakeholder (Utamanya Masyarakat). Kebijakan juga kerap meminggirkan masyarakat sebagai penerima manfaat utama, baik pada saat kebijakan tersebut dirumuskan, maupun pada masa implementasi dan pengawasan. Kasus pemberian hak untuk mengusahakan hutan dan tambang misalnya kerap tidak memperhatikan masyarakat yang sudah turun temurun tinggal di suatu area. Akibatnya kebijakan yang terjadi sering tidak tepat sasaran dan malah menimbulkan dampak yang tidak diinginkan misalnya, konflik antara masyarakat setempat dengan pihak pengusaha.

Beberapa Hal Penting yang Perlu Segera/ Harus Semakin Terus Dilakukan

Mempromosikan dan Menekankan Paradigma Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Lebih Bijak.

Sudah saatnya kita meninggalkan orientasi jangka pendek dari pengelolaan sumber daya alam. Peningkatan pendapatan (untuk PAD misalnya) adalah penting, namun bukan satu- satunya. Pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan keberadaan sumber daya alam juga perlu mendapat penekanan yang sama pentingnya. Beberapa kabupaten misalnya Wonosobo (Jawa Tengah) sudah mulai melakukan penekanan pada faktor pengurangan kemiskinan yang terpadu dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih lestari. Apa yang dilakukan di kabupaten tersebut kiranya bisa menjadi contoh bagi kabupaten-kabupaten di Kalimantan .

Menerapkan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance).

Bachrul Emi, seorang peneliti, melakukan kajian tentang good governance di salah satu propinsi di Kalimantan. Dia, dengan mengutip studi yang dilakukan Sudarno Sumarto pada Maret 2004, menyatakan tata kelola pemerintahan yang buruk menghambat upaya penanggulangan kemiskinan. Selain itu, bad governance juga telah terbukti berdampak pada kerusakan dan bencana lingkungan.

Dalam good governance, paling tidak ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan (akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat). Selain itu, good governance menekankan pentingnya keseimbangan tiga pilar utama yang mendukung (lembaga penyelenggara pemerintahan, dunia swasta dan masyarakat sipil). Loina Lalolo Krina dari Bappenas menyatakan good governance menuntut redefinisi peran para pelaku penyelenggara pemerintahan. Dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, pemerintah cepat atau lambat bergeser dari pemegang kuat kendali pemerintahan ke posisi fasilitator. Dunia usaha dan pemilik modal harus mulai menyadari pentingnya regulasi dan praktek bisnis yang mampu melindungi kepentingan publik dan kelestarian sumber daya alam. Sebaliknya, masyarakat yang sebelumnya ditempatkan lebih pada posisi pasif, harus lebih menyadari peran dan kedudukannya sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) utama.

Sumberdaya Geologi kalimantan

Wilayah Indonesia merupakan daerah pertemuan atau benturan tiga lempeng tektonik yaitu Eurasia , Hindia-Australia dan Pasifik. Benturan tersebut sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu, yang mengakibatkan adanya pergerakan pulau dan struktur batuan yang beragam. Berbagai jenis dan umur batuan batuan yang bervariasi membuat wilayah Indonesia kaya dengan sumberdaya mineral baik logam, non logam dan energi. Jenis mineral logam seperti emas, tembaga, perak, besi, kromit, timah, dsb. Jenis mineral non logam seperti belerang, batugamping, gambut, dsb. Jenis energi yang banyak tersedia di wilayah Indonesia diantaranya minyak, gas, batubara, dsb. Selain potensi sumberdaya yang cukup banyak tersedia, wilayah Indonesia juga merupakan zona-zona sesar, patahan dan deretan gunung api aktif yang memanjang dari ujung Sumatera sampai ke Maluku.

Jenis Sumberdaya Geologi:

Pulau Sumatera adalah salah satu pulau di Indonesia yang memiliki endapan batubara dengan jumlah yang cukup melimpah. Umumnya batubara di pulau Sumatera termasuk pada batubara yang memiliki nilai kalori sedang (Sub bituminus). Di beberapa

tempat, batubara di Pulau Sumatera memiliki nilai kalori yang tinggi hingga sangat tinggi (bituminus hingga antrasit).

Batubara di Pulau Sumatera ditemukan tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan di Sumatera Selatan. Sumatera Selatan adalah provinsi yang memiliki sumberdaya batubara peringkat dua terbesar di Indonesia. Tambang batubara Bukit Asam adalah salah satu tambang batubara terbesar yang dimiliki pemerintah Indonesia yang terdapat di provinsi Sumatera Selatan. Tambang batubara terkenal lainnya yang terdapat di pulau Sumatera adalah Tambang Batubara Ombilin di Sumatera Barat.

Hingga tahun 2006, jumlah sumberdaya batubara berbagai kualitas di Pulau Sumatra yang dihitung hingga kedalaman 400 meter tercatat sebesar 53.824, 09 juta ton, dengan jumlah cadangan sebesar 13.902, 62 juta ton

Selain Sumatera, Kalimantan adalah pulau lain yang memiliki sumberdaya batubara sangat melimpah. Provinsi Kalimantan Timur bersama Provinsi Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan tercatat sebagai daerah penghasil batubara utama di Indonesia. Batubara di pulau Kalimantan juga ditemukan sedikit di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, banyak terdapat tambang-tambang batubara besar di Indonesia. Tambang batubara Sangata yang terdapat di Kalimantan Timur, merupakan salah satu tambang batubara terbesar di Indonesia. Batubara di Pulau Kalimantan ditemukan diantaranya di kabupaten Sangata, Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau di Kalimantan Timur, Kabupaten Barito, Kabupaten Tapin, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan.

Hingga tahun 2006, jumlah sumberdaya batubara di Pulau Kalimantan yang dihitung hingga kedalaman 100 meter tercatat sebesar 36.224,92 juta. Dari jumlah sebesar itu sebanyak 25.131,49 juta ton terdapat di Kalimantan Timur. Sebagian besar batubara Kalimantan termasuk batubara dengan kalori sedang (25,490,62 juta ton). Sedangkan batubara kalori tinggi di Pulau ini berjumlah sebanyak 8.086,78 juta ton, kalori sangat tinggi sebanyak 630,88 juta ton dan kalori rendah sebanyak 2061, 63 juta ton.

Mineral non logam adalah kelompok komoditas mineral yang tidak termasuk mineral logam, batubara maupun mineral energi lainnya. Mineral non logam biasa disebut juga sebagai bahan galian non logam atau bahan galian industri atau bahan galian golongan C.

Bahan galian non logam mudah dicari dan pengusahaannnyapun tidak membutuhkan modal yang besar, teknologi yang rumit maupun waktu yang lama untuk eskplorasi, sehingga sangat cocok digunakan untuk mendorong perekonomian rakyat

Mineral adalah material anorganik homogen yang terjadi secara alamiah serta mempunyai struktur atom dan komposisi kimia tertentu. Mineral dapat dibedakan

menurut karakteristiknya, yaitu berdasarkan : warna, goresan, transparansi, kekerasan, struktur kristal dan tampilan.

Sebagian besar mineral merupakan gabungan beberapa unsur kimia, sebagai contoh mineral Pyrite, yang disusun oleh 2 unsur yaitu unsur besi (Fe) dan sulfur (S). Hanya sedikit sekali mineral yang disusun oleh hanya satu unsur. Contoh mineral yang disusun oleh hanya satu unsur adalah emas (Au), perak (Ag) dan tembaga (Cu). Batuan adalah kumpulan beberapa mineral. Contoh, batuan Granit yang terdiri dari mineral kuarsa, feldsfar, mika dan amphibole dengan rasio kimia yang bervariasi. Dari ribuan jenis mineral yang ada, hanya sekitar 100 jenis mineral yang merupakan komponen utama penyusun batuan.

Beberapa sifat keterdapatan endapan mineral, diantaranya : terdapat dalam jumlah terbatas dan tidak merata di kulit bumi, baik dari segi mutu (kualitas) maupun jumlah (kuantitas). Oleh karena itu eksplorasi mineral (logam) merupakan kegiatan bersifat padat modal, berisiko tinggi dan saat ini semakin banyak memakai teknologi tinggi (yang sudah tentu relatif memerlukan biaya yang lebih tin Pembentukan Mineral

Mineral termasuk sumberdaya alam yang tidak bisa diperbaharui serta terbentuk melalui proses geologi yang panjang. Ketika mineral habis, maka tidak ada penggantinya. Karena itu pemanfaatan mineral harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Magma adalah sumber dari berbagai jenis batuan dan mineral. Magma berasal dari mantel bumi atau dari batuan kerak bumi yg meleleh karena mendapat temperatur dan tekanan tinggi. Magma yang cair dan kental mengandung berbagai unsur kimia yang berasal dari mantel bumi ataupun dari batuan kerak bumi yang meleleh kembali akibat tekanan dan temperatur yang tinggi pada kedalaman tertentu. Karena sifatnya yang cair dan tempatnya yang dalam dengan tekanan dan temperatur tinggi, maka magma cenderung mengalir naik kepermukaan bumi melalui bagian-bagian bumi yang lemah, misalnya retakan. Atau jika tekanannya cukup, maka magma dapat pula menerobos batuan lain di atasnya. Dalam perjalanannya ke permukaan bumi inilah magma berinteraksi dengan batuan lain yang telah ada, sehingga membentuk berbagai mineral yang berharga bagi manusia. Mineral dapat terbentuk melalui beberapa proses, seperti: magmatik, sedimentasi, metamorfik, dan hidrotermal. Proses magmatik adalah ketika mineral terbentuk karena pembekuan magma. Proses sedimentasi (pengendapan) adalah pembentukan mineral sebagai akibat pelapukan atau erosi yang terjadi pada batuan induknya. Proses metamorphic adalah pembentukan mineral pada batuan induk yang mengalami perubahan suhu maupun tekanan. Adapun proses hydrothermal adalah pembentukan mineral melalui proses kimia yang terjadi dari interaksi antara batuan dengan aliran air panas di dalam bumi.

Mineral logam dapat dikelompokan dalam 4 (empat) kelompok utama yaitu :

  • a. Kelompok Logam Dasar; logam yang umum terdapat dan secara kimia lebih aktif, misalnya : Tembaga (Cu), Timbal/Timah Hitam (Pb), Timah (Sn) dan Seng (Zn) dan lain-lain.

  • b. Kelompok Logam Mulia; logam yang secara ekonomis sangat berharga dan banyak dibutuhkan, terdiri dari : emas (Au), Perak (Ag) dan Platina (Pt).

Dalam kedua kelompok ini satu sama lain selalu berkaitan, bisa dalam bentuk urat maupun dalam bentuk sebaran dalam batuan, khusus untuk emas selain terkemas

dalam bentuk urat, biasanya dalam urat kuarsa, juga bisa terdapat sebagai emas alluvial yang tersebar di bekas undak-undak sungai tua atau tersebar di endapan pasir sungai yang masih aktif. Logam Dasar dan Logam Mulia yang terbentuk dalam urat biasanya di Indonesia khususnya terjadi dalam lingkungan batuan gunungapi dan populer disebut Emas Epitermal. Sudah barang tentu disebut demikian setelah memenuhi kriteria-kriteria pembentukkannya.

c. Kelompok Logam Jarang adalah logam yang secara relatif, ditemukan dalam jumlah sedikit dan tersebar di bumi. Unsur-unsur logam ini, jarang ditemukan terkonsentrasi dalam jumlah banyak. Beberapa diantaranya adalah :Lithium (Li), Yurium (Y), Zirconium (Zr), Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements; unsur yang mempunyai Nomor Atom 57 s.d. 71), Indium (In), Cadmium (Cd) dan lain-lain. Kegunaan unsur- unsur logam jarang umumnya untuk teknologi tinggi seperti : barang elektronik,katalis dalam pengolahan minyak bumi, keramik tahan panas dan lain-lain.

d. Kelompok Mineral Logam Besi dan Campuran Besi, logam yang lazim digunakan dalam industri besi dan campurannya, seperti : Besi (Fe), Kobal (Co), Kromit (Cr), Mangan (Mn) dan lain-lain

Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung didalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya, yang secara genetik semuanya berupa suatu sistem panas bumi yang tidak dapat dipisahkan dann untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.

Panas bumi dikenal sebagai sumber daya geologi yang digunakan sebagai sumber energi yang ramah lingkungan. Tidak seperti mineral dan batubara, panas bumi termasuk sumberdaya geologi yang dapat diperbaharui. Artinya sumberdaya panas bumi tidak akan pernah habis, karena proses pembentukannya berhubungan dengan

Sumber daya Mineral dan Energi lepas pantai adalah material anorganik homogen yang terjadi secara alamiah serta mempunyai struktur atom dan komposisi kimia tertentu. Mineral dapat dibedakan menurut karakteristiknya, yaitu berdasarkan : warna, goresan, transparansi, kekerasan, struktur kristal dan tampilan yang terletak di lepas pantai laut indonesia. Beberapa sifat keterdapatan endapan mineral, diantaranya : terdapat dalam jumlah terbatas dan tidak merata di kulit bumi, baik dari segi mutu (kualitas) maupun jumlah (kuantitas). Oleh karena itu eksplorasi mineral (logam) merupakan kegiatan bersifat padat modal.

Kesimpulan

pulau kalimantan mempunyai sumber daya alam yang melimpah,dengan berbagai sumber pertambangan dan sumber energi yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi kalimantan,tetapi pada kenyataannya yang ada malah para investor asing yang kaya raya menikmati hasil alam yang berlimpah itu,kita tidak ada kemampuan untuk mengelola sumber daya alam yang ada itu.

Dari sisi bidang pertanian, kalimantan memang tidak mempunyai tanah yang subur dan cocok untuk bercocok tanam,tetapi ada berbagai kegiatan yang sudah dilakukan seperti pertenakan, dan mempunyai peairan yang kaya akan isi didalamnya yang jga membantu peningkatan ekonomi kalimantan. Dari segi jalur perdagangan juga kalimantan mempunyai wilayah yang sangat setrategis,karena berbatasan dengan negara-negara tetangga,sehingga mempermudah proses perekonomian dalam kerjasama ekonomi negara.mungkin itu saja yang dapat saya paparkan dalam kondisi ekonomi kalimantan.