Anda di halaman 1dari 4

http://bidandesa.com/sibling-rivalry.html Sibling Rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan perkelahian antara kakak dan adik dalam satu keluarga.

Ini juga terjadi dalam keluarga saya, antara adik dan kakak sering sekali bertengkar, masalah sepele bisa jadi besar dihadapan anak-anak. Beberapa sebab dasar terjadinya sibling rivalry : Kelahiran bayi baru Jelas ini secara otomatis perhatian yang sebelunya banyak tercurah atau tertuju pada anak pertama akan beralih pada si bayi, dan sang kakak akan merasa tersisih dan dirugikan. Protes Kakak Sang kakak dalam memperebutkan dan memenangkan persaingan untuk merebut perhatian orang tuan tentu akan menggangu sang adik. Kemarahan Orang Tua Orang tua yang memarahi sang kakak dalam beberapa kasus hanya akan tertuju pada sang kakak, tanpa menyadari si kakak akan merasa sedih. Dengan hubungan seperti ini hanya akan menambah kakak bertambah benci pada sang adik. Penyebab Sibling Rivalry faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry :

Anak-anak saling berkompetisi untuk menunjukkan bahwa mereka bisa lebih baik dari saudaranya Anak-anak merasa mendapatkan perhatian dan penerimaan yang tidak sama dengan saudaranya Anak-anak mungkin merasa hubungan dengan orang tuan mereka semakin jauh dengan kehadiran saudaranya Anak-anak mungkin tidak tahu cara yang baik untuk memperoleh perhatian saudaranya Anak-anak yang marah, bosa, atau lelah mudah untuk memulai perkelahian Stres yang dialami orang tua akan menurunkan perhatian untuk anakanak dan ini akan meningkatkan sibling rivalry Stres yang dialami anak-anak akan menimbulkan banyak masalah

Cara oraang tua mendidik dan melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah akan membuat perbedaan yang besar dalam terjadinya sibling rivalry

Cara Mengatasi Sibling Rivalry 1. Orang tua jangan campur tangan langsung, campur tangan langsung diperlukan saat terdapat tanda-tanda akan terjadinya kekerasan fisik. 2. Pisahkan keduanya hingga masing-masing tenang, lalu suruh mereka kembali dengan sedikitnya satu ide tentang cara menyelesaikan masalah hingga tidak akan terulang lagi. 3. Tidak penting yang memulai siapa yang memulai masalah, karena anda tak mungkin menemukan anak mana yang bersalah, karena tak satupun dari mereka yang 100% benar ataupun salah. 4. Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya mereka rebutan TV, ajaklah mereka dan ajari membuat jadwal daftar TV 5. Bantu anak-anak mengembangkan ketrampilan dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa kekerasan 6. Ajari mereka bagaimana cara berkompromi, menghormati orang lain dan memutuskan sesuatu secara adil 7. Jangan berteriak teriak pada anak-anak 8. Ajaklah setiap anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang saudaranya, misalnya rasa marah dan kecewa. Hal ini akan membantu mereka untuk mengenali emosi negatif dan mengatasinya dikemudian hari 9. Belajarlah mengatur kemarahan agar anak-anak bisa belajar untuk tidak mudah marah sehingga tidak ada pertengkaran 10. Tidak peru berargumen bahwa anda sudah bersikap adil, karena sebesar apapun usaha anda, anak-anak tetap menemukan ketidakadilan dari perlakuan anda Jika diatasi dengan tepat, Sibling Rivalry juga mempunyai sisi pisitif. Jabat Erat Selalu

hare.stikesyarsis.ac.id/elib/main/dok/00612/GAMBARAN-PERAN-ORANG-TUA-IBUDALAM-MENGHADAPI-SIBLING-RIVALRY-ANAK-USIA-4-6-TAHUN-ATASKEHADIRAN-ADIKNYA-DI-TK-DHARMA-WANITA-PERSATUAN dIAN IVANA

eriode kritis pada perkembangan anak membutuhkan perhatian yang seksama, terutama pada perkembangan psikologis. Faktor kehadiran adik baru dirasakan ancaman baginya dan merasa orang tua pilih kasih sehingga memicu adanya persaingan saudara kandung atau disebut sibling rivalry. Hasil survai pendahuluan di TK Dharma Wanita Persatuan Desa Kraton Kecamatam Krian Kabupaten Sidoarjo tedapat 10 pasang adik kakak yang mengalami sibling, 8 diantaranya perhatian orang tua lebih mengutamakan adiknya tanpa memberikan penjelasan pada kakaknya, 2 yang lain orang tua sudah memberi penjelasan atas kehadiran adik baru. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran orang tua (ibu) dalam menghadapi sibling rivalry anak usia 4-6 tahun atas kehadiran adiknya. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasi ini adalah semua orang tua (ibu) yang memiliki anak usia 4-6 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo yang memiliki adik berjumlah 40 responden. Besar sample didapat sesuai kriteria penelitian berjumlah 36 responden dengan pengambilan sample secara purposive sampling. Data yang diperoleh diolah dan hasil akhirnya dilakukan tabulasi data yang ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukan bahwa hampir setengah responden mempunyai peran cukup berjumlah 15 responden(41,7%). Simpulan dari penelitian adalah peran orang tua (ibu) dalam menghadapisibling rivalry cukup. Diharapkan kepada orang tua khususnya ibu lebih bijaksana memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya agar tidak sibling. Kata kunci: peran orang tua (ibu), sibling rivalry

http://harlia.multiply.com/journal?&page_start=20&show_interstitial=1&u=/journal

aknya akan selalu ada, tidak akan pergi. Menurut studi, adik-kakak yang bermain bersama, meski saling mengejek, memiliki hubungan yang lebih dekat ketimbang adik-kakak yang bermain terpisah. Istilahnya Adik-kakak lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah dalam artian saling tak mau menyapa dan bergaul karena satu membenci yang lain.

Konflik pada awalnya adalah baik bagi anak. Konflik berubah menjadi tidak baik saat orangtua tidak mengelola konflik anak dengan baik. Apalagi jika saat konflik, orangtua yang selalu menyelesaikan masalah. Akhirnya, anak tidak belajar apapun dari pengalaman konflik yang mereka alami. Saat misalnya seorang adik rebutan mainan dengan kakaknya, sebagian orangtua menyelesaikannya dengan mengatakan pada si kakak Kakak, ngalah dong sama adik! Adik kan masih kecil.... Ayah, Bunda, jika penyelesaiannya seperti itu, lihatlah ternyata bukan hanya kita tak melatih anak menghadapi konflik, tapi justru kita melebarkan konflik pada anak. Lihatlah, ternyata praktik ketidakadillan juga dapat dimulai dari rumah bukan? Mengapa seorang kakak harus selalu mengalah pada adik? Adikknya masih lemah, begitu alasannya? Tapi, sampai umur berapa adik masih terus dibela? Mengapa kebenaran ditentukan oleh usia? Mengapa jika kakak membuat adik kecewa, dihukum? Mengapa jika adik yang melakukannya, adik tidak dihukum? Saat dua orang anak rebutan satu buah roti misalnya, sebagian orangtua menyelesaikannya dengan jalan instan dengan cara membagi roti itu jadi dua untuk anaknya yang ini buat kakak yang itu buat adik. Lihatlah praktik ini? Anak memang berhenti dari konflik (sementara), tapi siapa yang menyelesaikan masalahnya? Orangtua bukan? Mengapakah bukan anak yang dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri?