Anda di halaman 1dari 33

KEGIATAN IMUNISASI BALITA DI UPT PUSKESMAS WONOGIRI I

Oleh :
KELOMPOK 7 Ida Bagus Ananta W. R. A. Sitha Anisa P. Rachmania Budiati Arga Scorpianus Rifqi Hadyan Dhia Ramadhani Egtheastraqita C. Ery Radiyanti Fitri Febrianti R. Riyan Angga P. Siti Nur Hidayah G0011113 G0011161 G0011163 G0011035 G0011171 G0011073 G0011081 G0011085 G0011095 G0011179 G0011199

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012


BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsep paradigma sehat di dalam pembangunan kesehatan adalah pembangunan kesehatan yang lebih memprioritaskan upaya promotif dan preventif dibandingkan kuratif dan rehabilitatif. Program imunisasi merupakan salah satu upaya preventif yang telah terbukti sangat efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian serta kecacatan pada bayi dan balita. Saat ini, kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sebagai salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs). Tujuan utama kegiatan imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). PD3I adalah penyakit-penyakit menular yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah dan kematian terutama balita seperti Hepatitis B, TB (Tuberkulosis), DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), Polio, dan Campak. Menurut data terakhir WHO, kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), misalnya tetanus 198.000 (14%), dan campak 540.000 (38%). Penyakit tuberculosis, difteri, pertusis, tetanus, poliomyelitis, dan campak mengakibatkan kematian sekitar 4 juta anak terutama di Negara berkembang. Tanpa imunisasi sekitar 3 dari 100 anak akan meninggal dunia karena penyakit campak, dan 2 dari 100 anak akan meninggal dunia karena batuk reja serta 1 dari 100 anak akan meninggal karena penyakit tetanus. Dari setiap 200.000 anak, 1 anak akan menderita penyakit polio. Berdasarkan laporan WHO, 87 negara dari 193 anggotanya memiliki angka kejadian hepatitis B kronis yang tinggi ( 8 %). Pada 2006, 50 % dari 135 juta bayi baru lahir di dunia berisiko terinfeksi hepatitis B sehingga berpotensi menjadi hepatitis kronis B yang dapat berakibat kanker hati. Di Amerika Serikat, penyebaran virus polio liar berhenti sekitar 1979, sementara di Eropa virus tersebut sudah hilang sejak 1991.

Pada tahun 2000 di seluruh dunia dilaporkan 30.000 kasus Difteri dan 3.000 orang (10 %) diantaranya meninggal karena Difteri. Sedangkan untuk kasus pertusis diperkirakan 39 juta kasus terjadi dan 297.000 kasus berdampak pada kematian di dunia. Indonesia sendiri, UNICEF mencatat sekitar 30.000 - 40.000 anak di Indonesia setiap tahun meninggal karena serangan campak, ini berarti setiap dua puluh menit seorang anak Indonesia meninggal karena campak. Virus hepatitis B ditemukan pada 2,1 - 0,7 % ibu hamil. Penularan hepatitis B pada bayi baru lahir saat persalinan dari ibu pengidap penyakit hepatitis B berisiko tinggi (sampai dengan 90 %) selanjutnya bayi akan menjadi hepatitis B kronis dan dapat menderita kanker hati kelak. Vaksinasi polio dilakukan sejak 1980, sehingga sepanjang kurun waktu 1995 sampai 2005 tidak ditemukan kasus poliomyelitis. Namun, sejak Maret 2005, ditemukan penderita di Desa Girijaya, kecamatan Cidahu, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengakibatkan 307 anak cacat seumur hidup. Dengan adanya vaksinasi polio rutin dan vaksin tambahan di seluruh Indonesia melalui Pekan Imunisasi Nasional, penyebaran virus dapat dihentikan sehingga sejak 2006 sampai sekarang tidak ditemukan lagi kasus polio baru. Angka kejadian TB masih tinggi, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan Cina. Diperkirakan penderita tuberculosis tahun 2006 sekitar 234 orang per 100.000 penduduk. Sedangkan menurut WHO, 175.000 orang di Indonesia setiap tahun meninggal dunia karena tuberculosis dan terdapat 450.000 kasus baru setiap tahun. Menurut laporan di beberapa Rumah Sakit di Indonesia, kematian penderita Difteri berkisar 32,5 % - 37,14 %. Indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur dengan pencapaian Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan, yaitu minimal 80% bayi di desa/ kelurahan telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Persentase pencapaian UCI di tingkat desa/kelurahan di Indonesia dari tahun 2004 sampai tahun 2008 cenderung mengalami fluktuasi. Pada tahun 2004 (69,43 %), 2005 (76,23 %), 2006 (73,26 %), 2007 (71,18 %), dan 2008 (74,02 %) (Depkes, 2008).

Kementerian

Kesehatan

menargetkan

pada

tahun

2014

seluruh

desa/kelurahan mencapai 100% UCI atau 90% dari seluruh bayi di desa/kelurahan tersebut memperoleh imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG, Hepatitis B, DPT-HB, Polio dan campak. Guna mecapai target 100% UCI desa/kelurahan pada tahun 2014 perlu dilakukan berbagai upaya percepatan melalui Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional untuk mencapai UCI (GAIN UCI) seperti yang telah ditetapkan dalam Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomer : 482/MENKES/SK/IV/2010 tentang Gerakan Akselarasi Imunisasi Nasional Universal Child Immunization 20102014 (GAIN UCI 2010-2014). GAIN UCI merupakan upaya terpadu berbagai sektor terkait dari tingkat Pusat sampai Daerah untuk mengatasi hambatan serta memberikan dukungan untuk keberhasilan pencapaian UCI desa/kelurahan. Berdasarkan angka kematian balita akibat PD3I yang ada, maka masih sangat diperlukan upaya-upaya dari instasi kesehatan untuk meningkatkan program imunisasi demi terwujudnya eradikasi penyakit terkait PD3I, mengingat masih banyak desa yang merupakan kantong rentan terhadap penyakit khususnya kawasan terisolir. Keberhasilan pelaksanaan program imunisasi sangat membutuhkan dukungan dan partisipasi dari semua elemen masyarakat dan tak lepas dari peran petugas pelayanan kesehataan setempat. Penting bagi mahasiswa FK UNS sebagai calon tenaga medis untuk mempelajari dasar-dasar imunisasi di tempat pelayanan kesehatan sebagai bekal nantinya saat terjun di tengah-tengah masyarakat.

B. Tujuan 1. Tujuan umum

Tujuan dari serangkaian kegiatan field lab topik imunisasi yang telah dilakukan mahasiswa adalah agar mahasiswa mampu melakukan tindakan imunisasi 2. Tujuan khusus
a. Mampu menjelaskan tentang dasar-dasar imunisasi dan imunisasi dasar

di Indonesia Mampu melakukan manajemen program dan prosedur imunisasi dasar bayi dan balita, anak sekolah, ibu hamil, dan calon pengantin wanita di Puskesmas mulai dari perencanaan, cold chain vaksin, pelaksanaan (termasuk penanganan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi/KIPI), pelaporan, dan evaluasi keberhasilan program imunisasi .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Imunisasi Imunisasi atau pemberian vaksin telah lama digunakan untuk mencegah penyakit ( Humas Kliping UI, 2006). Menurut hikayat Raja Pontus, dia melindungi dirinya dari keracunan makanan dengan cara minum darah itik, dan penggunaan hati anjing gila untuk pengobatan rabies. Pembuatan vaksin sendiri baru dimulai tahun 1877 oleh Pasteur menggunakan kuman hidup yang dilemahkan yaitu untuk vaksinasi cowpox dan smallpox; pada tahun 1881 mulai dibuat vaksin anthrax dan tahun 1885 dimulai pembuatan vaksin rabies (Parish, 1965). Lain halnya di Indonesia, sejarah imunisasi dimulai pada tahun 1956 dengan imunisasi cacar; dengan selang waktu yang cukup jauh yaitu pada tahun 1973 mulai dilakukan imunisasi BCG untuk tuberkulosis, disusul imunisasi tetanus toxoid pada ibu hamil pada tahun 1974; imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus) pada bayi mulai diadakan pada tahun 1976. Pada tahun 1977 WHO mulai menetapkan program imunisasi sebagai upaya global dengan EPI (Expanded Program on Immunization) dan pada tahun 1981 mulai dilakukan imunisasi polio, tahun 1982 imunisasi campak mulai diberikan, dan tahun 1997 imunisasi hepatitis mulai dilaksanakan (Subdit Imunisasi, 2004). Imunisasi pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan (Matondang & Siregar, 2005). Kekebalan seseorang terhadap penyakit infeksi terbentuk akibat respons tubuhnya terhadap mikroorganisme penyebab penyakit. Sistem kekbalan kita mengenal mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur dan parasit yang disebut antigen. Terdapat dua jalur pertahanan dalam tubuh manusia yaitu adalah imunitas lahiriah (imunitas non spesifik) dan imunitas yang didapat setelah lahir (imunitas spesifik). (Satgas Imunisasi PP IDAI, 2011)

Respons imun spesifik dibagi dua yaitu respons antibodi dan respons imun seluler. Respons antibodi disebut juga respons humoral yang bereaksi secara spesifik terhadap antigen yang bebas di sirkulasi dan jaringan, seperti kuman difteri, tetanus, pneumokok, H. influenzae dan kuman pertusis. Jika limfosit yang pertama kali dirangsang oleh mikroorganisme patogen yang masuk ke dalam sel tubuh, maka mikroorganisme akan dikenali oleh sel T yang akan memperbanyak diri dan menghancurkan mikroorganisme tersebut. Selain itu sebagai sel T akan berubah menjadi sel memori yang akan dengan cepat bertambah banyak jika organism yang sama datang lagi. (Satgas Imunisasi PP IDAI, 2011) Selain itu, tubuh juga membentuk sel B memori yang perannya sangat penting dalam pertahanan tubuh. Sel B memori akan bersirkulasi dalam darah dan kelenjar getah bening selama ini bertahun-tahun dan siap melawan antigen yang sama di kemudian hari. Respons imun seluler akan mengenal antigen yang berada di dalam sel dan menghancurkannya. (Satgas Imunisasi PP IDAI, 2011) B. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) 1. Difteri Penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae dengan gejala panas lebih kurang 38oC disertai adanya pseudo membran (selaput tipis) putih keabu-abuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah. Dapat disertai nyeri menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bull neck) dan sesak nafas disertai bunyi (stridor) dan pada pemeriksaan apusan tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri. 2. Pertusis Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bardetella pertusis dengan gejala batuk beruntun dan pada akhir batuk menarik nafas panjang terdengar suara hup (whoop) yang khas, biasanya disertai muntah. Serangan batuk lebih sering pada malam hari. Akibat batuk yang berat dapat terjadi pedarahan selaput lendir mata (conjunctiva) atau pembengkakan di sekitar mata (oedema periorbital). Lamanya batuk bisa mencapai 1-3 bulan dan penyakit ini sering disebut penyakit 100 hari.

Pemeriksaan lab pada apusan lendir tenggorokan dapat ditemukan kuman pertusis (Bordetella pertussis). 3. Tetanus Penyakit disebabkan oleh Clostridium tetani dengan terdiri dari tetanus neonatorum dan tetanus. Tetanus neonatorum adalah bayi lahir hidup normal dan dapat menangis dan menetek selama 2 hari kemudian timbul gejala sulit menetek disertai kejang rangsang pada umur 3-28 hari. Tetanus dengan gejala riwayat luka, demam, kejang rangsang, risus sardonicus (muka setan), kadang-kadang disertai perut papan dan opistotonus (badan melengkung) pada umur di atas 1 bulan. 4. Tuberkulosis Penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosa menyebar melalui pernapasan lewat bersin atau batuk, gejala awal adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus menerus, nyeri dada dan dapat terjadi batuk darah. 5. Campak Penyakit yang disebabkan oleh virus measles, disebarkan melalui droplet bersin atau batuk dari penderita, gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjunctivitis (mata merah), selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh, tangan serta kaki. 6. Poliomielitis Penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio type 1, 2, atau 3. Secara klinis penyakit polio adalah anak di bawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis/AFP). Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani. 7. Hepatitis B Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penyebaran penyakit terutama melalui suntikan yang tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan, melalui hubungan seksual. Infeksi pada anak biasanya

tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada adalah lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu, urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pula mata ataupun kulit. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan Cirrhosis hepatis, kanker hati dan menimbulkan kematian. 8. Meningitis Meningokokus Penyakit akut radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Meningitis penyebab kematian dan kesakitan diseluruh dunia, CFR melebihi 50%, tetapi dengan diagnosis dini, terapi modern dan suportif CFR menjadi 5 - 15%. Pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi dan kemoprofilkasis untuk orang-orang yang kontak dengan meningitis dan karier. (muchlastriningsih, 2005). Pemerintah sejak tahun 1977 telah mengembangkan program imunisasi untuk menangani PD3I diatas sesuai jadwal dan vaksin yang khusus (Kemenkes, 2004). C. Jadwal Imunisasi dan Vaksinasi

Vaksin hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, karena vaksinasi HepB merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai

penularan dari ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Jadi imunisasi HepB-1 diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, mengingat sedikitnya 3,9% ibu hamil mengidap hepatitis B aktif dengan resiko penularan kepada bayi sebesar 45%. Imunisasi hepatitis B-2 diberikan setelah 1 bulan setelah imunisasi HepB-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Imunisasi HepB-3 diberikan pada umur 6 bulan. (Satgas Imunisasi PP IDAI, 2011) Vaksinasi BCG optimal diberikan pada umur 2 sampai 3 bulan. Bila vaksin BCG akan diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin. Bila uji tuberkulin pra-BCG tidak dimungkinkan, BCG dapat diberikan, namun harus diobservasi dalam 7 hari. Bila ada reaksi lokal cepat di tempat suntikan (accelerated local reaction), perlu dievaluasi lebih lanjut (diagnostik TB). Vaksinasi BCG ulangan tidak dianjurkan. Imunisasi DTP dasar diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan ( DTP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan jarak 4-8 minggu. Dapat diberikan vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan Hepatitis B atau Hib. DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan DTP selanjutnya diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat mausk sekolah dasar umur 5 tahun. Vaksin polio diberikan 5 kali sejak bayi lahir. Polio-0 diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit /rumah bersalin agar tidak mencemari bayi lain karena virus polio vaksin dapat dikeluarkan melalui tinja. Untuk imunisasi polio dasar (polio-2, 3, 4) diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu. Vaksinasi polio ulangan diberikan satu tahun sejak imunisasi polio-4 dan imunisasi selanjutnya dilakukan saat masuk sekolah (5-6 tahun). Vaksin campak disuntikkan pada umur 9 bulan. Dari hasil studi Badan Penelitian dan pengembangan dan Dirjen PPM&PL Kementrian Kesehatan di 4 provinsi, 18,6-32,6% anak sekolah mempunyai kadar campak di bawah batas perlindungan, sehingga dijumpai kasus campak pada anak usia sekolah. Karena itu selain vaksinasi umur 9 bulan, vaknisasi campak dapat diberikan pada kesempatan kedua pada mur 6-59 bulan dan SD kelas 1-6.

Vaksin Hib (Haemophillus influenza tipe b) disuntikkan pada umur 2, 4 dan 6 bulan, dapat diberikan dalam bentuk kombinasi, yang bertujuan untuk mempersingkat jadwal vaksinasi, mengurangi jumlah suntikkan dan mengurangi kunjungan. Vaksin Hib perlu diulang pada umur 15 bulan. Vaksin pneumokokus dapat diberikan pada umur 2, 4, 6, 12-15 bulan. Pada umur 7-12 bulan, diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur > 1 tahun diberikan 1 kali, namun keduanya perlu dosis ulangan 1 kali pada umur > 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali. Vaksin influenza berisi dua virus influenza subtipa A dan subtype B.Vaksin influenza untuk mencegah flu berat yang disebabkan oleh virus influenza. Vaksin influenza disuntikkan pada anak umur 6-23 bulan, setiap tahun. Untuk vaksinasi primer anak diberikan pada umur 6 bulan - <9 tahun.diberikan 2 kali dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan jika anak belum mendapat vaksinasi campak pada umur 9 bulan. Selanjutnya vaksinasi ulangan diberikan [ada umur 5-7 tahun. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, vaksin rotavirus pentavalen diberikan 3 kali. Vaksin rotavirus monovalen dosis I diberikan umur 6-14 minggu, dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Sebaiknya vaksin rotavirus monovalen selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan tidak melampaui umur 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen : dosis ke-1 diberikan umur 6-12 minggu, interval dosis ke-2, dan ke-3 4-10 minggu, dosis ke-3 diberikan pada umur < 32 minggu (interval minimal 4 minggu). Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Bila diberikan pada umur > 12 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.

BAB III KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN Kelompok A7 mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan field lab di Puskesmas Wonogiri I yang terletak di desa Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan field lab keterampilan imunisasi dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan.
A.

Pertemuan I Selasa , 27 Maret 2012 Kegiatan yang kami lakukan pada minggu pertama field lab di Puskesmas Wonogiri I adalah mendapat bimbingan dari dr. Pitut Kristiyanta Nugraha, MM selaku kepala Puskesmas Wonogiri I. Kami mendapat pengarahan tentang keterampilan imunisasi . Setelah dijelaskan tentang materi imunisasi , kami dijelaskan oleh yaitu Bapak Tari Hutomo, AMG selaku ketua Pokja Gizi tentang 7 pokja , asupan gizi yang baik diberikan pada bayi dan balita, dan penanganan-penanganan dalam masalah gizi pada bayi dan balita . Kami mendapat pengerahan dari Ibu Marmi tentang pengenalan alat imunisasi , vaksin-vaksin yang digunakan untuk imunisasi , cara penyimpanan vaksin yang benar , dan perhitungan sasaran dan target cakupan . Kami mendapat pengarahan dari instruktur lapangan Ibu Idayu K. E, SKM selaku ketua Pokja Promosi Kesehatan dan instruktur lapangan , beliau menjelaskan tentang kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan ke 2 dan ke 3 , pembagian kelompok kecil , dan pengarahan tentang sistem pembuatan laporan field lab . Kelompok kami terdiri dari 11 mahasiswa yang dibagi menjadi 3 kelompok yang ditentukan dengan cara diundi namanya secara acak untuk pelaksanaan observasi pada pertemuan kedua. Berikut ialah rincian pembagian kelompok kecil: 1. Kelompok 1 : Rifqi Hadyan , Fitri Febrianti Ramadhan , Egtheastraqita Chitivema , R.A. Sitha Anisa

2.
3.

Kelompok 2 Kelompok 3 Ramadhani

: :

Riyan Angga Putra , Ery Radiyanti , Arga Scorpianus , Siti Nurhidayah , Dhia

Rachmania Budiati , Ida Bagus Ananta

Tiap kelompok tersebut melakukan kegiatan observasi imunisasi terhadap 20 bayi . B. Pertemuan II Rabu, 28 Maret 2012 Pertemuan kedua, setiap kelompok kecil melakukan penerapan pendekatan MTBS dan MTBM secara langsung sesuai arahan yang diberikan. Kelompok 1 dan kelompok 2 melakukan home visit untuk penerapan MTBM di rumah penduduk sekitar, sedangkan kelompok 3,4,5 melakukan penerapan MTBS di Puskesmas Wonogiri I. 1. Kelompok 1 (MTBM) Kelompok 1 beranggotakan Nur Zahratul Jannah dan Putri Dini Azika. Kami melakukan kunjungan ke rumah keluarga Ibu Pariani Widayani di Banaran RT 02 RW 10, Wonoboyo, Wonogiri. Ibu Pariani memiliki seorang anak laki-laki berusia 14 hari yang bernama Adrian Heraldi Adinata. Adrian adalah anak pertama yang lahir pada tanggal 28 Maret 2012 dengan berat lahir 3960 gram. Hasil pemeriksaan suhu dan berat badan per axilla 36,4 Celcius dan berat badan 4000 gram. Penilaian MTBS yang kami lakukan lakukan sesuai dengan form MTBS untuk bayi muda umur 1 hari sampai 2 bulan. Pada bayi, tidak terdapat riwayat kejang, sehingga klasifikasi kemungkinan kejang adalah negatif atau normal. Hasil pemeriksaan jumlah nafas 41 kali permenit. Bayi tidak tampak biru, tidak dijumpai tarikan pada dinding dada, bayi merintih, maupun pernafasan cuping hidung. Kami memeriksa hipotermia pada langkah selanjutnya. Pada bayi didapatkan suhu tubuh per axilla 36,4 Celcius dengan menggunakan termometer digital. Pada bayi tidak didapatkan hipotermia, tidak didapatkan sklerema (bagian tubuh bayi yang berwarna merah dan

mengeras), serta tidak teraba dingin pada ekstrimitas. Bayi juga menunjukkan gerakan yang normal. Kami tidak menjumpai tanda-tanda infeksi bakteri pada bayi, tidak didapatkan kejang, gangguan nafas, malas minum / tidak bisa minum dengan atau tanpa muntah, sklerema, ubun-ubun cembung, suhu tubuh <36 C atau >37,5 C, pustul, mata bernanah, nanah keluar dari telinga, pusar kemerahan atau berbau busuk. muda. Pemeriksaan ikterus juga kami lakukan. Hasil pemeriksaan tidak didapatkan ikterus maupun tinja yang berwarna pucat, sehingga kemungkinan gangguan saluran cerna, hasilnya adalah negatif / tidak ada gangguan pada saluran cerna. Bayi tidak muntah, bayi tampak tenang, tidak gelisah maupun rewel, perut tidak kembung dan tegang, tidak teraba benjolan atau masa di perut, sekrtesi air liur normal, buang air besar lancar dan normal, ada lubang anus, dan tidak diare. Hasil pemeriksaan menunjukkan berat badan lahir bayi normal, tidak terdapat gangguan minum asi dengan frekuensi minum ASI adalah 6 hingga 8 kali perhari. Selain diberikan ASI, bayi juga diberi susu formula 2 kali sehari, masing-masing sebanyak 200 ml. Alat yang digunakan untuk memberi susu formula adalah dot bayi. Pada bayi tidak terdapat luka atau bercak putih dimulut dan tidak ada celah pada bibir dan langit-langit. Penilaian status imunisasi, bayi telah mendapatkan imunisasi yang sesuai dengan umur, yaitu Hepatitis B1 ketika lahir. 2. Kelompok 2 (MTBM) Kelompok 2 beranggotakan Ema Nur Fitriana dan Kristiana Margareta. Kami melakukan kunjungan rumah di rumah Ibu Anis Nurleli di Desa Wonoboyo RT 03 RW 09, kecamatan Wonogiri. Ibu Anis Nurleli 39 tahun yang 1,5 bulan yang lalu melahirkan anak ketiganya secara normal. Kami melakukan kunjungan rumah untuk penerapan MTBM. Tindakan yang kami lakukan adalah mengedukasi mengenai perawatan bayi dirumah dan asuhan dasar bayi

Bayi bernama Najida berumur 6 minggu dilahirkan normal dengan bantuan bidan. Berat lahir 4000 gram, panjang 53 cm, berat badan 5300 gram dan suhu tubuh 36,9oC. Hasil anamnesis diketahui bahwa ini adalah kali pertama Najida dilakukan pemeriksaan MTBM dan sedang tidak mengalami suatu keluhan. Riwayat dahulu, Najida dilahirkan maju 1 bulan dari perkiraan dokter dan Ibu Anis pernah hampir terpeleset saat sedang mengandung Najida. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Ibu Anis memeriksakan kandungannya ke dokter dan dari hasil pemeriksaan letak bayi menjadi melintang, kemudian dokter memberikan Ibu Anis obat untuk diminum selama 5 hari, dan selang beberapa hari setelah itu Najida dilahirkan secara normal tanpa kelainan apapun. Data yang kami peroleh juga Ibu Anis tidak mempunyai riwayat Diabetes Militus gestasional, hipertensi, Eklamsia, maupun kelaianan lain yang berisiko terhadap kandungannya. Kami juga memeriksa adakah riwayat kejang dan tanda bahaya lain pada Najida, dan hasilnya adalah negatif. Hitung napas Najida 35 kali/menit dengan periode napas berhenti sekitar 5 detik, tidak tampak biru, tidak ada tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak merintih, tidak ditemukan kemungkinan infeksi bakteri, tidak tampak kuning, tidak muntah, tidak rewel, tidak gelisah dan tidak ada darah dalam tinja, tidak mengalami diare. Pemeriksaan kemungkinan berat badan rendah dan/atau masalah pemberian ASI dilakukan dengan anamnesis, berat Najida saat lahir adalah 4000 gram, tidak ada masalah dalam pemberian ASI, dan intensitas pemberian ASI dalam sehari lebih dari 8 kali. Berdasarkan keterangan orang tua, didapatkan bahwa Najida tidak diberi makanan/minuman lain selain ASI. Najida secara fisik tidak terdapat celah bibir/langit-langit, luka, bercak putih di mulut, dan sudah diberi ASI 1 jam yang lalu. Hasil pengamatan praktek posisi menetek Najida sudah benar, melekat dengan baik dan menghisap dengan efektif, serta telah diberi imunisasi Heptitis B, BCG dan Polio.

3. Kelompok 3 (MTBS) Kelompok 3 beranggotakan Ensan Galuh Pertiwi dan Wisnu Yudho Hutomo. Kami mendapatkan kesempatan untuk melakukan MTBS pada anak bernama Syifa yang datang bersama ibunya ke Puskesmas Wonogiri I. Kami mendapati balita tampak sakit dan suhu tubuh teraba panas. Penatalaksanaan dimulai dari identitas, heteroanamnesis sesuai dengan daftar pada formulir MTBS kepada ibu dari Syifa. Hasil anamnesis didapatkan balita sakit dengan nama Syifa usia 3 tahun, keluhan utama batuk, pilek, serta tidak nafsu makan. Pertanyaan kemudian dilanjutkan sesuai dengan form MTBS sambil dilakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran antropometri dengan mengukur tinggi badan Syifa selanjutnya dilakukan pemeriksaan nafas dengan mengamati nafas selama satu menit, didapatkan hasil nafas 33x permenit, tidak ada stridor ataupun dinding dada yang tertarik ke dalam. Suhu tubuh Syifa diukur dengan termometer raksa dengan meminta bantuan pada ibu balita sakit untuk membantu dan didapatkan hasil 37,5C. Penatalaksanaan dilanjutkan dengan mengarahkan ibu Syifa dan Syifa ke ruang KIA untuk dilakukan pemeriksaan oleh dokter agar diketahui diagnosis lebih pasti. Di ruang KIA dokter melakukan pemeriksaan pada Syifa sedangkan kami mengamati dan mendengarkan masukan dari dokter. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan kemudian dokter membuatkan resep dan kami mengantarkan ibu Syifa dan Syifa untuk mengambil obat. 4. Kelompok 4 (MTBS) Kelompok 4 beranggotakan Raden dan Farida, mendapati balita sakit bernama Septian yang berusia 1 tahun 6 bulan dengan berat badan 10 kg dan tinggi badan 80,5 cm. Anak tersebut datang bersama kedua orang tuanya dengan keluhan flu dan batuk. Raden melakukan pemeriksaan fisik,

sedangkan Farida menanyakan hal-hal sesuai formulir MTBS. Balita Septian termasuk balita yang agak rewel dan susah untuk diperiksa. Kami berusaha menenangkan balita Septian dengan bantuan orang tuanya kemudian kami melakukan pemeriksaan berdasarkan formulir MTBS. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien flu dan batuk, tidak ada tanda bahaya umum, suhu tubuh 37,2C, tidak anemis, napas sebanyak 44 kali permenit, tidak terdapat kelainan pada telinga serta tidak nampak kurus maupun gemuk. Berdasarkan alloanamnesis terhadap orang tuanya, anak tersebut sudah 2 hari flu dan batuk, berat badan turun 1 kg, nafsu makan menurun, tidak diare, imunisasi lengkap dan sudah diberi vitamin A. Anak tersebut masih minum ASI, namun sudah mau makan nasi dan sayur. Raden dan Farida lalu mengantarnya ke ruang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk pemeriksaan lanjut dan pemberian terapi oleh dokter puskesmas. Mereka diarahkan menuju apotek untuk pengambilan obat setelah diberi resep obat oleh dokter poli KIA. 5. Kelompok 5 (MTBS) Kelompok lima beranggotakan Bobbi Juni Saputra, Dwi Rachmawati H, dan Nimas Ayu Suri Patriya. Giliran kegiatan MTBS oleh kelompok kelima dimulai pada pukul 09:00. Kelompok kelima mendapatkan balita bernama Hanif. Balita Hanif cukup rewel dan agak susah untuk dilakukan pemeriksaan. Kami berusaha melakukan pendekatan kepada balita Hanif agar dapat dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, kami melakukan pemeriksaan sesuai dengan tatalaksana formulir MTBM balita sakit umur 2 bulan sampai 5. Hasil pemeriksaan didapatkan balita Hanif berumur 48 bulan, berat badan 11 kg, dan tinggi badan 92,5 cm dengan keluhan diare. Pemeriksaan dilakukan secara anamnesis dan pengamatan dengan hasil tidak ditemukan adanya tanda bahaya umum seperti tidak bisa minum atau menetek, tidak memuntahkan semua makanan, tidak kejang dan letargis atau tidak sadar, tidak mengalami batuk, diare sejak satu hari yang lalu, tidak ditemukan

darah namun lendir dalam tinja, tidak mengalami demam saat ini namun pada 5 hari yang lalu. Usai melaksanakan kegiatan MTBS dilakukan konsultasi dan pembahasan mengenai kasus yang ada oleh Ibu Asli dan Bapak Hutomo. C. Pertemuan III Rabu, 4 April 2012 Pertemuan ketiga direncanakan untuk kegiatan seminar (presentasi hasil) kegiatan field lab MTBS di ruang aula Puskesmas Wonogiri I. Seminar ini akan dihadiri oleh tujuh Pokja yaitu Pokja Admin (Suseno, HS), Pokja Yanmen (dr. Indri S), Pokja Kesga (Aslihatut T, AM.Keb), Pokja Gizi (Tari Hutomo, AMG), Pokja P2 (H. Marsudi, S.Kep), Pokja Kesling (Bambang H, Am.KL), Pokja Promkes (Idayu KE, SKM), Bendahara (Dwi Rahmanti, SKM) dan Dokter Poli KIA (Tri Rahayu Sutanti, dr.).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel: Daftar Identitas Bayi beserta Jadwal Imunisasinya Tanggal 1 Mei 2012 No Nama Bayi Nama Orang Alamat Tua Umur (bulan) Berat Jenis yang Diberikan 1 M. Wildan Aprilia Dwi Pokok 3 5.6 DPT/HB Polio 3 2 Rahmad W. 3 Armeta D. Didik S. A. 4 Satria Ardi Jati Bedug Triyanto 2 5.5 Semin W 9 8.4 Suyoto Bulusulur 4 7.6 DPT/HB Polio 4 Polio Campak DPT/HB Polio 2 5 6 Fina Joevita Davit Suparjo Sumberejo Lemah Ireng 10 3,7 7 5.2 Campak DPT/HB Polio 3 7 8 Arya Nabila Jihan 9 Arfo Setyo Kurang 2 bulan 10 Narendra Joko P. Geneng 5.2 Marsikin Kusmanto Sumberejo Pokok 9 2,5 6.5 4.5 Campak DPT/HB Polio 2 DPT/HB 2 , Polio DPT/HB Polio 2 11 Alya Deyvi Panji Semin W 4.5 4.9 DPT/HB 3, 1, 1, 2, 1, 4, 3, 2,

Badan Imunisasi

Polio 4 12 M. Saka Sumadi Jati Bedug 4 7.1 DPT/HB Polio 4 13 Nikita Ribut Geneng 2 4.5 DPT/HB Polio 2 14 Devi Supriyadi Bulusulur 4.13 5.6 DPT/HB Polio 4 15 Mifta Tuqi Tri H. Geneng 9 7.9 Polio Campak 16 Naumi Beni Pokok 2 4.5 DPT/HB Polio 2 17 18 Qiana Zea Fathin Putri 19 20 21 Zivara Kurniawan Suranto Siswanto Groglon Ringinharjo Cubluk 19 hari 9 3.5 4.2 7.8 5.5 BCG, Polio 1 Campak DPT/HB Polio 2 Sutarmo Bonaran 2.8 5.5 DPT/HB Polio 2 23 Ananda gagah 24 Abimanyu Jumadi Bulusari 2 4.5 Suroso Jati Bedug 5 6.8 DPT/HB Polio 4 DPT/HB Polio 2 25 Yanuar Santana Bulusari 4 6.4 DPT/HB Polio 3 26 qunarsih Marsono Geneng 2.5 4.8 DPT/HB Polio 2 1, 2, 1, 3, 1, 2, Sangga Suranto Pokok Pokok 19 hari 21 hari 3 3 BCG, Polio 1 BCG, Polio 1 1, 4, 3, 1, 3,

Sofia Putri Heri Utami

22

Anugrah

27

Azhaka

Tarmin

Malangsari

5.9

DPT/HB Polio 3

2,

28

Nia Aulia

Barono

Sukorejo

5.7

DPT/HB Polio 4

3,

29 30 31

Navis Kemala Defa

Sugeng P. Ratno Slamet

Norogo Lemah Ireng Lemah Ireng

23 hari 9 3

3.3 6.4 5.5

BCG, Polio 1 Campak DPT/HB Polio 3 2,

32 33

Khanza Hanif

Wahyu Wardoyo

Mloko Weta Geneng

9 2

8.6 5.7

Campak DPT/HB Polio 2 1,

34

Satrio

Sunarto

Jatirejo

9.2

9.8

Polio Campak

4,

35 36 37 38

Iqbal Zaki Nabil Iyustisia Hanif

Domo Sandi Tukini Purwanto

Bulusari Pokok Manjung W Brubuh

1 29 hari 23 hari 4

3.6 3.7 3.7 6.8

BCG, Polio 1 BCG, Polio 1 BCG, Polio 1 DPT/HB Polio 4 3,

39

Fasha

Edi Suyitno

Jati Bedug

7.1

Polio Campak

4,

40

Daril

Erik

Kedungringin

2.5

5.8

DPT/HB Polio 2

1,

41

Asifa

Eri Nurjianto

Lemah Ireng

4.5

5.5

DPT/HB Polio 4

3,

42 43

Vransisca Mahardika

Petrus Tri Mahardiyanto

Kedungsono Trines

1 1

2.9 4.5

BCG, Polio 1 BCG, Polio 1

44

Eka

Sriyono

Kedungsono

9.5

6.4

Campak

Yuliana 45 Dwi Suyanto 46 Hasan Slamet Suradi Pokok 3 7.5 Sulardi Kedungsono 4 5.5 DPT/HB Polio 4 DPT/HB Polio 3 47 48 49 Fara Reihan Syarif G. Umarwanto Tri Setyo N Parta Wonosari Samin W. Wiro Warurejo 50 Nadalia Edi Wonosari 4 6.5 DPT/HB Polio 4 51 Valintina Alex Bewresan 2.5 5.5 DPT/HB Polio 2 52 Vlavio Darmoade Geneng 4 6.9 DPT/HB Polio 4 53 Febriana Endra Jati Bedug 3 4.3 DPT/HB Polio 2 54 Bagus Supadi Bulusari 4 6.3 DPT/HB Polio 4 55 56 57 Panca Alivia Bella Edqina 58 Adiyasta Suratno Jatirejo 3 5.5 Edi Agung Beni Kerjo Lor Kebonarum Bulusari 9 10.5 2 9 7 4.7 Campak Campak DPT/HB Polio 2 DPT/HB Polio 3 59 Fandy Nur Sihmiadi Pokok 9.5 7.1 Polio Campak 60 Anugrah Andri Sanggrahan 4.5 5.1 DPT/HB 1, 4, 2, 1, 3, 1, 3, 1, 3, 11 20 hari 9.5 7.7 3.9 9.2 Campak BCG, Polio 1 Campak 2, 3,

Wibowo 61 Anaya Joko Tiyono Bulusari 2 3.8

Polio 2 DPT/HB Polio 2 1,

62

Safira

Eka Hermawan

Bulusulur

DPT/HB Polio 4

3,

63

Alsa

Dedi Kristianto

Ngerca

4.6

DPT/HB Polio 2

1,

64 65

Salfa Aufa Jausa

Agus Suratman

Pengkol Pelem

29 5.5

2.2 7

BCG, Polio 1 DPT/HB Polio 4 3,

B. Pembahasan Sebagian besar bayi telah mendapatkan imunisasi sesuai jadwal dan sejalan dengan teori yang ada. Namun ada beberapa permasalahan pada beberapa bayi, diantaranya:
1. Nama bayi

: Armeta D. A. : Didik S. : Semin W : 9 bulan : 8.4 kg : Polio 4, Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

2. Nama bayi

: Arya : Marsikin : Sumberejo : 9 bulan : 6.5 kg : Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

3. Nama bayi

: Arfo Setyo :::::-

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

4. Nama bayi

: Mifta : Tuqi Tri H. : Geneng : 9 bulan : 7.9 kg : Polio 4, Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

5. Nama bayi

: Sofia Putri Utami : Heri : Cubluk : 3.5 bulan : 5.5 kg : DPT/HB2, Polio 2

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

6. Nama bayi

: Satrio : Sunarto : Jatirejo : 9.2 bulan : 9.8 kg : Polio 4, Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

7. Nama bayi

: Fasha : Edi Suyitno : Jati Bedug : 9 bulan : 7.1 kg : Polio 4, Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

8. Nama bayi

: Vransisca : Petrus : Kedungsono : 1 bulan : 2.9 kg : BCG, Polio 1

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

9. Nama bayi

: Fandy Nur : Sihmiadi : Pokok : 9.5 bulan : 7.1 kg : Polio 4, Campak

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

10. Nama bayi

: Anugrah : Andri Wibowo : Sanggrahan : 4.5 : 5.1 : DPT/HB 1, Polio 2

Nama orang tua Alamat Umur Berat Badan Jenis Imunisasi

Seperti yang kita ketahui imunisasi mempunyai jadwalnya masing-masing. Tetapi ada beberapa permasalahan yang kita dapatkan pada beberapa bayi yang disebuttkan di atas. 1. Pergeseran jadwal imunisasi
1) Bayi Fandy Nur, Fasha, Satrio, Mifta, Armeta mendapatkan imunisasi

Polio 4 dan Campak secara bersamaan. Imunisasi Polio 4 seharusnya diberikan pada umur 4 bulan dan Campak diberikan tersendiri pada umur 9 bulan.

2) Bayi Anugrah dan Sofia Putri medapatkan imunisasi DPT/HB1 dan Polio 2 di umur yang lebih dari 2 bulan. Imunisasi DPT/HB1 dan Polio 2 seharusnya dapat diberikan pada umur 2 bulan sesuai dengan jadwal imunisasi. Pergeseran jadwal imunisasi ini bisa terjadi karena beberapa alasan salah satunya ketidakdisiplinan orang tua dalam membawa anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi. Tetapi pada kenyataannya beberapa imunisasi masih dapat diberikan kepada bayi sampai umur 11-12

bulan ( BCG dapat diberian sampai umur 11 bulan dan polio, campak, DPT dapat diberikan sampai umur 12 bulan ). Walaupun pemberiannya harus lengkap sesuai dengan imunisasi dasar yang diberikan termasuk dosis yang tepat. 2. Sakit Bayi Arya berumur 9 bulan datang ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi campak tetapi karena demam maka dilakukan penundaan imunisasi sampai Arya benar-benar sehat. Sebenarnya demam atau panas bukan merupakan kontra indikasi dari pemberian imunisasi tetapi untuk menghindari tingkat keparahan dari kejadian pasca imunisasi seperti vaksin DPT yang mempunyai efek samping menimbulkan panas selain itu untuk menghindari prasangka buruk dari masyarakat kepada petugas puskesmas akan demam yang terjadi imunisasi tersebut. 3. Kurang umur Bayi Arfo umur kurang dari 2 bulan datang ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi DPT/HB 1 dan polio 2, tetapi imunisasi ini tidak dapat diberikan karena kurang umur. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktahuan orang tua akan jadwal imunisasi yang tepat. 4. Kurang gizi Bayi Vransiska umur 1 bulan dengan berat badan 2.9 kg di berikan imunisasi BCG dan Polio 1. Sebenarnya bayi kurang gizi bukan merupakan kontra indikasi oleh karena itu Vransiska tetap diberikan imunisasi. Pihak puskesmas seharusnya memberikan edukasi kepada orang tua tentang bagaimana pemberian makanan seimbang dan bergizi kepada anak tersebut. Timbangan yang digunakan dalam penimbangan berat badan bayi sebelum imunisasi sudah rusak terutama pada kalibrasi timbangan sehingga hasil penimbangan merupakan hasil yang kurang akurat dan hal ini akan berdampak pada penentuan status gizi bayi yang bersangkutan. Sehingga perlunya penyediaan

timbangan yang layak pakai dan tidak mengacaukan hasil penimbangan dan penentuan status gizi bayi. Bayi yang ditimbang berat badannya sebaiknya menggunakan pakaian seminimal mungkin agar hasil penimbangan yang didapatkan benar-benar merupakan hasil yang akurat. Namun pada kenyataan di lapangan, banyak bayi memakai pakaian yang berlebihan termasuk topi dan sepatu. Hal ini akan dapat menjadi faktor perancu hasil penimbangan berat badan bayi dan penentuan status gizinya. Sehingga hendaknya petugas puskesmas memberikan pengertian kepada orang tua tentang perlunya penggunaan pakaian seminimal mungkin pada anaknya sebelum ditimbang. Air yang digunakan untuk sterilisasi pada daerah yang akan disuntik tidak dijaga suhunya mulai dari awal pelaksanaan imunisasi yaitu pukul 7.30 WIB hingga pelaksanaan imunisasi berakhir pukul 10.10 WIB. Akibatnya??? Sehingga perlunya memantau suhu dan mengganti air tersebut sesegera mungkin setiap kali didapatkan air yang digunakan dalam sterilisasi tersebut sudah tidak hangat lagi. Beberapa orang tua tidak membawa buku KIA (Kesehatan Ibu Anak) dengan berbagai alasan mulai dari lupa sampai dengan hilang, akibatnya terjadi hambatan dalam pemantauan jadwal imunisasi sehingga petugas puskesmas kesulitan menentukan jenis vaksin. Penentuan jenis vaksin yang akan diberikan hanya mengandalkan keterangan dan pernyataan dari ibu tentang vaksin apa saja yang sudah diberikan sebelumnya. Oleh karena itu, dibutuhkan persetujuan dari ibu mengenai kesanggupan pemberian imunisasi dan kebenaran informasi yang disampaikan guna menghindarkan dari kejadian yang tidak diinginkan pasca imunisasi dan hendaknya petugas puskesmas selalu mengingatkan untuk selalu membawa buku KIA setiap kali imunisasi dan memberikan pengertian kepada orang tua tentang pentingnya informasi yang terdapat pada buku KIA tersebut dalam menunjang pelaksanaan imunisasi dan pemantauan status gizi anak.

Penyuntikan BCG dilakukan dua kali pada tempat yang sama tanpa sterilisasi ulang disebabkan injeksi pertama terlepas karena bayi menangis dan banyak bergerak. Akibatnya??? Sebaiknya kyk gmn? Solusinya apa? Sesekali didapati cairan vaksin masih tertinggal dalam alat suntik. Ini berarti dosis vaksin yang diberikan kurang yang dapat mengakibatkan tidak optimalnya imunisasi yang diberikan guna memberikan pajanan dari luar dalam membentuk kekebalan tubuh bayi yang bersangkutan. Sebaiknya petugas imunisasi benar-benar cermat dalam pemberian dosis vaksin yang bersangkutan termasuk keluarnya vaksin akibat pembuangan gelembung vaksin dan hendaknya memasukkan vaksin dengan melebihkannya sedikit dari dosis yang ditetapkan agar dosis vaksin tersebut tepat diberikan. Vaksin beku kering (BCG dan campak) sebelum digunakan hendaknya dioplos atau dilarutkan terlebih dahulu. Terdapat beberapa prosedur pelarutan vaksin beku kering. Salah satu diantaranya adalah dengan melilitkan plastik pada leher ampul vaksin maupun pelarut yang akan dipatahkan lehernya untuk mencegah kontaminasi dari masuknya udara secara mendadak ke dalam ampul waktu dipatahkan dan agar vaksin tidak berhamburan keluar. Namun pada kenyataan di lapangan, pematahan ampul dilakukan tanpa melilitkannya dengan plastik namun dengan menggunakan baju petugas imunisasi yang dapat menyebabkan timbulnya kontaminasi baik pada vaksin maupun pelarut. Sebaiknya petugas imunisasi mematuhi dan melaksanakan prosedur pematahan leher ampul agar imunisasi yang diberikan tersebut benar-benar optimal. Agar sterilisasi tetap terjaga, dapat ditunjang melalui penggunaan hand scone oleh petugas imunisasi pada pemberian imunisasi. Selain itu juga diperlukan asisten tambahan guna membantu kelancaran pemberian imunisasi dan pemberian sosialisasi kepada orang tua tentang imunisasi yang bersangkutan dan efek samping yang mungkin timbul akibat imunisasi tersebut.

Pencampuran antara pelarut dan vaksin beku kering tidak boleh dilakukan dengan mengkocok namun dilakukan dengan mengisap vaksin dan pelarut pelanpelan dan meyuntikan kembali ke dalam ampul atau vial beberapa kali sampai vaksin tercampur. Namun, pada kenyataannya pencampuran pelarut dan vaksin dilakukan dengan cara mengocok. Akibatnya???

BAB V SIMPULAN DAN SARAN