Anda di halaman 1dari 17

Sistem Sosial pada Dewasa Madya

PENDAHULUAN Dewasa Madya melalui tinjauan Sistem Sosial Berjalannya kehidupan masyarakat dapat disebut sebagai sistem sosial di mana kehidupan masyarakat dan perilakunya dipengaruhi dan mempengaruhi sistem tersebut. Dalam ilmu sosial, sistem dipelajari melalui dua kategori yaitu sistem makro dan sistem mikro. Sistem makro melihat pada perilaku kelompok besar serta prosesnya yang menjadi bagian dari masyarakat. Sedangkan sistem mikro melihat pada dampak dari kelompok besar tersebut terhadap perilaku individu-individu. Kelompok dewasa madya merupakan salah satu bagian dari masyarakat serta sistem sosial yang memiliki peran untuk membangun keluarga serta kehidupan sosial ekonominya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai dewasa madya melalui tinjauan sistem sosial yang erat kaitannya dengan kondisi sosial dan ekonomi yang mencakup kemiskinan, pengangguran, dan kondisi sosial dalam keluarga.

PEMBAHASAN MATERI Kemiskinan merupakan hal yang erat kaitannya dengan kondisi ekonomi dan sosial. Dalam pembahasan kali ini yaitu sistem sosial pada dewasa madya, kemiskinan dapat menjadi satu penyebab munculnya masalah pada masa ini termasuk pada keluarga. Oleh karena itu akan dijabarkan penjelasan mengenai kemiskinan yang akan dilanjutkan dengan implikasinya terhadap sistem dalam keluarga. Kemiskinan Kemiskinan cenderung terjadi pada masyarakat yang memiliki karakteristik seperti: 1. One-Parent Families Sebagian besar menjadi orang tua tunggal sering terjadi terhadap perempuan, seperti single mother. Single mother selalu mendapat diskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan yaitu pada gender atau jenis kelamin. Pada umumnya seorang wanita sulit mencari pekerjaan dibandingkan kaum laki-laki, hal ini dikarenakan wanita sering dipandang sebelah mata bahwa wanita adalah kaum yang lemah, tidak dapat berpikir secara rasional dan lebih banyak menggunakan perasaan dalam bertindak atau memutuskan suatu hal. Hal yang serupa juga

terjadi di Indonesia seperti banyaknya kasus perceraian yang mengakibatkan seorang ibu harus berjuang untuk memenuhi kehidupan anak-anaknya, tidak jarang wanita yang hidup sebagai single mother dipandang buruk oleh sebagian masyarakat karena mereka dianggap tidak mampu menjaga dan menjalankan sebuah keluarga yang utuh. Namun pada masa sekarang ini banyak single mother yang bangga akan statusnya, karena mereka menganggap mampu menghidupi dan memenuhi segala kebutuhan keluarga dan anak-anaknya tanpa adanya seorang pendamping di sisinya yaitu suami. 2. Children Di Indonesia, banyak anak-anak yang tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak bagi dirinya. Sehingga sejak kecil mereka memang diajarkan oleh orang tuanya untuk mencari uang dengan cara bekerja atau menjadi pengemis dan pengamen jalanan. Karena semakin berkurangnya perhatian dari pemerintah terhadap kasus ini maka jumlah anak-anak yang miskin semakin bertambah setiap tahunnya di Indonesia. 3. The Elderly Dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, sebagian besar kaum lanjut usia atau lansia bergantung kepada jaminan dana pensiun dihari tua atau bentuk-bentuk usaha pribadi yang dapat membantu dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Kondisi yang terjadi di Indonesia adalah, umumnya orang-orang yang berusia lanjut mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sehingga mereka harus terus bekerja ataupun masuk kedalam panti-panti jompo yang bersedia menampung mereka, dibandingkan jika mereka harus tinggal di jalanan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Banyak juga lansia-lansia yang sudah merencanakan kehidupannya di hari tua, sehingga ketika mereka menghadapi hari tuanya, mereka tidak akan mengalami stress (tekanan) karena kurangnya pemasukan dalam keluarga. Biasanya mereka lebih memilih untuk membuka usaha pribadi seperti membuka warung makan, atau usaha-usaha yang berhubungan dengan hobi atau kegemarannya. 4. Large-Size Families Ukuran keluarga yang besar juga dapat tergolong yang menyebabkan kemiskinan. Hal ini dikarenakan dengan jumlah keluarga yang besar maka dibutuhkan pula pemasukan atau pendapatan yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga. 5. Minorities

Diskriminasi ras merupakan salah satu penyebab mengapa banyak kelompok-kelompok minoritas rasial yang menderita kemiskinan. Hal ini dapat terjadi karena kaum minoritas tidak terhindar dari kemungkinan diskriminasi dalam kehidupan sosial. 6. The Homeless (Tuna Wisma) Salah satu gejala dari kemiskinan adalah orang-orang tidak memiliki sumber penghasilan dalam kehidupannya untuk mendapatkan sebuah tempat tinggal. Homeless di sini termasuk juga mereka yang mengalami masalah-masalah dalam ekonomi seperti pengangguran, mereka yang memiliki masalah-masalah pribadi (seperti perceraian, kekerasan domestik, atau masalah yang berhubungan dengan kesehatan), dan juga mereka yang tergolong sebagai orang yang memiliki penyakit mental yang kronis. Kategori-kategori ini ditemukan pada orang-orang yang terusir dari tempat tinggal atau kediamannya karena tidak memiliki biaya untuk membayarnya, pembentukan mental yang lebih tidak sabar, kehilangan masa mudanya serta pengangguran. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan Educational: Tidak tercapainya pendidikan wajib sembilan tahun memberikan prediksi bahwa kedepannya orang tersebut akan berada dalam kemiskinan. Namun dengan memiliki pendidikan sampai pada tingkat SMA juga tidak dapat menjamin seseorang akan memiliki penghasilan yang mencukupi serta mencegah dari kemiskinan. Employment: Menjadi seorang yang pengangguran tentu saja memiliki hubungan dengan kemiskinan. Bagaimanapun juga, walaupun seseorang memiliki suatu pekerjaan dan hal ini juga tidak dapat menjamin seseorang terhindar dari kemiskinan karena seseorang yang bekerja belum tentu bisa memenuhi kebutuhan dasar dari pendapatannya.

Place of Resident: Sebagian besar orang yang tinggal di rural area lebih berpotensi menjadi miskin dibandingkan dengan orang yang tinggal di urban area. Hal yang menyebabkan mengapa di pedesaan berpotensi menderita kemiskinan, karena pada umumnya gaji atau pendapatannya di desa lebih sedikit dibandingkan di perkotaan serta
ketesediaan lapangan kerja di desa juga sedikit. Selain itu orang yang tinggal di perkotaan

yang berada pada perkampungan kumuh juga merupakan kelompok yang berpotensi menderita kemiskinan. Hal ini dikarenakan masyarakat urban yang miskin kurang memiliki skill atau pendidikan sehingga tidak sanggup untuk berrsaing dalam pasar kerja dengan yang lain.

Kemiskinan: dalam beberapa Perspektif Perspektif Fungsionalis Fungsionalis melihat kemiskinan disebabkan oleh adanya disfungsi dalam

perekonomian. Salah satu contoh disfungsi perekonomian adalah adalah adanya proses industrialisasi yang pesat menyebabkan pada orang yang tidak memiliki keterampilan kerja dipaksa untuk kerja kasar dengan upah yang rendah. Dalam hal ini, kaum miskin terjadi disfungsi karena tidak menerima upah yang layak, namun di sisi lain, bagi kaum pemilik modal berfungsi untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi. Oleh karena itu, banyak fungsionalis yang melihat beberapa kesenjangan ekonomi (kemiskianan) sebagai hal yang fungsional. Karena orang miskin berada pada stratifikasi bawah, maka mereka yang pada stratifikasi atas lebih mendapatkan atau menerima beberapa penghargaan material dan sosial dalam masyarakat. Pemerintah pun sulit rasanya untuk mengubah aturan dalam rangka memberikan bantuan pada para kaum miskin. Perspektif Konflik Teori konflik menyatakan bahwa kemiskinan ada karena struktur kekuasaan yang menginginkan kemiskinan itu ada. Para pekerja dari golongan miskin dieksploitasi, dengan cara mereka dibayar dengan upah yang rendah sehingga membuat majikan mereka meraih keuntungan yang besar. Selain itu para pengangguran juga dipandang sebgai korban dari struktur kekuasaan. Teori konflik tidak melihat kemiskinan sebagai hal yang baik atau fungsional. Perspektif ini melihat kemiskinan merupakan masalah sosial dari kelompok yang merasa adanya distribusi sumber daya dan sosial yang tidak merata. Teori konflik percaya bahwa kemiskinan dapat ditangani dengan baik oleh masyarakat miskin yang menjadi sadar politik dan dapat mengorganisisr untuk mengurangi kesenjangan melalui tindakan pemerintah. Perspektif Interaksionis Perspektif interaksionis melihat kemiskinan sebagai hal yang subjektif dan sebagai hal yang seharusnya dapat dibagi. Masyarakat miskin dianggap tidak baik oleh pengaruh beberapa kelompok. Kelompok tersebut adalah objek yang memberikan tanda kepada orang miskin untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan oleh kelompok tersebut. Jadi ada maksud tertentu dari kelompok tersebut. Selanjutnya perspektif interaksionis memandang kemiskinan tidak hanya dari hal ketimpangan ekonomi saja, melainkan juga dari konsep diri seseorang. Untuk mengatasi masalah kemiskinan, interaksionis mendesak stigma dan asosiasi definisi negatif

dengan kemiskinan yang harus dihilangkan. Perubahan positif dalam kemiskinan tidak akan terjadi sampai orang miskin diyakinkan bahwa mereka tidak akan lama ditakdirkan untuk hidup dalam kemiskinan. Belenggu kemiskinan dapat dibentuk dengan memperbaiki program pertolongan publik yang membawa orang miskin dapat naik pada standar hidup yang lebih tinggi dan lebih baik. Program demikian juga dapat dikombinasikan dengan program yang membuka kesempatan bagi orang miskin untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonominya.

Permasalahan Dalam Aturan Pekerjaan Bekerja merupakan suatu fokus yang pokok dalam hidup. Dengan bekerja, seseorang tidak hanya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya tetapi juga dapat memberikan perasaan mengenai rasa harga diri, memberikan banyak kolega dan teman, serta menjadi sumber untuk pemenuhan diri. Persaingan dalam bekerja dapat membantu seseorang untuk lebih meningkatkan dirinya dalam berbagai hal seperti intelektual, psikologi, dan sosialnya. Bekerja secara tidak langsung juga menentukan posisinya dalam struktur sosial. Begitu pentingnya bekerja terlihat dalam sebuah penelitian yang menunjukkan lebih dari 80% masyarakat memilih untuk tetap bekerja meskipun telah memiliki uang yang cukup untuk memenuhi hidupnya tanpa bekerja. Walaupun demikian ternyata bekerja juga tidak selalu merupakan suatu hal yang mulia. Misalnya pada bangsa Yunani Kuno, mereka melihat bekerja sebagai sebuah kutukan yang membebankan umat melalui Dewa-Dewa. Begitu pula halnya seperti yang diungkapkan oleh Weber mengenai asketisme, yaitu cara hidup bermatiraga (berpuasa) untuk memperoleh keselamatan setelah mati. Asketisme ini misalnya dapat berupa mengurangi makan yaitu cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori saja yang tidak lebih dan tidak kurang, mengurangi kenikmatan, menggunakan pakaian yang perlu saja. Asketisme tidak hanya dilakukan pada kurun waktu tertentu saja melainkan menjadi gaya hidup seseorang. Dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, Weber memaparkan mengenai bagaimana Etika Protestan dapat mempegaruhi kapitalisme. Para penganut Calvinis mengurangi kecemasan akan takdirnya setelah mati dengan melakukan perbuatan baik seperti tidak hidup konsumtif, hidup hemat, dan bekerja keras. Hal tersebutlah yang kemudian mengakibatkan timbulnya semangat kapitalisme. Selain itu sebuah laporan pemerintah Work In America (1979), mengungkapkan bahwa mereka yang berada pada status pekerjaan yang rendah pada umumnya tidak mampu untuk membentuk sebuah identitas yang memuaskan dari pekerjaannya. Dengan begitu menunjukkan

bahwa dalam menilai pekerjaan tidak hanya dengan melihat berapa banyak upah yang didapat dari pekerjaan tersebut tetapi juga bagaimana persaingan dalam pekerjaan tersebut dapat menarik, memuaskan, dan membantu untuk mengembangkan dirinya. Setelah melihat uraian di atas, lalu terdapat dua masalah penting yang terdapat dalam aturan pekerjaan yaitu pengangguran dan mempelajari untuk dapat bertahan dalam suatu sistem birokrasi.

Pengangguran (unemployment) Pengangguran dapat mengakibatkan berbagai dampak buruk seperti mengurangi pendapatan baik diri sendiri maupun keluarga. Pengangguran jangka pendek mungkin tidak terlalu besar terlihat dampak buruknya, tetapi pengangguran dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan banyak dampak yang merugikan. Hal tersebut diungkapkan oleh beberapa ahli. Misalnya Wilensky (1966:129) mengungkapkan bahwa pengangguran jangka panjang dapat mengakibatkan dirinya kehilangan ikatan kerjanya, semakin jarang bertemu dengan teman-temannya, kehilangan partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, dan semakin terisolasi dari masyarakat. Braginsky dan Braginsky (1975:70) mengungkapkan bahwa pengangguran jangka panjang menyebabkan perubahan sikap yang terus bertahan meskipun sudah menjadi pekerja kembali. Semakin hari tingkat pengangguran di dunia semakin meningkat. Pengangguran dengan tingkat yang tinggi meliputi orang-orang minoritas, remaja, perempuan, pekerja yang sudah tua, mereka yang tidak memiliki keahlian (unskilled), dan semiskilled. Pengangguran yang berada pada ras atau kelompok yang minoritas seringkali mengalami diskriminasi untuk mendapatkan pekerjaan. Tingginya pengangguran di kalangan perempuan juga merupakan bagian dari diskriminasi. Banyak para pekerja (sebagian besar laki-laki) masih cenderung lebih mendahulukan memperkerjakan laki-laki daripada pemerpuan. Selain itu perempuan seringkali disosialisasikan pada pekerjaan dengan upah yang rendah, dianggap tidak mampu bersaing dengan laki-laki, dan adanya kepercayaan bahwa tempat perempuan adalah di rumah dan bukan untuk kerja. Adanya berbagai mitos yang mengatakan bahwa pekerja yang berusia tua, yaitu sekitar empat puluh tahun ke atas, dapat semakin sulit untuk mendapatkan sebuah pekerjaan baru jika mereka menjadi pengangguran. Mereka dianggap sudah kurang produktif, lebih sulit untuk dapat bekerja sama, sulit untuk diberi pelatihan, kesehatannya sudah menurun, dan sebagainya. Sedangkan remaja juga merupakan bagian yang sulit jika untuk pengangguran karena sebagian

besar perusahaan menerima pekerja yang sudah memilki pengalaman dan belum mampu untuk mendapatkan kemampuan latihan bekerjanya. Berbagai pekerjaan terkadang memperkerjakan orang-orang yang tidak memiliki keahlian (unskilled) untuk pekerjaan-pekerjaan yang mudah dan bentuknya berulang-ulang. Akan tetapi mereka yang unskilled tersebut juga akan sulit bersaing dengan orang-orang yang telah memiliki keahlian tertentu. Dengan begitu akan dapat mudah untuk menggantikan tempat orang-orang yang tidak memiliki keahlian tersebut.

Kaitannya dengan Sistem Keluarga: Masalah-masalah Empty-Shell Marriages Dalam keadaan ini pasangan telah tidak merasakan ikatan yang kuat lagi antara satu sama lain. Mereka tetap bersama dikarenakan adanya tekanan dari luar, misalnya dikarenakan alasan bisnis, investasi, dan demi menunjukkan hubungan baik kepada masyarakat. Selain itu, pasangan memiliki keyakinan bahwa dengan berakhirnya perkawinan akan melukai perasaan anak mereka. Disamping itu, mereka juga yakin bahwa secara moral adanya perceraian merupakan suatu kesalahan. John F. Cuber dan Peggy B. Harrof (1971) mengidentifikasi tiga tipe dari empty-shell marriages, yaitu devitalized relationship, conflict-abituated relationship, dan passivecongenial relationship. Dalam devitalized relationship, suami dan istri merasakan berkurangangnya ketertarikan terhadap pasangan atau pernikahan mereka. Kebosanan dan apatis terhadap satu sama lain merupakan karakteristik dari hubungan ini. Sedangkan dalam conflict-abituated relationship, sering terjadi perselisihan diantara kedua pasangan. Ciri-ciri dalam hubungan ini ialah adanya konflik, ketegangan, dan kebencian. Dalam passivecongenial relationship, kedua pasangan tidak merasa bahagia. Hal ini karena masing-masing pasangan memiliki kontribusi yang sedikit dalam memuaskan satu sama lain. Dalam tipe hubungan ini konflik jarang terjadi. Kehidupan dalam empty-shell marriages biasanya tanpa adanya banyak kegembiraan. Masing-masing pasangan tidak membagi atau mendiskusikan permasalahan dan pengalaman mereka. Komunikasi yang tejalin antara keduanya pun sangat minim. Dalam hal ini, jarang adanya ekspresi spontan dalam kasih sayang atau berbagi pengalaman pribadi. Anak dalam keluarga seperti ini pun akan merasakan haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Selain itu, dalam empty-shell marriages aktivitas yang dilakukan bersama sangat jarang, termasuk dalam berhubungan seksual. Divorce Little (1982) menyatakan bahwa alasan utama terjadinya perceraian ialah adanya kekecewaan terhadap satu sama lain, dimana apa yang dilakukan oleh pasangan mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan. Disamping itu, terdapat berbagai hal lainnya yang menyebabkan terjadinya perceraian, diantaranya ialah masalah ekonomi yang muncul karena pengangguran atau gangguan keuangan, sudah tidak adanya kecocokan diantara kedua pasangan, ketidaksetiaan, kecemburuan, kekerasan fisik atau verbal, dan campur tangan terhadap pernikahan yang dilakukan oleh keluarga atau teman. Alasan lain yang menyebabkan perceraian ialah ketidakinginan dari beberapa pria untuk menerima perubahan status yang dialami oleh perempuan. Banyak pria lebih memilih pada pernikahan tradisional, dimana suami lebih mendominasi, sedangkan istri hanya menjalankan perannya sebagai pendukung, seperti menjaga anak dan membersihkan rumah. Selain itu, perceraian dapat terjadi apabila masing-masing pasangan bersifat individulis dan hanya memikirkan diri mereka sendiri untuk bahagia, mengembangkan kepentingan dan kapasitas diri mereka, dan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi saja. Akibatnya ialah kepentingan individu berada diatas kepentingan keluarga. Sebaliknya, dalam masyarakat tradisional telah disosialisasikan untuk mendahulukan kepentingan kelompok terlebih dahulu. Dalam keluarga luas pun seperti demikian, individual menjadi prioritas yang kedua. Alasan perceraian lainnya ialah diterimanya perceraian di tengah-tengah masyarakat seakan perceraian bukanlah suatu hal yang tabu atau aib dalam menjalankan pernikahan. Dengan adanya anggapan tersebut, banyak orang yang apabila merasa tidak bahagia dengan pernikahan mereka, akhirnya memilih untuk menyelesaikan pernikahan tersebut, atau dengan kata lain ialah bercerai. Alasan tradisional yang menyebabkan perceraian adalah bahwa keluarga modern sudah tidak lagi memiliki fungsi yang sama sebagaimana keluarga tradisional. Pendidikan, produksi pangan, hiburan, dan berbagai fungsi lainnya yang seharusnya dapat dipenuhi melalui keluarga, saat ini telah dipenuhi oleh pihak-pihak luar. Perceraian menyebabkan terjadinya perubahan perilaku, bahkan terkadang mengarah pada perilaku negative, misalnya ialah stress karena harus beradaptasi dengan sesuatu yang baru yang belum pernah mereka hadapi. Disamping itu, setelah terjadi perceraian, perasaan seseorang akan menjadi lebih kuat. Mereka akan cenderung lebih mudah marah dan gelisah.

Segala sesuatu yang mereka kerjakan tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Hal ini menyebabkan mereka mudah berpikiran bahkan semua ini tidak adil dan akhirnya menyalahkan diri mereka sendiri atau pasangan mereka sebagai penyebab semua kegagalan ini. Bagi seorang perempuan, perceraian menimbulkan permasalahan serius bagi standar kehidupan mereka. Mereka harus membiayai kehidupan diri sendiri serta anaknya. Pada dasarnya, suami harus memberikan tunjangan bagi anaknya, namun pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada saja yang mengabaikan hal tersebut. Akibatnya, pemasukan bagi sang istri menjadi tidak stabil dan cenderung mengarah pada level kemiskinan. Terkait dengan perceraian, seringkali anaklah yang menjadi korban. Anak dari orang tua yang mengalami perceraian biasanya akan merasakan perubahan situasi di rumah mereka, dimana frekuensi berada di rumah tidak sebaik yang lain. Isu lainnya ialah mereka menggunakan hak asuh yang diberikan kepada salah satu orang tuanya sebagai upaya untuk mendapatkan kenyamanan. Banyak kasus dimana hak asuh anak jatuh kepada ibunya, sehingga kemudian mereka mengalami proses yang sulit dalam mengambil alih peran ayah. Selain itu, trauma yang terjadi pasca perceraian tidak hanya dialami oleh orang tua saja, tetapi juga dialami oleh anak-anak mereka. Anak-anak lebih menunjukkan reaksinya terhadap perceraian yang dialami oleh orang tua mereka daripada apa yang mereka tunjukkan pada saat orang tuanya meninggal. Asumsi dari kenyataan yang ada, anak korban perceraian seringkali terlibat dalam masalah yang berkaitan dengan hukum dibandingkan anak-anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Pada saat terjadi perceraian, anak cenderung untuk takut menghadapi masa depan. Mereka merasa bersalah atas anggapan bahwa mereka menyebabkan perceraian, marah terhadap kedua orang tuanya dan merasa ditolak oleh orang tua yang keluar dari rumah. Mereka menjadi lebih emosional, sering mengalami kecelakaan, depresi, cenderung bermusuhan, menjadi pengacau, hingga melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, mereka tidak menunjukkan keinginan untuk bersekolah, bekerja, atau berkehidupan dalam lingkungan socialnya. Reaksi anak terhadap perceraian orang tua disebabkan oleh beberapa factor, termasuk umur dan sex, lamanya perselisihan yang terjadi, dan lamanya jarak antara perpisahan hingga menjadi perceraian yang formal. Trauma yang terjadi pada anak dipengaruhi oleh bagaimana orang tua menjelaskan perceraian yang terjadi untuk menjawab keprihatian, ketakutan, pertanyaan, dan kegelisahan anak. Trauma akan terjadi lebih jauh apabila orang tua tidak

menjelaskan bahwa perceraian bukanlah kesalahan anak. Selain itu, trauma berkelanjutan terjadi apabila salah satu orang tua mengarahkan anak untuk untuk membenci orang tua yang lainnya serta mengalihkan kemarahan dan kekecewaan karena perceraian kepada anak. Papalia and Olds (1989) menjelaskan bahwa anak melalui enam isu untuk membangun emosi positif, yaitu: (1) Anak menerima kenyataan bahwa pernikahan orang tuanya telah berakhir, mereka harus mengerti bahwa kedua orantuanya tak lagi bersama dan akses mereka kepada salah satu atau keduanya mengalami perubahan. (2) anak harus menarik diri dari segala macam konflik yang dihadapi oleh orantua mereka dan tetap bertahan dalam kehidupan dan aktivitas mereka sehari-hari. (3) anak harus menanggulangi kehilangan mereka, yaitu kehilangan kontak trehadap orang tua, situasi rumah, aturan dan rutinitas keluarga. (4) Anak harus diajarkan untuk mengatasi kemarahan dan menyalahkan diri mereka sendiri, serta melupakan segala kondisi mengenai perceraian dan tetap bertahan untuk saat ini dan masa depan. (5) Anak harus mengetahui situasi perceraian ini secara permanen, dimana mereka mengesampingkan mimpi-mimpi kalau suatu saat orang tuanya akan bersama lagi. (6) Anak harus membangun kepercayaan hubungan yang akan dijalin dengan orang lain. Mereka harus mengerti dan menerima bukan karena orang tuanya bercerai berarti hubungan dengan orang lain akan gagal. Pada akhirnya, hal terbaik yang bisa orang tua lakukan ialah membuka kepada anak mereka mengenai kenyataan mengapa pernikahan yang dilakukan mengalami kegagalan. Anak jangan dibuat merasa bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kesalahan mereka. Orang tua harus menjelaskan dan bertanggung jawab dalam keputusan mereka untuk berpisah. Pada akhirnya, orang tua harus melanjutkan dukungan mereka kepada anak dan mengerti bahwa anak merasakan penderitaan dan kehilangan, anak butuh didengar, mereka ingin bisa mengekspresikan kemarahan, ketidaksenangan, serta keterkejutan yang dialaim. Semua anggota keluarga harus memulai untuk menerima situasi yang baru dan melanjutkan hidup kedepan. Sehubungan dengan empty-shell marriage dan perceraian, terdapat layanan social yang dapat diberikan bagi seseorang yang mengalami perceraian atau empty-shell marriage, yaitu ialah konsultan pernikahan. Konsultan pernikahan menyediakan berbagai professional, misalnya pekerja social, psikolog, pembimbing, psikiatri, dan anggota dari kependetaan. Pada dasarnya dalam menyelesaikan masalah, mereka menggunakan beberapa pendekatan, yaitu mengidentifikasi masalah, memberikan solusi alternative, menguji kelebihan dan kekurangan

dari alternative yang ada, klien memilih satu atau beberapa alternatif tersebut, dan memberikan alternative pilihan penyelesaian masalah. Permasalahan yang dihadapi oleh pasangan yang telah menikah sangat luas, mulai dari masalah seksual, keuangan, komunikasi, masalah dengan keluarga, konflik kepentingan, ketidaksetiaan, konflik bagaimana untuk menjaga dan mendisiplinkan anak, serta masalah penyalahgunaan obat-obatan. Konsultan pernikahan mencoba untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dan berusaha untuk memberikan jalan keluar bagi masalah tersebut. Walaupun seringkali perceraian merupakan pilihan yang terbaik. Konsultan pernikahan mencoba untuk melihat kedua pasangan secara bersamaan selama sesi pertemuan. Prakteknya, segala konflik yang terjadi dapat diselesaikan apabila kedua pasangan dapat bekerja sama untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Melalui hal tersebut, konsultan dapat menjadi fasilitator komunikasi antara kedua pasangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Single-Parent Family Anak dengan single parent dianggap akan lebih mengalami masalah dibandingkan dengan anak dengan two parents. Hal ini dikarenakan secara idealnya adalah keluarga dengan two parents di mana ayah dan ibu saling bertanggung jawab bersama untuk mengasuh anaknya. Berbeda dengan keluarga single parent di mana ayah atau ibu saja menjalankan tanggung jawabnya sendiri. Anak dengan single parent akan kehilangan figur ayahnya atau ibunya yang berdampak pada pandangan masyarakat secara kultural. Selain itu keluarga two parents lebih berpeluang untuk high-income dibandingkan dengan keluarga single parents. Blended Family Blended family dapat dikatakan sebagai keluarga campuran di mana dalam keluarga muncul istilah his, hers, and theirs kepunyaannya atau anaknya. Blended family merupakan keluarga yang dibentuk dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah duda atau janda atau juga keduanya yang kemudian tinggal bersama anak-anak yang walaupun secara biologis bukan anaknya (dua keluarga). Dalam blended family juga muncul istilah ibu tiri atau ayah tiri. Blended family tidak terhindar dari kemungkinan masalah yang akan muncul seperti sifat iri antara anak tiri dan anak kandung serta sulitnya penanaman gagasan nilai dan aturan yang dimiliki orang tua tiri yang berbeda. Mother Working Outside of the Home

Berkarirnya ibu di luar rumah akan menjadikan ibu memiliki tekanan pekerjaannya dan cenderung kurang memperhatikan keluarganya. Terlebih lagi, ibu merupakan pihak yang penting dalam perkembangan anak. Bekerjanya ibu di luar rumah akan mengurangi waktu bersama keluarga dan tidak jarang menimbulkan masalah seperti berkurangnya pemenuhan kebutuhan anak untuk perkembangan sosial dan emosionalnya.

DESKRIPSI KASUS Sebut saja namanya Aryati. Perempuan berusia 33 tahun itu sekilas tampak seperti perempuan biasa. Siapa sangka wanita beranak tiga ini menafkahi keluarganya dari menjajakan diri pada sesama kaum Hawa. Perempuan yang kini tinggal di rumah kontrakan berukuran tiga kali dua meter di bilangan Pondok Kelapa ini terpaksa melakukan apa pun agar dapat menyekolahkan tiga anaknya yang menginjak usia remaja. Sambil mengisap rokok, Aryati bercerita kepada VHR mengenai sulitnya mencari nafkah di Ibu Kota. Kalau dari lubuk hati, sedih ya. Tapi nanti, nggak tahulah. Pokoknya, untuk biaya anak, besarkan anak, supaya anak punya pendidikanlah. Itu saja, tuturnya. Aryati menjadi orang tua tunggal sejak bercerai dari suaminya pada tahun 1999. Celakanya, sejak itu pula mantan suaminya tak pernah lagi menafkahi ketiga anaknya. Perempuan cantik bertinggi badan 165 centimeter ini pun telah berulang-kali melamar pekerjaan, tapi tak satu pun surat lamarannya yang mendapat jawaban positif. Akhirnya, dia terpaksa menjadi pekerja seks komersial untuk sesama jenisnya. Karena suami saya selingkuh, main perempuan, terus saya ditinggal. Anak saya ada tiga. Untuk menghidupinya kan sangat berat. Terpaksa, ya sudah saya jalani saja, Aryati bercerita latar belakang menggeluti pekerjaan ini. Kalau sama laki-laki, risikonya bisa hamil. Terus, nggak bisa bebas. Misalkan nanti kita bercinta, nanti tetangga pada omong. Apalagi saya seorang janda, kan pasti digunjingin orang, tambahnya. Bagi ibu muda asal Surabaya ini, bercinta dengan sesama jenis sebenarnya bukanlah hal yang ia senangi. Ia mengaku mengalami tekanan batin jika harus melakukan hal itu. Ia bercerita betapa berat pertama kali terpaksa memuaskan seorang pengacara wanita. Ya, pertama awalnya jijik! Soalnya kan itu perempuan sama perempuan. Tapi, karena, mungkin hidup ini begitu kejam, ya... saya tutup mata aja, deh. Yang penting saya bisa menghidupi anak... kisahnya pilu. Karena merasa malu, Aryati mencoba menutup rapat-rapat profesinya sebagai penjaja seks bagi kalangan wanita. Ia bersama perempuan lain satu profesi, sebut saja Tina, Lisa, dan Nina, terpaksa berpura-pura mencintai sesama jenis dan akhirnya melayani semua kemauan pelanggan. Waktu itu saya kenal sama temen saya. Yang dia tahu perkumpulannya anak-anak lesbi, gitu. Terus, saya dikenali. Ya... saya pura-pura saja seneng sama dia. Dunia ini kan panggung sandiwara.... tambahnya. Selanjutnya terjadilah transaksi demi transaksi. Kesenangan atau kepuasan itu pun dihargai.

Dia seperti seorang laki-laki saja, menafkahi, memberi apa yang saya maulah, mencukupi. Tapi, saya tidak satu saja, saya ada banyak, saya nggak mau terikat. Jadi, kan saya lebih bebas.Terus saya juga ada pemasukan. Sekarang, yang dicari kan uang. Kalau dia nggak kasih, saya tinggal, tambahnya. Di mata Tita, anak sulung Aryati, pekerjaan ibunya sangat memalukan. Setiap kali berbicara mengenai aktivitas ibunya dalam mencari nafkah, guratan kesedihan terpancar di wajah siswi kelas II SMP ini. Tita sadar, ibunya bekerja untuk membantu dia meraih cita-cita sebagai seorang arsitek, tapi sisi kesadaran lainnya tetap memunculkan perasaan malu dan marah atas pengorbanan sang ibu. Awalnya, sih kaget. Tapi, pas negur Mama, Mama cuma bisa marah. Abis itu, Mama bilang, kalau gak kayak gitu, aku sekolah dari mana? Nanti aku tinggal di mana? Papa juga gak ngirimin uang... tutur Tita lirih. Upaya Aryati untuk menutup-nutupi profesinya pun tidak juga berhasil. Sepandaipandai ia menyembunyikan rahasia, tetangganya akhirnya tahu profesi dia sebenarnya. Padahal, Aryati baru tiga bulan tinggal di rumah kontrakan barunya, tapi kini ia sudah menjadi buah bibir para tetangga. Nining, tetangga dekat Aryati bercerita bahwa Aryati adalah sosok tetangga yang baik, namun dia tetap tidak bisa memahami mengapa Aryati mau bermesraan dengan sesama perempuan. Orangnya baik, bersosialisasi. Pokoknya, dia bertetanggalah. Tapi, kadang-kadang, saya perpikir, kok tidak selayaknya dengan seorang temen bermesraan, keluh Nining.

Sumber: http://vhrmedia.net/home/index.php?id=print&aid=2224&cid=2&lang

ANALISA Melihat kasus Aryati tersebut memang sangat ironi dengan nilai-nilai yang ada pada budaya bangsa kita. Aryati merupakan satu contoh keluarga one parent family, yang memiliki banyak permasalahan sosial dalam hidupnya. Ia mengalami perceraian (divorce) dengan suaminya akibat perilaku suaminya yang selingkuh dan lepas tanggung jawab terhadap keluarganya. Perceraian yang dialaminya membuat ia menjadi seorang single mother yang harus bekerja ganda yaitu sebagai seorang ibu sekaligus pencari nafkah demi menghidupi ketiga anaknya yang tengah beranjak remaja. Sehingga dapat dilihat bahwa kemiskinan yang terjadi pada Aryati adalah karena pekerjaan (employment). Faktor employment menunjukkan bahwa Aryati tidak mampu bersaing dalam pasar kerja yang menjadikannya akhirnya memilih untuk bekerja sebagai PSK. Aryati telah berusaha mencari pekerjaan dengan mengirimkan surat lamaran ke berbagai tempat tetapi hasilnya tidak satu pun yang menerimanya bekerja. Sulitnya Aryati memperoleh pekerjaan mungkin saja disebabkan karena kurangnya kemampuan dan pendidikan yang dimiliki oleh Aryati. Kondisi seperti ini juga menunjukkan bahwa terdapat faktor educational yang juga mempengaruhi keadaan Aryati sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan akhirnya sulit juga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sebagai single parent. Masalah yang dialami oleh Aryati memang seringkali dialami oleh kaum perempuan yang menjadi single mother, di mana terdapat kecenderungan bahwa pasca mereka mengalami perceraian terjadi perubahan standar hidup. Hal ini sesuai dengan yang terjadi oleh Aryati yang sebelum perceraian ia tidak bekerja dan hanya bergantung pada penghasilan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hingga pada akhirnya, Aryati terpaksa harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Hidup semakin sulit bagi Aryati karena mantan suaminya tidak memberikan tunjangan hidup bagi sang anak. Keadaan mendesak Aryati untuk bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya menggantikan peran yang seharusnya dilakukan oleh suami selaku kepala keluarga. Dalam istem keluarganya, Aryati menggantikan suaminya sebagai single parent mengalami perubahan peran dan tanggung jawab untuk membangun ekonomi sosial dalam keluarganya. Seperti kita ketahui bahwa perempuan mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi untuk mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan laki-laki. Semakin sulitnya mencari pekerjaan dan ketatnya persaingan di Indonesia khususnya di Jakarta membuat banyak orang menghalalkan segala cara demi kelangsungan hidupnya. Aryati pun mengambil pilihan pekerjaan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh setiap perempuan, yaitu sebagai pekerja seks komersil (PSK) untuk kaum lesbi. Mendengar seseorang dengan pekerjaan sebagai PSK saja

sudah menjadi hal yang dipandang buruk oleh masyarakat, apalagi ditambah dengan PSK untuk para lesbi yang secara jelas bertentangan dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat Indonesia. Hal ini juga terlihat bahwa perempuan juga termasuk salah satu kelompok yang memiliki tingkat pengangguran (unemployment). Adanya berbagai pandangan terhadap perempuan membuat perempuan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak. Begitu pula yang dialami Aryati ketika ditinggal begitu saja oleh suaminya tanpa memberikan nafkah untuk membesarkan ketiga anak hasil pernikahannya tersebut. Dari kasus tersebut terlihat bahwa dalam mengambil pekerjaan tersebut ia mengalami konflik internal atau konflik batin. Di satu sisi ia tidak menginginkan pekerjaan yang dianggap hina tersebut, akan tetapi di sisi lain ia terpaksa harus mengambil pekerjaan tersebut karena ia sudah merasa menyerah dengan keadaan yang ada. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, terlepas dari berbagai resiko yang akan diterimanya dengan pekerjaannya tersebut. Tidak hanya Aryati yang harus menanggung malu atas pekerjaannya tersebut, tetapi anak-anaknya juga harus dapat menahan emosinya yang mengetahui bahwa ibunya bekerja sebagai PSK untuk menghidupinya. Selain itu, konsekuensi dalam single parent family ini adalah kehilangan salah satu figure dari orang tuanya, yang dalam kasus ini adalah ayahnya. Meskipun Aryati telah berusaha melakukan perannya sebagai orang tua tunggal yang sekaligus menggantikan peran suaminya, tetap saja ia tidak dapat menggantikan figure seorang ayah bagi anak-anaknya. Dengan begitu anak-anaknya dapat beresiko memiliki pandangan yang negatif tentang figure seorang ayah yang dapat berdampak pada trauma. Melihat kasus yang dialami oleh Aryati, maka dapat dilihat dari perspektif interksionis, yaitu melihat kemiskinan sebagai hal yang subjektif dan dapat dibagi. Aryati adalah seseorang yang bukan berasal dari keluarga menengah atas atau berada pada stratifikasi kelas atas, dari hal tersebut saja sudah dapat membuat masyarakat memandangnya sebagai orang yang berada pada kelas bawah. Pekerjaan sebagai pekerja seks komersil sesame jenis pun didapatnya dari tawaran seorang temannya. Temannya tersebut tentu saja memilih-milih orang yang pantas untuk ditawarka pekerjaan tersebut, ia tidak mungkin menawarkan pekerjaan tersebut kepada mereka yang memiliki stratifikasi kelas atas. Dari hal tersebut terlihat bahwa adanya pandangan serta definisi negatif terhadap Aryati, yang dalam hal ini adalah sebagai orang miskin. Dalam perspektif interaksionis ini juga memandang bahwa kemiskinan tidak hanya dilihat dari hal ketimpangan ekonomi saja, melainkan juga dari konsep diri seseorang. Ketika seseorang selalu dipandang sebagai orang yang miskin maka ia akan terus merasa bahwa ia

adalah orang miskin. Jika sudah demikian maka akan sulit baginya untuk dapat keluar dari kemiskinan tersebut. Begitu pula yang dialami oleh Aryati, ketika ia menyerah karena telah berusaha mencari pekerjaan yang baik tetapi tidak diterima, maka ia akan semakin merasa bahwa kemampuannya sebagai orang yang bukan berasal dari stratifikasi kelas atas membuatnya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Akan tetapi seharusnya ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia seharusnya dapat keluar dari stigma dan definisi negatif tentang dirinya tersebut sehingga ia dapat menunjukkan kemampuannya pada masyarakat.

PENUTUP Kesimpulan Aryati merupakan salah satu contoh kasus seseorang yang terpaksa menjadi seorang pekerja seks komersial untuk lesbian. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan ia memilih pekerjaan yang brtentangan dengan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia, yang salah satunya adalah karena kemiskinan. Aryati mengalami konflik keluarga dengan suaminya yang berakibat pada perceraian (divorce) dan menjadikannya sebagai seorang single parent untuk ketiga anaknya. Pekerjaannya tersebut dipilihnya karena ia telah menyerah dengan keadaan di Ibu Kota yang begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan, sementara ia harus dapat terus bertahan hidup serta memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya termasuk pendidikannya.

Saran Melihat banyaknya jumlah perempuan yang memilih pekerjaan sebagai pekerja seks komersil, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan hal tersebut. Meskipun sulit untuk mengatasinya, setidaknya pemerintah dapat melakukan berbagai upaya pencegahan agar dapat mengurangi jumlah PSK di Indonesia. Kasus PSK ini memang seharusnya ditangani dalam skala jangka panjang, artinya pemerintah harus dapat menyiapkan lapangan pekerjaan untuk menampung para PSK tersebut. Akan tetapi mengutip dari pernyataan anggota Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan, Tati Krisnawaty, bahwa penanganan masalah PSK yang diakibatkan dari kemiskinan tidak dapat ditangani secara sektoral, atau istilahnya menangani dari hilir hingga ke hulunya. Oleh sebab itu pemberdayaan masyarakat harus menjadi hal yang diprioritaskan. Pemberdayaan masyarakat tersebut dapat dimulai dari pendidikan. Program-program tentang pendidikan agar lebih direalisasikan sehingga seluruh masyarakat dapat benar-benar merasakannya.