Anda di halaman 1dari 4

Mie Ayam Pak Satro

Oleh: A.R. Habibie

Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Hal ini sudah menjadi hal umum dan tak
seorang pun dapat menyangkal. Begitu juga Sam, mahasiswa semester 5 jurusan Bahasa Jepang.

Siang itu, Sam yang bernama asli Sami’un terkapar di kamar kos berukuran 3×4 m. Sudah tiga hari ini dia
menginginkan mie ayam Pak Satro berukuran jumbo. Kalau berani bertaruh, Sam yakin mie ayam buatan
Pak Satro bisa masuk Guinesss Book of Record karena kenikmatannya. Mulai balita sampai orang tua
berumur ratusan tahun pasti bakal tersenyum sehat setelah menyantap mie ayam ini.

Tiba-tiba, terdengar suara yang sangat dikenal Sam. Suara yang mampu menggetarkan hati dan bahkan
mengalahkan suara indah Celine Dion. "Mie…Mie…." teriak suara itu. Sam cepat-cepat keluar dari kamar
kos. "Pak Satro!" panggilnya. Pak Satro pun berhenti. Perlahan-lahan, beliau menoleh ke belakang.
Dilihatnya pemuda berbadan tegap, tetapi kurang makan. Wajah Sam tampak beringas ketika
memandangnya.

"Pak Satro, Anda datang tepat waktu,"ujar Sam seraya menepuk bahu kanan penjaja mie itu. "Saya pesan
mienya satu porsi, ya, Pak!"

Tanpa diduga, Pak Satro yang kaget melihat sosok Sam langsung terbahak.
"Ha..ha..ha.. Tidak mungkin!" seru Pak Satro. "Ini, kan, tanggal tua. Bapak ragu kamu punya duit apa
nggak," ucapnya.

Seperti kena sengatan seribu volt, disambar petir, dan kejatuhah kabel listrik yang penuh setrum, Sam
langsung terdiam. Otot lidahnya terasa kaku. Darah-darahnya mengalir lambat. Kehidupan di sekitarnya
langsung berjalan sangat pelan. Tampak di depan Sam, sepasang kura-kura berjalan bergandengan tangan
dalam gerakan slow motion sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Tidak!!!" jerit Sam dalam hati.


Tapi, di tengah perasaan bingung, Sam melihat titik cerah. Dia tersenyum.
"Jangan kemana-mana, ya, Pak. I’ll be back," ucapnya menirukan gaya Arnold.

Dengan segera, Sam kembali ke kos dan mendobrak pintu kamar sahabat karibnya. Begitu terbuka, tampak
sahabatnya sedang asyik memandangi majalah khusus dewasa. Dengan spontan, sahabat Sam itu langsung
menaikkan boxer-nya yang melorot entah karena disengaja atau tidak.

"Anjing! Bikin kaget aja! Ketuk pintu dulu, dong! Kamu tau nggak, aku pernah baca majalah kalo penyakit
bisa datang saat tubuh dalam kondisi shock!" cerocos sahabat Sam.

Sam cuma tersenyum. Tapi, selang beberapa detik kemudian, dia pasang tampang memelas.
"Badrun sahabatku, aku butuh bantuanmu sekarang,"
"Sam..Sam.. Kalau bukan karena aku, kamu pasti nggak bisa jadi orang. Ok, kamu minta aku apa?" jawab
Badrun sambil merapikan majalah-majalahnya. "Aku bisa bantu kamu apa pun, kecuali satu hal,"

"Apa itu?"
"Pinjem duit!" ucap Badrun tegas.
Bagaikan ditusuk ribuan jarum karatan, Sam ternganga. "Drun, please, Drun. I beg for your kindness" pinta
Sam keminggris. "Kalau nggak, anakku bakal lahir dengan status raja iler karena papanya nggak ngasih
keinginan orok," rengeknya.

Mereka berdua diam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Badrun sedang berpikir untuk
mengalkulasi lagi sisa uang yang ada, sedang Sam sibuk membayangkan ular-ular yang ada di perut Badrun.

"Ok. Karena aku nggak mau namaku tercemar gara-gara jadi penyebab ’monster ilermu’, aku punya ide.
Aku bakal kasih kamu duit, tapi dengan syarat,"

Sam langsung bangkit. "Apa syaratnya?"


"Dengerin baik-baik, ya. Saat ini, aku sangat butuh rokok Sam Su Ji. Tapi, sisa uangku kamu tau sendiri,
kan? Nah, kebetulan di lapangan balai RW entar malam ada layar tancap yang disponsori rokok Sam Su Ji.
Biasanya, sore sebelum pemutaran film, mereka bagi-bagi free sample rokok. Aku mau kamu ke sana dan
carikan aku rokok itu gimana pun caranya," jelas Badrun.

Begitu mendengar kata terakhir yang diucapkan Badrun, Sam langsung melompat keluar kamar. "Semoga
sukses, kawan," ucap Badrun dalam hati.

Dengen sepeda mini kesayangannya, Sam meluncur penuh semangat menuju lapangan balai RW. "Gimana
pun caranya, aku harus bisa makan mie ayam. Nggak peduli jalan seperti apa yang harus aku tempuh.
Terima kasih, sahabat, sudah membuat semua ini tampak begitu nyata," ucap Sam seraya mengusap bulir-
bulir air mata yang jatuh ke pipinya.

Bingo, gumam Sam saat menyaksikan umbul-umbul bertulisan Sam Su Ji tertata rapi di pinggir lapangan.
Tanpa banyak komentar, Sam menuju konter rokok yang berada di tengah lapangan.

"Ada yang bisa dibantu, Mas" sapa seorang SPG cantik berbadan semlohei.
"Anu Mbak, apa nggak ada bagi-bagi rokok gratis?" tanya Sam yang selalu menomorsepuluhkan rasa malu.

"Waduh, Mas, kalo rokok gratis adanya tadi siang. Tapi, kalau Mas mau rokok nggak pake bayar, coba aja
pergi ke konter sebelah. Trus, daftar buat ikut lomba yang berhadiah rokok,"

Belum selesai bicara, Sam langsung ngeloyor tanpa babibu.


"Mas, mau daftar lomba," ucap Sam.

"Anda yakin mau ikut lomba ini?" tanya sang PPK (Pria Penjaga Konter).
"Yakin seribu persen," tegas Sam
"Ya udah, kalau gitu langsung isi form-nya. Tapi, saya mau jelasin kalo kompetisi ini sebenarnya lebih
pantas disebut tantangan," jelas sang PPK

"Tantangan?" tanya Sam yang langsung menghentikan kegiatan menulis form-nya.


"Iya, t-a-n-t-a-n-g-a-n, Mas Sami’un," katanya setelah membaca form.
"Nggak usah pake Miun. Panggil aja Sam (sem)," ujar Sam ketus.

"Oke. Karena Mas Sam udah ngisi form, nggak ada alasan buat membatalkan lagi," sahut sang PPK dengan
wajah jijik mendengar nama Sami’un jadi Sam.

"Jadi, tugasnya apa?"


"Nah, coba Mas lihat setiap sudut lapangan," terang PPK sambil menunjuk ke setiap sudut. "Ada dua
umbul-umbul yang belum terpasang. Kalau Mas bisa mendirikan umbul-umbul itu sebelum 30 menit, Mas
Sam boleh bawa pulang rokok Sam Su Ji limited edition ini," imbuh sang PPK.

Sialan! Ini, sih, bukan kompetisi. Tapi, jadi jongos orang ini, ucap Sam dalam hati. Ah, nggak papa, deh.
Demi mie ayam Pak Satro, apa pun akan kulakukan.

Begitu menuju ke sudut, Sam melihat dua batang bambu panjang yang masih berbulu halus. Sam tersenyum
kecil melihat kain umbul-umbulnya sudah terikat kencang. "Kalau kainnya sudah oke, berarti lubang
tancapan juga pasti oke," batinnya bersemangat.

"Eh, tapi, kok lubangnya nggak ada. Jangan-jangan…"


"Oya, Mas Sami’un, ada yang kelupaan. Ini linggisnya," teriak sang PPK.

Dhueer!!! Benar apa yang dipikirkan Sam. Ternyata, dia masih harus menggali lubang tancapan umbul-
umbul itu. Sabar, Sam, hiburnya.

Di luar dugaan, Sam mampu menyelesaikan tugasnya hanya dalam waktu 21 menit 41 detik! Dengan
bersimbah peluh, Sam kembali ke konter dan langsung disambut hangat oleh si PPK.

"Wah hebat! Mas bisa mecahin rekor waktu yang ada. Waktu Mas Sam adalah 21 menit 41 detik. Lebih
cepat 1 menit 10 detik dari rekor sebelumnya,"

"Rekor sebelumnya?" tanya Sam heran


"Iya, orang-orang yang ikut kompetisi ini sebelum Mas Sam,"
"Jadi, sebelum aku ada juga orang yang mau dikerjain kayak gini?"

"Ah, jangan bilang gitu dong, Mas. Namanya juga kompetisi. Sebenernya, Mas Sam adalah peserta
kompetisi ke-18. Coba nggak ada orang-orang seperti Mas, umbul-umbul itu nggak akan ada yang
terpasang," terang PPK.

Masuk neraka nih orang! gumam Sam dalam hati.


"Ya udahlah. Sekarang mana rokoknya?" pinta Sam.

Akhirnya, Sam mendapatkan juga apa yang diinginkan sahabatnya. Dengan kata lain, sebentar lagi Sam
bakal menyantap mie ayam buatan Pak Satro.

Di depan kos-kosan, terlihat Pak Satro masih setia menunggu. Langsung saja Sam menaruh sepeda mininya.
Dengan setengah berlari, Sam menuju kamar Badrun dan berteriak "Drun, aku berhasil!!!"

Badrun, teman seperjuangannya, dilihatnya sedang asyik menyantap mie ayam buatan Pak Satro di dalam
kamar.

"Mana rokoknya?"
"Nih. Limited edition. Cuma ada beberapa aja di dunia ini,"
"Oke. Sesuai janjiku, ini uangnya 3 ribu. Cepetan sana kalo beli mie ayam. Kasian Pak Satro nungguin
lama," cuap Badrun.

Sungguh indah sekali perasaan yang dirasakan Sam. Belum pernah dia merasakan nikmat tiada tara ketika
menerima uang ribuan 3 lembar. Sungguh menyegarkan, bagai tenggorokan kering yang disiram segelas es
degan.

Segera, Sam langsung berlari menuju gerobak mie ayam Pak Satro. Penjual mie itu malah tersenyum-
senyum melihat tingkah Sam.

"Pak Satro, pesan mie ayam satu porsi!" ucap Sam mantap.
"Wah, maap, Mas. Mienya udah habis. Yang terakhir tadi dibeli sama Mas Badrun," ucap Pak Satro kalem.
TIDAAAK!!!!!

Sumber : http://cerpenpopuler.sayanginanda.com/