Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Ergonomi merupakan studi tentang manusia untuk menciptakan sistem kerja yang lebih sehat, aman dan nyaman. Seorang praktisi dibidang kesehatan khususnya kedokteran gigi harus memahami tujuan mempelajari ergonomik karena dengan memahami tujuan ergonomik dalam lingkungan kerja, praktisi kesehatan akan terhindar dari musculoskeletal disorder (MSDs), tentu efek jangka panjangnya adalah praktisidapat bekerja lebih lama tanpa mengganggu produktifitas kerja praktisi dalam bekerja. Berbagai peralatan kedokteran gigi yang dijual di pasaran pada saat ini, hampir semuanya telah memperhatikan aspek ergonomis ketika didesain oleh pabrik pembuatnya. Namun kelebihan ini akan berkurang nilainya apabila pada saat penempatan peralatan tidak berdasarkan prinsip tata letak yang benar. Desain tata letak adalah proses alokasi ruangan, penataan ruangan dan peralatan sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung seminimal mungkin, seluruh ruangan termanfaatkan dan menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima pelayanan. Desain tata letak berperan penting dalam efektifitas dan efisiensi operasi tempat praktek dokter gigi, oleh karena itu perlu direncanakan secara matang sebelum tempat praktek dibangun. Konsep Four handed Dentistry telah diadopsi oleh para pembuatan dental unit, sehingga saat ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi denagn sisi Dental Assistant di sebelah kiri pasien, oleh karena itu konsep four handed Dentistry menjadi desain dalam tata letak penempatan alat kedokteran gigi.

1.2

Rumusan masalah

1. 2. 3. 4.

Apa tujuan, prinsip, dan metode ergonomi ? Bagaimana manajemen tata ruang dan waktu yang baik dokter gigi? Bagaimana tujuan dan system kerja dari Four Handed Denstistry ? Apa saja jenis, etiologi, dan factor resiko dari Musculoskeletal Disorder ?

1.3

Tujuan

1. 2. 3. 4.

Mengetahui tujuan, prinsip, dan metode ergonomi Mengetahui manajemen tata ruang dan waktu dokter gigi Mengetahui tujuan dan system kerja dari Four Handed dentistry Mengetahui jenis, etiologi, dan factor resiko dari Muskuloskeletal Disorder

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ergonomi Perkembangan tekhnologi saat ini begitu pesatnya sehingga peralatan sudah menjadi kebtuhan pokok pada berbagai lapangan kerja tak terkecuali pada dokter gigi. Artinya peralatan dan tekhnologi merupakan penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan. Disamping itu disisi lain negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin timbul. Hal ini akan terjadi jika tidak diantisipasi maka akan timbul berbagai risiko yang mempengaruhi hidup dokter gigi maupun pekerja di bidang lain dan tidak memungkinkan terjadi kecelakaan akibat kerja yang menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ergonomik. (depkes RI:2000) Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergos (kerja) dan Nomos (hukum alam) dan dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi,
engineering, manajemen dan perancangan/desain. Ergonomi secara khusus

mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Ilmu ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan baik jangka pendek maupun jangka panjang, pada saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerja yang berupa perangkat keras/hardware (mesin, peralatan kerja, dan lain-lain) dan perangkat lunak/software (metode kerja, sistem, dan lain-lain). (http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/)
Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya. Ilmu ini menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan, kebolehan, dan batasannya. Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan,

peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal. (http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/) Ergonomic merupakan suatu cabang ilmu yang bersifat multi-disipliner yang lahirnya setelah perang dunia II. Ergonomi berasal dari kata ergon dan nomos berarti aturan atau hukum. Dengan demikian ergonomic diartikan sebagai aturan dalam bekerja. Implikasinya dalam kehidupan adalah bahwa di dalam melaksanakan pekerjaan itu hendaknya manusia selalu menyadari bahwa ada aturan kerja yang harus dituruti. Menurut definisi tersebut prinsip dasar dalam ergonomi adalah menyesuaikan pekerjaan dengan manusianya. Manusia bukan hanya harus mendapatkan pekerjaan, tetapi pekerjaan yang diperoleh itu harus mampu memelihara harkat dan harga dirinya sebagai manusia. Dengan kata lain pekerjaannya harus manusiawi, yang didalamnya mengandung pengertian adanya jaminan keselamatan, keamanan dan kenyamananselama bekerja 8 jam sehari. (adiputra nyoman: 2004)

Dimana ergonomi dimanfaatkan untuk manusia bekerja dimana saaja dan kapan saja, ergonomi sebagi suatu pendekatan yang memungkinkan manusia bekerja secara optimal dan efisien. Apakah dia bekerja di pagi sampai sore hari pekerjaannya berat atau ringan. (adiputra nyoman:2004) Aplikasi ergonomi dalam desain sistem kerja memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Desain stasiun kerja untuk alat peraga visual display, untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja. Desain perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja. Desain peletakan instrumen dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi sehingga dihasilkan suatu respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kesalahan, dan meningkatkan efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.

Peran ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: 1. Perancangan produk. 2. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja. 3. Meningkatkan produktivitas kerja. (http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/) Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis, yaitu menyerasikan dan menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun dalam istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia. Baik fisik maupun metal sehingga kualitas hidup secara keselurihan menjadi lebih baik. Tata letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis. Banyak faktor lain yang merupakan unsur ergonomis seperti desain warna, pencahaan, suhu, kebisingan dan kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan. Sasaran penelitian ergonomi adalah manusia pada saat bekerja di lapangan atau lingkungan, secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomic adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya ialah berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembapan yang bertujuan agar sesuai dengan tubuh manusia. (depkes RI: 2000) Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya antara lain: a. Tekhnik b. Fisik c. Pengalaman psikis d. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan perherakan otot dan persendian. e. Anthopometri 5

f. Sosiologi g. Fisiologi, terutama yang berhubungan dengan temperature suhu h. Desain atau tata letak dll. Ergonomi mempunyai tujuan tujuan seperti meningkatkan kesehjateraan fisik dan mental dengan meminimalkan beban kerja tambahan pada fisik maupun mental. Meningkatkan kesehjateraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sesame pekerja,pengorganisaian yang lebih baik dan menghidupkan system kebersamaan dalam tempat kerja, serta berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek aspek tekhnil. Ekonomi,antropologi maupun budaya. (adiputra nyoman: 2004) Pelatihan bidang ergonomic sangat penting sebab ahli ergonomi umumnya berlatar belakang pendidikan tekhnik, psikologi, fisiologi atau dokter meskipun ada juga yang dasar keilmuaanya tentang desain, manajer dll. Akan tetapi semua ditujukan pada aspek kerja dan lingkungan kerja. (depkes RI:2000)

2.2 Four Handed Dentistry Four handed dentistry termasuk juga bagaimana cara penggunaan dan pemeliharaan alat dan bahan kedokteran gigi meliputi peralatan yang digunakan untuk diagnose, perawatan pengawetan gigi, pembersihan karang gigi, operasi bedah mulut, fissure sealant, ART, dan pemeliharaan dan penyimpanan alat kedokteran gigi. Four handed dentistry juga suatu ilmu kedokteran gigi yang ditujukan untuk memahami tentang bahan yang diperlukan untuk tindakan konservasi, tindakan edondontik serta tindakan rehabilitatif.

(murdick,B.dkk.service operation management.boston:allyn and bacon.1990) Berbagai peralatan kedokteran gigi yang dijual di pasaran pada saat ini, hamper semuanya telah memperhatikan aspek ergonomis ketika didesain oleh pabrik pembuatnya. Namun kelebihan ini akan berkurang nilainya apabila pada saat penempatan peralatan tidak berdasarkan prinsip desain tata letak yang benar.

Dalam makalah ini akan dibahas desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi, namun terbatas pada alat-alat utama saja yaitu Dental Unit, Mobile Cabinet, dan Dental Cabinet. Desain tata letak (lay out design) adalah proses alokasi ruangan, penataan ruangan dan peralatan sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung seminimal mungkin, seluruh luasan ruangan termanfaatkan, dan menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima pelayanan. Desain tata letak memegang peranan penting dalam efektifitas dan efisiensi operasi3 tempat praktek dokter gigi, oleh karena itu perlu direncanakan secara matang sebelum tempat praktek dibangun dan tidak tertutup kemungkinan untuk direvisi dikemudian hari bila dinilai sudah tidak laik lagi. Desain tata letak berbeda dengan gambar arsitek, desain tata letak hanya berupa sketsa yang mengambarkan penataan ruangan, dibuat berdasarkan perhitungan pergerakan informasi, bahan, dan manusia. Selain itu juga dengan memperhatikan pertimbangan ergonomis, medis dan kepatutan. Secara garis besar ada 2 macam desain tata letak yaitu yang dibuat dengan memperhatikan proses dan yang dibuat dengan memperhatikan produk, pada tempat praktek dokter gigi yang digunakan adalah desain tata letak dengan memperhatikan proses. Efektifitas dan efisiensi desain tata letak dihitung dari jumlah jarak pergerakan yang terjadi, dengan asumsi setiap pergerakan yang terjadi menimbulkan biaya. Menimimalisasi pergerakan adalah tujuan dari desain tata letak.

2.3 Muskuloskeletal Disorders Musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan otot rangka merupakan kerusakan pada otot, saraf, tendon, ligament, persendian, kartilago, dan discus invertebralis. Kerusakan pada otot dapat berupa ketegangan otot, inflamasi, dan degenerasi. Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur, patah, atau terpelintir. MSDs terjadi dengan dua cara:

1. Kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau periode waktu yang lama dari usaha otot, dihubungkan dengan pengulangan atau usaha yang terus menerus dari bagian tubuh yang sama meliputi posisi tubuh yang statis; 2. Kerusakan tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas yang sangat kuat/berat atau pergerakan yang tak terduga. Frekuensi yang lebih sering terjadi MSDs adalah pada area tangan, bahu, dan punggung. Aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya MSDs yaitu penanganan bahan dengan punggung yang membungkuk atau memutar, membawa ke tempat yang jauh (aktivitas mendorong dan menarik), posisi kerja yang statik dengan punggung membungkuk atau terus menerus dan duduk atau berdiri tiba-tiba, mengemudikan kendaraan dalam waktu yang lama (getaran seluruh tubuh), pengulangan atau gerakan tiba-tiba meliputi memegang dengan atau tanpa kekuatan besar. Musculoskeletal disorders (MSDs) juga dikenal dengan nama lain, diantaranya: 1. Repetitive Strain Injuries (RSIs); 2. Cumulative Trauma Disorders (CTDs); 3. Overuse Injuries; 4. Repetitive Motion Disorders; 5. Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs).

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Tujuan, Prinsip, dan Metode Ergonomi

Tujuan Ergonomi

Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya. Ilmu ini menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan, kebolehan, dan batasannya. Ergonomi mempunyai tujuan tujuan seperti meningkatkan kesehjateraan fisik dan mental dengan meminimalkan beban kerja tambahan pada fisik maupun mental. Meningkatkan kesehjateraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sesame pekerja,pengorganisaian yang lebih baik dan menghidupkan system kebersamaan dalam tempat kerja, serta berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek aspek tekhnil. Ekonomi,antropologi maupun budaya. Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.

Prinsip Ergonomi

Work in Neutral Postures (bekerja dalam posisi netral) Reduce Excessive Force (mengurangi beban yang berlebihan) Tekanan yang berlebihan pada aotot akan berpotensi menyebabkan kelelahan dan cedera.

Keep Everything in Easy Reach (membuat semua mudah untuk dijangkau) Benda yang paling sering digunakan harus berada di daerah jangkauan tangan, susun kembali daerah kerja dan semakin mudah dalam gerakkan.

Work at Proper Heights (bekerja dengan ketinggian yang seasuai) Dari pengalaman baik adalah bahwa kebanyakan pekerjaan harus dilakukan didekat sekitar tingginya, apakah duduk atau berdiri. Pekerjaan lebih berat adalah sering terbaik melakukan lebih rendah dari tingginya siku. Ketepatan bekerja atau pekerjaan secara visual keras adalah sering terbaik melakukan didekat kemuliaan di atas.

Reduce Excessive Motions (mengurangi gerakan berlebihan) Kurangi jumlah gerakan selama kerja, baik lengan, jari maupun punggung.

Minimize Fatigue and Static Load (memperkecil kelelahan dan beban statis) Berada dalam posisi kerja yang sama untuk beberapa waktu dikenal sebagai beban statis. Ini menyebabkan kegelisahan dan kelelahan dan dapat menghambat pekerjaan.

10

Minimize Pressure Points (memperkecil tekanan) Pada beberapa pekerjaan kita harus hati-hati terhadap poin-poin tekanan berlebihan, yang sering disebut tekanan kontak.

Provide Clearance (menyediakan tempat yang sesuai/ memeriksa ksesuaian tempat) Pekerjaan pada Area tertentu perlu untuk disediakan ruang cukup untuk kepala, lutut dan kaki.

Move, Exercise and Stretch (pindah tempat; bergerak, dan mereregangkan otot dan sendi) Agar tidak mudah lelah tubuh perlu digerakkan dan diregangkan.

Maintain a Comfortable Environment (melihara suatu lingkungan yang nyaman) Jaga leher tetap lurus,Jaga agar Siku dalam posisi yang benar dan bahu bersantai. Salah satu jalan yang paling sederhana untuk mengurangi kelelahan manual adalah untuk menggunakan alat bantu yang sesuai. Memakai bantalan pada tangan untuk pekerajaan-pekerjaan tertentu akan mengurangi beban kerja. Merubah tata letak/ruang untuk meminimalkan gerakan. Ada Kecenderungan lengan bawah mengalami kontak langsung terhadap tepi yang keras suatu meja kerja yang akan menciptakan suatu titik tekanan. Dihilangakan dengan memasang lapisan yang elastis pada tepi itu dan biasanya ini akan membantu.

11

Metode Ergonomi

1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks.

2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan demensi fisik pekerja.

3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

Aplikasi/penerapan Ergonomi

1. Posisi Kerja Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.

12

2. Proses Kerja Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.

3. Tata letak tempat kerja Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

4. Mengangkat beban Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan. a. Menjinjing beban Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb: - Laki-laki dewasa 40 kg - Wanita dewasa 15-20 kg - Laki-laki (16-18 th)

13

15-20 kg - Wanita (16-18 th) 12-15 kg b. Organisasi kerja Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara : - Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun - Frekuensi pergerakan diminimalisasi - Jarak mengangkat beban dikurangi - Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi. - Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan. c. Metode mengangkat beban Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetic dari pedoman penanganan harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip : - Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung - Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan. Metoda ini termasuk 5 faktor dasar : o Posisi kaki yang benar o Punggung kuat dan kekar

14

o Posisi lengan dekat dengan tubuh o Mengangkat dengan benar o Menggunakan berat badan d. Supervisi medis Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur. - Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya - Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi bila ada kelainan - Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita muda dan yang sudah berumur

3.2

Manajemen Tata Ruang dan Waktu Dokter Gigi

Jalur Kerja dan Pergerakan

Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar Dental Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone, kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi.

15

Clock Concep (Nusanti, 2000) Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi. Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain yang perlu diperhatikan ketika membuat desain tata letak alat adalah pergerakan Dokter Gigi, Pasien, dan Perawat Gigi di dalam ruangan maupun antar ruangan. Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk memberi ruang bagi pergerakan Dokter Gigi, Perawat Gigi, dan Pasien ketika masuk atau keluar Ruang Perawatan, mengambil sesuatu dari Dental Cabinet, serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi.

16

Pergerakan dalam Ruang Pemeriksaan (Kilpatrick, 1974)

Tata Letak Penempatan Alat

Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis, yaitu menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. Tata letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis, banyak faktor lain yang merupakan unsure ergonomis seperti desain warna, pencahaaan, suhu, kebisingan, dan kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan. Ruang Periksa adalah ruang utama dalam praktek dokter gigi, tata letak peralatan dalam ruangan ini berorientasi memberi kemudahan dan kenyamanan bagi Dokter Gigi, Perawat Gigi, berserta Pasiennya ketika proses perawatan dilakukan. Ukuran minimal Ruang Perawatan untuk satu Dental Unit adalah 2,5 X 3,5 Meter, dalam ruangan ini dapat dimasukan satu buah Dental Unit, Mobile Cabinet, serta dua buah Dental Stool8. Unsur penunjang lain dapat turut dimasukan seperti audio-video atau televisi untuk hiburan pasien yang sedang dirawat.

17

Perhatian pertama dalam mendesain penempatan peralatan adalah terhadap Dental Unit. Alat ini bukan kursi statis tetapi dapat direbahkan dan dinaikturunkan. Pada saat posisi rebah panjang Dental Unit adalah sekitar 1,8-2 Meter. Di belakang Dental Unit diperlukan ruang sebesar 1 Meter untuk Operators Zone dan Static Zone, oleh karena itu jarak ideal antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding belakang atau Dental Cabinet yang diletakkan di belakang adalah 3 Meter; sementara jarak antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding depan minimal 0,5 Meter. Dental Unit umumnya memiliki lebar 0,9 Meter, bila Tray dalam kondisi terbuka keluar maka lebar keseluruhan umumnya 1,5 Cm. Jarak dari tiap sisi minimal 0,8 Meter untuk pergerakan di Operators Zone dan Asistants Zone. Mobile Cabinet sebagai tempat menyimpan bahan dan alat yang akan digunakan pada saat perawatan diletakan di Static Zone. Zona ini tidak akan terlihat oleh pasien dan terletak dianatara Operators Zone dan Assistant Zone sehingga baik Dokter Gigi maupun Perawat Gigi akan dengan mudah mengambil bahan maupun alat yang diperlukan dalam perawatan. Bila Mobile Cabinet lebih dari satu, maka Mobile Cabinet kedua diletakan di Operators Zone. Alat besar terakhir yang berada di Ruang Perawatan adalah Dental Cabinet sebagai tempat penyimpanan utama bahan maupun alat kedokteran gigi. Umumnya berbentuk buffet setengah badan seperti Kitchen Cabinet dengan ketebalan 0,6-0,8 Meter. Bila hanya satu sisi, lemari ini ditempatkan di Static

18

Zone, sedangkan bila berbentuk L, ditempatkan di Static Zone dan Assistants Zone. Keberadaan Dental Cabinet akan menambah luas ruangan yang diperlukan untuk menempatkannya.

a. Suhu dan Kelembaban. Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m. Bila suhu > 280C perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dan lain-lain. Bila suhu udara luar < 180C perlu menggunkan pemanas ruangan. 33 Bila kelembaban ruang kerja : - > 60% perlu menggunakan alat dehumidifier. - < 40% perlu menggunakan alat humidifier (misalnya: mesin pembentuk aerosol). Untuk ruangan kerja yang ber AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai.

19

Ruang dan Bangunan.

a. Bangunan kuat, terpelihara, bersih, dan tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan. b. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, dan bersih. c. Setiap orang mendapatkan ruang udara minimal 10 m3 / karyawan. d. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air. e. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,50 m dari lantai. f. Atap kuat dan tidak bocor. g. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6 kali luas lantai.

3.3

Tujuan dan Sistem Kerja Four Handed Dentistry

Tujuan Four Handed Dentistry

i) Untuk mendapatkan hasil yang optimal pada pekerjaan dokter gigi. hal ini dapat dicapai dengan mengusai pengetahuan dan teknik kerja. ii) Menghemat waktu. Dengan menguasai urutan kerja dan prosedur, dokter gigi dapat berkerja secara efisien dan cepat tanpa ragu-ragu dan ini dapat menghematkan waktu dalam perawatan. iii) Untuk bekerja secara efisien. Efisiensi kerja dapat ditingkatkan dengan cara meletakkan peralatan dan bahan disusun secara berurutan dengan tahap prosedur kerja yang dilakukan.

20

iv) Supaya dokter gigi dapat bekerja dengan nyaman. Hal ini dapat dicapai dengan cara meletakkan dental chair, meja peralata, lampu serta posisi operator dan asistennya. v) Untuk mendapatkan kepercayaan dari pasien. kerja yang efisien dan kenyamanan pasien akan memberikan rasa kepercayaan pasien kepada dokter gigi dan membina hubungan yang positif antara pasien dengan dokter gigi.

Sistem Kerja

Seiring dengan makin kompleksnya pelayanan kedokteran gigi, profesi di bidang ini turut ikut berkembang. Bila dahulu cukup hanya dokter gigi saja yang memberikan pelayanan, kini di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, pelayanan diberikan oleh sebuah tim yang terdiri dari Dentist, Dental Hygienist, Dental Assistant, dan Dental Technician. Dentist adalah dokter gigi yang memberikan pelayanan kedokteran gigi. Dental Hygienist bertugas mengisi Rekam Medis, serta melakukan tindakan Preventive Dentistry seperti membersihkan karang gigi secara mandiri. Dental Assistant bertugas sebagai asisten yang membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan, mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur perawatan sedang dilakukan. Dental Technician berkerja di Laboratorium, membuat protesa dan alat bantu yang akan dipasang di mulut pasien. Di Indonesia kondisinya sedikit berbeda, hanya dikenal 2 profesi kesehatan gigi diluar dokter gigi yaitu Perawat Gigi dan Tekniker Gigi. Perawat Gigi bertugas seperti Dental Assistant dan Dental Hygienist, sedangkan Tekniker Gigi bertugas sama seperti Dental Technician. Pada saat suatu pelayanan kedokteran gigi dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien

21

yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi. Tugas kedua orang ini berbeda namun saling mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed Dentistry. Konsep Four Handed Dentistry telah diadopsi oleh para produser pembuatan dental unit, sehingga saat ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi dengan sisi Dental Asistant disebelah kiri pasien. Oleh karena itulah konsep Four Handed Dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi.

3.4

Jenis, Etiologi, dan Factor Resiko dari Muskuloskeletal Disorder

Musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan otot rangka merupakan kerusakan pada otot, saraf, tendon, ligament, persendian, kartilago, dan discus invertebralis. Kerusakan pada otot dapat berupa ketegangan otot, inflamasi, dan degenerasi. Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro faktur, patah, atau terpelintir. MSDs terjadi dengan dua cara: 1. Kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau periode waktu yang lama dari usaha otot, dihubungkan dengan pengulangan atau usaha yang terus menerus dari bagian tubuh yang sama meliputi posisi tubuh yang statis; 2. Kerusakan tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas yang sangat kuat/berat atau pergerakan yang tak terduga. Frekuensi yang lebih sering terjadi MSDs adalah pada area tangan, bahu, dan punggung. Aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya MSDs yaitu penanganan bahan dengan punggung yang membungkuk atau memutar, membawa ke tempat yang jauh (aktivitas mendorong dan menarik), posisi kerja yang statik dengan punggung membungkuk atau terus menerus dan duduk atau berdiri tiba-tiba, mengemudikan kendaraan dalam waktu yang lama (getaran seluruh tubuh), pengulangan atau gerakan tiba-tiba meliputi memegang dengan atau tanpa kekuatan besar.

22

Gejala Musculoskeletal disorders (MSDs) dapat menyerang secara cepat maupun lambat (berangsur-angsur), menurut Kromer (1989), ada 3 tahap terjadinya MSDs yang dapat diidentifikasi yaitu: Tahap 1 : Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja tapi gejala ini

biasanya menghilang setelah waktu kerja (dalam satu malam). Tidak berpengaruh pada performance kerja. Efek ini dapat pulih setelah istirahat; Tahap 2 : Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah bekerja. Tidak mungkin terganggu. Kadang-kadang menyebabkan berkurangnya

performance kerja; Tahap 3 : Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri terjadi ketika bergerak secara repetitive. Tidur terganggu dan sulit untuk melakukan pekerjaan, kadang-kadang tidak sesuai kapasitas kerja. Jenis keluhan MSDs a. Sakit Leher Sakit leher adalah penggambaran umum terhadap gejala yang mengenai leher, peningkatan tegangan otot atau myalgia, leher miring atau kaku leher. Pengguna komputer yang terkena sakit ini adalah pengguna yang menggunakan gerakan berulang pada kepala seperti menggambar dan mengarsip, serta pengguna dengan postur yang kaku; b. Nyeri Punggung Nyeri punggung merupakan istilah yang digunakan untuk gejala nyeri punggung yang spesifik seperti herniasi lumbal, arthiritis, ataupun spasme otot. Nyeri punggung juga dapat disebabkan oleh tegangan otot dan postur yang buruk saat menggunakan komputer.

23

c. Carpal Tunnel Syndrome Merupakan kumpulan gejala yang mengenai tangan dan pergelangan tangan yang diakibatkan iritasi dan nervus medianus. Keadaan ini disebabkan oleh aktivitas berulang yang menyebabkan penekanan pada nervus medianus. Keadaan berulang ini antara lain seperti mengetik, arthritis, fraktur pergelangan tangan yang penyembuhannya tidak normal, atau kegiatan apa saja yang menyebabkan penekanan pada nervus medianus; d. De Quervains Tenosynovitis Penyakit ini mengenai pergelangan tangan, ibu jari, dan terkadang lengan bawah, disebabkan oleh inflamasi tenosinovium dan dua tendon yang berasa di ibu jari pergelangan tangan. Aktivitas berulang seperti mendorong space bar dengan ibu jari, menggenggam, menjepit, dan memeras dapat menyebabkan inflamasi pada tenosinovium. Gejala yang timbul antara lain rasa sakit pada sisi ibu jari lengan bawah yang dapat menyebar ke atas dan ke bawah; e. Thoracic Outlet Syndrome Merupakan keadaan yang mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan yang ditandai dengan nyeri, kelemahan, dan mati rasa pada daerah tersebut. Terjadi jika lima saraf utama dan dua arteri yang meninggalkan leher tertekan. Thoracic Outlet Syndrome disebabkan oleh gerakan berulang dengan lengan diatas atau maju kedepan. Pengguna komputer beresiko terkena sindrom ini karena adanya gerakan berulang dalam menggunakan keyboard dan mouse; f. Tennis Elbow Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan bawah dan berjalan keluar ke pergelangan tangan. Tennis elbow disebabkan oleh gerakan berulang dan tekanan pada tendon ekstensor.

24

g. Low Back Pain Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada discus.Hal ini berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi yang tidak ergonomis, dan peralatan lainnya yang tidak sesuai dengan antopometri pekerja.

25

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan

1.

Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja.

2. gigi

Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran adalah prinsip ergonomis, yaitu menyerasikan atau

menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik

3.

Tujuan dari Four Handed dentistry adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari kerja dokter gigi dengan dibantu oleh perawat gigi yang bekerja membantu dokter gigi dengan system kerja berdasarkan clock zone.

4.

Frekuensi yang lebih sering terjadi MSDs adalah pada area tangan, bahu, dan punggung. Aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya MSDs yaitu penanganan bahan dengan punggung yang membungkuk atau memutar, membawa ke tempat yang jauh (aktivitas mendorong dan menarik), posisi kerja yang statik dengan punggung membungkuk atau terus menerus dan duduk atau berdiri tiba-tiba, mengemudikan kendaraan dalam waktu yang lama (getaran seluruh tubuh),

26

pengulangan atau gerakan tiba-tiba meliputi memegang dengan atau tanpa kekuatan besar.

27

DAFTAR PUSTAKA

Anononim. Ergonomi. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI Design by Feel Papers. www.designbyfeel.com. Diakses 4 Juli 2006.

Dougherty, M. Information for Consideration in an Ergonomic Standard for Dentistry.

Endro, H. Presfektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1 Volume 8. Januari 2004. Hal 4-5.

Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. Practice Management for Dental Team. St Louis : Mosby. 2001.

Heizer, J. dan B. Render. Operation Management. Sixth Edition. Upper Saddle River : Prentice Hall.

Jones. Klinik Gigi Toothfairy, Periksa Gigi di Ruang Biru. 115 Sudut Ruang Usaha. Jakarta : PT Samindra Utama. Hal 72-75.

Kilpatrick. H. Work Simplification in Dental Practice. Philadhelphia : WB Saunders Company. 1974

28

29