Anda di halaman 1dari 8

KEJADIAN GUNUNG MELETUS EYJAFJALLAJKULL DI ISLANDIA

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Investigasi Wabah

KELOMPOK 7 SOFIA SEPTIANI 108101000055 ERA PRASASTI 108101000070 RISKA FERDIAN 108101000042

KESEHATAN MASYARAKAT 5B

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011

a. Latar Belakang peristiwa bencana/masalah Eyjafjallajkull adalah salah satu gletser kecil di Islandia. Eyjafjallajkull terletak di sebelah utara Skgar dan di sebelah barat sebuah gletser yang lebih besar, Mrdalsjkull. Kantong es dari gletser menutupi sebuah gunung berapi (tinggi 1,666 m (5.470 kaki)) yang relatif sering meletus sejak Zaman Es. Letusan Eyjafjallajkull 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung

berapi yang terjadi di Eyjafjallajkull di Islandia. Terjadi sebanyak dua kali letusan yaitu pada tanggal 20 Maret 2010 dan tanggal 14 April 2010. Erupsi Eyjafjallajokull membuat 500 warga dievakuasi. Meski sebagian besar warga kini telah kembali ke rumah mereka, pemerintah tetap menunggu hasil penelitian untuk menentukan apakah area itu masih aman untuk ditinggali. Adapun warga di 14 peternakan di sekitar area erupsi telah diperintahkan untuk menjauh dari lokasi tersebut. Letusan Pertama Aktivitas seismik dimulai pada akhir 2009, dan

menyebabkan letusan gunung berapi pada tanggal 20 Maret 2010.

Pada

akhir Desember gunung

2009, aktivitas berapi

seismik dimulai dengan

disekitar

daerah

Eyjafjallajkull,

ribuan gempa bumi kecil (kebanyakan 1-2 Mw, 7-10 kilometer dibawah gunung berapi). Aktivitas seismik yang tidak biasa ini yang bersamaan dengan gerakan cepat kerak Bumi di daerah itu memberi bukti bahwa magma telah mengalir dari bawah kerak Bumi ke dalam kantung magma dari gunung Eyjafjallajkull. Aktivitas seismik ini terus meningkat dan, pada 3-5 Maret, telah terukur kira- kira 3.000 gempa bumi di pusat gempa vulkanik. Sebagian besar terlalu kecil untuk dibaca sebagai pertanda letusan, tetapi beberapa bisa terdeteksi di kota-kota disekitarnya. Letusan

tersebut diperkirakan telah dimulai pada 20 Maret 2010, beberapa waktu antara 22:30 dan 23:30 pm waktu lokal (UTC), beberapa kilometer di sebelah timur gletser di lereng utara gunung Fimmvruhls. Letusan Kedua Pada 14 April 2010 Eyjafjallajkull kembali meletus setelah

beberapa hari tidak meletus, kali ini di pusat gletser, menyebabkan es yang meleleh membanjiri sungai didekatnya dalam 2 arus di kedua sisi gunung berapi dan memaksa 800 orang dievakuasi. Jalan disepanjang sungai Markarfljt telah hanyut di beberapa titik. Tidak seperti letusan sebelumnya, letusan kedua terjadi di

bawah lapisan es glasial. Air dingin dari es yang meleleh mendinginkan lava dengan cepat dan menjadikannya awan yang mengandung kaca, menciptakan partikel kaca kecil yang bisa terbawa awan letusan. Bersama dengan magnitude letusan, diperkirakan 10 sampai 20 kali lebih besar daripada yang terjadi di Fimmvruhls, membuat awan abu kaya kaca di atmosfer bagian atas yang sangat berbahaya bagi pesawat terbang. Pada 16 April 2010 pada 12:00 GMT letusan berlanjut.

Perkiraan untuk 17 April pada 06:00 menunjukkan sebuah awan abu yang signifikan berlanjut di Eropa bagian utara.

b. Masalah kesehatan yang dihadapi saat bencana dan setelah bencana 1. Dampak awan debu terhadap perjalanan udara Debu vulkanik adalah bahaya besar bagi pesawat terbang. Kemunculan dan lokasi awan ini bergantung pada keadaan letusan dan angin. Telah terjadi gangguan perjalanan udara setelah letusan kedua. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, air dingin dari es yang meleleh dengan cepat mendinginkan lava, menyebabkan lava

berubah menjadi kaca, membentuk partikel-partikel kaca kecil yang terbawa oleh awan letusan. Hal ini, bersama tingkat letusan, membentuk awan penuh kaca di atmosfer atas yang sangat berbahaya bagi pesawat terbang.

2. Dampak letusan terhadap kesehatan

Gunung

berapi

yang

mengalami

erupsi

akan

menyemburkan uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), asam klorida (HCl), asam fluorida (HF), dan abu vulkanik ke angkasa. Belum lagi kemungkinan keluarnya suhu panas dan gas-gas beracun yang mungkin ikut menyembur bersama abu vulkanik. Abu vulkanik mengandung silika, mineral, dan bebatuan. Unsur yang paling umum adalah sulfat, klorida, natrium, kalsium, kalium, magnesium, dan fluoride, sementara unsur lain dalam konsentrat rendah adalah seperti seng, kadmium, dan timah. Menurut seorang perwakilan WHO Perserikatan BangsaBangsa menyatakan letusan gunung berapi di Islandia bisa mengganggu saluran pernapasan masyarakat Eropa. "Pengidap asma, emfisema, atau bronkitis kemungkinan lebih rentan terkena iritasi jika konsentrasi abu dari letusan itu tinggi."

Gangguan Pernapasan Partikel mikroskopis abu vulkanik bisa dengan mudah terhirup ke dalam paru-paru dan menimbulkan masalah pernapasan. Itulah mengapa penting mengenakan masker penutup hidung dan mulut saat berada di lokasi hujan abu vulkanik. Seseorang dengan bronkhitis, emfisema dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan.

Iritasi Mata

Partikel abu vulkanik yang kasar umumnya membuat mata terasa tidak nyaman, bahkan memicu iritasi terutama mereka yang mengenakan lensa kontak. Sejumlah pakar menyarankan penggunaan kacamata biasa.

Selain itu, mereka yang tengah berada di lingkungan hujan abu vulkanik juga diminta tak sembarangan menggosok mata meski terasa sakit, gatal, dan merah. Gosokan tangan dikhawatirkan akan memicu goresan partikel abu di kornea.

Kasus terparah adalah terjadinya peradangan pada kantung conjuctival yang mengelilingi bola mata sehingga mata menjadi merah, terasa seperti terbakar dan sensitif terhadap cahaya. Ahli penyakit pernapasan dari Inggris, Ken Donaldson, mengatakan, "Ada efek melemahkan yang timbul dari semburan abu yang terbawa angin." Profesor Universitas Edinburgh ini menganggap efek sampingnya berbahaya bagi pernapasan. Senada dengan WHO, ia juga menyarankan pengidap gangguan paru-paru di sekitar gunung tersebut untuk tinggal di dalam rumah.

Gas beracun belerang dioksia membunuh lebih dari setengah populasi ternak di Islandia dan menyebakan kelaparan yang menghapuskan sekitar seperempat dari penduduk Islandia.

Efek abu vulkanik bila terkena kulit atau mata, dalam jangka waktu lama dampaknya akan merusak jaringan kulit hingga iritasi.

c. Penanganan dalam menyelesaikan masalah kesehatan

Peringatan dari WHO tentang bahaya abu vulkanik. WHO menyarankan kepada masyarakat sekitar untuk masuk ke dalam ruangan dan mengurangi aktivitas di luar rumah jika mengalami keluhan sakit tenggorokan, sesak nafas, hidung berair, atau gatal-gatal pada mata. Sekitar seperempat partikel abu yang dikeluarkan ditengarai ukurannya kurang dari satu micron. Pemerintah Islandia menanggapi dengan cepat dan tepat sehingga menghindari jatuhnya korban. Tim SAR telah dikirimkan sesegera mungkin untuk mengevakuasi para warga. Pemerintah Islandia telah mengembalikan pengungsi kerumahnya, tetapi masih tetap menunggu hasil penelitian untuk menentukan apakah area itu masih aman untuk ditinggali. Adapun warga di 14 peternakan di sekitar area erupsi telah diperintahkan untuk menjauh dari lokasi tersebut.

d. Pendapat atau saran untuk menyelesaikan masalah kesehatan Saran untuk menyelesaikan masalah kesehatan ini adalah 1. Tindakan kesiapsiagaan Persiapan dalam menghadapi letusan gunung api Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung api dan ancaman-ancamannya Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman Membuat sistem peringatan dini Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung api Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang Membuat perencanaan penanganan bencana

Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan

2. Tindakan saat terjadi letusan gunung api Yang sebaiknya dilakukan jika terjadi letusan gunung api Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan Masuk ruang lindung darurat Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang,celana panjang, topi dan lainnya Melindungi mata dari debu - bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata

Jangan memakai lensa kontak Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung Saat turunnya abu gunung api Usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan

3. Tindakan setelah terjadi letusan gunung api Yang sebaiknya dilakukan setelah terjadinya letusan gunung api

Jauhi wilayah yang terkena hujan abu Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian

Daftar Pustaka

Anonim.2010. Letusan Gunung Islandia Ancam Dunia. www.mig33indo.com. Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.00 WIB

Anonim.

2010.

Ragam

Penyakit

Akibat

Abu

Vulkanik

Merapi.

http://kesehatan.kompasiana.com. Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.10 WIB Randhard. 2010. Gunung Kedua Islandia Juga Akan Meletus.

www.wordpress.com Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.24 WIB

http://www.idepfoundation.org/download_files/pbbm/2.1_GunungBerapi. pdf Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.33 WIB http://anjalpratama.wordpress.com/2010/03/23/efek-letusan-gunungeyjafjallajokull-berdampak-global/ Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.50

WIB
http://www.didiksugiarto.com/2010/03/letusan-gunung-islandia-bisasebabkan.html Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.50 WIB http://www.harian-global.com/index.php? option=com_content&task=view&id=33499&Itemid=55 Diakses pada tanggal

31 Januari 2011 pukul 12.00 WIB


http://www.tempointeraktif.com/hg/eropa/2010/04/17/brk,20100417241091,id.html Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.45 WIB http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/11/18/ragam-penyakitakibat-abu-vulkanik-merapi/ Diakses pada tanggal 31 Januari 2011 pukul 11.56 WIB