Anda di halaman 1dari 27

TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH KEPERAWATAN GERONTIK ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

Oleh: Dea Ayu Lutfi Ahmad Hasan Fitriani Maba Taufik Hidayat Titi Sugiarti Widianingsih Furyanto G1D008064 G1D008078 G1D008089 G1D008097 G1D008104 G1D008111 G1D008120

KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Diabetes sudah dikenal sejak berabad-abad sebelum Masehi. Pada Papyrus Ebers di Mesir 1500 SM, digambarkan adanya penyakit dengan tanda-tanda banyak kencing (Miharja, 2008). Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Budhiarta, et, al, 2006). Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H saat membuka Seminar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009, 5 November 2009 di Jakarta. Prof. Tjandra Yoga mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi nasional Obesitas umum pada penduduk

usia 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas sentral pada penduduk Usia 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia >15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik pada penduduk >10 tahun sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk >10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6%. Dalam sambutannya Prof. Tjandra Yoga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit. Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes (Susanto, 2009).

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian diabetes mellitus.

2. Untuk mengetahui etiologi dan tipe-tipe diabetes mellitus 3. Untuk mengetahui faktor predisposisi diabetes mellitus
4. Untuk mengetahui patofisiologi dan pathway diabetes mellitus

5. Untuk mengetahui tanda dan gejala diabetes mellitus


6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang diabetes mellitus

7. Untuk mengetahui komplikasi diabetes mellitus 8. Untuk mengetahui penatalaksanaan diabetes mellitus 9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan diabetes mellitus.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002). Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi/

perlukaan pada membran basalis dalam pemerisaan dengan menggunakan mikroskop elektron (Arif, et al, 2001) B. Etiologi Pada lansia cenderung terjadi peningkatan berat badan, bukan karena mengkonsumsi kalori berlebih namun karena perubahan rasio lemak-otot dan penurunan laju metabolisme basal. Hal ini dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya diabetes mellitus. Penyebab diabetes mellitus pada lansia secara umum dapat digolongkan ke dalam dua besar: Proses menua/kemunduran (Penurunan sensitifitas indra pengecap, penurunan fungsi pankreas, dan penurunan kualitas insulin sehingga insulin tidak berfungsi dengan baik). Gaya hidup (life style) yang jelek (banyak makan, jarang olahraga, minum alkohol, dll.) Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress juga dapat menjadi penyebab terjadinya diabetes mellitus.Selain itu perubahan fungsi fisik yang menyebabkan keletihan dapat menutupi tanda dan gejala diabetes dan menghalangi lansia untuk mencari bantuan medis. Keletihan, perlu bangun pada malam hari untuk buang air kecil, dan infeksi yang sering merupakan indikator diabetes yang mungkin tidak diperhatikan oleh lansia dan anggota keluarganya karena mereka percaya bahwa hal tersebut adalah bagian dari proses penuaan itu sendiri. 1. Diabetes tipe I: a. Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. b. Faktor-faktor imunologi Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan

tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. c. Faktor lingkungan Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta. 2. Diabetes Tipe II Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor resiko : a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th) b. Obesitas c. Riwayat keluarga C. Faktor Predisposisi Diabetes melitus disebabkan oleh faktor : 1. Faktor demografi

Jumlah penduduk meningkat Penduduk berumur > 40 tahun meningkat Urbanisasi 2. Gaya hidup yang kebarat-baratan
Pendapatan Restoran

perkapita tinggi

cepat saji

Hidup santai

3. Berkurangnya penyakit infeksi dan kurang gizi Sudah lama diketahui bahwa diabetes merupakan penyakit keturunan, tetapi faktor keturunan saja tidak cukup. Masih mungkin bibit ini tidak menampakkan diri secara nyata sampai akhir hayatnya. Beberapa faktor yang sering merupakan faktor pencetus diabetes melitus adalah:

Kurang gerak/malas Makanan berlebihan Kehamilan Kekurangan produksi hormon insulin Penyakit hormon yang kerjanya berlawanan dengan insulin Adanya infeksi virus (pada DM tipe 1) Minum obat-obatan yang bisa menaikkan kadar glukosa darah Proses menua D. Patofisiologi Pengolahan bahan makanan dimulai dari mulut kemudian ke lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan, makanan yang terdiri dari karbohidrat dipecah menjadi glukosa, protein dipecah menjadi asam amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan itu diedarkan ke seluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Supaya berfungsi sebagai bahan bakar zat makanan itu harus diolah, dimana glukosa dibakar melalui proses kimia yang menghasilkan energi yang disebut metabolisme. Dalam proses metabolisme insulin memegang peranan penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Insulin adalah suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas, bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pasien diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit, antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu sendiri.

Pada diabetes melitus tipe 2 jumlah insulin normal, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat (diabetesmellituscenter.wordpress.com, 2010). E. Tanda dan Gejala Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. Katarak 2. Glaukoma 3. Retinopati 4. Gatal seluruh badan 5. Pruritus Vulvae 6. Infeksi bakteri kulit 7. Infeksi jamur di kulit 8. Dermatopati 9. Neuropati perifer 10. Neuropati viseral 11. Amiotropi 12. Ulkus Neurotropik 13. Penyakit ginjal 14. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Penyakit koroner

16. Penyakit pembuluh darah otak 17. Hipertensi

F. Pemeriksaan Penunjang 1. Glukosa darah sewaktu 2. Kadar glukosa darah puasa 3. Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl) Bukan DM Kadar glukosa darah sewaktu Plasma vena Darah kapiler < 100 <80 100-200 80-200 >200 >200 Belum pasti DM DM

Kadar glukosa darah puasa Plasma vena Darah kapiler <110 <90 110-120 90-110 >126 >110

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan : 1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L) 2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L) 3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

G. Pathway Defisiensi Insulin glukagon penurunan pemakaian glukosa oleh sel glukoneogenesis lemak ketogenesis ketonemia
Mual muntah

hiperglikemia glycosuria Osmotic Diuresis Dehidrasi Hemokonsentrasi Trombosis Aterosklerosis

Kurang pengetahuan

protein BUN

Nitrogen urine

Kekurangan volume cairan

pH Asidosis

Resti Ggn Nutrisi Kurang dari kebutuhan

Koma Kematian

Makrovaskuler

Mikrovaskuler

Retina Jantung Serebral Miokard Infark Stroke Ekstremitas Gangren Retinopati diabetik

Ginjal Nefropati

Ggn Integritas Kulit

Ggn. Penglihatan Gagal Ginjal Resiko Injury

H. Penatalaksanaan Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : a. Diet Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% Protein, 75% Karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor insulin. b. Latihan Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan sebelum latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia secara fisik mampu mengikuti program latihan kebugaran. Pengkajian pada tingkat aktivitas klien yang terbaru dan pilihan gaya hidup dapat membantu menentukan jenis latihan yang mungkin paling berhasil. Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan kesejahteraan emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan berat badan. c. Pemantauan Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa secara rutin. Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau untuk mengetahui terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM pada lansia. d. Terapi (jika diperlukan) Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan efektif hanya untuk penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat dilakukan untuk mepertahankan kadar glukosa darah dalam parameter yang telah ditentukan untuk membatasi komplikasi penyakit yang membahayakan.

e. Pendidikan - Diet yang harus dikomsumsi - Latihan - Penggunaan insulin I. Komplikasi Diabetes Melitus Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. Yang termasuk dalam komplikasi akut adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis (DKA), dan hyperglycemic hyperosmolar nonketocic coma (HHNC). Yang termasuk dalam komplikasi kronis adalah retinopati diabetic, nefropati diabetic, neuropati, dislipidemia, dan hipertensi. Komplikasi akut Diabetes ketoasidosis Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang berat pada jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitive terhadap kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi ( penyakit) Komplikasi kronis: a. Retinopati diabetic Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada pembuluh retina. Terdapat pula bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya aliran darah retina. Respon terhadap iskemik retina ini adalah pembentukan pembuluh darah baru, tetapi pembuluh darah tersebut sangat rapuh sehingga mudah pecah dan dapat mengakibatkan perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa mengakibatkan ablasio retina atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen. b. Nefropati diabetic Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah glomerulosklerosis yang nodular yang tersebar dikedua ginjal yang disebut sindrom Kommelstiel-Wilson. Glomeruloskleriosis nodular dikaitkan dengan proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi sindrom Kommelstiel-Wilson ditemukan hanya pada DM.

c. Neuropati Neuropati diabetic terjadi pada 60 70% individu DM. neuropati diabetic yang paling sering ditemukan adalah neuropati perifer dan autonomic. d. Displidemia Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia. e. Hipertensi Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan penyakit ginjal, mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM tipe 2, hipertensi bisa menjadi hipertensi esensial. Hipertensi harus secepat mungkin diketahuin dan ditangani karena bisa memperberat retinopati, nepropati, dan penyakit makrovaskular. f. Kaki diabetic Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu neuropati, iskemia, dan sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan. Hilanggnya sensori pada kaki mengakibatkan trauma dan potensial untuk ulkus. Perubahan mikrovaskuler dan makrovaskuler dapat mengakibatkan iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati, iskemia, dan sepsis bisa menyebabkan gangrene dan amputasi. g. Hipoglikemia Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di bawah 60 mg/dl, yang merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat hipoglikemik oral. Penyebab hipoglikemia pada pasien sedang menerima pengobatan insulin eksogen atau hipoglikemik oral.

J. Asuhan Keperawatan Pengkajian Riwayat Kesehatan Keluarga Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ? Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya

Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya. Aktivitas/ Istirahat : Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun. Sirkulasi Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah Integritas Ego Stress, ansietas Eliminasi Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare Makanan / Cairan Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik. Neurosensori Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan. Nyeri / Kenyamanan Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat) Pernapasan Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak) Keamanan Kulit kering, gatal, ulkus kulit. Pemeriksaan Fisik Pengukuran tinggi dan berat badan, pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik, pemeriksaan funduskopi, pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid, pemeriksaan jantung, evaluasi nadi baik secara palpasi maupun dengan stetoskop, pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk

jari, pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat, penyuntikan insulin) dan pemeriksaan neurologis, tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe-lain Masalah Keperawatan 1. 2. 3. 4. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan Kekurangan volume cairan Gangguan integritas kulit Resiko terjadi injury

K. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak. 2. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.

L.

Rencana Asuhan Keperawatan

No 1

Diagnosa Resiko nutrisi kebutuhan oral, tinggi :

Tujuan gangguan Kebutuhan berhubungan

Kriteria Hasil nutrisi Pasien nutrien yang tepat atau

Intervensi dapat indikasi. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. (nutrien) Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan dan elektrolit dengan ke arah Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan

kurang

dari pasien terpenuhi

mencerna jumlah kalori atau Berat badan stabil penambahan rentang biasanya

dengan penurunan masukan anoreksia, mual, peningkatan protein, lemak. metabolisme

segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral. Libatkan sesuai dengan indikasi. hipoglikemia tingkat Observasi tanda-tanda seperti kesadaran, perubahan kulit keluarga pasien pada pencernaan makan ini

lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala. Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah. Kolaborasi pemberian pengobatan insulin. diet. Kolaborasi dengan ahli

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis

Kebutuhan

cairan Pasien menunjukkan hidrasi yang

Pantau

tanda-tanda

atau hidrasi pasien adekuat dibuktikan oleh tanda vital

vital, catat adanya perubahan TD

osmotik

terpenuhi

stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

ortostatik Pantau Kaji kualitas otot bantu nafas Kaji membran mukosa pengeluaran Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung Catat hal-hal Observasi seperti adanya mual, muntah dan distensi lambung. kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur Pantau masukan dan nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan pola frekuensi nafas dan seperti adanya pernafasan kusmaul pernafasan, penggunaan

atau

Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan tanpa dextrosa, laboratorium pantau (Ht, pemeriksaan BUN, Na, K)

Gangguan

integritas

kulit Gangguan integritas Kondisi luka menunjukkan adanya dengan kulit dapat berkurang perbaikan menunjukkan terinfeksi penyembuhan. jaringan dan tidak

Kaji

luka,

adanya warna,

epitelisasi, edema, dan

berhubungan (neuropati perifer).

perubahan

perubahan status metabolik atau

discharge, frekuensi ganti balut. Kaji tanda vital Kaji adanya nyeri Lakukan perawatan luka Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

Resiko

terjadi

injury Pasien

tidak Pasien

dapat

memenuhi

Hindarkan lantai yang licin.

berhubungan penurunan penglihatan

dengan mengalami injury fungsi

kebutuhannya tanpa mengalami injury

Gunakan bed yang rendah. Orientasikan ruangan. Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi klien dengan

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang Penyakitnya

Pasien mengetahui tentang

Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren. Kaji latar belakang pendidikan pasien.
Jelaskan tentang proses penyakit,

proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
Pasien dapat melakukan

perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan katakata yang mudah dimengerti.
Jelasakan prosedur yang kan

dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada /memungkinkan).

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan Diabetes mellitus merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Etiologi diabetes mellitus antara lain faktor genetik, faktor imunologi, faktor lingkungan, selain itu usia dan obesitas juga sering menjadi penyebab diabetes mellitus. Tipe-tipe diabetes mellitus ada dua yaitu diabetes mellitus tipe 1 yaitu disebabkan karena sel beta pada pankreas sedikit atau tidak dapat memproduksi insulin, sedangkan tipe 2 yaitu pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Patofisiologi diabetes mellitus terjadi saat makanan ketika akan dimetabolisme harus dipecah menjadi partikel-partikel yang dapat diserap tubuh. Dalam proses metabolisme insulin memegang peranan penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai bahan bakar. Bila insulin tidak ada maka glukosa tidak dapat masuk sel dengan akibat glukosa akan tetap berada di pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah meningkat. Pada Diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Diabetes tipe ini mewarisi kerentanan genetik yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimun sel beta pankreas. Pada diabetes melitus tipe 2 jumlah insulin normal, tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel

yang kurang sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa dalam darah menjadi meningkat. Tanda dan gejala diabetes mellitus antara lain Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Pemeriksaan penunjang diabetes mellitus Glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, tes toleransi glukosa Komplikasi diabetes mellitus antara lain Retinopati diabetic, neuropati, nefropati diabetic, displidemia, hipertensi, kaki diabetic, hipoglikemia Penatalaksanaan diabetes mellitus antara lain diet, latihan, terapi (jika diperlukan), dan pemantauan Diagnosa yang dapat diambil : a. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak. b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik. c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer). d. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penglihatan B. Saran 1. Dengan mengetahui asuahan keperawatan pada penderita diabetes melitus pada lansia kita dapat melakukan pencegahan agar penyakit yang timbul tidak menuju keparahan
2. Pada pasien DM pada lansia kita harus mewaspadai adanya perubahan

penurunan fungsi

fungsi

fisiologis

maupun

psikologisnya

untuk

mengantisipasi

komplikasi maupun kegawat daruratan pada penderita DM seperti hipoglikemi maupun respon stres yang timbul pada lansia tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Mengenal Diabetes Melitus. http: // diabetesmellituscenter. Wordpress .com /2010 /01/ 09/mengenal -diabetes-mellitus/ diakses tanggal 15 Mei 2012 Budhiarta, AAG, dkk. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. http://www.kedokteran.info/ downloads/Konsensus 20Melitus%20Tipe %20Pengelolaaln %20dan%20Pencegahan%20Diabets%

%202%20di%20Indonesia%202006.PDF diakses tanggal 16 Mei 2012 Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, Luecknote, Annette Geisler. 1997. Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC. Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1edisi 3. Jakarja : Media Aesculaius Miharja. 2008. Diabetes Melitus. http://drmiharja.wordpress.com/2008/09/27/diabetesmelitus/ diakses tanggal 17 Mei 2012 Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC

Susanto, Arief. 2009. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang http://wahyuandre.blogspot.com/2009/11/tahun-2030-prevalensidiabetes-melitus.html diakses tanggal 15 Mei 2012.