Anda di halaman 1dari 12

BUIH KEJUJURAN

Kukuruyukkukuruyuk. Waduh aku kesiangan. Semalam Noni tidur kemalaman karena semalam Noni abis nonton Spiderman 3 film kesukaannya. Penayangan film itu di TV udah dia tunggu dua bulan yang lalu sejak penayangannya di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Meskipun dia udah nonton di bioskop tetep aja dia masih penasaran. Ma, mama kok aku gak dibangunin sich, aku jadi kesiangan nih, Ucap Noni agak kesal. Ya, ampun mama lupa sayang, soalnya tadi adik kamu nangis terus jadinya mama bingung, Jelas mama. Dengan tergesa-gesa Noni langsung masuk kamar bergegas untuk mandi, menghiraukan penjelasan dari mama. *** Jam sudah menunjuk angka 06.45, tapi Noni belum juga sampai, biasanya dia paling rajin berangkat pagi. Teman-temannya bingung mencari batang hidung Noni. Eh, Ros tumben si Pirca jam segini kok belum datang? Tanya Kiki. He..eh kemana gerangan Pirca, jam segini belum keliatan. Kita mo minta di privat ama dia nih, Jelas Siska. Mungkin dia ga brangkat soalnya semalem kan ada Spiderman 3, Jelas Rosa sahabat dekatnya. Ya, kita jadi ga bisa privat. Sementara mereka pada kecewa, datang Jeni dengan muka sok pinternya kasih informasi kalau dia tadi liat Bu Yuli lagi foto kopi soal ulangan di koperasi sekolah. Eh temen-temen ada kabar nih kalau soal ulangannya tuh tadi baru aja di foto kopi sama Bu Yuli, kalian tau ga kalau soalnya tuh suliiiiiiiitt buanget. Trus kamu ambil soalnya ga? Tanya Joko. Ya galah mau mati apa aku. Tolol kamu Jen, Joko esmosi. Semua teman Jeni menyurakinya, mereka merasa terganggu dengan berita yang ga penting dari Jeni, mereka jadi kehilangan waktu untuk belajar. Jenipun baru menyadari kalau sahabat kesayangannya belum datang, dia langsung cari tahu keberadaan Pirca kepada Rosa. Rosa, Pirca mana ya kok belum dateng, inikan mau bel? Tanya Jeni. Ga, taw Jen, dia ga telpon aku.

Bel tanda masuk berbunyi suaranya seperti bel saat kereta api datang atau pergi. Bu Yuli masuk dengan tampang juteknya dan langsung menyuruh para siswa untuk mengeluarkan kertas ulangan yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Banyak anak-anak yang belum siap dan meminta kelonggaran jam barang 15 menit untuk belajar. Untungnya Bu Yuli baik hati, tak tau angin apa yang membuat iya jadi sebaik itu. *** Di halte dekat rumahnya Noni antre menunggu bus yang dapat mengantarnya ke SMA 5 (SMANMA) sekolah nomer ichi di Jogja. Sayangnya bus yang dapat mengantarnya selalu penuh dengan jejalan orang berbagai profesi. Noni melihat jam yang dipakai ditangannya ternyata sudah jam 07.00, sekolah sudah masuk. Dengan terpaksa Nonipun naik ke bus yang penuh itu agar tidak terlalu kesiangan, kalau siang banget sampe di skool bisa-bisa Noni didamprat abis sama Bu Yuli. Dengan bercampur berbagai macam bau Noni hadapi dengan lapang dada. Akhirnya dia sampai di skool, dia langsung berlari ke ruang BP, disana Noni diintrogasi terlebih dahulu sama Bu Saras guru Bp yang menurut Noni paling baik. Noni bersyukur karena dia masih bisa ikut jam pelajaran pertama jadi ga akan banyak ketinggalan materi. Dia langsung berlari menuju ke kelas XI IPA 2 dan dia melihat temannya sibuk sedang mengerjakan ulangan. Dia lupa kalau hari itu ada ulangan matik, diapun semalem ga belajar. Dengan muka agak ketakutan dia masuk kelas. Bu, maaf saya terlambat, Ucap Noni dengan bibir bergetar. Ya, sekarang kamu kerjakan soal ini, waktu kamu tinggal setengah jam. Noni berjalan ke bangkunya dan semua temannya sejenak mengamati Noni sampai dia duduk. Sambil menstabilkan nafasnya yang masih ngos-ngosan Noni melihat soal itu, dia jadi pusing. Dia tak dapat mengerjakannya, dia menoleh kekanan dan kekiri melihat teman-temannya yang masih tekun menghitung. Keringat dinginnya mengucur dari pori-pori kulitnya. Dalam pikirannya terlintas kata mencontek. Dia berpikir lagi, dan dia urungkan niat itu, tapi setan disebelah kirinya membisiki untuk melakukannya. Nonipun tak bisa mengontrolnya, dia mencontek pekerjaan Rosa yang duduk disebelahnya. Tingkah laku Noni dilihat oleh Riko saingan Noni. Tanpa pikir panjang Riko melaporkannya kepada Bu Yuli. Bu. Ada apa Riko? Tanya Bu Yuli. Itu bu si Pirca bintang kelas kita ketahuan nyontek pekerjaan Rosa. Pirca siapa? Setahu ibu disini tidak ada yang namanya Pirca.

Noni bu., Semua anak berseru. Tampang kemarahan Bu Yuli menghadap ke wajah Noni. Noni terlihat ketakutan, mukanya merah padam. Bu Yuli langsung membawanya ke ruang guru untuk di introgasi lebih lanjut. Disana Noni menangis sambil memberi penjelasan kepada Bu Yuli tetapi beliau tidak peduli. Beliau Memberi surat peringatan kepada Noni untuk ditanda tangani oleh orang tuanya, oleh BK dia juga dapet skors tiga hari. Setelah introgasi selesai Noni keluar dengan lesu, diluar dia disambut Jeni dan Rosa yang sedari tadi menunggunya untuk mengetahui keadaan Noni. Pir..., akhirnya kamu keluar, Seru Jeni. Gimana, kamu diapain didalem sama Bu Yuli? Tanya Rosa. Kita duduk aja dulu ya, nanti aku critakan apa yang terjadi di dalam, Pinta Noni. Merekapun duduk di taman depan kantor guru, disitu Noni tumpahkan semua yang diarasakan didalam. Gini, tadi tuh didalam Bu Yuli introgasi aku, disana aku menjelaskan alasan aku melakukan hal itu tapi beliau ga mau denger itu semua sampai-sampai aku bilang selama di SMANMA aku belum pernah nyontek sama sekali, karena itu pantangan bagiku, dan perbuatan ini sudah merupakan pelanggaran janjiku terhadap sahabat kecilku dulu, Air mata Noni tumpah lagi kali ini lebih banyak dari yang ada di kantor guru. Melihat Noni menangis Rosa mencoba menenangkannya dia tidak kuat kalau lihat orang menangis. Sedangkan Jeni memperlihatkan tampang bingungnya, dia ga ngerti omongan Noni soal dia udah melanggar perjanjiannya sama sahabat kecilnya. Karena penasaran Jeni langsung tanya. Pir, aku mo nanya? Tanya apa Jen? Jeni orang lagi sedih kok ditanyain, Rosa melotot. Biarin, tadi kamu bilang kamu udah melanggar janji, janji apa ya, trus temen kecil yang kamu maksud tuh sapa? Ya ampun Jen, Jen tulalit banget sih kamu, ya melanggar janji nyonteklah, tapi kalau soal sahabat kecilnya aku ga taw he..he. Rosa mendahului Noni. Sudah-sudah, tadi emang bener yang diomongin sama Rosa kalau aku melanggar janji untuk tidak menyontek lagi. Aku janji sama Doni sahabatku semasa aku SD. Saat Noni ingin melanjutkan ceritanya tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi suaranya seperti bel saat kereta datang atau pergi. Merekapun pergi meninggalkan taman dan cepat-cepat masuk kelas agar tidk dimarahi sama Pak Narto guru Kewarganegaraan. ***

Sebelum mereka datang, di kelas Riko ngomporin teman-temannya agar mengejek Noni abis-abisan biar dia tahu rasa. Eh, temen-temen nanti kalau Noni datang kita ejek ya, biar tahu rasa. Aku ga setuju, dia kan baru sekali nglakuin kesalahan. Tentang Joko. Iya kita juga setuju, Seru Kiki dan Siska. Sayangnya hanya mereka bertiga yang menentang, teman-teman yang lainnya setuju sama seruan Riko. Noni, Jeni dan Rosa masuk kelas, mereka dihadang dengan suara-suara anak-anak yang tak mengenakan hati. Mata mereka semua tertuju kepada Noni. Ih, bintang kelas kok nyontekan, kalau aku sih sory lah yaw. Ucap Riko. Iya tuh paling-paling dia dapet rngking satu karena hasil keringat orang lain alias nyontek, disusul suara anak-anak lain dari belakang. Percuma pinternya Cuma nyontek. Mendengar perkataan teman-teman yang begitu menusuk hati Noni langsung berlari meninggalkan kelas. Dari kejauhan Pak Narto melihat Noni pergi, beliaupun sedikit heran dengan tingkah laku Noni. Sampai di kelas Pak Narto bertanya sama anak-anak. Ada apa sama Noni kok dia pergi sambil nangis. Itu pak Nuni ketahuan sama Bu Yuli nyontek. Ucap Riko. Apa nyontek, bapak ga percaya. Setahu bapak dia itu anak yang jujur ga beda dengan anakanak lain. Tapi, pak itu kenyatan. Riko sedikit kurang trima atas pujian yang dilontarkan Pak Narto kepada Noni. Oya minggu lalu bapak dah memberi tahu kalian kalau hari ini ada postest bukan. Iya pak. Sahut anak-anak. Sementara dibelakang Riko kebingungan dia semalem tidak belajar, dia tidak tahu kalau hari ini ada posttest, minggu lalu dia ga masuk karena sakit. Dia memarahi Didi teman sebangkunya kaena tak memberi tahunya sama sekali. Keringat panas dinginnya keluar sama seperti Noni saat ulangan matik. Dia tidak dapat mengerjakan soal-soal itu dan dia melakukan apa yang dilakukan Noni. Dan Pak Narto memergokinya, dan langsung membawanya ke kantor guru. Teman-teman yang melihatnya berannggapan kalau Riko tak beda dengan Noni. Di kantor Riko dimarahi sama Pak Narto abis-abisan dan beliau mengingatkan jangan suka kamu membuka aib orang lain. Riko juga mendapat skors dari BP selama tiga hari. *** Keadaan Noni begitu menyedihkan dia berjalan tak punya arah, dia tidak ingin pulang ke rumah dia merasa malu dan berdosa dengan perbuatan yang sudah dia perbuat.

Tiba-tiba dia pingsan di dekat taman kota, dan untungnya ditemukan oleh orang yang baik hati sehingga dia dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit Bu Sari orang yang menemukannya mencoba mencari identitas dari Noni tapi tak dia temukan. Nonipun terbangun dan Bu Sari mencoba bertanya kepada Noni dimana sebenarnya tempat tinggalnya. Nak, siapa namanya? Noni..., sambil memegang kepala yang masih agak pusing karena terjatuh tadi. Rumah Noni dimana? Noni diam saja, dia tidak mau memberitahukan dimana dia tinggal. Bu Sari memaklumi jika Noni sedang depresi karena dia seorang psikolog. Akhirnya Noni sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Melihat keadaan Noni yang kurang baik Bu Sari merasa iba melihatnya, dan memutuskan untuk membawanya pulang. Diperjalanan menuju pulang, Bu Sari mencoba membuka pembicaraan. Non, kamu terlihat seperti orang yang lagi banyak pikiran. Masalah apa yang sedang kamu hadapi? Coba cerita ibu bersedia kok dengerin cerita kamu. Ga da apa-apa kok bu. Udah ga usah bohong ibu tahu kok kamu punya banyak masalah, ibu taw dari tatapan mata kamu. Sebenernya aku emang lagi banyak masalah, tadi di sekolah aku ketahuan nyontek, tapi sebenarnya aku ga niat. Nyontek baru aku lakuin sekali selama aku SMA, aku paling anti sama yang namanya nyontek. Aku bisa berkata seperti itu karena aku udah janji sama sahabatnya kecilku kalau aku ga akan nyontek lagi, Air mata Noni jatuh. Sudah ga usah nangis manusia itu tempatnya khilaf. Oya kamu kok bisa janji kaya gitu? Ehm, dulu aku pernah nglakuin itu saat SD dan sahabatku tahu diapun langsung diemin aku selama tiga hari. Karena aku ga mau pisah sama dia, akupun berjanji untuk tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, tapi..., Air mata Noni mengalir begitu deras. *** Rangga, kamu taw ga adik kamu kemana? Udah jam empat kok belum pulang. Tanya mama. Ga, taw ya ma tadi aku ga mampir ke skoolnya. Mungkin dia pergi main dulu. Tapi biasanya kalau dia main sampai sore pasti pamit sama mama. Mama meneteskan air matanya dia khawatir dengan keberadaan Noni. Dia mencoba menghubungi Jeni dan rosa tetapi mereka ga taw kemana gerangan Noni melangkahkan kakinya.

Setelah mereka tahu kalau Noni belum pulang, mereka langsung tancap gas menuju rumah Noni untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi tadi pagi. *** Assalamualaikum, Seru mereka berdua. Waalaikumsalam, Terdengar suara yang menyapa dari dalam. Eh, Non Jeni sama Non Rosa, Sapa Bi Ijah. Ibu ada? Tanya Rosa. Ada, mari silahkan masuk. Bi Ijah menyuruh mereka masuk dan mengantar menemui mama Noni. Kalian, ayo duduk. Begini tante Rosma kami mau kasih taw tentang kejadian tadi pagi, Jelas Jeni. Memang apa yang terjadi sama Noni? Tangisnya membuncah lagi. Sabar tante, biar dijelasin sama Rosa aja? Rosa langsung melirik kaget kea rah Jeni dengan mata seperti berkata Aku. Tanpa berbelit-belit Rosa mulai bercerita dengan bahasa yang mudah dipahamI. Begini tante tadi Pirca. Pirca siapa? Tante Rosma memotong. Pirca itu panggilan sayang buat Noni karena rambutnya pirang dan cantik lagi. Jeni menjelaskan. Rosa lalu melanjutkan ceritanya yang tadi terputus. Dia telat, padahal jam pertama ada jadwal ulangan matematika, tapi dia lupa dan otomatis ga belajar. Diapun ga bisa mengerjakan dan akhirnya melihat jawaban saya, ternyata perilaku Pirca dilihat oleh Riko dan dia langsung nglaporin Pirca ke Bu Yuli. Pirca dibawa ke kantor dan diintrogasi mati-matian. Setelah introgasi selesai kami kembali ke kelas tapi di kelas Pirca diejek sama teman-teman karena ga tahan dia pergi meninggalkan kelas. Sebelumnya maaf tante kami tidak mengikuti Pirca karena sat itu mapelnya Pak Narto jadi kami ga berani keluar. Oh, ga papa. Jadi Noni dah melakukankan kesalahan untuk yang kedua kali dalam hidupnya. Kesalahan mencontek tante, Tanya Jeni. Iya, dulu saat dia pertama kali nyontek, dia didiemin sama Doni sahabatnya selama tiga hari, itu membuat dia tersiksa. Dan Doni baru bilang kalau dia ga suka punya sahabat tukang nyontekan, ga mau berusaha untuk meraih yang terbaik. Ngerti kaya gitu Noni janji sama Doni ga akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. O, jadi tu ceritanya kaya gitu, Seru mereka.

Trus bagaimana Noni belum pulang, tante kahawatir sekali. Gimana kalau kita lapor polisi aja, Usul Jeni. Eh, kalau lapor polisi tuh ada syaratnya harus udah lebih dari 24 jam, Jelas Rosa. Trus gimana, Sa??? Jeni bingung. Sambil pulang kita cari Jeni sekalian aja. Oke, ya dah kita pamit dulu tante. Oya, tante ni tas Noni tadi ketinggalan, trus nanti kalau kita dah ketemu sama Noni langsung kami beritahu kok tante, Jelas Rosa. Mereka langsung pergi dengan mobil merci pink milik Jeni. *** Ayo, Ni masuk jangan sungkan-sungkan anggap aja rumah sendiri. Ajak Tante Sari. Terima kasih tante. Tante Sari langsung menuju ke belakang untuk membuatkan minuman hangat buat Noni. Dia begitu kasihan melihat Noni yang wajahnya pucat pasi dan sepertinya sudah menahan haus sedari tadi. Non, diminum dulu, nanti kalau sudah kamu boleh curhat sama tante. Nonipun langsung menyeruput minuman hangat itu kelihatan sekali kalau dia begitu dahaga, wajahnya tampak segar kembali. Noni tak sabar untuk menumpahkan segala kegalauan nya kepada tante Sari, dia sudah menemukan orang yang pantas sebagai tempat pencurahan. Tante, semenjak peristiwa tadi aku jadi ingin bertemu sama Doni, aku ingin minta maaf sama dia. Bisa saja, kamu taw dia sekarang dia berada. Enggak, Noni geleng-geleng. Ya Allah ini sudah maghrib, tante sampai lupa nganter kamu pulang. Ga tante, aku ga mau pulang. Aku takut dimarahi sama mama. Tapi, ya dah kamu kasih taw nomer rumah kamu biar nanti tante bilang sama mama kalau kamu disini baik-baik aja. Tante khawair nanti mama kamu nyariin. Oke, tapi jangan bilang kalau aku dirumah tante ya 911711 Dah tenang aja. Tante Sari lalu menghubungi mama Noni dan menjelaskan kalau dia dalam keadaan baik bersamanya dan beliau berharap ibu Noni jangan panik, dia juga berjanji akan membujuk Noni agar mau pulang. Setelah mendapat kabar itu mama Noni langsung menghubungi Jeni dan Rosa agar mereka juga tidak khawatir.Mendengar kabar itu mereka berdua merasa lega.

Sementara itu Noni dan tante Sari solat berjamaah dan setelah itu mereka makan malam, sambil makan malam mereka melanjutkan obrolan tadi sore. Ni, siapa nama teman yang ingin kamu temui? Tanya Tante Sari. Rahardian Rhomadoni, panggilannya Doni. Kalau boleh taw dia putranya sapa? Sebentar, sepertinya putranya Pak Haji Mubakir. Sepertinya tante agak familiar dengan nama itu. Iya, tante. Ya nanti coba kita cari, tapi habisin dulu maemnya. Tante Sari langsung membuka laptopnya dan mencari nama Haji Mubakir, akhirnya ketemu juga ternyata dia itu salah seorang pemuka agama di Banten. Saking senengnya mereka langsung menghubungi Haji Mubakir lewat telepon. Assalamualaikum, bisa bicara dengan Pak Bakir ? Waalaikumsalam, ni saya sendiri, saya berbicara dengan siapa ya? Saya Sari Pak. O, mbak sari yang pernah menangani Cika. Ada perlu apa ya? Ni pak saya mau tanya soal anak bapak yang namanya Doni, sekarang dia ada dimana. O, Doni, dia sedang ikut pertukaran pelajar di Australia, memangnya ada apa dengan Doni? Ada sahabat kecilnya yang ingin bertemu dengan dia. Yang anda maksud itu Noni, kebetulan dulu sebelum pergi ke Australia dia sempat juga mencari Noni untuk pamitan tapi ga ketemu, sebelum dia pergi dia meninggalkan sesuatu untuk diberikan kepada Noni jika suatu saat kami bertemu Noni. Mendengar itu Noni begitu senang dan meminta Tante Sari untuk minta nomer Doni. Sungguh pak, kalau boleh saya minta nomernya Doni. Maaf, mbak kalau nomer saya tak punya karena disana Doni tidak boleh memakai hp, saya hanya punya alamat face booknya saja. Ga, papa pak. dony_nny@yahoo.co.id Terima kasih pak. Oh, sama-sama, sampaikan salam saya kepada Noni. Ya, Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Setelah mendapatkan alamat face book Doni, Noni langsung online dan mencari nama

mengetik alamat itu pada fb-nya pada kolom pencarian teman. Dan akhirnya ketemu juga, dilihat dari fotonya itu adalah foto mereka waktu kelas 3 SD. Untungnya saat itu Doni sedang Online dan kesempatan buat Noni untuk melepas semua rasa kangennya. Assalamualaikum, Don kamu masih kenal aku ga. ` Doni kaget saat dia mendapatkan pesan di fb-nya ternyata dari sahabat kecilnya. Sepertinya aku tak asing dengan nama ini, apa ini Noni sahabat kecilku? Aku masih inget nama ini, nama julukan yang aku berikan hanya kepada sahabat kecilku. Iya bener banget, gimana kabar kamu Jengki? Baik-baik aja , lha kamu gimana Cendol? Baik-baik aja. Melihat Noni yang begitu asyik ngobrol Tante Sari meninggalkannya sendiri, dia membiarkan Noni untuk berkangen ria. Di malam yang dingin itu Noni menceritakan semua peristiwa yang menimpanya sampai cerita ketika dia melanggar janjinya dengan Doni, sampai-sampai dia tertidur didepan laptop. *** Tanpa dibujuk Noni minta diantar pulang oleh Tante Sari, dia sudah tak takut lagi meghadapi wajah ibu yang akan memarahinya abis-abisan. Sebaliknya sampai di rumah Noni malah disambut dengan senyuman mama yang lebar. Ma, mama aku pulang, aku dah ketemu sama Doni. Apa, kapan? Mama penasaran. Semalem, tapi ketemunya di dunia maya. Selamat ya nak. Entar dulu, ma aku dateng mama kok ga marah? Ga lah mama dah taw apa yang sudah menimpa kamu. Pasti dari Jeni sama Rosa. Ma, anterin aku besok ke Banten aku mau ke rumah Doni ambil kado dari dia. Besok, ga bisa ditunda. Ga, aku udah ga sabar. Oke. Makasih ma. Ucap Noni sambil mencium pipi mama. Eh mama sampai lupa mengajak masuk tante Sari. Ga usah bu saya mau langsung aja, ada urusan penting. Mari... Jangan lupa kalau ada waktu mampir. ***

Udara diluar masih begitu dingin, orang-orang belum banyak yang hidup mereka begitu nyenyaknya tapi sebaliknya dengan Noni dia begitu semangat bangun. Dia sudah tak sabar lagi bertemu dengan keluarganya Doni apalagi bertemu dengan kado spesial yang sudah Doni persiapkan untuknya dua tahun yang lalu. Dia langsung bergegas mandi dan setelah itu memilih-milih baju yang terbaik untuk dia pakai, tak lupa dia solat Subuh dan berdoa agar dia selamat sampai di Banten. Mama yang baru saja bangun kaget melihat anaknya yang begitu semangat, tak biasanya Noni bangun sepagi itu, beliau juga mulai mandi dan beres-beres. Setelah semua barang-barang yang dibawa beres mereka langsung pergi ke airport. Di Pesawat Noni kelihatan kecapekan dia tertidur pulas, mamanya sampai tak tega membangunkannya. Setelah hampir sampai di Bandara Soekarno Hatta mama baru berani membangunkannya. Sayang ayo bangun dah sampai nih. Iya, mama, aku kasih taw ortunya Doni dulu ya. Ya, sekalian tanya alamatnya pasti kamu lupa nanya. Tenang aja ma kita tuh nanti di jemput, waktu itu Doni bilang kalau kita kesana mau dijemput tapi harus kasih taw mereka dulu. Cepet to, keburu sampai. Noni langsung mencet tuts-tuts di hpnya. Assalamualaikum. Waalaikumsalam. Om ini aku Noni, aku mau sampai di Airport. Oh, ditunggu aja biar nanti om suruh supir jemput kamu. Makasih om. *** Sa, dah tiga hari nih sepi gak ada Pirca. Iya ya hari ni seharusnya dia masuk tapi dah siang gini kok belum kelihatan batang hidungnya. Gimana nanti sepulang sekolah kita ke rumah Pirca. Eh kalian mau ke rumah Pirca ya, kita ikut donk. Pinta Siska. Boleh ya, Bujuk Kiki. Sepulang sekolah mereka berlima menuju rumah Noni dengan merci pink kesayangan Jeni. Sampai di rumah Noni mereka memanggil-manggil nama Noni tapi lama tak ada jawaban yang muncul hanyalah Bi Ijah.

Kalian ya, cari non Noni, maaf si non lagi pergi ke rumahnya mas Doni sahabat kecilnya dulu. Noni udah ketemu sama Doni, syukurlah, Ucap Rosa. Doni siapa kok kita ga ngerti, Tanya Siska. Nanti kita kasih taw lah, ya udah kita pamit dulu bi. Di dalem mobil Jeni sama Rosa menceritakan semua tentang Doni kepada Siska dan Kiki. *** Akhirnya Noni dan mamanya sampai juga di rumah Doni mereka disambut begitu hangat oleh tante Aisa Noni sekarang kamu dah besar ya cantik lagi. Makasih tante, omnya mana? Om baru aja pergi ke Semarang ada pekerjaan penting, om minta maaf dia juga titip salam kok buat kamu. Tante di rumah sendirian? Iya, Cika lagi ada di Pondokan. Ayo Jeng masuk di luar panas banget. Ajak tante Aisa. Makasih Mbakyu. Ngomong-ngomong gimana kabarnya keluarga di Jogja? Baik. Tante, ternyata fotoku sama Doni waktu kecil masih dipajang ya. Kata Doni itu kenang-kenangan yang indah dengan Cendol. Ih tante bisa aja, tante aku dah ga sabar nih lihat hadiah special dari Doni. Dah ga sabar ya, bentar biar tante ambil dulu, oya kalian mau minum apa? Yang dingin-dingin. Sementara Tante Aisa masuk Noni melihat-lihat sekeliling ruang tamu, ruang tamunya dihiasi ukiran-ukiran jawa kesukaan om Bakir sedangkan mama duduk melepas lelah. Tante Aisa datang membawa bungkusan besar berwarna biru muda bergambarkan Spiderman. Noni langsung mengambil bungkusan itu lalu ia buka perlahan-lahan. Disana dia menemukan tasbih berwarna biru dan diukir dengan berbagai macam bunga selain itu juga ada buku berjudul How To Be a True Moslem Girl. Noni sempat kaget karena kado yang dia bayangkan berbeda dengan yang dia terima. Tak sadar dia memegang secarik kertas lalu dia baca. Saudaraku Cendol, Kau adalah sahabat kecilku yang paling baik, aku ingin sekali mempunyai sahabat yang sebaik dirimu tapi selama ini aku mencari tidak juga aku temukan, hanya kamu saudaraku. Karena engkau sahabat terbaikku aku ingin melihat kamu menjadi wanita yang baik, menjadi wanita yang ga

suka neko-neko, wanita yang pantang menyerah karena itu aku memberi kamu buku itu, aku temukan buku itu saat aku mencari kamu. Belum selesai membaca surat itu Noni menumpahkan air matanya dia merasa tak pantas menjadi sahabat Doni, dia tak sesuai dengan yang Doni inginkan, dia sudah melakukan kesalahan terbesar. Nonipun langsung mengajak mamanya pulang dia sudah tak kuat berlama-lama di rumah Doni dia ingin merenungkan semua kesalahannya. *** Sesampainya di rumah Noni langsung masuk kamar dia menangis semalaman, dia merenungkan semua perbuatannya selama ini, dia juga mencoba membaca buku yang di kasih Doni. Esoknya Noni berubah darstis, dia berangkat sekolah memakai jilbab yang pernah mama berikan kepadanya dulu. Taman-teman di sekolahnya terperangah melihat perubahan itu, yang paling kaget Jeni sama Rosa. Mereka bertanya kepada Noni tapi dia tidak mau mengaku. Seminggu kemudian sekolah Noni mengadakan ujian akhir semester. Soal ujian itu Noni kerjakan dengan tenang tanpa mencontek. Waktu penerimaan Rapor Noni mendapat rangking 3 sebenarnya jika waktuitu tak ada kejadian itu dia dapet rangking 1, karena hasil dari rapat guru nilai Noni di kurangi 75, sedangkan Riko mendapat rangking 5. *** Setelah liburan kenaikan kelas Noni bertekad memperbaiki nama baiknya yang sempat tercoreng hitam. Dia terlihat lebih rajin dan sekarang dia mengurangi jadwal bermain bersama Jeni dan Rosa. Usahanya membuahkan hasil akhirnya dia dapat memperoleh kembali juara meski belum menjadi nomer ichi di skoolnya. Setelah berhasil meraih itu dia mempunyai target untuk menjadi yang the best saat kelulusan nanti dia ingin meninggalkan SMA 5 dengan nama yang harum. Waktu pengumuman kelulusan Noni mendapatkan ranking 1 paralel, kebahagiaan yang sangat menghampiri Noni. Diapun disuruh mengungkapkan kesan dan pesannya di SMA 5, dia mulai flash back ke tahun lalu dia menceritakan pengalamannya sekilas saat dia dipergoki ketahuan nyontek, katanya karena kejadian itu dia bisa berubah menjadi lebih baik seperti ini. Dia juga sempat mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Riko, kalau tidak karena dia yang memergokinya pasti dia tidak akan pernah menjadi yang sekarang, aku bisa seperti ini karena buih dari kejujuran. Teman-teman yang mendengar perkataan bijak Noni langsung berlari memeluk Noni begitu pula dengan Riko dia juga minta maaf sama Noni, di dekat Pintu terlihat sesosok Doni tersenyum lebar.