Anda di halaman 1dari 13

Memahami cerpen dan puisi melalui kegiatan membaca kritis

SMA NEGERI 1 SIKUR

STANDAR KOMPETENSI MEMAHAMI CERPEN DAN PUISI MELALUI KEGIATAN MEMBACA KRITIS KOMPETENSI DASAR MENGANA-LISIS PUISI YANG DIANGGAP PENTING PADA SETIAP PERIODE UNTUK MENEMU-KAN STANDAR BUDAYA YANG DIANUT MASYARA-KAT

INDIKATOR

1. Memberikan contoh puisi sebagai perwakilan setiap periode (tergolong penting) 2. Menunjukkan majas yang terkandung dalam puisi 3. Menunjukkan makna konteks dalam majas 4. Menjelaskan kata bermakna simbol/lambang 5. Menunjukkan citraan dalam larik puisi 6. Menyimpulkan nilai-nilai budaya dalam puisi yang tersurat maupun yang tersirat

Periode 1933-1942 Di Kaki Gunung Moh. Zain Saidi Hawa meresap keurat sarap Membawa wangi bung-bungaan Diiring kabut tipis meralay Enggan ke gunung merayu hutan Angin lembut membuai daun Serentak cemara menggamit awan Sedang langit merona kilauan Setiap gadis lukisan kudus Di sini sunyi alam selalu Tempat burung-burung berkibar Tempat dunia tabah menunggu Menanti hidupkan romo mekar Di sini alam sunyi selalu Di sini rindu menampung sinar ....

. Periode 1942-1945 Di Serang Rasa Usmar Ismail Apa hendak dikata jika rasa bersimaharajarela di dalam batin gelisah saja seperti menanti sesuatu tak hendak tiba Pelita harapan berkelip-kelip tak hendak padam, hanyalah lemah segala sendi Bertambah gelisah hati yang gundah Sangsi kecewa, meradang resah benci, dendam ..., rindu, cinta .... Ah hujan rinai di waktu angin bertiup kencang memercik muka Kemudian reda ... tenang .... Di dalam mata air bergenang Kembali harapan kekuatan semakin nyata Dari yang sudah-sudah,sebelum jiwa diserang rasa ....
c

Periode 1945 .... Aku

Chairil Anwar Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang pun kan merayu Tidak juga Kau tak perlu sedu sedan itu aku ini binatang jalan Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa ku bawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

Nanti, Nantikanlah! (Walujati) Rumput kering kemuning terhampar luas gemetar tampak hawa panas atas padang sunyi Ah, Rumput, akarmu jangan turut mengering, Jangan mati kaku di tanah terbaring Nanti, nantikanlah! dengan sabar dan tabah Sampai hujan turun membasahi bumi

Makna lambang kata rumput pada larik kelima puisi di atas adalah A.penduduk Indonesia B.anak-anak kecil C.masyarakat pedesaan D.masyarakat kota E.rakyat kecil

Puisi tersebut mengungkapkan tentang A.Imbauan kepada rakyat kecil untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan. B.Imbauan kepada masyarakat kota untuk bersabar menghadapi penggusuran. C.Gambaran kekeringan yang menimpa sebuah wilayah karena hujan tidak turun. D.Gambaran perjuangan rakyat yang tertindas oleh penguasa yang zalim. E.Gambaran orang yang mudah terpengaruh hasutan karena tidak tahan menderita.

Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh Caya-mu panas suci Tinggal . . . lilin di kelam sunyi Karya Chairil Anwar .

Diksi yang tepat untuk melengkapi larik keenam puisi tersebut adalah. A. nyala B. asap C. kerdip D. sisa E. panas

TAMAN Taman punya kita berdua Tak lebar luas kecil saja Satu tak kehilangan lain dalamnya. Bagi kau dan aku cukuplah Taman kembangnya tak berpuluh warna Padang rumputnya tak berbanding permadani Halus lembut dipijak kaki Bagi kita bukan halangan Karena Dalam taman punya berdua Kecil, penuh surya taman kita Tempat merenggut dari dunia dan nusia

Kalimat bermajas metafora yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang di atas adalah. a.aku kumbang, kau kembang b.mawar melambai penuh warna c.mawar melati bagaikan surga d.tempat penuh warna e.kumbang kumbang beterbangan di sana

ANAK-ANAK TEMBAKAU kami petani tembakau tumbuh di antara anak-anak batu nafas kami bau kemarau campur cerutu bila kami saling dekap, kami berdekapan dengan tangan kemarau bila kami saling cium, kami berciuman dengan bau temabakau langit desa kami rubuh seribu kali tapi kami tak pernah menangis sebab kulit kami tetap coklat secoklat tanah tempat kami menggali air mata sendiri langit desa kami rubuh seribu kali tapikami tak pernah menyerah pada setiap daun tembakau kami urai urat hidup kami pada setiap pohon temabakau kami rangakai serat doa kami

Tema puisi di atas adalah A. Para petani temabakau yang berharap agar pemerintah memeperhatikan nasibnya. B. Para petani tembakau yang berpendapatan sangat kecil hingga merugi. C. Para petani tembakau yang yang bekerja keras dan menggantungkan harapan hidupnya dari hasil panen tembakaunya. D. Petani-petani tembakau hanya bisa pasrah kerena tidak mampu mengangkat nasibnya saat harga tembakaau anjlok. E. Petani-petani tembakau hanya bisa menanam tembakau saat musim kemarau dan di antara bebatuan.

Amanat puisi tersebut adalah

A. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil yang maksimal. B. Gantungkanlah harapan pada hasil bekerja saja. C. Janganlah mengharapkan bantuan dari orang lain sebelum berusaha. D. Berusahalah untuk memajukan desa kelahiran melalui pertanian. E. Tanamilah tanah di sekitar kita dengan tumbuhan apa saja yang menghasilkan uang.

Nilai yang terdapat dalam puisi tersebut adalah A. Nilai agama, manusia harus senantiasa berdoa untuk keluar dari kesiulitan hidup. B. Nilai pendidikan, didiklah anak-anak kita agar mau bekerja membanu kesulitan orang tuanya. C. Nilai budaya, menanam tembakau untuk meneruskan tradisi merokok nenek moyang. D. Nilai sosial, bergotong royong dalam bekerja untuk menumbuhkan semangat kebersamaan pada masyarakat pedesaan. E. Nilai moral, hidup sederhana sesuai dengan kemampuan mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

BERANDA UJI KOMPETENSI MATE 1. RI 1

SK

INDIKATO R

Carilah contoh puisi yang mewakili setiap priode kemudian tentukan (dikerjakan M. 2 MATERI diperpustakaan) a. Menunjukkan majas yang terkandung dalam puisi M. 3 b. Tentukan makna konteks dalam majas c.M. 4 Menjelaskan kata bermakna simbol/lambang d. Menunjukkan citraan dalam larik puisi e.M. 5 Menyimpulkan nilai-nilai budaya dalam puisi yang tersurat maupun yang tersirat
M.6 LANJUTAN LANJUT AN