Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Perut kembung adalah perasaan (subyektif) perut seperti lebih besar dari normal, jadi suatu tanda atau gejala ketidaknyamanan, merupakan hal yang lebih ringan dari distention.(Richard,1999) Perut kembung yang merupakan keadaan yang sering ditemukan dalam praktek dokter sehari-hari.(Richard,1999). Sehubungan dengan hal tersebut, penting bagi seorang dokter untuk memahami dengan baik anatomi, histologi, dan fisiologi agar dapat memberikan penanganan yang tepat kepada pasien. Diharapkan dengan disusunnya referat ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai perut kembung. Dalam referat ini, penulis membahas mengenai anatomi, histologi, dan fisiologi yang berkaitan dengan terjadinya perut kembung. 1.2. Tujuan dan Manfaat 1. Untuk mengetahui struktur makroskopis, dan mikroskopis serta fisiologi terjadinya perut kembung. 2. Untuk lebih mengetahui faktor-faktor penyebab dan mekanisme perut kembung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

ANATOMI GASTER

2.1.1. Definisi Gaster (Ventriculus) Gaster adalah alat pertama dalam rongga perut guna menimbun makanan yang akan dicerna setelah masuk melalui mulut dan oesofagus.(Snell,2006) 2.1.2. Topografi Gaster Gaster tertutup oleh peritonium, kecuali pada lintasan pembuluh darah sepanjang curvatura gastrica (ventricularis) dan pada daerah kecil di sebelah dorsal ostium cardiacum. Kedua lembar omentum minus meluas, mengelilingi gaster dan melepaskan diri pada curvatura gastrica major sebagai omentum majus. Permukaan ventral gaster bersentuhan dengan Diaphragma, lobus hepatis sinister, dinding abdomen ventral.(Moore,2002) Palungan lambung (stomach bed), tempat rebah gaster pada sikap telentang dibentuk oleh dinding dorsal bursa omentalis dan struktur yang terdapat antara dinding tersebut dan dinding abdomen dorsal: Diaphragma; Colon transversal, mesocolon transversum, pancreas, splen (lien), dan truncus coeliacus serta ketiga cabangnya; Glandula suprarenalis sinistra dan bagian cranial ren sinistra.(Snell,2006 dan Moore,2002) Gaster memiliki Curvatura gastrica minor sebagai tepi gaster yang cekung. Curvatura gastrika major sebagai tepi gaster yang cembung dan lebih panjang. Sebuah takik tajam kira-kira pada dua pertiga distal jarak curvatura gastrica minor yang disebut incisura angularis sebagai patokan batas antara corpus gastricum dengan pylorus. Cardia sekitar muara oesophagus. Fundus gastricus, yakni bagian kranial yang melebar dan berbats pada kubah diaphragma sebelah kiri. Corpus gastricum yang terdapat antara fundus dan antrum pyloricum. Pars pylorica, bagian gaster yang menyerupai corong; bagian yang lebar, yakni antrum pyloricum beralih ke bagian yang sempit, ytakni canalis pyloricus. Pylorus, daerah sfingter yang menebal di sebelah distal untuk membentuk musculus sphincter pylori guna mengatur pengosongan isi gaster melalui ostium pyloricum ke dalam duodenum.(Snell,2006 dan Moore,2002)

Gambar 2.1.2. Topografi Gaster. (Moore,2002) Anatomi Klinis Dasar

2.1.3. Vaskularisasi Gaster Arteri-arteri gaster berasal dari truncus coeliacus dan cabangnya: Arteri gastrica sinistra berassal dari truncus coeliacus dan melintas dalam omentum minus ke cardia, lalu membelok secara tajam untuk mengikuti curvatura gastrica minor dan beranastomosis dengan arteri gastrica dextra. Arteri gastrica dextra dilepaskan dari arteria hepatica dan melintas ke kiri, mengikuti curvatura gastrica major untuk mengadakan anastomosis dengan arteria gastrica sinistra. Arteria gastroepiploica dextra merupakan cabang arteria gaastroduodenalis dan melintas ke kiri sepanjang curvatura gastrica major, lalu mengadakan anastomosis dengan arteria gastroomentalis (epiploica) sinistra. Arteria gastroomentalis (epiploica) sinistra berasal dari arteria splenica (lienalis) dan beranastomosis dengan arteria gastroomentalis (epiploica) dextra. Arteria gastricae breves berasal dari ujung distal arteria splenica (lienalis) dan menuju ke fundus.(Snell,2006 dan Moore,2002)

Vena-vena gaster mengikuti arteri-arteri yang sesuai dalam hal letak dan lintasan. Vena gastrica dextra dan vena gastrica sinistra mencurahkan isinya ke dalam vena portae hepatis, dan venaegastrica breves dan vena gastro-omentalis (epiploica) membawa isinya ke dalam vena splenica(lienalis) yang bersatu dengan vena mesenterica superior untuk membentuk vena portae hepatis. Vena

gastro-omentalis (epiploica) superior.(Moore,2002)

dextra

bermuara

dalam

vena

mesenterica

Gambar 2.1.3. Pembuluh darah Gaster. (Moore,2002) Anatomi Klinis Dasar 2.1.4. Drainase Limfatik Gaster Pembuluh-pembuluh limfe gaster mengikuti arteri-arteri sepanjang curvatura gastrica major curvatura gastrica minor. Pembuluh-pembuluh ini menyalurkan limfe dari permukaan ventral dan permukaan dorsal gaster ke kedua curvatura tersebut untuk dicurahkan ke dalam nodi limphoidei gastrici yang tersebar di tempat tersebut. Pembuluh eferen dari kelenjar limfe ini mengikuti arteri besar ke nodi limphoidei coeliaci.(Snell,2006 dan Moore,2002)

Gambar 2.1.4. Drainase Limfatik Gaster. (Moore,2002) Anatomi Klinis Dasar

2.1.5. Persarafan Gaster Persarafan gaster parasimpatis berasal dari truncus vagalis anterior dan truncus vagalis posterior serta cabangnya. Persarafan simpatis berasal dari segmen medulla spinalis T6 sampai T9 melalui plexus coeliacus dan disebarkan melalui gastro-omentalis (epiploica). Truncus vagal anterior dan posterior berasal dari plexus oesophagus dan memasuki abdomen melalui hiatus oesophagus. Cabang-cabang hiatus dari n. vagus anterior berjalan ke hepar. Cabang coeliaca dari n. vagus posterior berjalan ke ganglion coeliaca dimana cabang ini kemudian mempersarafi usus ke bagian bawah sampai colon transersum distal. Truncus vagal anterior dan posterior berjalan ke bawah sepanjang kurvatura minor sebagai saraf Latarjet anterior dan posterior di mana terjadi percabangan terminal yang mempersarafi lambung. N. vagus membawa saraf motoris dan sekretoris ke lambung. Saraf sekretoris mempersarafi bagian yang menyekresi asam lambung (korpus).(Snell,2006 dan Moore,2002)

Gambar 2.1.5. Pesarafan Gaster. (Moore,2002) Anatomi Klinis Dasar

2.2.

HISTOLOGI GASTER

Gaster dibagi dalam 3 bagian histologik: kardia, fundus dan korpus, dan pilorus. Fundus dan korpus adalah bagian lambung yang terluas. Dinding lambung terdiri atas empat lapisan : mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa.(Janqueiro,2007) 2.2.1. GASTER BAGIAN FUNDUS DAN KORPUS Mukosa terdiri atas epitel permukaan, lamina propria, dan muskularis mukosa. Permukaan lambung dilapisi oleh epitel selapis silindris yang meluas ke dalam dan melapisi foveola gastrica, yaitu invaginasi tubular epitel permukaan. Di fundus, foveola gastrica terletak tidak dalam dan masuk ke dalam mukosa kira-kira seperempat ketebalannya. Di bawah epitel terdapat jaringan ikat longgar lamina propria yang mengisi celah-celah di antara kelenjar gastrika. Batas luar mukosa di bentuk oleh selapis tipis otot polos muskularis mukosa yang terdiri ats lapisan sirkular dalam dan longitudinal luar. Berkas tipis otot polos muskularis mukosa meluas ke dalam lamina propria di antara kelenjar gastrika kea rah epirel permukaan.(Janqueiro,2007) Kelenjar gastrika berhimpitan di dalam lamina propria dan menempati keselurauhan mukosa. Kelenjar gastrika bermuara ke dalam dasar foveola gastrica. Epitel permukaan mukosa lambung mengandung jenis sel yang sama, dari daerah kardia sampai pilorus. Namun, terdapat perbedaan regional pada jenis sel yang menyusun kelenjar gastrika. Dua jenis sel dapat diidentifikasi di kelenjar gastrika. Sel parietal asidofilik terletak di bagian atas kelenjar, sedangkan sel zimogenik (chief cell) basofilik menempati bagian bawah. Daerah di bawah kelenjar pada lamina propria mengandung jaringan limfoid atau nodulus limfoid kecil.(Janqueiro,2007) Mukosa lambung yang kosong memperlihatkan banyak lipatan temporer yaitu rugae. Rugae terbentuk akibat kontraksi lapisan otot polos, muskularis mukosa. Saat lambung terisi, rugae menghilang dan mukosa tampak licin.(Janqueiro,2007) Submukosa terletak di bawah muskularis mukosa. Pada lambung kosong, submukosa dapat meluas ke dalam rugae. Submukosa mengandung jaringan ikat padat tidak teratur dan lebih banyak serat kolagen daripada lamina propria. Selain itu, submukosa banyak mengandung pembuluh limfe, kapiler, arteriol besar, dan venula. Di bagian yang lebih dalam pada submukosa terlihat kelompok ganglion parasimpatis pleksus saraf submukosa (Meissner) yang terisolasi.(Janqueiro,2007) Muskularis eksterna terdiri dari tiga lapisan otot polos, masing-masing terorientasi dalam bidang berbeda: lapisan oblik di sebelah dalam,sirkular di

tengah, dan longitudinal di sebelah luar. Lapisan oblik tidak utuh dan tidak selalu tampak pada irisan dinding lambung. Diantara lapisan otot polos sirkular dan longitudinal terdapat pleksus saraf mienterikus (Auerbach) ganglion parasimpatis dan serat saraf.(Janqueiro,2007) Serosa terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat yang menutupi muskularis eksterna dan dilapisi oleh mesotel selapis gepeng peritoneum visceral. Serosa dapat mengandung banyak sel adipose. Berikut gambaran histologis dari gaster fundus dan korpus.(Janqueiro,2007)

Gambar 2.2.1. Gaster Fundus dan Korpus (Janqueiro,2007) Histologi Teks & Atlas

2.2.2. GASTER BAGIAN PILORUS Di mukosa bagian pilorus lambung, foveola gastrika lebih dalam daripada yang terdapat di daerah korpus atau fundus. Foveola gastrika meluas ke dalam mukosa kira-kira separuh atau lebih ketebalannya. Permukaan lambung dilapisi oleh epitel mukosa selapis silindris yang juga meluas ke dalam dan melapisi foveola gastrica.(Janqueiro,2007) Kelenjar pilorus bermuara ke dalam dasar foveola gastrica. Kelenjar pilorus adalah kelenjar tubulus bercabang atau bergelung yang mengandung sekresi mukus, terlihat dalam potongan melintang atau memanjang. Serupa

dengan bagian kardia lambung, hanya satu jenis sel terdapat di epitel kelenjar ini. Sel kolumner tinggi kurang terwarnai karena kandungan musigennya. Seperti terlihat di sel mukosa lainnya inti lonjong atau gepeng terletak di basal. Sel enteroendokrin juga terdapat di daerah ini dan dapat ditunjukkan dengan pulasan khusus.(Janqueiro,2007) Struktur yang lain didaerah pilorus lambung serupa dengan yang terdapat di daerah lain. Lamina propria mengandung jaringan limfoid difus dan kadangkala nodulus limfoid. Di bawah nodulus limfoid terdapat otot polos musjularis mukosa. Serat otot polos dari lapisan sirkular muskularis mukosa berjalan ke atas diantara kelenjar pilorus ke dalam lamina propria dan bagian atas mukosa. Di bawah muskularis mukosa adalah jaringan ikat padat tidak teratur submukosa, yang mengandung pembuluh darah arteriol dan venula dalam berbagai ukuran. Berikut gambaran histologis dari gaster bagian pilorus.(Janqueiro,2007)

Gambar 2.2.2. Gaster Pilorus (Janqueiro,2007) Histologi Teks & Atlas

2.3.

FISIOLOGI LAMBUNG

2.3.1. Fungsi Normal Lambung berfungsi sebagai tempat penampungan, yang melepaskan makanan yang sudah dilunakan, dicampur, tetapi baru sedikit yang di cerna, ke dalam usus. Proses awal emulsifikasi lemak, dan pencernaan protein terjadi disini.lambung mensekresi faktor intrinsik, yang sangat penting untuk asimilasi vitamin B12 di dalam ileum.(Kurt,1999) Bila makanan meregangkan lambung, refleks vasovagal dari lambung ke batang otak dan kemudian kembali ke lambung akan mengurangi tonus di dalam dinding otot korpus lambung sehingga dinding menonjol keluar secara progresif, menampung jumlah makanan yang makin lama makin banyak sampai suatu batas saat lambung berelaksasi sempurna, yaitu 0,8 sampai 1,5 liter. Tekanan dalam lambung tetap rendah sampai batas ini tercapai.(Guyton,2007) 2.3.2. Sekresi Lambung Mukosa lambung mempunyai dua tipe kelenjar tubular yang penting, yakni Kelenjar Oksintik (disebut juga kelenjar gastrik), dan Kelenjar Pilorik. Sekresi dari Kelenjar Oksintrik terdiri dari tiga tipe sel: (1) sel leher mukus yang terutama menyekresi mukus; (2) sel peptik (chief) yang menyekresikan sejumlah besar pepsinogen; dan (3) sel parietal (sel oksintrik) yang menyekresi asam hidroklorida dan faktor intrinsik(substansi faktor intinsik yang sangat penting untuk absorpsi vitamin B12 didalam ileum, disekresi oleh sel parietal bersama dengan sekresi asam hidroklorida). Sedangkan Kelenjar Pilorik terutama menyekresikan mukus untuk melindungi mukosa pilorus dari asam lambung. Kelenjar tersebut juga menyekresi hormon gastrin.(Guyton,2007) Kelenjar oksintik terletak pada bagian dalam korpus dan fundus lambung, meliputi 80 persen bagian proksimal lambung. Kelenjar pilorik terletak pada bagian 20 persen bagian distal lambung.(Guyton,2007) 2.3.3. Gas Dalam Traktus Gastrointestinal Gas, dapat memasuki traktus gastrointestinal dari tiga sumber yang berbeda: (1) udara yang ditelan; (2) gas yang terbentuk di dalam perut sebagai hasil kerja bakteri; (3) gas yang berdifusi dari darah ke dalam traktus gastrointestinal. Kebanyakan gas dalam lambung adalah campuran nitrogen dan oksigen yang berasal dari udara yang ditelan. Pada orang secara umum, kebanyakan gas ini dikeluarkan lewat sendawa. Hanya sejumlah kecil gas yang umumnya muncul dalam usus halus, dan banyak dari gas ini merupakan udara yang berjalan dari lambung masuk ke traktus gastrointestinalis.(Guyton,2007) Dalam usus besar, kebanyakan gas berasal dari kerja bakteri, termasuk khususnya karbondioksida, metana, dan hydrogen. Ketika metana dan hidrogen bercampur secara tepat dengan oksigen, kadang terbentuk campuran yang benarbenar bisa meledak. Makanan tertentu diketahui menyebabkan pengeluaran flatus yang lebih besar melalui anus dibandingkan makanan yang lain; kacang-kacangan, kubis, bawang, kembang kol, jagung dan makanan tertentu yang mengiritasi seperti cuka. Beberapa dari makanan ini bertindak sebagai medium yang baik untuk bakteri pembentuk gas, terutama tipe karbohidrat yang tak terabsorpsi yang dapat mengalami fermentasi. Contohnya, kacang-kacangan mengandung karbohidrat tak

10

tercerna yang masuk ke dalam kolon dan merupakan makanan utama bagi bakteri kolon. Tetapi pada keadaan lain, pengeluaran gas yang berlebihan berasal dari usus besar, yang mencetuskan pengeluaran peristaltik cepat gas melalui anus sebelum gas tersebut dapat diabsorpsi.(Guyton,2007)

2.4. PERUT KEMBUNG Untuk memahami perut kembung ada 2 hal yang harus diketahui: a. Gejala/bloating: merupakan perasaan (subyektif) perut seperti lebih besar dari normal, jadi merupakan suatu tanda atau gejala ketidaknyamanan, merupakan hal yang lebih ringan dari distention. b. Tanda/distention: merupakan hasil pemeriksaan fisik (obyektif) dimana didapatkan bahwa perut lebih besar dari normal, bisa didapatkan dari observasi saat menggunakan baju jadi kesempitan dan lambung jelas lebih besar dari biasanya.(Richard,1999) Ada 3 hal yang dapat menyebabkan membesarnya ukuran perut dan harus dibedakan, yaitu air, udara, dan jaringan dalam perut. Kembung dibedakan menjadi 2 bagian yaitu: a. Berkelanjutan, biasanya akibat adanya massa atau pembesaran organ dalam perut seperti tumor, cairan (asites), atau jaringan lemak (kegemukan) b. Sementara/hilang timbul, yang berhubungan dengan peningkatan gas atau cairan dalam lambung, usus halus maupun usus besar.(Kurt,1999) 2.4.1. Mekanisme dan Penyebab Perut Kembung a. Produksi gas yang berlebihan, biasanya disebabkan oleh bakteri, melalui 3 mekanisme. Pertama, jumlah gas yang dihasilkan oleh setiap individu tidak sama sebab ada bakteri tertentu yang menghasilkan banyak gas sementara yang lainnya tidak. Kedua, makanan yang sulit dicerna dan diabsorbsi di usus halus menyebabkan banyaknya makanan yang sampai di usus besar sehingga makanan yang harus dicerna bakteri akan bertambah dan gas yang dihasilkan bertambah banyak. Contohnya adalah pada kelainan intoleransi laktosa, sumbatan pancreas, dan saluran empedu. Ketiga, karena keadaan tertentu bakteri tumbuh dan berkembang di usus halus dimana biasanya seharusnya di usus besar. Biasanya hal ini berpotensi meningkatkan flatus (buang angin/kentut) b. Sumbatan mekanis. Sumbatan dapat terjadi di sepanjang lambung sampai rectum, jika bersifat sementara dapat menyebabkan kembung yang bersifat sementara. Contohnya adalah adanya parut di katub lambung yang dapat mengganggu aliran dari lambung ke usus. Sesudah makan makanan bersama udara tertelan, kemudian setelah 1-2 jam lambung mengeluarkan asam dan cairan dan bercampur dengan makanan untuk membantu pencernaan. Jika terdapat sumbatan yang tidak komplit makan makanan dan hasil pencernaan dapat masuk ke usus dan dapat mengatasi kembung.

11

Selain itu kondisi feses yang terlalu keras juga dapat menjadi sumbatan yang dapat memperparah kembung. c. Sumbatan fungsional. Yang dimaksud sumbatan fungsional adalah akibat kelemahan yang tejadi pada otot lambung dan usus sehingga gerakan dari saluran cerna tidak baik yang menyebabkan pergerakan makanan menjadi lambat sehingga terjadi kembung. Hal ini bisa terjadi pada penyakit gastroparesis, Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan Hirschprung's. Selain itu faktor makanan seperti lemak juga akan memperlambat pergerakan makanan, gas, dan cairan ke saluran cerna bawah yang juga berakibat kembung. Serat yang digunakan untuk mengatasi sembelit juga dapat menyebabkan kembung tanpa adanya peningkatan jumlah gas, namun adanya kembung ini disebabkan oleh melambatnya aliran gas ke usus kecil akibat serat. d. Hipersensitifitas saluran cerna. Beberapa orang ada yang memang hipersensitif terhadap kembung , mereka merasakan kembung padahal jumlah makanan, gas, dan cairan di saluran cerna dalam batas normal, biasanya bila mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak.(Richard, 1999 dan Kurt,1999)

12

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Lambung berfungsi sebagai tempat penampungan, yang melepaskan makanan yang sudah dilunakan, dicampur, tetapi baru sedikit yang di cerna, ke dalam usus. Lambung menampung jumlah makanan yang makin lama makin banyak sampai suatu batas saat lambung berelaksasi sempurna, yaitu 0,8 sampai 1,5 liter. Sekresi mukosa lambung mempunyai dua tipe kelenjar tubular yang penting, yakni Kelenjar Oksintik (disebut juga kelenjar gastrik), dan Kelenjar Pilorik. Gas, dapat memasuki traktus gastrointestinal dari tiga sumber yang berbeda: (1) udara yang ditelan; (2) gas yang terbentuk di dalam perut sebagai hasil kerja bakteri; (3) gas yang berdifusi dari darah ke dalam traktus gastrointestinal. Dalam usus besar, kebanyakan gas berasal dari kerja bakteri, termasuk khususnya karbondioksida, metana, dan hydrogen. Makanan tertentu diketahui menyebabkan pengeluaran flatus yang lebih besar melalui anus dibandingkan makanan yang lain; kacang-kacangan, kubis, bawang, kembang kol, jagung dan makanan tertentu yang mengiritasi seperti cuka. Ada 2 hal yang harus diketahui untuk identifikasi perut kembung, yaitu: (1) gejala/bloating; (2) tanda/distensi. Kembung dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu a) berkelanjutan; ataukah b) sementara/hilang-timbul. Mekanisme dan penyebab perut kembung, yaitu: (1) produksi gas yang berlebihan; (2) sumbatan mekanis; (3) sumbatan fungsional; (4) hipersensitifitas saluran cerna.

13

DAFTAR PUSTAKA

Snell, R.S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta. EGC. 2006. Moore, K.L dan Agur, A.M.R. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta. Hipokrates. 2002. Junqueira, L.C dan Carneiro, J. Histologi Dasar Teks & Atlas. Jakarta. EGC. 2007. Richard e. Behrman, Robert m. kliegman, ann m. Arvin. Ilmu Kesehatan Anak Nelson vol 2. Jakarta. EGC. 1999. Kurt j. isselbacher et al. Editor edisi bahasa Indonesia. Ahmad h. asdie. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. EGC. 1999. Guyton A.C., Hall J.E. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta. EGC. 2007.