Anda di halaman 1dari 19

BASALIOMA I. KONSEP MEDIS A.

PENGERTIAN Karsinoma Sel Basal ( KSB ) adalah neoplasma ganas dari sel epitelial yang lebih mirip sel germinatif folikel rambut dibandingkan dengan lapisan sel basal epidermis. KSB merupakan tumor fibroepitelial yang terdiri atas komponen stroma ( jaringan fibrosa ) dan epitelial. Sel tumornya

interdependen

berasal dari primordial pluropotensial di lapisan sel basal, dan dapat juga dari selubung akar luar folikel rambut atau kelenjar sebasea atau adneksa kulit lain. Nama lain dari Karsinoma Sel Basal ini adalah Basalioma. Basalioma atau karsinoma sel basal merupakan kanker kulit yang paling sering di temukan,berasal dari sel sel epidermis sepanjang lapisan basal.

B. ANATOMI FISIOLOGI 1. KULIT Kulit merupakan pelindung tubuh beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa adalah satu setengah sampai dua meter persegi. Tebalnya antara 1,5 5 mm, bergantung pada letak kulit, umur, jenis kelamin, suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis pada kelopak mata, penis, labium minor dan bagian medial lengan atas, sedangkan kulit tebal terdapat di telapak tangan dan kaki, punggung, bahu, dan bokong. Bagian-bagian Kulit Manusia Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis. a) Epidermis Epidermis tersusun atas lapisan tanduk lapisan korneum dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum

merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan


1

digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan

korneum.Lapisan Malphighi mengandung pigmen melanin yang memberi warna pada kulit. Bagian dari Epidermis: Lapisan tanduk atau stratum korneum yaitu lapisan kulit yang paling luar yang terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum Lusidum yaitu lapisan sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma berubah menjadi eleidin (protein). Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki. Lapisan granular atau stratum granulosum yaitu 2 atau 3 lapisan sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Mukosa biasanya tidak memiliki lapisan ini. Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki. Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Nama lainnya adalah pickle cell layer (lapisan akanta). Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk poligonal dengan besar berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasma jernih karena mengandung banyak glikogen dan inti terletak ditengah-tengah. Makin dekat letaknya ke permukaan bentuk sel semakin gepeng. Diantara sel terdapat jembatan antar sel (intercellular bridges) terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Penebalan antar jembatan membentuk penebalan bulat kecil disebut nodus bizzozero. Diantara sel juga terdapat sel langerhans. Lapisan basal atau stratum germinativium. Terdiri dari sel berbentuk kubus tersusun vertikal pada perbatasan dermo-

epidermal, berbaris seperti pagar (palisade),mengadakan mitosis dari berbagai fungsi reproduktif. b) Dermis Dermis atau korium merupakan lapisan bawah epidermis dan diatas jaringan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat (pars papillaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih lebih longgar (pars reticularis). Lapisan pars retucularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus. c) Jaringan Subkutan (Subkutis atau Hipodermis) Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung dibawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang tyerbanyak adalah liposit yang menghasilkan mengandung kandungan subkutan banyak saraf, rambut terdapat lemak. pembuluh dan di Jaringan darah dan atas subkutan limfe, jaringan dari

lapisan keringan.

kelenjar

Fungsi

jaringan subkutan adalah penyekat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi.

2. FISIOLOGI KULIT Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut : Pelindung atau proteksi Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan- jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh- pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar

ultraviolet dari matahari. Penerima rangsang Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi Pengatur panas atau thermoregulas Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi

pembuluh kapiler serta melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,50C. Ketika terjadi perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar keringat seperlunya kulit dalam mengadakan fungsinya penyesuaian masing-masing.

Pengatur panas adalah salah satu fungsi kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan keringat.

Pengeluaran (ekskresi) Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar

keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari. Penyimpanan. Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak. Penyerapan terbatas Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam

lemak dapat diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk

melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya. Penunjang penampilan Fungsi yang terkait

dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak rambut

C. ETIOLOGI 1. Faktor internal : umur, ras, jenis kelamin, dan genetik 2. Faktor external : a) Sinar UV b) Trauma pada kulit seperti bekas vaksinasi , luka bakar c) Zat - zat kimia hidrokarbon polisiklik d) Radiasi Ionisasi e) Arsen organik

D. PATOFISIOLOGI Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Basalioma berasal dari sel epidermis sepanjang lamina basalis. Kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar sinar matahari, seperti wajah, kepala, dan leher. Untungnya tumor ini jarang sekali bermetastasis. Pasien dengan kanker sel basal tunggal lebih mudah mendapat kanker kulit. Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogen adalah sinar yang panjang gelombangnya, bekisar antara 280 samapi 320 mm. Spektrum inilah yang membakar dan membuat kulit menjadi cacat. Selain itu, pasien yang memiliki riwayat kanker sel basal harus menggunakan tabir surya atau pakaian pelindung untuk menghindari sinar karsinogen yang terdapat di dalam sinar matahari. Penyebab lain basalioma adalah riwayat pengobatan, radiologi, sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit lain. Sinar ultraviolet panjang (UVA) yang dipancarkan oleh alat untuk membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar matahari juga merusak epidermis dan di anggap sebagai karsinogen. Tumor ini ditandai oleh nodul eritromatosa, halus dan seperti mutiara, bagian tengah mengalami ulserasi dan perdarahan, meninggi dan memiliki pembuluh telangiektatik pada

permukannya.

E. TANDA DAN GEJALA Predileksinya terutama pada wajah ( pipi, dahi, hidung, lipat, nasolabial, daerah periorbital), leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki, dan kulit kelapa. Gambaran klinik KSB bervarisasi, Lever membagi KSB menjadi 5 bentuk : Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens Berpigmen Morfea atau fibrosing atau sklerosing Superficial Fibroepitelioma

F. KOMPLIKASI Adapun komplikasi yang dapat di timbulkan dari penyakit kanker kulit ini yaitu: 1. Akibat pembedahan dan terapi radiasi: Jaringan yang di buat tergores/ terluka. Perubahan warna kulit. Timbulnya perubahan pada kulit dari alatalat kosmetik. Luka kulit yang kronis. Keterbatasan anggota badan jika pengobatan luas. 2. Akibat kemoterapi dan bioterapi: mual dan muntah. syndrome flulike. mielosupresi. paresthesia fibrosis pulmonary. hipersensivitas.

3. Umum:

alopesia. reaksi alergi

Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik dan citra tubuh. Kehilangan fungsi pada ekstremitas. Perlukaan dan perubahan warna kulit. Proses hasil metastase penyakit pada

paengobatan invasif dan potensial kematian terakhir.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Diagnosis berdasarkann karsinoma dan dapat ditegakkan klinis. sel basal

anamnesis

gambaran

Konfirmasi

histopatologis dengan cara biopsi eksisi, biopsi insisi, atau eksisi terapeutik diperlukan tergantung pada ukuran tumor dan tindakan yang akan diambil. Bila ada destruksi diperlukan CT-Scan dan MRI untuk menentukan tingkat kedalaman infiltrasi yang terjadi akibat desktruksi tersebut. Apabila sudah terjadi metastasis ke kelenkar limfe atau organ dalam perlu dilakukan pemeriksaan USG limfonodus, foto rontgen thoraks, dan CT-Scan Abdomen. Pemeriksaan laboratorium dan radiologik jarang diperlukan pada penderita dengan manifestasi lesi local. Namun biopi kulit diperlukan untuk konfirmasi diagnosis dan penentuan tipe histologist. Biasanya yang paling diperlukan adalah shave biopsi. Namun pada kasus lesi pigmentasi yang sukar dibedakan anatara karsinoma sel basal tipe pigmentasi dan melanoma, biopsi eksisi mungkin diperlukan

H. PENATALAKSANAAN Karsinoma sel basal harus segera ditangani, penanganan termasu kuret dengan alat diseksi listrik,skalpel, radiasi,bedah dengan bahan kimia dan bedah beku. Kanker sel basal dengan diameter kurang dari 2 cm biasanya ditangani dengan skalpel atau alat deseksi listrik dan kuret setelagh dilakukan biopsi untuk memastiakn diagnosis. Angaka kesembuhananya 95%. Tetapi sinar rontgen boleh diberikan pada penderita yang telah berusia 60 70 tahun dengan tumor yang sangat besar di sekitar kelopak mata , daun telinga atau bibir. Pembedahan dengan bahan kimia baik untuk mengobati kanker besar yang berinfiltrasi serta sering kambuh, terutama di sekitar teinga,lipat naso labial dan mata. Pada bedah kimia,eksisi mikrokospik pada tumor dilakukan dengan memisahkan tumor selapis demki selapis dengan skalpel;kemudian dibuat preparat irisan beku yang selanjutnya diperiksa untuk menentukan bukti adanya kanker sel basal. Tehnik ini adalah yang paling efektif dan mahal tetapi angka kesembuhannya melebihi 97%. Pencegahan Untuk mencegah kekambuhan, hindari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit basalioma,antara lain: Lindungi kulit dari cahaya matahari dengan menggunakan topi, kemeja lengan panjang, celana panjang atau rok panjang. Sinar matahari yang paling kuat adalah pada tengah hari, karena itu sebaiknya hindari sinar matahari pada tengah hari Gunakan tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF ( Solar Protection Factor)15, yang

menghambat sinar UV( Ultra Violet) A dan UV ( Ultra Violet) B. Oleskan tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan sesering mungkin.

Periksalah kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan yang mengarah kepadakeganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk tukak, mudah berdarah, sukar sembuh,berubah warna, ukuran, struktur, terasa nyeri, meradang atau gatal ).

I. EPIDEMIOLOGI Pertama sekali yang melaporkan Karsinoma Sel Basal ini adalah Jacob pada tahun 1827 yang meruapakn suatu sel invasi dan

metastase yang lambat, serta jarang menimbulkan kematian. Karsinoma Sel Basal ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang yang kulit berwarna, dan pengaruh sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan Karsinoma Sel Basal. Pria lebih banyak dari pada wanita dan umumnya di atas 40 tahun.

J. PROGNOSIS Pengobatan pada KSB primer memberikan angka kesembuhan sekitar 95% sedangkan pada KSB rekuren sekitar 92%.

Pengobatan pada KSB rekuren lebih sulit daripada KSB Primer, dan angka kekambuhan setelah dilakukan prosedur yang kedua dalah tinggi.

II.

KONSEP KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. Aktivitas / Istirahat Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan, Perubahan tonus 2. Sirkulasi Tanda : pembentukan edema jaringan 3. Integritas Ego Gejala : Pekerjaan, masalah tentang keluarga

10

Tanda : ansietas, menarik diri 4. Eliminasi Tanda : Diuresis ( setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi ) 5. Makanan / Cairan Tanda : edema jaringan umum 6. Neurosensori Tanda : perubahan orientasi, perilaku 7. Nyeri / kenyamanan Gejala : nyeri pada kulit 8. Pernapasan Gejala : terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama 9. Keamanan Tanda : adanya destruksi jaringan. ( Doenges , 1999 )

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak,erosi jaringan lunak ,efek metastase kanker basal,respon sekunder intervensi pascabedah. 2. Kecemasan berhubungan dengan kondisi penyakit, prognosis kanker pada jaringan kulit.

11

C. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan DS: - Laporan secara verbal DO: - Posisi untuk menahan nyeri - Tingkah laku berhati-hati - Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai) - Terfokus pada diri sendiri - Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) - Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang) - Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil) - Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku) - Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC : Pain Level, pain control, comfort level Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama . Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil: Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal Tidak mengalami gangguan tidur Intervensi NIC : Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ... Tingkatkan istirahat Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur Monitor vital sign

12

sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kecemasan berhubungan dengan Faktor keturunan, Krisis situasional, Stress, perubahan status kesehatan, ancaman kematian, perubahan konsep diri, kurang pengetahuan dan hospitalisasi DO/DS: - Insomnia - Kontak mata kurang - Kurang istirahat - Berfokus pada diri sendiri - Iritabilitas - Takut - Nyeri perut - Penurunan TD dan denyut nadi - Diare, mual, kelelahan - Gangguan tidur - Gemetar - Anoreksia, mulut kering - Peningkatan TD, denyut nadi, RR - Kesulitan bernafas - Bingung - Bloking dalam pembicaraan - Sulit berkonsentrasi

Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC : NIC : - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction - Koping (penurunan kecemasan) Setelah dilakukan asuhan Gunakan selama klien pendekatan yang kecemasan teratasi dgn menenangkan kriteria hasil: Nyatakan dengan Klien mampu jelas harapan mengidentifikasi dan terhadap pelaku mengungkapkan gejala pasien cemas Jelaskan semua Mengidentifikasi, prosedur dan apa mengungkapkan dan yang dirasakan menunjukkan tehnik selama prosedur untuk mengontol cemas Temani pasien Vital sign dalam batas untuk memberikan normal keamanan dan Postur tubuh, ekspresi mengurangi takut wajah, bahasa tubuh dan Berikan informasi tingkat aktivitas faktual mengenai menunjukkan diagnosis, tindakan berkurangnya prognosis kecemasan Libatkan keluarga untuk mendampingi klien Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi Dengarkan dengan penuh perhatian Identifikasi tingkat kecemasan Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

13

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi Kelola pemberian obat anti cemas:........

III.

SATUAN ACARA PENYULUHAN Materi Pokok Bahasan Hari/ tanggal Waktu pertemuan Tempat Sasaran : Penyalit Kulit : Mengenal Penyakit basalioma : ............ 2012 : 40 menit : Ruang X : Klien dan Keluarga Pengunjung

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah mengikuti proses penyuluhan kesehatan selama 30 menit klien dan keluarga mampu memahami penyakit basalioma TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah mengikuti proses penyuluhan klien dan keluarga diharapkan dapat menjelaskan : 1. Pengertian basalioma 2. Penyebab basalioma POKOK MATERI 1. Pengertian basalioma 2. Penyebab basalioma METODE : Ceramah dan tanya jawab

14

KEGIATAN PENYULUHAN No 1 Kegiatan Penyuluh Pendahuluan


Waktu 5mnt

Kegiatan Keluarga Menjawab salam Memberi salam Menyimak

Memberi salam Mengkomunikasikan tujuan Menyampaikan apersepsi 25mnt

Kegiatan Inti

Memberikan penjelasan tentang basalioma Memberikan penjelasan tentang penyebab basalioma 10 mnt

Menyimak Memperhatikan dan mendengarkan

Penutup

Menyimpulkan materi penyuluhan bersama keluarga Memberikan evaluasi secara lisan Memberikan salam penutup

Memperhatikan menjawab

MEDIA DAN SUMBER MEDIA : laptop , makalah , gambar SUMBER : Corwin , Elizabeth J . 2000 . Buku Saku Patofisiologi . EGC . Jakarta

Muttaqin A & Sari K . 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen . Salemba Medika . Jakarta

15

EVALUASI Evaluasi dilakukan pada akhir penyuluhan dengan memberikan pertanyaan secara lisan tentang : 1. Pengertian basalioma 2. Penyebab basalioma

IV.

ETIK , LEGAL DAN ADVOKASI 1. ETIK a) Otonomi Perawat mempunyai kewenangan mandiri untuk

mendampingi dan memberi dukungan kepada pasien dan keluarga. b) Non Malificince Perawat melakukan upaya agar tidak membahayakan pasien dengan cara memberi informasi kesehatan yang cukup agar orang tua mampu merawat bayinya dalam kondisi apapun. c) Beneficience Perawat memberikan yang terbaik dalam perawtan dan tidak membedakan dalam memberikan pelayanan. d) Justice Bersikap adil kepada semua pasien tanpa membedakan status sosial ekonomi, suku bangsa dan adat dll.

2. LEGAL Perawat mempunyai tanggung jawab yang dapat diwujudkan dalam pelayanan yang berdasarkan prosedur sehingga

profesional dalam melakukan semua tindakan .

16

3. ADVOKASI Peran perawat menfasilitasi orang tua untuk konsultasi dengan dokter ahli agar mendapatkan informasi yang cukup jelas tentang penyakit dan komplikasi serta prognosisnya.

V.

JURNAL TERKAIT

Monitoring of Circulating Tumor Cells and Their Expression of EGFR/Phospho-EGFR During Combined Radiotherapy Regimens in Locally Advanced Squamous Cell Carcinoma of the Head and Neck.
Tinhofer I, Hristozova T, Stromberger C, Keilhoiz U, Budach V.

Source
Translational Radiooncology Laboratory, Department of Radiooncology and Radiotherapy, Charit Campus Mitte, Charit Universittsmedizin Berlin, Berlin, Germany.

Abstract
PURPOSE: The numbers of circulating tumor cells (CTCs) and their

expression/activation of epidermal growth factor receptor (EGFR) during the course of combined chemo- or bioradiotherapy regimens as potential biomarkers of treatment efficacy in squamous cell carcinoma of the head and neck (SCCHN) were determined. METHODS AND MATERIALS: Peripheral blood samples from SCCHN patients with locally advanced stage IVA/B disease or who were treated with concurrent by

radiochemotherapy

induction

chemotherapy

followed

bioradiation with cetuximab were included in this study. Using flow cytometry, the absolute number of CTCs per defined blood volume as well as their expression of EGFR and its phosphorylated form (pEGFR) during the course of treatment were assessed.

17

RESULTS: Before treatment, we detected 1 CTC per 3.75 mL blood in 9 of 31 patients (29%). Basal expression of EGFR was detected in 100% and pEGFR in 55% of the CTC+ cases. The frequency of CTC detection was not influenced by induction chemotherapy. However, the number of CTC+ samples significantly increased after radiotherapy. This radiation-induced increase in CTC numbers was less pronounced when radiotherapy was combined with cetuximab compared to its combination with cisplatin/5-fluorouracil. The former treatment regimen was also more effective in reducing pEGFR expression in CTCs. CONCLUSIONS: Definitive radiotherapy regimens of locally advanced SCCHN can increase the number of CTCs and might thus contribute to a systemic spread of tumor cells. Further studies are needed to evaluate the predictive value of the radiation-induced increase in CTC numbers and the persistent activation of the EGFR signalling pathway in individual CTC+ cases.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22583603

18

DAFTAR PUSTAKA Corwin , Elizabeth J . 2000 . Buku Saku Patofisiologi . EGC . Jakarta Doenges , Marillyn E et all . Rencana Asuhan Keperawatan . EGC . Jakarta Gale, Danielle. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi . EGC. Jakarta Muttaqin , A & Sari , K.2011 . Asuhan Keperawatan Gangguan sistem Integumen . Salemba Medika . Jakarta

NANDA .

( 20012-2014 ) . Nursing Diagnosis: Definition and

Classification . Philadelphia : NANDA International.

Syaifuddin . Anatomi Tubuh Manusia . Edisi 2 . Salemba Medika . Jakarta http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22583603 . diakses tanggal 10 Mei 2012 http://ml.scribd.com/doc/94956929/Basalioma . diakses tanggal 10 Mei 2012 http://www.news-medical.net/health/Skin-Cancer-(Indonesian).aspx

19