Anda di halaman 1dari 21

Daftar Isi

Kata Pengantar i Semar ii Gareng iii Petruk iv Bagong v Daftar Pustaka vi

Kata Pengantar

Wayang merupakan warisan asli budaya bangsa Indonesia, merupakan cerminan dari kehidupan rakyat Indonesia dan salah sa- tunya adalah tokoh pewayangan Punokawan yang merupakan bagian

dari dunia wayang yang hanya ada di Indonesia, karena di dalam ce- rita asli pewayangan di India tidak ada tokoh Punokawan. Sedang- kan kesenian wayang sendiri sudah ada sejak sebelum kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia dan melekat begitu kuat dalam kebu- dayaan Jawa.Tentang asal usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang mula-mula sekali diciptkan oleh raja Jayabaya dari kerajaan Mamenang/Kediri. Sekitar abad ke 10 raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dariroh leluhurnya dan digoreskan

di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari

gambaran relief cerita Ramayana pada candi Penataran di Blitar. Maka sejak saat itu kegiatan penciptaan wayang semakin berkem- bang. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis

oleh para pujangga Indonesia sejak abad ke- 10 tersebut. Diantaran-

ya berupa naskah kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuno yang

ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (898 –910), kitab ini merupakan terjemahan dari kitab Ramayana karangan pujangga India Waalmiki yang selanjutnya mengalami penambahan falsafah Jawa. Contoh lain adalah karya Empu Kanwa Kakawin Arjunawiwaha, yang merupakan gubahan yang berinduk pada kitab Mahabarata. Mas- uknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-13 memberi pengaruh

pada perkembangan wayang di Indonesia,

SEMAR TOKOH PUNOKAWAN PERTAMA YANG DICIPTAKAN

Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-. Contohnya seperti Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh/pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar Naya = Nayaka = Utusan mangrasul Artinya: Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Menurut Javanologi:

Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan. Tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang. Maknanya: “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik” Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel (karang = gersang; dempel = keteguhan jiwa). Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknan- ya hendak mengatakan: “akuning sang kuncung” = sebagai kepriba- dian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pam- rih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar berjalan menghadap ke atas maknanya: “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain Semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (un- tuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono: menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Ciri sosok semar adalah:

1. Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah tua

2. Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

3. Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

4. Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

5. Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas

nasehatnya. Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud keper- cayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa. Di kalangan spiritual Jawa, Tokoh wayang Semar ternyata di- pandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari penge- jawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain han- yalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman praseja- rah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebu- dayaan Jawa.tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi.

Bocah Bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sa sisih sapi gumarang

Teks empat baris yang menggambarkan Bocah Bajang (anak yang tidak bisa besar atau cacat) tersebut merupakan salah satu Jineman atau lagu yang selalu dikumandangkan pada pegelaran Wayang Purwa, khusus untuk mengiringi munculnya tokoh Semar pada waktu goro- goro. Hal tersebut tidak secara kebetulan, tetapi merupakan sebuah ekspresi kreatif untuk menyampaikan sesuatu makna yang dianggap penting, melalui lagu Bocah Bajang dan wayang Semar merupakan gambaran Kesempurnaan yang tinggal dan hidup dalam manusia yang lemah dan cacat. Tokoh Semar mempunyai sifat pribadi yang mendua. Ia adalah dewa bernama Batara Ismaya, yang manitis (tinggal dan hidup) pada seorang manusia cebol, berkulit hitam, bernama Ki Semarasanta. Bentuk wayangnya pun dibuat mendua: bagian kepala adalah laki-laki, tetapi payudara dan pantatnya adalah perempuan. Rambutnya dipo- tong kuncung seperti anak-anak, tetapi sudah memutih seperti orang tua. Bibirnya tersenyum menggambarkan kegembiraan dan kebaha- giaan, tetapi matanya selalu basah seperti sedang menangis sedih. Oleh karena serba misteri, tokoh Semar dapat dianggap dewa, da- pat pula dianggap manusia. Ya laki-laki, ya perempuan, ya orang tua dan sekaligus kanak-kanak, sedang bersedih tetapi dalam waktu yang sama juga sedang bergembira. Maka tokoh ini diberi nama Semar asal kata samar, yang berarti tidak jelas.

Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri JangganSemarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatu- nya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri. Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara mon- tok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya men- unjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta. Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungn- ya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya, yaitu terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin.

terutama pada falsafah wayang yang semakin diperkaya dengan had- irnya falsafah-falsafah baru. Sejak jaman Mataram di Kartasura, penggubahan wayang yang berinduk dari Mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak jaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berasal dari Nabi Adam. Silsilah ini terus berlanjut hingga sampai pada raja-ra- ja di Pulau Jawa (misalnya :Parikesit), Selanjutnya, mulailah dikenal adanya cerita wayang Pakem dan cerita wayang Carangan (mengambil lakon di luar pakem).Tidak semua jenis wayang terdapat tokoh-to- koh Punokawan, Semar, Gareng, Bagong, Petruk. Hanya wayang yang mengambil cerita dari kisah Mahabarata saja yang terdapat tokoh Punokawan. Seperti yang diuraikan berikut ini, masing-masing jenis wayang memiliki cerita yang berbeda. Dan didalam buku biografi ten- tang Punokawan ini akan dijelaskan secara rinci tentang siapakah to- koh-tokoh Punokawan itu.

Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimak- sudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidu- pan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri. Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh terse- but senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hidup terse- but akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatu- nya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Se- mar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.

Semar
Semar

GARENG ANAK ANGKAT PERTAMA SEMAR

Anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diambil anak angkat pertama

oleh Semar. Nama lain gareng adalah : Pancalpamor ( artinya menolak godaan duniawi ) Pegatwaja ( artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak yang memboros- kan dan mengundang penyakit. Nala Gareng (artinya hati yang ker- ing, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik) Gareng adalah punakawan kedua setelah Semar. ciri fisik Gareng :

1. Mata juling artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang

kejahatan/ tidak baik.

2. Tangan ceko (melengkung) artinya tidak mau mengambil/ meram-

pas hak orang lain.

3. Sikil gejik (seperti pincang) artinya selalu penuh kewaspadaan

dalam segala perilaku. Gareng senang bercanda, setia kepada tuannya, dan gemar me- nolong. Dalam pengembaraannya pernah menjadi raja bernama Prabu Pandu Bergola di kerajaan Parang Gumiwang. Ia sakti mandraguna, semua raja ditaklukkannya. Tetapi ia ingin mencoba kerajaan Amarta ( tempat ia mengabdi ketika menjadi punakawan).Semua satria pan- dawapun dikalahkannya. Sementara itu Semar, Petruk dan Bagong

sangat kebingungan karena kepergian Gareng. Untunglah Pandawa mempunyai penasehat yang ulung, yaitu Prabu Kresna. Ia menyaran- kan kepada Semar, jika ia ingin bertemu dengan Gareng relakanlah Petruk untuk menghadapi Pandu Bergola.

Semar tanggap dengan ucapan Kresna, sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya Petruk berfikir Semua raja juga termasuk Pan- dawa saja dikalahkan Pandu Bergola, apa jadinya kalau dia yang meng- hadapinya Melihat kegamangan Petruk, Semar mendekat dan mem- bisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu petruk menjadi semangat dan girang, kemudian ia berangkat menghadapi Pandu Bergola.Saat Pandu Bergola sudah berhadapan dengan Petruk, ia selalu membela- kangi ( tidak mau bertatap muka), jika terpaksa bertatap muka ia se- lalu menunduk. Tetapi Petruk senantiasa mendesak untuk bertanding. Akhirnya terjadilah perang tanding yang sangat ramai, penuh kelucuan dan juga kesaktian. Saat pergumulan terjadi Pandu Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Tetapi Petruk belum menyadarinya. Pergumulan terus berlanjut sampai pada akhirnya Semar memisah- kan keduanya. Begitu tahu wujud asli Pandu Bergola Petruk memeluk erat-erat kakaknya (Gareng) dengan penuh girang. semua keluarga Pandawa ikut bersuka cita karena abdinya telah kembali. Gareng ditanya oleh Kresna, mengapa melakukan seperti itu. ia menjawab bahwa dia ingin mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan lupa karena sudah makmur sehingga kurang/ hilang kehati-ha- tian serta kewaspadaannya. Bagaimana jadinya kalau negara diserang musuh dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan rakyat menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng mengingatkan pada rajanya. Pandawa merasa gembira dan beruntung punya abdi seperti Gareng Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah :

1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya.

3. Jangan suka merampas hak orang lain.

4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.

Gareng
Gareng

PETRUK/DAWALA ANAK ANGKAT KEDUA SEMAR

Anak Gandarwa (sebangsa jin), menjadi anak angkat kedua Se- mar setelah Gareng.Nama lain Petruk adalah Kanthong Bolong art- inya suka berdema. Doblajaya, artinya pintar. Diantara saudaranya

(Gareng dan Bagong) Petruklah yang paling pandai dan pintar bicara. Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak yaitu Bambang Lengkung Kusuma (seorang yang tampan) istrinya bernama Dewi Undanawati. Sebagai punakawan Petruk selalu menghibur tu- annya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ke- tika lupa, membela ketika teraniaya. Intinya bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi.

1. momong artinya bisa mengasuh.

2. momot artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat

merahasiakan masalah.

3. Momor artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah

bangga kalau disanjung.

4. Mursid artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak

tuannya.

5. Murakabi artinya bermanfaat bagi sesama.

Pada suatu waktu Pandawa kehilangan jimat Kalimasada. kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran, keangkaramurkaan timbul dimana-mana. Jimat ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu Bambang Irawan dan Bambang Priyambodo (anak Arjuna) dengan disertai Petruk berusaha merebut jimat tersebut dari tangan Mustakaweni. Akhirnya jimat tersebut berhasil direbut dan dititipkan kepada Petruk.

Sementara itu ternyata Adipati Karna juga berhasrat memiliki jimat tersebut. petruk ditusuk dengan keris pusaka yang ampuh yaitu Kyai Jalak, Petrukpun mati seketika Atas kesaktian ayahnya (Gandarwa) Petruk dihidupkan lagi. Kemudian ayahnya tersebut ingin menolong Petruk dengan berubah wujud menjadi Duryudana. ketika Karna bertemu Duryudana jimat kalimasada diserahkan kepadanya. Betapa terkejutnya Karna mengetahui telah diperdaya oleh Gandar- wa Akhirnya jimat tersebut oleh Gandarwa diserahkan kembali kepada Petruk, dan dia menasehati kalau menghadapi musuh Petruk harus hati-hati dan jimat tersebut diminta untuk diletakkan di atas kepalanya. Ternyata setelah jimat tersebut diterapkan sesuai anjuran ayahnya Petruk menjadi sangat sakti, tidak mempan senjata apapun. Karna-pun dapat dikalahkannya.Tak terasa akhirnya Petruk terpisah dengan tuannya Bambang Irawan. Petrukpun mengembara, semua negara ditakhlukkannya termasuk negara Ngrancang Kencana. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Keduwelbeh Sedangkan raja yang asli menjadi bawahannya. Begitulah ketika Punakawan kalau sudah mengeluarkan kesaktiannya tidak ada manu- siapun yang dapat menandinginya.Ketika akan mewisuda dirinya, se- mua raja negara bawahan yang ditaklukkannya hadir termasuk Astina. Yang belum hanya Pandawa, Dwarawati, dan Mandura. Semula ketiga raja negar tersebut tidak mau hadir, tetapi setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati (Prabu Kresna) meny- erahkan hal ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diaju- kan sebagai wakil dari Dwarawati. Terjadilah peperangan yang san- gat ramai antara Prabu Wel Keduwelbeh dengan Gareng dan Bagong, peperangan tidak segera berakhir karena belum ada yang menang dan belum ada yang kalah,sampai ketiganya berkeringat Gareng dan Bagong akhirnya bisa mengenali bau keringat saudaranya Petruk

dan yakin bahwa orang yang mengajak bertarung itu. sesungguhnya adalah Petruk maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi malah diajak bercanda, berjoged bersama, dengan berbagai lagu dan tari. Wel Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kerajaan. Setelah ingat ia segera lari meninggalkan Gareng dan Petruk. Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap, sang prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.Setelah terbuka se- mua Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti itu. ia beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga ke- hilangan jimat Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya

kepada siapa saja. Kalau diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun. Setelah menjadi raja jangan sombong dan mere- mehkan rakyat kecil, karena rakyat kecil kalau sudah marah/ mem- berontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah Petruk ingin menyadarkan tuannya. Inti pendidikan budi pekerti yang bisa diambil dari cerita diatas :

1. Budi dan watak tidak dapat diukur dari penampilan/ fisik.

2. Bawahan harus setia pada atasan

3. Mengerjakan tugas hingga tuntas dan diusahakan yang terbaik

4. Jangan merebut hak dan milik orang lain

5. Semua tindakan harus diperhitungkan, jangan ceroboh dan

gegabah.

6. milikilah watak momong, momot, momor,mursid, dan murakabi

Petruk
Petruk

BAGONG/CEPOT ANAK ANGKAT KETIGA SEMAR

Anak angkat ketiga Semar. Dia adik Gareng dan Petruk. Diceri- takan ketika itu Gareng dan Petruk minta dicarikan teman,sanghyang Tunggal bersabda :”Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri.” Seketika itu bayangan berubah menjadi manusia dan selan- jutnya diberi nama Bagong. Bagong berbadan pendek, gemuk seperti semar tetapi mata dan mulut lebar. Ia memiliki watak banyak bercanda, pintar membuat le- lucon, bahkan terkadang saking lucunya menjadi menjengkelkan. Be- radat lancang, tetapi jujur, dan juga sakti. Kalau menjalankan tugas terkadang tergesa-gesa kurang perhitungan. Bagong bersuara besar dan kedengaran agak kendor di leher.Ada yang mengatakan kalau Bagong berasal dari kata Baghoo (bahasa Arab) yang artinya senang membangkang/ menentang, tidak mudah menurut atau percaya pada nasihat orang lain. Ini juga menjadi nasihat pada tuannya bahwa manusia didunia ini mempunyai watak yang bermacam-macam dan perlu diperhatikan dan diwaspadai dari watak dan karakter masing - masing watak tersebut. Inti pendidikan dan budi pekerti :

1. Hidup ini perlu hiburan

2. Setiap tindakan jangan tergesa-gesa dalam pelaksanaannya, harus

diperhitungkan terlebih dahulu, dampak negatif dan positif yang akan timbul akibat dari perbuatan kita tersebut.

3. Pelajari berbagai macam watak/ karakter manusia agar kita bisa

hidup bermasyarakat dengan baik.

Bagong
Bagong

Daftar Pustaka

http://www.seasite.niu.edu/indonesian/wayang/contents/pu-

nakawan.html,15 Desember 2011 http://www.wayang.wordpress.com/punokawan.html, 15 Desember 2011 http:// www.sabdalangit.wordpress.com,15 Desember 2011 http://www.kaskus.us/tentang punokawan,10 Februari 2012