Anda di halaman 1dari 5

D. Beberapa Contoh Fenomena Keagamaan di Masa Sekarang a.

Terorisme atas nama agama Tidak ada istilah yang serumit Terorisme. Istilah tersebut bukan sekadar istilah biasa, melainkan wacana baru yang ramai diperbincangkan khalayak dunia dan mempunyai impilikasi besar bagi tatanan politik global. Terorisme bukan sekadar diskursus, akan tetapi sebuah gerakan global yang hinggap di mana pun dan kapan pun. Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya? Memang, pertanyaan-pertanyaan di atas terus mengalir deras pandangan Islam sebagai agama teroris makin dahsyat, ini terkait erat dengan maraknya gerakan Islam Politik yang menunjukkan pandangan-pandangan fundamentalistik.1 Pada saat ini kita sering mendengar kata Teorisme sering dikaitkan dan diarahkan pada tujuan Jihad dalam Islam, sehingga banyak orang berfikiran negatif bila mendengar kata Jihad kita meski melihat kembali konteks sejarah, hukum, rukun, syarat dan adab-adabnya.2 Kata terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta dicapai, targettarget serta metode Terorisme kini semakin luas dan bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan suatu jalan Jihad melaikan suatu bentuk kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia. b. kekerasan atas nama agama Stigma atas nama agama muncul karena kelompok pelaku kekerasan terdiri atas komunitas beragama. Motif dilakukan tindak kekerasan antara lain pelecehan lambang kebesaran agama (pembakaran mushaf Al-Qur'an), reaksi atas penyimpangan ajaran (Ahmadiyah, Syiah, teologi Lia Eden), faham keagamaan yang eksklusif (LDII, Pengamal
terorisme dalam islam/islam-dan-terorisme.htm Syamsuddin Arif, ORIETALIS DAN DIABOLISME PEMIKIRAN, (Jakarta: Gema Insani, 2008), cet.1, H.271
2 1

Shalawat Wahidiyah), pembelaan diri (MTA) dan motifasi lain. Pelaku mengatasnamakan tindakannya sebagai bentuk respon terhadap kemungkaran. Contoh praktisnya pembakaran lokalisasi PSK yang legal, sweeping tempat hiburan malam dan warung makanan di siang hari Ramadhan, perusakan tempat ibadah aliran sesat, penumpahan cairan legen, usaha menggagalkan aktifitas organisasi kelompok yang berseberangan. Tindakan reaktif itu lebih didorong oleh sikap pihak berwajib (aparat keamanan) terkesan membiarkan, melindungi atau menfasilitasi dan lamban mengambil sikap.3 Sekjen Forum Umat Islam Ustadz Muhammad Al Khaththath mengatakan kekerasan atas nama agama merupakan komoditas politik pihak-pihak tertentu, bukan benturan bermotif theologis seperti yang selama ini disebarkan oleh media massa. Isu kekerasan agama lebih merupakan konsumsi politik yang dijual kemana-mana Kata ustadz Al khaththath di tengah acara diskusi public Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, antara Ancaman dan Harapan di Kantor PB PMII ,Salemba tengah, Jakarta, Selasa(31/1). Ustadz Khaththath mencontohkan, penelitian yang dilakukan oleh sebuah LSM mengenai laporan perkembangan radikalisasi agama di Jabotabek. Ternyata, hanyalah penelitian yang disandarkan oleh persepsi masyarakat, bukan fakta sebenarnya dilapangan. Padahal, persepsi masyarakat dibentuk oleh propaganda media. Seperti memuat prosentase ormas tertentu yang dikategorikan pernah melakukan kekerasan, hanya karena namanya tercantum bergabung ke dalam Forum Umat Islam yang lebih dulu disebut turut melakukan kekerasan atas nama agama. Ismail menolak bahwa benturan antara umat Islam dan Kristen di Indonesia karena factor teologis atau agama itu sendiri, tetapi yang terjadi nyatanya adalah persoalan di ranah hukum. Jika memang persoalan theologies, maka bukan hanya satu gereja yang dipersoalkan, pasti seluruh gereja yang dilarang Jelasnya Ismail menilai bahwa kekerasan agama terjadi lebih karena factor arogansi suatu kelompok agama tertentu dan kekurang tegasan pemerintah dalam menyelesaikan masalah. Hal ini menurutnya dapat dilihat dalam kasus GKI Yasmin, dimana GKI Yasmin enggan
3

Http//446-kekerasan-atas-nama-agama.html

menerima solusi yang diajukan oleh pemerintah kota berupa relokasi, padahal relokasi yang diberikan sudah cukup representatif, bahkan memutar balikan fakta bahwa Walikota tidak mematuhi putusan MA. "Kelompok Kristen mengabarkan bahwa Wali Kota melawan putusan MA, padahal putusan MA sudah dilaksanakan", kata Ismail. Kemudian ketidaktegasan pemerintah dalam menangani aliran sesat Ahmadiyah juga menurut Ismail sebagai salah satu penyebab sulit terjadinya kerukunan. Sikap tidak tegas pemerintah terhadap Ahmadiyah memungkinkan terjadinya konflik di masyarakat. "Harusnya pemerintah tegas dan cepat membubarkan Ahmadiyah", ungkap Ismail. c. aliran sesat dalam agama Aliran Sesat yang dimaksud dalam tulisan ini adalah istilah khas dari kaum muslimin Indonesia untuk sebuah kelompok agama atau pemikiran yang menyatakan diri bagian dari Islam tetapi menyimpang dari Islam. Dikatakan sebagai istilah khas karena memang istilah ini bukan istilah resmi keagamaan Islam yang diturunkan dari al-Qur`an dan hadits.Pengertian sesat dalam al-Qur`an dan hadits berbeda dengan pengertian sesat dalam istilah aliran sesat yang dimaksud tulisan ini. Pengertian sesat dalam al-Qur`an dan hadits mencakup semua jenis penyimpangan dari jalan yang lurus, baik dalam level kecil atau besar, disengaja atau tidak disengaja. Sementara pengertian sesat dalam istilah aliran sesat adalah penyimpangan dari dasar-dasar Islam (ushuluddin) yang dirumuskan oleh MUI ke dalam 10 kriteria, yaitu: 1. Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun islam 2. Meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syari 3. Meyakini turunnya wahyu sesudah al-Qur`an 4. Mengingkari otentisitas dan kebenaran al-Qur`an 5. Menafsirkan al-Qur`an tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir 6. Mengingkari kedudukan hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam 7. Menghina, melecehkan, dan/atau merendahkan Nabi dan Rasul 8. Mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat 10. Mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syari. Rumusan yang dikeluarkan oleh MUI tersebut tentu bukan rumusan langsung yang diturunkan dari ayat al-Qur`an atau hadits Rasulullah saw. Sebab, sampai saat ini belum ditemukan ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah saw yang langsung menunjuk kesepuluh kriteria tersebut sebagai aliran sesat. Kesepuluh kriteria aliran sesat di atas hanya merupakan fatwa yang pastinya didasarkan pada penelitian lapangan terkait fenomena penyimpangan keberagamaan umat Islam Indonesia yang kemudian dirujukkan pada dalil-dalil naqli(alQur`an-hadits) yang ada. Maka dari itu jangan heran kalau kemudian ditemukan rumusan kriteria aliran sesat yang berbeda dengan yang telah dikeluarkan MUI di atas. Bisa lebih banyak, lebih sedikit, atau mungkin sama tetapi dengan point-point yang berbeda.4

http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/04/ciri-ciri-aliran-sesat.html

DAFTAR PUSTAKA Bustanuddin Agus, Agama Dalam Khidupan Manusia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006 William A. Haviland, Antropologi Edisi Keempat, Jilid 2, Terjemahan dari Antropologi 4th Edition, Jakarta: R. G. Soekadejo, 1993 Arif Syamsuddin, ORIETALIS DAN DIABOLISME PEMIKIRAN: cet 1, Jakarta: Gema Insani, 2008. Sirojuddin & Fahriansyah, Makalah: Upacara Mandi Hamil, Banjarmasin: IAIN Antasari, Fak. Ush. 2010. http://ma-nurulhuda.blogspot.com/2011/02/fenomena -agama-dan-dinamikanya.html http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=2349.0 http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/04/ciri-ciri-aliran-sesat.html http://446-kekerasan-atas-nama-agama.html http://terorisme dalam islam/islam-dan-terorisme.htm