Anda di halaman 1dari 62

1

2
SOLVEN
LARUTAN
SOLUT
Cair
Tunggal/majemuk
Jumlahnya lebih banyak
Padat/Cair/gas
Tunggal/majemuk
Jumlahnya lebih sedikit
3
Larutan (gas, cair, atau padat) adalah campuran
homogen antara dua komponen atau lebih
4
Lelehan adalah cairan yang berada pada temperatur
yang dekat dengan titik bekunya
Lelehan adalah campuran homogen dari dua senyawa
atau lebih yang akan membeku (baik secara bersama
maupun individual) apabila didinginkan pada
temperatur kamar.
LARUTAN PADAT-PADAT
Substitutional Solid Solution Rules
For substitutional solid solutions, the Hume-Rothery
rules are:
1. The atomic radii of the solute and solvent atoms
must differ by no more than 15%:
% 15 100 difference %
solvent
solvent solute
s |
.
|

\
|
=
r
r r
6
2. The crystal structures of solute and solvent must
match.
3. Complete solubility occurs when the solvent and
solute have the same valency. Metals with lower
valency will tend to dissolve in metals with higher
valency.
4. The solute and solvent should have similar
electronegativity. If the electronegativity difference
is too great, the metals will tend to form
intermetallic compounds instead of solid solutions.
7
Mengapa ada solut yang dapat larut dalam solven,
sementara ada solut lain yang tidak dapat larut?
sifat-sifat kimia dari solut/solven
elektron di lapisan kulit terluar
Setiap atom selalu berusaha membuat susunan
elektron di kulit terluarnya seperti gas mulia, yaitu
jumlahnya 2 (seperti He) atau 8 (Ne).
Untuk memenuhi hal itu, atom akan melepas atau
menerima elektron (ikatan ionik), ataupun
bekerjasama dengan atom lain (ikatan kovalen), dan
ikatan logam.
8
9
Dalam satu senyawa kovalen, sering terjadi ketidak-
seimbangan densitas elektron di kulit terluar.
Ketidakseimbangan densitas elektron di kulit terluar
akan menyebabkan ketidakseimbangan magnetik sesaat
yang selanjutnya akan menyebabkan molekul menjadi
magnet kecil / dipole.
O
H
H
o

o
+

o
+

10
11
Penyimpangan densitas elektron ini tergantung pada
susunan elektron di kulit terluar molekul: ada
molekul yang sangat polar dan ada yang tidak polar.
Perbedaan tingkat kepolaran ini akan menyebabkan
perbedaan gaya tarik antara satu molekul dengan
molekul lainnya.
Gaya antar molekul (Intermolecular Forces) adalah
gaya tarik elektrostatik antara daerah bermuatan
negatif pada satu molekul dengan daerah bermuatan
positif pada molekul lain.
Gambar 2. Gaya antar molekul
12
Gaya ini bekerja di antara molekul - molekul stabil
atau antar gugus-gugus fungsional dari
makromolekul.
Gaya antar molekul ini menyebabkan molekul-
molekul berkumpul.
Energi yang diperlukan untuk memisahkan masing-
masing molekul jauh lebih kecil daripada energi
ikatan.
Gaya antar molekul berperan penting pada sifat-sifat
senyawa.
13
Tipe gaya antar molekul:
d. Interaksi dipole dipole
e. Ikatan hidrogen
f. Interaksi ion dipole
3. Antar molekul polar:
a. Gaya dispersi London/gaya van der Waals
1. Antar molekul non-polar:
2. Antar molekul non polar dan molekul polar:
b. Interaksi dipole induced dipole
c. Interaksi ion induced dipole
14
15
Substance
Molecular
Mass
[g/mol]
Dipole
moment
[Debye]
Normal
Boiling
Point
[ K ]
Propane 44 0.1 231
Dimethyl ether 46 1.3 248
Chloromethane 50 2.0 249
Acetaldehyde 44 2.7 294
Acetonitrile 41 3.9 355
PENGARUH DIPOLE MOMENT TERHADAP TITIK DIDIH
16
Molekul zat padat
Molekul zat cair
Molekul zat gas
17
18 18
Berdasarkan gaya antar molekul, solven dapat dibagi
menjadi 3 kelompok:
1. Polar protic : air, metanol, asam asetat
2. Dipolar apriotic : nitrobenzene, acetonitrile,
furfural
3. Non-polar apriotic : hexane, benzene, ethyl ether
19
Dalam solven polar protic, molekul-molekul solven
saling berinteraksi dengan membentuk ikatan hidrogen
yang kuat.
Agar suatu solut dapat larut, maka molekul solut harus
mampu memecah ikatan hidrogen antar molekul
solven, dan menggantinya dengan ikatan yang sama
kuat.
Agar dapat larut, molekul solut harus dapat mem-
bentuk ikatan hidrogen dengan solven.
Hal ini dapat terjadi jika molekul solut juga memiliki
ikatan hidrogen, atau bersifat cukup basa sehingga
mampu menerima atom hidrogen untuk membentuk
ikatan hidrogen.
20
Solven dipolar apriotic ditandai dengan nilai dielectric
constant yang besar.
Dalam solven dipolar aprotic, molekul-molekul solven
saling berinteraksi dengan membentuk dipole-dipole.
Jika solut juga termasuk dipolar apriotic, maka solut
segera dapat berinteraksi dengan solven dan larut.
Jika solut termasuk jenis non-polar, maka solut tidak
dapat berinteraksi dengan dipole dari molekul solven,
sehingga tidak dapat larut.
21
Solven non-polar apriotic ditandai dengan nilai
dielectric constant yang rendah; molekul berinteraksi
dengan menggunakan gaya van der Waals.
Solut non-polar aprotic mudah larut dalam solven non-
polar apriotic, karena gaya van der Waals antar molekul
solut akan diganti dengan gaya yang sama dengan
molekul solven.
Solut dipolar dan polar protic tidak akan larut atau
hanya sangat sedikit larut dalam solven non-polar.
Molekul solven harus
dapat memecah ikatan
antar molekul solut.
Molekul solut juga harus
mampu memisahkan
molekul solven.
Hal ini dapat terjadi jika
gaya antar molekul solven
sejenis dengan gaya antar
molekul solut.
23
Jika gaya tarik antar molekul solut jauh berbeda dengan
gaya antar molekul solven, maka molekul yang memiliki
gaya tarik lebih besar akan tetap terikat satu dengan
lainnya, dan akan menolak molekul lainnya, sehingga
tidak terjadi pelarutan.
24
Minyak dan air tidak dapat ber-campur,
karena molekul air yang saling terikat
kuat dengan ikatan hidrogen,
tidak akan mengijinkan molekul minyak
yang memiliki gaya tarik lemah.
Solubility Rule: LIKES DISSOLVE LIKES
Ionic or polar solutes
dissolve in polar
solvents.
Non-polar solutes
dissolve in non-polar
solvents.
Polar and ionic solutes DO NOT dissolve in
non-polar solvents and vice versa.
NaCl dissolves in water
Sugar dissolves in water
Alcohol dissolves in water
Vegetable oil dissolves
in hexane
Lub. oil dissolves in
kerosene
Jack fruit gum dissolves
in kerosene
25
26
27
Mekanisme pelarutan
Pada temperatur tertentu, jumlah maksimum
solut yang dapat terlarut disebut KELARUTAN.
Jika jumlah solut yang terlarut telah mencapai
harga kelarutannya, larutan tersebut disebut
larutan jenuh.
Kelarutan merupakan fungsi temperatur.
Pada umumnya kelarutan bertambah dengan
naiknya temperatur.
28
29
Ada beberapa cara untuk menyatakan komposisi
larutan:
29
Kelarutan berbagai senyawa anorganik pada 20C
30
Kelarutan KNO
3
, CUSO
4
, dan NaCl dalam air
31
Kelarutan Ca(OH)
2
dalam air
32
33
Kelarutan berbagai garam dalam air
Kelarutan berbagai garam dalam air
Pengaruh temperatur terhadap kelarutan dapat
dinyatakan dalam suatu korelasi:
c = A + Bt + Ct
2

log x = A + BT
log x = A + BT + CT
2

log x = A + BT
-1

log x = A + BT
1
+ CT
-2

log x = A + BT
-1
+ C log T
36
C
1
: konsentrasi awal (kg garam anhidrat/kg solven)
C
2
: konsentrasi akhir (kg garam anhidrat/kg solven)
W : berat awal solven (kg)
V : solven yang hilang karena menguap
(kg/kg solven mula-mula)
R : rasio berat molekul garam hidrat dan anhidrat
Y : crystal yield (kg)
Kristal garam anhidrat
Total loss of solvent : Y = W C
1
(1)
No loss of solvent : Y = W (C
1
C
2
) (2)
Partial loss of solvent : Y = W [C
1
C
2
(1 V)] (3)
Kristal garam hidrat/solvat
Total loss of solvent : Y = W C
1
(4)

No loss of solvent :

Partial loss of solvent :
( )
( ) 1 1
2
2 1


=
R C
C C WR
Y
( ) | |
( ) 1 1
1
2
2 1


=
R C
V C C WR
Y
(5)
(6)
39
CONTOH
Hitung hasil teoritis kristal murni yang dapat diperoleh
dari larutan yang mengandung 100 kg Na
2
SO
4
(BM = 142)
dalam 500 kg air dengan cara pendinginan sampai 10C.
Kelarutan Na
2
SO
4
pada 10C adalah 9 kg anhidrat per 100
kg air, dan kristal yang mengendap berupa dekahidrat
(BM = 322). Anggap bahwa 2% dari air akan hilang karena
menguap
40
PENYELESAIAN
R = 322/142 = 2,27
C
1
= 0,2 kg Na
2
SO
4
per kg air
C2 = 0,09 kg Na
2
SO
4
per kg air
W = 500 kg air
V = 0,02 kg per kg air mula-mula
( ) | |
( )
( ) | |
( ) 1 27 , 2 09 , 0 1
02 , 0 1 09 , 0 2 , 0 27 , 2 500
1 1
1
2
2 1


=


=
R C
V C C WR
Y
= 143 kg Na
2
SO
4
.10H
2
O
Untuk yield kristal dari kristaliser vakum, perlu
diperkirakan jumlah solven yang menguap, V.
V tergantung pada panas yang digunakan dalam kristaliser.
Neraca panas:
( ) ( ) Y C W t t c VW
c v
+ + =
1 2 1
1
dengan

v
: enthalpy penguapan solven (kJ kg
-1
)

c
: enthalpy kristalisasi solut (kJ kg
-1
)
t
1
: temperatur awal dari larutan (C)
t
2
: temperatur akhir dari larutan (C)
c : kapasitas panas rata-rata dari larutan (kJ kg
-1
K
-1
)
(7)
( ) ( )( ) ( ) | |
( ) | |
2 2
2 1 2 1 2 1
1 1
1 1 1
RC R C
R C C t t c C C R
V
c v
c

+ +
=
(8)
Jika pers. (7) disubstitusikan ke pers. (6) maka akan
diperoleh:
43
CONTOH
Perkirakan hasil teoritis kristal sodium asetat
(CH
3
COONa.3H
2
O) dari kristaliser vakum dengan
tekanan 15 mbar apabila kristaliser tersebut disupply
larutan sebesar l2000 kg/jam larutan sodium asetat
40% pada 80C. Kenaikan titik didih larutan 11,5C.
44
Panas kristalisasi CH
3
COONa.3H
2
O (
c
) = 144 kJ/kg
Kapasitas panas larutan (c) = 3,5 kJ kg
-1
K
-1

Panas laten penguapan air pada 15 mbar (
v
)
= 2,46 MJ/kg
Titik didih air pada 15 mbar = 17,5C
Temperatur operasi = 17,5 + 11,5 = 29 C
Kelarutan pada 29 C (C
2
) = 0,539 kg/kg H
2
O
Konsentrasi awal (C
2
) = 0,667 kg/kg H
2
O
Massa air mula-mula dalam feed (W) = 0,6 2000
= 1200 kg/jam
Rasio berat molekul (R) = 136/82 = 1,66
45
( ) ( )( ) ( ) | |
( ) | |
2 2
2 1 2 1 2 1
1 1
1 1 1
RC R C
R C C t t c C C R
V
c v
c

+ +
=
= 0,153 kg/kg air mula-mula
( ) | |
( ) 1 1
1
2
2 1


=
R C
V C C WR
Y = 660 kg/jam
Kelarutan asam adipat dalam berbagai solven
Kelarutan hexamethylenetetramine dalam berbagai solven
Kelarutan solut organik dalam larutan ideal dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan sbb.:
(

|
.
|

\
|

A
=
T T R
H
x
m
m
1 1
exp
2
dengan x
2
: fraksi mol solut dalam larutan
AH
m
: enthalpy pelelehan
R : konstanta gas universal
T
m
: titik leleh solut
T : temperatur larutan
(9)
Temperatur leleh, Enthalpy pelelehan, dan kelarutan ideal
Solut Organic pada 25C
49
SENYAWA DENGAN KELARUTAN SANGAT KECIL
LARUTAN ENCER
Contoh: AgCl, yang mengalami disosiasi:
AgCl
(s)
Ag
+
+ Cl
-

Konstanta keseimbangan reaksi:
AgCl
Cl Ag
a
a a
K
+
= (10)
Jika padatan AgCl berada dalam bentuk kristal yang
stabil dan berada pada tekanan atmosferis, maka
kondisi tersebut merupakan kondisi standar dan
aktifitasnya = 1.
50
Pers. (10) menjadi:

+
+
+
= =
Cl
Cl
Ag
Ag
Cl Ag
sp
m m a a K
dengan : koefisien aktivitas
m : konsentrasi ions dalam larutan (molal)
Untuk solut dengan kelartutan sangat kecil seperti AgCl,
~ 1, sehingga pers. (2) menjadi
+
=
Cl Ag
sp
m m K
(11)
(12)
Untuk elektrolit yang terdiri atas ion univalen dan
bivalen, seperti Ag
2
SO
4,
yang terdisosiasi menjadi 2
mol Ag
+
dan 1 mol SO
4
2-
, hasil kali kelarutannya
adalah:
+
=
2
4
2
SO Ag
sp
m m K (13)
53
Hasil kali kelarutan berbagai macam senyawa
Prinsip hasil kali kelarutan dapat digunakan untuk
menghitung pengaruh suatu spesies terhadap
kelarutan solut tertentu dan menentukan spesies
yang akan mengendap dalam suatu larutan
elektrolit.
Salah satu contoh adalah EFEK ION SEJENIS, yang
disebabkan oleh penambahan satu jenis spesies
ionik yang memiliki ion sejenis dengan senyawa
yang kita tinjau.
Karena kelarutan suatu spesies merupakan hasil
kali antara konsentrasi ion-ionnya, apabila
konsentrasi salah satu ion bertambah, maka
konsentrasi ion lainnya akan menurun.
CONTOH
Hitung jumlah maksimum AgCl yang dapat larut
dalam larutan yang mengandung 1 10
-5
molal NaCl
PENYELESAIAN
Konsentrasi ion Cl
-
in dalam larutan mula-mula:
1 10
-5
molal NaCl

Misal jumlah AgCl yang terlarut adalah x molal, maka
hasil kali kelarutan AgCl adalah:
10 5
10 56 , 1 10 1

= + = x x K
sp
molal 10 725 , 0
5
= x
solven
solven
kristal
kristal
lar
w w

+ =
1
56
57
Viskositas larutan KCl pada 25C
58
Viskositas larutan glycine pada 25C
59
Difusivitas larutan KCl pada 25C
60
Difusivitas larutan glycine pada berbagai temperatur
61
Beberapa sifat termal yang diperlukan:
Kapasitas panas
Panas laten
Panas pencampuran, pelarutan, dan kristalisasi
62