Anda di halaman 1dari 32

Halaman 1

Laporan Penelitian Efek dari 17 Estradiol Paparan pada Ekspresi p53 mutan pada Hidatidosa Mole trofoblas your Budaya Perbandingan Ekspresi p53 mutan PADA Kultur Jaringan plasenta normal usaha dan Kultur Jaringan Mola Hidatidosa Mencari Google Artikel Pemaparan 17 Estradiol Tatit Nurseta, Siti Candra, Maria Ulfa Anwari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya / Dr Saiful Anwar Rumah Sakit Umum Malang PENDAHULUAN Plasenta adalah organ yang sangat penting untuk mendukung janin pertumbuhan dan perkembangan serta kehamilan yang sukses. Trofoblas sel dari plasenta berkembang biak, milperapian, dan menyerang rahim untuk menjaga perkembangan janin. 1 Sel trofoblas hanya ditemukan ketika seorang wanita hamil. Ketika ada Abstrak Tujuan: Untuk membandingkan ekspresi p53 mutan di normal trofoblas (N) dengan kultur sel trofoblas molahidatidosa (HM) kultur sel yang terkena 17 estradiol. Metode: Penelitian eksperimental dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang menggunakan N kultur sel dan kultur HM sel dengan 17 estradiol pameranyakin. Kultur sel trofoblas mol normal dan hidatidosa adalah dibagi dalam 6 kelompok, seperti: 1. Tanpa tambah 17 estradiol, 2. Ditambahkan 5 17 nm estradiol, 3. Ditambahkan 10 nm 17

estradiol 4. Ditambahkan 20 nm 17 estradiol; 5. Ditambahkan 40 nm 17 estradiol; 6. Ditambahkan 80 nm 17 estradiol. Kemudian dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan p53 antibodi primer mutan dan mengamati ekspresi p53 mutan. Data dari pengamatan dianalisis dengan uji ANOVA dan uji korelasi. Hasil: p53 ekspresi Mutan dalam kultur sel U menunjukkan tidak signifikan perbedaan dalam setiap dosis pengobatan 17 estradiol (p = 0086> 0,05). Dosis pada 80nm 17 estradiol menunjukkan rata-rata tertinggi ekspresi p53 mutan pada kultur sel U daripada memberi dosis 17 estradiol pada 40 nm, 20 nm, 10nm dan 5 nm. Sementara kelompok kontrol menunjukkan rata-rata terendah dari ekspresi p53 mutan dalam kultur sel N jika dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang terkena 17 estradiol. P53 mutan ekspresi dalam kultur sel HM menunjukkan perbedaan yang signifikan pada setiap dosis pengobatan 17 estradiol (p = 0,000 <0,05). Adanya efek dari 17 estradiol dimulai ketika ekspresi p53 mutan pada kultur sel HM bedatang lebih tinggi setelah diberikan pengobatan berupa 17 estradiol pada dosis 5 nm dibandingkan dengan ekspresi 17 estradiol pada kelompok kontrol. Kemudian ekspresi p53 mutan pada Kultur sel HM meningkat bila diberikan dosis 17

estradiol pada 20 nm dan 40 nm. Dengan dosis 40 nm itu menunjukkan ekspresi tertinggi sion p53 mutan. Ekspresi mutan p53 pada kultur sel HM menurun bila diberikan pada dosis 80 nm. Kesimpulan: p53 ekspresi Mutan dalam kultur sel U terkena 17 estradiol menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Ekspresi mutant p53 pada kultur sel HM yang terkena 17 estradiol menunjukkan perbedaan yang signifikan. P53 mutan ekspresi dalam N dan HM kultur sel yang terkena 17 estradiol menunjukkan signifisignifikan adalah berbeda, di mana ekspresi p53 mutan pada kultur sel N adalah lebih rendah dari ekspresi p53 mutan pada kultur jaringan HM. [Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-1: 30-5] Kata Kunci: p53 mutan, 17 -Estradiol mol, hidatidosa Abstrak Menyelidiki: Membandingkan Ekspresi p53 mutan PADA Kultur jaRingan plasenta yang normal Mencari Google Artikel Kultur Jaringan mola hidatidosa Yang Dipapar Mencari Google Artikel Baru 17 estradiol. Menggunakan metoda: Suatu studi menjabarkan eksperimental Yang dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang menggunakan Kultur Jaringan plasenta normal usaha dan mola hidatidosa Yang Dipapar 17 estradiol, Kultur Jaringan plasenta normal usaha dan mola hidatidosa dibagi dalam 6 Kelompok, yaitu: 1. Tanpa ditambahkan 17 estradiol, 2. ditambahkan 5 nm 17 estradiol, 3. ditambahkan 10 nm 17 estradiol 4. ditambahkan 20 nm 17

estradiol; 5. ditambahkan 40 nm 17 estradiol; 6. ditambahkan 80 nm 17 estradiol. Kemudian dilakukan pengecatan imunositokimia mengguna-kan antibodi primer p53 mutan Dan dilakukan pengamatan eks-president p53 mutan. Data Hasil pengamatan dilakukan analisis Data Mencari Google Artikel Baru Uji ANOVA Dan Uji korelasi. Hasil: Ekspresi p53 mutan PADA Kultur Jaringan plasenta ataumal Yang Dipapar Mencari Google Artikel Baru 17 estradiol MEDIA NUSANTARA menunjukkan adanya permanent differences Yang signifikan. Ekspresi p53 mutan PADA Kultur jaringmola hidatidosa sebuah Yang Dipapar Mencari Google Artikel Baru 17 estradiol menunjukkan adanya permanent differences Yang signifikan. Ekspresi p53 mutan PADA Kultur Jaringan plasenta yang normal Mencari Google Artikel Kultur Jaringan mola hidatidosa Yang Dipapar Mencari Google Artikel Baru 17 estradiol menunjukkan berbeda signifikan, di mana Ekspresi p53 mutan PADA Kultur Jaringan plaSenta yang normal lebih rendah daripada Ekspresi p53 mutan PADA kulJaringan mola hidatidosa tur. Menipis: Terdapat permanent differences Ekspresi p53 mutan Jaringan plasenta yang normal Mencari Google Artikel mola hidatidosa. [Maj Obstet Ginekol Indones 2011; 35-1: 30-5] Kata kunci: p53 mutan, 17 estradiol, mola hidatidosa Korespondensi: Tatit Nurseta, Divisi Onkologi Ginekologi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Brawijaya University, Saiful Anwar Rumah Sakit Umum, Telepon: (0341) 335979, Email: tatitnurseta@yahoo.co.id J Indones 30 Nurseta dkk Obstet Gynecol
Halaman 2

kegagalan dalam diferensiasi penyakit trofoblas dari plasenta, suatu bentuk degenerasi hidropik dari choRion menyerupai gelembung-seperti disebut korion hydatidi-

membentuk mol. 2 Mola hidatidosa dapat terjadi pada semua wanita di masa reproduksi, pasien termuda yang pernah kembali porting berusia 12 tahun dan tertua adalah 57 tahun tua. Kebanyakan pasien akan membaik setelah HM diperlakukan completely. Namun, sekitar 15 - 20% akan undergo transformasi menjadi ganas Gestational trophoblastic tumor (GTT). Gestational trofoblas tumor adalah sekelompok penyakit ganas yang terkait dengan chorialis vili dan paling didahului oleh hydatidiform mol. 3 Insiden HM di Amerika Serikat adalah 1: 1450 - 1: 2000 persalinan dan Jepang adalah 3: 2000 persalinan. Epidemiologi penelitian di Bandung dan Malang 2002 (berdasarkan populasi penelitian) menunjukkan bahwa incidence dari mola hidatidosa, masing-masing adalah 1: 500 dan 1: 400. Jika di Indonesia ada estimasi 22 juta kelahiran per tahun, itu akan terjadi 44000-55000 mola hidatidosa kasus per tahun. Ketika 15% dari mereka menjadi ganas, GTT akan terjadi sebanyak 6600 - 8250 kasus per tahun. 4 Proses HM karsinogenesis ke GTT masih tidak dipahami dengan jelas dan hanya ada beberapa penelitian. Beberapa faktor yang dikenal memiliki peran dalam proses Karsinogenesis GTT, meliputi: DNA ploidi, ekspresi dari fosfolipid, onkogen, gen supresor tumor, gizi dan status hormonal. 5 Gen supressor tumor adalah protein yang mudah activated ketika kerusakan DNA terjadi. gen p53 adalah utama tumor supressor karena nya berfungsi dalam menghambating siklus sel, diferensiasi, apoptosis dan Angiogenesis. Dalam tumor trofoblas ganas gestasional atau koriokarsinoma, ada mutasi p53 protein yang proliferasi sel tidak terhambat dan sel-sel continue berkembang biak. p53 lebih dari ekspresi penting dalam patogenesis mol lengkap dan choriocarcinoma dan terkait dengan sifat agresif Gestapenyakit trofoblas nasional. p53 lebih sebagai ekspresisociated dengan p53-dependent apoptosis untuk memodulasi berlebihan proliferasi trofoblas.

6 gen p53 mutasi penting dalam patogenesis kehamilan trofoblas tumor dan progresivitas pada manusia. Dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), telah terdeteksi mutasi gen p53 pada 30% hydatiform mol, koriokarsinoma 75% dan tanpa p53 gen mutasi pada vili korionik normal. 7 Lain-siswa meninggal telah menunjukkan bahwa antibodi p53 ditemukan terutama pada pasien kanker dengan spesifisitas 96%. Antibomeninggal terutama terkait dengan missense gen p53 mutasi dan akumulasi p53 pada tumor. p53 mutasi gen memainkan peran dalam yang tidak terkendali trophoblastic proliferasi dan transformasi neoplastik. 8 Hormon estrogen alami berperan dalam process dari karsinogenesis dalam keganasan antara lain kanker payudara, kanker endometrium, kanker hati, dan beberapa jenis kanker lainnya. Ekspresi reseptor estrogension berkontribusi untuk menentukan proses carcinogenesis. Hal ini didukung oleh fakta tentang occurrence ekspresi berlebihan dari beberapa kanker. Oestradiol adalah com-estrogen sintetis monly digunakan sebagai pil kontrasepsi yang terbukti bermain peran dalam proses karsinogenesis GTT. 5 Sampai saat ini belum ada penelitian tentang efek bencana alam harus ral estrogen 17 estradiol dalam sel HM. Secara umum, tingkat kesuburan pasca hidatidosa mol tidak berubah. Bila tidak menggunakan kontrasepsi mereka akan hamil segera setelah menstruasi normal kembali. Tentu, estrogen yang merupakan hor-seks perempuan Depdiknas, diproduksi oleh indung telur sebagai bagian dari orangstrual siklus. Estrogen disintesis di ovarium dan ekstra ovarium jaringan. Pada wanita usia subur, yang sekresi adalah dari siklus ovarium sampai menopause. Aktivitas aromatase juga telah terdeteksi di otot, lemak, dan saraf jaringan. Jadi, secara alami, perempuan terkena oleh estrogen endogen untuk jangka waktu yang lama.

9 Trofoblas sel normal dan patologis adalah-nya tologically sama yang memiliki reseptor estrogen ekspresision. 10 Beberapa teori telah dikemukakan tersebut terjadirence keganasan dan salah satunya merupakan kelipatan reseptor estrogen sinyal transduksi jalur yang akan menyebabkan proliferasi meningkat dan menghambat APOPtosis sel stroma endometrium. 11 Shao membuktikan terjadinya karsinogenesis dalam MCF-7 Payudara Manusia Sel Kanker yang diinduksi estrogen. Sampai saat ini masih unjelas mengapa dan bagaimana sel-sel trofoblas bisa berubah menjadi keganasan, sehingga estrogen diduga memainkan peran dalam transformasi sel-sel trofoblas. Upaya pencegahan penyakit trofoblas molar adalah diperlukan, tetapi sampai sekarang patofisiologi tetap penelitian tidak jelas dan sangat sedikit yang telah dilakukan. Untuk membuat trofoblas mol penelitian sel tidak mungkin di manusia. Oleh karena itu, sel trofoblas medium kultur diperlukan secara in vitro yang menyerupai kondisi yang sebenarnyations dan dapat diberikan pengobatan yang berbeda desirely. Penelitian peranan estrogen dalam transformasi sel trofoblas belum dilakukan lagi, jadi ini studi menyelidiki efek estrogen (17 estradiol) terhadap ekspresi p53 pada kultur jaringan plasenta yang normal dan mola hidatidosa. METODE Penelitian ini dilakukan secara eksperimental antara control dan kelompok intervensi. Percobaan adalah performancemed di Laboratorium Fisiologi, Fakultas Medicine, Universitas Brawijaya Malang. Penelitian adalah dilakukan pada bulan Juli 2010. Penelitian ini menggunakan jaringan samprinsip keuangan yang berasal dari mola hidatidosa setelah hisap kuretase dan sampel jaringan normal plasenta dari pengiriman melalui operasi caesar, seorang ibu tidak sehat tidak menderita rasa sakit dengan kadar Hb 10, dengan normal kehamilan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati mantan pression p53 mutan pada sel trofoblas dari swadaya mal plasenta dan kultur jaringan HM sel yang tidak diberikan pengobatan apapun atau yang diberikan 5 nm, 10 nm, 20 nm, 40 nm, 80 nm dan paparan estradiol 17 di mana pada setiap sumur dilakukan hingga 4 kali repePersaingan pewarnaan, kemudian dilakukan dengan mutan utama p53 antibodi. Kemudian dilakukan penghitungan 100 trophoblast sel, berapa banyak sel trofoblas yang mantan tekan p53 mutan. Dalam penelitian ini, variabel independen adalah dosis 17 estrogen estradiol. Sedangkan variabel terikat adalah ekspresi p53 mutan N dan budaya HM sel. Vol 35, No 1 Januari 2011 P53 mutan ekspresi dalam kultur sel HM 31
Halaman 3

Hasil tabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik dan melakukan analisis statistik dengan menggunakan SPSS 13 for windows, dihitung dengan menggunakan satu arah ANOVA, uji Tukey, dan korelasi dan regresi tes. Probabilitas dianggap signifikan secara statistik jika nilai p <0,05 dengan interval kepercayaan 95%. Penilaian pewarnaan dan gradasi positif dinilai dengan mikroskop 400x bidang cahaya besar, maka trofoblas sel yang mengekspresikan p53 mutan ditandai oleh visualisasi warna coklat dari trofoblas inti sel per 100 dihitung. HASIL Penelitian ini menggunakan plasenta normal dan budaya HM sel tanpa dan dengan pemberian estrogen (17 estradiol) dalam 5 dosis (5 nm, 10 nm, 20 nm, 40 nm, 80 nm). Ini Tujuan penelitian adalah untuk melihat ekspresi mutan p53 p53 mutan menggunakan antibodi monoklonal setelah sel konfluen. Sel-sel konfluen ditandai oleh sel memiliki telah melekat pada tempat perlekatan dan menyentuh setiap lainnya antara sel. Jarak antara sel-sel yang teratur dan semakin ketat permukaan yang datar ditandai dengan tampilan pada inti sel, membran plasma, sitoplasma dan ekstraselular matriks, dengan sel yang lebih besar

ukuran. Pewarnaan dilakukan dengan p53 mutan monoklonal antibodi yang memberikan pewarnaan coklat dalam inti sel. Cokelat warna adalah visualisasi crimogen oleskan (Diaminobenzidine). Antigen-antibodi kompleks mup53 tant akan diakui oleh biotin-label antibomati. Biotin pada antibodi sekunder mengikat dengan radang avidin harse rad perixidase (sahrp) yang akan memvisualisasikan warna cokelat. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x, dihitung dari 100 sel trofoblas, berapa banyak yang mengekspresikan sel p53 mutan. Hipotesis H0 diterima bila ditentukan dengan nilai signifikan yang diperoleh> alpha 0,05, sementara Gambar 1. Kerangka konseptual. 17 E2 estradiol akan mengikat reseptor dan menyebabkan sinyal transduksi yang mempengaruhi aktivitas sel. Teori malignancy melalui transduksi sinyal reseptor estrogen jalancara akan menyebabkan proliferasi meningkat dan menghambat apoptosis sel. Gen supresor tumor adalah protein yang mudah diaktifkan ketika ada kerusakan DNA. Dalam malig-trofoblas gestasional dominan atau Koriokarsinoma, ada mutasi protein p53 yang proliferasi sel tidak dihambat, sehingga sel terus untuk berkembang biak meskipun sel menghasilkan sel dengan bermutasi DNA dan abnormal. Tabel 1. Ekspresi p53 mutan pada kultur sel N. Pengobatan Contoh Berarti SD 1 2 3 4 5 6 Kontrol 9 8 10 11

7 9 9.0 SD 1,58 17 ESTR 5 nm 10 11 9 11 8 10 9.8 SD 1,30 17 ESTR 10 nm 11 10 12 10 9 10 10.4 SD 1,14 17 ESTR 20 nm 10 12 11 10 11 11 10.8 SD 0,84 17 ESTR 40 nm

11 12 11 12 9 11 11.0 SD 1,22 17 ESTR 80 nm 12 10 13 10 11 11 11.2 SD 1,30 Tabel 2. Ekspresi p53 mutan pada kultur sel HM. Pengobatan Contoh Berarti SD 1 2 3 4 5 6 Kontrol 55 49 60 59 57 56 56 SD 4,36 17

ESTR 5 nm 60 62 58 59 53 58 58.4 SD 3,36 17 ESTR 10 nm 68 66 63 74 71 68 68.4 SD 4,28 17 ESTR 20 nm 64 74 82 68 67 71 71 SD 7,14 17 ESTR 40 nm 88 86 94 91 87 89

89.2 SD 3,27 17 ESTR 80 nm 81 69 80 73 70 75 74.6 SD 5,59 Tabel 3. Ekspresi p53 mutan pada kultur sel N. ANOVA Jumlah Kuadrat df Berarti Persegi F Sig Antara Grup 17.368 5 3.473 2.217 0.086 Dalam Grup 37.600 24 1.567 Total 54.967 29 Tabel 4. P53 ekspresi Mutan dalam kultur sel HM. ANOVA Jumlah Kuadrat df Berarti

Persegi F Sig Antara Grup 3614.800 5 722.960 30.634 0.000 Dalam Grup 566.400 24 23.600 Total 4184.200 29 J Indones 32 Nurseta dkk Obstet Gynecol
Halaman 4

H0 ditolak jika nilai signifikansi yang diperoleh <alpha 0,05. H0 penelitian ini ada mutan berbeda p53 ekspresi dalam kultur sel N dan budaya HM sel dengan 17 estradiol eksposur. Sementara H1 adalah difdiingat bahwa perbedaanya ekspresi p53 mutan pada kultur sel N dan HM kultur sel dengan 17 estradiol eksposur. Berdasarkan analisis ragam menunjukkan signifinilai cant untuk kultur sel HM adalah 0,000 (p <0,05), sehingga H0 ditolak, dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dalam ekspresi p53 mutan dalam N kultur sel dan kultur HM sel dengan 17 estradiol eksposur. Sementara ekspresi p53 mutan pada sel N culmendatang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam setiap suguhanan dosis 17

estradiol (p = 0086> 0,05). Beberapa Perbandingan Dengan metode ini, beberapa perbandingan akan dibuat terhadap ekspresi p53 mutan pada kultur sel N dengan HM kultur sel antara setiap perlakuan dari 17 estradiol dalam berbagai dosis. Jadi untuk mengetahui perbedaan dari 17 estradiol dalam berbagai dosis terhadap ekspresi p53 mutan pada kultur sel N dengan kultur sel HM, itu dapat dilihat dari hasil uji Tukey (Tukey Test). Perbedaan ekspresi p53 mutan pada setiap suguhanan dosis 17 estradiol terlihat di mana N kultur sel cenderung memiliki ekspresi p53 mutan adalah lebih rendah dari ekspresi p53 mutan pada hydatidimembentuk budaya mol jaringan. Tabel 5. Tabel Perbandingan Uji Tukey Beberapa ekspresi p53 mutan pada kultur sel N. Perbandingan antara pengobatan Rata-rata perbedaan Sig. Kesimpulan 17 ESTR 5 nm -0.800 0.910 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 10 nm -1.400 0.503 Tidak berbeda nyata Kontrol 17 ESTR 20 nm

-1.800 0.243 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 40 nm -2.000 0.156 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 80 nm -2.200 0.096 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 10 nm -0.600 0.972 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 5 g 17 ESTR 20 nm -1.000 0.801 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 40 nm -1.200 0.658 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 80 nm -1.400 0.503 Tidak berbeda nyata

17 ESTR 20 nm -0.400 0.995 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 10 g 17 ESTR 40 nm -0.600 0.972 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 80 nm -0.800 0.910 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 20 g 17 ESTR 40 nm -0.200 1.000 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 80 nm -0.400 0.995 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 40

g 17 ESTR 80 nm -0.200 1.000 Tidak berbeda nyata Sumber: Data primer diolah. Tabel 6. Tabel Perbandingan Uji Tukey Beberapa ekspresi p53 mutan pada kultur sel HM. Perbandingan antara pengobatan Rata-rata perbedaan Sig. Kesimpulan 17 ESTR 5 nm - 2,400 0.968 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 10 nm -12.400 0.006 Secara signifikan berbeda Kontrol 17 ESTR 20 nm -15.000 0.001 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 40 nm -33.200 0.000 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 80 nm -18.600 0.000

Secara signifikan berbeda 17 ESTR 10 nm -10.000 0.035 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 5 g 17 ESTR 20 nm -12.600 0.005 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 40 nm -30.800 0.000 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 80 nm -16.200 0.000 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 20 nm - 2.600 0.955 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 10 g 17 ESTR 40 nm

-20.800 0.000 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 80 nm - 6,200 0.362 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 20 g 17 ESTR 40 nm -18.200 0.000 Secara signifikan berbeda 17 ESTR 80 nm - 3.600 0.846 Tidak berbeda nyata 17 ESTR 40 g 17 ESTR 80 nm 14.600 0.001 Secara signifikan berbeda Sumber: Data primer diolah. Vol 35, No 1 Januari 2011 P53 mutan ekspresi dalam kultur sel HM 33
Halaman 5

PEMBAHASAN

Perbedaan ekspresi p53 mutan pada sel N culmendatang yang terkena 17 estradiol Hasil statistik menunjukkan bahwa p53 mutan ekspresision dalam kultur sel U menunjukkan tidak signifikan berbedaences dalam setiap dosis pengobatan 17 estradiol (p = 0086> 0,05). Karena perbedaan rata-rata antara perawatan masing-masing kelompok diuji dalam penelitian ini tidak berbeda terlalu banyak, sehingga secara statistik perbedaannya tidak signifikan. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis pada 80 nm 17 estradiol menunjukkan rata-rata ekspresi p53 mutan tertinggi pada kultur sel U daripada memberikan dosis 17 estradiol pada 40 nm, 20 nm, 10 nm dan 5 nm. Sementara kelompok kontrol menunjukkan rata-rata terendah dari ekspresi p53 mutan dalam kultur sel N bila dibandingkan dengan pengobatan kelompok yang terkena 17 estradiol. Tidak adanya perbedaan yang signifikan pada mantan pression p53 mutan pada kultur sel N yang terkena oleh 17 estradiol adalah karena di bawah normal CIRcumstances, ekspresi protein p53 rendah di cytoplasma dan tidak aktif mengikat DNA. Aktif p53 proproteinnya terakumulasi dalam inti dalam menanggapi berbagai sel stres. 12 Selain itu, sel N budaya yang memiliki ada kerusakan DNA, akan menyebabkan konsentrasi protein p53 cenderung stabil. Jadi bahkan jika terkena sampai 17 estradiol, ekspresi mutan p53 pada sel N budaya tidak akan menunjukkan peningkatan yang signifikan atau delipatan, sehingga hasil analisis data p53 mutan

ekspresi dalam kultur sel N yang terpapar dengan beberapa dosis dari 17 estradiol menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan. P53 yang normal (tipe liar) adalah mampu menekan transformasi sel yang disebabkan oleh onkogen dalam budaya dan dapat menghambat potensi sel tumorigenic pada hewan yang digolongkan sebagai gen p53 penekan. Meskipun mekanisme p53 belum diketahui pasti, ada indikasi bahwa p53 menghambat pertumbuhan sel. Ada several hipotesis tentang mekanisme kerja: a) p53 mengakui dan kemudian mengikat dirinya pada "khusus urutan "DNA dianggap bagian tertentu yang fungsi sebagai regulator, b) p53 menginduksi aktivitas polimerase RNA, sehingga bertindak sebagai sebuah transkripsi faktortor. 13 Perbedaan ekspresi p53 mutan pada sel HM culmendatang yang terkena 17 estradiol Hasil statistik menunjukkan bahwa p53 mutan ekspresision dalam kultur sel HM menunjukkan signifikan berbedaence pada setiap dosis pengobatan 17 estradiol (p = 0,000 <0,05). Oleh karena itu, perbedaan rata-bertaruh Ween perawatan masing-masing kelompok diuji dalam penelitian ini berbeda cukup banyak, sehingga secara statistik ada yang signifikan perbedaan. Adanya efek dari 17 estradiol dimulai ketika ekspresi p53 mutan di HM kultur sel menjadi lebih tinggi setelah diberikan pengobatan dalam bentuk 17 estradiol pada dosis 5 nm dibandingkan dengan ekspresi 17 estradiol dalam kelompok kontrol. Kemudian ekspresi p53 mutan pada Kultur sel HM meningkat bila diberikan dosis 17

estradiol pada 20 nm dan 40 nm. Dengan dosis 40 nm dapat menunjukkan ekspresi tertinggi p53 mutan. Ekspresi mutan p53 pada kultur sel HM deberkerut ketika diberikan pada dosis 80 nm. Oleh karena itu, berdasarkan pada deskriptif menurut ekspresi rata-rata p53 mutan pada kultur sel HM, dapat dikatakan bahwa pengobatan dalam bentuk 17 estradiol menunjukkan DIF-a ferent efek atau pengaruh dalam meningkatkan ekspresi p53 mutan pada kultur sel HM jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Perbedaan besar dalam ekspresi mutant p53 pada kultur sel HM yang terkena 17 estradiol adalah karena dipengaruhi oleh praakal dari 17 estradiol, yang menyebabkan konsentrasi protein p53 mutan dapat ditingkatkan dalam dosis 5 nm, 10 nm, 20 nm dan 40 nm, kemudian menurun pada dosis 80 nm. Hal ini diduga disebabkan oleh efek dari 17 estradiol mengalami kejenuhan pada lebih tinggi dari 40 nm dosis, yaitu pada dosis 80 nm, kembali sulting dalam ekspresi p53 mutan pada kultur sel HM menurun. Trofoblas sel normal dan pathologikal adalah estrogen histologis terkandung sama kembali ceptor ekspresi. 10 Pada sel trofoblas molar, ada adalah ekspresi dari reseptor estrogen alfa (ER-a) vili sitotrofoblas (CT). Dengan western blot analisi sis, ada reseptor estrogen beta (ER ) Dalam vili korionik (CV) terbatas pada sinsitiotrofoblas (ST). 14 17 estradiol mengikat reseptor estrogen dan

menyebabkan transduksi sinyal. Metabolisme oksidatif estrogen melalui cathecol, dengan sitokrom P-450 enzim mengkatalisis metabolisme oksidatif estradiol. Metabolit estrogen memiliki karsinogenik yang tepatdasi, 3,4-kuinon estrogen menyebabkan ikatan yang tidak stabil dengan adenin dan guanin pada DNA menyebabkan depuribangsa dan mutasi in vitro dan in vivo. Pengurangan punggung quinon estrogen ke hydroquinon dan kategorichol menyebabkan kesempatan spesies oksigen reaktif (ROS) pembentukan dan menyebabkan kerusakan oksidatif pada lipid dan Karena paparan estrogen DNA. Paparan variabelous dosis 17 estradiol pada reseptor estrogen Saturansum terjadi pada dosis tinggi, sehingga mutan rata p53 ekspresi dalam kultur sel HM pada dosis 80 nm lebih rendah dari mereka yang terkena 17 estradiol pada dosis dari 40 nm. Perbedaan ekspresi p53 mutan pada sel N culmendatang dengan kultur sel HM yang terkena 17 estradiol Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa ada yang signifikan perbedaan dalam ekspresi p53 mutan pada setiap suguhanan dosis 17 estradiol pada kultur sel N dengan tismenggugat budaya mola hidatidosa (p = 0,000> 0,05). Oleh karena itu, ekspresi p53 mutan pada setiap perlakuan dosis 17 estradiol terlihat di mana N sel budaya ekspresi p53 mutan cenderung memiliki lebih rendah ekspresi dari p53 mutan pada mola hidatidosa kultur jaringan. Perbedaan antara p53 mutan mantan pression dalam kultur jaringan plasenta normal dengan HM kultur sel diuji dalam penelitian ini berbeda cukup banyak, sehingga bahwa secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini konsisten dengan pernyataan bahwa p53 mutasi gen penting dalam patogenesis gestasi trofoblas dan progresivitas dalam hu-

Mans. Dengan polymerase chain reaction (PCR) teknik, telah terdeteksi mutasi gen p53 dalam 30% Mola hidatidosa, koriokarsinoma 75% dan tanpa mutasi gen p53 pada vili korionik normal. 7 J Indones 34 Nurseta dkk Obstet Gynecol
Halaman 6

P53 mutasi gen memainkan peran dalam yang tidak terkendali trophoblastic proliferasi dan transformasi neoplastik tion. 8 Selama stres pada sel-sel yang berkembang biak kembali sulting dalam kerusakan DNA, protein akan activated. Hasil aktivasi protein ini adalah berhentinya proliferasi sel di G1 atau fase G2, dan apoptosis. Dalam trofoblas gestasional ganas atau koriokarsinoma, ada mutasi protein p53 sehingga proliferasi sel tidak dihambat, dan sel-sel terus berkembang biak meskipun sel prodiproduksi sel dengan DNA bermutasi dan abnormal. 15 Yaginuma dan rekan, mendeteksi adanya abp53 yang normal protein dalam semua sel koriokarsinoma tiga jenis (SCH, JEG-3, Nuc-1). 20% protein p53 mutasitions terjadi pada fase awal dan 80% terjadi pada tahap akhir. Temuan protein p53 pada choriokarsinoma sel pewarnaan prognosis buruk menunjukkan sebagaisociated dengan penyakit ini. 16,17 Sementara dalam keadaan normal, ada p53 rendah ekspresi protein dalam sitoplasma dan tidak aktif binding dengan DNA. Protein p53 aktif terakumulasi dalam inti dalam respon terhadap stres berbagai sel. Dalam sel N budaya yang ada kerusakan DNA, akan menyebabkan Konsentrasi protein p53 cenderung stabil. 13 KESIMPULAN P53 mutan ekspresi dalam kultur sel U terkena 17 estradiol menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (p>

0,05). Ekspresi mutan p53 pada kultur sel HM yang terkena 17 estradiol menunjukkan significant perbedaan (p <0,05), dan ekspresi p53 mutan dalam kultur sel N dengan kultur sel HM yang mantan diajukan kepada 17 estradiol menunjukkan berbeda nyata (P <0,05), di mana ekspresi p53 mutan pada sel N budaya lebih rendah dari ekspresi p53 mutan pada HM kultur sel. SARAN Berdasarkan kesimpulan dan pembahasan penelitian hasil, kami mengusulkan saran-saran berikut. Melalui penelitian tentang mutan berbeda p53 ekspresi dalam kultur sel N dengan kultur sel HM yang terkena 17 estradiol, maka untuk selanjutnya untuk dikembangkan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut. Untuk penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat proVide sebagai studi awal untuk mengembangkan lain yang serupa penelitian. Selain itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan memperluas variabel lain yang dapat dilipatan ekspresi p53 mutan pada hidatidosa mol plasenta kultur jaringan, selain dari paparan estrogen (17 estradiol). Penelitian ini masih lokalized atau di satu tempat yang berada di General Hospital dr. Saiful Anwar Malang, artinya bahwa rehasil pencarian dan kesimpulan hanya berlaku untuk populasi tions, tidak berlaku untuk umum, sehingga ruang lingkup nya harus diperluas lagi. Misalnya, dengan meningkatkan jumlah sampel dalam studi populasi yang lebih luaslation, dengan kata lain meningkatkan jumlah ulang daerah pencarian, sehingga kesimpulan dari penelitian hasilnya bisa lebih representatif terhadap obmelayani populasi. REFERENSI 1. Gude MN, Robert TC, Kalionis B. Pertumbuhan dan fungsi plasenta normal. Trombosis. 2004 Res, 114: 397-407 2. Morish WD, Dakour J, Li H. Peraturan Fungsional hu-

pria trofoblas diferensiasi. J. Cell. Sci. 2002; 39: 179 95 3. Berkowitz RS, Goldstein DP. Kehamilan molar. N. Engl. J. Med. 2009; 360 (16): 1639 4. Martaadisoebrata D. Pola Epidemiologi Penyakit Trofoblas dalam Kaitannya Mencari Google Artikel Prognosis Dan Cara Penanggulangannya. 2002. Bagian tidak Obstetri Ginekologi RSHS / FKUP 5. Sastradinata I. Problematik Penyakit Trofoblas di Indonesia. Bagian tidak Obstetri Ginekologi Universitas Sriwijaya Dan. 2009 Palembang Sumatera Selatan 6. Halperin R, S Peller, Sandbank J. Ekspresi p53 gen dan apoptosis pada penyakit trofoblas gestasional. 2000; 21: 58-62 7. Yamazawa K, H Shimada, Hirai M. Serum antibodi p53 sebagai penanda diagnostik yang berisiko tinggi kanker endometrium. Adalah J Obstet Gynecol 2007; 197: 505.e1-505.e7 8. Soussi antibodi p53 T. dalam sera pasien dengan berbagai jenis kanker. Kanker Res 2002; 60: 1777-1788 9. Gruber C, Tschugguel W, Schneeberger C, Huber J. Proproduksi dan aksi estrogen. The New Engl J Med. 2002; 346 (5): 340-50 10. Bukovsky A, Cekanova M. Ekspresi dan lokalisasi estrogen reseptor alfa-protein dalam normal dan abnormal jangka plasenta dan stimulasi trofoblas differentiation oleh estradiol. Reprod Endocrinol Biol. 2003; 6 (1): 13 11. Yager JD, Davidson NE. Estrogen Karsinogenesis. N Engl J Med. 2006; 354: 270-82 12. Susanne H, Astrid B. bukti imunohistokimia p53 protein dalam sel plasenta manusia dan koriokarsinoma baris. Departemen Obstetri dan Ginekologi, Auenbruggerplatz 14, A-8036 Graz, Aus Mol Hum Rep 2005; 1: 63-8 13. Michael B, Zehavit G. Apoptosis - jaringan p53. DeUS Department of Pharmacy, dan Lautenberg Pusat Umum dan Tumor Imunologi, Universitas Ibrani Hadassah Medical School Yerusalem Israel. Perusahaan dari Biologists Ltd J your Sci. 2003; 116: 4077-85 14. Antonin B, Michael RC, Maria C, ekspresi dari plasenta reseptor estrogen beta dan varian hormon mengikat perbandingan dengan alpha reseptor estrogen dan peran estrogen reseptor di divisi asimetris dan diferensiasi estrogen-dependent sel. PubMed Central J reproduksitive Biologi dan Endocrino-logi 2003; 1: 36, PMCID: 155643

15. Yan HX, Kyung HKI. Para Ekspresi G1-S Cell Cycle Inhibitor di Plasenta Normal dan Gestational Trophoblastic Penyakit. Kor J Jalan 2003; 42: 67-74 16. Ferretti C, Brunni L, D. Bellet sirkuit Molekuler berbagi oleh sel-sel plasenta dan kanker, dan implikasinya dalam proliferasi, invasif dan migrasi kapasitas trophoblasts. Hum Rep, 2007; 13 (2): 121-41 17. Olivier M, Kelly G, Cindy F, Carolyn B, Steve S, Juan S. p53 (Protein 53 kDa); TP53 (p53 protein tumor (LiFraumeni sindrom)). Atlas Genet Cytogenet Oncol Hae matol. 2007; URL: http://AtlasGeneticsOncology.org/Genes/ pP53ID88.html Vol 35, No 1 Januari 2011 P53 mutan ekspresi dalam kultur sel HM 35

Teks asli Inggris

make a mole trophoblast cell research not possible in


Sarankan terjemahan yang lebih baik