Anda di halaman 1dari 9

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

PENGEMBANGAN KAMBING PERAH : SUATU ALTERNATIF PENINGKATAN PRODUKSI SUSU DAN KUALITAS KONSUMSI GIZI KELUARGA DI PEDESAAN

1-KETUT SUTAMA

Balai Penelitian Ternak ii. Veteran III PO Box 221 Bogor 16002 E -mail : balitnak@indo .net.id

ABSTRAK

Perkembangan usahatani peternakan kambing perah di Indonesia selama 10 tahun terakhir menunjukkan tren yang positif baik dilihat dari jumlah usaha peternakan kambing perah yang ada maupun dari populasi ternak kambing yang dipelihara disetiap unit usaha. Peningkatan jumlah ini tidak terlepas dari sambutan positif dari pasar terhadap susu kambing, walaupun masih fluktuatif dari waktu ke waktu . Kepercayaaan konsumen terhadap susu kambing yang diyakini mampu membantu mengatasi masalah kesehatan memberi andil besar dalam perkembangan usaha kambing perah di Indonesia . Keunikan susu kambing dibandingkan susu sapi juga mempunyai nilai tersendiri . Susu kambing mudah dicerna dan sangat cocok untuk mereka yang alergi akan susu sapi, dan dapat diberikan pada sumua golongan umur. Kelebihan ternak kambing perah, khususnya kambing perah Peranakan Etawah (PE) yang merupakan ternak lokal Indonesia, adalah kemampuan adaptasinya yang tinggi terhadap berbagai kondisi agro-ekosistem di Indonesia, sehingga mempermudah penyebarannya. Ternak ini juga tidak mengalami hambatan sosial dalam pengembangannya, dalam artian ternak ini dapat diterima oleh semua golongan . Oleh karenanya pengembangan ternak ini secara luas akan dapat membantu meningkatkan kualitas konsumsi gizi keluarga petani khususnya mereka yang tinggal di pedesaan melalui konsumsi susu kambing produksi petani sendiri . Kendala yang mungkin terjadi adalah keengganan masyarakat untuk mengkonsumsi susu kambing dengan berbagai alasan diantaranya karena susu kambing mempunyai bau yang khas dan relatif kuat . Namun ini sebenarnya lebih banyak karena pengaruh psikologis atau persepsi negatif yang terlanjur berkembang di masyarakat bahwa kambing adalah ternak yang bau (prengus), pada hal dengan pengelolaan yang benar masalah bau tersebut dapat dihindari . Saat ini ternak kambing termasuk kambing PE sudah tersebar atau ada pada petani dan tinggal diperlukan diseminasi tknologi yang ada untuk meningkatkan produksi dan pemanfaatan susu kambing seoptimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi mereka yang ada di pedesaan .

Kata kunci: Kambing perah, susu kambing, gizi, pengembangan

PENDAHULUAN

Sudah umum diketahui bahwa ternak penghasil susu utama di , Indonesia adalah sapi perah, khususnya sapi Friesien Holstein (FH), yang pada tahun 2005 populasinya dilaporkan sebanyak

373 .970 ekor (DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN,

2005) . Data selama 5 tahun terakhir (2001-2005) menunjukkan terjadinya peningkatan populasi sapi perah di Indonesia sebesar 1,92% /tahun, namun hal ini belum mampu memenuhi kebutuhan akan susu dalam negeri sehingga hares dilakukan impor. Terbatasnya daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah, kualitas pakan yang relatif rendah dan manajemen pemeliharan yang

116

masih dibawah standar mengakibatkan ternak ini tidak dapat mengekspresikan potensi genetiknya secara maksimal seperti di daerah asalnya . Situasi ini diperburuk lagi dengan meningkatnya harga pakan dan melemahnya daya beli masyarakat, sehingga banyak peternakan sapi perah di Indonesia mengalami masa sulit . Adanya faktor pembatas baik secara biologis dan non biologis (teknis) dalarn usaha budidaya sapi perah FH secara luas di Indonesia, perlu dicari ternak perah alternatif yang cocok untuk dikembangkan dan dapat diterima secara Was oleh masyarakat, salah satunya adalah kambing perah. Namun masih banyak yang mepertanyakan potensi kambing sebagai penghasil susu (ternak perah). Sama halnya dengan temak ruminansia

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

lainnya, jenis kambing tertentu dapat menghasilkan susu melebihi dari kebutuhan untuk anaknya, dan ini dapat dimanfaatkan .untuk kepentingan pengelolanya.

PERSEPSI NEGATIF TERHADAP KAMBING

Anggapandarimasyarakatbahwakambingadalah perusak lingkungan sangat tidak menguntungkan dalam pengembangan ternak kambing. Terdapat dua persi pendapat yang bertentangan tentang kambing yaitu : pertama kambing adalah penyebab utama kerusakan lingkungan (perusak tanaman dan penyebabkan erosi), dan yang kedua kambing mempunyai peran penting dan strategis tidak hanya sebagai sumber daging dan susu, tapi juga dapat mengontrol perkembangan semak-semak yang tidak diperlukan . Di Indonesia dan dibanyak negara lainnya dimana kambing banyak diusahakan petani kecil di pedesaan, kambing dapat sebagai penyelamat petani dalam memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak (sebagai tabungan) (DEVENDRA dan BURNs, 1983 ; PRANAJI dan SYAHBUDDIN, 1992). Disamping itu ada pandangan negatif dari konsumen terhadap kambing yaitu mengkonsumsi daging dan/atau susu kambing erat kaitannya dengan tingginya kadar kolesterol darah dan berbahaya bagi kesehatan. Namun hasil kajian/ pengamatan JENSEN (1994) menyatakan sebaliknya . Bau kambing yang khas (prengus) sering menjadi momok bagi masyarakat, dan hal ini sebenarnya adalah hanya masalah manajemen pemeliharaan .

Bila ditelaah lebih mendalam, kambing sebenarnya tidaklah seburuk yang diperkirakan orang . Beberapa penelitian menunjukkan ternak kambing memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi manusia dan lingkungannya. Kambing dapat bertindak sebagai "bio-weeding" karena sifat makan yang sangat selektif, mereka akan memakan gulma-gulma yang tidak dikehendaki (SRUPNA, 1992). Sama halnya dengan ternak lainnya, kambing sebagai penghasil pupuk untuk perbaikan kondisi lahan . Ukuran badan yang relatif kecil dan produksi susu yang relatif sedikit sesuai dengan kebutuhan sehari-hari satu atau beberapa keluarga petani, dimana refrigerator untuk menyimpan daging atau susu masih langka . Jika hal ini dapat dimasyarakatkan keadaan gizi buruk bagi balita dan anak-anak dapat dikurangi .

POTENSI PRODUKSI SUSU DAN KOMPOSISI GIZI SUSU KAMBING

Berbeda halnya dengan di negara sub-tropis,

di beberapa negara tropis termasuk Indonesia

kambing jarang dipelihara hanya untuk produksi susu, walaupun susu begitu penting dan berharga

di daerah atau negara tersebut . Populasi ternak

kambing di Indonesia selama 5 tahun terkhir (2001- 2005) menunjuk-kan peningkatan yang relatif kecil (1,42%) . Hampir 52% ternak kambing berada di pulau Jawa menunjukkan bahwa keberadaan ternak kambing terkait erat dengan populasi penduduk (label 1) .

Tabel 1 . Perkembangan populasi ternak kambing di Indonesia 2001 - 2005

 

Luar Jawa

Total

Perkembangan (%)

Tahun

Jawa

 

5 .997 .454

12 .463 .889

 

2001

6.466.435

 

12 .549

.086

0,68

2002

6.454.929

6.094.157

 

1,38

2003

6 .495 .823

6 .226 .259

12 .722

.082

 

12 .780

.961

0,46

2004

6.760.003

 

2005

6 .892 .829

6 .020 .958 6 .289 .235

13 .182 .064

3,14

Sumber : DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN (2005)

Potensi produksi susu kambing perah benar-benar sebagai kambing perah diantaranya adalah Saanen, Jamnapari, Toggenberg, Anglo Pada dasarny» semua rumpun kambing dapat Nubian, British Alpin. Kambing Peranakan diperah dengan jumlah produksi susu yang sangat Etawah (PE) di Indonesia dalam kadar tertentu beragam. Beberapa jenis kambing yang dianggap mengandung genotipa kambing Jamnapari yang

117

Seminar Nasional Hari Pangan SeduniaXXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masvarakat

lebih dikenal kambing Etawah. Tiadanya sistem breeding dan seleksi yang baik kearah pembentukan kambing perah, produksi susu kambing PE ini masih sangat bervariasi dan umumnya rendah 0,4 - 2,1 kg/hari (OBST dan NAPiTUPULU, 1984;

SUTAMA et al ., 1995 ; SUBHAGIANA, 1998; ADRIAN]

et al ., 2003) . Puncak produksi susu kambing PE

terjadi pada minggu pertama masa laktasi, dengan panjang laktasi kambing PE bervariasi 3-10 bulan (SUTAMA, 1997). Secara umum produksi susu kambing perah meningkat sampai laktasi ketiga/ keempat kemudian menurun, namun masih layak dipertahankan hingga ternak berumur 5-6 tahun.

1

11 21

31

41

51 61 71 81

91 101 111

Waktu laktasi (hari)

121 131

141

150

Gambar 1.Kurvaproduksi susu selama 150 hari laktasi dari kambing PE yang sebelumnya diberi perlakuan superovulasi (SO) dan tanpa superovulasi (NSO)

Komposisi gizi dan manfaat susu kambing

Sejak zamannya CLEOPATRA ribuan tahun yang lalu, susu kambing sudah dikenal dan dimanfaatkan untuk mengobatan maupun kosmetika . RATU CLEOPATRA telah meng-gunakan susu kambing untuk mandi (mandi susu) dan lulur untuk menjaga kecantikannya. Namun di Indonesia susu kambing mulai banyak dikenal dan dimanfaatkan sejak tahun 1980-an, baik untuk dikonsumsi segar maupun sebagai campuran dalam jamu tradisional. Beberapa mafaat yang dapat diperoleh dari susu kambing antara lain:

118

Sebagai sumber gizi yang sempurna

Pada dasarnya kandungan gizi susu kambing dan susu sapi tidaklah jauh berbeda, namun ada beberapakelebihan yang dimiliki oleh susu kambing diantaranya kandungan gizinya yang seimbang, dan kandungan beberapa vitamin dan asam lemak esensial yang tinggi. Persentase butir-butir lemak dengan rantai carbon pendek lebih tinggi pada susu kambing daripada susu sapi (63 vs 43%), sehingga susu kambing lebih mudah dan lebih cepat dicerna (20 menit vs 2 jam) . Oleh karena itu susu kambing sangat baik dan aman untuk semua golongan umur

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

(balita, muda, dewasa dan manula) .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu

kambing mempunyai kandungan gizi yang sangat

lengkap menyerupai air susu ibu (ASI) (Tabel 2),

sehingga susu kambing ini mungkin satu-satunya

susu ternak ruminan yang dapat dikonsumsi dengan

aman tanpa harus melalui pemasakan lebih dahulu .

Tabel 2. Kadungan gizi ASI susu kambing dan sapi

Bahkan JENSEN (1994) menyatakan bahwa susu

kambing paling baik dikonsumsi segera setelah

diperah (sebelum 3 jam) dalam keadaan segar

fresh) atau tanpa pemanasan (pasteurisasi) agar

zat-zat aktif yang sebut life-energy dalam susu

kambing masih tinggi .

Komposisi gizi (per liter)

Satuan

ASI

Susu kambing

Susu sapi

 

660

 

Energi

Kcal

710

670

 

gr

11

32

42

Protein

gr

38

40

37

Lemak

gr

68

46

49

mg

340

1290

1430

 

Karbohidrat Calsium (Ca)

1120

 

mq

140

1060

meq

7

15

27

Phospor(P) Sodium (Na)

meg

13

46

45

mg

5

1

0,5

 

Potasium (K) Besi (Fe)

2,4

 

mg

3,5

3,5

mg

375 - 450

1200

1050

Seng (Zn) Klorida (CI) Magnesium (mg) Vitamin:

mg

46

100 - 145

120

 

2000

2074

1500

-

vit.A

IU

-

vit. B-1

mg

0,160

0,400

0,440

 

mg

0,360

0,1840

0,2100

-

vit. B-2

 

1,0

-

vit. B-3 (niacin)

mg

1,47

1,9

-

vit.B-6

mg

0,100

0,70

0,640

 

0,43

-

vit. B-12

meg

0,30

0,6

-

Panthotenat

mg

1,84

3,4

3,5

 

Mcg

52

6

55

-

Folacin

-

Diotin

meg

8

39

31

 

Mg

90

150

121

-

Choline

-

Inositol

mg

330

210

110

-

vit . C

mg

13

15

21

 

24

14

-

vit. D

IU

22

-

IU

1,8

-

0,4

vit. E

 

4,1

2,6

Asam lemak esensial, per 100 gram lemak Persentase butir lemak dengan diameter kurang dari 3 dram

63

43

Sumber : JENSEN (1994)

Pencegahan dan penyembuhan penyakit

JENSEN (1994) menyatakan bahwa susu kambing

sangat baik dalam perbaikan kondisi kesehatan tubuh bila dikonsumsi secara tepat dan rutin .

Manfaat yang paling besar diperoleh apabila susu

kambing dikonsumsi dalam keadaan segar segera

setelah diperah . Susu kambing diyakini dapat

membantu penyem-buhan penyakit pernafasan

(asma, bronchitis, pneumonia, TBC), maag,

penyakit tulang dan gigi, bahkan juga baik untuk penderita dibetes . Kandungan zat besi (Fe) yang

rendah dan dapat diabsorb 100% serta adanya asam

folat (6 mcg/liter) sangat baik untuk pencegahan/

pengobatan thalasemia . Sebaliknya

kandungan

fluorin yang tinggi (10-100 kali lebih tinggi dari

119

SeminarNasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

susu sapi) akan meningkatkan daya tahan tubuh dan menekan pertumbuhan bakteri (antiseptik) sehingga dapat melindungi jaringan paru-paru, ginjal, hati dan kulit. Fluorin akan mencegah infeksi jamur, kudis (gatal-gatal) . Susu kambing mengandung mineral natrium (Na) dan clorida (CI) yang tinggi yang menjaga keseimbangan volume cairan dan elektrolit tubuh sehingga komposisi normal darah terjaga. Kandungan calcium (Ca) tinggi sangat diperlukan dalam mencegah penyakit gigi dan osteoporosis. Demikian pula dengan kandungan vitamin A yang tinggi sangat baik untuk kesehatan mata. Lemak yang mudah tercerna merupakan sumber energi bagi tubuh sehingga tubuh menjadi hangat. Butiran lemak yang kecil (rantai carbon pendek) menjadikan susu kambing mudah dicerna, sehingga baik bagi yang alergi terhadap susu sapi . Kandungan kolestrerol juga lebih rendah dari susu sapi. Asam lemak seperti caprilik membantu dalam menanggalkan kulit mati, sehingga susu kambing banyak digunakan untuk pembuatan sabun kecantikan (facial soap). Jadi susu kambing disamping mempunyai fungsi sebagai sumber gizi juga berfungsi pencegahan dan penyembuhan penyakit. Bahkan DR . V.G . ROC[NE menyatakan susu kambing adalah sangat baik untuk sistem dan kelenjar sexual.

PROSPEK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KAMBING PERAH

Dari data biologis yang tersedia, dapat diketahui potensi dan karakter-karakter penting dari kambing untuk keuntungan manusia . Beberapa hal penting dari ternak kambing antara lain:

1 . Ukuran tubuh yang kecil mempunyai beberapa keunggulan:

a. Secara ekonomis : Ukuran badan yang kecil berarti diperlukan investasi awal yang lebih kecil, dan kerugian karena kematian atau kehilangan juga lebih kecil. Hat ini sering berdampak pada kurangnya perhatian pemerintah terhadap ternak ini, tetapi sifat ini sangat

120

sesuai dan menarik bagi petani miskin di pedesaan.

b. Dari sudut manjemen pemeliharaan :

Kambing dapat dikelola oleh anak-anak atau ibu rumah tangga, memerlukan lahan dan kandang yang tidak luas, dapat menghasilkan daging dan susu dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga petani di pedesaan dimana tempat penyimpanan (refrigerator) belum tersedia.

c. Secara biologis : satu - dua ekor kambing dapat dipelihara dalam kondisi ketersedian pakan terbatas, bahkan tidak cukup untuk seekor sapi .

2. Kemampuan untuk memilih pakan cukup tinggi . Kambing adalah ternak yang sangat selektif. Kambing dalam keadaan yang bebas (digembalakan) mempunyai kemampuan untuk memilih pakan atau bagian tanaman yang lebih bergizi. Kambing lebih suka "browsing" dari pada merumput sehingga infeksi cacing dapat dihindari.

3. Mempunyai efisiensi tinggi dalam mencerna serat . Potensi ini menjadikan ternak kambing mempunyai kemam-puan untuk hidup didaerah-daerah dimana sapi dan domba tidak dapat bertahan . Kambing juga sangat efisen dalam produksi susu dan dapat bersaing dengan sapi khususnya di daerah dengan kondisi tropis yang keras.

4. Kambing adalah ternak yang fertil dengan generasi interval yang relatif pendek . Hal ini sangat baik dalam program perbaikan mutu genetik. Lama kebuntingan hanya 5 bulan sehingga produksi susu sudah dapat diperoleh pada umur 15 - 18 bulan, dan untuk produksi daging ternak sudah dapat dipotong pada umur dibawah satu tahun . Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara efektif untuk mengembangkan kambing perah ini . Secara biologis sudah disebutkan bahwa kambing dapat tumbuh dan berkembang baik pada berbagai agroekosistem. Daya adaptasi yang cukup tinggi dari kambing terhadap lingkungan dan dapat lebih banyak mengkonsumsi dedaunan memudahkan

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

peme-liharaan .Diperlukanpendekatanyangberbeda dalam pengembangan kambing perah dibandingkan sapi perah. Pengembangan kambing perah berbasis pada ternak rakyat yang sudah tersedia di petani, dan pemerintah dapat terfokus pada penyediaan bibit pejantan unggul untuk memperbaiki ternak rakyat. Sebagai kegiatan usahatani yang barn diperlukan usaha pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat khususnya petani dipedesaan . Kegiatan ini akan lebih efektif dilakukan melalui sekolah . Pandangan negatif tentang mengkonsumsi susu kambing akan lebih mudah dapat diatasi melalui anak-anak dan oleh karenanya melalui pemeliharan ternak di sekolah dapat sebagai contoh pengembangan ternak kambing perah dan konsumsi susu kambing . Memang ini memerlukan proses panjang, dan untuk mempercepat, promosi dan penyuluhan pada berbagai kegiatan dan media masa dan elektronik sangat membantu . Walaupun ternak kambing dapat diterima oleh semua golongan etnis, agama dan tatanan sosial lainnya, persepsi negatif terhadap kambing seperti dijelaskan sebelumnya masih merupakan penghambat pengembangan ternak ini. Menumbuhkan kebiasaan untuk minum susu kambing suatu persoalan tersendiri . Pendidikan dan penyuluhan secara berkelanjutan akan membantu menumbuhkan kebiasaan minum susu apalagi susu tersebut dapat diproduksi sendiri oleh petani . Inilah salah satu keungglan dari pengembangan budidaya kambing perah menggunakan ternak kambing milik petani sendiri yang sudah tersebar luas di pedesaan.

MODEL PENGEMBANGAN KAMBING PERAH

Adalah sangat sulit untuk memformulasi- kan suatu model pengembangan yang sama dan sesuai untuk di semua lokasi/daerah . Dilihat dari pelaku usaha peternakan dikenal tiga model/pola pengembangan yaitu (1) Pola Usaha Peternakan Rakyat, (2) Pola Usaha Perternakan Swasta Komers ial dan (3) Pola Usaha Kemitraan Peternakan Rakyat-Swasta . Ketiga model pengembangan ini dapat berjalan bersamaan sesuai dengan kondisi peternakan dan ketersediaan faktor pendukung lainnya didaerah atau lokasi masing-masing .

Usaha peternakan rakyat

Pengembangan dengan pola peternakan rakyat ini akan dapat melibatkan banyak petani yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, sehingga diharapkan berdampak luas terhadap peningkatan pendapatan dan kualitas gizi keluarga tani dengan mengkonsumsi susu hasil produksi sendiri . Masing-masing petani/ keluarga petani mengelola sendiri usahanya, sehingga pada sistem pengelolaan intensif jumlah pemilikan ternak per petani (skala usaha) akan relatif kecil.

Usaha peternakan swasta komersial

Berbeda dengan pola peternakan rakyat, pada model/pola peternakan swasta komersial maka kegiatan usaha hanya terbatas pada para pemodal menengah-besar saja. Dengan dukunganmodal yang kuat, pihak swasta akan mampu memaksimalkan produksi melalui pemanfaatkan teknologi mutakhir yang tersedia. Kegiatan usaha sudah dikelola secara komersial mengikuti kaedah-kaedah agribisnis sebagaimana layaknya sebuah perusahaan, dan telah melibatkan orang lain sebagai karyawan .

Usaha kemitraan inti - plasma

Model ini merupakan kompromi antara model 1 dan 2, dilandasi atas azas kebersamaan dan tekad untuk maju bersama (kemitraan). Dalam hal ini perusahaan swasta bertindak sebagai Inti, sedang petani/peternak sebagai plasma. Secara teoritis pola kemitraan ini sangat baik, namun pelaksanaannya dilapangan sering tidak seindah yang diperkirakan. Pada model pengembangan 2 (peternakan swasta komersial) dan 3 (Kemitraan Inti-Plasma) peran pemerintah relatif kecil diantaranya supervisi, regulasi dan pengawasan. Berbeda halnya pada pola pengembangan peternakan rakyat yang melibatkan petani kecil yang notabenanya lemah modal/ sumberdaya, lemah teknologi dan lemah informasi . Oleh karena itu fokus perhatian pemerintah lebih banyak pada petani kecil . Implementasi pengembangan pola/model peternakan rakyat dapat bermacam-macam . Pendekatan pengembangan kawasan atau

1 21

SeminarNasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

wilayah akan memudahkan pengorganisasian dan pembinaan. Dalam satu kawasan/wilayah dapat dibentuk satu atau beberapa kelompok tani/ koperasi tergantung luas dan jumlah petani yang

ada di daerah tersebut . Minimal ada 4 persyaratan yang harus dipenuhi dalam pengembangan usaha peternakan rakyat dalam suatu kawasan antara lain :

1. Kawasan tersebut mempunyai potensi sumberdaya alam mendukung usaha yang akan dikembangkan .

2. Adanya petani atau kelompok tani didaerah tersebut yang ingin terlibat dalam usaha agribisnis yang dimaksud .

3. Tersedia sumber listrik yang sangat diperlukan dalam proses penanganan susu pasca panen.

4. Tersedia sarana dan prasarana yang memudahkan akses komunikasi dan transportasi dari dan ke daerah/kawasan pengembangan tersebut. Kesemua faktor tersebut diatas adalah mutlak diperlukan, dan untuk suksesnya program tersebut diperlukan adanya faktor pedukung seperti kelembagaan penyuluhan dan kesehatan hewan, kelembagaan ekonomi (pasar dan perbankan) . Pada tahap awal pengembangan model ini (Peternakan Rakyat) dapat dimulai pada daerah- daerah yang sudah ada komoditas ternak yang akan dikembangkan, sehingga modal berupa ternak dan pengalaman beternak sudah ada pada petani. Teknologi pemeliharaan kambing perah perlu diintroduksikan pada petani mengingat, pada daerah-daerah tertentu, jenis usaha ini relatif barn, dan masih banyak petani yang belum yakin kambingnya dapat menghasilkan susu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi . Untuk meningkatkan pendapatan petani dari usaha ternak perah ini, skala usaha (jumlah pemilikan ternak) yang optimum perlu dicari agar usaha ini dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pendapatan petani dan jika memungkinkan sebagai usaha pokok penghidupan petani . Dalam opersionalnya beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kambing perah antara lain:

122

Breed ternak yang dikembangkan

Ada beberapa jenis ternak kambing perah unggul yang ada didunia seperti kambing Saanen, British Alpin, Togenburg, Nubian, dan Etawah . Kecuali Nubian dan Etawah kambing yang lainnya adalah kambing daerah beriklim dingin . Di Indonesia sudah ada kambing Peranakan Etawah (PE) yang dapat dikatagorikan sebagai kambing dwi-guna (daging dan susu) dan sudah beradaptasi baik dengan kondisi iklim tropis di Indonesia. Persilangan kambing Saanen dengan kambing PE sudah dilakukan dalam jumlah terbatas, dan nampaknya basil keturunannya dapat mempunyai produksi susu yang cukup tinggi dan dapat dipertimbangkan sebagai kambing perah Indonesia bersama sama dengan kambing PE, namun hal ini masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam sebelum disebarluaskan kepada masyarakat .

Sistem produksi yang dipilih

Sampai saat ini pemeliharaan ternak kambing di pulau Jawa, umumnya sistem pemeliharaan dikandangkan (intensif, cut and carry system). Diluar Jawa dimana lahan penggembalan masih tersedia cukup luas, ternak kambing umumnya dipelihara dengan digembalakan (ekstensif) atau kombinasi sistem intensif dan ektensif . Pemilihan sistem produksi tertentu sangat tergantung dari kondisi lokasi pengembangan . Pada sistem intensif dimanakonsumsiternaktergantungdarikemampuan petani untuk menyediakan pakannya, maka skala usaha petani adalah relatif kecil . Penentuan sistem pemeliharaan ternak ini penting kaitannya dengan jenis pakan hijauan yang akan dikembangkan, rumput potong atau rumput penggembalaan atau kedua-duanya.

Kelembagaan

Mengingat produk yang dihasilkan dari usaha ini adalah susu yang mempunyai sifat inudah rusak sehingga memerlukan penanganan pasca panen secara khusus, maka pengembangan usaha

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Teknologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

peternakan ternak perah khususnya kambing perah secara mandiri per individual petani akan menemui banyak kendala terlebih lagi masalah pemasaran susu yang belum dikuasai oleh masing-masing petani. Pangsa pasar susu kambing memang ada tapi agak spesifik/khusus dan umumnya masih disekitar perkotaan yang tidak semua petani mempunyai akses untuk ini . Untuk mengatasi masalah ini bergabungnya petani kambing perah ini dalam suatu wadah seperti kelompok tani atau koperasi merupakan salah satu jalan keluamya . Koperasi kemudian memasarkan produk dari petani baik berupa susu segar maupun yang sudah menjadi barang olahan seperti permen susu, karamel, susu serbuk . Namun untuk menjaga kualitas dan keseragaman mutu produk pembinaan terhadap para pelaku usaha oleh Koperasi/Kelompok tani menjadi suatu keharusan . Tersedianya kelembagaan ekonomi seperti pasar, produksi peternakan akan sangat membantu pengembangan ternak ini. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kelembagaan yang bersifat pelayanan yang dapat melayani petani dengan tenaga penyuluh lapangan dan kesehatan hewan. Pengenalan teknologi dan atau informasi pasar yang dapat memacu dan meningkatkan produktivitas ternak dan efisiensi usaha merupakan peran penting yang harus dilakukan oleh petugas pelayanan dilapangan .

sarana

perbankan, kios/warung/toko

Promosi

Kegiatan sosialisasi dan/atau promosi melalui kegiatan pameran, ekspose dan media cetak atau elektronik adalah vital dilakukan mendukung suksesnya program yang akan dilakukan, terutama dalam meningkatkan pangsa pasar dari produk yang dihasilkan.

KESIMPULAN

Beberapa jenis/rumpun ternak kambing mempunyai potensi produksi susu yang cukup tinggi dan potensial untuk dikembangkan untuk kesejahteraan manusia, salah satunya adalah kambing Peranakan Etawah (PE) yang sudah tesebar luas di Indonesia. Dalam kondisi pemeliharaan oleh petani, produksi susu kambing perah PE

dapat mencapai 1-2 liter/ hari, yang sebagian dapat dimanfaatkan oleh peternak. Pengembangan temak perah ini merupakan cara mudah dan murah untuk meningkatkan status gizi masyarakat petani di pedesaan melalui konsumsi susu produksi petani sendiri, namun masih diperlukan penyuluhan yang lebih intensif tentang manfaat susu bagi kesehatan, disamping peluang yang ada untuk menambah pendapatan. Model pengembangan kambing perah dapat dilakukan melalui model pengembangan peternakan rakyat, peternakan swasta komersial dan kemitraan . Menyadari akan kondisi petani kecil saat ini, karakteristik dari komoditas susu dan persyaratan- persyaratan yang diperlukan dalam menangani pasca panen susu, maka pembinaan terhadap petani kecil ini sangat diperlukan . Pengembangan model kemitraan antara inti dan plasma secara teoritis akan terjadi pembagian tugas, hak dan kewajiban kedua belah pihak (sudah tentu tidak saling merugikan) sehingga layak dipertimbangkan. Walaupun demikian pengembangan model peternakan swasta komersial tetap difasilitasi, dan bila memungkinkan digandengkan dengan model kemitraan .

DAFTAR PUSTAKA

ADRIANI, A . SUDONO, T . SUTARDI, W. MANALU dan 1K .

SUTAMA . 2003 . Optimasi produksi anak dan susu kambing Peranakan Etawah dengan superovulasi dan suplementasi seng . Forum Pascasarjana. Sekolah Pascasarjana, Institute Pertanian Bogor 26

(4): 335-352 .

DEVENDRA, C and M . BURNS . 1983 . Goat production in

the tropics. Commonwealth Agricultural Bureaux, UK .

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN . 2005 . Statistik

Peternakan 2005 . Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian RI .

JENSEN, B. 1994. Goat milk magic. Bernard Jensen Publihser 24360 Old Wagon Road Escondido, CA

92027, USA.

OasT, J.M . and Z . NAPITUPUL .U . 1984 . Milk yields of

Indonesian goats . Proc.Aust . Soc. Anim. Prod. 15 :

501-504 .

PRANAJ, T . dan Z . SYAHBUDDIN . 1992 . Menempatkan

Kambing dan domba sebagai alternatif pengurangan tingkat kemiskinan di pedesaan . Prosiding Sarasehan Usaha Ternak Kambing dan Domba Menyongsong Era PJPT II, pp . : 134-140 .

123

Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII Dukungan Tekhologi Untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani Dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyarakat

SRUPNA . 1992 . Bio weeding . Small Ruminant Production System Network for Asia. 3 (4) :3.

SUBHAGIANA, I-W. 1998 . Keadaan konsentrasi progesteron dan estradiol selama kebuntingan, bobot lahir dan jumlah anak pada kambing Peranakan Etawah pada tingkat produksi susu yang berbeda. Thesis Pascasarjana, Institu Pertanian Bogor.

124

L SUTAMA, I-K, IGM. BUDIARSANA, H . SETYANTO, dan

A . PRIYANTI . 1995 . Productive and reproductive performance of young Etawah-cross does . M V. 1

(2) : 81-85 .

SUTAMA, I-K, 1997 . Kambing Peranakan Etawah, Kambing Perah Indonesia . Leaflet Balai Penelitian Ternak.