Anda di halaman 1dari 3

Nama NPM Fakultas

: Ramadhini Asterina Pertiwi : 1206203812 : FIB-Sastra Jepang

Asal Sekolah : SMAN 12 Jakarta

Pengalaman yang Berharga Saya bingung mau nulis apa. Saya juga tidak begitu suka dengan yang namanya mengarang. Tapi saya ingin bercerita sedikit tentang saya dan perjuangan saya masuk ke salah satu universitas yang bisa dibilang nomor satu di Indonesia. Tidak lain tidak bukan adalah Universitas Indonesia. Dari kecil , kirakira umur 10 tahun sudah penasaran apa sih itu UI, kok bisa terkenal banget, dan juga kok papa sama mama ingin banget kalau anaknya masuk UI. Jujur saja, diantara beberapa generasi keluarga, alhamdulilah hanya saya yang masuk UI. Itu merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa. Impian saya masuk UI sempat tertunda pada tahun 2010 lalu. Kenapa kok bisa begitu? Aduh saya bingung nyeritainnya, ya tapi ini sekedar pembelajaran buat kita semua. Semoga yang membacanya bisa terinspirasi oleh kisah saya. Tanggal 13 Juli 2010, hari dimana tahun ajaran baru dimulai. Saya yang tadinya kelas 2 SMA jadi kakak kelas yang paling tua satu sekolahan alias naik kelas 3 SMA. Pagi itu, saya terbangun dari tidur saya , bersemangat karena punya kelas baru sama temen baru nih. Tapi entah kenapa kepala saya pusing dan akhirnya jatuh ke lantai. Badan saya dingin, napas pun sesak. Ibu saya bingung , terheranheran dengan saya yang tiduran di lantai. Saya tidak mau melihat ibu saya khawatir, saya lanjutkan perjalanan saya untuk ke kamar mandi. Ya mungkin saja saya baru bangun tidur , jadinya saya pusing deh. Ucap saya dalam hati. Setelah selesai mandi, bukannya hilang pusingnya saya malah tambah pucat. Ibu saya sangat khawatir dan berkata bahwa saya sebaiknya jangan ikut upacara tahun ajaran baru saja pada hari itu. Saya tidak mau jika hari pertama masuk sekolah tidak hadir. Saya penasaran siapa yang jadi teman sebangku saya pada hari itu. Saya tetap memutuskan untuk pergi ke sekolah pada akhirnya. Ketika upacara pandangan mata saya makin lama terlihat gelap padahal saya sudah makan dan minum susu sebelum berangkat. Akhirnya saya dibawa ke UKS

dan teman saya menganjurkan saya agar keesokan harinya saya istirahat saja dan ke rumah sakit untuk diperiksa. Keesokan harinya saya dibawa oleh ibu saya ke puskesmas yang kebetulan berada dekat rumah. Tapi bukannya diperiksa disana malah saya pingsan total dan kondisi saya malah makin menjadi. Akhirnya ibu saya memutuskan untuk membawa saya ke rumah sakit. Dokter bilang saya sakit tifus dan lebih baik dirawat saja. Dua minggu pun berlalu dirumah sakit itu, saya khawatir dengan pelajaran saya yang tertinggal, padahal saya ingin mempersiapkan diri lebih awal untuk masuk ke UI. Tapi sepertinya sakit saya waktu itu tidak sembuh juga, saya curiga jangan-jangan bukan tifus karena anggota tubuh saya membengkak karena terdapat cairan. Sampai ke paru-paru dan jantung terdapat cairan. Ibu saya memutuskan untuk membawa pulang kerumah. Tiga bulan kemudian, penyakit yang tidak kunjung sembuh membawa saya kepada berbagai pengobatan, baik itu tradisional maupun medis. Tapi tidak membawakan hasil. Pada akhirnya terdapat suatu kondisi saya sangat kritis. Bernapas pun sulit sampai kehilangan kesadaran. Dokter dirumah sakit itu sudah lepas tangan dan menyarankan agar pindah ke rumah sakit yang lebih baik. Kakak Ibu, dan keluarga saya menangis. Di tengah kehilangan kesadaran, saya masih menginginkan saya sembuh untuk berjuang melawan penyakit itu. Saya masih punya segudang cita-cita yang ingin saya raih, termasuk cita-cita untuk masuk UI. Allah SWT menjawab doa saya ditengah keadaan gawat itu, kakak saya tiba-tiba teringat tempat ia bekerja di sebuah rumah sakit jantung terkenal di Jakarta. Ia meminta bantuan agar saya diperbolehkan untuk dirawat disana. Tadinya RS tersebut menolaknya dengan alasan kalau tidak punya sakit jantung tidak boleh dirawat disana. Akhirnya saya dibawa juga ke rumah sakit tersebut dengan keadaan tidak sadarkan diri. Di rumah sakit tersebut saya sempat koma 5 hari. Tepat malam takbiran saya terbangun dari koma tersebut. Didalam koma saya mendengar suara-suara takbir, dan surat-surat Al-Quran yang dibacakan di telinga saya. Saya sangat beruntung mempunya teman-teman yang baik. Hampir separuh angkatan saya menjenguk saya dirumah sakit. Saya tidak tahu karena pada saat itu saya sedang koma. Di rumah sakit itu juga saya bertemu orang-orang yang sangat baik, suster

yang baik juga dokter yang baik. Mereka sangat menyayangi saya ketika dirawat disana. Itu mengobati rasa sepi saya selama dirawat. Karena hanya saya pasien yang paling muda di sana. Hari-hari berikutnya, kesehatan saya membaik dan pada akhirnya saya diperbolehkan untuk pulang. Dokter menyarankan agar berobat jalan saja karena cairan dalam tubuh saya sudah menghilang. Penyakit saya sangat misterius dan bahkan sampai sekarang saya masih bingung untuk menyebutnya. Dokter hanya bilang kalau saya terinfeksi virus dan virus itu sudah mati. Saya sempat sekolah lagi selama satu bulan hingga akhirnya para guru menyarankan agar saya cuti untuk satu tahun. Saya sangat sedih, sempat putus asa untuk sekolah, sempat membuang cita-cita saya, dan sempat frustasi pada masamasa saya cuti. Ibu saya selalu menasehati saya agar tetap semangat. Temanteman pun selalu menyemangati saya untuk sekolah lagi di tahun ajaran yang baru. Saya kumpulkan lagi cita-cita saya yang saya buang, lalu saya kumpulkan lagi semangat saya untuk bangkit dan maju. Ditahun ajaran baru 2011/2012 dimulai. Saya tidak kenal dengan satupun murid-murid di sekolah saya, wajah-wajah yang tidak familiar. Saya harus mulai lagi dari 0. Saya harus mengejar teman-teman saya yang terdahulu sudah mendapatkan keinginannya untuk masuk PTN. Saat itu saya tidak punya teman tapi saya tetap berprinsip bahwa saya tidak sendiri ada Allah SWT dan orangorang yang selalu menyemangati dan menemani saya. Dari awal saya sudah mempunyai tekad yang besar untuk meraih impianimpian saya, termasuk untuk masuk ke UI. Mungkin saya belajar lebih keras daripada teman yang lain. Hasil kerja keras saya membuahkan hasil, alhamdulilah saya mendapatkan peringkat satu dikelas dan mendapatkan SNMPTN Undangan UI. Subhanallah, Allah Maha Adil. Perjuangan saya mengejar ketinggalan tidak sia-sia. Saya sangat bersyukur atas karunia yang diberikan Allah SWT kepada saya. Satu tahun pun terasa cepat dan sekarang saya sudah resmi menjadi MABA UI 2012.

-Selesai-