Anda di halaman 1dari 6

Memahami Perspektif Pragmatis, Teori Sistem Umum dan Struktural Fungsional

Alfan Tiara Hilmi 10/296365/SP/23831

1. Perspektif Pragmatis Perspektif pragmatis pertama kali ditemukan oleh Charles S. Peirce pada tahun 1878 dalam sebuah makalahnya yang berjudul How I Make Our Ideas Clear. Perspektif ini kemudian sering dikaitkan dalam bidang keilmuan filsafat Amerika, sehingga banyak ahli filsafat Amerika yang tertarik untuk mengembangkannya, seperti William James, John Dewey, George Herbert Mead dan C.I. Lewis. Pada perkembangannya, perspektif ini tidak hanya berada di dalam ranah keilmuan filsafat saja, namun dapat digunakan untuk melihat fenomena di ranah ilmu sosial seperti komunikasi dan sosiologi. Dalam perspektif pragmatis, segala sesuatu dianggap ada dan benar apabila sesuatu tersebut bersifat fungsional, memiliki utilitas dan berguna bagi sebuah sistem. Perspektif ini terkesan sangat praktis karena menekankan pada hasil dan akibat dari sebuah proses, bukan mengamati bagaimana sesuatu tersebut berproses untuk menciptakan akibat. Sehingga keberadaan sesuatu tidak dilihat dari prosesnya menjalani fungsi, namun dari akibat yang dihasilkan sesuatu tersebut bagi individu individu dalam sebuah sistem. Keberadaan konsep makna dalam pragmatis ini ditentukan oleh konsekuensi yang dihasilkan dari sebuah sesuatu1. Apabila sesuatu tidak memiliki konsekuensi praktis maka sesuatu tersebut tidak memiliki makna di dalamnya. Meskipun ia memiliki sebuah proses, namun perspektif pragmatisme hanyalah melihat konsekuensiyang dihasilkan proses tersebut untuk dapat mendefinisikan makna. Di ranah komunikasi, perspektif pragmatis melihat komunikasi sebagai sebuah aktivitas interaksi manusia yang memiliki kualitas, kuantitas, dan relevansi dengan konteks yang dibicarakan2. Komunikasi dinyatakan ada apabila memiliki utilitas dan relevansi. Jika terjadi pertukaran proses penyampaian pesan namun tidak memiliki kualitas, kuantitas dan relevansi, maka komunikasi tidak dapat disebut ada. Pragmatis tidak melihat keberadaan komunikasi dari proses yang dijalankan, namun melihat melalui akibat yang dihasilkan dari proses komunikasi tersebut.

2. Teori Struktural Fungsional (Talcott Parsons) Fungsionalisme Struktural dalam perspektif Talcott Parsons lebih memandang suatu sistem
1
Warsiman. 2006. Aliran Filsafat Pragmatisme. http://blog.sunanampel.ac.id/warsiman/2010/05/18/aliran-filsafat-pragmatisme-sebuahgagasan-ideal-sistem-pendidikan-di-indonesia/ (diakses pada 26 Februari 2012)

Sawali, Tuhusetya. 2010. Bahasa Kekuasaan dalam Perspektif Pragmatik. http://sawali.info/2010/12/04/bahasa-kekuasaan-dalam-perspektif-pragmatik/ (diakses pada 26 Februari 2012)

sebagai sebuah keteraturan yang berpegang pada nilai dan norma dalam suatu masyarakat. Teori ini menjelaskan bahwa kekacauan merupakan suatu hal yang harus dihindarkan karena akan mengancam keteraturan struktur di dalam sebuah sistem. Parsons juga berpendapat bahwa para anggota di dalam sistem haruslah dapat memberikan partisipasinya kepada sistem dimana mereka berada. Selain itu partisipasi dari sistem yang lain juga dibutuhkan karena sebuah sistem tidak dapat eksis tanpa mendapatkan dukungan dari sistem yang lain. Teori yang sangat populer dalam bidang keilmuan sosiologi ini memiliki empat fungsi yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan sistem. Empat fungsi tersebut adalah A G I L, adaptation, goal attainment, integration, dan latency. Fungsi adaptation menjelaskan bahwa sebuah sistem haruslah menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana sistem tersebut berada. Goal attainment memiliki fungsi agar suatu sistem dapat mencapai tujuan yang dicita - citakan. Integration memiliki fungsi menyatukan dan mengatur hubungan antara komponen dan fungsi yang dimiliki oleh sistem. Fungsi yang terakhir yaitu latency, lebih menekankan pada pemeliharaan dan perbaikan suatu sistem agar dapat bertahan lama dan terhindar dari kekacauan. 2.1 Masyarakat dalam Pandangan Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons Masyarakat digambarkan sebagai sebuah sistem yang anggotanya mampu memenuhi seluruh kebutuhan, baik itu secara komunal atau individual. Masyarakat merupakan sistem sosiokultural yang dianggap penting untuk dibahas dalam teori sosiologi modern. Parson menggambarkan subsistem dalam masyarakat memiliki fungsi A G I L. Terdapat empat subsistem di dalam entitas masyarakat, yaitu subsistem ekonomi (adaptation), pemerintahan (goal attainment), komunitas kemasyarakatan (integration), dan sistem fiduciari (latency). Subsistem ekonomi memiliki fungsi untuk membantu masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kebutuhan dan realitas eksternal. Sedangkan subsistem pemerintahan memiliki fungsi goal attainment untuk mencapai tujuan kemasyarakatan, fungsi ini juga dibutuhkan untuk menggerakkan aktor agar mampu mencapai tujuan dari sistem. Selain itu terdapat subsistem komunitas kemasyarakatan Subsistem ini memiliki fungsi integration sebagai pengatur komponen komponen masyarakat. Terakhir subsistem fiduciari sebagai fungsi latency yang bertugas dalam menginternalisasikan norma dan nilai kepada aktor di dalam masyarakat. 2.2 Evolusi Sistem Menurut Talcott Parsons Evolusi menurut Talcott Parsons berhubungan dengan proses penyesuaian diri sebuah sistem terhadap sistem yang baru. Perbedaan dan perkembangan merupakan akibat dari proses evolusi sebuah sistem yang nantinya akan membentuk sistem yang baru. Menurut Parsons, suatu proses evolusi dalam sebuah masyarakat akan berjalan secara bertahap, bukan terus menerus. Ia menjelaskan proses evolusi dengan tiga tahap besar, antara lain primitif, lanjutan, dan modern. Perkembangan dari tahap primitif ke lanjutan ditandai dengan berkembangnya pemakaian bahasa terutama tulisan. Sedangkan perkembangan dari tahap lanjutan ke modern ditandai dengan semakin melembaganya norma dan nilai dalam masyarakat. Parsons juga menganalisa masyarakat yang mengalami evolusi dari tahap primitif

hingga tahap modern. Dalam analisanya ia bukan memperhatikan kepada proses dari perubahan yang terjadi, tetapi lebih mengarah kepada perbandingan dan penghubungan struktur dalam sebuah sistem masyarakat yang berevolusi.

3. Teori Sistem Umum (Niklas Luhmann) Luhmann memiliki pandangan yang berbeda dengan Parsons mengenai fungsionalisme struktural. Ia memandang bahwa teori Parsons sangat kompleks dan memiliki beberapa kelemahan. Teori sistem umum lebih menekankan kepada kontingensi dan kemungkinan dimana setiap fakta yang ada tidaklah mutlak dan memiliki peluang untuk menjadi berbeda. Pertama teori fungsionalisme struktural Talcott Parsons tidak memiliki referensi diri. Masyarakat lebih diarahkan untuk melihat subsistem eksternal sedangkan tidak memiliki tempat untuk memahami dirinya sendiri yang Luhmann anggap merupakan suatu hal penting bagi sebuah sistem. Kedua teori Talcott Parsons terlihat kaku karena tidak memiliki kontingensi atau kemungkinan. Luhmann berpendapat bahwa skema A G I L ciptaan parsons tidak dapat dilihat sebagai sebuah fakta, tetapi sebuah skema kemungkinan.

3.1 Sistem Autopoietic Luhmann menggunakan istilah autopoietic untuk menggambarkan sistem ekonomi, politik, hukum, saintifik, dan birokrasi. Terdapat empat karakteristik dalam sistem3. Pertama, sebuah sistem autopoietic menciptakan elemen dasar yang menyusun sistem itu sendiri. Sebagai contoh dalam sistem ekonomi uang merupakan sebuah elemen dasar dan sistem ekonomi tanpa adanya uang tidak akan dapat berjalan. Karakteristik yang kedua adalah, sistem autopoietic mengorganisasikan pada batas batasnya sendiri dan mengorganisasikan sistem internalnya. Misalnya sistem ekonomi memiliki batasan bahwa sesuatu yang dapat disebut dalam sistem ekonomi adalah sesuatu yang langka dan berharga. Karakteristik yang ketiga dalam sebuah sistem adalah self referential. Sistem ekonomi memiliki harga untuk menggambarkan dirinya sendiri. Dalam sebuah pasar saham, harga ditentukan oleh sistem ekonomi. Pasar saham dapat disebut sebagai referensi diri dari sebuah sistem ekonomi. Ciri terakhir dalam sistem autopoietic adalah tertutup. Sistem ekonomi lebih berpihak kepada pemenuhan kebutuhan si kaya, namun tertutup pada pemenuhan kebutuhan si miskin.

3.2 Masyarakat dan Sistem Psikis

Reza, Wattimena. 2010. Teori Sistem Umum Niklas Luhmann. http://rumahfilsafat.com/2010/01/03/teori-sistem-masyarakat-niklas-luhmann/ (diakses pada 26 Februari 2012)

Terdapat empat karakteristik masyarakat yang dijelaskan oleh Luhmann, yaitu membangun struktur dan batas batasnya sendiri, self-referential, dan tertutup. Menurutnya elemen dasar dari masyarakat adalah komunikasi. Masyarakat yang menciptakan komunikasi, dan komunikasi lah yang membentuk masyarakat. Sesuatu yang individu miliki dan tidak pernah dikomunikasikan kepada individu lain bukanlah bagian dari masyarakat. Sistem psikis masyarakat yang dijelaskan selanjutnya oleh Luhmann dapat disebut sebagai kesadaran. Kesadaran yang dimaksud dalam hal ini adalah kesadaran terhadap makna yang terbentuk dalam sebuah sistem. Dalam sistem psikis, segala sesuatu yang tidak bermakna berada di luar sistem, yang menjadi penyebab tindakan kita. Sedangkan segala sesuatu yang bermakna di dalam sistem berfungsi sebagai motivasi bagi tindakan kita.

3.3 Evolusi menurut Niklas Luhmann Luhmann berpendapat bahwa evolusi tidak bersifat teleologis. Evolusi merupakan sebuah perubahan yang deontologis dan perkembangan bukanlah tujuan yang ditetapkan sebelumnya oleh sebuah sistem. Evolusi merupakan seperangkat proses yang menjalankan fungsi variasi, seleksi dan stabilitas karakteristik yang dapat diproduksi. Variasi dianggap sebagai berbagai macam cara yang digunakan untuk menghadapi segala masalah yang timbul dari gangguan lingkungan. Dalam memilih variasi tersebut maka dibutuhkanlah seleksi untuk memilih solusi yang dianggap mudah untuk diterapkan. Terakhir, stabilisasi dibutuhkan bagi sistem untuk menyesuaikan diri dengan diferensiasi atau sistem baru yang muncul akibat dari evolusi. 4. Contoh Kongkrit Teori Struktural Fungsional Dilihat dari Perspektif Pragmatis Dalam bab kali ini penulis akan mencoba melihat contoh kongkrit fenomena sosial dalam Teori Struktural Fungsional Talcott Parsons yang dilihat melalui perspektif pragmatis. Penulis menganalogikan sistem dalam teori ini sebagai sebuah keluarga yang beranggotakan empat orang, diantaranya ayah, ibu, dan dua anak kakak beradik. Sebuah keluarga dapat disebut sebagai sebuah sistem karena di dalamnya terdapat individu individu yang saling berinteraksi satu sama lain, memiliki hierarki dan norma yang berlaku dan saling memiliki interdependensi. Komunikasi menjadi hal yang sangat penting bagi sebuah keluarga, karena komunikasilah yang membuat mereka dapat mempertahankan eksistensi keluarga mereka. Jika kita menggunakan teori struktural fungsional, terkesan bahwa teori ini cukup konservatif untuk dapat mengamati fenomena sebuah keluarga masa kini sebagai sistem sosial. Namun konsep konsep yang diberikan masih cukup relevan walaupun konsep tersebut tidak secara mutlak dapat menggambarkan sebuah sistem keluarga. Misalnya dalam sebuah keluarga yang beranggotakan ayah, ibu, dan dua anak kakak beradik, tanpa disadari dan secara alamiah mereka menerapkan sistem A G I L dalam mempertahankan eksistensi keluarga mereka. Dalam tahap adaptation misalnya, saat pertama kali menikah, pasangan laki laki perempuan mencoba untuk beradaptasi dengan kondisi keluarga baru dimana mereka pertama kali hidup bersama satu atap dalam sebuah keluarga yang baru. Tahap selanjutnya adalah goal attainment, dimana sebuah keluarga mulai menyusun visi kedepan mengenai masa depan keluarga dan anak anak

mereka. Selain itu terdapat tahap ketiga yaitu integration, dimana mereka mempererat hubungan melalui berbagai cara, seperti makan bersama, berekreasi bersama, saling berdiskusi di ruang keluarga dsb. Dalam tahap ini komunikasi sangatlah berperan penting. Terakhir, sebuah keluarga akan menemui tahap latency, tahap latency dimana nilai dan norma yang berlaku di dalam keluarga tersebut mulai diterapkan dengan memberikan sangsi hukuman apabila ada anggota keluarga yang melanggarnya, sebagai contoh seorang anak yang dikunci dari luar rumah karena ia pulang larut malam. Setelah menjabarkan keluarga sebagai sebuah sistem, kita akan melihat sistem tersebut dari perspektif pragmatis. Dalam perspektif pragmatis kita dapat menyatakan sebuah keluarga itu ada jika keluarga tersebut mampu menghasilkan sesuatu dari sebuah proses penerapan fungsi fungsi keluarga. Menurut BKKBN, terdapat delapan fungsi keluarga, antara lain fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan pembinaan keluarga4. Misalnya, sebuah keluarga sebagai sistem sosial dapat dikatakan eksis apabila mampu melindungi anggota keluarga dari kondisi berbahaya dan memberikan cinta kasih. Apabila ada sebuah keluarga yang setiap harinya penuh dengan konflik dan menimbulkan KDRT, maka bisa disebut keluarga tersebut tidak dapat memenuhi hakikat fungsi keluarga. Sehingga bisa diperkirakan keberadaan keluarga tersebut nantinya juga tidak berlangsung lama. Karena sebuah keluarga dalam perspektif pragmatis sangatlah bersifat fungsional, karena perspektif ini memfokuskan pada akibat yang dihasilkan dari keberadaan sebuah keluarga yang dilihat dari pencapaian fungsi keluarga.

Referensi Warsiman. 2006. Aliran Filsafat Pragmatisme. http://blog.sunanampel.ac.id/warsiman/2010/05/18/aliran-filsafat-pragmatisme-sebuah-gagasan-idealsistem-pendidikan-di-indonesia/ (diakses pada 26 Februari 2012).

Tuhusetya, Sawali. 2010. Bahasa Kekuasaan dalam Perspektif Pragmatik. http://sawali.info/2010/12/04/bahasa-kekuasaan-dalam-perspektif-pragmatik/ (diakses pada 26 Februari 2012). BKKBN. 2011. Delapan Fungsi Keluarga. http://pkk.cilacapkab.go.id/berita-133-8-fungsikeluarga.html. (diakses pada 27 Februari 2012).

Wattimena, Reza. 2010. Teori Sistem Umum Niklas Luhmann. http://rumahfilsafat.com/2010/01/03/teori-sistem-masyarakat-niklas-luhmann/ (diakses pada 26 Februari 2012)

BKKBN. 2011. Delapan Fungsi Keluarga. http://pkk.cilacapkab.go.id/berita-133-8-fungsikeluarga.html. (diakses pada 27 Februari 2012)