Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.

S DENGAN ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA TYPOID


Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunitas II Dosen Pengampu: Wiwik Natalya M.Kep.Sp.Kom

Disusun Oleh : Kelas 3 B 1. Khairul Anam 2. Rika Raudhatul Jannah 3. Spatika Parasdyasih 4. Teguh Anjar Baskoro
(09.0413.S) (09.0450.S) (09.0463.S) (09.0467.S)

PRODI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

Sebagai aplikasi dari asuhan keperawatan, penulis mencoba mengajak sejawat mempelajari asuhan keperawanan keluarga dengan anak usia sekolah. Tahapan yang perlu kita lakukan sebagai berikut : 1. Mempelajari suat landasan teori yang berhubungan dengan anak usia sekolah. 2. Merumuskan pengkajian fokus yang perlu dilakukan berdasar teori yang ada. 3. Membuat asuhan keperawatan (pengkajian, perumusan diagnosis keperawanan, rencana asuhan keperawanan keluarga, implementasi, dan evaluasi). Anak merupakan bagian dari anggota keluarga, sering dikatakan sebagai potret atau gambar dari orang tuanya saat masih kecil. Namun tidaklah demikian, karena anak merupakan individu tersendiri yang bertumbuh dan berkembang secara unik dan tidak dapat diulang setelah usianya bertambah. Menurut UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang dimaksud anak adalah seorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin (menikah). Saat ini yang disebut anak bukan lagi yang berumur 21 tahun, tetapi berumur 18 tahun, seperti yang ditulis Hurlock (1980) masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun. Meskipun demikian, anak masih dikelompokkan lagi menjadi tiga sesuai dengan kelompok usia, yaitu : usia 2-5 tahun disebut usia prasekolah; usia 6-12 tahun disebut usia sekolah; dan usia 13-18 tahun disebut usia remaja. Pada bahasan ini, kita mempelajari bersama asuhan keperawanan keluarga dengan anak usia sekolah. Anak usia sekolah dapat disebut sebagai akhir masa kanak-kanak sejak usia 6 tahun atau masuk sekolah dasar kelas satu, ditandai oleh kondisi yang sangat memengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. Akhir masa kanak-kanak memiliki beberapa ciri : 1. Label yang digunakan oleh orang tua a. Usia yang menyulitkan suatu masa ketika anak tidak mau lagi menuruti perintah dan ketika anak lebih dipengaruhi oleh teman sebaya daripada oleh orang tua dan anggota keluarga lain.

b. Usia tidak rapi suatu masa ketika anak cenderung tidak mempedulikan dan ceroboh dalam penampilan. c. Usia bertengkar suatu masa ketika banyak terjadi pertengkaran antar-keluarga dan suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga. Ketiga label yang digunakan orang tua dapat diminimalkan dengan mengharuskan melakukan dan mengancam dengan hukuman (hal ini sering dilakukan tanpa disadari). 2. Label yang digunakan pendidik / guru a. Usia sekolah dasar suatu masa ketika anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan mempelajari pelbagai keterampilan penting tertentu baik kurikuler maupun ekstrakurikuler. b. Periode kritis dalam berprestasi suatu masa ketika anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses, tidak sukses, atau sangat sukses, yang cenderung menetap sampai dewasa. Kagan (1977) dalam peneliltiannya yang ditulis kembali oleh Hurlock, melaporkan bahwa tingkat perilaku pada masa kanak-kanak mempunyai korelasi yang tinggi dengan perilaku prestasi pada masa dewasa. 3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi a. Usia berkeompok suatu masa ketika perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok. b. Usia penyesuaian diri suatu masa ketika anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku. c. Usia kreatif suatu masa ketika akan ditentukan apakah anak akan menjadi konformis (pencipta karya baru) atau tidak. d. Usia bermain suatu masa ketika besarnya keinginan bermain karena luasnya (adanya) minat dan keinginan untuk bermain.

PERKEMBANGAN AKHIR MASA KANAK-KANAK


Tugas perkembangan akhir masa kanak-kanak menurut Havigrust : Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tapat. Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis, dan berhitung. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tingkatan nilai. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga. Mencapai kebebasan pribadi.

Untuk mencapai tugas perkembangan secara optimal, pada akhir masa kanak-kanak tidak lagi sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan tanggung jawab guru dan teman sebaya. Namun, orang tua perlu membantu meletakkan dasar-dasar penyesuaian diri anak dengan teman sebaya.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. PERKEMBANGAN USIA SEKOLAH


1. Perkembangan biologis Saat umur 6-12 tahun, perkembangann rata-rata 5 cm per tahun untuk tinggi badan, dan meningkat 2-3 kg per tahun untuk berat badan. Selama usia tersebut, anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan ukuran tubuh. Anak laki-laki cenderung kurus dan tinggi, anak perempuan cenderung gemuk. Pada usia ini, pembentukan jaringan lebih lemak lebih cepat perkembangannya daripada otot. 2. Perkembangan psikososial Menurut Freud, perkembangan psikoseksualnya digolongkan dalam fase laten, yaitu ketika anak berada dalam fase oidipus yang terjadi pada masa prasekolah dan mencintai seseorang. Dalam tahap ini, anak cenderung membina hubungan yang erat atau akrab dengan teman sebaya, juga banyak bertanya tentang gambar seks yang dilihat dan dieksploitasi sendiri melalui media. Menurut Erikson, perkembangan psikososialnya berada dalam tahap industri vs. Inferior. Dalam tahap ini, anak mempu melakukan atau menguasai keterampilan yang bersifat teknologi dan sosial; memiliki keinginan untuk mandiri; dan berupaya menyelesaikan tugas inilah yang merupakan tahap industri. Bila tugas tersebut tidak dapat dilakukan, anak akan menjadi inferior. Tahap ini sangat dipengaruhi faktor intrinsik (motivasi, kemampuan, tenggung jawab yang dimiliki, kebebasan yang dimiliki, interaksi dengan lingkungan, dan teman sebaya) dan faktor ekstrinsik (penghargaan yang didapat, stimulus, dan keterlibatab orang lain).
3. Temperamen

Sifat temperamental yang dialami sebelumnya merupakan faktor terpenting dalam perilakunya pada masa ini. Pola perilakunya menunjukkan anak mudah bereaksi terhadap situasi yang baru. Pada usia ini, sifat temperamental sering muncul sehingga peran orang tua dan guru sangat besar untuk mengendalikannya. Yang perlu dilakukan orang tua dan guru adalah bersabar, menciptakan situasi baru agar tidak bosan, menjadi figur dalam

sehari-hari, selalu memberikan harapan, dan mengurangi ketergantungannya dengan memberikan pengertian.
4. Perkembangan kognitif

Menurut Piaget, usia ini berada dalam tahap operasional konkret, yaitu anak mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol. Selama periode ini kemampuan anak belajar konseptual mulai meningkat dengan pesat dan memiliki kemampuan belajar dari benda, situasi, dan pengalaman yang dijumpainya. Kemampuan anak yang dimiliki dalam tahap operasional konkret : (a) konservasi, menyukai sesuatu yang dapat dipelajari secara konkret bukan magis; (b) klasifikasi, mulai belajar mengelompokkan, menyusun, dan mengurutkan; dan (c) kombinasi, mulai mencoba belajar dengan angka dan huruf sesuai dengan keinginannya yang dihubungkan dengan pengalaman yang diperoleh sebelumnya.
5. Perkembangan moral

Masa akhir kanak-kanak, perkembangan moralnya dikategorikan oleh Kohlberg berada dalam tahap konvensional. Pada tahap ini, anak mulai belajar tentang peraturan-peraturan yang berlaku, menerima peraturan, dan merasa bersalah bila tidak sesuai dengan aturan yang telah diterimanya. Anak mencoba bersikap konsekuen. Orang tua perlu memberikan suat imbalan atau hukuman terhadap perilaku anak.
6. Perkembangan spiritual

Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatunya adalah konkret atau nyata daripada belajar tentang God. Mereka mulai tertarik terhadap surga dan neraka sehingga cenderung melakukan atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk neraka. Anak mulai belajar tentang alam nyata dan sulit memahami simbol-simbol supranatural sehingga konsep-konsep religius perlu disajikan secara konkret atau nyata dan juga mencoba menghubungkan fenomena yang terjadi dengan logika. 7. Perkembangan bahasa Pada usia ini terjadi penambahan kosakata umum yang berasal dari pelbagai pelajaran di sekolah, bacaan, pembicaraan, dan media. Kesalahan pengucapan mengalami penurunan karena selama mencari pengalaman anak telah mendengar pengucapan yang benar sehingga mampu mengucapkannya dengan benar. Pembentukan kalimatnya teratur dan tidak

terpotong-potong setelah usia 9 tahun. Untuk meningkatkan pengertian terhadap bahasa, anak perlu diberi kesempatan mendengarkan radio dan menonton televisi untuk meningkatkan konsentrasi dan pengertian. Juga perlu dilibatkan dalam pembicaraan sosial sehingga egosentrisnya sedikit hilang. Pembicaraan yang dilakukan dalam tahap ini libih terkendali dan terseleksi, karena anak menggunakan pembicaraan sebagai alat komunikasi. 8. Perkembangan sosial Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok, yang ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok. Wujud dari aktivitas ini banyak orang menyebut sebagai geng anak, tetapi berbeda tujuannya dengan geng remaja. Tujuan dari geng anakanak diantaranya memperoleh kesenangan dengan bermain. 9. Perkembangan seksual Masa ini anak mulai belajar tentang seksualnya dari teman-teman terlebih guru dan pelajaran di sekolah. Anak mulai berupaya menyesuaikan penampilan, pakaian, bahkan gerak-gerik sesuai dengan peran seksnya. Kecenderungan pada usia ini, anak mengembangkan minat-minat yang sesuai dengan dirinya. Di sini, peran orang tua sangant penting untuk mempersiapkan anak menjelang pubertas. 10. Perkembangan konsep diri perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dengan orang tua, saudara, dan sanak keluarga yang lain. Saat usia ini, anak membentuk konsep diri ideal, seperti tokoh-tokoh sejarah, cerita khayal, sandiwara, film dan tokoh nasional atau dunia yang dikagumi, untuk membangun ego ideal yang menurut Van Den Daele berfungsi sebagai standar perilaku umum yang diinternalisasi. Pada usia ini pula, anak pada umumnya mencari identitas diri agar diterima oleh kelompoknya karena takut kehilangan dukungan dari kelompok.

B. BERMAIN

Bermain dianggap sangat penting untuk perkembangan fisik dan fisiologis karena selama bermain anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial sehingga memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak. Bentuk permainan yang sering diminati pada usia ini : 1. Bermain konstruktif : membuat sesuatu hanya untuk bersenang-senang saja tanpa memikirkan manfaatnya, seperti menggambar, melukis, dan membentuk sesuatu; 2. Menjelajah : ingin bermain jauh dari lingkungan rumah; 3. Mengumpulkan : benda-benda yang menarik perhatian dan minat-minatnya, membawa benda ke rumah, menyimpan dalam laci, dan tidak memperlihatkan koleksinya dalam laci; 4. Permainan dan olahraga : cenderung ingin memainkan anak besar (bola basket dan sepak bola) dan senang pada permainan yang bersaing; 5. Hiburan : anak ingin meluangkan waktu untuk membaca, mendengar radio, menonton, atau melamun. Setelah kita mempelajari sedikit tentang perkembangan yang terjadi pada anak usia sekolah, sekarang kita membahas yang berhubungan dengan keluarga. Keluarga dengan anak usia sekolah merupakan salah satu tahap yang mesti dilalui dan merupakan masa-masa yang sibuk bagi orang tuanya dan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak. Pada tahap ini tugas perkembangan keluarga yaitu (1) mensosialisasikan anak dengan lingkungannya, termasuk keberhasilan dalam belajar dan kebutuhan berkelompok dengan teman sebayanya, (2) mempertahankan hubungan perkawinan yang harmonis, dan (3) memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarga. (Freidman, 1998) Di samping itu, orang tua memiliki tanggung jawab seperti yang diatur dalam UU No. 4 tahun 1979 pasal 9 tentang orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Dengan demikian, seharusnya anak yang setiap harinya tinggal bersama keluarga akan dapat dan selalu tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan usianya. Bila keluarga dan orang tua menyadari tentang kewajibannya maka anak akan memperoleh hak-haknya seperti yang tertulis dalam UU no. 4 tahun 1979 pasal 2 : (1) Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang, baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang secara wajar.

(2) Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan negara yang baik dan berguna. (3) Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. (4) Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.

C. MASALAH ANAK USIA SEKOLAH


Masalah-masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah meliputi bahaya fisik dan fisiologis. 1. Bahaya fisik a. Penyakit Penyakit infeksi pada usia sekolah jarang sekali terjadi dengan adanya kekebalan yang didapat dari imunisasi yang pernah didapatkan semasa bayi dan diulang pada kelas satu sampai enam, tetapi yang berbahaya adalah penyakit palsu atau khayal untuk menghindarkan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Penyakit yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak. b. Kegemukan Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar, tetapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi. Bahaya kegemukan yang mungkin dapat terjadi : (1) anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai keterampilan yang penting untuk keberhasilan sosial, dan (2) teman-temannya sering mengganggu dan mengejek dengan sebutan-sebutan gendut atau sebutan lain sehingga anak merasa rendah diri. c. Kecelakaan Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan keterampilan tertentu. Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, kecelakaan yang dianggap sebagai kegagalan dan anak lebih bersikap hati-hati akan berbahaya bagi psikologisnya sehingga anak merasa takut terhadap kegiatan fisik. Bila hal ini terjadi dapat berkembang menjadi rasa malu yang mempengaruhi hubungan sosial. d. Kecanggungan

Pada masa ini, anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya. Bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri. e. Kesederhanaan Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada saat apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri anak. 2. Bahaya psikologis a. Bahaya dalam berbicara Ada empat bahaya dalam berbicara yang umum terdapat pada anak usia sekolah : (1) kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas disekolah dan menghambat komunikasi dengan orang lain, (2) kesalahan dalam berbicara, seperti salah ucap dan kesalahan tata bahasa, cacat dalam berbicara seperti gagap akan membuat anak menjadi sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu, (3) anak yang mempunyai kesulitan berbicara dalam bahasa yang di gunakan di lingkungan sekolah akan terhalang dalm usaha untuk berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia berbeda, dan (4) pembicaraan yang besifat egosentris, yang mengkritik dan merendahkan orang lain, dan yang bersifat membual akan di tentang oleh temannya. b. Bahaya emosi Anak akan di anggap tidak matang baik oleh teman-teman sebaya maupun orang dewasa, bila ia masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan, seperti marah yang meledak ledak, dan juga bila emosi yang buruk seperti marah dan cemburu masih sangat kuat sehingga kurang di senangi orang lain. c. Bahaya bermain Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan olah raga yang penting ntuk menjadi anggota kelompok. Anak yang di larang berkhayal karena membuang waktu atau di larang melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan mengembangkan kebiasaan penurut yang kaku. d. Bahaya dalam konsep diri Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri dan tidak puas pada perlakuan orang lain. Bila konsep sosialnya tidak di

dasarkan pada pelbagai stereotip, ia cenderung berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang lain. Karena konsepnya berbobot emosi maka itu cenderung menetap dan terus memberikan pengaruh buruk pada penyesuaian sosial anak. e. Bahaya yang menyangkut minat Ada dua bahaya yang umum di hubungkan dengan minat masa kanak-kanak: pertama, tidak berminat pada hal-hal yang di anggap penting oleh teman-teman sebaya, dan kedua, mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai bagi dirinya, seperti kesehatan atau sekolah. f. Bahaya dalam perkembangan kepribadian Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kepribadian periode ini. Pertama, perkembangan konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri, dan kedua, egosentrisme yang merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrisme merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang palsu. g. Bahaya hubungan keluarga Pertentangan dengan anggota-anggota keluarga mengakibatkan dua hal: melemahkan ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola penyesuaian yang buruk, serta masalah-masalah yang di bawa keluar rumah.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH PADA KELUARGA Tn.S TERUTAMA An. J DENGAN TYPOID

A. a. b. c. PKL d. e. f. NO

PENGKAJIAN 1. DATA UMUM Nama kepala keluarga Usia kepala keluarga Alamat Pekerjaan kepala keluarga Komposisi keluarga Nama Umur
SEX

: Tn.S : 45 tahun : Ds kajongan Rt 05/03, Kajen, : Pegawai Negeri Sipil

Pendidikan kepala keluarga : Sarjana Pendidikan Pendidikan Terakhir Hubungan dengan KK

1. 2. 3. 4.

Tn.S Ny.D An.C An.J

51th 46th 13th 8 th

L P P P

Sarjana SMP SD TK

KK Istri Anak Anak

NO NAMA

BCG

POLIO

IMUNISASI DPT HEP B 2 3 1 2 V v v v V v v v V v v v V v v v 3 v v v v

CAM
v v v v

DT 1
v v v v

TT 2 v v v v 1 v v v v 2 v v v v

1 2 3 4

Tn. S Ny. D An. C An. J

v v v v

1 2 3 4 1 v v v v v v v v v v v v v v v v v v v v

g.

genogram

Tn. K

Ny. M

Tn. M

Ny .A

Tn. S

N y. D

A n. C

A n. J

Keterangan : Laki-laki

Perempuan

Laki-laki dan perempuan telah meninggal

Pasien

Ayah dan ibu dari Tn. S sudah meninggal sedangkan dari Ny. D masih hidup. Tn.S mempunyai dua orang anak yaitu An. C yang berusia 13 tahun dan An. J yang berusia 8 tahun. Anak kedua Tn.S yaitu An.J berusia 8 tahun, menderita sakit Typoid. Kedua anak Tn.S masih tinggal satu keluarga dan belum berkeluarga. h. Tipe keluarga

Keluarga inti yaitu terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak.

i.

Suku bangsa

Tn. S berasal dari suku Jawa (kajongan), dan Ny. S berasal dari suku Jawa juga (kajen). Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Tidak ada Keyakinan yang berhubungan dengan pemahaman Tn.S terhadap penyakit anaknya. Bila sakit Tn.S membawanya ke bidan atau pelayanan terdekat agar mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut. j. Agama Islam. Tn.S biasa mengikuti kegiatan keagamaan di desanya. Kegiatan itu berupa pengajian rutin di rumah-rumah tetangga secara bergantian. Tn.S aktif di masyarakat meski kesehariannya yang sibuk. Anak-anaknya juga mengikuti jejak Tn.S yang rajin dalam beribadah. Anggota keluarga mengikuti sholat jamaah di Mushola dekat rumahnya. k. Status sosial ekonomi keluarga Tn.S. adalah tulang punggung keluarga. Yang bertanggung jawab kepada keluarga nya. Sedangkan Ny.D sebagai ibu rumah tangga yang mengatur kebutuhan seharihari. Ekonomi keluarga menjadi tanggungan Tn. S. Pendapatan rata-rata Tn.S Rp. 2.000.000,00 per bulan. Tn.S memiliki rumah permanen berlantai keramik. Beratap genting yang aman saat musim hujan datang. Perabotan rumah tangganya cukup memadai. l. Aktivitas rekreasi keluarga Saat hari libur biasanya TN. S mengajak istri dan kedua anaknya berkunjung ke keluarga atau kerabat dekatnya, tak jarang pula Tn. S mengajak keluarga untuk berekreasi ke tempat-tempat rekreasi.

RIWAYAT TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA m. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Tahap perkembangan keluarga saat ini adalah tahap perkembangan usia sekolah, karena anak terakhir masih berusia 8 tahun dan masih bersekolah kelas 2 SD.

n.

Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Tahap perkembangan keluarga sudah terpenuhi. o. Riwayat kelurga inti

Tn.S adalah penduduk asli kajongan. Sedangkan Ny. D adalah penduduk dari Kajen. Mereka bertemu pada saat Tn. S di tempatkan kerja di SD 02 Kajen. Ny. D bekerja bersama ibunya dikantin SD tersebut, dan pada saat itu Tn.S beli makan di kantin dan jatuh cinta pada pandangan pertama.. Mempunyai dua orang anak yaitu An. C dan An.J. Anak kedua Tn.S yaitu An.J menderita sakit Typoid beberapa bulan yang lalu.. p. Riwayat keluarga sebelumnya

Hubungan keluarga antara Tn.S dengan Ny.D baik-baik saja. Tidak ada konflik dengan Tn.S. Keluarganya sangat harmonis. Kehidupan sehari-hari dilalui dengan penuh suka cita. Dijumpai penyakit yang di derita An.J. 2. LINGKUNGAN a. Karakteristik rumah Terdapat ventilasi dan jendela dalam setiap kamar, memiliki sirkulasi dan pencahayaan yang bagus, terdiri dari 3 kamar, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 ruang keluarga dan 1 kamar mandi serta toilet, terdapat taman dihalaman depan. Denah rumah :

b.

Karakteristik tetangga dan komunitas

Lingkungan tetangga umumnya berasal dari desa yang sama. Tetangga sering terlihat duduk bersama di waktu sore hari,ditempat tinggal Ny D. Sekedar untuk bergurau. c. Mobilitas geografis keluarga

Anggota keluarga tinggal dalam komunitas dan lingkungan sekitar rumah yang sama. Setiap hari Tn.S beraktivitas di dalam kotanya. Begitu juga dengan istri dan anaknya. Istrinya biasa pergi ke pasar tiap pagi hari sedangkan anaknya bersekolah masih dalam kawasan kajen. d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Ny.D mengikuti pengajian rutin dirumah tetangga secara bergantian. Tetangga sering bermain ke rumah Ny.D untuk sekedar ngobrol. Tn.S mengikuti kerja bakti yang diadakan masyarakat lingkungan. Tn.S juga aktif dalam pengorganisasian dalam pengurusan Musholla. Kedua anaknya membantu kerja bakti atau bantu-bantu membersihkan rumah.

e.

Sistem pendukung keluarga

Menurut keterangan Tn.S, keluarga mampu bertahan dengan kerja keras Tn.S. 3. STRUKTUR KELUARGA a. Pola komunikasi keluarga

Pola komunikasi yang digunakan adalah pola komunikasi terbuka. Setiap anggota keluarga bebas menyampaikan keluhannya. Bila ada masalah, mereka selalu mengkomunikasikan bersama. Menurut Tn.S tidak ada hal yang ditutupi dalam keluarga. Apabila ada yang tidak sesuai, keluarga menyampaikan secara terbuka dengan sikap positif. b. Struktur kekuatan keluarga

Pemegang keputusan keluarga adalah Tn.S. Namun sebelum mengambil keputusan, Tn.S terlebih dahulu mendiskusikannya kepada Ny D. Bila ada masalah yang sangat penting seluruh anggota keluarga dikumpulkan guna mencari jalan keluar. c. Struktur peran (formal dan informal) Peran formal Tn.S adalah sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah. Sedangkan Ny.D juga berperan sebagai pengatur rumah tangga, seperti memasak dan lain-lainnya. Kedua anaknya berkewajiban belajar agar mendapat prestasi dikelasnya. d. Nilai dan norma keluarga

Fungsi nilai dan budaya yang dianut keluarga adalah saling menghormati antara anggota keluarga satu dengan lainnya dan menghormati yang lebih tua. Hal ini terlihat pada anak-anak yang setiap perawat berkunjung ke rumahnya selalu menyalami. Nilai yang ada dikeluarga merupakan gambaran nilai agama yang dianutnya (Islam), tidak terlihat adanya konflik dalam nilai dan tiada yang mempengaruhi status kesehatan keluarga dalam menggunakan nilai yang diyakini oleh keluarga.

4. FUNGSI KELUARGA

a.

Fungsi afektif

Orang tua menyadari adanya kebutuhan-kebutuhan pada setiap anggota keluarga, seperti kebutuhan terhadap makanan, perhatian, kasih sayang. Setiap anggota keluarga merasa akrab dengan keluarga lainnya. Anak juga tampak senang bermain dengan ayah dan ibunya. b. Fungsi sosialisasi

Ibu secara rutin mengontrol perilaku anak, seperti disiplin dalam mengatur waktu. Bersikap sopan terhadap yang lebih tua. Ibu mengatakan jika anaknya salah, ia akan menegur. Kalau perlu ibu akan bersikap keras dan tegas namun tidak berlebihan. Anak tidak dibiarkan begitu saja dalam bertindak. Anak diberikan kebebasan dalam bertindak namun harus tetap berlandaskan pada rasa tanggung jawab dan norma. c. Fungsi perawatan kesehatan

Ayah dan keluarga mempunyai kebiasaan menggunakan fasilitas kesehatan apabila mereka merasa perlu, misalnya bila anak sakit kepala atau kembung, dan panas biasanya ibu terlebih dahulu membeli obat diwarung seperti : sanmol, tolak angin, kadang kadang sembuh, bila tidak sembuh anaknya baru di bawa ke bidan terdekat. An.J sering melakukan olah raga ringan seperti jalan santai pada pagi, karena olah raga itu penting. d. Fungsi reproduksi Keluarga Tn.S mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarganya. Keluarga Tn.S juga sebagai tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara universal, diantaranya seks yang sehat dan berkualitas. Tn.S memiliki tiga orang anak, satu laki- laki dan dua orang perempuan yang ketiganya tinggal bersama Tn.S e. Fungsi ekonomi Tn.S berlaku sebagai kepala keluarga dimana pemenuhan kebutuhan sehari hari dipenuhi oleh Tn.S.

5. STRESS DAN KOPING KELUARGA a. Stresor jangka panjang dan pendek

Penyakit typoid yang diderita An.J merupakan masalah yang harus diatasi. Meski typoid tidak dapat disembuhkan namun dengan mengurangi/ menghindari faktor pencetus penyakit itu akan mampu diatasi. Stresor jangka panjang menurut An.J tidak ada. Jika ada masalah, keluarga akan menyelesaikan secara spontan tanpa menunggu berlarut-larut. Namun masalah diselesaikan dengan pelan-pelan tanpa dibuat stres. b. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stresor

Jika ada masalah keluarga menghadapinya dengan tenang, mencari alternatif penyelesaiannya dan meyakini setiap masalah ada jalan keluarnya. Menurut keluarga masalah keluarga yang sangat penting diatasi adalah bila anak sedang sakit. c. Strategi koping yang digunakan

Koping yang digunakan adalah dengan memecahkan masalah secara bersama-sama. Apabila tidak menemukan jalan keluar atau mengalami kebuntuan, Tn.S akan mengumpulkan anak-anaknya dan melakukan sharing. Berikutnya jika tidak menemukan titik terang Tn.S akan melakukan voting. d. Strategi adaptasi disfungsional

Tidak ditemukan adaptasi yang disfungsional. 6. PEMERIKSAAN FISIK No 1 Nama An. J Vital sign Kepala Nadi: 92 Rambut x / menit C Suhu: 37 ada luka Dada -dada Abdomen Inspeksi : Tidak terdapat asites, Auskultasi: dan peristaltik 12 x/menit Perkusi : Ekstremitas tidak terdapat kelainan, kulit sedikit kering, kuku bersih, tidak

hitam, tidak Inspeksi bekas Dada di simetris antara : kanan ada

TD: 100 / kepala , 70 mmHg Mata menit ikterik,

RR: 24 x / sklera tidak kiri,

tidak usus normal tampak

konjungtiva penggunaan

tidak anemis Hidung tidak terdapat pembesaran polip, terhadap sedikit sekret Mulut mukosa bibir lembab, tidak stomatitis.

otot

bantu Tympani Palpasi tidak ada

terdapat : luka.

pernapasan : perkusi : sonor, Palpasi getaran dinding dada sama auskultasi : : Vesikuler -Jantung inspeksi tidak terlihat ictus cordis Perkusi Palpasi cordis ICS 5 Auskultasi : tidak terdapat bunyi tambahan : : di bunyi pekak teraba ictus

Bunyi paru pembesaran hepar, tidak : ada tekan. nyeri

7. HARAPAN KELUARGA An.J dan keluarga berharap perawat dapat memberikan informasi kesehatan sehingga An.J dapat memelihara kesehatannya.

B. ANALISA DATA NO 1. DATA Subyektif : Tn.S mengatakan anak ketiganya yaitu An.J punya riwayat types beberapa bulan yang lalu 2. Subyektif Tn.S mengatakan tidak mengetahui Typoid yang diderita An.J Obyektif Saat ditanya Tn.S tampak bingung. Kebutuhan belajar PROBLEM Resiko kekambuhan

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko kekambuhan penyakit typoid pada An.G berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit 2. Kebutuhan belajar tentang penyakit typoid berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal sumber informasi. D. SKORING
1. Dx : Resiko kekambuhan penyakit typoid pada An.J berhubungan dengan ketidak

mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

No Kriteria 1 Sifat Masalah : Actual Resiko Potensial

Bobot/skor Total skor (1) 3/3 X 1 = 1 3 2 1

Pembenaran Resiko kekambuhan penyakit typoid yang di tandai oleh : demam tinggi s: 39C, lidah

Kemungkinan masalah untuk diubah : Mudah Sebagian Tidak dapat

(2) 2 1 0

1/2 X 2 = 1

Potensial masalah untuk dicegah : Tinggi Sedang Rendah Menonjolnya masalah : Masalah berat harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak harus ditangani Masalah tidak dirasakan TOTAL SKORING

(1) 3 2 1 (1) 2 1 0

2/3 X 1 = 2/3

berwarna putih dan kotor 1. Ada keinginan untuk melakukan perawatan. 2. An.J berpendidikan SMA 3. Pen getahuan An.J tentang penyakit typoid masih rendah 4. An.J mampu untuk berobat Perlu waktu untuk menyembuhkan penyakit typoid

2/2 X 1 = 1

Resiko kekambuhan dapat terjadi, jika tidak dicegah dengan gaya hidup sehat

2/3

2. Kebutuhan belajar tentang penyakit typoid berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal sumber informasi. No Kriteria 1 Sifat Masalah : Actual Bobot/skor (1) 3 Total skor 3/3 X 1 = 1 Pembenaran Kebutuhan belajar tentang penyakit

Resiko Potensial

2 1

typoid yang ditandai dengan klien mampu mengetahui penyakit yang di derita An.J Ada keinginan keluarga untuk belajar

Kemungkinan masalah untuk diubah : Mudah Sebagian Tidak dapat Potensial masalah untuk dicegah : Tinggi Sedang Rendah Menonjolnya masalah : Masalah berat harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak harus ditangani Masalah tidak dirasakan TOTAL SKORING

(2) 2 1 0 (1) 3 2 1 (1) 2 1 0

X2=1

1/3 X 1 = 1/3

Perlu waktu untuk mengenal sumber informasi tentang penyakit typoid

X 1 = 1/2

Jika keluarga tidak mengenal tentang penyakit typoid maka akan terjadi kekambuhan berulang

5/6

E. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kebutuhan belajar tentang penyakit typoid berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal sumber informasi.
2. Resiko kekambuhan penyakit typoid pada An.J berhubungan dengan ketidak

mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

F. PERENCANAAN No. Dx 1. Kebutuhan belajar tentang penyakit typoid berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal sumber informasi. Tujuan
Kebutuhan belajar dapat

Intervensi Berika n penyuluahn kesehatan tentang kondisi, prognosis pengobatan . Kaji informasi tentang kondisi individu dan keluarga
-

Paraf

diatasi dilakukan

Setelah pertemuan

2x45 menit diharapkan keluarga mampu: keluarga mampu mengenali masalah typoid

dan

Beri untuk tandaIdentif

tahu melaporkan adanya


-

tanda typoid. ikasi tanda/gejala yang memerlukan upaya medis 2. Resiko kekambuhan penyakit typoid pada An.J berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Resiko dilakukan kekambuhan pertemuan - Kaji informasi tentang kondisi individu keluarga
- Jelask

evaluasi

dapat diatasi Setelah 2x45 menit diharapkan keluarga mampu: tkan

dan

Mengen an
Menyebu secara

al masalah

dan

diskusikan dengan keluarga

sederhana pengertian

tentang typoid.

penyakit

pengertian penyakitya dengan menggunakan lembar dan leaflet - Berika n rinforcement positif keluarga
- Jelask

Menyebutkan penyebab penyakit diderita Menyebutkan tanda dan gejala serta apabila baik Memanfaat kan Fasilitas Kesehatan akibatnya tidak yang

balik

pada

dirawatdengan an

dan

diskusikan dengan keluarga pengertian penyakitnya


- Motiv

asi untuk

keluarga

mengidentifika si penyebab
- Jelask

penyakitnya an diskusikan dengan keluarga tentang merawat anggota keluarga yang sedang sakit.
- Berika

dan

cara

n reinforcement positif atas kemampuan keluarga dalam menyebutkan cara merawat anggota keluarga yang sedang sakit.
- Jelask

cara

an diskusikan dengan keluarga

dan pihak

mengenai halhal yang bisa dilakukan untuk memodifikasi lingkungan guna menghindari terjadinya kekambuhan penyakitnya. - Jelask an mengenai ke pentingnya datang Puskesmas