Anda di halaman 1dari 8

PEMBAGIAN HADITS DARI SEGI KUANTITAS DAN KUALITAS HADITS MAKALAH DIPRESENTASIKAN PADA KULIAH STUDY AL-HADITS DOSEN

PEMBIMBING PROF. DR. H. SULAIMAN ABDULLAH

OLEH : BENPANI KONSENTRASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan keku atan lahir bathin makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga dili mpahkan-Nya kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Makalah ini membahas Pembagian hadits dari Segi Kuantitas dan Kualitas ha dits yang menjadi tugas bagi mahasiswa Pasca Sarjana IAIN STS Jambi dalam mata ku liah Study Al-Hadits pada Prodi konsentrasi Kurikulum Pendidikan Islam yang dibi mbing oleh Prof. Dr. H. Sulaiman Abdullah Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhil afan. Oleh karena itu kepada semua pembaca dan pakar dimohon saran dan kritik ya ng bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. kepada semua pihak yang telah memberikan saran dan kritik demi sempurnan ya makalah ini, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga makalah ini da pat bermanfaat. Amin yan Rabbal Alamin

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring perkembangan ilmu pengetahuan banyak bermunculan penelitian tentang kaji an keilmuan Islam, terutama dalam ilmu hadits banyak sekali bahasan dalam ilmu h adits yang sangat menarik dan sangat penting untuk dibahas dan dipelajari, terut ama masalah ilmu hadits. Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadits yang banyak dan beragam. Tetapi kemudian kebingungan itu menjadi hilang setelah melihat pembagian hadits yang ternyata dilihat dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan, bukan hanya segi pandangan saja. Misalnya hadits ditinjau dari segi kuantitas jumlah p erawinya, hadits ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan. Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadits maka pada bahasan ini hnya akan me mbahas pembagian hadits dari segi kuantitas dan segi kualitas hadits saja. B. Rumusan Masalah 1. Pembagian Hadits dari segi kuantitas perawi 2. Pembagian hadits dari segi kualitas

BAB II PEMBAHASAN A. Pembagian Hadits sari segi Kuantitas Perawi Para ulama hadits berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari aspek kuantitas atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita. Diantara mereka ada yan g mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadits mutawatir, masyhur, dan ahad. Ada juga yang menbaginya menjadi dua, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. U lama golongan pertama, menjadikan hadits masyhur sebagai berdiri sendiri, tidak termasuk ke dalam hadits ahad, ini dispnsori oleh sebagian ulama ushul seperti d iantaranya, Abu Bakr Al-Jashshash (305-370 H). Sedangkan ulama golongan kedua di ikuti oleh sebagian besar ulama ushul (ushuliyyun) dan ulama kalam (mutakallimun ). Menurut mereka, hadits masyhur bukan merupakan hadits ynag berdiri sendiri, a kan tetapi hanya merupakan bagian hadits ahad. Mereka membagi hadits ke dalam du a bagian, yaitu hadits mutawatir dan ahad. 1. Hadits Mutawatir a. Pengertian Hadits Mutawatir Secara etimologi, kata mutawatir berarti : Mutatabi (beriringan tanpa jarak). Dal am terminologi ilmu hadits, ia merupakan haidts yang diriwayatkan oleh orang ban yak, dan berdasarkan logika atau kebiasaan, mustahil mereka akan sepakat untuk b erdusta. Periwayatan seperti itu terus menerus berlangsung, semenjak thabaqat ya ng pertama sampai thabaqat yang terakhir. Dari redaksi lain pengertian mutawatir adalah : Hadits yang berdasarkan pada panca indra (dilihar atau didengar) yang diberitaka n oleh segolongan orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut tradis i mereka sepakat berbohong. Ulama mutaqaddimin berbeda pendapat dengan ulama mutaakhirin tentang syarat-syara t hadits mutawatir. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa hadits mutawatir tidak termasuk dalam pembahasan ilmu isnad al-hadits, karena ilmu ini membicarakan ten tang shahih tidaknya suatu khabar, diamalkan atau tidak, adil atau tidak perawin

ya. Sementara dalam hadits mutawatir masalah tersebut tidak dibicarakan. Jika su dah jelas statusnya sebagai hadits mutawatir, maka wajib diyakini dan diamalkan. b. Syarat Hadits Mutawatir 1) Hadits Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, dan dapa t diyakini bahwa mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Ulama berbeda pend apat tentang jumlah minimal perawi. Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan bahwa jumlah perawi hadits mutawatir sekurang-kurangnya 5 orang, alasannya karena jumlah Nab i yang mendapat gelar Ulul Azmi sejumlah 5 orang. Al-Istikhari menetapkan minima l 10 orang, karena 10 itu merupakan awal bilangan banyak. Demikian seterusnya sa mpai ada yang menetapkan jumlah perawi hadits mutawatir sebanyak 70 orang. 2) Adanya keseimbangan antara perawi pada thabaqat pertama dan thabaqat ber ikutnya. Keseimbangan jumlah perawi pada setiap thabaqat merupakan salah satu pe rsyaratan. 3) Berdasarkan tanggapan pancaindra Berita yang disampaikan para perawi harus berdasarkan pancaindera. Artinya, haru s benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Oleh karena itu, apabila berita itu merupakan hasil renungan, pemikiran, atau rangkuman dari suat u peristiwa lain, atau hasil istinbath dari dalil yang lain, maka tidak dapat di katakan hadits mutawatir. c. Macam-macam mutawatir Hadits mutawatir ada tiga macam, yaitu : 1) Hadits mutawatir Lafzhi, yaitu hadits yang diriwayatkan dengan lafaz dan makna yang sama, serta kandungan hokum yang sama, contoh : Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang ini sengaja berdusta atas namaku, mak a hendaklah dia siap-siap menduduki tempatnya di atas api neraka. Menurut Al-Bazzar, hadits ini diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. Al-Nawawi meny atakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh 200 orang sahabat. 2) Hadits Mutawatir Manawi, yaitu hadits mutawatir yang berasal dari berbaga i hadits yang diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda, tetapi jika disimpulk an, mempunyai makna yang sama tetapi lafaznya tidak. Contoh hadits yang meriwaya tkan bahwa Nabu Muhammad SAW mengangkat tangannya ketika berdoa. Abu Musa Al-Asyari berkata bahwa Nabi Muhammad SAW, tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam berdoa hingga nampak putih kedua ketiaknya kecuali saat melakuka n doa dalam sholat istisqo (HR. Bukhori dan Muslim) 3) Hadits Mutawatir Amali, yakni amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian diikuti oleh para sahabat, kemudian diikuti lagi ole h Tabiin, dan seterusnya, diikuti oleh generasi sampai sekarang. Contoh, hadits-h adits nabi tentang shalat dan jumlah rakaatnya, shalat id, shalat jenazah dan se bagainya. Segala amal ibadah yang sudah menjadi ijma di kalangan ulama dikategori kan sebagai hadits mutawatir amali. Mengingat syarat-syarat hadits mutawatir sangat ketat, terutama hadits mutawatir lafzhi, maka Ibn Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutwatir lafzhi t idak mungkin ada. Pendapat mereka dibantah oleh Ibn Shalah. Dia menyatakan bahwa hadits mutawatir (termasuk yang lafzhi) memang ada, hanya jumlahnya sangat terb atas. Menurut Ibn Hajar Al-Asqolani, Hadits mutawatir jumlahnya banyak, namun un tuk mengetahuinya harus dengan cara menyelidiki riwayat-riwayat hadits serta kel akuan dan sifat perawi, sehingga dapat diketahui dengan jelas kemustahilan peraw i untuk sepakat berdusta terhadap hadits yang diriwayatkannya. Kitab-kitab yang secara khusus memuat hadits-hadits mutawatir adalah sebagai ber ikut : 1) Al-Azhar Al-Mutanatsirah fi Al-Mutawatirah, yang dsusun oleh Imam Suyuth i. Muhammad Ajaj Al-Khatib, kitab ini memuat 1513 hadits. 2) Nazhm Al-Mutanatsirah min Al- Hadits al Mutawatir yang disusun oleh Muha

mmad bin Jafar Al-Kattani (w. 1345 H) 2. Hadits Ahad Kata ahad merupakan bentuk plural dari kata wahid. Kata wahid berarti satu jadi, kara ahad berarti satuan, yakni angka bilangan dari satu sampai sembilan. Menuru t istilah hadits ahad berarti hadits yagn diriwayatkan oleh orang perorangan, at au dua orang atau lebih akan tetapi belum cukup syarat untuk dimasukkan kedalam kategori hadits mutawatir. Artinya, hadits ahad adalah hadits yang jumlah perawi nya tidak sampai pada tingkatan mutawatir. Ulama ahli hadits membagi hadits ahad menjadi dua, yaitu masyhur dan ghairu masy hur. Hadits ghairu masyhur terbagi menjadi dua, yaitu aziz dan ghairu aziz. A. Hadits Masyhur Menurut bahasa, masyhur berarti sesuatu yang sudah tersebar dan popular. Sedangkan menurut istilah ada beberapa definisi, antara lain : Hadits yang diriwayatkan dari sahabat tetapi bilangannya tidak sampai pada tingka tan mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan orang yang setelah me reka. Hadits masyhur ada yang berstatus shahih, hasan dan dhaif. Hadits masyhur yang b erstatus shahih adalah yang memenuhi syarat-syarat hadits shahih baik sanad maup un matannya. Seperti hadits ibnu Umar. Barang siapa yang hendak pergi melaksanakan shalat jumat hendaklah ia mandi. Sedangkan hadits masyhur yang berstatus hasan adalah hadits yang memenuhi ketent uan-ketentuan hadits hasan, baik mengenai sanad maupun matannya. Seperti hadits Nabi yang berbunyi: tidak memberikan bahaya atau membalas dengan bahaya yang setimpal. Adapun hadits masyhur yang dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hasan, baik pada sanad maupun pada matannya, seperti hadits : menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Dilihat dari aspek yang terakhir ini, hadits masyhur dapat digolongkan kedalam : 1) Masyhur dikalangan ahli hadits, seperti hadits yang menerangkan bahwa Ra sulullah SAW membaca doa qunut sesudah rukuk selama satu bulan penuh berdoa atas g olongan Riil dan Zakwan. (H.R. Bukhari, Muslim, dll). 2) Masyhur dikalangan ulama ahli hadits, ulama-ulama dalam bidang keilmuan lain, dan juga dikalangan orang awam, seperti : 3) Masyhur dikalangan ahli fiqh, seperti :

Raulullah SAW melarang jual beli yang didalamnya terdapat tipu daya. 4) Masyhur dikalangan ahli ushul Fiqh, seperti : Apabila seorang hakim memutuskan suatu perkara kemudian dia berijtihad dan kemudi an ijtihadnya benar, maka dia memperoleh dua pahala (pahala Ijtihad dan pahala k ebenaran), dan apabila ijtihadnya itu salah, maka dia memperoleh satu pahala (pa hala Ijtihad). 5) Masyhur dikalangan ahli Sufi, seperti :

Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian aku ingin dikenal, maka kuciptakan makhluk dan melalui merekapun mengenal-Ku 6) Masyhur dikalangan ulama Arab, seperti ungkapan, Kami orang-orang Arab ya g paling fasih mengucapkan (dha) sebab kami dari golongan Quraisy.

B. Hadits Ghairu Masyhur Ulama ahli hadits membagi hadits ghairu masyhur menjadi dua yaitu, Aziz dan Ghar ib. Aziz menurut bahasa berasal dari kata azza-yaizu, artinya sedikit atau jarang. Menurut istilah hadits Aziz adalah hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua tingkatan sanad. Menurut Al-Thahhan menjelaskan bahwa sekalipun dalam sebagian Thabaqat terdapat perawinya tiga orang atau lebih, tidak ada masalah, asal dari sekian thabaqat te rdapat satu thabaqat yang jumlah perawinya hanya dua orang. Oleh karena itu, ada ulama yang mengatakan bahwa hadits azaz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi. Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa suatu hadits dapat dikatakan hadits Aziz bukan hanya yang diriwayatkan dua orang pada setiap tingkatnya, tetapi sel agi ada tingkatan yang diriwayatkan oleh dua rawi, contoh hadits aziz : tidak beriman seorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya dari pada di rinya, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia, (H.R. Bukhari dan Muslim)

Adapun hadits Gharib, menurut bahasa berarti al-munfarid (menyendiri). Dalam tradi si ilmu hadits, ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menye ndiri dalam meriwayatkannya, baik yang menyendiri itu imamnya maupun selainnya. Menurut Ibnu Hajar yang dimaksud dengan hadits gharib adalah hadits yang dalam sa nadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya, dimana saja penye ndirian dalam sanad itu terjadi. Penyendirian perawi dalam meriwayatkan hadits itu bias berkaitan dengan personal itasnya, yakni tidak ada yang meriwayatkannya selain perawi tersebut, atau menge nai sifat atau keadaan perawi itu sendiri. Maksudnya sifat dan keadaan perawi it u berbeda dengan sifat dan kualitas perawi-perawi lain, yang juga meriwayatkan h adits itu. Disamping itu, penyendirian seorang perawi bias terjadi pada awal, te ngah atau akhir sanad. B. Pembagian hadits dari segi Kualitas Sebagiamana telah dikemukakan bahwa hadits muatawatir memberikan penertian yang yaqin bi alqath, aritnya Nabi Muhammad benar-benar bersabda, berbuat atau menya takan taqrir (persetujuan) dihadapan para sahabat berdasarkan sumber-sumber yang banyak dan mustahil mereka sepakat berdusta kepada Nabi. Karena kebenarannya su mbernya sungguh telah meyakinkan, maka dia harus diterima dan diamalkan tanpa pe rlu diteliti lagi, baik terhadap sanadnya maupun matannya. Berbeda dengan hadits ahad yang hanya memberikan faedah zhanni (dugaan yang kuat akan kebenarannya), mengharuskan kita untuk mengadakan penyelidikan, baik terhadap matan maupun sana dnya, sehingga status hadits tersebut menjadi jelas, apakah diterima sebagai huj jah atau ditolak. Sehubungan dengan itu, para ulama ahli hadits membagi hadits dilihat dari segi k ualitasnya, menjadi tiga bagian, yaitu hadits shahih, hadits hasan, dan hadits d haif. 1. Hadits shahih Menurut bahasa berarti sah, benar, sempurna, tiada celanya. Secara istilah, bebera pa ahli memberikan defenisi antara lain sebagai berikut : Menurut Ibn Al-Shalah, Hadits shahih adalah hadits yang sanadnya bersambung (mutt asil) melalui periwayatan orang yang adil dan dhabith dari orang yang adil dan d habith, sampai akhir sanad tidak ada kejanggalan dan tidak berillat. Menurut Imam Al-Nawawi, hadits shahih adalah hadits yang bersambung sanadnya, dir iwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabith, tidak syaz, dan tidak berillat. Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadits shahih adalah : 1 ) sanadnya bersambung, 2) perawinya bersifat adil, 3) perawinya bersifat dhabith , 4) matannya tidak syaz, dan 5) matannya tidak mengandung illat. 2. Hadits Hasan a. Pengertian dari segi bahasa hasan dari kata al-husnu ( ) bermakna al-jamal ( ) yang berarti k nurut istilah para ulama memberikan defenisi hadits hasan secara beragam. Namun, yang lebih kuat sebagaimana yang dikemukan oleh Ibnu hajar Al-Asqolani dalam An -Nukbah, yaitu :

khabar ahad yang diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna kedhabitannya, bers ambung sanadnya, tidak berillat, dan tidak ada syaz dinamakan shahih lidztih. Jik a kurang sedikit kedhabitannya disebut hasan Lidztih. Dengan kata lain hadits hasan adalah : Hadits hasana adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh orang ad il, kurang sedikit kedhabitannya, tidak ada keganjilan (syaz) dan tidak illat. Criteria hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih. Perbedaannya hanya terle tak pada sisi kedhabitannya. Hadits shahih ke dhabitannya seluruh perawinya haru s zamm (sempurna), sedangkan dalam hadits hasan, kurang sedikit kedhabitannya ji ka disbanding dengan hadits shahih. b. Contoh hadits Hasan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Al-H asan bin Urfah Al-Maharibi dari Muhammad bin Amr dari Abu salamah dari Abi Hurai rah, bahwa Nabi SAW bersabda : Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun dan sedikit sekali yang melebihi demikian i tu. c. Macam-macam Hadits Hasan Sebagaimana hadits shahih yang terbagi menjadi dua macam, hadits hasan pun terba gi menjadi dua macam, yaitu hasan lidzatih dan hasan lighairih. Hadits hasan lidzatih adalah hadits hasan dengan sendirinya, karena telah memenu hi segala criteria dan persyaratan yang ditemukan. Hadits hasan lidzatih ebagaim ana defenisi penjelasan diatas. Sedangkan hadits hasan lighairih ada beberapa pendapat diantaranya adalah : adalah hadits dhaif jika diriwayatkan melalui jalan (sanad) lain yang sama atau l ebih kuat. adalah hadits dhaif jika berbilangan jalan sanadnya dan sebab kedhaifan bukan kar ena fasik atau dustanya perawi. Dari dua defenisi diatas dapat dipahami bahwa hadits dhaif bias naik manjadi has an lighairih dengan dua syarat yaitu : 1) Harus ditemukan periwayatan sanad lain yang seimbang atau lebih kuat. 2) Sebab kedhaifan hadits tidak berat seperti dusta dan fasik, tetapi ringa n seperti hafalan kurang atau terputusnya sanad atau tidak diketahui dengan jela s (majhul) identitas perawi. d. Kehujjahan hadits Hasan Hadits hasan dapat dijadikan hujjah walaupun kualitasnya dibawah hadits shahih. Semua fuqaha sebagian Muhadditsin dan Ushuliyyin mengamalkannya kecuali sedikit dari kalangan orang sangat ketat dalam mempersyaratkan penerimaan hadits (musyad didin). Bahkan sebagian muhadditsin yang mempermudah dalam persyaratan shahih (m utasahilin) memasukkan kedalam hadits shahih, seperti Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah. 3. Hadits Dhaif a. Pengertian Hadits Dhaif bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dhaif ( ) berarti lemah lawan dari Al-Qawi ( ) yang berarti kuat. Kelemahan hadits dhaif ini karena sanad dan matann ya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagian hujjah. Dalam isti

lah hadits dhaif adalah : Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi. Atau defenisi lain yang bias diungkapkan mayoritas ulama : Hadits yang tidak menghimpun sifat hadits shahih dan hasan. Jika hadits dhaif adalah hadits yang tidak memenuhi sebagain atau semua persyara tan hadits hasan dan shahih, misalnya sanadnya tidak bersambung (muttasshil), Pa ra perawinya tidak adil dan tidak dhabith, terjadi keganjilan baik dalam sanad a au matan (syadz) dan terjadinya cacat yang tersembunyi (Illat) pada sanad atau ma tan. b. contoh hadits dhaif hadits yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi melalui jalan hakim Al-Atsram dari Abu Tamimah Al-Hujaimi dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda : barang siapa yang mendatang seorang wanita menstruasi (haid) atau pada dari jala n belakang (dubur) atau pada seorang dukun, maka dia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam sanad hadits diatas terdapat seorang dhaif yaitu Hakim Al-Atsram yang dini lai dhaif oleh para ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Thariq At- Tahzib memberik an komentar : padanya lemah. c. Hukum periwayatan hadits dhaif Hadits dhaif tidak identik dengan hadits mawdhu (hadits palsu). Diantara hadits d haif terdapat kecacatan para perawinya yang tidak terlalu parah, seperti daya ha palan yang kurang kuat tetapi adil dan jujur. Sedangkan hadits mawdhu perawinya p endusta. Maka para ulama memperbolehkan meriwayatkan hadits dhaif sekalipun tanp a menjelaskan kedhaifannya dengan dua syarat, yaitu : 1) tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat Allah 2) Tidak menjelaskan hokum syara yang berkaitan dengan halal dan haram, teta pi, berkaitan dengan masalah mauizhah, targhib wa tarhib (hadits-hadits tentang a ncaman dan janji), kisah-kisah, dan lain-lain. Dalam meriwayatkan hadit dhaif, jika tanpa isnad atau sanad sebaiknya tidak meng gunakan bentuk kata aktif (mabni malum) yang meyakinkan (jazam) kebenarannya dari Rasulullah, tetapi cukup menggunakan bentuk pasif (mabni majhul) yang meragukan (tamridh) misalnya : diriwayatkan, dipindahkan, pad Periwayatan dhaif dilakukan karena berhati-hati (ikhtiyath). d. Pengamalan hadits dhaif Para ulama berpendapat dalam pengamalan hadits dhaif. Perbedaan itu dapat dibagi menjadi 3 pendapat, yaitu : 1) Hadits dhaif tidak dapat diamalkan secara mutlak baik dalam keutamaan am al (Fadhail al amal) atau dalam hokum sebagaimana yang diberitahukan oleh Ibnu sa yyid An-Nas dari Yahya bin Main. pendapat pertama ini adalah pendapat Abu Bakar I bnu Al-Arabi, Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu hazam. 2) Hadits dhaif dapat diamalkan secara mutlak baik dalam fadhail al-amal ata u dalam masalah hokum (ahkam), pendapat Abu Dawud dan Imam Ahmad. Mereka berpend apat bahwa hadits dhaif lebih kuat dari pendapat para ulama. 3) Hadits dhaif dapat diamalkan dalam fadhail al-amal, mauizhah, targhib (jan ji-janji yang menggemarkan), dan tarhib (ancaman yang menakutkan) jika memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani, ya itu berikut : Tidak terlalu dhaif, seperti diantara perawinya pendusta (hadits mawdhu) atau dit uduh dusta (hadits matruk), orang yan daya iangat hapalannya sangat kurang, dan berlaku pasiq dan bidah baik dalam perkataan atau perbuatan (hadits mungkar). Masuk kedalam kategori hadits yang diamalkan (mamul bih) seperti hadits muhkam (h adits maqbul yang tidak terjadi pertentanga dengan hadits lain), nasikh (hadits yang membatalkan hokum pada hadits sebelumnya), dan rajah (hadits yang lebih ung gul dibandingkan oposisinya).

Tidak diyakinkan secara yakin kebenaran hadits dari Nabi, tetapi karena berhatihati semata atau ikhtiyath. e. Tingkatan hadits dhaif Sebagai salah satu syarat hadits dhaif yang dapat diamalkan diatas adalah tidak terlalu dhaif atau tidak terlalu buruk kedhaifannya. Hadits yang terlalu buruk k edhaifannya tidak dapat diamalkan sekalipun dalam fadhail al-amal. Menurut Ibnu H ajar urutan hadits dhaif yang terburuk adalah mawdhu, matruk, muallal, mudraj, maql ub, kemudian mudhatahrib.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pembagian hadits bila ditinjau dari kuantitas perawinya dapat dibagi menjadi dua , yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Untuk hadits mutawatir juga dibagi lag i menjadi 3 bagian yaitu : mutawatir manawi dan mutawatir amali. Sedangkan hadits ahad dibagi menjadi dua macam, yaitu masyhur dan ghairu masyhur, sedangkan ghair u masyhur dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu, aziz dan ghairu aziz. Sedangkan hadits bila ditinjau dari segi kualitas hadits dapat dibagi menjadi du a macam yaitu hadits maqbul dan hadits mardud. Hadits maqbul terbagi menjadi dua macam yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad yang shahih dan hasan, sedangkan h adits mardud adalah hadits yang dahif. B. Saran-saran Bahwa didalam mempelajari studi hadits hendaklah benar-benar mengetahui pembagia n hadits baik dari segi kuantitas maupun kualitas hadits itu sendiri, supaya tim bul ke ihtiyathan kita dalam menyampaikan hadits, dan untuk bias membedakan kesh ahihan suatu hadits harus mengetahui pembagian-pembagian hadits. Ditakutkan nant i kita termasuk golongan orang-orang yang menyebarkan hadits-hadits palsu.

DAFTAR PUSTAKA Moh. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, Jakarta : Guang Persada Press, 2008 Abdul Majid Khon, Ulumul Hadits, Jakarta: Amzah (cetakan keempat), 2010.