Anda di halaman 1dari 5

Dudung dan Tikus Bersepatu

Dudung menyiapkan perangkap tikusnya, sebuah kotak sepatu usang diletakkan di bawah jendela ruang makan tertata rapi dengan jalur yang dibuat dari cengkeh dan mawar, pada bagian depan kotak; sisi pintu masuk perangkap ia tulis, hei tikus! Masuklah kalau berani! dari dalam kotak, lukisan pelangi dan beberapa koin antik yang ditebar memberi warna dari pantulan cahaya yang masuk melalui jendela. Dudung juga memasang lonceng kecil sebagai alarm dan magnet di bagian tengahnya, sehingga logam apapun akan tertarik dan lengket ke dalam kotak dan Dudung akan lebih mudah menangkap buruannya. Ilmu pengetahuan yang ajaib kata Dudung, tak lupa ia membacakan mantranya Dung dung alakazam... tikus linglung masuk ke dalam. Kleneng, kleneng, kleneng.... belum beberapa lama perangkap disiapkan suara lonceng berbunyi dari dalam kotak seperti memanggil Dudung. Dudung yang tengah santai melepas handle game nintendo wii nya dan dengan segera berlari menuju sumber suara. Kotak sepatu usang, bergerak-gerak, turun naik memantul-mantul meronta-ronta keras. Dari dalam kotak sayu-sayup terdengar suara sumpah serapah dengan dialek yang tidak umum memanggil Dudung dari kejauhan. Sebuah cahaya keemasan berpencaran keluar dari celahcelah kotak, menerangi sekeliling. Kena kau! dudung segera bersitepu menarik kotak yang melompat-lompat tersebut dan mendekapnya dengan tenang. berhenti meronta teman, aku akan mengeluarkanmu, OK! Kotak menjadi sedikit lebih tenang tetapi suara dari dalam kotak semakin mengeras. Keluarkan aku! cepat! Aku kan mengabulkan tiga permohonanmu! Kamu mau apa? Aku bisa memberimu emas yang banyak! umur yang panjang, rupa yang menawan! Semuanya! Semuanya bisa aku berikan! LEPASKAN AKU SEGERA!

Dudung mengendurkan dekapannya dan secara perlahan membuka bagian atas kotak sepatu tersebut dari dalam nampaklah seekor tikus mungil dengan sepatu hitam berkilauan sedang mencengkam koin antik milik Dudung. Tikus tersebut mendongakkan mukanya ke atas. Ia tak bisa bergerak karena hak sepatunya menempel di atas magnet Dudung. Tikus tersebut kaget melihat Dudung! Ternyata hanya anak kecil yang menangkapnya. Sementara Dudung terpesona dengan tangkapannya bahwa ia telah berhasil menjerat tikus kecil bersepatu dengan magnit mainannya. Wow.. keren... Dudung meraih pinggang tikus bersepatu tersebut dan menariknya, dan dengan mudah melepaskannya dari jebakan magnet, iapun menarik koin antiknya yang masih dicengkram sang tikus bersepatu, dan memasukkannya ke saku celana. Hmmfh.. aku tak bisa bernafas, sobat! kata sang tikus terengah. Oya, maafkan aku, tuan tikus Dudung mengendurkan genggamannya, dan beranjak ke atas menuju kamar tidurnya. Dudung pun duduk di atas tempat tidurnya dan ia mulai memikirkan tiga permohonan yang ditawarkan tikus bersepatu tadi. Ok, permohonan pertama, aku ingin ibuku punya anak lagi Dudung memikirkan beberapa kali ibunya mengatakan sangat menyayangi anaknya, dan menginginkan Dudung punya saudara yang akan menemaninya bermain, tapi hingga kini Dudung tetaplah anak simata wayang. Dudung juga ingin punya saudara kandung. Seketika cahaya hijau memancar dari tubuh sang tikus, membuat Dudung takjub. Dari kepala sang tikus juga memancar cahaya emas yang mengitari dinding ruangan kamar Dudung. Permohonan pertama, terkabulkan kata sang tikus kemudian Oya tuan tikus, siapa namamu? Tanya Dudung kemudian, ia masih menggenggam sang tikus. Dan belum berpikir untuk melepasnya.

Namaku Markus, terima kasih untuk bertanya namaku, jarang ada yang peduli dengan namaku, sampai akupun bahkan hampir lupa ia melihat dengan seksama sosok anak kecil yang menangkapnya, matanya yang coklat dan wajahnya yang bundar, terlihat menggemaskan. Maaf aku tidak bertanya dulu, seharusnya dari awal aku menanyakan namamu. Namaku Dudung, senang bisa mengenalmu Dudung tersenyum. Akupun senang bisa mengenalmu, Tuanku Permohonan kedua, aku ingin ayahku mendapatkan pekerjaannya kembali. Cahaya hijau kembali memancar juga cahaya emas kembali mengitari kamar Dudung dan mengabulkan permohonannya. Pemohonan ketiga, aku ingin tidak ada lagi penyakit kanker Namun tidak ada sedikitpun cahaya yang memancar. Kenapa? Tanya Dudung Ayo donk uan tikus, Kabulkan permohonanku! Maafkan aku tuan, aku tidak bisa, penyakitnya terlalu kuat, bahkan seluruh sihir yang ada di dunia ini tidak akan cukup untuk menghilangkannya. Dudung merunduk sejenak, alisnya berkerut, bibirnya terkatup merapat. Bisakah kamu menyembuhkan kanker satu orang saja?... satu orang saja? Dudung menggigit bibirnya menunggu jawaban sang tikus Iya, tentu bisa, tuanku Permohonan ketiga, Sembuhkan kanker sahabatku, Riko! Cahaya hijau kembali bermunculan disertari sinar keemasan mengitari ruang kamar Dudung. Markus melompat keluar dari tangan Dudung dan mendarat di lantai dengan sempurna.

Dudung, kamu adalah anak bijak yang pemurah. Dan saya telah mengabulkan tiga permohonanmu, selamat tinggal tuan yang bijak dan pemurah! Markuspun menghilang dalam sinar keemasan yang memancar kemudian. Dudung tersenyum puas dan berjalan turun ke lantai dasar. Mukanya merah merona sumringah mendengar kabar dari ayahnya bahwa sang ayah tidak jadi dipecat oleh pemimpin perusahaan dan mendapatkan kembali pekerjaan lamanya, sehingga tidak perlu menjual rumah dan tinggal di kontrakan kecil untuk bertahan hidup. Merekapun pergi ke rumah sakit. Dan setibanya di sana, Suster menyampaikan berita gembira yang luar biasa bahwa penyakit kanker yang menurut dokter tidak bisa disembuhkan, tiba-tiba lenyap begitu saja dari tubuh Riko. Apa kabar, sobat? Dudung memeluk Riko Sahabatnya. Mereka tersenyum dan saling tertawa puas. Layaknya dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu, mereka saling berbagi canda dan tawa. Sementara di belakang, para orang tua dan dokter terkagum-kagum akan keajaiban itu. Para dokter bingung dan suster tak kuat menahan haru, ikut menangis bahagia. Para keluarga dan teman-teman, semuanya merasa bahagia. DUDUNG! Ibu Dudung segera berlari ke arah Dudung sebab Dudung telah jatuh pingsan secara tiba-tiba. SUSTER! teriak ayah Dudung. Mungkin ia terlalu gembira hari ini kata Ibu Dudung membelai dahi Dudung di atas pangkuan Riko. Ah mulutnya berdarah! teriak Riko Spontan menunjuk wajah Dudung. Riko pun melingkarkan tangannya ke dada Dudung. Lekas bawa ke ruangan! teriak suster. sebuah kamar bernomor 13 sudah lebih dari setahun dihuni oleh Dudung dan Riko, kamar ini menjadi tempat pertemuan kedua sahabat

tersebut, sejak mereka menjalani kemotrapi awal mereka sehingga mereka menjadi sangat akrab, namun sekarang Dudung harus dirawat di kamar ini sendirian. Seminggu sebelumnya Dudung pernah meminta kepada Dokter untuk dirawat di Rumah saja, sebab ayahnya tidak punya cukup uang untuk membiayainya tinggal dirumah sakit sejak ayahnya kena PHK. Dokterpun mengizinkan Dudung dirwat di rumah sembari berharap semua akan baik-baik saja. Dudung dijadwalkan untuk kembali ke rumah sakit kemudian demi menjalankan rangkaian akhir perawatan kesehatan. Secara pragnosis diakui dokter kesehatan Dudung cukup menjanjikan, dan ia berharap keajaiban akan terjadi. Sebuah harapan, meskipun kecil tetap akan lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

---Dudung Meninggal Dunia---

Pada acara pemakaman, Riko menyadari ia melihat hadirnya pelangi emas mengitari kuburan sahabatnya. Tapi tidak ada yang tahu. Markus pun ikut hadir di pemakaman tersebut, dan memberi penghormatan terakhirnya. Tentu saja, Tuan panggil aku tuan tikus, tapi aku adalah tikus yang paling tikus dan tuan adalah manusia yang paling manusiawi. Selamat jalan Tuan Dudung.