Anda di halaman 1dari 18

PANTANGAN BUAT IBU 40 HARI PASCA PERSALINAN

Diambil dari beberapa artikel di situs Internet.

Tak sedikit yang sebatas mitos, meski ada pula yang bisa dibenarkan secara medis. Berikut ini sejumlah pantangan yang kerap didengungkan kepada para ibu sehabis melahirkan. TAK BOLEH "CAMPUR" Yang ini malah termasuk kategori larangan yang tak boleh dilanggar. Bahkan daerah dada istri "terlangkahi" tangan suami saja juga tak diperbolehkan. "Sebab dikhawatirkan pancaran ASI jadi mejan karena bukan tak mungkin si ibu jadi terbangkitkan gairahnya," terang Ny. Koesmariyah H.R. Soedjak Ranoekoesoemo (76), dukun manten yang kerap menangani tata rias maupun upacara tingkeban para selebritis. Dari sisi medis, jelas dr. Chairulsjah Sjahruddin, SpOG, MARS, sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula. Selain karena fungsi hormonal tubuh yang bersang- kutan belum kembali aktif bekerja. Kalau sanggama dipaksakan terjadi dalam tenggang waktu itu, tegas Chairulsjah, kemungkinan yang terjadi bisa macam-macam. Di antaranya infeksi atau malah perdarahan. Sebabnya, mukosa jalan lahir setelah persalinan sangat peka akibat banyaknya vaskularisasi/aliran darah, hingga terjadilah perlunakan mukosa jalan lahir. Dengan berjalannya waktu, vaskularisasi ini kian berkurang dan baru akan normal kembali 3 bulan setelah bersalin. Belum lagi libido yang mungkin memang belum muncul ataupun pengaruh psikologis, semisal kekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagi. KAKI MESTI LURUS Menurut Koesmariyah, baik saat berjalan maupun berbaring, kaki harus lurus. Dalam arti, kaki kanan dan kiri enggak boleh saling tumpang tindih ataupun ditekuk. Selain agar jahitan akibat robekan di vagina tak melebar ke mana-mana, juga dimaksudkan supaya aliran darah tetap lancar alias tak terhambat. Secara medis, posisi kaki yang lurus memang lebih menguntungkan karena membuat aliran darah jadi lancar. Sedangkan mobilisasi secara umum, jelas Chairulsjah, pada dasarnya boleh dan malah harus dilakukan. Makin cepat dilakukan kian menguntungkan pula. Dengan catatan, kondisi si ibu dalam keadaan baik, semisal tak mengalami perdarahan atau kelainan apa pun saat melahirkan. Selain patokan bahwa dalam 8 jam pertama setelah melahirkan ia sudah bisa BAK dan BAB serta selera makannya bagus. Begitu juga tensi, denyut nadi, dan suhu tubuhnya dalam batas normal. Soalnya, jika tak bisa BAK dan BAB berarti ada sesuatu yang enggak beres yang akan berpengaruh pada kontraksi dan proses involusi (pengecilan kembali) rahim. TAK BOLEH TIDUR SIANG Pantangan yang satu ini kedengarannya keterlaluan. Bayangkan, meski ngantuk setengah mati lantaran sering terbangun malam hari karena harus menyusui dan menggantikan popok si kecil, si ibu tak boleh tidur siang. Hingga kalaupun kantuknya tak tertahankan, saran Koesmariyah, "Tidurlah dalam posisi duduk." Sebab, bila posisi tidur/berbaring dikhawatirkan darah putih akan naik dan membuat si ibu harus memakai kaca mata/terkena gangguan penglihatan saat usia masih relatif muda. Menurut Chairulsjah, tidur berkepanjangan memang mengundang proses recovery yang lebih lambat. "Makin lama berbaring makin besar pula peluang terjadi tromboemboli atau pengendapan elemen-elemen garam." Lalu bila si ibu bangun/berdiri mendadak, endapan elemen tersebut dikhawatirkan lepas dari perlekatannya di dinding pembuluh darah. Padahal akibatnya bisa fatal, lo. Endapan-endapan tadi bisa masuk ke dalam pembuluh darah lalu ikut

aliran darah ke jantung, otak dan organ-organ penting lain yang akan memunculkan stroke. TAK BOLEH KERAMAS Pantangan yang satu ini dicemaskan bisa membuat si ibu masuk angin. "Lo, kalau si ibunya sakit, bayinya jadi enggak keurus. Akhirnya, semua bakal repot, kan?" ujar Koesmariyah. Itu sebab, sebagai gantinya rambut cukup diwuwung, yakni sekadar disiram dengan air dingin. Lagi-lagi, penyiraman ini diyakini agar darah putih bisa turun dan tak menempel di mata. Namun agar tak bau apek dan tetap harum disarankan menggunakan ratus pewangi. Tentu saja pantangan semacam itu untuk kondisi jaman sekarang dirasa memberatkan. Terlebih untuk ibu-ibu yang harus sering beraktivitas di luar rumah. Sedangkan mandi boleh-boleh saja asal dilakukan jam 5 atau 6 untuk mandi pagi dan sebelum magrib untuk mandi malam. Penggunaan air dingin, katanya, justru lebih baik ketimbang air hangat karena bisa melancarkan produksi ASI. HINDARI MAKANAN JEMEK Golongan makanan yang harus dijauhi adalah pepaya, durian, pisang, dan terung. Karena konon ragam makanan tadi bisa dikhawatirkan bikin benyek organ vital kaum Hawa. "Padahal perempuan, kan, dituntut kesat supaya bisa 'mengikat' suaminya." Yang juga mesti dipantang adalah makanan yang bersantan dan pedas karena pencernaannya bakal terganggu yang bisa berpengaruh pada bayinya. Begitu juga ikan dan telur asin serta makanan lain yang berbau amis karena dikhawatirkan bisa menyebabkan bau anyir pada ASI yang membuat bayi muntah saat disusui. Selain juga, proses penyembuhan luka-luka di jalan lahir akan lebih lambat. Secara medis, menurut Chairulsjah, tak benar anggapan untuk pantang pepaya dan pisang yang justru amat dianjurkan karena tergolong sumber makanan yang banyak mengandung serat untuk memudahkan BAB. Ikan dan telur juga merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik dan amat dibutuhkan tubuh. Sedangkan durian memang tak dianjurkan karena kandungan kolesterolnya tinggi, selain memicu pembentukan gas yang bisa mengganggu pencernaan. Sebaliknya, kata Koesmariyah, amat disarankan untuk selalu minum kunyit dan pucuk daun asam setiap pagi supaya ASI tak berbau amis. Selain tentu saja menjaga kebersihan diri, terutama daerah payudara dan sekitarnya. TAK BOLEH BEPERGIAN "Kalau dipikir-pikir larangan ini, kan, bertujuan supaya si ibu tak terlalu letih beraktivitas. Kalau capek bisa-bisa ASI-nya berkurang. Kasihan si kecil, dong. Biasanya seumur ini si kecil, kan, sedang kuat-kuatnya menyusu," papar Koesmariyah. Belum lagi kemungkinan si bayi rewel ditinggal ibunya terlalu lama. Sementara kalau diajak pun masih kelewat kecil. Malah takut ada apa-apa di jalan, terutama kalau menggunakan angkutan umum. Bepergian pun membuat si ibu jadi tak tahan menghadapi aneka godaan untuk menyantap segala jenis makanan yang dipantang. SEBELUM 40 HARI, KUKU BAYI TAK BOLEH DIGUNTING Begitu kan, kata orang-orang tua dulu? Padahal. boleh kok! Namun, tak sedikit dari kita yang "patuh" pada pantangan/larangan tersebut. Hingga, selama 40 hari itu, si kecil dipakaikan sarung tangan terus-menerus. Menurut dr. B. Wirastari Marnoto, SpA dari Kelompok Kerja Perinatologi RSAB Harapan Kita, Jakarta, boleh saja bayi dipakaikan sarung tangan, tapi jangan lupa untuk selalu membersihkan jari-jari tangannya. "Jangan terus-menerus menggunakan sarung tangan tanpa sering membersihkannya." Meski begitu, akan lebih baik jika pemakaian sarung tangan tak dilakukan terus-menerus. Jangan lupa, bayi belajar mengenal lingkungannya lewat pancaindra, salah satunya indra peraba. Lagi pula, sebenarnya enggak ada larangan, kok, untuk menggunting kuku bayi sebelum 40 hari. Asalkan dengan hati-hati. Sebab, jelas Tari, bila tak digunting dikhawatirkan

kuku-kukunya akan mencakar bagian tubuhnya dan menyebabkan luka. "Pantangan atau larangan itu mungkin karena kuku-kuku bayi masih tipis dan takut kulit jari-jari tangannya pun ikut tergunting," tuturnya. TAK BOLEH BEPERGIAN Orang-orang tua dulu pun melarang kita mengajak bayi bepergian sebelum 40 hari. Namun di jaman kini, pantangan yang satu ini tampaknya sudah dilanggar banyak orang. Lihat saja di mal-mal, misal, tak sedikit orang tua yang membawa bayinya yang masih merah. Memang, ungkap Tari, mengajak bayi bepergian sebelum 40 hari bukanlah pantangan/larangan. "Namun, orang tua harus tahu bahwa bayinya masih beradaptasi dengan lingkungan. Jadi, bisa saja si bayi kedinginan." Risiko lain, bisa juga si bayi ketularan penyakit dari orang lain, semisal TBC, karena daya tahan tubuhnya masih rentan. Saran Tari, kalau ingin membawa bayi, harus dengan tujuan tertentu yang memang penting dan tak terlalu jauh. Misal, membawanya imunisasi. Untuk menghindari si bayi dari cuaca luar, bisa dengan memakaikan bedong tapi jangan terlalu ketat, sarung tangan dan kaki, serta topi. Selain itu, kalau mungkin hindari dari naik kendaraan yang berjejal-jejal semisal bus. Kalau, misal, si bayi baru berusia 2 minggu dan mau pulang kampung, menurut Tari, boleh saja. "Kalau naik pesawat terbang, tak masalah. Apalagi jika pesawatnya besar, tekanan di dalam kabin cukup baik. Yang penting, ketika take off maupun landing, usahakan si bayi disusui agar ia menelan. Dengan demikian, tekanan di dalam dan di luar telinga sama." Selain faktor kendaraan, Tari pun mengingatkan untuk mempertimbangkan lama perjalanan. "Kalau hanya satu jam, lain dengan kalau sehari." Orang tua pun harus tahu risiko yang mungkin dihadapi. "Bagaimana kalau tiba-tiba bayinya tersedak atau diare? Hal-hal seperti ini harus dipertimbangkan." Itu sebab, Tari lebih setuju, bepergian dengan tujuan jauh sebaiknya tak dilakukan sebelum usia bayi mencapai 3 bulan. CUKUR RAMBUT & MANDI Pantangan lain, bayi tak boleh dicukur rambutnya ataupun dimandikan sebelum 40 hari. Soal cukur rambut, bilang Tari, karena rambut melindungi kepala dan memberikan rasa hangat, jadi, kalau rambutnya dihilangkan si bayi akan merasa dingin dan membuatnya mudah sakit. Tapi, sebenarnya mencukur rambut boleh saja agar lebih bersih kepalanya. Untuk melindungi dari udara, kita bisa memakaikan topi di kepalanya supaya hangat. Sementara mandi, dengan tegas Tari mengatakan, itu bukan pantangan. Justru bayi harus mandi dan bersih badannya. "Biasanya, sampai usia 2 minggu, mandinya sehari sekali. Setelah itu, pagi dan sore dengan menggunakan air hangat. Selama mandi pusarnya tetap kena air. Nanti dibersihkan pakai antiseptik dan alkohol." Menurut Tari, tak benar bila ada anggapan, bayi akan masuk angin jika dimandikan. "Tentunya memandikan bayi, kan, tidak di tempat yang banyak berangin. Lagi pula bayi cuma dilap, disabuni, dilap lagi, baru dimasukkan ke dalam bak mandi. Jadi, cepat memandikannya." Justru kalau selama 40 hari tak dimandikan, terangnya, akan menimbulkan penyakit. Bukankah kotoran akan menempel di kulit bayi? Akibatnya bayi bisa kena penyakit kulit atau infeksi lain. Bisa juga pusar bayi yang masih banyak lemak itu jadi tempat yang bagus untuk bersarang kuman hingga menyebabkan infeksi. MASA PENYESUAIAN Masih banyak lagi pantangan/larangan lain yang berlaku turun-temurun; ada yang masih "dipatuhi", ada pula yang sudah dilanggar. Yang jelas, bilang Tari, sebelum kita mematuhi atau melanggarnya, perlu diketahui juga bahwa bayi baru lahir sedang dalam masa penyesuaian. "Bayi mengalami transisi dari kandungan ke dunia luar. Hingga, ia rentan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Misal, cuaca. Ketika di kandungan, suhu dalam perut ibu selalu stabil berkisar 36,5 derajat Celcius. Sedangkan begitu keluar dari kandungan bayi terpengaruh dengan suhu di luar, hingga ia perlu mengatasi masalah suhu tersebut."

Menurut Tari, masa transisi utama bayi berkaitan dengan kerja jantung. Sewaktu di kandungan, aliran darah tidak ke paru-paru karena paru-paru belum berfungsi sempurna. Tapi, aliran darahnya kembali lagi ke jantung dan beredar ke seluruh tubuh. Jadi, kalau darah dengan kadar oksigennya rendah, dibawa ke plasenta melalui tali pusat dan di plasentalah terjadi pertukaran gas. Padahal, harusnya darah kotor tersebut naik ke paru-paru, lalu terjadi pertukaran gas dan darah bersih masuk ke jantung, kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Penyesuaian perubahan peredaran darah ini terjadi pada detik-detik pertama kelahiran bayi dan akan selesai dalam waktu 24 jam., Kemudian, bayi juga perlu waktu penyesuaian lain seperti bernapas, minum atau menyusui. Waktu lahir ia menarik napas dan paru-parunya mengembang, hingga ia jadi menangis. "Nah, rata-rata perubahan-perubahan yang terjadi pada bayi itu, mungkin perlu waktu lebih lama lagi. Jadi, dalam waktu 40 hari itu sebenarnya bayi bukan rentan terhadap infeksi, tapi lebih beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang dihadapinya dengan kehidupan di luar dunianya. Jika adaptasinya tak bagus, mungkin akan berpengaruh pula terhadap daya tahan tubuhnya. Mungkin saja bisa terjadi infeksi dan sebagainya," terang Tari. Itulah mengapa, lanjutnya, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan orang tua, apakah itu berupa pantangan ataupun hal-hal yang mesti diperhatikan sebelum bayi usia 40 hari. Tak Boleh Dikasih Makan Larangan yang satu ini justru harus betul-betul dipatuhi. Jangan sampai karena bayinya menangis, dianggap masih lapar meski sudah disusui, lalu diberi pisang yang dikerok. "Hal ini masih terjadi dan dilakukan ibu-ibu umumnya di daerah. Padahal, pemberian makanan yang paling cepat pada bayi adalah di usia 4 bulan, sedangkan kalau bayinya mendapatkan ASI eksklusif maka diberikan di usia 6 bulan," terang Tari. Memberi makanan pada bayi usia di bawah 4 bulan apalagi belum 40 hari, sangat berbahaya. Terlebih, bayi belum pintar menelan. "Ia bisa tersedak. Selain itu, pemberian pisang akan membuat ususnya jadi lengket dan ada kemungkinan bisa berlubang. Akibatnya bisa menimbulkan kematian." CARA TEPAT MENYUSUI Agar hasilnya maksimal, jangan sepelekan teknik menyusui yang benar Tanpa kesediaan belajar, jangan harap ibu bisa menyusui bayinya dengan benar. Berikut halhal yang perlu diperhatikan selama menyusui seperti dipaparkan dr. M. Iqbal, Sp.OG, ketua Tim Gerakan Sayang Ibu dari RS Persahabatan, Jakarta Timur. * Saat menyusui, perhatikan benar tekniknya. Ambil posisi menyusui yang nyaman dan serelaks mungkin agar tak melelahkan. Caranya, duduklah tegak dengan punggung tersangga baik. Dekap bayi di pangkuan dengan posisi kepala bayi di antara lengan dan pinggang ibu. Perhatikan posisi dagu bayi yang mesti menyentuh payudara ibu. Ini akan memudahkan bayi memasukkan seluruh areola ke dalam mulutnya. Jangan pernah membiarkan anak hanya mengisap bagian puting saja karena hanya akan menimbulkan rasa sakit bahkan lecet. Melainkan susui sedemikian rupa hingga seluruh areola mammae masuk ke dalam mulut bayi. Dengan posisi ini bayi pun memperoleh keuntungan bagi refleks isapnya yang kian terlatih. * Posisikan tubuh bayi di bawah payudara. Dengan kata lain dada bayi menjadi alas payudara. Pastikan dada bayi bersentuhan dengan payudara. Begitu juga dagunya harus menyentuh payudara agar wajahnya menghadap wajah ibu. * Tekan dengan lembut bibir bawah dan dagu bayi menggunakan payudara dan areola. Tunggulah respon bayi, yakni kala ia membuka mulutnya dan meletakkan lidahnya sedemikian rupa di bawah areola. * Rapatkan tubuh kita dengan si kecil, dengan sedikit menekan punggungnya. Akan tetapi jangan pernah menekan bagian kepalanya, lo. Lihatlah, kini bibir bawahnya menekuk sedemikian rupa, melahap 3-4 cm bagian payudara sesudah puting. Lalu rangkaian gerakan

otot yang bergulung ke belakang akan memeras ASI masuk ke dalam kerongkongan bayi. Dengan kata lain, saluran-saluran susu akan terpompa oleh gerakan menjepit antara bibir atas dan bawah bayi. Sementara ujung puting harus mencapai langit-langit mulut agar otot-otot rongga mulut bisa melakukan gerakan memompa. * Jika posisi bayi terlalu di bawah alias dirasa kurang pas, ganjal tubuh bayi dengan bantal. Bukan malah sebaliknya, ibu yang harus membungkuk-bungkukkan tubuhnya sedemikian rupa agar payudaranya mencapai mulut bayi. Cara ini hanya akan menimbulkan keletihan dan ketegangan otot. * Jemari tangan ibu jangan dalam posisi "menggunting" karena hanya akan mengunci gudang maupun saluran susu dalam payudara, hingga ASI malah tak keluar. Yang benar, ibu jari di atas dan keempat jari di bawah puting guna menopang payudara. * Idealnya, susui masing-masing payudara selama 10-15 menit bergantian. Begitu seterusnya karena kalau dipaksakan di satu sisi saja, pasti payudara yang satu lebih sering kosong yang hanya membuat bayi jengkel dan akhirnya malah malas menyusu. * Bayi pun umumnya enggan menyusu bila ASI-nya terlalu deras karena hanya membuatnya gelagapan. Mengatasinya, susui bayi sesering mungkin. Bisa juga dengan memompanya sebagian setiap kali hendak menyusui. Hingga saat menyusu tak lagi terlalu penuh yang menyebabkan ASI memancar terlalu deras. * Selagi menyusui dengan payudara sebelah kiri, payudara kanan dibiarkan bebas. Menutupinya dengan bra ketat hanya akan mematikan feedback yang seharusnya diteruskan ke otak untuk memproduksi hormon ASI. Dengan membendung, otak akan mendapat kiriman sinyal negatif, hingga hormon pembuat susu tak lagi diproduksi. * Susui bayi kapan pun ia membutuhkannya. Toh, memberikan ASI sebanyak mungkin sama sekali tak merugikan, malah menguntungkan karena bisa memacu produksi ASI. Apalagi keindahan payudara sama sekali tak terganggu hanya dengan aktivitas menyusui. Asalkan tetap dijaga dengan penggunaan bra yang bisa menyangga sepenuhnya, selain gerakan senam yang bisa mengencangkan otot-otot dada. * Teknik melepaskan puting usai menyusui pun perlu mendapat perhatian. Menariknya begitu saja selagi masih tertancap di mulut bayi hanya akan membuat puting lecet. Sebaiknya lepaskan puting dengan memasukkan jari kelingking ke mulut bayi melalui sudut mulut atau menekan dagu bayi ke bawah. Agar ASI Berlimpah Agar ASI berlimpah, saran Iqbal, singkirkan keinginan memperkenalkan pengganti ASI sedini mungkin. Idealnya, setengah jam setelah lahir, segera susui bayi. Kalaupun belum keluar, tak perlu berkecil hati atau malah putus asa. Paling tidak si bayi belajar mengisap dan ibu pun belajar menyiapkan dirinya untuk memproduksi ASI. Toh, hingga 2x24 jam pertama, tak makan apa pun, bayi bisa bertahan hidup. Pemberian pengganti ASI menggunakan botol hanya akan menyebabkan bayi bingung puting. Karena saat menggunakan dot, tanpa diisap pun susu akan menetes dengan sendirinya. Sementara mengisap ASI butuh kerja ekstra. Cukupi kebutuhan gizi ibu dengan makanan 4 sehat 5 sempurna yang terjamin kualitasnya untuk menunjang produk ASI. Jadi, bukan cuma makan asal enak dan kenyang, semisal bakso dan kerupuk. Perhatikan pula pola makan yang benar. Semisal jangan makan hanya menunggu datangnya lapar. Selain anjuran banyak minum air putih ataupun jus/sari buah. Istirahat cukup dan kondisi psikogis yang nyaman akan sangat menunjang kecukupan produksi ASI. Meski yang tak kalah penting, banyak tidaknya produksi ASI sebetulnya amat dipengaruhi oleh ketulusan sikap ibu. Artinya, meski bahan baku untuk memproduksi ASI cukup, tapi bila si ibu bersikap ogah-ogahan, maka lambat laun produksi ASI akan terus berkurang. Soalnya, setiap kali menyusui akan terkirim sinyal ke otak yang mengeluarkan hormon produksi susu. Hingga makin sering menyusui, makin banyak pula hormon tersebut diproduksi yang akan meningkatkan jumlah ASI.

Kalau Payudara Lecet Jika lecet cukup parah, bilang Iqbal, istirahatkan payudara untuk sementara waktu. Susuilah hanya dengan payudara yang satunya. Namun bila payudara yang lecet tadi sudah penuh, tampung ASI yang keluar dengan sendirinya atau keluarkan dengan jalan dipompa. Hasilnya bisa diminumkan ke bayi dengan cara disendoki. Sementara puting yang lecet harus diobati dengan salep. Tapi puting yang sedang mendapat pengobatan harus dibersihkan dulu sebelum disusui agar sisa-sisa olesan salepnya tak terisap bayi. Meminimalkan Resiko Penularan Pada prinsipnya, tandas Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH., sepanjang ASI masih keluar, selama itu pula ASI tetap harus diberikan. Sekalipun cuma 2 cc, contohnya. Mengingat kegunaannya yang amat luas sebagai anti virus/pembentuk kekebalan maupun anti alergi yang tak bisa ditemui di susu formula. Lain hal kalau si ibu memang mengalami kondisi-kondisi tertentu yang tak memungkinkannya memberikan ASI, meski ia sendiri amat ingin menyusui bayinya. Antara lain, bila ia sedang mengkonsumsi obat keras semisal golongan obat kanker dan darah tinggi. Ataupun kala ibu tengah mengidap penyakit yang sangat menular, seperti cacar air. Pada kondisi-kondisi semacam itu, kendati tetap keluar, sebaiknya ASI tak diberikan kepada si bayi. Karena dampak obat-obatan keras kemungkinan besar bakal terisap oleh si bayi. Selain kekhawatiran akan terjadi kontaminasi dari puting si ibu yang menderita penyakit menular tadi. "Mau tak mau ASI yang keluar harus dibuang untuk meminimalkan kemungkinan penularan." BELAJAR MEMBERIKAN SUSU DARI BOTOL Jika Memang keadaan mengharuskan memakai susu botol, perhatikan kecukupan gizi, faktor kebersihan, dan teknik pemberiannya Idealnya, bayi mendapat ASI eksklusif dari ibunya selama 4-6 bulan pertama. Namun karena berbagai sebab, bisa saja si bayi terpaksa bergantung pada susu botol. Yang jelas, seperti dikatakan Prof. Dr.dr. Nartono Kadri, Sp.AK, pemberian susu formula pengganti ASI pada bayi baru lahir bukan semata-mata untuk membuatnya kenyang. Melainkan juga menyediakan energi untuk beraktivitas, mencukupi kebutuhan metabolisme maupun proses tumbuh kembang. Itu sebab, kecukupan zat gizi dan faktor kebersihannya maupun teknik pemberiannya harus mendapat perhatian utama. Nah, berikut ini anjuran Nartono seputar menyusui dari botol. * Posisi saat memberikan susu dari botol tak ubahnya dengan posisi menyusui. Ibu harus dalam posisi duduk senyaman mungkin agar otot-otot bahu dan punggungnya tak tegang yang hanya akan mengundang kelelahan. * Dekap bayi sedemikian rupa hingga tetap ada sentuhan skin to skin antara ibu dan bayinya. Usahakan tubuh bayi berada dalam satu garis lurus membentuk sudut 30-60 derajat. Artinya, sanggalah tubuh bayi dengan tangan kiri jika ingin menyusui di sisi kiri dengan posisi kepala harus sedikit lebih tinggi dari badannya. Sementara tangan kanan memegangi botol susu. Jika posisi bayi dirasa membebani lengan ibu, ganjal dengan bantal agar berat tubuhnya bertumpu di situ, hingga ibu lebih leluasa mendekap sambil mengelus pipi atau kepalanya. Tak kalah penting, pelihara selalu kontak mata antara ibu dan bayi. Hanya saja sedikit berbeda dengan posisi tubuh bayi yang menghadap ke tubuh ibu saat menyusu ASI, posisi menyusu dari botol, tubuh bayi nyaris tengadah. * Memberikan susu dari botol dianjurkan bergantian di sisi kanan dan kiri, hingga bentuk kepala/pandangan bayi tak cenderung ke satu arah tertentu saja. Kendati memang harus diakui untuk kebanyakan orang menyusui di sisi kanan membuat kagok. * Jangan sesekali memberikan susu botol sambil si bayi tiduran karena memperbesar kemungkinan bayi tersedak yang bisa berakibat fatal. Di antaranya mengakibatkan terjadi

radang telinga bila aliran susu sampai masuk "menembus" saluran telinga yang berhubungan dengan saluran pencernaan. * Hindari pula memberikan susu botol ketika bayi sedang menangis keras atau sedang mengalami sesak napas. Susu bisa masuk ke dalam paru-paru dan terjadilah radang paruparu. * Posisi botol kurang lebih harus sama dengan posisi payudara saat bayi menyusu ASI. Dalam arti, dot harus masuk sedemikian rupa ke dalam mulut bayi dan posisi botol tak menyisakan ruangan kosong yang akan terisi udara. Karena bila udara tersebut terisap oleh bayi, akan membuat bayi kenyang oleh udara, bukan susu. Jadi, dot maupun leher botol harus terisi sepenuhnya oleh susu. * Untuk menguji apakah pancaran susu dari botol cukup atau tidak, gunakan lubang standar yang biasanya sudah terdapat di tiap dot. Kalau bayi kelihatan capek mengisap, itu berarti lubangnya terlalu kecil, hingga perlu ditambahkan 1-2 lubang di samping lubang standar tadi. Penambahan lubang ini meski membuat pancaran susu, dipastikan tidak membuat bayi gelagapan karena pancaran susu tadi menyembur ke arah pipi. Hal sama juga diperlukan jika isapan si bayi cukup kuat, hingga lubang standar tadi tak cukup. Sebaliknya, kalau lubang standar terlalu besar yang akan membuat gelagapan, tak ada cara lain kecuali harus ganti dot baru. * Untuk mengetahui apakah si kecil sudah/belum puas menyusu, kita bisa mengamati ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kalau sudah puas, umumnya ia akan melepas sendiri botol susunya tanpa rewel ataupun dipaksa. Sedangkan bila terlihat masih belum puas, berarti kebutuhannya belum tercukupi, hingga tak ada salahnya tambahkan lagi porsi susunya. Tentu saja harus sesuai takaran yang disarankan. * Sedangkan berapa banyak total kebutuhan bayi yang harus diberikan berdasarkan volume, kalori maupun komposisinya, biasanya dokter anaklah yang akan membantu orang tua bayi memperhitungkannya. Salah satu cara sederhana yang bisa ditempuh si ibu, pompa dan ukurlah berapa kira-kira jumlah ASI yang mampu diproduksinya. Selisih antara kebutuhan rata-rata si bayi dan jumlah produksi itulah yang harus diberikan dalam bentuk susu formula. Contohnya, secara kasar, kalori yang dibutuhkan per hari oleh bayi pada bulan-bulan pertama kira-kira 560 Kkal. Bila diasumsikan ia menyusu sebanyak 6-8 kali sehari, maka kebutuhan tersebut bisa tercukupi bila porsi minumnya sekitar 50-70 cc setiap kali minum. * Usai disusukan, sandarkan dada bayi di bahu ibu. Lalu tepuk-tepuk lembut punggungnya agar ia bersendawa. Bila ia termasuk bayi yang sulit mengisap, sendawa berulang kali selagi menyusu akan sangat membantunya menghabiskan susu yang tersedia. Karena setelah bersendawa biasanya bayi bisa melanjutkan acara minum susunya yang tertunda. Memilih Dot Yang paling baik, kata Nartono, dot orthodontic karena desainnya sesuai dengan bentuk rahang bayi, hingga bayi merasa nyaman mengisapnya. Lebih bagus lagi jika bentuk dot tadi menyerupai puting payudara ibu, hingga sesuai dengan kontur rahang dan isapan bayi. Jika refleks mengisap bayi relatif keras/kuat, dianjurkan ibu memilih dot yang terbuat dari silikon. Tapi jika isapan bayi termasuk lemah, pilih dot karet yang relatif lebih lunak dibanding silikon. Hanya saja silikon lebih awet karena dot karet harus sering diganti lantaran cepat rusak dan kerap menimbulkan bau kurang sedap. Terutama jika harus direbus/direndam air mendidih setelah dicuci bersih untuk proses sterilisasinya. Tak Harus Dengan Botol Bila kelak tak ingin repot menyapih si kecil dari botol agar pertumbuhan rahangnya tak terganggu, saran Nartono, pemberian susu formula bisa dilakukan dengan menggunakan sendok atau malah pipet untuk bayi-bayi baru lahir yang refleks menelannya memang masih lemah sekali. Posisi memberikannya sama dengan menyusui bayi dengan botol, yakni dengan posisi kepala

lebih tinggi. Dengan penuh kesabaran berikan susu tersebut sesendok demi sesendok saat sendokan sebelumnya sudah tertelan. Hanya saja tenggang waktu pemberiannya disarankan tak lebih dari 10-15 menit. Bila dalam waktu tersebut susu tak bisa dihabiskan sebaiknya jangan dipaksakan. Akan lebih baik bila 2 jam kemudian buatkan susu baru untuk diberikan pada si kecil. Frekuensi Pemberian Susu Botol Menurut dr. Rini Sekartini, Sp.A, secara fisiologis lambung bayi akan kosong dan minta diisi kembali setelah 2-3 jam berselang. Inilah yang kemudian dijadikan patokan dalam menentukan jadwal penyusuan bayi, yakni setiap 3 jam sekali untuk bayi dengan berat badan normal dan 2 jam sekali untuk bayi dengan BB rendah (di bawah 2500 gram). Sebabnya, bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah ini refleks mengisap dan menelannya lambat hingga cenderung malas menyusu. Maka untuk memenuhi kebutuhannya, ia harus diberi porsi lebih sedikit dengan frekuensi lebih sering. PERILAKU BAYI BARU LAHIR Kita tak perlu takut atau khawatir dengan perilaku si kecil yang baru lahir. Selama tak berlebihan, berarti wajar. Jadi, normal saja, ya, Bu-Pak, kalau bayi baru lahir suka terkaget-kaget selagi tidur atau tersedak kala menyusu, misal. Namun tentunya, perilaku-perilaku tersebut akan berbeda antara bayi yang lahir normal dan sehat dengan bayi yang tak sehat atau tak normal. Yang jelas, kata dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA. dari Subbagian Neonatologi, Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta, sejauh perilaku bayi masih dalam batas normal atau terjadi hanya sekali-kali saja, tak masalah. Tapi jika ada perilaku yang berlebihan atau keseringan dan terus-terusan, harus diwaspadai. "Mungkin saja ada sesuatu pada diri si bayi. Sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk penanganan selanjutnya. Apalagi usia bayi masih sangat rentan," tuturnya. Nah, berikut ini beberapa perilaku bayi baru lahir yang bisa diamati. * Menangis Begitu lahir, bayi harus menangis. Ini merupakan reaksi pertama yang bisa dilakukan. Dengan menangis, otomatis paru-parunya berfungsi. Paru-paru akan membuka dan mengisap oksigen. Selain itu, menangis juga sebagai reaksi dari perubahan yang dialami si bayi. Ketika di kandungan, ia merasakan kehangatan dan kenyamanan; ia merasa terlindungi. Suasana di rahim pun gelap. Sementara begitu lahir, ia merasakan udara luar yang dingin dan ada cahaya terang. Perubahan ini disikapinya dengan menangis. Itu sebab, jika setelah lahir bayi tak menangis, berarti tak normal. Biasanya, ia mengalami asfiksia, yaitu kurang masukan oksigen ke dalam tubuhnya. Bahayanya, otak pun akan kekurangan oksigen hingga dapat merusak otak. Kejadian ini biasanya berkaitan dengan keadaan sejak di kandungan. Maka itu, bila ada sesuatu dengan kandungan ibu yang bermasalah, harus segera mendapat penanganan yang adekuat dan benar dari ahlinya. Ini untuk menghindari, salah satunya kejadian bayi tak menangis. Ketika bayi menangis, anggota geraknya pun ikut aktif. Tangisan bayi yang sehat bila suaranya keras, bukan merintih atau melengking. Jika suara tangisannya merintih/melengking, pertanda ada sesuatu pada si bayi atau ia sakit. Menangis pada bayi juga merupakan ungkapan ekspresinya. Bayi akan menangis lantaran minta perhatian, lapar, basah popoknya karena BAB/BAK, atau lainnya. Jadi, bayi menangis tak selalu berarti lapar. * Kaget Bayi akan bereaksi seperti kaget. Ini merupakan refleks naluriah. Sejauh refleks ini tak berlebihan terjadinya, tak masalah. Bila ia kaget, biasanya tubuhnya bergerak semua. Gerakannya itu harus simetris semua, tak hanya sebagian tubuhnya saja yang bergerak. Kalau tidak, harus dicurigai ada sesuatu di otaknya. Segera periksakan ke dokter. Gerak refleks ini bisa karena ia melihat cahaya yang menyilaukan atau lantaran ia sudah bisa

mendengar suara/bunyi yang mengagetkannya. Itu sebab, jika bayi sedang tidur, biasanya orang di sekitarnya diminta untuk tak terlalu berisik. Refleks ini masih boleh ada sampai usia 5 bulan. Jika setelah itu masih tetap ada, berarti tak normal, ada sesuatu pada diri si bayi hingga mesti dicari penyebabnya. Kemungkinan ada kerusakan di otaknya. * Bersin Jika sesekali atau tak berlebihan, wajar saja. Sebenarnya, bersin pertanda ia ingin mengeluarkan sesuatu/kotoran dari hidungnya. Lagi pula hidung bayi itu sensitif; dengan bersin, lubang hidungnya dibersihkan. Jadi, bersin merupakan reaksi bayi untuk pertahanan tubuhnya. Selain itu, bersin bisa juga karena ia terekspos udara dingin. Jadi, bersin tak selalu berarti bayi akan flu. Tapi jika keseringan, misal, tiap jam bersin, memang bisa jadi pertanda si bayi sakit. Mungkin ketularan pilek dari ibunya. Karena itu, untuk menghindarinya dari sakit, jangan sering-sering menciumi si bayi. Bila di rumah ada orang dewasa yang sedang sakit, sebaiknya tak mencium bayi dan harus menggunakan masker. * Mengisap Refleks ini merupakan refleks paling primitif untuk mempertahankan hidup. Lapar atau tidak, bila kita taruh jari di mulutnya, ia akan mencari dan membuka mulutnya dan jari tersebut akan diisapnya. Kemampuan inilah yang membuatnya bisa menyusu dan mendapatkan makanan. Bila usia kehamilan ibu 34 minggu ke atas dan bayi dilahirkan di usia itu, sudah ada refleks mengisapnya. Jika refleks ini tak ada, berarti si bayi sakit, apakah infeksi atau sakit berat lainnya, semisal ada kerusakan otak hingga pusat yang mengatur refleksnya tak berfungsi. Refleks mengisap akan terus ada sampai dewasa. Maka itu, adakalanya anak usia setahun pun masih suka mengisap ibu jarinya. * Tersedak Normalnya di tenggorokan ada jalan napas dan jalan makanan atau kerongkongan. Jika bayi sedang minum/makan, jalan napasnya akan menutup. Pada bayi normal, lahir cukup bulan, dan sehat, ia punya refleks otomatis seperti itu. Jadi, bila kebanyakan minum, ia akan berhenti dulu, tak akan gelagapan tersedak sampai masuk ke paru-paru. Bayi bisa mengatur seberapa banyak harus mengisapnya. Jadi, jarang bayi tersedak. Jika hanya sekali-kali tersedaknya tak apa-apa, asalkan jangan sampai masuk ke jalan napas dan menyebabkannya biru. Bila sampai tersedak pun ia punya refleks untuk membatukkan. Kecuali jika bayi dicekoki, kebanyakan bisa tersedak. Pada bayi yang menyusu ASI, tak mungkin tersedak karena bayi mengisap dan memompa ASI sesuai isapannya. Tersedak justru lebih sering terjadi pada bayi yang minum susu botol. Terutama karena posisi dalam memberikan susu botol yang mungkin tak benar/tak hati-hati. Selain itu, susu akan menetes terus dari dotnya hingga bayi sulit mengatur isapannya. Akibatnya, jika kebanyakan netesnya, ia jadi gelagapan. Maka itu, dalam menyusui bayi, mata ibu tak boleh ke mana-mana, harus memperhatikan dengan baik apakah si bayi mengisapnya dengan enak atau tidak. Bila si bayi tersedak, hentikan dulu menyusunya, lalu angkat dan sendawakan. Ada kelainan pada bayi yang membuatnya sering tersedak, misal, refleks isapnya tak ada karena ia sakit berat dan badannya lemah. Sebab, refleks tersebut akan timbul jika si bayi sehat. Karena refleksnya itu tak ada lalu dipaksa, hingga membuatnya tersedak. Seharusnya bayi-bayi seperti ini dipasangkan selang dari mulut ke lambungnya. Bayi juga bisa tersedak karena kelainan anatomis, misal, fistula esophagus (ada lubang antara jalan napas dan jalan makan). Jadi, makanan/minuman yang masuk, sebagian masuk ke paruparu hingga membuatnya tersedak. Kelainan ini harus diperbaiki dengan operasi. * Mengeluarkan air liur

Air liur diproduksi terus dan harus ditelan. Jika air liur keluar dari mulutnya hanya sekalikali/tak berlebihan, itu normal. Nanti juga lama-lama hilang sendiri sejalan pertambahan usianya. Tapi, jika air liur sudah terlalu banyak dan berlebihan, berarti ada penyakit. Misal, ada atresia esophagus (buntunya saluran kerongkongan), hingga bayi tak bisa menelan dan produksi air liurnya berlebihan. Mengatasinya, dengan operasi. Biasanya kelainan ini harus dicurigai ada pada bayi bila ibunya dalam kehamilan mengalami polihidramnion atau air ketuban banyak atau yang orang bilang dengan hamil kembar air. * Buang air besar dan buang air kecil Sebenarnya, bayi di kandungan sudah makan dan ususnya sudah bisa membentuk yang namanya kotoran. Itu sebab, umumnya bayi baru lahir dalam waktu 24 jam sudah BAB dan BAK. Jika dalam waktu 48 jam tidak BAB/BAK, berarti ada yang tak beres. Kalau tidak BAB, mungkin ada sumbatan di jalan ususnya hingga kotoran tak bisa keluar. Bisa karena memang jalannya buntu atau karena kotoran yang sudah terbentuk di kandungan begitu keras (mekonium plak). Untuk mengeluarkannya, kotoran ini harus distimulasi dan ini dilakukan di RS. Pada tiga hari pertama, kotoran bayi masih berwarna hitam kehijauan. Tapi lama-lama warnanya berubah jadi kuning. Pada bayi yang mendapatkan ASI, frekuensi BAB-nya lebih sering. Dalam sehari bisa sampai 10 kali, tapi hanya sedikit-sedikit. Jadi, kita tak perlu bingung dan menganggapnya diare. Yang penting bukan frekuensinya, tapi konsistensinya. Jika konsistensinya berupa cairan dan jumlahnya banyak, berarti diare. Kalau tidak BAK, biasanya karena bayi sakit berat (syok) hingga aliran darah ke ginjal kurang. Dalam keadaan syok, aliran darahnya diutamakan ke otak dan jantung hingga aliran darah yang ke ginjal kurang. Bayi akan lebih sering BAK jika ia memang banyak minum. Atau, bisa juga karena udara dingin membuatnya lebih sering BAK. Bisa 10-12 kali ganti popok dalam sehari. Jika sudah BAK, otomatis cairan tubuhnya berkurang dan bayi pun akan minta minum kembali. Jadi berikan saja, tak perlu pakai jam-jaman. * Tangan dan kaki lebih sering menekuk Ketika ditaruh dalam posisi telentang, biasanya tubuhnya tak lurus sama sekali, tapi menekuk di siku tangan dan lututnya. Tubuhnya pun lebih banyak bergerak. Posisi anggota gerak bayi normal ini, namanya fleksi. Mungkin posisi secara fisiologis ini seperti kala di kandungan, bayi dalam keadaan meringkuk. Jadi, posisinya ini tak perlu dikhawatirkan, apalagi sampai membedongnya kuat-kuat dengan tujuan agar tubuhnya jadi lurus. Biarkan saja. Sebetulnya, bedong digunakan hanya agar bayi tak kedinginan. Namun bila tubuhnya menekuk berlebihan, dalam arti menekuk sekali dan tampak kaku atau tak relaks, namanya spastis. Ini berarti ada saraf yang tak beres. Umumnya, setelah usia 5-6 bulan posisinya mulai tidur lurus. Tapi jika dari awal sudah lurus dan kaku, namanya ekstensi. Kemungkinan ada sesuatu di otaknya. * Melihat ke atas Bayi baru lahir cuma bisa membedakan terang dan gelap, ada sinar atau tidak. Fungsi penglihatannya belum sempurna. Jadi, jika bayi tampak seolah sering melihat ke atas, sebenarnya bukanlah demikian. Itu hanya reaksi karena ada sinar yang membuatnya silau dan matanya tampak bergerak-gerak. Mungkin karena ia melihat bayangan saja atau sesuatu seperti bayangan yang bergerak. Usia 2 bulan penglihatannya masih kabur dan buram, ia tahu hanya ada bayangan. Setelah 4 bulan, barulah penglihatannya lebih jelas. * Perut sering tampak bergerak Pernapasan bayi masih dominan dengan menggunakan otot perut. Itu sebab, otot perutnya akan bergerak. Setelah 6 bulan, pernapasannya berganti dengan otot dada. Maka itu, para ibu jangan memakaikan gurita/bedong pada bayinya. Sebab, pemakaian gurita/bedong tak hanya mengekang pergerakan dinding perut, tapi juga gerakan usus untuk mencerna makanan pun

akan terganggu. Bahkan, makanan yang masuk bisa keluar alias muntah lagi. Bila khawatir si kecil kedinginan, sebaiknya jangan dibedong kuat-kuat, gunakan saja celana, popok dan kaos singlet. Biarkan bayi bernapas lega. * Gumoh/muntah Tak apa-apa bayi gumoh. Itu bagian dari refleksnya. Apalagi jarak antara kerongkongan dan jalan nasofaring ini pendek, hingga mudah terjadi gumoh. Gumoh pertanda bayi kebanyakan minum atau sudah kenyang. Lambung bayi itu kecil, jika makanan/minumannya terlalu banyak akan membuatnya gumoh. Bila gumoh terus-terusan, kita tak boleh berpikir terlalu jelek seperti halnya muntah. Mungkin saja karena kita mencekoki si bayi susu terus. Apalagi kadang bila bayi menangis, umumnya ibu akan menjejalkan mulut si bayi dengan susu. Padahal, mungkin saja si bayi tak lapar, tapi pipis atau hanya ingin digendong. Tak apa-apa juga bila gumoh keluar lewat hidung, selama bayi tak tampak biru. Jika sampai biru dan tersedak, artinya sudah masuk ke jalan napas. Kita harus bisa membedakan antara gumoh dan muntah. Gumoh keluar begitu saja dari mulut dan sedikit. Sedangkan muntah, ada tekanan negatif dari perut mendorong diafragma. Jika muntahnya hanya sekali, mungkin bisa dipikirkan kekenyangan. Tapi jika muntahnya lebih dari 3 kali atau setiap minum muntah, mungkin ada obstruksi/sumbatan, baik di sekitar lambung atau lebih ke bagian bawahnya. Jika demikian, harus dibawa ke dokter. Kalau ternyata ada obstruksi, harus dilakukan operasi. * Tidur Dalam sehari, bayi baru lahir bisa tidur sampai 18 jam. Bangunnya hanya untuk minum, lalu tidur lagi. Secara perlahan, makin usia bertambah, waktu tidurnya akan berkurang atau makin sedikit. Bayi kalau perutnya kenyang, badan kering dan hangat, ia akan tidur. Kalau tidak, ia gelisah. Ada juga bayi-bayi yang susah tidurnya, berarti termasuk bayi rewel atau ada sesuatu yang dirasanya atau sakit. Lebih ekstremnya, jika bayi banyak tak tidurnya alias melotot terus, ia akan sangat aktif, bertemperamen tinggi, seperti mengamuk, dan sebagainya. Biasanya bayi seperti ini karena ada keracunan dari sang ibu, misal, ibunya pecandu narkoba. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya. Saat ditidurkan, sebaiknya bayi tak ditaruh telentang tapi menyamping agar jika muntah tak akan ditelannya. Bayi bisa memilih sendiri posisi tidurnya yang dirasakannya nyaman. * Menguap Normal, jika bayi sesekali menguap, bisa berarti ia mengantuk. Tapi, jika sebentar-sebentar menguap atau sering, bisa termasuk dalam salah satu sindrom keracunan obat-obatan, misal, dari ibu yang pecandu narkotika. Harus ditangani dokter untuk pengobatannya. * Menggeliat Menggeliat berarti menggerakkan otot-ototnya. Normal, kok, karena ia belum bisa tengkurap atau membalikkan badannya, maka gerakannya hanya sebatas menggeliat. Bayi memang harus banyak bergerak. Di kandungan saja, bayi banyak menendang-nendang. Hanya, seberapa banyak/aktifnya bergerak, sangat individual sifatnya, entah bayi laki atau perempuan. Justru kalau bayi diam saja, harus dicurigai, berarti ada sesuatu atau sakit. * Tersenyum Orang tua dulu mengatakan, jika bayi tersenyum berarti sedang tersenyum dengan saudaranya atau malaikat. Sebenarnya, senyumnya itu tak berarti apa-apa. Apalagi bayi belum bisa melihat dengan jelas, masih berupa bayangan saja. Bayi tersenyum sekadar reaksinya menggerakkan otot-otot wajahnya. HARI-HARI PERTAMA YANG MELELAHKAN Bukan cuma proses persalinan itu sendiri yang menguras energi. Banyak hal lain yang juga menjadi penyebabnya.

Tak bisa dipungkiri, persalinan memang merupakan "kerja" yang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun psikis. Minimal untuk mengejan (persalinan spontan per vaginam), terang dr. Chairulsjah Sjahruddin, Sp.OG, MARS, dibutuhkan tenaga luar biasa. Bisa dimaklumi bila hari-hari pertama setelah melahirkan memang merupakan saat-saat yang melelahkan. Kendati tak berarti mereka yang melahirkan bukan dengan cara spontan tak mengalami kelelahan, lo. Soalnya, kelelahan yang muncul merupakan akumulasi kelelahan yang terjadi sepanjang kehamilan. Bukankah saat-saat terakhir menjelang persalinan pikiran si ibu sedemikian tegang? Entah menghadapi persalinan itu sendiri maupun sibuk memikirkan berbagai hal. Semisal, apakah bayinya akan lahir selamat, tidak cacat, atau bakal mirip siapa dan sebagainya. PROGRAM MENYUSUI Jangan dikira menyusui si kecil tak menimbulkan kelelahan, lo. Pasalnya, untuk bisa menyusui dengan baik, dari si ibu dituntut usaha keras dan kesediaan belajar. Apalagi bila bayi tersebut merupakan anak pertama. Sementara untuk bisa memberi ASI secara benar, terang ginekolog dari RS Persahabatan, dr. M. Iqbal, Sp.OG, dibutuhkan kalori yang tak sedikit. Yakni setara dengan kebutuhan untuk ngepel atau kira-kira sepertiga dari seluruh kalori yang dikeluarkan ibu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, yakni sekitar 10001500 kalori. Bukan cuma itu. Menyusui jadi sangat melelahkan karena untuk memenuhi kebutuhan bayinya, si ibu harus bersedia memberikannya on demand. Artinya, ia harus siap menyusui kapan saja si bayi minta disusui. Tengah malam sekalipun atau waktu lain saat ibu justru butuh istirahat. Sedangkan jika dihitung-hitung, setiap kali menyusui, termasuk persiapannya, paling tidak butuh waktu setengah jam. Nah, berapa banyak waktu yang tersita hanya untuk acara yang satu ini? Belum lagi kesibukan lain mengurusi keperluan si bayi. Cukup merepotkan, kan? Hingga bila tak diikuti motivasi menyusui yang tinggi, bukan tak mungkin si ibu akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan akhirnya jatuh sakit. Walaupun, kata Iqbal, selelah apa pun tetap harus diingat bahwa ASI sangat penting buat tumbuh kembang bayi. Selain murah karena tak harus membeli, menyiapkannya pun tak begitu merepotkan ketimbang susu botol. Belum lagi kandungan gizi terbaiknya dan zat kekebalan yang sampai saat ini belum tertandingi ataupun bisa disuplai oleh susu formula merk apa pun. Disamping manfaat psikologis karena ibu yang memberikan ASI ternyata bisa lebih tenang. Demikian pula dengan si kecil. Hanya saja yang perlu disadari kaum ibu, pengadaan ASI juga amat ditentukan oleh kondisi kesehatan si ibu secara umum. Yang antara lain amat tergantung pada kualitas asupan makanan yang dikonsumsinya. Artinya, seorang ibu yang memiliki kondisi kesehatan baik dan memperhatikan betul kualitas makanannya, besar kemungkinan produksi ASI-nya baik. Selain lebih mampu menangkal kelelahan. Dalam arti, kalaupun sama-sama lelah, ia lebih mampu bertahan dibanding sesama ibu yang kondisi kesehatan maupun asupan gizinya relatif buruk. Selain asupan gizi yang baik, dari si ibu pun dituntut kemampuan manajemen waktu yang baik. Dengan kata lain, ia harus pandai mengatur/menggunakan waktu seoptimal mungkin. Semisal membatasi kebiasaan menonton TV yang kurang bermanfaat dan harus bisa memanfaatkan waktu luang saat si bayi tidur untuk beristirahat. Langkah-langkah ini bisa membantu ibu tetap sehat sekaligus menjaga produksi ASI tetap lancar. KEGAGALAN RAWAT GABUNG Sebetulnya, tegas Chairulsjah, melalui konsep rawat gabung diharapkan sejak awal sudah terjalin attachment yang sedemikian erat antara ibu dan bayinya. Selain kesempatan bagus buat si ibu untuk melatih keterampilannya mengurusi bayinya dan mengatur segalanya. Sayangnya, banyak ibu yang menganggap konsep ini sebagai pemaksaan belaka ataupun

akal-akalan para suster buat meringankan tugas mereka. Tak mengherankan bila pola perawatan rooming in itu acap gagal karena keengganan si ibu sendiri dengan segala macam alasan. Padahal dengan pola rawat gabung ini, setidaknya ibu jadi lebih mengenali bayinya. Termasuk lebih cepat membedakan suara tangis bayinya. Mana yang karena lapar, popoknya basah, risih usai BAB atau sebab lain. Nah, dengan mengenali makna tangisan bayinya, si ibu bisa segera mengambil tindakan tepat untuk menenangkan bayinya. Dengan begitu bayi jadi tak terlalu sering menangis yang hanya akan membuat si ibu makin letih dan merasa tak berdaya. BANTUAN ORANG LAIN Baik Chairulsjah maupun Iqbal sepakat bahwa kelelahan ibu di hari-hari pertama setelah persalinan, sebetulnya bisa diminimalkan dengan kehadiran/bantuan orang lain, terutama suami dan keluarga. Toh, kecuali mengandung, melahirkan dan menyusui, pekerjaanpekerjaan lain seputar bayi bisa ditangani orang lain di luar ibu. Semisal menggendong, mengganti popok, ikut atau bergantian bangun tengah malam, dan sebagainya. Itu sebab, dukungan/sikap positif dari pasangan dan keluarga akan memberi kekuatan tersendiri bagi si ibu. Disamping ikut membantu menyuburkan terciptanya kedekatan/attachment si ibu terhadap bayinya. Dalam arti, si ibu bisa lebih tulus merawat bayinya karena tak menganggap kehadiran bayinya sebagai beban. Lebih jauh, tegas Chairulsjah, kedekatan si ibu terhadap bayinya ini akan sangat menentukan atau setidaknya mempengaruhi sikapnya dalam menghadapi dan merawat bayi. Sementara bayi yang tak mendapat perawatan semestinya bisa dipastikan kondisi kesehatannya tak menggembirakan. Itulah mengapa, persiapan menjadi orang tua, dalam arti berperan sebagai ayah dan ibu, merupakan salah satu kondisi psikologis yang dituntut. Dengan kata lain, semakin baik persiapan yang dilakukan dalam menghadapi peran barunya sebagai ayah dan ibu, semakin mantap pula orang tua membawa bayinya pulang dari RS dan mengambil alih perawatannya. Waspadai Postpartum Blues Menurut Chairulsjah, kelelahan fisik dan psikis ibu sangat potensial memunculkan apa yang dinamakan postpartum blues. Yakni, keadaan depresi secara fisik maupun psikis pada ibu yang dapat terjadi beberapa hari setelah kelahiran sampai kira-kira sebulan kemudian. Pemicunya sendiri cukup beragam: mulai perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan, proses melahirkan yang meletihkan, sampai peningkatan kebutuhan ekonomi maupun kebiasaan hidup yang berubah drastis. Misal, ibu yang terbiasa bekerja dan berkesempatan ketemu banyak orang, saat cuti melahirkan bukan tak mungkin jadi didera kebosanan/kesendirian. Keadaan ini akan lebih diperburuk bila ibu terlalu menaruh harapan tinggi bahwa ia dapat mengatasi segalanya, sedangkan pada kenyataannya ia seringkali dibuat tak berdaya. Belum lagi kekhawatiran ibu mengenai kesehatan dirinya dan bayinya, hingga muncul perasaan sedih dan tak berdaya secara berkepanjangan tadi. Tentu saja masalah ini bisa mengganggu kemampuan ibu untuk merawat bayinya. Kalau sudah begitu, perlu dicari bantuan profesional, semisal berkonsultasi dengan psikolog. Perhatikan Diri Sendiri Tak bisa dipungkiri seringkali ibu baru "melupakan" dirinya sendiri. Seluruh waktunya seolah habis tersedot oleh kehadiran si kecil. Padahal, bilang Chairulsjah, tidak harus demikian. Ibu justru harus bisa menyisihkan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas pribadinya. "Kalau tidak, bisa-bisa ia mengalami kelelahan yang luar biasa yang bisa berakibat buruk." Jangan sampai karena repot sendirian mengurusi si kecil, ibu sama sekali tak punya waktu untuk merawat/mengurus dirinya sendiri. Lalu pada gilirannya, akan tumbuh sikap negatif karena kehadiran si kecil dianggapnya sebagai beban belaka yang

membatasi segala haknya sebagai seorang pribadi. Nah, sekarang tinggal bagaimana caranya mengatasi kerepotan tersebut. Seperti diuraikan di atas, yang pasti, si ibu perlu dibantu. Jangan ragu untuk melibatkan suami maupun kerabat dekat lainnya untuk mengurus si kecil. Dengan begitu, selain kerepotan si ibu bisa teratasi, bayi pun akan memiliki kedekatan pada ayahnya yang amat menguntungkan bagi perkembangannya. Untuk memudahkan tugas ibu, buatlah catatan harian tentang kegiatan si kecil. Misalnya, kapan menyusu dan kira-kira berapa banyak, bagaimana pola tidurnya, berapa jam sekali ia pipis dan buang air besar. Catatan harian ini akan sangat membantu ibu mengatur jadwal pribadinya. Hingga bisa "mencuri" waktu untuk istirahat sejenak ataupun memanfaatkannya untuk kebutuhan pribadi. Saran Chairul, sempatkan untuk mendengarkan musik bila memang suka. Berolahraga sekitar 5-10 menit juga bisa membantu meningkatkan energi, lo. Bila dirasa perlu, sesekali ibu pun bisa ke luar rumah untuk meringankan beban emosional. Entah dengan berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan tempat tinggal, bermain ke rumah tetangga, mengunjungi sahabat atau jalan-jalan ke mal. Namun saat meninggalkan si kecil, pastikan ia aman bersama pengasuhnya. Meminimalkan Ketegangan Saat Persalinan Idealnya, tegas Chairulsjah, memang sudah harus dipikirkan bagaimana agar menjelang persalinan ibu-ibu hamil tidak tegang mendengar jeritan kesakitan si ibu di sebelahnya. "Harusnya ada ruang tersendiri saat kala I yang memungkinkan si ibu ditunggui/didampingi keluarga dekatnya, hingga ada support yang membuatnya merasa tak sendirian." Karena kenyamanan semacam ini akan sangat menentukan persalinan bisa berjalan normal atau tidak. Desain rumah sakit pun bahkan sudah harus dipikirkan jauh-jauh hari. Sayangnya, desain di banyak RS ataupun RSB kita justru mengkondisikan 6-8 ibu melahirkan berderet sekaligus di ruang-ruang yang hanya dibatasi sekat tipis. "Jangan salahkan bila pasien lari keluar karena takut mendengar teriakan tetangga kanan-kirinya." Saat pemulihan di RS pun harusnya dipikirkan kenyamanan buat si ibu. Jangan sampai ia dibiarkan di tempat yang kurang nyaman tanpa pendampingan sedikit pun. Akibatnya, si ibu merasa tak diurusi karena semua perhatian tercurah hanya pada bayinya. Padahal terhadap si ibu harus dilakukan observasi selama 2 jam pertama setelah melahirkan untuk mengamati adakah perdarahan postpartum atau tidak. Terutama early postpartum hemorrhage yang terjadi dalam kurun waktu 1 x 24 jam setelah anak lahir. Itulah mengapa 2 jam setelah melahirkan secara normal atau 8 jam untuk yang melahirkan secara sesar, si ibu akan dibiarkan di area kamar bersalin agar betul-betul bisa dipantau perkembangannya detik demi detik. SI KECIL TAK BOLEH PULANG LANTARAN KUNING Tak perlu takut berlebihan karena sebenarnya tak membahayakan. Asalkan kadar kuningnya tak tinggi dan segera ditangani. Pada prinsipnya, semua bayi baru lahir akan mengalami kuning. "Biasanya kuningnya berlangsung dalam dua minggu pertama. Zat kuning ini namanya bilirubin. "Bilirubin ini masih dianggap normal kalau terjadi setelah 48 jam, kurang dari 2 minggu, dan kadarnya di bawah 12 mg/dl," terang dr. Rudy Firmansjah B. Rifai Sp.A dari bagian kelompok kerja Perinatologi RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta. Bayi bisa kuning, lanjutnya, karena sewaktu di kandungan ia tak bernapas. Jadi, sel darah merahnya sewaktu di kandungan banyak sekali. Begitu lahir dan bernapas, sel darah merahnya hancur. Penghancuran ini membentuk zat yang namanya bilirubin. Nah, harusnya bilirubin dibuang oleh hati ke dalam empedu lalu ke usus. Tapi karena organ hati belum matang dan fungsinya belum bagus, maka pembuangan bilirubin dari darah ke usus belum lancar. Akibatnya, bilirubin dalam darah menumpuk.

Bilirubin ada dua macam; yang larut dalam air dan tak larut dalam air. Pada bayi, bilirubinnya terutama tak larut dalam air. Sementara kadar kuningnya, dibedakan antara normal dan tidak. Jadi, kadar kuningnya ada yang rendah dan tinggi. Yang tinggi itulah yang bisa menimbulkan masalah pada bayi. Di luar negeri, menurut Rudy, sudah disepakati, jika kadarnya di atas 25 mg/dl berarti sudah bisa membahayakan otak. Sedangkan di Indonesia disepakati bila kadarnya 20 mg/dl. MENEMPEL DI OTAK Pada beberapa kasus, tambah Rudy, ada bayi-bayi yang memang berisiko terjadi peningkatan bilirubin, karena penghancuran sel darah merahnya berlebihan. Misal, ibu golongan darah O dan bayinya golongan darah A atau B. Karena golongan darah O punya zat anti terhadap A dan B, maka bisa terjadi penghancuran darah yang berlebihan pada si bayi. Begitu pula dengan ibu rhesus negatif dan anak rhesus positif, pembentukan bilirubin akan berlebih. Bisa juga karena ada penyakit lain seperti kelainan darah atau apapun yang menyebabkan penghancuran sel darah merahnya berlebihan. Pada keadaan seperti itu pembentukan bilirubinnya cepat. Dalam waktu 48 jam pertama kadar kuningnya sudah tinggi. Sebetulnya, zat kuning tak membahayakan di tempat lain. Tapi, kalau sudah di otak, bilirubin bisa menempel, karena otak kaya akan lemak. Kadar kuning yang tinggi bisa menembus semacam klep yang ada di otak hingga barrier itu membuka lalu masuk ke aliran darah otak. Jadi, bila terlambat menangani bayi yang kuning tinggi bisa berisiko tinggi dan berakibat fatal. Paling banyak akan menyerang saraf pendengaran hingga pendengaran anak jadi terganggu, meski mungkin tak sampai tuli, misal. Fatalnya, jika sampai ke otak dan menempel di otak, bisa membuat anak kejang, napas terganggu dan meninggal. Kejadian ini bisa berlangsung cepat. Itu kalau kadar bilirubinnya sampai mencapai 50-60 mg/dl. Maka itu bila kadar kuningnya di atas 20 mg/dl atau tinggi sekali, dilakukan tukar darah. Tindakan tukar darah ini bukan berarti bilirubinnya dibuang tapi racunnya yang dibuang, dengan maksud agar pembentukan bilirubinnya tak cepat. TAK BOLEH PULANG Untuk mengetahui kadar kuningnya dilakukan pemeriksaan darah di RS. Biasanya pada hari ketiga setelah lahir. Umumnya, semua bayi, kalau diperiksa kadar bilirubinnya lebih dari 2 mg/dl. Pada beberapa bayi, ada yang kadar kuningnya tak kelihatan. Tapi jika diperiksa, sebetulnya kuning juga, mungkin hanya berkisar 6-7 mg/dl. Bila kadar kuningnya seperti ini/rendah tak perlu diapa-apakan, tak perlu perawatan. Jikapun masih berkisar di antara 8-9 mg/dl, bayi boleh dibawa pulang. Beberapa hari kemudian dibawa kontrol ke dokter lagi. Namun, jika kadar kuningnya berkisar 12-15 mg/dl, bayi belum boleh pulang dan harus dirawat di RS untuk mencegah bilirubin agar tak naik sampai kadar 20 mg/dl dan tak sampai ke otak. Bukan berarti kita lantas boleh tenang-tenang saja, lo, jika si kecil diijinkan pulang karena kadar kuningnya rendah. Pasalnya, dalam 2 minggu, si kecil masih bisa kuning, karena prosesnya memang belum selesai. Jadi, harus tetap diperhatikan dan diwaspadai. "Kalau dilihat bayinya kuning, meski belum jadwalnya kontrol ke dokter, tetap harus segera dibawa ke dokter. Karena dikhawatirkan bila kadarnya sampai mencapai 20 mg/dl." Apalagi, untuk mengetahui kuning tidaknya memang sangat sulit. Terlebih jika warna kulit si bayi agak gelap. Cara termudah dengan melihat bagian putih mata karena bagian ini tak bisa menipu. Jika kuningnya biasa saja, tak terlalu tinggi, maka tak akan tampak warna kuning di mata, hanya di kulit. Ini tak perlu diapa-apakan. Namun bila tampak kuning di mata, segera bawa ke dokter untuk mengetahui jumlah kadar bilirubinnya. Nah, mengingat dalam waktu 2 minggu masih ada kemungkinan untuk kuning, Rudy menyarankan para ibu yang ketika pulang bayinya agak kuning, agar tak minum jamujamuan atau makan ayam arak (tradisi etnis Cina) dulu. "Mungkin saja karena ada kontak dengan zat-zat yang merangsang penghancuran sel darah merah membuat bayinya kuning."

Ini biasanya karena ada kelainan, seperti yang banyak di Indonesia yaitu kekurangan enzim G6-PD. Hingga, bayi rentan terhadap zat-zat tertentu yang membuat darahnya hancur berlebihan. Semisal kamper atau jamu-jamuan yang diminum si ibu menyusui. Meski keduanya ini bukan penyebab kuning tapi punya risiko membuat bayi jadi kuning. Orang Tua Harus Terlibat Rudy menganjurkan agar orang tua ikut terlibat selama bayi kuning dirawat di RS. "Jika si ibu masih dalam perawatan, mungkin bisa rawat gabung. Jika sudah pulang sementara bayinya dirawat, jangan ditinggalkan begitu saja tapi seringlah menjenguknya." Bila jarak rumah dengan RS cukup dekat, ibu bisa datang sehari dua atau tiga kali untuk merawat bayinya. Selain agar tetap ada ikatan emosional dengan bayinya, ibu pun jadi tahu bagaimana kondisi kuning bayinya. Tak hanya itu, ibu juga bisa tetap memberikan ASI. Jikapun tak menyusui langsung, setidaknya di rumah ibu sudah memompa ASI-nya dan membawanya ke RS, lalu dititipkan pada perawat di RS untuk diberikan pada bayinya. Dilakukan Penyinaran Di RS, terang Rudy, si kecil yang kuning akan dimasukkan ke dalam boks yang ada sinar birunya (blue light) dengan panjang gelombang tertentu. Tujuannya, mengubah bilirubin di kulit yang tak larut dalam air menjadi larut dalam air hingga bisa dibuang lewat urin/keringat. Selama penyinaran, mata si kecil ditutup dengan semacam karbon untuk menghalangi sinar agar tak masuk ke mata. Pasalnya, di belakang bola mata ada retina yang peka sekali terhadap sinar yang terus menerus. Nah, ini yang dilindungi agar tak rusak. Penyinaran dilakukan sepanjang hari dan berlangsung 1-2 hari. Si kecil akan dikeluarkan dari boks tersebut hanya bila pipis, BAB, atau diberi minum. Setelah penyinaran yang efektif, kadar kuningnya tak membahayakan lagi untuk otaknya. Tentu saja, penyinaran tak bisa dilakukan sendiri di rumah. Selain karena alatnya tak ada, kita pun tak tahu jumlah kadar kuningnya. Kadarnya tetap harus diperiksa di RS/lab. Jika setelah menjalani penyinaran, ternyata kuningnya tak kunjung hilang, harus dicari penyebabnya. "Mungkin saja salah satu penyebab tidak turunnya kadar kuning si bayi karena lampu yang digunakan untuk penyinaran sudah tak terlalu efektif lagi atau si bayi kurang begitu bagus minumnya hingga darahnya agak kental." Bisa juga karena si bayi terlalu sering dikeluarkan dari boksnya ketika sedang menjalani penyinaran. Misal, sang ibu merasa kasihan dan si bayi diberi minum sepanjang hari, akhirnya penyinarannya tak efektif. Kemungkinan lain karena kelainan enzim atau penyakit infeksi. Obat-obatan Tak Menguntungkan Bayi Kuning Selain dengan penyinaran, bayi kuning juga harus banyak minum. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, dilakukan tukar darah. "Ada juga beberapa dokter yang memberikan obat-obatan tertentu. Namun di luar negeri, cara ini tak lagi digunakan karena tak ada untungnya, malah mungkin merugikan karena bayi jadi minum obat-obatan," terang Rudy. Misal, obat Phenobarbital. "Bukan hanya membuat anak mengantuk, tapi juga malas minum. Padahal, kan, dalam keadaan kuning, bayi harus mengejar cairan yang cukup banyak. Jadi, pemberian obat tersebut cukup menganggu." Selain itu, obat tersebut gunanya untuk mematangkan enzim hati, sementara enzim hati akan terangsang pembentukannya setelah 2 kali 24 jam atau dua hari lagi. "Jadi, bekerjanya obat ini percuma karena kuningnya mungkin saja sebelum waktunya itu akan tinggi." Tak Disarankan Dijemur Umumnya, kita disarankan menjemur bayi kuning di pagi hari karena dianggap bisa mengatasi kuning. Namun menurut Rudy, hal tersebut sebenarnya masih suatu yang kontroversi. Apalagi, sinar matahari sekarang sudah tak begitu baik lagi, mengingat keadaan ozon yang makin jelek. "Biasanya kalau sudah di atas jam 8.30 sinarnya sudah tak bagus lagi. Kalaupun mau menjemurnya, sekitar jam 7.00-7.30 dan tidak terlalu lama."

Namun demikian, Rudy tak menganjurkan untuk menjemur bayi kuning, karena bahayanya lebih banyak. "Kulit bayi akan terangsang sinar matahari hingga menyebabkan teriritasi dan si bayi jadi rewel. Apalah arti penguapan setengah jam bilirubin oleh sinar matahari dibandingkan dengan kerugian kulitnya teriritasi. Jadi, penyinaran dengan menjemur si bayi tak terlalu banyak membantu ataupun menguntungkan." Lebih baik, tambahnya, beri air minum/ASI yang banyak. Jika perlu, kembali ke RS untuk dilakukan penyinaran. Bayi Kuning Karena ASI Ternyata, ASI juga bisa bikin bayi kuning, lo. Istilahnya, breastmilk jaudice. Artinya, kuning yang disebabkan oleh zat dalam ASI. "Biasanya kuning karena ASI terjadi di usia 10 hari atau di atas 2 mingguan, jarang di bawah usia itu," terang Rudy. Tapi ini tak masalah, hanya si bayi dipuasakan dulu dari ASI selama 2 hari. Biasanya kuningnya akan turun drastis. Setelah itu bila diberikan ASI lagi takkan membuatnya kuning. Makanan Ibu Menyusui Ibu yang menyusuimembutuhkan makanan ekstra. Untuk memproduksi 600- 800 ml ASI per hari, diperlukan tambahan kalori sebanyak 500 kkal. Bila tidak diimbangi peningkatan makanan, sumber kalori tersebut diambil dari tubuh ibunya sehingga membahayakan status gizi ibu dan bayinya. Tidak ada makanan yang secara khusus disarankan bagi ibu menyusui. Mereka harus makan seperti biasanya, dengan menu beragam sesuai pola makan yang seimbang empat sehat lima sempurna. Porsinya saja yang perlu ditambah, baik melalui makan besar maupun ngemil. Beberapa tips berikut mungkin bermanfaat: Anjuran:

Pastikan kecukupan konsumsi zat besi agar ibu menyusui tidak anemia. Zat besi banyak terdapat pada sayuran seperti kangkung, bayam dan katuk. Katuk merupakan sayuran spesial bagi ibu menyusui, karena dalam 100 g daun katuk terdapat sekitar 2.7 mg zat besi dan 204 mg kalsium.

Pantangan:

Jangan minum obat selama masa menyusui, kecuali sudah dikonsultasikan dengan dokter.

5 Tips Wajib Bagi Ibu Menyusui Bayi yang disusui dengan ASI akan mendapatkan gizi terbaik yang tidak tergantikan bahkan oleh susu formula yang paling mahal sekalipun. Menyusui juga merekatkan jalinan cinta antara ibu dan bayinya karena:

Air susu ibu (ASI) mengandung hormon koleksitokinin yang membuat bayi mudah tidur.

Berikut adalah beberapa tips bagi para ibu yang sedang menyusui: 1. Jangan menjadwalkan pemberian ASI. Susuilah bayi pada saat dia meminta dan hentikan hanya setelah dia merasa cukup, sebab:

Bayi meminta menyusu bukan semata-mata karena lapar, namun juga karena kebutuhan emosional untuk disayangi dan dilindungi.

2. Jaga keseimbangan kedua payudara. Susui dengan kedua payudara secara bergantian. Setiap kali memulai, gunakan payudara yang terakhir disusukan. 3. Bantu bayi bila menunjukkan gejala akan bersendawa (Jawa: gumoh). Sendawakan dengan menggendong tegak pada pundak dan menepuk-nepuk punggungnya. Dengan begitu maka udara yang terisap bersama ASI secara perlahan akan keluar. 4. Bila ASI memancar sewaktu akan disusukan, keluarkan sedikit dengan tangan untuk menghindari bayi tersedak dan menolak susu. Caranya adalah dengan menopang payudara secara lembut dan mengurut ke arah areola sambil memutar pijatan ke sekeliling kuadran payudara. Kemudian, tekan areola dengan ibu jari dan jari-jari untuk mengosongkan ASI yang terdapat dalam sinus-sinus areola.Cara lain untuk mengeluarkan ASI adalah dengan pompa mekanik maupun listrik. Apabila terjadi pembengkakan payudara (engorgement) sebelum ASI dikeluarkan dengan pompa, sebaiknya payudara dipijat terlebih dahulu supaya ASI mudah keluar. 5. Bagi ibu yang terpaksa harus meninggalkan bayinya, simpanlah ASI agar dapat diberikan melalui botol pada saat bayi merasa lapar. ASI dapat disimpan di tempat yang bersih selama 6-8 jam. Bila disimpan di kulkas, jangan diberikan setelah melewati 2X 24 jam. ASI dapat bertahan hingga 2 minggu bila disimpan pada lemari pendingin bertemperatur di bawah 18 derajat celcius. Pembekuan ASI tidak banyak berpengaruh terhadap kandungan gizi dan zat kebal di dalamnya, asalkan tidak dipanaskan berlebihan sebelum diberikan ke bayi. Pemanasan di atas 62 derajat celcius selama 30 menit akan merusak unsur selular dan zat kebal di dalamnya (IgG, IgA dan IgN).