P. 1
Dasar Teori

Dasar Teori

|Views: 209|Likes:
Dipublikasikan oleh azisti
Kebisingan
Kebisingan

More info:

Published by: azisti on Jun 20, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2015

pdf

text

original

Dasar teori Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan

serta dapat menimbulkan ketulian. Kebisingan terjadi disebabkan karena adanya bunyi, terjadi karena adanya benda yang bergetar dan menimbulkan gesekan dengan benda (zat) yang ada di sekitarnya, dan benda yang bergetar tersebut dapat berupa zat padat cair dan gas. Sehingga dapat disimpulkan penghantar bunyi dapat pula berupa zat cair padat dan gas. Secara teoritis udara disekitar pengukuran tingkat kebisingan merupakan media perambatan gelombang bunyi dan dari hasil penelitian dilaporkan hanya sebagian kecil menyerap gelombang bunyi yang melaluinya. Kemampuan serap udara tersebut sangat tergantung pada nilai suhu dan kelembaban yang ada disekitarnya. Serapan yang berpengaruh signifikan terjadi pada kelembaban rendah (RH < 20%) dan temperature tinggi (> 36°C) Hadi Dinsiki (1976). Selain itu dijelaskan pada udara yang memiliki termperatur rendah < 10 °C molekulnya lebih setabil dan rapat sehingga gesekan yang terjadi ketika ada gelombang bunyi yang merambat menjadi lebih besar dan berakibat gelombang bunyi menurun. Rambatan bunyi akan lebih cepat pada suhu udara yang temperature nya tinggi karena molekul – molekul nya pada medium rambatan lebih renggang, sehingga rambatan bunyi lebih renggang yang berarti terjadi hambatan minimal. Hasil pengukuran Hasil pengukuran kebisingan Proyek Banyu Urip Cepu Ltd, yang dilakukan pada tanggal 3 Februari sampai dengan 7 Maret 2012 menggunakan sound level meter mengacu pada Kep Men LH No 48 Tahun 1996 pada 86 titik pantau tersebar pada empat kelurahan. Sebagian besar area pengukuran merupakan area persawahan (90%) budi daya padi sawah yang saat itu tanaman padi tanaman padi pada periode pertumbuhan (Periode hamil) sehingga pada siang hari relative tidak banyak kegiatan. Selain area persawahan, sebagian kecil merupakan tegalan dan sekitar perkampungan.

Dari data hasil pengukuran 62 titik pantau yang tersebar, kebisingan pada malam hari relative lebih besar dan 24 titik pantau kebisingan pada siang hari lebih besar, yang berarti 38% kebisingan lebih besar pada malam hari. Perbedaaan terbesar hasil pengukuran kebisingan antara siang dan malam adalah 14 dB (A) yaitu titik N21, dimana kebisingan pada malam hari sebesar 56 dB (A) dab siang hari sebesar 42 dB (A), diukur pada tanggal 26 Februari 2012 hari Minggu di desa Gelonggongan. Sebaliknya perbedaan terkecil terukur pada lokasi Desa Mojodelik N28 tanggal 7 Maret 2012 yaitu 39,8 dB (A) pada malam hari dan 39,7 dB (A) pada siang hari (0,1 dB (A)). Kesimpulan Dilihat dari data sekunder variable temperature dan kelembaban yang terukur dan dibandingkan pengaruh temperature dan kelembaban terhadap tingkat kebisingan pada areal penelitian tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kebisingan pada malam hari lebih besar apabila dibandingkan pada siang hari. Diduga tingkat kebisingan lebih besar pada malam hari pada areal pengukuran disebabkan aktivitas dan sumber bunyi hewan – hewan nocturnal yang banyak ditemukan di areal tersebut, seperti hewan – hewan berikut : Jangkrik (Grynus assimilis) Katak (Kamacun Crivoras) Kakak Pohon (Hyla SP) Orong – orong (Gryllotalpa Orientalis, G. Hirsuta, G. Hexadactyla, G. Brachyptera) Dari seluruh titik pantau hasil terukur di bawah baku mutu yang di tetapkan sesuai Kep Men LH No. 48 tahun 1996 sebesar 70 dB (A) (Kawasan Industri). Dimsiki Hadi (1976), Petunjuk Praktikum Fisika Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->