Anda di halaman 1dari 10

Mata Kuliah Dosen Pengampu Hari, Tanggal Waktu

Pertanyaan : Psikologi Umum : Drs. Kuswadi, M.Ag : Senin, 19 Desember 2011 : 90 menit

1. Sudah merupakan fitrah dari Allah, bahwa unsure yang membentuk manusia

adalah unsur fisik dan psikis (roh). Roh ini ditiupkan oleh Allah semenjak janin masih berumur 4 bulan. Lalu dapatkah dikatakan bahwa Psikologi ini juga mempelajari tentang keadaan janin yang masih di dalam kandungan? Berilah penjelasanmu! 2. Tokoh dari Psikologi Fungsional adalah William James. Bukunya yang berjudul The Principles of Pscychology merupakan sumbangan besar dalam dunia Psikologi. Dalam bukunya, ia menentang pendapat dari Wundt. Jelaskan alasan James mengapa dia menentang pendapat dari Wundt! 3. Dalam kehidupan ini, individu dikenai oleh banyak stimulus. Namun, mengapa tidak semua stimulus mendapatkan respon dari individu? Adakah hubungannya dengan perhatian? 4. Jelaskan perbedaan antara ilusi dan halusinasi! Di antara ilusi dan halusinasi manakah yang berhubungan dengan dj vu? 5. Antara pengetahuan dan pengalaman. Manakah di antara keduanya yang mudah diingat dan akan tersimpan lama dalam memori anak SD? Jelaskan! 6. Dalam menarik kesimpulan ada berbagai macam cara. Adakah perbedaan cara penarikan kesimpulan antara orang yang berintelegensi tinggi dan berintelegensi rendah? Adakah emosi dan perasaan mempengaruhi pula? Jelaskan pendapatmu! 7. Motivasi berjalan seperti sebuah siklus. Setelah motivasi mencapai sebuah tujuan, apakah motivasi tersebut akan terhenti? Bagaimana cara memberikan motivasi agar meningkatkan belajar anak SD? 8. Jelaskan yang dimaksud dengan kecerdasan emosi! Adakah pengaruhnya dengan proses belajar pada anak SD? Jelaskan! 9. Menurut Piaget, proses merespon individu terhadap lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif individu disebut asimilasi. Bagaimana aplikasi asimilasi seorang guru SD dalam pembelajaran di SD? Jelaskan pendapatmu! 10. Belajar mengakibatkan perubahan perilaku. Bagaimanakah cara pembelajaran yang baik agar dapat mengakibatkan perubahan perilaku siswa SD pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor? Pembahasan

1. Psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Akan tetapi, karena jiwa itu sendiri tidak nampak, maka yang dapat diobservasi adalah aktivitas-aktivitas manusia sebagai manifestasi jiwa itu sendiri. Psikologi ini sangat erat kaitannya dengan roh, karena roh itu juga merupakan jiwa. Pada ajaran agama Islam, roh manusia ditiupkan saat bayi masih berada dalam kandungan saat usia kandungan tersebut 4 bulan (120 hari). Pertanyaannya adalah dapatkah Psikologi dikatakan pula mempelajari keadaan bayi yang masih dalam kandungan. Jawabannya adalah dapat. Di era kemajuan teknologi ini banyak sekali terapi-terapi atau cara-cara yang dilakukan di bidang kedokteran pada ibu hamil agar dapat meningkatkan kecerdasan pada bayi sejak masih dalam kandungan. Baik itu meningkatkan kecerdasan otak dan juga kecerdasan emosi bayi. Jika kecerdasan otak bisa ditempuh dengan cara mengkonsumsi susu yang mengandung DHA, kolin, asam folat, dll yang menurut ilmu kedokteran dapat meningkatkan kecerdasan bayi sejak masih dalam kandungan. Sedangkan, untuk kecerdasan emosi bayi dapat ditempuh dengan cara mendengarkan musik klasik, atau membacakan ayat-ayat suci al quran. Dengan harapan bayi merasa tenang dan dari sini dapat terbentuk akhlaq pada bayi, terlebih-lebih saat bayi tersebut hidup di dunia nanti. Menurut guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Utami Munandar, stimulasi yang diberikan pada janin meliputi stimulasi fisik-motorik dengan mengelus-elus jabang bayi melalui kulit perut sang ibu, stimulasi kognitif dengan berbicara dan bercerita kepada janin, dan stimulasi afektif dengan menyentuh perasaan bayi. Makin sering dan teratur perangsangan diberikan, makin efektif pengaruhnya. 2. Alasan James menentang pendapat dari Wundt : William James adalah tokoh dari Psikologi Fungsional, yaitu psikologi yang memandang psikis (mind) sebagi fungsi atau digunakan oleh organisme untuk mneyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Sedangkan, Wilhem Wundt adalah tokoh Psikologi Eksperimental. Dia adalah seorang strukturalis, sehingga menitikberatkan pada struktur dari kesadaran yang terdiri atas bagian-bagiannya. Dalam salah satu tulisannya The first step in the investigation of a fact must therefore be a description of the individual elements.of which it consists (dalam Schultz dan Schultz 1992). Wundt berpendapat bahwa kesadaran adalah aktif dalam mengorganisasi dirinya. Karena itu Psikologi fungsional mempunyai pendapat yang berbeda dengan Wundt. Fungsionalis mempelajari psikis tidak bertitik tolak pada komposisi

atau struktur dari psikis, tetapi dari fungsi atau proses mental yang mengarah pada akibat-akibat yang praktis.

3.
St

St St St Ft Ft Ft Sp Ft

Keterangan : St = stimulus (faktor luar) Ft = faktor intern (faktor dalam) Sp = struktur pribadi individu

Skema di atas menunjukkan bahwa individu menerima banyak stimulus dari lingkungan. Tetapi tidak semua stimulus akan mendapatkan merespon dari individu. Individu mengadakan seleksi terhadap stimulus yang mngenainya sesuai dengan kebutuhannya atau yang menarik perhatiannya. Karena kemampuan merespon individu adalah terbatas. Individu harus memilih dan memprioritaskan, stimulus-stimulus mana saja yang paling utama dan tepat untuk dirinya. Dari sini perhatian juga turut berperan. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas indidvidu yang ditujukan kepada suatu objek ataupun juga terhadap stimulus. Jadi penyeleksian stimulus ini memerlukan perhatian dari individu. Sehingga akhirnya stimulus tersebut mendapatkan respon. 4. Perbedaan ilusi dan halusinasi: Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif. Contoh : Pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung, saat guru menerangkan pelajaran bahadi depan Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek. Halusinasi merupakan suatu gejala penyakit kejiwaan yang gawat (serius). Individu mendengar suara tanpa adanya rangsangan akustik. Individu melihat sesuatu tanpa adanya

rangsangan visual, membau sesuatu tanpa adanya rangsangan dari indera penciuman. De javu pertama kali diperkenalkan oleh Emile Boirac (1851-1917) untuk pengalaman seperti ini menyebutnya sebagai perasaan ganjil. Deja vu, menurutnya bukanlah sesuatu yang datang dari masa lalu. Tapi dari masa kini (present). Teori yang berusaha diyakini hingga kini, menyimpulkan bahwa dj vu merupakan bayangan tak nyata bahwa kita pernah mengalami keadaan tertentu sebelumnya. Jika "hayalan" yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami deja vu tersebut membuatnya sangat yakin bahwa dia telah mengalaminya di masa lalu, itu dikarenakan kejadian yang dirasakannya saat ini memilki kemiripan dengan keadaan masa lalu yang sebenarnya memang "pernah dialami". Hanya saja saat itu otaknya tidak mampu mengumpulkan memori akan hal itu secara sempurna. Atau kejadian yang dialami sekarang ini mirip dengan fragmen memori masa lalu yang tidak teratur. Menurut beberapa sumber yang saya baca, banyak sekali perbedaan pendapat mengenai asal mula de javu ini. Ada yang mengatakan bahwa dejavu ini disebabkan neurochemical action di dalam otak yang sebenarya sama sekali tidak terkait dengan memori akan masa lalu. Pada saat demikian, seseorang merasa sedang aneh fikirannya, kemudian menghubungkan keanehan fikiran tersebut dengan masa lalu yang sebenarnya tidak ada. Namun baru-baru ini telah diadakan sebuah penelitian oleh Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan didaftarkan sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan. Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti

Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu baru atau lama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dj avu merupakan sebuah ilusi. Karena de javu disebabkan kesalahan persepsi karena ada kemiripan antara peristiwa saat ini dengan masa lalu, namun ia tidak dapat mengumpulkan memorinya secara sempurna. Atau dikarenakan rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu baru atau lama. 5. Dalam proses ingatan melalui 3 tahap, yakni memasukkan, mengingat dan menimbulkan kembali. Saat proses memasukkan dapat melalui cara yang disengaja atau juga cara yang tidak disengaja. Yang dimasukkan dalam memori ini di antaranya berupa pengetahuan dan pengalaman. Untuk anak SD, pengalaman lah yang akan bertahan lama dalam memorinya, meskipun pengetahuan tak klaah pentingnya demi kecerdasan anak. Namun saat anak megalami hal itu sendiri pastilah si anak akan lebih mengingat pengalaman tersebut. Karena ada rasa bangga dan perasaan motivasi yang muncul saat dia telah mengalami sesuatu, terutama dengan hal-hal yang baru. Oleh karena itu, tugas seorang guru untuk dapat menciptakan metode pembelajaran, di mana anak yang merasa dia belajar sendiri, dia mengalaminya sendiri. Guru hanya memberikan umpan-umpan, sehingga anaklah yang aktif, anak lah yang aktif.

6. Dalam menarik kesimpulan, orang dapat menggunakan bermacam-macam cara: a. Kesimpulan ditarik atas dasar analogi: kesimpulan yang ditarik atas dasar adanya persamaan keadaan atau peristiwa yang lain. Kesimpulan ini ditarik dari khusus ke khusus. b. Kesimpulan yang ditarik dengan cara induktif: kesimpulan yang ditarik dari hal-hal yang khusus menuju hal yang bersifat umum. c. Kesimpulan yang ditarik atas cara deduktif: kesimpulan yang ditarik dari hal umum menuju hal yang bersifat khusus. Menurut pendapat saya, terdapat perbedaan penarikan kesimpulan dari orang yang berintelegensi tinggi dan orang yang berintelegensi rendah. Orang yang memiliki intelegensi tinggi jarang sekali menggunakan penarikan kesimpulan dengan cara analogi. Karena penarikan kesimpulan dengan cara ini belum tentu terbukti kebenarannya. Persamaan bagian dari

suatu peristiwa tidak selalu menunjukkan bahwa peristiwa itu sama. Sangat jarang peristiwa yang sama terjadi berkali-kali. Orang yang memiliki intelegensi tinggi biasanya menggunakan cara induktif ataupun deduktif. Tergantung dari permasalahan yang dihadapi. Jika yang dia dapatkan adalah data-data terlebih dahulu, maka dia akan menggunakan cara induktif, tetapi jika yang dia dapatkan adalah sebuah permasalahan yang umum, maka dia akan menggunakan cara deduktif. Dalam penarikan kesimpulan, peran perasaan dan emosi pasti akan mempengaruhi. Emosi adalah keadaan perasaan yang telah begitu kuat, hingga hubungan dengan sekitar terganggu. Perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal aupun internal. Apa yang terjadi nanti, besok, lusa, atau minggu depan, atau masa depan kapanpun itu tidak akan da yang tahu kecuali Tuhan. Termasuk pula, saat menyimpulkan sesuatu, tiba-tiba terdapat suatu peristiwa yang membuat orang menjadi emosi atau dari penarikan kesimpulan itu sendiri yang membuat orang menjadi emosi. Misalkan orang tersebut mengalami kesulitan sehingga mengakibatkan emosi. Jadi, emosi ini turut berpengaruh terhadap penarikan kesimpulan. Di dalam jenis perasaan menurut Kohnstamm, salah satu jenisnya adalah perasaan intelektual yakni perasaan yang timbul atau menyertai aspek intelektual, misalkan perasaan yang timbul apabila orang dapat memecahkan sesuatu soal, atau saat orang sedang mengambil kesimpulan, atau mendapatkan hal-hal baru sebagai hasil kerja dari segi intelektualnya. Saat orang telah selesai menarik kesimpulan yang tepat pastinya akan membuat rasa bangga dan puas bagi orang yang bersangkutan. 7.
1. Driving state Relief

3. Goal 2. Instrumental behavior

Motivasi mempunyai sifat siklus (melingkar), yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal), dan akhirnya setelah tujuan tercapai, motivasi itu berhenti. Namun, apakah motivasi ini akan berhenti dan tidak muncul kembali? Jawabannya adalah tidak, setelah motivasi ini mencapai tujuannya, motivasi ini akan muncul kembali jika terdapat kebutuhan lagi.

Cara memberikan motivasi belajar pada siswa SD : 1) Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. 2) Hadiah Memberikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. 3) Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. 4) Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Pujian itu bersifat membangun. 5) Hukuman Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. 6) Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. 7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik dan membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok 8) Menggunakan metode yang bervariasi, menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa yaitu: (1) menyadarkan kedudukannya pada awal,proses dan hasil belajar; (2) menginformasikan kekuatan usaha belajar; (3)mengarahkan kegiatan belajar; (4) membesarkan semangat belajar; (5) menyadarkan proses belajar kemudian bekerja. Bagi guru yaitu: (1) membangkitkan, meningkatkan,memelihara

semangat belajar siswa sampai berhasil; (2) mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam yaitu ada yang acuh, tak memusatkan perhatian, dan ada yang bersemangat belajar; (3) meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara beberapa peran yaitu sebagai penasihat,fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik; (4) unjuk kerja rekayasa pedagogis maksudnya adalah semua siswa berhasil, mengubahsiswa tak minat menjadi bersemangat belajar, siswa cerdas tak berminat menjadi semangat belajar.

8. Istilah kecerdasan emosional pertama kali diungkapkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan ini berhubungan dengan kualitas-kualitas psikologis tertentu yang oleh Salovey dikelompokkan ke dalam lima karakter kemampuan: (1) Mengenali emosi diri; wilayah ini merupakan dasar kecerdasan emosi. Penguasaan seseorang akan hal ini akan memiliki kepekaan atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi. (2) Mengelola emosi; kecerdasan emosi seseorang pada bagian ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan sehingga dia dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan. (3) Memotivasi diri sendiri; kecerdasan ini berhubungan dengan kamampuan seseorang dalam membangkitkan hasrat, menguasai diri, menahan diri terhadap kepuasan dan kecemasan. Keberhasilan dalam wilayah ini akan menjadikan seseorang cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan. (4) Mengenali emosi orang lain. Berkaitan erat dengan empati, salah satu kecerdasan emosi yang merupakan "keterampilan bergaul" dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

(5) Membina hubungan. Seni membina hubungan, menuntut kecerdasan dan keterampilan seseorang dalam mengelola emosi orang lain. Sangat diperlukan untuk menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Selain IQ, Kecerdasan emosi (EQ) mempunyai pengaruh yang sangat besar pada proses belajar anak SD. Menurut saya, EQ lah yang memiliki peranan paling utama jika dibandingkan dengan IQ. Karena dengan kecerdasan emosi, anak dapat mengenali dirinya, ia dapat mengerti tujuan belajarnya, dapat bersikap tenang saat belajar yang hal ini tentu saja akan sangat mempengaruhi prestasi anak. Kecerdasan emosi membuat anak bahagia saat menerima pelajaran, meskipun dia merasa kesulitan dengan pelajaran tersebut, namun jika dia telah memahami hakikat belajar yang sesungguhnya, dia akan merasa bahagia. Selain itu kecerdasan emosi juga berfungsi sebagai pendidikan karakter bagi anak SD. Misalkan, melatih berbuat jujur saat ujian berlangsung, menghargai teman, dan enghormati gurunya. Sehingga terciptalah generasi muda yang tidak hanya pintar akalnya namun juga pintar hati dan tingkah lakunya.

9. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar dan mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. Sebagai contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka. Aplikasi Asimilasi pada pembelajaran di SD : Untuk aplikasinya, bisa dipilih pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada keaktifan siswa, yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Pada hakekatnya, keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua perbuatan belajar, tetapi kadamya yang berbeda tergantung pada kegiatannya, materi yang dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam CBSA, kegiatan belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti: mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakarsa/gagasan, menyusun rencana, dan sebagainya. Keaktifan itu ada yang dapat diamati dan ada pula yang tidak dapat diamati secara langsung. Setiap kegiatan tersebut menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi, dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (motorik, kognitif dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.

10. Seperti yang dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Cara pembelajaran yang memberikan perubahan perilaku pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor : Diperlukan sosok guru yang berpengetahuan, berkarakter, dan aktif mengembangkan dirinya. Guru memberikan materi dengan melibatkan keaktifan murid. Mengajak murid berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, kemudian memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi, sampai pada kemampuan memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran disisipi dengan pendidikan karakter, seperti : Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. Atau guru bisa memutarkan film/ tayangan yang kaya akan nilai moral, kemudian guru mengajak peserta didik untuk berdiskusi dan menilai tayangan tersebut. Dalam proses pembelajaran, peserta didik juga diajarkan untuk merangsang kerja syaraf dan otot mereka. Misalkan, dengan cara mengajari siswa menggambar, menari, berolahraga, atau membuat hasil karya kerajinan tangan.