Anda di halaman 1dari 2

Menyelami Konflik Etnis di Indonesia

OPINI | 13 April 2011 | 21:46 Dibaca: 2215 Komentar: 0 Nihil Beragamnya suku, agama, ras, dan golongan membuat Indonesia sebagai bangsa yang rawan konflik. Dari ujung timur sampai ujung barat bangsa ini sering kali terdengar jerit tangis bahkan tetesan darah menyelimuti Tanah Air. Semboyan yang terdapat di kaki kuat sang Burung Garuda Bhineka Tunggal Ika nampaknya belum menjiwai seluruh warga bangsa ini. Rasa satu kesatuan sebagai warga negara bukanlah hal yang utama, melainkan arti kata semboyan bangsa ini hanya sekedar wacana belaka. Di balik konflik antaretnis di Indonesia yang memecahkan satu kesatuan bangsa jika ditelisik lebih mendalam terdapat sumbu yang membuat satu etnis dengan etnis lainnya hanya memperlihatkan rasa keaku-akuannya, rasa kami, dan mereka, mereka melihat etnis lain adalah kelompok luar darinya, dan etnis luar melihat etnis lain sebagai musuh baginya. Setiap konflik yang berujung SARA bermula dari konflik individu yang kemudian mengarah ke konflik kolektif yang mengatasnamakan etnis. Kasus konflik Tarakan, Kalimantan Timur, berawal dari salah seorang pemuda Suku Tidung yang melintas di kerumunan Suku Bugis, lantas di keroyok oleh lima orang hingga tewas karena sabetan senjata tajam. Konflik Tarakan menjadi memanas nyatanya tersimpan dendam ke Suku Bugis yang lebih maju menguasai sektor ekonomi. Faktor ekonomi juga menjadi penyebab utama konflik di bangsa ini, dalam kasus sebuah klub kafe di Bilangan Jakarta Selatan Dari Blowfish Ke Ampera antara Suku Ambon dan Suku Flores yang berawal dari perebutan jasa penjaga preman hingga konflik tersebut mengarah ke konflik etnis. Sampai pada Sidang Pengadilan masing-masing pihak yang bertikai masih menunjukan etnosentrisnya. Penguasaan sektor ekonomi memicu besarnya sentimen etnis dan adanya prejudice membuat konflik meranah ke agama. Konflik agama yang terjadi di Poso jika ditelusi secara mendalam bermula dari pertikaian pemuda yang berbeda agama yang sedang mabuk hingga karena sentimen kepercayaan hingga merambah ke konflik etnis dan agama. Konflik Poso kian memanas ketika provokasi akan adanya masjid yang dibakar oleh umat kristiani, agama memang sangat rentan. Aparat Pemerintah bukanya sebagai penengah namun ikut andil dalam konflik ini. Nampaknya kesenjangan sosial ekonomi dari pendatang yang sebagai mayoritas menguasai sektor ekonomi membuat konflik menjadi lebih memanas. Ketidakmerataan penyebaran penduduk juga dapat menimbulkan masalah. Kepadatan penduduk yang mendororong etnis Madura melakukan migrasi ke Pulau Kalimantan. Di mana masih membutuhkan kebutuhan akan Sumber Daya Manusia untuk mengolah kekayaan alam dan membangun infrastruktur perekonomian. Pencapaian atas kerja keras, hidup hemat bahkan penderitaan yang dirasakan etnis Madura terbayarkan sudah ketika keberhasilan sudah ditangan. Dengan menguasai sektorsektor perdagangan sehingga orang-orang non Madura yang lebih awal bergerak di bidang itu terpaksa terlempar keluar. Persaingan hidup antar etnis ini pun terjadi. Timbullah kecemburuan sosial antara etnis pendatang (Suku Madura) dengan etnis asli (Suku Dayak) yang mendiami Pulau Kalimantan ini. Keadaan inilah yang dimanfaatkan oleh misionaris untuk mencapai tujuan dengan memprovokasi

keduanya. Isu yang diangkat yaitu sentimen agama karena hal-hal yang menyangkut prinsip bagi manusia yang mudah untuk digiring ke daratan. Meletuslah konflik Sampit di Kalimantan antara Etnis Dayak dan Etnis Madura. Sampai saat ini untuk menentukan pihak yang benar sangat sulit. Dikarenakan semua pihak yang bertikai bisa dikatakan benar dan bahkan keduanya bisa dikatakan salah. Keberagaman yang ada di Indonesia sangat rentan terjadinya konflik ras. Menggunakan konsep asimilasi dalam suatu hubungan antar etnik dan ras merupakan upaya mengurangi perbedaan-perbedaan diantara mereka. Asimilasi terjadi pada golongan minoritas, dimana mencapai satu kesatuan, integrasi dalam organisasi kehidupan bermasyarakat. Hal ini diyakini oleh komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu. Walaupun mempunyai kemiripan nama dengan Suku Dayak Kalimantan. Namun, pemahaman dalam penamaan sangatlah berbeda dengan suku yang mendiami Pulau Borneo itu. Ritual kepercayaan Sejarah Alam Ngaji Rasa dengan mengkultuskan alam dan matahari menjadi penyembahannya. Maka kegiatan ritual ini dianggap sesat oleh MUI, POLRES Indramayu, Kejaksaan Negeri Indramayu serta Komando Distrik Militer (KODIM). Karena dalam sederet rangkain ritual yang mereka lakukan berada di luar nilai-nilai keagamaan setiap agama di Indonesia. Hal ini terjadi di tahun 2007, MUI mendatangi Takmad Diningrat selaku Ketua Pemimpin Komunitas Suku Dayak Bumi Segandhu. Melangkah kaki ke Indonesia bagian timur yaitu Kupang yang merupakan ibu kota Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang beragam dari berbagai etnik, agama dan golongan rentan terjadi konflik. Tepat tanggal 30 November 1998 terjadi kerusuhan besar-besaran. Adanya pengkelasan antara penduduk pendatang dengan penduduk asli sebagai kelas kedua. Lagi-lagi konflik timbul diakibatkan kesenjangan antara penduduk asli dan pendatang. Hal yang paling mencolok adalah dari segi ekonomi. Kerusuhanyang terjadi di perkotaan berbeda dengan kerusuhan di Kupang. Hal yang paling menarik untuk dibahas adalah club sepak bola Persija (The Jak) dan Persib (Viking). Kedua club ini selalu dipertemukan diajang Liga Indonesia. Membicarakan popularitas, tentu saja Persib yang digaungi oleh supporter Viking ini menoreh masa kejayaan. Tentu saja hal ini membuat Persija merasa iri, jelas-jelas club sepak bola berasal dari ibukota negara yang seharusnya lebih unggul. Alternatif dalam menyatukan etnis di Indonesia dengan mengadakan akomodasi merupakan solusi yang tepat untuk menyatukan bangsa yang besar ini. KH. Abdurahman Wahid mengungkapkan Sebuah bangsa yang mampu bertenggang rasa terhadap perbedaaanperbedaaan budaya, agama, dan ideologi adalah bangsa yang besar untuk mewujudkan integrasi antaretnis di Indonesia dengan mutual of understanding, sehingga semboyan yang mencengkram dalam kaki kuat Burung Garuda bukanlah wacana lagi.