Anda di halaman 1dari 14

MODUL MANAJEMEN UKM PERTEMUAN KE-6 DAN KE-7 PERMODALAN UKM DAN STRATEGI KEBERHASILAN UKM

Permodalan UKM Pada umumnya permodlan UKM masih lemah Konsep permodalan untuk membantu UKM

STRATEGI PENYEDIAAN MODAL UKM emadukan dan memperkuat tiga aspek yaitu : UMKM Mengoptimalkan relisasi busines plan perbankan dalam pemberian KUK Bantuan teknis yang efektif, bekerjasama dengan asosiasi , konsultan swasta, pergurun tinggi dan lembaga terkait. Meningkatkan Lembaga penjamin Kredit yang ada. Memperkuat lembaga keuangna mikro untuk melayani masyarakat miskin. Bantuan Keuangan Bantuan Teknis Program Penjaminan Pinjaman

Mengoptimalkan penunjukan bank dan lembaga keuangan mikro untuk

Kegiatan yang dilakukan BI 1. Ketentuan KUK 2. Melanjutan bantuan teknis 3. Melanjutkan proyek Kredit Mikro BI Melalui PBI No. 3/2/PBI/2001 : 1. Bank dianjurkan menyalurkan dananya melalui pemberian KUK 2. Bank wajib mencantumkan rencana pemberian KUK dalam rencana kerj anggaran tahunan 3. Bank wajib mengumumkan pencapaian pemberian KUK pada masyarakat melalui laporan keuangan publikasi 4. Bank yang menyalurkan KUK dapat meminta bantuan teknis dari BI 5. Pengnaan saksi dan insentif dalam rangka kewjiban KUK dihapuskan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Peningkatan KUK melalui Program Kemitraan Terpadu (PKT) a. Sektor perbankan selama ini telah diyakini bahwa program kemitran Terpadu (PKT) merupakan pola pendekatan yang efektif untuk memperluas pemberian KUK b. Sebagian besar kredit perbakan diberikan bank mellui PKT, sehingga bank mengenal lebih baik UKM c. Dalam Implementasi PKT, lebih baik jika Usaha Besar bermitra tidak satu group dengan bank, dan lembaga penjamin di tangani oleh lembaga penjamin. d. Sistem tertutup dalam aspek pemasaran antara UKM dan UB lebih menjamin kelangsungan PKT tersebut. e. Perlu ada penetapan harga Pasar yang terkait dengan tolak ukur yang jelas dan pasti. f. Hak dan kewajiban masing-masing pihak harus secara tertulis dalam satu nota kesepakatan bersam. g. Sistem administrasi dan pembukuan yang transparan mutlak diperlukan. Peningktn jasa Pelayanan Lembaga keuangan Mikro (LKM) Membantu pembutn Legal Frame work Untuk LKM bekerjaama dengan instansi terkait Bntuan teknis/pendampingan kepada LKM bekerjasam dengan instansi, pemerintah derah setempat dan pihak terkait. Peningkatan bantuan keuangan kepada usaha mikro melalui LKM dengan menghubungkan LKM dengan bank dan lembaga keuangan MODAL VENTURA ADALAH : Dana yang diinvestasikan pada perusahaan atau induvidu yang memiliki resiko tinggi (richardson) Badan usaha yang melakukan usaha pengembangan pembiayaan jangka waktu tertentu. Ciri-ciri khusus modal ventura Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI dalam bentuk penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan

1. Tinggi resiko yang ditanggung pemodal antau ventura capital 2. Perusahan ventura terlibat dalam pengelolaan perusahaan pasangan usha 3. Ditentukan bats waktu berapa lam modl ventura tersebut digunakan, selanjutnya didivestasikan Lembaga Keuangan Mikro atau Micro Finance Institution merupakan lembaga yang melakukan kegiatan penyediaan jasa keuangan kepada pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh Lembaga Keuangan formal dan yang telah berorientasi pasar untuk tujuan bisnis. JENIS KESULITAN USAHA MIKRO Jenis Kendala IKR (Industri Kecil Rumah tangga) IK (Industri Kecil)

Kesulitan Permodalan

34,55%

44,05%

Pemasaran Kesulitan Lainnya

31,70% 13,60%

34,00% 9,73%

Sumber Modal Uraian Modal Sendiri Modal Pinjaan Modal sendiri & Pinjaman Jumlah IKR 90,36% 3,20 % 6,44% 100% IK 69,82% 4,76% 25,42% 100%

Asal Pinjaman

IKR

IK

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Bank Koperasi Institusi lain Lain-lainnya

18,79% 7,09% 8,25% 70,35%

59,78% 4,85% 7,63% 32,16%

Model Lembaga Keuangan Mikro Model Lembaga Keuangan Mikro BANKING OF THE POOR BENTUK YANG MISALNYA : BERDASARKAN KEPADA KEMAMPUAN YANG DIMILIKI MASYARAKAT TERSEBUT Banking of The Poor Banking With The Poor Banking For The Poor

KELOMPOK SWADAYA MASYARAKAT KOPERASI SIMPAN PINJAM

BANKING WITH THE POOR DENGAN Contoh : Syarat LKM Memenuhi syarat Legal-Formal Transparan mudah diawasi Mengutungkan bagi masyarakat & LKM sendiri Memberikan pelayanan keuangan yang dapat menjangkau masyarakat luas MEMANFAATKAN KELEMBAGAAN YANG TELAH ADA, BAIK LEMBAGA INFORMAL MAUPUN FORMAL (BANK)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Prinsip Utama Menurut MICROCREDIT SUMMIT Reaching the Poorest Reaching and Power Women Building Finanacially Sustainable Measureable impact

Menurut GEMA LKM Menghormati Keragaman, Keunikan dan keterkaitan keuangan mikro dengan perkembangan masyarakat Memberikan Pengakuan dan legalitas atas keberadaan LKM Melindungi masyarakat yang terlibat dalam LKM Memprioritaskan strategi pengembangan atas dasar gerakan kebersamaan

STRATEGI Mengembangkan Pendampingan yang Mandiri dan Berkelanjutan serta Penguatan Melakukan Pendekatan Kelompok dan Induvidu Membangun LKM dengan berkerjasam dengan instansi lain misal perguruan Tinggi Memberikan Penghargaan terhadap peranan wanita Mengembangkan lembaga penunjang LKM

Elemen Kunci LKM Menyediakan beragam Jenis Pelayanan Keuangan Relevan dengan Kebutuhan masyarakat setempat Melayani Kelompok Masyarakat berpenghasilan Rendah Menggunakan Prosedur dan Mekanisme yang Kontekstual dan fleksibel agar Mudah dijangkau masyarakat miskin yang membutuhkannya PENGUSAHA KECIL YANG SUKSES menjadi PERUSAHAAN BESAR GUDANG GARAM NYONYA MENEER

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

BAKRIE BROTHER GUNUNG AGUNG TEH SOSRO MENGAPA KEBANYAKAN PERUSAHAAN KECIL AKHIRNYA GAGAL? MENGAPA PERUSAHAAN KECIL JARANG BERKEMBANG JADI PERUSAHAAN BESAR? APA YANG MENYEBABKAN KEGAGALAN? APAKAH ADA ALTERNATIF JALAN KELUAR BAGI PERUSAHAAN KECIL

Pada Tanggal 29 Desember 1981 H. Probosutedjo berkata : Kenapa Pengusaha TIONGHOA BERHASIL ??? Kenapa perusahaan kecil sangat VITAL Perusahaan kecil menyedikan lapangan kerja bagi berjuta-juta rakyat Indonesia Perusahaan kecil ikut membayar pajak Merupakan ujung tombak industri nasional Menjadi pedagang perantara dan pengumpul hasil panen Memproduksi banyak sektor kebutuhan masyarakat

Untuk Mencapai SUKSES Perusahaan Kecil Harus : a. Merumuskan Sasaaran Usahanya dan Mengadakan Perencanaan jangka Panjang Secara Sederhana. b. Membuat dan mempraktekan rencana kerja tahunan, semester dan bulan baik yang menyangkut omset penjualan, jumlah produksi, jumlah biaya operasional maupun jenis produksi

c. Merencanakan
pengembangan diversifikasi

Hal

Yang

Menyangkut Biaya

Biaya

Pembaharuan, Dan kebijakan

Biaya dalam

Karyawan,

Perluasan.

d. Mengerti dan mampu membuat rencana peminjaman modal ke bank Untuk membiayai perluasan dan pengembangannya.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

e. Merencanakan barapa laba/surplus yang ptut dicapai demi kelangsungan, perlusn dan pertumbuhan usaha. f. Mampu menjadi besar dan sukses.

Menurut pengusaha kecil Mereka GAGAL karena : KURANG Modal KURANG Bimbingan Pemerintah Dominasi Cina Dominasi Modal Kuat Dominasi Modal Asing DLL Padahal KEGAGALAN Mereka Karena KURANG Pengalaman Latar Belakang Pendidikan Hambatan nilai di masyarakat Struktur ekonomi yang belum cocok dengan dunia modern

Mengapa Perusahaan kecil kurang Berkembang ????? Asal usul pengusaha kecil pengusaha kecil di indonesia umumnya berasal dari keluarga sederhana Miskin

Sistem Pendidikan dan kemagangan contoh : kurangnya sekolah kejuruan Kebijakan pemerintah yng simpang siur dan tumpang tindih

PELUANG Pengusaha Kecil Belajar ilmu manajemen Perencanaan SDM Pemasaran : promosi, distribusi Produksi : bahan baku, Proses produksi, Mutu Keuangan :sumber modal, ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Meminta jasa Konsultan Meminta jasa keluarga/ teman yang pintar Kembali Belajar mengalihkan bidang usaha

Menurut Statistik di Amerika 82% dari pengusaha kecil yang baru mulai mengalami kegagalan dalam 2 tahun pertam operasinya. Menurut SMALL BUSINESS ADMINISTRATITION

Tanpa pengalaman bidangnya Tanpa pengalaman manajemen Pengalaman berusaha tdk memadai Tidak cakap (pintar-Ulet-Tekun) Lalai penggelapan Bencana Lain-alain

9% 18% 20% 45% 3% 2% 1% 2%

Menurut Alex S. Nitisemito sebab kegagalan perusahan a. Kegagalan yang dapat dihindari tidak perlu terjadi jika pengusaha mau dan mampu mengatasi seperti : mismanagement b. Kegagalan yang tidak dapat dihindari (FORCE MAJEURE) Seperti : bencana alam Menurut Alex S. Nitisemito sebab-sebab kegagalan perusahan

1. KURANG Ulet dan Lekas Putus asa


2. KURANG Tekun dan Kurang Telit 3. KURANG Inisistif dan Kurang Kreatif 4. Tidak jujur dan tidak tepat

5. KEKELIRUAN dalam memilih usaha

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

6. Memulai usaha langsung secara besar-besaran 7. Memulai usaha tanpa pengalaman dengan MODAL, PINJAMAN 8. Mengambil kredit tanpa pertimbangan masak-masak 9. Kurang mampu menyesuaikan dengan selera konsumen 10. Pelayanan kurang baik 11. Banyak piutang ragu-ragu 12. Banyak pemborosan dan penyelewengan 13. Kekeliruan menghitung Harga Pokok Produksi 14. Menyamakan Perusahaan sebagai Badan Sosial 15. Tidak ada pemisahan antara Harta pribadi dengan Perusahaan 16. Kemacetan yang sering terjadi 17. Kurang Pengawasan CIRI-CIRI WIRAUSAHA CIRI-CIRI 1. Percaya diri yang kuat WATAK Kepercayaan 2. Berorientasi tugas dan Hasil 3. Pengambil Resiko 4. Kepemimpinan 5. Keorisinilan Ketidak tergantungan optimisme kebutuhan prestasi berorientasi laba Tekun & Tabah Tekad, Kerja keras, motivasi Energik Penuh inisiatif mampu mengambil resiko berani tantangan mampu memimpin Dapat bergaul

menangggapi saran & kritikan Inovatif, Kreatif, Fleksibel, Banyak sumber,

Serba Bisa, mengetahui banyak hal 6. Berorientasi ke masa depan Pandangan kedepan, Persepektif

Dalam kondisi perekonomian Indonesia yang tidak menentu mengakibatkan perusahaan-perusahaan besar mengalami kebangkrutan dan kehancuran. UKM PE

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

dan UKM IE, justru dapat bertahan dan menghasilkan devisa. Disamping itu, sektor UKM melalui perannya mampu menjadi penggerak perekonomian daerah/lokal dalam penciptaan lapangan kerja dan lapangan usaha baru. Untuk itu, ada beberapa langkah yang kiranya yang perlu ditempuh pemerintah pusat dan daerah untuk mengembangkan sektor riil pada UKM yang bergerak di industri kerajinan khususnya produk keramik, dan produk rotan adalah sebagai berikut: Ketersediaan bahan baku keramik (tanah liat), perlu diupayakan dari daerah lain yang masih memiliki sumber daya alam yang besar, sehingga harga bahan baku dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Disamping itu, perlu diciptakan sistem distribusi bahan baku tanah liat yang efisien untuk menekan biaya bahan baku. Menciptakan tingkat suku bunga komersial yang dapat dijangkau UKM untuk kepentingan pembiayaan dalam waktu yang singkat untuk memenuhi order dan realisasi kebijakan kredit ekspor dan kredit murah baik itu komersial maupun dari pemerintah secepatnya dilakukan dengan mekanisme yang lebih sederhana dan sasaran yang luas dan tepat, khususnya untuk pengembangan UKM yang berada di daerah masing-masing. Pembinaan UKM terhadap manajemen UKM-UKM yang tradisional atau manajemen keluarga lebih ditingkatkan agar dapat menangkap peluang ekspor dengan cakupan yang luas. Permasalahan Pergeseran komposisi produksi nasional tersebut ditandai dengan

penurunan secara drastis hingga terhentinya kegiatan produksi barang dan jasa yang banyak menggunakan bahan baku/bahan penolong/suku cadang asal impor. Padahal industri semacam ini mempunyai peranan yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia selama ini. Sebagian besar komoditi ekspor andalan seperti Tekstil dan Produk Tekstil, Elektronik, dan Alas Kaki yang sangat tergantung pada bahan baku/bahan penolong asal impor dan merupakan lapangan kerja yang selama ini diandalkan untuk menekan tingkat pengangguran. Kegiatan angkutan darat, laut dan udara yang merupakan tulang punggung sistem distribusi juga sangat tergantung pada suku cadang asal impor, sehingga kelangsungan penyediaan jasanya sangat terpukul oleh anjloknya nilai tukar rupiah terhadap US$. Secara keseluruhan hal ini telah mengakibatkan pengurangan suplai barang dan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

jasa yang menyeluruh (pergeseran agregat suplai ke arah kiri atas), yang menimbulkan tekanan inflasi (cost push inflation) dan pemutusan hubungan tenaga kerja yang meluas sebagai akibat penurunan produksi nasional. Aspek kedua yang menunjukkan adanya tekanan perubahan komposisi produk nasional adalah (i) meningkatnya volume ekspor hasil pertanian (terutama hasil perkebunan dan perikanan), hasil hutan dan hasil tambang yang didorong oleh meningkatnya permintaan luar negeri karena penurunan harga relatifnya dan (ii) meningkatnya kebutuhan dalam negeri terhadap produk dalam negeri untuk menggantikan barang-barang impor yang harganya melonjak tajam. Meskipun kemampuan UKM (khususnya yang berorientasi ekspor atau substitusi impor) bertahan dalam masa krisis dan menjadi sumber perolehan devisa telah dibuktikan oleh beberapa studi (penelitian), tetapi dalam kenyataannya baik UKM Produsen Eksportir (PE) maupun UKM Indirect Eksportir (IE) masih menghadapi sejumlah kendala dalam melakukan ekspor. Kendala yang dihadapi dapat bersumber dari faktor internal UKM, maupun dari faktor eksternal, termasuk kebijakan pemerintah (government policy). Berdasarkan paparan di atas, maka ada tiga permasalahan dapat dijabarkan sebagai berikut: (i) bagaimana gambaran dari kegiatan ekspor yang dilaksanakan oleh UKM PE dan UKM IE, (ii) aspek-aspek apa saja yang terkandung dalam gambaran kegiatan tersebut, misalnya komoditi yang dominan, negara tujuan ekspor, sistem pembayaran yang diterima dan lain sebagainya, dan (iii) faktor-faktor apa saja yang menjadi permasalahan bagi UKM PE dan UKM IE dalam melakukan kegiatan ekspor. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari studi ini adalah: (i) menyusun profil UKM berorientasi ekspor dalam kaitannya dengan aspek orientasi pasar, kelembagaan pemasaran, sentra produksi produk UKM dan sistim pembayaran produk, (ii) mengidentifikasi persoalan internal dan eksternal yang dihadapi UKM PE dan UKM IE dalam melakukan ekspor, dan (iii) merumuskan bentuk kebijakan pemerintah yang dapat membantu UKM PE dan UKM IE melakukan ekspor.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Metodologi Secara umum, faktor-faktor penghambat bagi UKM PE dan UKM IE dalam melakukan ekspor pada saat krisis dipengaruhi oleh faktor internal antara lain : (i) manajemen, (ii) kurangnya likuiditas (tambahan modal), dan (iii) naiknya upah dan faktor eksternal yaitu : (i) melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya suku bunga perbankan yang mengakibatkan kenaikan biaya modal dan ketatnya likuiditas ekonomi, (iii) kurangnya akses informasi pasar di dalam dan luar negeri yang diberikan oleh pemerintah, (iv) turunnya daya beli masyarakat akibat menurunnya pendapatan riil masyarakat, (v) kenaikan harga-harga bahan baku, (vi) menurunnya permintaan pasar, (vii) kurangnya dukungan kebijakan pemerintah terhadap UKM yang berorientasi ekspor, (viii) tingginya pungutan, dan (ix) rendahnya koordinasi antar departemen yang terkait terhadap UKM-UKM yang melakukan ekspor. Berkaitan dengan faktor-faktor yang menghambat kinerja ekspor UKM PE dan UKM IE, studi ini mencoba memfokuskan pada identifikasi permasalahan yang dihadapi UKM dalam melakukan ekspor, khususnya di subsektor industri Aneka Kerajinan (handicraft) pada industri keramik. Secara sederhana dapat digambarkan pada diagram sebab akibat yang sering disebut diagram tulang ikan (fishbone diagram). Berdasarkan gambar 1, terlihat bahwa kinerja ekspor pada UKM PE dan UKM IE dipengaruhi oleh dua faktor penghambat yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang cukup mempengaruhi kinerja ekspor UKM antara lain: (i) manajemen yang bersifat tradisional atau manajemen keluarga, (ii) likuiditas atau modal kerja yang cenderung menurun akibat krisis ekonomi, dan (iii) upah tenaga kerja yang didominasi adanya kenaikan inflasi dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Di sisi lain, faktor eksternal yang sangat mempengaruhi kinerja ekspor UKM adalah: (i) kenaikan suku bunga perbankan yang cukup tinggi mengakibatkan kelangkaan modal tambahan untuk memproduksi barang, (ii) kenaikan harga baku lebih dipengaruhi adanya sebagian bahan baku terutama dalam finishing masih diimpor, (iii) kurangnya informasi pasar baik itu negaranegara yang menjadi orientasi pasar produk UKM maupun disain produk yang belum mengikuti keinginan pasar (up to date), dan (iv) kurangnya dukungan Pemda dan rendahnya koordinasi antar instansi terkait dalam melakukan pembinaan UKM setempat.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Faktor Internal


Manajemen nn Tradisional Likuiditas Modal berkurang Upah TK naik Inflasi

Kurs koordinasi

Kurs Impor

kurang

Kinerj a Ekspo r

Suku Bunga

Harga Bahan Faktor Baku

Pasar Eksternal

Informasi

Dukungan Pemda

Seperti yang telah dikemukakan di atas, semakin tinggi atau semakin besar hambatan-hambatan yang dihadapi UKM PE dan UKM IE akan semakin rendah produk yang dihasilkan baik dalam kuantitas maupun dalam kualitasnya yang pada gilirannya akan mempengaruhi kinerja ekspor yang berasal dari UKM. Temuan Naiknya biaya produksi lebih dipengaruhi posisi supplier yang begitu kuat untuk menekan harga. Faktor-faktor yang menyebabkan adalah produk yang dihasilkan rata-rata bertujuan ekspor. Faktor lainnya yang terjadi di industri keramik adalah bahan baku (tanah liat) yang digunakan lebih banyak menggunakan tanah liat dari Godean yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan Kasongan. Disamping itu, ketersedian bahan baku di wilayah Kabupaten Bantul semakin terbatas. Naiknya upah tenaga kerja dan bahan penolong pada saat krisis turut mempengaruhi biaya produksi. Selama krisis, hasil penjualan yang diperoleh UKM IE di sentra industri Kasongan berbentuk mata uang rupiah. Kondisi ini, hanya menguntungkan pengusaha-pengusaha asing yang datang langsung ke lokasi dalam melakukan transaksi. Penerimaan dalam mata uang rupiah terkait pada keuntungan atau laba kotor yang diperoleh UKM IE lebih kecil dibandingkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing (dollar AS).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI

Sumber pembiayaan yang dilakukan oleh UKM PE dan IE lebih banyak diperoleh dari pembiayaan sendiri dan down payment pemberi order. Sedangkan penggunaan jasa perbankan hanya untuk transaksi jasa ekspor untuk pembayaran barang yang telah dikirim melalui LC. Rendahnya penggunaan jasa perbankan sebagai sumber pembiayaan atau permodalan, disebabkan beratnya persyaratanpersyaratan yang harus dipenuhi UKM, prosedur pinjaman kredit yang cukup lama dan tingginya suku bunga yang diterapkan. Disamping itu, pembiayaan melalui kredit ekspor dan kredit murah yang diberikan pemerintah masih sulit diperoleh UKM PE dan IE. Manajemen yang diterapkan UKM IE masih banyak yang bersifat tradisional. Hal ini sangat mempengaruhi pengelolaan dan perkembangan UKM IE cukup lambat, baik dalam pembuatan disain produk maupun orientasi penjualan yang hampir sama dari tahun ke tahun. Dari delapan responden yang diwawancarai hanya dua UKM IE yang telah berubah menjadi manajemen profesional. Disamping itu, pemerintah daerah melalui Kantor Dinas koperasi dan Depperindag sebagai pembina UKM setempat belum dapat membantu manajemen UKM IE untuk lebih maju dalam kompetisi pasar.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

ABDUL ROSID,SE,MM MANAJEMEN USAHA KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI