Anda di halaman 1dari 9

Karsinoma Mamae Definisi Kanker payudara merupakan neoplasma ganas, yaitu suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang

tumbuh infiltratif, destruktif dan dapat bermetastasis. Dalam pengertian klinik sehari-hari, tumor ganas payudara sama dengan kanker payudara karena memang sebagian besar dari tumor ganas payudara (97 %) berupa sel kanker. Kanker payudara adalah penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchymal. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit ganas yang paling umum pada wanita dan jenis kanker nomor 2 (dua) terbanyak pada wanita di Indonesia. Penyebaran kanker payudara terjadi melalui pembuluh getah bening, dan tumbuh di kelenjar getah bening, sehingga kelenjar getah bening aksilla ataupun supraklavikula membesar. Kemudian melalui pembuluh darah kanker menyebar ke organ lain seperti paru-paru, hati dan otak. Faktor Risiko Kanker disebabkan adanya genom abnormal, yang terjadi karena ada kerusakan gen yang mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel. Adanya genom abnormal ini menimbulkan salah atur, atau lebih atau kurang aturan. Gen yang mengatur pertumbuhan dan differensiasi sel itu disebut protoonkogen dan suppressor gen, terdapat pada semua chromosom dan banyak jumlahnya. Protoonkogen yang telah mengalami perubahan sehingga dapat menimbulkan kanker disebut onkogen. Kerusakan itu dapat terjadi pada saat fertilisasi, tetapi umumnya setelah embryogenesis, setelah sel itu mengadakan differensiasi atau setelah dewasa. Sampai saat ini penyebab langsung kanker payudara belum diketahui secara pasti, menarche yang lebih dini, hamil pertama terlambat (primi tua) atau mandul merupakan predisposisi penderita kanker payudara, akan tetapi pemberian estrogen dan progesteron yang biasa dipergunakan menekan ovulasi (kontrasepsi) belum terbukti berpengaruh meningkatkan angka kejadian kanker payudara. Klasifikasi Kanker Payudara Klasifikasi kanker payudara dibagi menjadi 2 bagian yaitu klasifikasi patologik dan klasifikasi klinik. Klasifikasi atau staging penyakit penting sekali untuk menentukan prognosis penderita kanker payudara. Jika sudah diketahui tingkat penyakit secara patologik dan klinis maka prognosis penyakit akan lebih tepat. Adapun klasifikasi patologik adalah:

1. Kanker puting payudara, pagetdesease, kanker ductus laktiferus (papillary, comedo yang keduanya disebut non infiltrating carcinoma). 2. Kanker duktus laktiferus:Papilary, comedo, adeno carcinoma dengan banyak fibrosis, medullary carcinoma dengan infiltrasi kelenjar dari semuanya disebut infiltrating. 3. Kanker dari lobulus, infiltrating dan non infiltrating.

Klasifikasi patologik kanker payudara menurut The American Commite yang disusun dalam sistim TNM (Tumor ; Nodus limfe regional (regional lymph nodes) ; Metastasis).T menunjukkan kondisi tumor primer, antara lain diameter dan kondisi kulit yang menutupi tumor, N penilaian terhadap kemungkinan adanya metastase pada kelenjar getah bening.M menggambarkan metastase pada organ lain seperti paru, hati, tulang dan otak. Menurut Sarwono (2008), stadium kanker payudara pada klasifikasi TNM (T artinya tumor, N artinya nodule, M artinya metastase) dibedakan menjadi: TIS : Tumor in situ, ialah tumor sebelum invasi (tanpa ilfiltrasi), seperti intraduktal kanker yang kecil. Pagets disease dari putting susu tanpa teraba tumornya, hanya mengeluarkan benda-benda seperti pasir. T1 Tumor 2 cm atau kurang: T1a tidak ada perlekatan/ilfiltrasi ke fasia pektoralis/otot pektoralis. T1b dengan perlekatan/ilfiltrasi ke fasia pektoralis/otot pektoralis. T2 Tumor 2 cm-5 cm: T2a tidak ada perlekatan ke fasia pektoralis atau otot pektoralis. T2b dengan perlekatan ke fasia pektoralis atau otot pektoralis. T3 Tumor lebih besar dari 5 cm: T3a tanpa perlekatan ke fasia pektoralis atau otot pektoralis. T3b dengan perlekatan ke fasia pektoralis atau otot pektoralis. Perlekatan sedikit ke kulit (dimpling) atau retraksi putting susu bisa saja timbul pada T1 T2 T3. T4 Tumor dengan besarnya berapa saja tetapi dengan ilfiltrasi ke dinding toraks atau kulit. T4a dengan fiksasi ke dinding toraks.

T4b dengan edema, ilfiltrasi atau ulserasi kulit, atau kulit yang berbiji-biji. N = kelenjar limfe regional. N0 tidak teraba kelenjar limfe di ketiak homolateral. N1 teraba di ketiak homolateral kelenjar limfe yang dapat digerakkan. N1a kelenjar limfe yang di duga bukan anak sebar. N1b kelenjar limfe yang diduga anak sebar. N2 kelenjar limfe ketiak homolateral, berlekatan satu sama lain (paket) atau melekat ke jaringan sekitarnya. N3 kelenjar limfe infra-dan supraklavikular homolateral.

M = Anak sebar jauh MO tidak ada anak sebar jauh. M1 ada anak sebar jauh ditambah infiltrasi kulit sekitar payudara.

Tingkat T,N,M Stadium I : T1a NO (N1a) M0 T1b N0 (N1a) M0 Stadium II: T0 N1b M0 T1a N1b M0 T1b N1b M0 T2a N0 (N1a) M0 T2b N0 (N1a) M0 T2a N1b M0 Stadium III: Setiap T3 dengan N apa saja, M0 T4 dengan N apa saja, M0 T dengan N2 M0 T dengan N3 M0 - Stadium IV: Setiap T dengan N apa saja, M1 Tanda Dan Gejala

Fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan gejala). Tanda dan gejala yang paling umum adalah benjolan atau penebalan pada payudara. Kebanyakan kira-kira 90 % ditemukan oleh wanita itu sendiri. Akan tetapi kebanyakan ditemukan secara kebetulan, tidak dengan pemeriksaan sendiri (SADARI). Tanda dan gejala lanjut dari kanker payudara meliputi : kulit cekung (lesung), retraksi atau deviasi puting susu, dan nyeri, nyeri tekan atau raba khususnya berdarah dari puting. Kulit tebal dan pori-pori menonjol seperti kulit nodul limfo aksilaris dan atau nodus supraklavikular teraba pada daerah leher. Tanda dan gejala metastase yang luas meliputi nyeri bahu, pinggang, punggung bagian bawah, atau pelvis, batuk menetap, anoreksia atau berat badan menurun, gangguan pencernaan, pusing, penglihatan kabur, dan sakit kepala. Lokasi Kanker Payudara Kanker payudara mempunyai penyebaran tertentu. Disini ada beberapa kemungkinan dapat terjadi pada berbagi bagian dari payudara: 1. Kuadran lateral atas merupakan lokasi yang paling sering terkena : 44% 2. Kuadran lateral bawah:16% 3. Kuadran medial (tengah) atas 15 % 4.Kuadran medial bawah merupakan lokasi yang paling jarang terkena : 4 % 5.Daerah sentral adalah sekitar puting susu (areola) sekitar 21 % Diagnosis Kanker Payudara Tahap klinis kanker payudara ditentukan terutama melalui pemeriksaan fisik kulit, jaringan payudara, dan kelenjar getah bening (aksilaris, supraklavicula, dan servikal). Namun, penentuan klinis metastasis kelenjar getah bening aksila memiliki akurasi hanya 33%. Mamografi, x-ray dada, dan intraoperativefindings (ukuran kanker primer, invasi dinding dada) memberikan diagnosa yang lebih tepat, dan dilakukan pengobatan yang terarah. Untuk diagnosis kanker payudara di perlukan : 1. Anamnesis yang lengkap :

- mengenai keluhan-keluhan - perjalanan penyakit - keluhan tambahan - faktor-faktor resiko 2. Pemeriksaan fisik yang sistematis 3. Pemeriksaan penunjang
Anamnesis Di dahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap. Keluhan utama penderita dapat berupa : massa tumor di payudara, rasa sakit, cairan dari putting susu, retraksi putting susu, adanya eczema sekitar areola, keluhan kulit berupa dimpling, kemerahan, ulserasi atau adanya peau dorange, atau keluhan berupa pembesaran di kelenjar getah bening aksila. Biasanya kanker payudara mempunyai ciri dengan batas yang irregular umumnya tanpa rasa nyeri,tumbuh progresif cepat membesar. Pemeriksaan fisik Karena organ payudara di pengaruhi oleh factor hormonal antara lain estrogen dan progesterone maka sebaiknya pemeriksaan payudara di lakukan di saat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin, yaitu setelah mestruasi lebih kurang satu minggu dari hari pertama mestruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi. Teknik pemeriksaan Penderita di periksa dengan badan bagian atas terbuka: 1. Posisi tegak (duduk) Penderita duduk dengan posisi tangan bebas ke samping,pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi di lihat: simetri payudara kiri-kanan, kelainan papila, letak dan bentuknya, adakah retraksi puting susu, kelainan kulit, tanda-tanda radang,peau dorange, dimpling, ulserasi, dan lain-lain. 2. Posisi berbaring Posisi berbaring dan di usahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada,jika perlu bahu/punggung di ganjal dengan bantal kecil pada penderita yang payudara nya

besar.palpasi ini di lakukan dengan mempergunakan falang distal dan falang medial jari II, III, dan IV, dan di kerjakan secara sistematismulai dari cranial setinggi iga ke-2 sampai ke distal setinggi iga ke-6, dan pemeriksaan daerah sentral subareolar dan papil. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan keluar dengan menekan daerah sekitar papil. 3. Menetapkan keadaan tumornya a. Lokasi tumor menurut kwadran di payudara atau terletak di daerah sentral (subareola dan di bawah papil). Payudara di bagi atas empat kwadran, yaitu kwadran atas, lateral bawah, medial atas dan bawah serta di tambah satu daerah sentral. b. Ukuran tumor,konsistensi,batas-batas tumor tegas atau tidak tegas. c. Mobilitas tumor terhadap kulit dan muskulus pektoralis atau dinding dada. 4. Memeriksa kelenjar getah bening regional aksila, yang di raba kelompok kelenjar getah bening: mammaria eksterna, di bagian anterior dan di bawah tepi muskulus pektoralis aksila subskapularis di posterior aksila sentral di bagian aksila apikal di ujung atas fossa aksila 5. Pada perabaan di tentukan besar, konsistensi, jumlah, apakah berfiksasi atau tidak. 6. Organ lain ikut di periksa adalah hepar,lien untuk mencari metastasis jauh,juga tulang-tulang utama, tulang belakang.

Pemeriksaan penunjang kanker payudara 1. Mammografi Suatu tehnik pemeriksaan soft tissue teknik. Untuk melihat tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papila dan areola. Mammografi ini dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan screening. 2. Ultrasonografi Dengan pemeriksaan ini hanya dapat membedakan lesi solid dan kistik, pemeriksaan lain dapat berupa: termografi, xerografi. Pemeriksaan lain seperti: - thoraks foto

- bone screening/born survey - USG abdomen/liver

Penatalaksanaan Kanker Payudara Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi : 1) pembedahan, 2) kemoterapi, 3) terapi hormon, 4) terapi radiasi dan 5) terapi imunologi (antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual (WHO, 2003). 1) Pembedahan Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat sebagian payudara yang mengandung sel kanker atau pengangkatan seluruh payudara (mastectomy). Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi,hormon atau kemoterapi. 2) Terapi Radiasi Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi untuk membunuh sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan. 3) Terapi Hormon Terapi hormonal dapat menghambat pertumbuhan tumor yang peka hormon dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah pembedahan atau pada stadium akhir. 4) Kemoterapi Obat kemoterapi digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit (tidak dapat lagi dilakukan pembedahan). Obat kemoterapi bisa digunakan secara tunggal atau dikombinasikan. Salah satu diantaranya adalah Capecitabine, obat anti kanker oral yang diaktivasi oleh enzim yang ada pada sel kanker, sehingga hanya menyerang sel kanker saja. 5) Terapi Imunologik Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk pasien seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secara khusus dirancang untuk menyerang HER2 dan menghambat pertumbuhan tumor, bisa menjadi pilihan terapi. Pasien sebaiknya juga menjalani tes HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab.

Prognosis Kanker Payudara Menurut Ramli (1994), prognosis kanker payudara di tentukan oleh: 1. Staging (TNM) Semakin dini semakin baik prognosisnya Stadium I : 5-10 tahun 90-80 % Stadium II : 70-50 % Stadium III : 20-11 % Stadium IV : 0 % Untuk stadium 0 (in situ) 2. Jenis histopatologi keganasan Karsinoma insitu mempunyai prognosis yang baik di bandingkan dengan karsinoma yang sudah invasif. Penanggulangan Kanker Payudara Pola penanggulangan kanker payudara tergantung pada stadium tumor.Tujuan penanggulangan kanker payudara pada prinsipnya bersifat kuratif dan paliatif. Penanggulangan kanker payudara biasanya meliputi kombinasi pembedahan, kemoterapi, hormonal dan terapi radiasi. Pembedahan Pembedahan merupakan prosedur penanggulangan kanker yang paling tua, dan paling besar kemungkinannya untuk sembuh, khususnya untuk jenis kanker tertentu yang belum menyebar ke bagian tubuh yang lain. Tindakan operatif adalah suatu terapi yang drastis, mempunyai konsekwensi yang jauh lebih kuat daripada terapi farmakologi (obat- obatan). Pembedahan dilakukan apabila kanker payudara pada stadium I dan II, pada stadium ini belum ada metastase. Tujuannya bersifat kuratif. Pembedahan yang sering dilakukan adalah mastektomi radikal yaitu mengangkat seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor beserta jaringan lemak (berisi kelenjar getah bening) di ketiak. Terapi Radiasi Peran radioterapi dalam penatalaksanaan kanker payudara berevolusi terus menerus sejak ditemukannya energi pengion lebih dari seabad yang silam. Pada mulanya radioterapi digunakan sebagai pengobatan paliatif pada kasus- kasus lanjut. Kemoterapi digunakan hampir rutin pada pasien-pasien pasca mastektomi. Perkembangan 25 tahun terakhir, kombinasi radiasi dan pembedahan terbatas digunakan untuk kasus-kasus kanker payudara dini yang dikenal sebagai Breast

Conservation Treatment atau BCT. Terapi radiasi dapat berperan disemua stadium dan tujuan pengobatan baik sebagai pengobatan kuratif, adjuvan, maupun paliatif saja. Fasilitas radioterapi setempat sangat menentukan peranan radiasi yang diperlukan. Kemoterapi atau Hormonal Kemoterapi atau hormonal merupakan bagian dari penanggulangan terpadu kanker payudara, mempunyai dasar klinis dan terbukti bermanfaat meningkatkan angka survival, terutama dalam kerangka ajuvan. Pada stadium lanjut, kambuh ataupun kanker yang menyebar,

kemoterapi/hormonal, dapat memberbaiki kualitas hidup.Tersedia berbagai protokol, tergantung pada kecocokan dengan kondisi klinis maupun ekonomi dengan mempertimbangkan biaya dan daya-guna. Karena mempunyai efek samping yang cukup berat, maka dibutuhkan pengetahuan dan perhatian yang cukup pada pemberian kemoterapi.