Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Tinjauan Tentang Prestasi Belajar a.

Pengertian Prestasi Prestasi adalah hasil yang berupa angka, huruf serta tindakan hasil belajar yang berupa angka atau hasil karya yang dicapai juga dapat untuk memotivasi agar prestasinya lebih meningkat. Prestasi juga dapat diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktifitas belajar yang dilakukan. Seorang siswa yang mempunyai nilai akademik maupun non akademik dibanding teman-temannya biasa kita sebut siswa berprestasi (Buchori, 2002: 85). Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa prestasi adalah hasil yang dicapai karena adanya aktifitas dan usaha yang sungguh-sungguh dalam belajar yang dinyatakan dalam angka atau huruf. b. Pengertian Belajar Berbagai pendapat dan literatur banyak yang mengungkap tentang belajar. Namun tidak mengapa karena membahas belajar tidak ada hentinya seperti halnya orang yang belajar, belajar tidak ada batasannya dan terus menerus.

1) Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui
berbagai pengalaman, melihat, mengamati dan memahami sesuatu (Nana Sudjana, 2004 : 28).

2) Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi
dengan lingkungan (Oemar Hamalik, 2003 : 37). 7

3) Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang
mengubah tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat (Gulo W, 2002 : 8). Dari beberapa uraian diatas dapat kita ketahui bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mengubah tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat pada individu yang belajar. Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah :

1)

Perubahan terjadi secara sadar, seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah tejadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional, sebagai hasil belajar,
perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara

berkesinambungan, tidak statis.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif , dalam perbuatan belajar,
perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, perubahan yang terjadi


karena proses belajar bersifat menetap dan permanen.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, ini berarti bahwa perubahan
tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perbuatan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.

6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku , perubahan yang diperoleh


seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku (Oemar Hamalik. 2004 : 43). c. Pengertian Prestasi Belajar Dalam setiap kegiatan manusia untuk mencapai tujuan, selalu diikuti dengan pengukuran dan penilaian. Demikian halnya di dalam proses belajar, hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar disebut hasil belajar atau prestasi belajar (Sutratinah Tirtonegoro, 2001: 43). Prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai bobot yang dicapainya (Winkel, 2006 : 17). Adapun menurut Nasution mengemukakan, prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam rapor (Adapun S. Nasution 2006 : 17). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia menjelaskan prestasi adalah penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang dikembangkan di mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angkat yang diberikan oleh guru (2002: 895). Dari beberapa uraian di atas dapat kita ketahui bahwa prestasi adalah suatu bukti keberhasilan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan guru. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain :

1. Faktor eksternal. digolongkan menjadi dua, yaitu :


a) Faktor-faktor non sosial Kelompok faktor ini tak terbilang jumlahnya, misalnya : keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, atau siang, ataupun malam), tempat (letaknya, pergudangannya), alat-alat yang dipakai untuk belajar (seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga, dan sebagainya yang biasa kita sebut alat-alat pelajaran), metode pengajaran. b) Faktor-faktor Lingkungan Sosial

1) Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi dan teman-teman


sekelas dapat mempengaruhi proses belajar seorang siswa.

2) Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat


tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa.

3) Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan


belajar.

2. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari diri si pelajar . Digolongkan
menjadi dua golongan yaitu :

a) Faktor-faktor Fisiologis menjadi dua macam, yaitu: 1) Keadaan jasmani pada umumnya ini dapat dikatakan melatar belakangi
aktivitas belajar.

2) Keadaan Fungsi-fungsi jasmani tertentu terutama fungsi-fungsi panca


indera.

10

b) Faktor-faktor Psikologi

1) Kecerdasan siswa / intelegensi siswa, semakin tinggi tingkat intelegensi


seorang individu, semakinbesar peluag individu tersebut meraih sukses dalam belajar.

2) Motivasi. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses dalam


diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 2004 : 32). 2.2 Tinjauan tentang IPA a. Pengertian IPA IPA merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif secara dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yang teratur sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara, universal (Suyoso, 2005 : 23). Adapun menurut Sri Sulistyorini menuliskan bahwa IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengertian yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Sri Sulistyorini, 2007: 39). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dari sendiri dan alam sekitar serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang kejadian bersifat kebendaan dan pada umumnya didasarkan atas hasil observasi, eksperimen dan induksi (Srini M. Iskandar, 2001 : 17 ). 11

b. Tujuan Pembelajaran IPA Salah satu pengajaran IPA adalah agar siswa memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 2004 : 61). Adapun tujuan pembelajaran IPA yaitu :

a) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan YME berdasarkan


keberadaaan, keindahan, dan keteraturan dan ciptaannya.

b) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang


bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

c) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya
hubungan saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat.

d) Mengembangkan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah


dan membuat keputusan.

e) Meningkatkan kesadaran dalam berperan serta dalam memelihara, menjaga,


melestarikan lingkungan alam.

f) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dengan segala keteraturannya


sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

g) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar


melanjutkan pendidikan ke SMP (Sri Sulistyorini, 2007 : 40). Untuk mencapai tujuan IPA dalam proses pembelajaran guru harus mengetahui ruang lingkup IPA. Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD meliputi aspek-aspek sebagai berikut :

12

1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan
interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan. 2) Benda materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi : cair, padat, gas.

3) Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya
dan pesawat sederhana.

4) Bumi dan alam semesta meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan bendabenda
langit lainnya (Haryanto. 2004 : 20).

2.3 Tinjauan tentang Metode Pembelajaran Inquiry a. Pengertian Metode Inquiry


Inquiry yang dalam Bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Metode inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Gulo 2003 : 83). Metode inquiry merupakan suatu teknik atau cara yang dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa di bagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Hasil kerja mereka kemudian dibuat laporan yang kemudian dilaporkan. Pembelajaran inquiry memerlukan lingkungan kelas dimana siswa merasa bebas untuk berkarya, berpendapat, membuat kesimpulan dan membuat dugaan-dugaan (Roestiyah, 2001 : 75).

13

Pembelajaran inquiry merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia, peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Kondisikondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inquiry bagi siswa yaitu :

1) Aspek sosial didalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa
berdiskusi. Kebebasan berbicara dan penghargaan terhadap pendapat yang berbeda, sekalipun pendapat itu tidak relevan perlu dipelihara dalam batas-batas disiplin yang ada.

2) Inquiry berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya. 3) Penggunaan fakta sebagai bukti, para guru saling bertukar pikiran dalam hal
bagaimana mereka berusaha untuk melibatkan para siswa di dalam pencarian ilmu pengetahuan secara aktif (Gulo 2003 : 84 85). Pada hakikatnya, inquiry ini merupakan suatu proses. Proses ini bermula dari perumusan masalah, mengembangkan hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan sementara, menguji kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang pada taraf tertentu diyakini oleh peserta didik yang bersangkutan.

MERUMUSKA N MASALAH

MENARIK KESIMPULAN SEMENTARA SISW A MENGUJI HIPOTESIS

MERUMUSKAN HIPOTESIS

14
MENGUMPULKAN BUKTI

Gambar 1 : Proses Inquiry (Sumber : Gulo 2002 : 94) Semua tahap dalam proses pembelajaran dengan metode inkuiri tersebut di atas merupakan kegiatan belajar dari siswa. Guru berperan untuk mengoptimalkan kegiatan tersebut pada proses belajar sebagai motivator, fasilitator, pengarah. Keberhasilan proses pembelajaran dengan metode inkuiri sangat bergantung pada tahap pendahuluan. Permasalahan yang diketengahkan pada tahap awal ini harus mampu dipertanyakan oleh siswa. Tahap pendahuluan ini disebut juga tahap apersepsi atau advanced organizer. Hal tersebut demikian, karena materi yang disajikan harus terkait dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya (Gulo 2002 : 94). Adapun strategi pelaksanaan inquiry adalah :

15

1) Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang


akan diajarkan.

2) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang


jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa.

3) Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin


membingungkan peserta didik.

4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. 5) Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat
dipertanggung jawabkan ( Mulyasa, 2005 : 236).

b. Tujuan Pembelajaran dengan Metode Inquiry


Pada prinsipnya tujuan pengajaran dengan metode inquiry adalah membantu siswa bagaimana merumuskan pertanyaan, mencari jawaban atau pemecahan untuk memuaskan keingintahuannya dan untuk membantu teori dan gagasan tentang dunia (Arends, 2000 : 386). Inquiry menyediakan beranekaragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang serta peluang bagi siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah, pengambilan putusan dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pelajar sepanjang hayat. Keunggulan-keunggulan metode inquiry : 1) Meningkatkan pemahaman sains 2) Produktif dalam berpikir kreatif

3) Siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.


16

4) Menekankan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. 5) Memberi ruang kepada siswa untuk belajar sesuai gaya belajar. 6) Mampu melayani siswa di atas rata-rata. Setiap metode mengajar tidak selalu unggul, namun juga mempunyai kekurangan. Adapun kekurangan metode inquiry antara lain : 1) Guru dituntut untuk lebih kreatif.

2) Belajar mengajar dengan metode inquiry perlu kecerdasan. 3) Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa (Gulo 2002 : 86).
c. Peranan Metode Pembelajaran Inkuiri Di dalam perkembangannya, ternyata metode pembelajaran inkuiri mempunyai peranan yang penting terhadap pendidikan di sekolah. Pelaksanaan penggunaan metode pembelajaran inkuiri mempunyai peranan penting baik bagi guru maupun para siswa. Peranannya antara lain sebagai berikut: 1) Menekankan kepada proses perolehan informasi oleh siswa.

2) Membuat konsep diri siswa bertambah dengan penemuan-penemuan yang


diperolehnya.

3) Memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan memperluas penguasaan


keterampilan dalam proses memperoleh kognitif para siswa.

4) Penemuan-penemuan yang diperoleh siswa dapat menjadi kepemilikannya dan


sangat sulit melupakannya.

5) Tidak menjadikannya guru sebagai satu-satunya sumber belajar, karena siswa


belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar (Sumantri, 2001 : 166). 17

d. Tingkatan Metode Inkuiri Ada dua tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensistas keterlibatan siswa, yaitu:

1. Inkuiri tingkat pertama (level 1)


Inkuiri tingkat pertama (level 1) merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif dari guru. Inkuiri tipe ini, tergolong kategori inkuiri terbimbing (guided inquiry) (Nurdin, 2010:1). Dalam inkuiri terbimbing kegiatan belajar harus dikelola dengan baik oleh guru dan luaran pembelajaran sudah dapat diprediksikan sejak awal. Inkuiri jenis ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran mengenai konsep-konsep dan prinsipprinsip yang mendasar dalam bidang ilmu tertentu. Menurut Orlich dalam Nurdin (2010:2) menyatakan ada beberapa

karakteristik dari inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu: a) Siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi. b) Sasarannya adalah mempelajari proses mengamati kejadian atau obyek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai. c) Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas. 18

d) Tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas. e) Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran. f) Biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari siswa. g) Guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam kelas. 2. Inkuiri Bebas Inkuiri tingkat kedua dan ketiga dapat dikategorikan sebagai inkuiri bebas (unguided inquiry). Dalam inkuiri bebas, siswa difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan. Siswa dimotivasi untuk mengemukakan gagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut. Untuk itu siswa diberi motivasi untuk melatih keterampilan berpikir kritis seperti mencari informasi, menganalisis argument dan data, membangun dan mensintesis ide-ide baru, memanfaatkan ide-ide awalnya untuk memecahkan masalah serta menggeneralisasikan data. Guru berperan dalam mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan tentang apa yang diperoleh dari hasil pemecahan masalah tersebut (Nurdin, 2010 : 4). Beberapa karakteristik yang menandai kegiatan inkuiri bebas ialah: (1) siswa mengembangkan kemampuannya dalam melakukan observasi khusus untuk membuat inferensi, (2) sasaran belajar adalah proses pengamatan kejadian, obyek dan data yang kemudian mengarahkan pada perangkat generalisasi yang sesuai, (3) guru hanya mengontrol ketersediaan materi dan menyarankan materi inisiasi, (4) dari materi yang tersedia siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tanpa

19

bimbingan guru, (5) ketersediaan materi di dalam kelas menjadi penting agar kelas dapat berfungsi sebagai laboratorium, (6) kebermaknaan didapatkan oleh siswa melalui observasi dan inferensi serta melalui interaksi dengan siswa lain, (7) guru tidak membatasi generalisasi yang dibuat oleh siswa, dan (8) guru mendorong siswa untuk mengkomunikasikan generalisasi yang dibuat sehingga dapat bermanfaat bagi semua siswa dalam kelas (Nurdin, 2010 : 5). Tabel 1 Pendekatan Inquiry Level 0 1 2a Problem Guru berikan Guru berikan Guru berikan Peralatan Guru berikan Guru berikan Guru berikan Prosedur Guru Murid Murid Jawaban Guru Murid Murid Nama Verifikasi Guided Inquiry Open guided inquiry Open guided inquiry Open inquiry

2b

Guru berikan

Murid

Murid

Murid

Murid/open

Murid

Murid

Murid

Sumber : (Hackling , 2005)

e. Peranan Guru dalam Menciptakan Kondisi Pembelajaran dengan Metode


Pembelajaran Inquiry Untuk menciptakan kondisi seperti yang telah diuraikan di atas, maka peranan guru sangat diperlukan. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, sekalipun hal itu sangat diperlukan. Peranan utama guru dalam menciptakan kondisi inquiry adalah sebagai berikut: 20

1) Motivator, yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir. 2) Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses
berpikir siswa.

3) Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan
memberi keyakinan pada diri sendiri.

4) Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di dalam


kelas.

5) Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang
diharapkan.

6) Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas. 7) Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka
peningkatan semangat heuristik pada siswa (Gulo, 2002: 86-87). Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang berinkuiri, peranan guru sangat diperlukan. Peranan guru tersebut antara lain, sebagai motivator, fasilitator, penanya, administrasi, pengarah, manajer, dan rewarder. Peranan-peranan tersebut diharapkan dimiliki oleh setiap guru supaya metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran di sekolah dapat tercipta. Supaya guru dapat melakukan peranannya secara efektif maka pengenalan kemampuan siswa sangat diperlukan, terutama cara berpikirnya, cara mereka menanggapi, dan sebagainya. Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, dan teman yang kritis. Peranan ini sangat sulit dan sensitif, karena esensi inkuiri adalah aktivitas siswa (Sanjaya, Wina. Dr. 2008 : 28).

21

f. Hakikat Pembelajaran IPA dengan Penerapan Metode Guided Inquiry


Level 1 pada Siswa kelas III SD Metode ini merupakan alternatif metode yang dapat dipilih dalam pengajaran IPA di SD kelas III. Mengingat dalam pelajaran IPA diperlukan suatu bentuk kegiatan yang dapat mengarahkan siswa untuk dapat menemukan suatu konsep melalui pengujian atau penemuan secara langsung. Metode ini dapat diterapkan mulai kelas III SD, khususnya pengajaran IPA. Tujuannya agar siswa mampu memecahkan masalah dan menarik kesimpulan dari permasalahan yang dipelajari (Haryanto. 2004 : 25). Dengan menerapkan metode guided inquiry level 1 peneliti akan melaksanakan proses pembelajaran IPA siswa kelas III dengan Kompetensi Dasar : Menyimpulkan perubahan sifat benda dan kegunaannya dalam kehidupan seharihari . Dalam pelaksanaanya, peneliti menerapkan metode guided inquiry level 1, dengan alasan siswa kelas III masih membutuhkan bimbingan dari guru dalam pelaksanaan kegiatan.

22