Anda di halaman 1dari 10

PERALATAN PROTEKSI TEGANGAN TINGGI MODUL Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Proteksi Tegangan

Lebih dengan dosen pengampu : Drs. H. Bambang Trisno, MSIE.

Handi Agus H. 0908810

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

A. Deskripsi Modul yang berjudul peralatan proteksi pada tegangan tinggi ini merupakan modul yang berisi materi beserta informasi mengenai macam-macam peralatan system proteksi yang ada pada tegangan tinggi. Modul ini disusun dalam dua kegiatan belajar, yakni berisi materi dan diakhiri dengan kesimpulan. Keandalan dan kemampuan suatu sistem tenaga listrik dalam melayani konsumen sangat tergantung pada sistem proteksi yang digunakan. Oleh sebab itu dalam perencangan suatu sistem tenaga listrik, perlu dipertimbangkan kondisikondisi gangguan yang mungkin terjadi pada sistem, melalui analisa gangguan. Proteksi sistem tenaga listrik adalah sistem proteksi yang dipasang pada peralatanperalatan listrik suatu sistem tenaga listrik, misalnya generator, transformator, jaringan dan lain-lain, terhadap kondisi abnormal operasi sistem itu sendiri. B. Tujuan Tujuan dari pembuatan modul ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca secara umum dan penulis secara khusus, mengenai peralatan proteksi tegangan tinggi. Secara teori, diharapkan modul ini juga berguna ketika nanti penulis terjun ke dunia pendidikan. Atau secara praktis, dapat berguna ketika terjun pada dunia kerja. C. Referensi 1. Arismunandar dan Kuwahara. (1973). Teknik Tenaga Listrik Jilid III Gardu Induk. Jakarta : Pradnya Paramita. 2. Hasbullah. (2008, Juni). Protection on Electrical Power System. [10 Maret 2012] 3. Hasan, Bachtiar. (2002). Sistem Proteksi Pembangkitan Tenaga Listrik. Bandung: Pustaka Ramadhan.

4. Hasan, Bachtiar. (2002). Peralatan Teknik Tegangan Tinggi. Bandung: Pustaka Ramadhan. 5. Naek Halomoa, Cristof. ( - ). Komponen-Komponen Proteksi. [10 Maret 2012] 6. -. ( - ). Komponen Sistem Proteksi. [10 Maret 2012] 7. Juni 2008 http://davidgultom.wordpress.com/2008/06/19/current-

transformer/ 8. http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/11/dasar-dasar-sistemproteksi.html 9. http://telkom-copas58.blogspot.com/2011/02/power-supply.html D. Materi PERALATAN PROTEKSI TEGANGAN TINGGI Sistem proteksi tenaga listrik pada umumnya terdiri dari beberapa komponen yang dirancang untuk mengidentifikasi kondisi sistem tenaga listrik dan bekerja berdasarkan informasi yang diperoleh dari sistem tersebut. Sistem proteksi pada sistem tenaga listrik didukung oleh beberapa peralatan yang berfungsi mengatasi gangguan dan mengisolasi bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih dapat beroperasi dengan baik. Saluran tenaga listrik merupakan bagian yang sering mengalami gangguan. Gangguan yang terjadi berupa hubung singkat, tegangan lebih, beban lebih, hubung buak (pengantar putus), cuaca yang tidak mendukung, dll. Gangguan tersebut mengakibatkan kerusakan peralatan penyaluran sehingga system menjadi tidak bekerja secara optimal. Adapun peralatan yang dimaksud tersebut ialah:

1. Circuit Breaker atau Pemutus Beban Circuit breaker (CB) merupakan suatu alat proteksi yang banyak di gunakan pada sistem tenaga listrik, terutama pada sistem tenaga yang menghasilkan daya yang besar atau sistem tegangan tinggi. Circuit breaker adalah perangkat pengaman arus lebih yang bekerja membuka dan memutus rangkaian secara non-otomatis dan memutus rangkaian secara otomatis ketika arus yang mengalir dirangakian melebihi kapasitas arus yang telah ditentukan tanpa menimbulkan kerusakan pada peralatan (CB dan rangkaian) pada saat terjadi gangguan. Oleh karena itu, CB harus mempunyai beberapa syarat sebagai berikut: a. Memiliki daya yang cukup untuk memutuskan hubungan rangkaian b. Dapat bekerja pada waktu yang singkat c. Tahan terhadap bunga api d. Sederhana dalam bentuk dan murah harganya e. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu

Gambar 1. Circuit Breaker TET 500 KV Berdasarkan pemakaiannya, CB dibagi menjadi LVCB (Low Voltage Circuit Breaker, dengan jumlah tegangan dibawah 600 V), MVCB (Medium Voltage Circuit

Breaker, dengan jumlah tegangan antara 600 V 1000 V), dan HVCB (High Voltage Circuit Breaker, dengan jumlah tegangan diatas 1000 V). Sedangkan berdasarkan kontruksinya, CB dibagi menjadi MCCB (Molded Case Circuit Breaker) dan ICCB (Insulated Case Circuit Breaker). Dan berdasarkan mediumnya, CB dibagi menjadi empat jenis, yakni: a. Air b. Oil c. Gas d. Vacuum : Medium pemutus udara : Medium pemutus minyak : Medium pemutus gas (SF6) : Medium pemutus hampa udara.

2. Lighting Arrester (Penangkal Petir) Alat ini berfungsi sebagai pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik dari gangguan tegangan lebih yang diakibatkan oleh sambaran petir (surja petir). Bila surja datang ke gardu induk, arrester bekerja melepaskan muatan listrik (discharge), serta mengurangi tegangan abnormal yang akan mengenai peralatan dalam gardu induk tersebut. Setelah surja (petir atau hubung) dilepaskan melalui arrester, arus masih mengalir karena adanya tegangan sistem, arus ini disebut arus dinamik atau arus susulan (follow current). Persyaratan yang harus dipenuhi arrester: a. Tegangan percikan (sparkover voltage) dan tegangan pelepasannya (discharge voltage) harus cukup rendah b. Harus mampu memutuskan arus dinamik dan dapat bekerja terus seperti semula.

Gambar 2. Arrester 3. Rele Relay atau rele adalah alat yang memproteksi sistem tenaga listrik dengan cara mendeteksi gangguan atau kelebihan tertentu yang terjadi pada saluran, yang kemudian mengeluarkan perintah sebagai tanggapan/ respon dari kelebihan yang dideteksi oleh relay tersebut. Jika terjadi gangguan maka relay akan memberikan suplay daya kepada rangkaian proteksi untuk memutuskan arus yang menyebabkan gangguan tersebut. Kelebihan yang dikeluarkan bisa berupa kerusakan listrik atau mekanis dalam hal perintahnya. Di dalam hal kelebihan listrik atau mekanis ini biasanya ditujukan pada trip coil atau kumparan yang bertugas menjatuhkan pemutus tenaga (PMT) atau kepada alat-alat alarm yang biasanya berupa lampu dan bel.

Gambar 3. Rele

4. Kabel Kontrol Berdasarkan kulit pelindungnya (armor) misalnya kabel bersarung timah hitam (lead sheathed), kabel berkulit pita baja (steel-tape armored). Berdasarkan kontruksinya dibagi menjadi plastic dan karet, kabel padat, kabel jenis datar (flat type) dan kabel minyak (oil filled). Berdasarkan penggunaannya, kabel control dibagi menjadi kabel dengan bentuk penampang inti pada konduktor seperti pejal (untuk tegangan menengah dan rendah) dan pilin (stranded) bentuk berongga. Panjang dan tipe kabel pilot akan mempengaruhi karakteristik proteksi kapasitans. Kabel pilot yang besar yang menyebabkan perbedaan arus dan beda sudut fasa antara ujung terminal kabel pilot (RP) dapat mempengaruhi besar kecilnya sinyal dan membatasi tegangan terhadap kabel pilot. Dalam banyak system proteksi, resistansi dan kapasitaansi pilot perlu kompensasi untuk meminimalkan kesalahan dalam kesalahan sinyal. Kabel pilot harus dilindungi terhadap tegangan induksi yang besar, yang ditimbulkan oleh kopling bersama (manual kopling) dengan kabel daya.

Gambar 4. Kabel HVDC 5. Trafo Arus

Trafo arus atau current transformer (CT) adalah alat yang dipergunakan untuk mentransformasikan arus atau menurunkan arus besar pada tegangan tinggi menjadi arus kecil pada tegangan rendah untuk keperluan pengukuran dan pengamanan. Disamping penggunannya untuk mengukur arus, trafo ini juga dibutuhkan untuk pengukuran daya dan energi, trafo arus juga dibutuhkan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh dan rele proteksi.Kumparan primer trafo arus dihubungkan secara serie dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya, sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan peralatan meter dan rele proteksi. Trafo ini bekerja sebagai trafo yang terhubung singkat. Trafo arus untuk tujuan proteksi baisanya harus mampu bekerja lebih dari 10 kali arus pengenalnya. Kumparan primernya dihubungkan secara seri dengan beban yang akan diukur atau dikendalikan. Beban inilah yang menentukan besarnya arus yang

mengalir ke trafo tersebut. Kumparan sekundernya dibebani impedasi konstan dengan syarat tertentu. Fluks inti dan arus yang mengalir pada rangkaian sekunder akan tergantung pada arus primer. Trafo ini disebut juga trafo seri.

Gambar 5. CT 110 KV

a. Rangkaian CT

b. Simbol CT

Gambar 7. Rangkaian dan Simbol CT 6. DC System Power Supply DC system power supply merupakan peralatan penunjang yang memberikan suplay daya ke sistem relay yang pada umumnya memerlukan input daya DC. Penggunaan sistem DC system power supply ini bertujuan untuk menjaga kontinuitas perlindungan dari peralatan proteksi terhadap sistem meskipun suplay utama terputus. Sebagai peralatan proteksi, DC system power supply merupakan peralatan yang sangat vital karena jika terjadi gangguan dan kontak telah terhubung, maka DC system power supply akan bekerja yang menyebabkan CB terbuka. Charger sebenarnya adalah sumber utama dari DC system power supply, karena charger adalah alat untuk merubah tegangan AC menjadi tegangan DC.

Gambar 6. DC Power Supply

E. Kesimpulan Sistem proteksi tenaga listrik pada umumnya terdiri dari beberapa komponen yang dirancang untuk mengidentifikasi kondisi sistem tenaga listrik dan bekerja berdasarkan informasi yang diperoleh dari sistem tersebut. Sistem proteksi pada sistem tenaga listrik didukung oleh beberapa peralatan yang berfungsi mengatasi gangguan dan mengisolasi bagian jaringan yang terganggu dari bagian lain yang masih dapat beroperasi dengan baik. Peralatan proteksi tegangan tinggi diantara adalah circuit breaker, lighting arrester, rele, kabel control, current transformers, dan DC system power supply.