Anda di halaman 1dari 13

Perbandingan Motivasi, Kebiasaan Belajar Dan Prestasi Belajar Antara Siswa Unggulan Dengan Bukan Unggulan Di Smu Neg.

48 Jakarta-

1. Motivasi Berprestasi a. Pengertian Istilah achievement motivation rasanya palint tepat untuk menjelaskan pengertian motivasi berprestasi. Arti achievement motivation itu sendiri adalah motivasi untuk mencapai suatu hasil. Menurut McClelland yang dikutip oleh Kasim, yang dimaksud dengan motivasi untuk mencapai suatu hasil (achievement motivation) adalah motivasi kewiraswastaan, yaitu keunginan untuk melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan standar yang tertinggi (excellence) atau keinginan untuk berhasil, sukses dalam suasana persaingan. McClelland menjelaskan bahwa hampir setiap orang mempunyai motif untuk mencapai suatu keberhasilan, tetapi dalam kenyataan, misalnya di Amerika Serikat kira-kira 10 persen dari penduduk yang sangat mempunyai motif tersebut. (1992:29) Langkah manusia yang memiliki motivasi berprestasi, hal ini disebabkan tindakan seseorang dalam konteks apapun termasuk dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya ditentukan oleh adanya tenaga dorongan dari dalam dirinya serta rangsangan dari lingkungan yang berada di luar dirinya. Dari dalam diri seseorang berkaitan erat dengan suatu kebutuhan yang dirasakan, sedangkan rangsangan dari luar berkaitan erat dengan cita-cita dan harapannya seperti status social, uang, jabatan, dan lain-lain, sehingga tidak akan ada suatu motivasi apabila tidak dirasakan suatu keinginan atau kebutuhan. Adanya kebutuhan menimbulkan motif, seperti yang dijelaskan oleh Sardiman motif dapat diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutma bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. (1996:73). Motif secara mental menurut Kasim yang mengutip pendapat McClelland ter letak di antara keadaan sadar dan keadaan tidak sadar, yaitu di daerah mana terletak lamunan (daydreams) dimana orang berbicara kepada dirinya sendiri tanpa

Penerima teman sejawat Rencana senioritas Gelar, lambang status, promosi, pujian asaan berprestasi, melaksanakan tujuan-tujuan penting terlaksana yang potensial
sadar akan hal tersebut. (1993:29) Jadi motif adalah kebutuhan, keinginan, teakanan, dorongan dan desakan hati yang membangkitkan dan mempertahankan gairah individu untuk mengerjakan sesuatu Motif dapat pula disebutkan sebagai dorongan atau alasan yang menyebabkan seseorang berbuat atau bertindak. Apabila motif telah menjadi aktif dikarenakan kebutuhan yang harus dipenuhi, maka seseorang akan melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat dan bertindak sebagai penggerak tingkah laku, inilah yang disebut motivasi. Oleh karena itu menurut Maslow yang dikutip oleh Stan Kossen, kebutuhan manusia dapat ditetakan untuk berbagai tingkat yang merupakan suatu hirarki, dan menurut Maslow, tiap tingkat kebutuhan harus dipenuhi sedikit banyaknya sebelum tingkat berikutnya menjadi penting. Maslow mengemukakan suatu konsep yang membedakan lima tingkat kebutuhan manusi, mulai dari kebutuhn dasar, golongan bawahan sampai kepada kebutuhan social dan psikologi suatu golongan yang lebih tinggi. Digambarkan seperti dibawah ini : Contoh-contoh

Selanjutnya Kossen menjelaskan, suatu hal pokok dari teori hirarki kebutuhan, bahwa sutu kebutuhan yang terpenuhi tidak lagi memotivasi. Kebutuhankebutuhan golongan yang lebih bawah tidak menjadi penting, tapi kebutuhan-

kebutuhan golongan yang lebih tinggi mencapai arti yang lebih besarbagi individu dan kebutuhan-kebutuhan dasarnya menjadi terpenuhi. (1993:128-129) Oleh karena itu dalam proses pembelajaran Sardiman menegaskan setiap tingkat diatas hanya dapat dibangkitkan apabila telah dipenuhi tingkat motivasi di bawahnya. Bila guru menginginkan siswanya belajar dengan baik, maka harus dipenuhi tingkat yangterendah sampai yang tertinggi. Anak yang lapar, merasa tidak aman, tidak dikasihi, tidak diterima sebagai anggota masyarakat, goncang harga diri, tentu tidak akan dapat belajar secara baik. (1994:81) Dengan terpenuhinya semua kebutuhan yang lain, maka menurut Magdalena Lumbantoruan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (ENI) pengakuan atau aktualisasi diri muncul sebagai kebutuhan tertinggi, wujud yang dapat memenuhi kebutuhan ini adalah kompetensi atau kemampuan seseorang dan prestasi. (1990:176) Oleh karena itu keberhasilan seseorang tergantung motivasi untuk berprestasi yang timbul dari dalam dirinya. Seperti Herzberg yang dikutif Zainun, ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi seseorang, yaitu motivasi ekstrinsic yang sifatnya menyehatkan dan datangnya dari luar, seperti kondisi lingkungan dan iklim organisasi dimana seseorang itu berbeda, sedangkan intrinsic merupkan factor-faktor yang memuaskan dalam diri seseorang, seperti penghargaan penuh ats prestasi yang diperoleh dari pelaksanaan kerja yang memang baik jauh lebih besar peranannya dalam mewujudkan kepuasan. (1994:52) Demikian pula menurut McClelland yang dikutip Jusuf Nusjirwan dalam ENI bila pada seseorang kebutuhan berafiliasi dan kebutuhan untuk berkuasa lebih kuat dari pada kebutuha untuk berprestasi, tipis kemungkinan orang yang bersangkutan untuk sukses. (1997:107) Dari ketiga teori motivasi tersebut, Maslow dengan teori kebutuhan atau Herzberg dengan Teori Dua Faktor dan McClelland dengan Teori Kebutuhan Prestasi memiliki persamaan. Skema dibawah ini membandingkan persamaan dalam ketiga teori tersebut yang digambarkan oleh Magdalena Lumbantoruan dalam ENI sebagai berikut :

Table : Hubungan antara Teori Maslow, Herzberg, dengan McClelland. (1997:379) MASLOW Aktualisasi diri HERZBERG Pekerjaan McCLELLAND Kebutuhan

Prestasi Peluang Harga diri perkembangan Kemajuan Pengakuan Status Hubungan pribadi Rasa aman Kebutuhan fisik Supervisi Kepastian kerja Kondisi kerja Kehidupan pribadi Gaji antar

Berprestsi

Kebutuhan berkuasa

Kebutuhan sosial

Kebutuhan bersekutu

Pendekatan dari ketiga teori motivasi tersebut adalah pendekatan isi yang memusatkan perhatian pada apa yang menimbulkan motivasi prilaku individu, sehingga menurut Jusuf Nusyirwan dalam ENI, fantasi atau hayalan seseorang mengungkapkan motivasi-motivasi orang itu. Apabila isi khayalan seseorang berubah atau diubah, akan terjadi pula perubahan pada motivasinya. Pemikiran ini mendasari Pelatihan Peningkatan Motivasi Berprestasi yang diprakarsai oleh David McClelland. Dalam pelatihan tersebut, para peserta dilatih untuk mengisi alam khayalan dengan fantasi-fantasi berprestasi. (1997:253) Menurut penelitian McClelland yang dikutif Stoner dan Freeman, orang yang berhasil dalam kedudukan yang kompetitif, motivasi prestasi rata-rata di atas baik. Dalam risetnya McClelland menemukan bahwa orang yang mempunyai kebutuhan yang besar akan prestasinya mempunyai cirri-ciri yaitu (1) bersemangat jika unggul, (2) mau mengambil resiko yang diperhitungkan, (3) mau bertanggung jawab sendiri, (4) memilih tugas yang menantang, (5) menghendaki umpan balik, (6) bekerja tidak untuk uang atau penghargaan. (1992:15) Sedangkan cirri-ciri seseorang yang memiliki motivasi berprestsi menurut A. M. Sardiman sebagai berikut : (a) tekun menghadapi

tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai), (b) ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), (c) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah tercapainya), (d) menunjukan minat terhadap bermacammacam masalah(, (e) lebih senang bekerja mandiri, (f) penuh dengan kreatifitas, (g) dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu), (h) tidak mudah melepaskan hal hal yang diyakini ituy, (i) senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal. (1996:83) Apabila seseorang memilki cirri-ciri motivasi seperti ini, berarti seseorang itu selalu meiliki motivasi yang sangat kuat dalam berprestsi. Cirri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, kalau siswa selalu bersemangat jika unggul, tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri dengan dorongan bekerja bukan semata uang atau penghargaan. Siswa yang belajar dengan baik lebih suka memilih tugas yang menantang dan mengutakan pentingnya umpan balik serta mampu mempertahankan pendapatnya. Bahkan lebih lanjut siswa mampu menganmbil risiko yang diperhitungkan, sehingga peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum. Dari cirri-ciri terebut dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan kecendrungan dalam diri individu untuk mencapai prestasi secara optimal. Dapat juga dikatakan bahwa motivasi berprestasi adalah usaha yang gigih untuk mencapai keberhasilan dalam segala aktivitas kehidupannya. Dalam kaitanya dengan prestasi belajar siswa, motivasi berprestasi tidak lain dorongan yang tumbuh pada siswa untuk mencapai keunggulan prestasi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab. b. Pengukuran Motivasi seorang ditentukan oleh m,otif yang dimilikinya. Motif adalah kebutuhan, keinginan, tekanan, dorongan dan desakan hati yang membangkitkan dan mempertahankan girah individu untuk mengerjakan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitasaktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangata dirasakan atau mendesak. Jadi dapat disimpulkan motivasi seseorang tergantung

pada kuat lemahnya motif, sehingga motif atau daya dorong kebutuhan seseorang dapat dipakai untuk memperkirakan kekuatan motivasinya. Menurut McClelland, dorongan kebutuhan untuk berprestasi merupakan hirarki kebutuhan manusia yang tertinggi, sedangkan yang terendah adalah kebutuhan berafiliasi dan diantara keduanya, kebutuhan untuk berkuasa. Sekalipum semua orang mempunyai kebutuhan atau motif ini, namun kekuatan dorongan kebutuhan itu tidak sama bagi setiap orang. Bahkan untuk satu orang yang sama tidak sama kuatnya pada setiap saat atau pada saat yang berbeda. Dalam kaitan dengan prestasi belajar siswa, maka komponen yang diukur adalah daya dorong siswa dalam memenuhi kebutuhan untuk berprestasi. Sikap siswa yang memiliki motivasi berprestasi adalah (1) dorongan untuk lebih unggul disbanding dengan teman sekelas, (2) yang menyukai tugas yang menantang, (3) senang mendapat umpan balik (kritikan)dari guru atau teman sekelas, (4) belajar bukan semata-mata untuk mendapat uang, (5) dorongan untuk belajar terus menerus dalam waktu yang lama, (6) dorongan untuk tidak pernah berhenti sebelum menyelesaikan belajar, (7) saya ulet menghadapi kesulitan, pantang menyerah, (8) tidak lekas putus asa untuk memahami isi pelajaran, (9) selalu percaya diri dalam menghadapi kesulitan belajar, (10) tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin, (11) tidak cepat puas dengan prestasi yang telah tercapainya, (12) terdorong menyelesaikan semua masalah yang dihadapi, (13) cendrung lebih senang bekerja mandiri, tidak minta bantuan orang, (14) setiap saat pikiran dipenuhi oleh gagasan atau ide baru, (15) tidak mudah dipengaruhi, (16) senang untuk mencari dan memecahkan masalah yang ada di soal-soal buku pelajaran. c. Hubungan Motivasi Berprestasi dengan Prestasi Belajar mencapai prestasi yang optimal dalam belajar merupakan salah satu keinginan manusia. Prestasi belajar seseorang sebagian besar ditentukan oleh motivasi berprestasi orang itu menhasilkan sesuatu. Seseorang akan mencurahkan usahanya untuk melakukan tugas-tugas belajarnya dengan sungguh-sungguh apabila ia mempunyai motivasi yang kuat. Sebaliknya seseorang kurang bergairah melkukan kegitan belajar apabila tidak mempunyai motivasiyang kuat untuk melakukannya. Motivasi pada hakekatnya adalah kekuatan yang mendorong yang berasal seseorang untuk berprilaku kearah pencapain tujuan yang ditentukan. Sedangkan motivasi berprestasi adalah suatu kekuatan dorongan yang berasal dari dalam dari

seseorang untuk berbuat dan melakukan aktivitas belajar, demi tercapainya kebutuhan berprestasi yang diinginkan. Dengan demikian, motivasi berprestasi dapat dipandang sebagai salah satu factor yang sangat membantu dalam mencapai prestasi belajar. Hubungan motivasi berprestasi dan prestasi belajar siswa, winkel menjelaskan motivasi sebagai daya penggerak dalam diri seseoranguntuk memperoleh keberhasilan dalam belajar. (1996:175) Senada dengan itu Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa motivasi akan mempengaruhi hasil belajar. (1990:21) Dari penjelasan tersebut, maka kebutuhan berprestasi ini amat erat kaitanya dengan prestasi seseorang. Oleh karena itu diduga bahwa motivasi berprestasi mempunyai hubungan dengan prestasi belajar. 2. Kebiasaan Belajar a. Pengertian Menurut E. Yusuf Nusyiwran dalam ENI, kebiasaan diartikan prilaku tetap ini. Pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kebiasaan sangat besar. Adanya keuntungan atau imbalan yang menyenangkan atas suatu prilaku atau cara bereaksi bisa membuat prilaku atau cara breaksi itu meneguhkan menjadi kebiasaan. Lingkungan kultural akan berusaha menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik pada individu , dengan mengajarkan urutan-urutan tindakan yang terencana dan teratur. Ada juga lingkungan pergaulan buruk yang dapat menyebabkan berkembangnya kebiasaan-kebiasaan buruk pada individu. Dalam hal ini, para pendidik berusaha menempuh berbagai cara untuk menghilangkannya. Salah satu cara yang kedengaran agak paradoksal adalah dengan menyuruh individu berulang kali secara sengaja melakukan atau atau menampilkan kebiasaan buruknya yang harus diperbaiki itu. Dengan cara demikian, individu diaharapkan akan sepenuhnya sadar mengenai perbuatannya yang salah sebagai akibat dari kebiasaan buruk yang telah melekat pada dirinya, sehingga ia juga akan mampu menghentikannya. Menurut Hutabarat, bahwa cara membentuk dan menghilangkan kebiasaan perlu diketahui, karena kegiatan pendidikan banyak menyangkut pembentukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. (1988:39) Dari pendapat dan penjelasan tersebut, ada tiga komponen utama dalam kebiasaan, yaitu sengaja, teratur dan berulang-ulang, Kamus Besar Bahasa Indonesia

(1997) mengartikan sengaja adalah dimaksudkan (direncanakan); memang diniatkan begitum, tidak secara kebetulan. Sedangkan teratur : berturut-turut dengan tetap dan berulang-ulang : terus menerus berulang; berkali-kali. Dalam kegiatan pembelajaran disekolah kebiasaan yang baik dapat

meningkatkan kemudahan dan efisiensi terhadap respon, sehingga tercapai tujuan belajar. Thorndike dalam Sardiman menjelaskan dasar dari belajar itu adalah asosiasi antara kesan panca indera (sense impresion) dengan implus untuk bertindak (impuls to action). Asosiasi yang demikian ini dinamakan connecting. Dengan kata lain, belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa, otomatis dan sebaliknya akan berkurang bahkan lenyap jika jarang atau tidak pernah digunakan. Oleh karena itu perlu banyak latihan yang teratur dan berulang-ulang serta terencana dengan tepat. (1996:34-35) Jadi suksesnya kegiatan belajar seseorang tergantung dari kebiasaan seseorang itu pula, sebab belajar menurut kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan berusaha memperoleh kepandaian atu ilmu. (1997:14) Usaha tersebut dalam rangka perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan usaha tersebut akan lebih baik, kalau si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya sendiri dengan direncanakan, teratur dan berulang-ulang namun tidak bersifat verbalistis. Hal ini ditegaskan oleh Sardiman dalam arti sempit belajar diartikan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Releven dengan ini, maka ada pengertian bahwa belajar penambahan pengetahuan. (1996:22) Definisi atau konsep ini dalam praktek banyak dianut di sekolah-sekolah, guru berusaha memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan siswa giat mengumpulkan/menerimanya. Konsenkensinya banyak pendapat yang mengatakan bahwa belajar itu menghafal. Selanjutnya Sardiman menjelaskan dalam arti luas, belajar adalah berubah . (1996:23) Dalam hal ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi dalam bentuk keterampilan, pengertian, harga diri, sikap, watak, minat, penyusaian diri. Jelasnya menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang. Salah satu bertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat

pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (Psikomotorik) maupun menyangkup nilai dan sikap (afektif). Secara lebih rinci Sumandi Suryabrata (1993:249), mengemukakan ciri-ciri yang disebut belajar, yaitu : a) belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral, aktual maupun potensial); b) perubahan pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif lama; c) perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja. Dari penjelasan dan pendapat tersebut dalam disimpulkan, bahwa usaha merupakan komponen penting dalam belajar. Berhasilnya seseorang dalam mencapai tujuan belajar, baik untuk menambah pengetahuan maupun perubahan tingkah laku tergantung dari usaha. Usaha adalah kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam setiap kegiatan apapun, usaha merupakan kata kunci bagi keberhasilan seseorang termasuk dalam kegiatan belajar. Apabila usaha itu direncanakan dengan baik dan dilaksanakan dengan teratur secara berulang-ulang, maka akan ada kemudahan untuk mencapai suatu prestasi belajar. Menurut Hurdjma, kebiasaan belajar adalah kemudahan yang dimilki seseorang dalam melaksanakan tugas belajar. (1994:98) Kebiasaan siswa dalam belajar sangat variatif, sesuai dengan kondisi individu masing-masing. Sikap mental tertentu merupakan kondisi yang harus dimilki oleh setiap siswa sebagai landsan utama pembentukan kebiasaab belajar. Dalam hal ini, menurut Endang Sri Hastuti, sikap mental yang perlu diusahakan oleh setiap siswa itu adalah mempunyai tujuan khusus di dalam usaha belajarnya, menaruh minat pada setiap mata pelajaran, percaya pada diri sendiri dan memiliki keuletan. (1998:35) Sikap mental tersebut menimbulkan kebiasaan belajar yang baik. Menurut Surachmad yang dikutip oleh Soeyanto, kebiasaan belajar yang baik bagi seorang siswa adalah : a) menyiapkan rencana belajar, lengkap dengan alat-alat dan kemauan untuk belajar, b) menulis secara khusus apa yang akan dipelajari, c) mengecek apakah yang dikerjakan sesuai dengan rencana, d) untuk menguji apakah masalah itu benar-benar terkuasai perlu merumuskan dengan kalimat sendiri Sn dilengkapi dengan beberapa contoh, e) menyimpilkan setelah menerima materi pelajaran dan didiskusikan dengan teman-teman, f) menetapkan waktu istirahat yang tenang dan segar. (1980:59) Demikian pula menurut Verkuyl dan Lempp dalam hanan, kebiasaan belajar yang baik yaitu (a) membuat ringkasan bahan pelajaran yang dipelajari; (b) membaca buku; c) membuat ikhtisar dari tulisan-ikhtisar ilmiah, dan (d) membuat tugas. (1997:35) Sedangkan The Liang Gie mengemukakan cara

belajar yang efektif yang dapat menjadi kebiasaan, yaitu mengikuti pelajaran di kelas, membaca buku, membauat ringkasan, menghafal bahan pelajaran, mengerjakan tugas dan menempuh ujian. (1994:26) Prestasi belajar tidak akan dapat tercapai secara maksimal, apabila dilakukan hanya dengan asal-asalan. Hal ini ditegaskan oleh Hamalik yang mengemukakan hendaklah seseorang yang sedang belajar jangan ada yang beranggapan, bahwa belajar iru cukup ala kadarnya, bersikap bagaimana nanti, tak memiliki sikap mental berusaha ingin tahu dan tak punya keinginan untuk maju, sehinnga aktivitas belajar akan terlihat tanpa terencana dan dilakukan asal sempat saja. Apabila seseorang belajar tanpa rencana niscaya tidak akan dapa mencapai hasil yang menggembirakan. (1990:2) Oleh karena itu Surachmad, mengemukakan ada banyak faktor kebiasaan belajar yang diperlukan oleh mahasiswa untuk mempertinggi prestasi belajarnya. Dijelaskan lagi ada delapan cara belajar yang terbaik dan menjadi kebiasaan di perguruan tinggi, yaitu bagaimana mengikuti kuliah, menelaah buku sendiri, membuat catatan, belajar sendiri, belajar secara berkelompok, memanfaatkan perpustakaan, membuat karya ilmiah dan mengikuti ujian. (1990:79) b. Pengukuran Dari rumusan kebiasaan belajar yang dikemukakan diatas, yang dimaksudkan dengan kebiasaan belajar dalam penelitian ini adalah usaha yang dilakukan seseorang secara sengaja (terencana), teratur dan berulang-ulang dalam aktivitas belajar. Jadi kebiasan belajar siswa diukur dari usaha yang dilakukan seorang siswa secara sengaja (terencana), teratur dan berulang-ulang di dalam aktivitas belajarnya. Sikap siswa yang memiliki kebiasaan belajar yang baik adalah (1) menyiapkan rencana belajar, (2) berusaha melengkapi alat tulis menulis dengan teratur, (3) teratur membaca buku pelajaran, (4) teratur mengikuti pelajaran di kelas, (5) teratur membaca buku yang berkaitan dengan pelajaran, (6) teratur membuat ringkasan materi pelajaran, (7) teratur mengerjakan tugas dari guru, (8) teratur mengecek yang dikerjakan sesuai dengan rencana, (9) teratur menguji apakah bahan pelajaran telah dikuasai, (10) teratur mendiskusikan bahan pelajaran yang telah dipelajari dengan teman atau guru, (11) teratur mengulangi isi mata pelajaran yang telah diajarkan di sekolah, (12) untuk menjaga kesegaran tubuh secara teratur membuat jadwal atau menetapkan waktu istirahat, (13) teratur menggunakan waktu secara efektif, (14) teratur memanfaatkan perpustakaan, (15) teratur belajar kelompok, (16) teratur mendiskusikan materi pelajaran setelah usai pelajaran, (17) teratur menghafal isi

pelajaran yang telah dipelajari, (180 teratur membahas soal-soal yang telah diujikan. c. Hubungan Kebiasaan Belajar dengan Prestasi Belajar Belajar adalah suatu proses yang terjadi dalam diri manusia. Proses tersebut menghasilkan perubahan kemampuan dan tingkah laku. Belajar akan menghasilkan perubahan, apabila kegiatan belajar dilakukan dengan usaha yang baik, terencana, teratur dan bertujuan. Kebiasaan merupakan tingkah laku yang diperoleh melalui belajar dan diwujudkan secara terus menerus. Tindakan yang diperoleh melalui belajar menjadi mapan serta relatif otomatis melalui pengulangan terus menerus. Pengulangan suatu respon yang disengaja merupakan dasar pembentukan kebiasaan. Seseorang yang mempunyai kebiasan belajar yang baik akan mendapa hasil yang baik. Demikian sebaliknya, jika belajar dilakukan tanpa kebiasaan yang baik hasil belajar akan kurang. Hubungan antara kebiasan belajar dengan prestasi belajar, oleh Hamalik dijelaskan bahwa seseorang yang ingin berhasil dalam belajar hendaklah memiliki kebiasaan, sikap dan tujuan belajar yang baik. (1990:4) Senada dengan itu, Sardiman mengemukakan kebiasan belajar merupakan salah satu faktor psikologis dari seorang siswa. Kehadiran faktor-faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam mencapai prestasi belajar seorang siswa secara optimal. (1996:38) Dari penjelasan tersebut, maka diduga kebiasaan belajar mempunyai hubungan dengan prestasi belajar. 3. Prestasi Belajar a. Pengertian Dalam proses pendidikan yang mempunyai bentuk dan sistem haruslah mengandung perangkat dan tujuan tertentu yang ingin dicapai. Ditinjau dari dimensi peserta didik, maka pencapain tujuan pendidikan dapat berupa prestasi belajar. Salah satu tujuan dari proses dan sistem pendidikan adalah suatu upaya agar peserta didik meperoleh prestsi belajar yang setinggi mungkin. Oleh karerna menururt Depdikbud, prestasi belajar adalah kemampuan yang sungguh-sungguh ada atau diamati (actual ability) dan yang dapat diukur langsung dengan test tertentu. (1983:76) Melalui test tertentu, maka prestasin seseorang dapat diamati. Prestasi merupakan suatu hasil yang telah dikerjakan oleh seseorang. Disekolah atau

perguruan tinggi, prestasi siswa atau mahasiswa dapat dianalisa dari hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Menurut bloom yang dikutip oleh Sardiman, melalui belajar menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu ke tingkat abilitas yang lain, sehingga ada tiga ranah matra, yaitu matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Masing-masing matra dirinci menjadi beberapa jangkauan kemampuan (level of competence). Matra kognitif dirinci sebagai berikut : (1) Knowledge (pengetahuan, ingatan); (2) Comprehension (1996:25) Jadi mengukur prestasi belajar seorang siswa di sekolah hanya sebatas kemampuan kognitifnya saja, belum pada kemampuan afektif apalagi psikomotorik. b. Pengukuran Dalam dunia pendidikan, evaluasi belajar memegang peranan penting. Evaluasi belajar dapat dijadikan sebagai masukan, baik guru maupun siswa. Bagi guru, evaluasi belajar dapat dipergunakan untuk melihat sejauh mana kinerja yang telah dilakukan, sedangkan bagi siswa dapat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang telah dicapai sebenarnya. Kaitannya dengan prestasi belajar, evaluasi belajar yang dilaksanakan di sekolah (baik itu ulangan harian, evaluasi belajar akhir catur wulan atau evaluasi belajar tahap akhir) hanya mengukur siswa pada kemampuan kognitifnya saja, sehingga seorang siswa mengetahi prestsi belajarnya berupa nilai tes setelah siswa mengikuti evaluasi belajar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi belajar merupakan penguasaan pengetahuan (kognitif) yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan niali test atau angka yang diberikan oleh guru. (1997:787) Nilai tersebut diwujudkan dalam niali rapor, sehingga akan diketahui penguasaankognitifnya. Beradasarkan uraian tersebut, maka prestasi belajar siswa dapat diukur dengan suatu hasil belajar yang berupa jumlah nilai yang tertera di rapor siswa. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terhadap Prestasi Belajar (pemahaman); (3) Analysis (menguraikan); (4) Synthesis (mengorganisasikan); (4) Evaluation (mengevaluasi); (5) Application (menerapkan).

Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar di sekolah. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar, para pelaksana maupun pelaku kegiatan belajar yang dapat mencerminkan intervensi positif untuk meningkatkan hasil belajar yang akan diperoleh. Arikunto mengemukakan secara garis besar faktor-faktor yang