Anda di halaman 1dari 19

Oleh: Gayuh Arya Hardika, S.H.

Pengantar
Hingga hari ini, belum ada kesatuan pendapat di antara para ahli tentang definisi hukum. Banyak pendapat dengan berbagai argumentasinya yang membahas tentang definisi hukum. Semua itu dipengaruhi oleh pandangan, filsafat dan orientasi dari masing-masing ahli. Termasuk dalam hal ini adalah kaitan hukum dengan keadilan. Apakah hukum harus erat dengan keadilan atau tidak? Apakah hukum sekedar menjadi alat untuk mewujudkan keadilan ataukah hukum itu sendiri harus merupakan keadilan? Ada yang mengatakan iya namun juga banyak yang mengatakan tidak. Jika iya, bagaimana bentuk keadilan yang dimaksud? Dan masih banyak pertanyaan lain yang jawabannya membawa konsekuensi berbedanya pendapat tentang apa yang dimaksud sebagai hukum. Tetapi dalam studi kita kali ini saya tidak bermaksud mengajak membahas perdebatan yang sifatnya konseptualteoritis tersebut. Walaupun demikian penting kiranya bagi kita semua untuk sedikit merenungkan perdebatan tersebut agar kita dapat bermain dalam tataran wacana sehingga tuntutan tentang hukum dan keadilan yang kita suarakan menjadi lebih utuh.

Apakah Hukum itu?


Secara sederhana, kita dapat mendefinisikan hukum sebagai serangkaian atau sistem peraturan dalam tata kehidupan manusia untuk mengatur terwujudnya ketertiban dan keteraturan di dalam masyarakat.
Masing-masing manusia tidak selalu dapat memahami keberadaan manusia lainnya ketika berbenturan kepentingan sehingga memunculkan konflik. Tapi di sisi lain, manusia cenderung untuk dapat hidup tenang, stabil, teratur dan tenteram. Tidak ada manusia yang ingin hidup dalam kondisi chaos. Untuk itu diperlukan kehadiran sebuah sistem norma bersama yang dapat dipaksakan keberlakuannya ketika ada anggota masyarakat melanggarnya. Sistem norma ini secara konkret ialah hukum, menjelma dalam bentuk serangkaian peraturan.

Dalam praktik, hukum hanya terbatas mengatur tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dikerjakan yang sifatnya faktual atau secara fisik. Termasuk juga apa kewajiban masing-masing individu di tengah kehidupan bermasyarakat. Dalam rangka pengaturan tersebut, hukum dilengkapi dengan adanya sanksi (hukuman) yang dapat dipaksakan berlakunya oleh pihak atau lembaga yang diberi wewenang untuk itu kepada setiap subyek yang melanggar. Subyek hukum itu meliputi orang/subyek hukum alami (naturlijke-person) dan badan hukum/subyek hukum buatan (recht-person).

Akan tetapi tidak semua orang (subyek hukum alami naturlijke-person) mempunyai kapasitas dan wewenang untuk melakukan tindakan hukum. Orang di bawah umur, mengalami cacat mental, atau orang yang oleh pengadilan atau oleh undang-undang dinyatakan tidak mempunyai kecakapan, tidak dapat melakukan tindakan hukum baik untuk dan atas nama dirinya sendiri maupun untuk dan atas nama orang lain.

Sedangkan untuk subyek hukum yang berupa recht-person atau subyek hukum buatan mempunyai kapasitas dan wewenang untuk melakukan tindakan hukum setelah pendirian dan keberadaannya sesuai dengan ketentuan peraturan hukum yang berlaku. Misalnya untuk recht-person yang berbentuk Perseroan Terbatas baru mempunyai kapasitas dan legal standing setelah memenuhi segala ketentuan yang diatur oleh UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sementara untuk yang berbentuk yayasan apabila telah memenuhi segala syarat yang ditentukan oleh UU Yayasan. Namun demikian, tindakan hukum yang dilakukan oleh subyek hukum buatan ini pada kenyataannya tetap dilakukan oleh manusia yang bertindak mewakilinya seperti direktur. Artinya, seorang direktur sebuah PT bertindak dalam kapasitasnya sebagai wakil/representasi dari badan hukum, dan bukan dalam kapasitas pribadi. Sehingga tanggung jawab dan ruang lingkup tugasnya berada dalam kapasitas sebagai representasi dari badan hukum yang diwakilinya.

Siapa yang berhak menciptakan Hukum?


Idealnya, peraturan bersama itu diciptakan oleh seluruh subyek (manusia) di dalam suatu masyarakat di mana hukum itu diberlakukan. Hal semacam ini masih dapat dijumpai keberadaannya pada masyarakat yang strukturnya masih sederhana (tradisional), jumlah penduduknya masih sedikit, aktivitas dan corak kehidupannya serta mata pencahariannya relatif homogen. Di sini, partisipasi masingmasing anggota mayarakat memegang peranan yang sangat penting di dalam proses pembentukan hukum. Untuk masyarakat yang sedemikian kompleks seperti lingkungan kita sekarang, di mana jumlah anggota masyarakat yang banyak, wilayah geografis yang luas, banyaknya kelompok-kelompok masyarakat dan beranekaragamnya adat serta budaya masing-masing kelompok, corak kehidupan yang heterogen yang tentunya mengakibatkan tajamnya perbedaan kepentingan dan ketatnya persaingan antar anggota masyarakat, menyebabkan pembentukan hukum hampir mustahil menggunakan cara-cara seperti pada masyarakat tradisional.

Pada sebagian besar negara yang eksis di dunia sekarang ini, pembentukan hukum diserahkan kepada suatu lembaga yang diberi wewenang untuk itu, yaitu yang lebih dikenal dengan lembaga legislatif (di Indonesia adalah DPR, DPRD). Personel-personel yang duduk di dalam lembaga legislatif ditentukan menurut sistem politik negara masing-masing. Akan tetapi umumnya keberadaan lembaga legislatif berpijak dari pemikiran demokrasi perwakilan. Di Indonesia anggota legislatif dipilih melalui Pemilu Legislatif setiap 5 (lima) tahun sekali.
Pembentukan hukum di Indonesia bukan mutlak wewenang dari lembaga legislatif karena pada kenyataannya menurut UUD 1945 pembentukan hukum melibatkan DPR dan Presiden/Pemerintah.

Sumber Hukum
1.

Peraturan perundang-undangan (UU, Perppu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, dsb). Untuk lebih lengkapnya, lihat UU No. 10 tahun 2004 Perjanjian Traktat (Perjanjian diratifikasi) Internasional yang telah

2. 3.

4.

Kebiasaan (tingkah laku dan pedoman nilai di dalam masyarakat yang dianggap lumrah dan wajar, bahkan sudah menjadi keniscayaan) Yurisprudensi (Putusan Pengadilan yang telah inkracht seperti Putusan MA dan Putusan Mahkamah Konstitusi) Doktrin (Pendapat Ahli)

5.

6.

Aspek-aspek Hukum:
1.

Materi Hukumberkaitan dengan isi atau substansi dari peraturan perundang-undangan;


Struktur Hukumberkaitan dengan lembaga dan aparat penegak hukum seperti Pengadilan, Kejaksaan, Kepolisian, PPNS, dan bahkan advokat sebagai sebuah lembaga; Budaya Hukumberkaitan dengan pengejewantahan atau aplikasi hukum oleh segenap subyek hukum dalam kehidupan sehari-hari di mana hukum bekerja dengan dipengaruhi oleh pandangan, ideologi, tradisi, kebiasaan, sopan-santun, dsb.

2.

3.

Bekerjanya hukum di dalam masyarakat dan bagaimana bentuk hukum dalam praktik, bergantung pada materi hukum, struktur hukum dan budaya hukum.

Asas-asas Hukum
Secara konkret, peraturan perundang-undangan begitu banyak jumlah dan ragamnya sehingga penerapan (penegakan) hukum di dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari apa yang dinamakan sebagai asas hukum. Asas-asas hukum yang menjadi koridor dari bekerjanya hukum di dalam masyarakat antara lain adalah:
1.

Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah (lex superior derogat legi inferiori). Misalnya, apabila sebuah peraturan pemerintah isinya bertentangan dengan UU, maka yang berlaku adalah UU karena tingkatannya lebih tinggi; Peraturan yang khusus mengesampingkan peraturan yang umum (lex specialis derogat legi generali); Peraturan yang baru mengesampingkan peraturan yang lama apabila mengatur hal yang sama (lex posterior derogat legi priori);

2.

3.

4. Pacta Sun Servanda, perjanjian yang dibuat secara sah menurut hukum yang berlaku dan obyeknya tidak bertentangan dengan hukum publik yang berlaku, kepatutan dan kesusilaan maka perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Misalnya dalam hal ini adalah Perjanjian Kerja dan/atau Perjanjian Kerja Bersama. Apabila pembuatannya telah melalui prosedur yang ditetapkan oleh UU No. 13 tahun 2003 dan isinya tidak bertentangan dengan UU No. 13 tahun 2003, UU No. 21 tahun 2000 dan UU No. 2 tahun 2004 serta hukum publik lainnya, maka Perjanjian Kerja dan/atau Perjanjian Kerja Bersama tersebut berlaku seperti undang-undang bagi pengusaha dan buruh yang membuatnya. Apa syarat agar suatu perjanjian disebut sah diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu:

1. 2.

Adanya kesepakatan oleh kedua belah pihak;

Para pihak yang membuat perjanjian tersebut cakap hukum


Karena kausa/sebab/obyek yang halal Tidak bertentangan dengan kesusilaan, kepatutan dan hukum publik

3. 4.

Ketentuan yang diatur oleh Pasal 1320 KUHPerdata tersebut merupakan prinsip umum dalam pembuatan dan penilaian sah tidaknya suatu perjanjian. Prinsip tersebut diadopsi oleh Pasal 52 ayat (1) UU No. 13 tahun 2003:

Perjanjian Kerja dibuat Atas Dasar:


1) 2)

Kesepakatan kedua belah pihak Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum; Adanya pekerjaan yang diperjanjikan Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan peraturan perundangundangan yang berlaku.

3) 4)

Maksud dari asas hukum peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah ialah peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Misalnya, peraturan menteri tenaga kerja tidak boleh bertentangan dengan UU No. 13 tahun 2003, UU No. 21 tahun 2000 dan UU No. 2 tahun 2004. Bagaimana jika ada peraturan yang tingkatannya berada di bawah UU tetapi isinya bertentangan dengan UU? Kita dapat mengajukan judicial review kepada Mahkamah Agung dan memohon agar peraturan tersebut dinyatakan bertentangan dengan UU dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Oleh karena itu, di dalam mencari makna dari suatu ketentuan hukum, kita tidak boleh hanya melihat satu peraturan saja, melainkan harus membandingkan dengan peraturan lain yang tingkatannya setara dan peraturan lain yang lebih tinggi tingkatannya.

Doktrin atau pendapat ahli sebagai salah satu sumber hukum maksudnya adalah pendapat ahli tersebut menjadi hukum ketika dikonstituir oleh hakim, yaitu dijadikan pertimbangan (fundamentum petendi) dalam putusan. Kebiasaan pun juga demikian, menjadi hukum ketika dimasukkan sebagai pertimbangan (fundamentum petendi) oleh hakim di dalam putusan. Oleh karena itu, Anda harus banyak membaca peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan (UU No. 13 tahun 2003, UU No. 21 tahun 2000, UU No. 2 tahun 2004 dan peraturan pelaksananya seperti keputusan dan peraturan menteri tenaga kerja) dan berdiskusi dengan kawan-kawan dari PUK lain sehingga Anda dapat mengenali mana kebiasaan yang di atas standar hukum dan mana kebiasaan yang di bawah standar hukum. Pentingnya akan hal ini adalah ketika terjadi perselisihan hubungan industrial di tempat Anda bekerja, Anda dapat menggunakan kebiasaan dan praktik yang ada sebagai argumentasi.

PEMBENTUKAN HUKUM

Hukum tidak dibuat dalam ruang hampa. Pembentukan hukum selalu didasari oleh motif dan tujuan tertentu. Motif dan tujuan tersebut ada yang bersifat politis, budaya, ekonomis, dsb.

Tidak bisa diingkari, hukum merupakan produk politik; buah dari pertarungan kepentingan dari kekuatan-kekuatan sosial atau kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat. Hanya kelompok yang mempunyai kekuatan lebih dari yang lainnya yang mampu mendesakkan dan memasukkan kepentingannya ke dalam materi hukum. Apakah ini berarti pembentukan hukum berlangsung dalam kondisi tidak fair? Tergantung dari mana kita melihatnya. Yang jelas kondisi yang demikian ini merupakan salah satu buah dari sistem demokrasi, khususnya demokrasi perwakilan. Saya kira hal ini kiranya dapat menyadarkan kita betapa kita kaum buruh mesti memperkuat organisasi dan soliditas untuk memperbesar kekuatan kita dalam berhadapan dengan kelompok sosial lain, terutama kaum pemilik modal, dalam pertarungan kepentingan yang tergelar pada proses pembentukan hukum.

UJI MATERI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

MAHKAMAH KONSTITUSI Sering kita rasakan UU yang diterbitkan oleh pemerintah bersama DPR merugikan hak-hak kita sebagai warga negara. Materi dari UU yang bersangkutan membatasi atau melanggar hak kita. Misalkan saja adalah sebagian materi sistem kerja outsourcing dari UU No. 13 tahun 2003. Keberadaan materi tersebut seolah menyiratkan bahwa UU No. 13 tahun 2003 melegalisasi perbudakan modern. Padahal konstitusi kita secara tegas dan jelas melarang adanya perbudakan. Pertanyaannya, apa yang dapat kita lakukan untuk melawan keberadaan UU yang demikian ini? Amandemen UUD 1945 menghasilkan lembaga baru dalam sistem ketatanegaraan kita, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK), yang berfungsi sebagai pengawal dari UUD 1945. Fungsi MK salah satunya adalah melakukan judicial review (uji materi) suatu UU yang dirasa bertentangan dengan UUD 1945. Dengan wewenang yang diberikan oleh UUD 1945 ini, MK berwenang untuk menyatakan materi UU yang bertentangan dengan UUD 1945 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Undang-Undang yang dapat diajukan uji materi (judicial review) kepada Mahkamah Konstitusi adalah:
1.

Substansi materi UU tersebut tidak sesuai dengan ketentuan di dalam konstitusi, atau tidak sesuai dengan ruh dan semangat yang diusung oleh Konstitusi. Proses pembentukannya tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan di dalam UUD 1945.

2.

Mahkamah Konstitusi merupakan peradilan tingkat pertama dan terakhir untuk semua fungsi peradilan yang diembannya. Artinya tidak ada upaya hukum lain yang tersedia atas putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.

MAHKAMAH AGUNG

Mahkamah Agung (MA) merupakan lembaga penyelenggara peradilan (lembaga yudikatif) di samping Mahkamah Konstitusi (MK). Perbedaannya terletak pada kompetensi MK ialah khusus untuk hal-hal yang sifatnya ketatanegaraan, sementara MA adalah lembaga peradilan untuk perkara-perkara non-ketatanegaraan seperti pidana, perdata, tata usaha negara. MA merupakan puncak dari lembaga peradilan di Indonesia untuk perkara non-ketatanegaraan.
Selain itu MA juga mempunyai wewenang untuk melakukan uji materi (judicial review) peraturan perundang-undangan di bawah UU apabila dinilai bertentangan dengan UU. Semua peraturan perundangundangan yang tingkatannya di bawah UU (seperti PP, Keppres, Kepmen, Permen, Perda, dsb) dapat dimintakan uji materi kepada MA dan apabila terbukti bertentangan dengan UU dapat dinyatakan tidak mempunyai kekuatan mengikat. Apabila ada peraturan di bidang ketenagakerjaan di bawah UU (seperti: Kepmen) yang kita nilai bertentangan dengan UU dapat kita mintakan uji materi kepada MA.

Peraturan perundang-undangan yang dapat diajukan uji materi (judicial review) kepada Mahkamah Agung adalah:
1. 2.

Peraturan tersebut tingkatannya berada di bawah UU; Substansi materi peraturan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan di dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, atau tidak sesuai dengan ruh dan semangat yang diusung oleh peraturan yang lebih tinggi tersebut. Proses pembentukannya tidak sesuai dengan prosedur yang ada.

3.

Mahkamah Agung merupakan peradilan tingkat pertama dan terakhir untuk fungsi uji materi peraturan perundang-undangan di bawah UU. Artinya tidak ada upaya hukum lain yang tersedia atas putusan Mahkamah Agung tersebut (misalnya seperti Kasasi dan/atau Peninjauan Kembali).