Anda di halaman 1dari 31

SURAT EDARAN MTKI terkait STR (Surat Tanda Registrasi Tenaga Kesehatan)

Posted by joe pada 05/12/2011 Dari : Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI)

Kepada : Seluruh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Perihal : Pelaksanaan Registrasi dan Sertifikasi Tenaga Kesehatan Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1796/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan dan mempermudah tenaga kesehatan untuk dapat menjalankan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan kewenangan serta sambil menunggu diterbitkannya Surat Tanda Registrsi (STR) bagi tenaga kesehatan yang bersangkutan, maka dapat diambil langkah-langkah sebagai berikut: 1. Tenaga Kesehatan yang dimaksudkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan tersebut adalah Tenaga Kesehatan selain Tenaga Medis dan Tenaga Kefarmasian. 2. Bagi tenaga kesehatan yang telah memiliki: 1. SIP bagi Perawat berdasarkan Permenkes Nomor. 1239/Menkes/SK/XI/2001dan Nomor. 02.02/MENKES/148/I/2010 2. SIF bagi Fisioterapis berdasarkan Permenkes Nomor. 1363/Menkes/SK/XII/2001 3. SIPG bagi Perawat Gigi berdasarkan Permenkes Nomor. 1392/Menkes/SK/XII/2001 4. SIRO bagi Refraksionis Optisien berdasarkan Permenkes Nomor. 544/Menkes/SK/VI/2002 5. SIB bagi Bidan berdasarkan Permenkes Nomor. 900/Menkes/SK/VII/2002 dan Nomor. 1464/MENKES/PER/X/2010 6. SITW bagi Terapis Wicara berdasarkan Permenkes Nomor. 867/Menkes/Per/VIII/2004 7. SIR bagi Radiografer berdasarkan Permenkes Nomor. 357/Menkes/Per/V/2006 8. SIOT bagi Okupasi Terapis berdasarkan Permenkes Nomor. 548/Menkes/Per/V/2007 9. baik yang belum habis masa berlakunya maupun yang telah habis masa berlakunya dapat memperoleh SIK atau SIP berdasarkan Permenkes tersebut diatas. Dengan demikian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tetap dapat mengeluarkan SIK/SIP berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan tersebut.

1. Bagi tenaga kesehatan yang belum memiliki: 1. SIP bagi Perawat berdasarkan Permenkes Nomor. 1239/Menkes/SK/XI/2001dan Nomor. 02.02/MENKES/148/I/2010 2. SIF bagi Fisioterapis berdasarkan Permenkes Nomor. 1363/Menkes/SK/XII/2001

3. SIPG bagi Perawat Gigi berdasarkan Permenkes Nomor. 1392/Menkes/SK/XII/2001 4. SIRO bagi Refraksionis Optisien berdasarkan Permenkes Nomor. 544/Menkes/SK/VI/2002 5. SIB bagi Bidan berdasarkan Permenkes Nomor. 900/Menkes/SK/VII/2002 dan Nomor. 1464/MENKES/PER/X/2010 6. SITW bagi Terapis Wicara berdasarkan Permenkes Nomor. 867/Menkes/Per/VIII/2004 7. SIR bagi Radiografer berdasarkan Permenkes Nomor. 357/Menkes/Per/V/2006 8. SIOT bagi Okupasi Terapis berdasarkan Permenkes Nomor. 548/Menkes/Per/V/2007 1. dapat memperoleh SIK atau SIP berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan tersebut diatas. Dengan demikian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mengeluarkan SIK/SIP berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan tersebut. 1. Tenaga kesehatan untuk memperbaharui: 1. SIP bagi Perawat berdasarkan Permenkes Nomor. 1239/Menkes/SK/XI/2001dan Nomor. 02.02/MENKES/148/I/2010 2. SIF bagi Fisioterapis berdasarkan Permenkes Nomor. 1363/Menkes/SK/XII/2001 3. SIPG bagi Perawat Gigi berdasarkan Permenkes Nomor. 1392/Menkes/SK/XII/2001 4. SIRO bagi Refraksionis Optisien berdasarkan Permenkes Nomor. 544/Menkes/SK/VI/2002 5. SIB bagi Bidan berdasarkan Permenkes Nomor. 900/Menkes/SK/VII/2002 dan Nomor. 1464/MENKES/PER/X/2010 6. SITW bagi Terapis Wicara berdasarkan Permenkes Nomor. 867/Menkes/Per/VIII/2004 7. SIR bagi Radiografer berdasarkan Permenkes Nomor. 357/Menkes/Per/V/2006 8. SIOT bagi Okupasi Terapis berdasarkan Permenkes Nomor. 548/Menkes/Per/V/2007berdasarkan Permenkes Nomor. 548/Menkes/Per/V/2007 9. dengan STR diajukan kepada Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) secara kolektif melalui Organisasi Profesi, Institusi Pendidikan dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan /atau Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi. 1. Bagi tenaga kesehatan tang telah memperoleh STR dari MTKI wajib melaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 2(dua) minggu setelah menerima STR. 2. Bagi tenaga kesehatan yang belum diatur Surat Izin Kerja (SIK) nya dapat memperoleh Surat Izin Kerja (SIK) dengan mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana dia bekerja dengan melampirkan ijazah tenaga kesehatan yang bersangkutan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menerbitkan SIK bagi tenaga kesehatan tersebut sambil menunggu STR bagi tenaga kesehatan yang bersangkutan diterbitkan.

Tenaga kesehatan dimaksud meliputi: a. Tenaga Nutrisionis b. Tenaga Perekam Medis dan Informasi c. Tenaga Teknik Gigi d. Tenaga Kesehatan Lingkungan e. Tenaga Elektro Medik f. Tenaga Teknik Laboratorium Kesehatan g. Tenaga Perawat Anastesi h. Tenaga Akupuntur i. Tenaga Fisikawan Medis j. Tenaga Ortotik Prostetik Demikian Surat Edaran ini disampaikan, untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Jakarta, November 2011 Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia Ketua, FAIQ BAHFEN Tembusan disampaikan kepada yth: 1. Menteri Kesehatan (sebagai laporan) 2. Sekretaris Jenderal (sebagai laporan) 3. Kepala Badan PPSDM Kesehatan (sebagai laporan) 4. Para Eselon I di Lingkungan Kementerian Kesehatan 5. Para Kepala Dinas Kesehatan Provinsi 6. Para Kepala BKD Provinsi

7. Para Ketua MTKP 8. Para Kepala BKD Kab/Kota 9. Para Ketua PP Organisasi Profesi Provinsi Sumatra Barat Sumbar Butuh 263 Bidan Desa Padang Ekspres Berita Kesehatan Senin, 19/07/2010 - 11:39 WIB Gusti Ayu Gayatri 3137 klik Sebanyak 263 desa di Provinsi Sumatera barat (Sumbar) belum memiliki bidan desa. Kekosongan bidan desa ini tersebar di lima kabupaten/kota, yakni Padangpariaman, Solok Selatan, Pasaman, Pasaman Barat dan Sijunjung. Untuk mengatasi hal itu, Dinas Kesehatan Sumbar akan memprioritaskan penerimaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) bidan desa ke lima daerah tersebut. "Idealnya satu desa satu bidan. Penempatan bidan desa di daerah terisolir selama ini, diakui sering bermasalah. Rata-rata mereka mengeluhkan insentif yang mereka terima tak sebanding dengan biaya yang harus mereka keluarkan di daerah tersebut," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri usai Peringatan HUT ke-59 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Hotel Basko Grand Mall, Minggu (17/7/2010). Begitu kontrak habis, bidan desa tidak mau lagi memperpanjang kontraknya di daerah terisolir tersebut. "Tentu kita tak bisa membiarkan bidan PTT itu terlantar. Harus ada solusi buat mereka," tambah Rosnini. Dalam waktu dekat ini, jelas Rosnini, Dinkes Sumbar akan menerima tembusan surat persetujuan dari Departemen Kesehatan mengenai kenaikan insentif bidan desa. Ditanya berapa jumlahnya, Rosnini mengaku belum tahu. Di tempat yang sama, Pengurus Daerah IBI Sumbar, Mulyati Rivai mengatakan saat ini bidan desa hanya mendapat insentif Rp560 ribu perbulan. "Angka ini diakui, masih di bawah standar. Tahun ini, jumlah bidan di Sumbar mencapai 3.500 orang. Agustus mendatang, Sumbar akan mendapat tambahan 1.000 bidan dari 28 akademi kebidanan di Sumbar. Bidan yang baru lulus

akan mengikuti uji kompetensi terlebih dahulu," ulasnya. Peringatan HUT ke-59 IBI tahun ini mengambil tema "Peningkatan Profesi Bidan Mendukung Pencapaian MDGs". Seorang bidan harus meningkatkan pengetahuannya untuk mendukung pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). "Sasaran MDGS adalah mengurangi kematian anak balita. Jika bidan bekerja professional, akan banyak anak dan ibu yang akan terselamatkan," ulasnya. Sementara itu, Asisten II Setprov Sumbar, Syarial mengatakan tahun 2006, kematian ibu mencapai 230/100 ribu kelahiran hidup. Artinya, setiap 100 ribu ibu yang melahirkan, 230 ibu meninggal saat persalinan. Tahun 2009 , angka itu turun menjadi 209/100 ribu kelahiran hidup. Demikian juga dengan tingkat kematian bayi, mengalami penurunan dari tahun 2006, 36/1.000 kelahiran hidup menjadi 26/1.000 kelahiran hidup. "Tingkat derajat kesehatan kita sudah cukup baik. Namun demikina, kita masih memerlukan peningkatan kesehatan bagi tenaga-tenaga kesehatan yang kita miliki," ucapnya.(a/fuz/jp
ASPEK LEGAL dalam PELAYANAN KEBIDANAN

Aspek legal dalam praktik kebidanan


Mutu pelayanan kebidanan berorientasi pada penerapan kode etik dan standar pelayanan kebidanan, serta kepuasan yang mengacu pada penerapan semua persyaratan pelayanan kebidanan. Dari dua dimensi mutu pelayanan kebidanan tersebut, tujuan akhirnya adlah kepuasaan pasien yang dilayani oleh bidan.

Tiap profesi pelayanan kesehatan dalam menjalankan tugasnya di suatu institusi mempunyai batas jelas wewenangnya yang telah disetujui oleh antar profesi dan merupakan daftar wewenang yang sudah tertulis.

Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan pemberi pelayanan kepada masyarakat harus memberikan pelayanan yang terbaik demi mendukung program pemerintah untuk pembangunan dalam negri, salah satunya dalam aspek kesehatan.

1. UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan

Tujuan dari pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidaup sehat bagi setiap warga negara indonesiamelalaui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.dengan adanya arus globalisasi salah satu focus utama agar mampu mempunyai daya saing adalah bagaiamana peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia dibentuk sejak janin didalam kandugan, masa kelahiran dan masa bayi serta masa tumbuh kembang balita. Hany asumber daya manusia yang berkualitas, yang memiliki pengetahuan dankemampuan sehingga mampu survive dan mampu mengantisipasi perubahan serta mampu bersaing.

2.

Bidan erat hubungannya dengan penyiapan sumber daya manusia. Karena pelayanan bidan meliputi kesehatanreproduksi wanita, sejak remaja, masa calon pengantin,masa hamil, masa persalinan, masa nifas, periode interval, masa klimakterium dan menoupause serta memantau tumbuh kembang balita serta anak pra sekolah.

3.

Visi pembangunan kesehatan indonesia sehat 2010 adalah derajat kesehatan yang optimal dengan strategi: paradigma sehat, profesionlisme, JPKM dan desentralisasi.

Legislasi, Registrasi dan Lisensi dalam Kebidanan


A. Legislasi

Pengertian Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi ( pengaturan kompetensi ), registrasi ( pengaturan kewenangan ), dan lisensi ( pengaturan penyelenggaraan kewenangan ). Ketetapan hukum yang mengantur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan dan pengabdiannya. (IBI)

Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah dengan mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan, minimal sekarang para bidan yang membuka praktek atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3. Uji kompetensi yang dilakukan merupakan syarat wajib sebelum terjun ke dunia kerja. Uji kompetensi itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga kesehatan tersebut layak bekerja sesuai dengan keahliannya. Mengingat maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus tumbuh setiap tahunnya. Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya. Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji kompetensi,

Tujuan Legislasi Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah meliputi :

1. Mempertahankan kualitas pelayanan 2. Memberi kewenangan 3. Menjamin perlindungan hukum 4. Meningkatkan profisionalisme

SIB adalah bukti Legislasi yang dikeluarkan oleh DEPKES yang menyatakan bahwa bidan berhak menjalankan pekerjaan kebidanan .

B. Registrasi

Pengertian Registrasi adalah sebuah proses dimana seorang tenaga profesi harus mendaftarkan dirinya pada suatu badan tertentu secara periodic guna mendapatkan kewenangan dan hak untuk melakukan tindakan profesionalnya setelah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh badan tesebut.

Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhaap bidan, setelah dinyatakan memenuhi minimal kopetensi inti atau standar penampilan minimal yang ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktik profesinya. (Registrasi menurut keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor 900/MENKES/SK/VII/2002)

Dengan teregistrasinya seorang tenaga profesi, maka akan mendapatkan haknya untuk ijin praktik ( lisensi ) setelah memenuhi beberapa persyaratan administrasi untuk lisensi.

a)

Tujuan Registrasi

Meningkatkan keemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berkembang pesat. b) Meningkatkan mekanisme yang obyektif dan komprehensif dalam penyelesaian kasus mal praktik. c) Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik

Aplikasi proses regisrtasi dalam praktek kebidanan adalah sebagai berikut, bidan yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan registrasi kepada kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimana institusi pendidikan berada guna memperoleh SIB ( surat ijin bidan ) selambatlambatnya satu bulan setelah menerima Ijasah bidan. Kelengkapan registrasi menurut Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 adalah meliputi: fotokopi ijasah bidan, fotokopi transkrip nilai akademik, surat keterangan sehat dari dokter, pas foto sebanyak 2 lembar. SIB berlaku selama 5 tahun dan dapat diperbaharui, serta merupakan dasar untuk penerbitan lisensi praktik kebidanan atau SIPB ( surat ijin praktik bidan ). SIB tidak berlaku lagi karena: dicabut atas dasas ketentuan perundang-undangan yang berlaku, habis masa berlakunya dan tidak mendaftar ulang, dan atas permintaan sendiri.

Syarat Registrasi Pada saat akan mengajukan registrasi, maka akan diminta untuk melengkapi dan membawa beberapa syarat, antara lain :

1) Fotokopi ijasah bidan 2) Fotokopi Transkrip nilai akademik 3) Surat keterangan sehat dari dokter 4) Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.

Contoh bentuk permohonan registrasi atau SIB : KOP DINAS KESEHATAN PROPINSI SURAT IZIN BIDAN ( SIB ) No. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Regisrtasi dan Praktik Bidan, bahwa kepada: Nama Tempat/Tgl. Lahir Lulusan : : :

Dinyatakan telah terdaftar sebagai Bidan pada Dinas Kesehatan Propinsi ...................... dengan Nomor Regisrtasi ....................... dan diberi kewenangan untuk melakukan pekerjaan praktik kebidanan di seluruh Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. SIB berlaku sampai dengan tanggal .................................

pasfoto

..............,..............2000 An. Mentri Kesehatan RI Kepala Dinas Kesehatan Propinsi ........................ ( .................................. )

1. 2. 3. C.

Tembusan : Kepala Badan PPSDM Kesehatan, Depkes RI Kepala Biro Kepegawaian, Setjen Depkes RI Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Lisensi

Pengertian Lisensi adalah proses administrasi yang dilakukan oleh pemerintah atau yang berwenang berupa surat ijin praktik yang diberikan kepada tenaga profesi yang teregistrasi untuk pelayanan mandiri. Lisensi adalah pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah ditetapkan.(IBI)

Tujuan Lisensi

Tujuan lisensi adalah: a) Memberikan kejelasan batas wewenang b) Menetapkan sarana dan prasarana c) Meyakinkan klien

Aplikasi Lisensi dalam praktik kebidanan adalah dalam bentuk SIPB (Surat Ijan Praktik Biadan). SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Depkes RI kepada tenaga bidan yang menjalankan praktik setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Bidan yang menjalankan praktik harus memiliki SIPB, yang diperoleh dengan cara mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atua Kota setempat dengan memenuhi persyaratan sebagai beriku: fotokopi SIB yang masih berlaku, fotokopi ijasah bidan, surat persetujuan atasan, surat keterangan sehat dari dokter, rekomendasi dari organisasi profesi, pas foto. Rekomendasi yang telah diberikan organisasi profesi setelah terlebih dahulu dilakukan penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan, kepatuhan terhadap kode etik serta kesanggupan melakukan praktik bidan. Bentuk penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan inilah yang diaplikasikan dengan rencana diselenggarakannya Uji Kompetensi bagi bidan yang mengurus SIPB atau lisensi. Meskipun Uji Kompetensi sekarang ini baru pada tahap uji coba dibeberapa wilayah, termaksud Propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga ,memang belum dibakukan. SIPB berlaku sepanjang Sib belum habis masa berlakunya dan dapat diperbaharui kembali. 1) 2) 3) 4) 5) Syarat Lisensi Fotokopi SIB yang masih berlaku Fotokopi ijasah bidan Surat keterangan sehat Rekomendasi dari organisasi profesi Pas foto ukurab 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar Contoh bentuk permohonan SIPB :

KOP DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA SURAT IZIN PRAKTIK BIDAN (SIPB) No.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan, yang bertanda tangan dibawah ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota*) .................................. memberikan Izin Praktik Bidan pada : (Nama) Tempat/tgl. Lahir Alamat Untuk Praktik Bidan Alamat Tempat Praktik bidan : : : :

Surat Izin Praktik Bidan (SIPB) berlaku sampai dengan tanggal ..................

Pas foto 4x6

......................,................2001 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota....................

(................................................)

Tembusan : 1. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi 2. Pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

*) coret yang tidak perlu

Otonomi dalam Praktek Kebidanan


Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting dan di tuntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah

pertanggungjawaban dan tanggung guguat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukanya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kopetensi dan didasari suatu evidence based. Accountability diperkuat dengan suatu landasan hukum yang mengatur batas-batas wewenang profesi yang bersangkutan. Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secara profesional yang dilandasi kemampuan berfikir logis dan sistematis serta bertindak sesuai standar profesi dan etika profesi. Praktik kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus menerus ditingkatkan mutunya melalui: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan Pengembangan ilmu dan tekhnologi dalam kebidanan Akreditasi Sertifikasi Registrasi Uji kompetensi Lisensi Beberapa dasar dalam otonomi pelayanan kebidanan antara lain sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Kepmenkes 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan Standar praktik kebidan UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan PP No. 32/Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan Kepmenkes 1277/Menkes/SK/XI/2001 tentang organisasi dan tata kerja Depkes UU No. 22/1999 tentang Otonomi daerah UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung, dan transplantasi

Diposkan oleh eLis D di 11/08/2009 07:44:00 PM Label: kebidanan, Konsep kebidanan, kuliah VITAMIN DAN MINERAL

VITAMIN
Vitamin adalah senyawa kimia yang sangat esseensial, sedikit tetapi sangat diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang normal. Penggolongan vitamin : 1. Vitamin yang larut dalam air : a. Vitamin B1 (Thiamin/Aneurin) Berperan sebagai koenzim untuk karboksilase dalam memisahkan karbondioksida dari asam piruvat, sisanya menjadi karbondioksida dan air. Fungsi Vitamin B1 : Metabolisme karbohidrat Mempengaruhi keseimbangan air dalam tubuh Mempengaruhi penyerapan zat lemak dalam usus

b. Vitamin B2 (Riboflavin) Atau vitamin B2 dapat dilarutkan dalam air dan berwarna kuning berflurusensi, tahan panas dan asam akan tetapi mudah di hancurkan oleh sinar dan media lindi. Riboflavin mudah diserap oleh saluran pencernaan dan berfungsi sebagai koenzim daripada enzim pernapasan penting plavoprotein. Fungsi Vitamin B2 : Pemindahan rangsang sinar ke saraf mata Beperan dalam berbagai enzim dalam proses oksidaasi di dalam sel.

c. Niasin/Asam Nikotinat Niasin dikenal juga sebagai pellagra preventif faktor. Di dalam tubuh niasin dapat dibentuk dari asam amino triptophan. Eksresi dari niasin dalam bentuk nikotik acid bebas, niasinanida nicotinurik acid, Nmetil nicotinamide, N-metil nicotinik acid konjugasi dengan glisin. Fungsi Niasin :

Berguna dalam proses pertumbuhan dan perbanyakan sel Penting dalam perombakan karbohidrat

d. Vitamin B6 (Piridoksin/Adermin) Vitamin B6 bentuk aktifnya adalah dua macam yaitu pyridoxal phosphat dan pyridoxamine phosphat. Beberapa substansi kimiawi yang tergolong ke dalam vitamin B6 adalah pyridoxin, pyridoxal, dan pyridoxamin. Fungsi Vitamin B6 : Koenzim dari beberapa enzim Mempengaruhi pemasukan asam amino ke dalam sel Penting untuk fungsi normal dari susunan saraf pusat dan susunan saraf tepi

e. Asam Pantotenat Adalah komponen koenzim A. Koenzim A (untuk asetilasi) adalah kofaktor tahan panas yang penting untuk melangsungkan asetilasi enzimatik alkohol atau amin yang bergantung pada ATP, pada pemurnian dan analisis faktor ini. Faktor tersebut asam pantotenat dalam bentuk terikat. Fungsi Asam Pantotenat : Bahan pelengkap koenzim A untuk prosee oksidasi Bagian koenzim untuk pembuatan zatlipid (sterol) Sebagai koenzim dalam proses kimiawi lain Sebagai pembawa gugus asil

f. Asam Folat Adalah prekursor koenzim asam tetrahidrofolat. Molekul ini terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: asam glutamat, asam p-aminobenzoat, dan suatu turunan senyawa heterosiklik dengan cincin yang berdifusi, pteridin. Fungsi Asam Folat: Melangsungkan proses metabolik dan pembentukan sel darah merah yang baru Sebagai pembawa sementara gugus 1-karbon di dalam sejumlah reaksi kompleks enzimatik

g. Vitamin B12 (Kobalamin, Sanokobalamin) Vitamin B12 adalah vitamin yang paling kompleks dibandingkan dengan yang lainnya. Molekul vitamin B12 ini tidak hanya mengandung suatu molekul organik yang kompleks, tetapi juga unsur kelumit essensial yaitu kobalt. Vitamin B12 tidak dibuat oleh tumbuhan maupun hewan dan dapat disintesa hanya oleh beberapa mikroorganisme. Fungsi Vitamin B12 :

Sebagai koenzim pada metabolisme asam amino Merangsang pembentukan eritrosit Berperan dalam sintesis asam nukleat Sebagai kofaktor essensial

h. Biotin Merupakan koenzim yang ikut serta dalam metabolisme asam lemak, karbohidrat dan asam amino, juga sintesis B9 dan b12. Biotin sering dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi bioteknologi mengingat ikatannya yang amat kuat dengan protein tetrameravidin (juga streptavidin dan neuravidin). Defisiensi biotin jarang ditemukan, karena biasanya disebabkan oleh ketiadaan enzim yang memprosesny, bukan biotin itu sendiri. Fungsi Biotin : i. Mencegah timbulnya pellagra dan gangguan pada kulit Metabolisme karbohidrat, lemak dan protein Membantu pertumbuhan sel dalam pengeluaran asid lemak Vitamin C (Asam Askorbat) Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya dan logam. Oleh karena itu penggunaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai. Fungsi Vitamin C : Aktivator dalam metabolisme protein dan lemak Antiooksidan Mempengaruhi kerja ginjal Penting dalam pembentukan trombosit

2. Vitamin yang larut lemak: a. Vitamin A (Aseroftol) Terdapat sejumlah ikatan organik yang mempunyai aktivitas vitamin A, yang semuanya mengandung gelang beta ionon di dalam struktur molekulnya. Ikatan kimia yang mempunyai aktivitas vitamin ini disebut preformed vitamin A; sebagai lawanya ialah provitamin A atau prekursor vitamin A, yang terdiri atas ikatan-ikatan karoten.

Fungsi Vitamin A :

Pertumbuhan sel-sel epitel Proses oksidasi dalam tubuh Mengatur rangsang sinar pada saraf mata

b. Vitamin D Didalam vitamin D terdapat beberapa ikatan organik. Terbentuk dari kristal putih yang tidak larut dalam air, tetapi larut didalam minyak dan zat-zat pelarut lemak. Vitamin ini tahan terhadap panas dan oksidasi. Vitamin D terbagi dalam empat jenis yaitu: Vitamin D1 Terdapat pada penyinaran ergosterol dari bahan tumbuhan. Vitamin D2 ( ersokalsiferol ) Dihasilkan dari penyinaran ergosterol, D2 yang dilarutkan didalam minyak terdapat dipasaran dengan nama viosterol. Vitamin D3 ( kolekalsiferol ) Terdapat pada hewani, 7-dehydro kholesterol, suatu minyak yang terdapat di bawah kulit pada manusia pun vitamin D3 terbentuk dibawah kulit dari 7-dehydro kholesterol tersebut dengan penyinaran ultraviolet yang berasal dari sinar matahari. Vitamin D4 Yang berasal dari minyak nabati yang mengandung 22-dehydro kholesterol setelah disinari ultraviolet. Fungsi Vitamin D Mengatur kadar Ca dan P dalam darah. Memperbesar dan mempengaruhi penyerapan Ca dan P dari usus. Mempengaruhi kerja kelenjar Endokrin.

c. Vitamin E Berbentuk berupa minyak dan tidak dapat dikristalkan. Minyak ini mempunyai viskositas tinggi, larut dalam minyak dan zat pelarut lemak. Vitamin E stabil terhadap suhu alkali dan asam. Kelompok tecotrienol mempunyai ikatan tak jenuh, sehingga muatannya mudah di oksidasi. Vitamin E dikenal sebagai reduktor alamiah yang sangat kuat.

Fungsi Vitamin E Mencegah keguguran atau pendarahan pada ibu hamil Sebagai antioksidans alamiah

Kerusakan saraf motorik Kemunduran fungsi Hipofisia dan kelenjar gondok

d. Vitamin K Vitamin K, K dari koagulations-vitamin dalam bahasa Jerman dan bahasa Denmark merujuk pada sebuah kelompok lipophilic, vitamin hydrophobic yang dibutuhkan untuk modifikasi pasca-terjemah dari berbagai macam protein, terutama banyak dibutuhkan untuk proses pembekuan darah. Secara kimia vitamin ini terdiri dari turunan 2-methyl-1,4-naphthoquinone. Fungsi vitamin K Pembentukan Protrombin dalam proses Koagolasi (pembentukan) darah. Vitamin K di bentuk dalam kolon dengan bantuan bakteri E.Coli. Hanya dapat di serap bila bersama-sama dengan empedu. Kadar Protrombin yang rendah (karena Defisiansi Vit. K) kadang-kadang menimbulkan perd http://elisdcabi.blogspot.com/2009_11_01_archive.html

shutterstock Ilustrasi: Ke depannya minimal profesi bidan harus berpendidikan D-3. Dari 10 ribu lebih bidan yang ada di Jawa Barat, saat ini baru 40 persen yang berpendidikan D-3. TERKAIT:

Tambahan Bidan dan Perawat Amat Mendesak Bidan Praktik Harus Punya Izin

BOGOR, KOMPAS.com - Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Jawa Barat akan melakukan uji kompetensi bagi anggotanya untuk lebih meningkatkan kualitas para bidan dalam menolong persalinan Ibu yang melahirkan. "Ini menjadi tuntutan profesi bidan sehingga akan lebih meningkatkan kualitas bidan dalam menolong persalinan," kata Ketua Majelis Etika Profesi Kebidanan IBI Cabang Jawa Barat Dr. Hj Suryani Soepardan kepada wartawan usai pembukaan Musyawarah IBI Cabang Kota Bogor ke-14 di Gedung Balaikota Bogor, Rabu (17/2/2010).

Selain itu, lanjut Suryani, ke depannya minimal profesi bidan harus berpendidikan D-3. Dari 10 ribu lebih bidan yang ada di Jawa Barat, saat ini baru 40 persen yang berpendidikan D-3. Khusus di Kota Bogor, 50 persen bidan sudah berpendidikan D-3. "Sejauh ini kebutuhan bidan di Jawa Barat masih mencukupi," katanya. Suryani juga menegaskan, program pendidikan kebidanan mendapat perhatian serius dari Provinsi Jabar. Sejak 2009, Provinsi Jabar telah menyekolahkan seribu bidan yang bertujuan untuk mereduksi jumlah kematian ibu dan bayi. Muscab IBI Kota Bogor saat ini masih berlangsung. Muscab akan menentukan kepengurusan IBI Kota Bogor periode tiga tahun mendatang. Wakil wali Kota Bogor Achmat Ruyat, dalam sambutan pembukaan muscab tersebut, mengatakan, rasa terima kasihnya kepada para bidan yang telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Saya harap bidan ke depannya makin profesional dan berdedikasi, sehingga eksistensinya makin terlihat nyata," katanya.
http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/17/13193241/Bidan.Dituntut.Uji.Kompetensi INFORMASI PELATIHAN A. PELATIHAN ASESOR Bidan merupakan tenaga kesehatan yang mempunyai tugas utama memberikan pelayanan kebidanan dan kesehatan reproduksi kepada individu perempuan, keluarga dan masyarakat. Dalam memberikan pelayanan tersebut, baik klien maupun bidan yang bersangkutan perlu mendapat perlindungan hukum. Untuk itu tenaga bidan perlu dipersapkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menjalankan pekerjaan sesuai standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, bagi setiap tenaga bidan harus memiliki kompetensi minimal yang diperlukan untuk dapat mendukung penyelenggaraan praktik kebidanan secara aman dan tepat.Untuk dapat menilai/mengukur penguasaan kompetensi standar, kepada setiap tenaga bidan perlu dilakukan uji kompetensi, sebagai bukti bahwa bidan memiliki kompetensi yang telah di tetapkan untuk dapat melakukan praktik profesi kebidanan setelah dinyatakan lulus uji kompetensi setiap bidan akan mendapatkan sertifikat Uji Kompetensi. Bidan yang telah memiliki sertifikat uji kompetensi (Sertified Midwife), dapat mendaftar untuk diterbitkan Surat Tanda Registrasi Bidan (Registered Midwife).Bagi bidan yang telah memiliki sertifikat uji kompetensi dan teregistrasi maka yang bersangkutan mempunyai hak untuk mendapatkan ijin praktik (baik untuk perorangan maupun kelompok) dari pemerintah.Sekaitan dengan pelaksanaan uji kompetensi bidan telah disusun pedoman uji kompetensi bidan oleh IBI bekerjasama dengan Puspronakes Badan PPSDM Kesehatan, dan penerapan uji kompetensi bidan tersebut telah disiapkan Tim Assesor IBI melalui pelatihan uji kompetensi.PPIBI juga membuka kesempatan bagi dosen AKBID yang berminat untuk menambah pengetahuannya dengan mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan asesor uji kompetensi ini dilaksanakan oleh PPIBI bekerjasama dengan BNSP.Tujuan dari pelatihan asesor ini adalah Meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan oleh bidan melalui pelaksanaan uji kompetensi/sertifikasi. Pelatihan asesor dilaksanakan selama satu minggu. Pelatihan asesor ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2009, dan hingga saat ini sudah meluluskan 21 angkatan. B. KIA Sedang Dalam Perumusan C. ABPK Dalam pelayanan KB, strategi pendekatan masa lalu yang cenderung minim informasi dan lebih memihak pada provider, kini mulai ditinggalkan dan berganti dengan era yang lebih

informatif dan komunikatif sehingga keputusan ber-KB ada di tangan klien. Dalam pendekatan ini, petugas kesehatan tentunya harus memiliki pengetahuan terkait kontrasepsi, ketrampilan konseling, serta ketrampilan menggunakan alat bantu konseling untuk mempermudah dalam memberikan penjelasan ke klien.Pelatihan ABPK merupakan salah satu upaya Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (PPIBI) dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidan dalam melakukan konseling dengan menggunakan ABPK (Alat Bantu Pengambilan Keputusan ber-KB). ABPK merupakan alat bantu yang dapat digunakan oleh bidan untuk mempermudah dalam memberikan penjelasan ke klien tentang KB sehingga keputusan ber-KB ada di tangan klien.Pelatihan ABPK pernah dilakukan pada pertengahan tahun 2009 dengan diikuti oleh 25 orang peserta yang terdiri atas 5 orang Pengurus Pusat IBI dan 20 orang dosen DIII Kebidanan. Dari pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengikuti perkembangan terkini pelayanan kotrasepsi, mengetahui dan menerapkan teknik konsultasi, mengetahui dan dapat menerapkan penggunaan Lembar Balik ABPK, serta melaksanakan konseling dengan menggunakan Lembar Balik ABPK. http://www.bidanindonesia.org/index.asp?part=2011020028&lang=id

Profesionalisme Bidan dalam Meningkatkan Kualitas Layanan


Jumat, 01 April 2011 - 14:26:28 WIB Penulis : Anis - Editor : A. Zani Pitoyo - Diposting Oleh : Anis - Dibaca : 2627 kali

Ubah ke PDF

Cetak halaman ini

Istilah profesionalisme mengandung makna dua istilah, yaitu profesional dan profesi. Profesional adalah keahlian dalam suatu bidang. Dengan demikian, seseorang dikatakan profesional bila ia memiliki keahlian dalam suatu bidang yang ditandai dengan kemampuannya dalam menawarkan suatu jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya serta mendapatkan gaji dari jasa yang telah diberikannya. Selain itu, dia juga merupakan anggota dari suatu entitas atau organisasi yang didirikan sesuai dengan hukum di sebuah negara atau wilayahnya. Meskipun demikian, tidak semua orang yang ahli dalam suatu bidang bisa dikatakan profesional, karena profesional memiliki karakteristik yang harus dipenuhi, yaitu: memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dihasilkan melalui pendidikan formal dan non formal yang cukup untuk memenuhi kompetensi profesionalnya.

Sedangkan yang disebut dengan profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi/perkumpulan profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Meskipun profesi merupakan sebuah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan pekerjaan yang lain, yaitu: keterampilan yang berdasarkan pada pengetahuan teoretis; asosiasi profesional; pendidikan yang ekstensif; menempuh ujian kompetensi; mengikuti pelatihan institutional; lisensi; otonomi kerja; memiliki kode etik; mampu mengatur diri; layanan publik dan altruisme; meraih status dan imbalan yang tinggi. Bidan Sebagai Tenaga Kesehatan Definisi bidan terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia ditetapkan sebagai berikut: Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan. ( 50 Tahun IBI, 2006: 15) Sedangkan kebidanan sendiri merupakan ilmu sintesa berbagai disiplin ilmu (multidisiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan, meliputi ilmu kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu budaya, ilmu kesehatan masyarakat, dan ilmu manajemen untuk dapat memberikan pelayanan kepada ibu dalam masa prakonsespsi masa hamil, ibu bersalin, post partum, bayi baru lahir. Pelayanan tersebut meliputi pendeteksian keadaan abnormal pada ibu dan anak, melaksanakan konseling dan pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat (50 Tahun IBI, 2006: 125). Dari paparan diatas maka jelas bahwa bidan merupakan suatu profesi yang profesional, dimana seorang bidan bisa menjalankan pekerjaanya jika telah menyelesaikan program pendidikan kebidanan, yang diakui Negara tempatnya berada, dan memenuhi kualifikasi yang diperlukan untuk dapat terdaftar dan / atau izin resmi untuk melakukan praktik kebidanan. Dengan mengikuti pendidikan kebidanan maka seorang bidan terus dilatih dan dituntut untuk mampu serta menguasai kompetensi yang dibutuhkan dalam bidang pekerjaannya. Dari situlah maka ilmu yang diperoleh akan diaplikasikan secara terus-menerus, terutama ketika terjun langsung di masyarakat. Hal inilah yang menjadikan bidan semakin ahli dalam bidangnya. Bermula dari anggapan masyarakat yang mengakui keahlian bidan, maka seorang bidan disebut professional. Dari sejarah perkembangan kebidanan di dunia, bidan merupakan wanita yang dipercaya untuk mendampingi ibu-ibu ketika dalam proses persalinan sampai sang ibu dapat merawat bayinya dengan baik. Hal ini yang menjadikan bidan sebagai suatu profesi yang diakui dan dihormati oleh masyarakat karena tugasnya yang mulia. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak beberapa abad yang lalu. Yang ditandai dengan dimulainya pendidikan formal untuk bidan di amerika serikat pada tahun 1765, dibukanya pendidikan bidan pertama kali di Australia pada tahun 1862, serta terbitnya buku tentang praktik kebidanan di inggris pada tahun 1902. (Dwana Estiwidani, dkk., 2000: 30-48)

Di Indonesia sendiri perkembangan pendidikan bidan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, yaitu sejak tahun 1851 oleh dokter W.Bosch. Dengan berbagai proses yang panjang, pada tahun 1981 berhasil dibuka program D1 kebidanan, namun program ini tidak bertahan lama. Sampai pada akhirnya diadakan berbagai progam pendidikan bidan seperti PPB, PPB-A, PPB-B, dan PPB-C. Pada 1996 dibuka Program D-III Kebidanan atau Akademi Kebidanan dikota kota besar di Indonesia. Awalnya program ini hanya menerima peserta didik dari lulusan bidan yang disebut dengan program khusus, dengan lama pendidikan 5 semester. Program inilah yang masih berkembang dan diakui hingga saat ini. Pendidikan bidan pun berkembang pesat dengan dibukanya Pendidikan D-IV Bidan pendidik di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yaitu pada tahun 2000 dan Pendidikan S-2 Kebidanan di Universitas Padjadjaran Bandung dengan peserta didik dari lulusan D-IV Bidan Pendidik dan lama pendidikan selama 2 Tahun pada tahun 2006. Dan dengan dibukanya Pendidikan S-1 Kebidanan pada tahun 2009 semakin menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Kebanan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. ( Dwana Estiwidani, dkk., 2000: 24-30) Perkembangan pendidikan Kebidanan yang sedemikian rupa menunjukkan profesionalisme bidan sebagai tenaga kesehatan. Meskipun dalam prosesnya sering mengalami pasang surut, namun pada akhirnya pembentukan jenjang pendidikan yang lebih tinggi pun dapat terealisasi. Pelayanan Kebidanan Pelayanan kebidanan merupakan penerapan ilmu kebidanan melaui asuhan kebidanan kepada klien yang menjadi tanggung jawab bidan, mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana termasuk kesehatan reproduksi wanita dan pelayanan kesehatan masyarakat. Namun agar seorang bidan diakui keberadaanya dan dapat menjalankan praktiknya maka bidan harus mampu untuk memenuhi tahap legislasi. Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum melalui serangkaian kegiatan sertifikasi (pengaturan kompetensi), registrasi (pengaturan kewenangan), dan lisensi (pengaturan penyelenggaraan kewenangan). Peran legislasi ini, diantaranya: menjamin perlindungan pada masyarakat pengguna jasa profesi dan profesi sendiri. Legislasi sangat berperan dalam pemberian pelayanan professional. Pada tahap sertifikasi, ditempuh calon bidan melalui proses pendidikan formal dan non formal untuk memperoleh dua bentuk pengakuan kelulusan yang berupa ijazah dan sertifikat. Dari tahap sertifikasi ini kemudian berlanjut ke tahap registrasi. Tahap registrasi Tahap registrasi ditempuh bidan guna memperoleh SIB (Surat Izin Bidan). SIB berlaku selama 5 tahun dan dapat diperbaharui. SIB tidak berlaku lagi karena: dicabut atas dasar ketentuan Perundang-undangan yang berlaku, habis masa berlakunya, tidak mendaftar ulang, dan atas permintaan sendiri. SIB sendiri merupakan dasar untuk penerbitan lisensi praktik kebidanan atau SIPB (Surat Ijin Praktik Bidan). Dan menurut Kepmenkes No.900/Menkes/SK/VII/2002, SIPB berlaku sepanjang SIB belum habis masa berlakunya dan dapat diperbaharui kembali.

Tahap lisensi. Bidan yang praktik harus memiliki SIPB, dan untuk memperoleh SIPB seorang bidan harus mendapatkan Rekomendasi dari organisasi profesi setelah terlebih dahulu dilakukan penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan, kepatuhan terhadap kode etik serta kesanggupan melakukan praktik bidan. Bentuk penilaian kemampuan keilmuan dan keterampilan inilah yang diaplikasikan dengan rencana diselenggarakannya Uji Kompetensi bagi bidan yang mengurus SIPB atau lisensi. Meskipun Uji Kompetensi sekarang ini baru pada tahap uji coba di beberapa wilayah, namun terdapat beberapa propinsi yang menerapkan kebijaksanaan daerah untuk penyelenggaraan Uji Kompetensi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan, misalnya propinsi Jawa Tengah, Yogyakarta dan beberapa propinsi lainnya, dengan menempatkan Uji Kompetensi pada tahap pengajuan SIB. Uji Kompetensi masih dalam pembahasan termasuk mengenai bagaimana dasar hukumnya. Dengan diselenggarakannya Uji Kompetensi diharapkan bahwa bidan yang menyelenggarakan praktik bidan adalah bidan yang benar-benar kompeten. Upaya ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan, mengurangi Medical Error atau malpraktik dalam tujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak. Dalam rancangan Uji Kompetensi apabila bidan tidak lulus Uji Kompetensi, maka bidan tersebut menjadi binaan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) setempat. Materi Uji Kompetensi sesuai 9 area kompetensi dalam standar profesi bidan Indonesia. Namun demikian Uji Kompetensi belum dibakukan dengan suatu dasar hukum, sehingga baru pada tahap draft atau rancangan. (Heni Puji Wahyuningsih, 2008: 41-47). Dalam menjalankan praktiknya, bidan memiliki beberapa area dalam memberikan pelayanan kebidanan, area tersebut didasari pada standar pelayanan kebidanan serta kewenangan bidan dalam memberikan pelayanan. Bertitik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi: safe Motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus; family planning; penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi; kesehatan reproduksi remaja; kesehatan reproduksi pada orang tua. (http://bidanshop.blogspot.com). Adapun sasaran pelayanan kebidanan ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. Pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi : 1. Layanan Primer yaitu layanan bidan yang sepenuhnya menjadi anggung jawab bidan. 2. Layanan Kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota timyang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan. 3. Layanan Rujukan yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke system layanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat/ fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertical atau meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.(http://bidanshop.blogspot.com)

Pelayanan kebidanan ini akan terlaksana pada saat bidan melakukan suatu asuhan kebidanan. Asuhan kebidanan ini dilaksanakan berdasarkan pedoman menejemen kebidanan (pendekatan dan kerangka pikir yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis) yang disebut dengan 7 langkah Varney, yaitu: pengkajian data; merumuskan, menganalisa, menginterpretasikan, mengidentifikasi diagnosa dan masalah bedasarkan pengkajian data; merumuskan diagnosa dan masalah potensial; menetapkan kebutuhan tindakan segera; menyusun rencana asuhan secara menyeluruh; implementasi; dan evaluasi. (Hellen Varney, dkk. 2006: 26-27) Untuk memberikan suatu pelayanan kebidanan yang profesional, bidan harus memahami serta mengimplementasikan standar pelayanan kebidanan yang telah ditetapkan oleh profesi, yaitu: STANDAR I : FALSAFAH DAN TUJUAN Pelayanan kebidanan dilaksanakan sesuai dengan filosofi bidan STANDAR II : ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Pengelola pelayanan kebidanan memiliki pedoman pengelolaan, standar pelayanan dan prosedur tetap. Pengelolaan pelayanan yang kondusif, menjamin praktik pelayanan kebidanan yang akurat. STANDAR III : STAF DAN PIMPINAN Pengelola pelayanan kebidanan mempunyai program pengeloaan sumber daya manusia, agar pelayanan kebidanan berjalan efektif dan efisien. STANDAR IV : FASILITAS DAN PERALATAN Tersedia sarana dan peralatan untuk mendukung pencapaian tujuan pelayanan kebidanan sesuai dengan beban tugasnya dan fungsi institusi pelayanan. STANDAR V : KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Pengelola pelayanan kebidanan memiliki kebijakan penyelenggaraan pelayanan dan pembinaan personil menuju pelayanan yang berkualitas. STANDAR VI : PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Pengelola pelayanan kebidanan memiliki program pengembangan staf dan perencanaan pendidikan, sesuai dengan kebutuhan pelayanan. STANDAR VII : STANDAR ASUHAN Pengelola pelayanan kebidanan memiliki standar asuhan/manajemen kebidanan yang diterapkan sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kepada pasien. STANDAR VIII : EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Pengelola pelayanan kebidanan memiliki program dan pelaksanaan dalam evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan kebidanan yang dilaksanakan secara berkesinambungan. (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 369/MENKES/SK/III/2007)

Dengan adanya standar pelayanan kebidanan ini, diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kebidanan di Indonesia. Peningkatan pelayanan kebidanan sendiri dapat dimulai dari aspek pendidikan. Dari pendidikan formal, bidan memperoleh standar kompetensi kebidanan, yang di dalamnya mengandung sembilan kompetensi yang harus dipenuhi oleh bidan, yaitu:

Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan keluarganya; Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua; Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu; Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir; Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan mneyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat; Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan; Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan 5 tahun); Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komperhensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat; Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem reproduksi. (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 369/MENKES/SK/III/2007)

Tidak hanya dari pendidikan formal bidan dapat mengembangkan pelayanan kebidanan, tetapi juga dari pendidikan non formal yang berupa pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan yang diselanggarakan oleh profesi. Dengan adanya pelatihan-pelatihan ini diharapkan bidan dapat mengembangkan diri dan kemampuannya, sehingga bidan dapat memberikan pelayanan yang berkualitas.(Editor : A.Zani Pitoyo)

Daftar Pustaka 1. Estiwidani, Dwana, dkk. 2008. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya 2. Febrina. Sejaraqh Perkembangan Pelayanan Kebidanan. (Online: http://bidanshop.blogspot.com/2010/01/sejarah-kebidanan-di-indonesia.html, diakses tanggal 10 Februari 2011) 3. KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA No. 369/MENKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan

4. 5. 6. 7.

Kurnia, S. Nova. 2009. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Panji Pustaka Sofyan, Mustika dkk. 2006. 50 Tahun IBI. Jakarta: PP IBI Indonesia Wahyuningsih, Heni Puji. 2008. Etika Profesi Kebidanan. Jogyakarta: Fitramaya Varney, Hellen, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Volume 1. Jakarta: EGC

http://www.poltekkes-malang.ac.id/artikel-163.html
Browse: Home / Berita Pilihan / Seminar Nasional Peran MTKI dan Strategi Sukses Mengikuti Registrasi bagi Perawat dan Bidan

Seminar Nasional Peran MTKI dan Strategi Sukses Mengikuti Registrasi bagi Perawat dan Bidan
April 13, 2011 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widyagama Husada yang merupakan salah satu Sekolah Tinggi Kesehatan terkemuka di Malang Raya selalu berperan aktif dalam menginformasikan

perkembangan terbaru berbagai ilmu kesehatan dan mensosialisasikan ketentuan-ketentuan perundang-undangan kesehatan, seperti pada pasal 23 ayat 5 Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan Permenkes No. 161 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Januari 2010. STIKES Widyagama Husada yang memiliki tiga program studi, D-3 Kebidanan, S-1 Kesehatan Lingkungan dan S-1 Ilmu Keperawatan yang berada di Jl. Sudimoro 16 Malang Pada tanggal 21 Mei 2011 bertempat di Hotel Gajah Mada Graha Malang, menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema : Peranan Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dan Strategi Sukses Mengikuti Registrasi bagi Perawat dan Bidan. Seminar yang diikuti sekitar 450 peserta tersebut menghadirkan para pembicara diantaranya Ketua MTKI Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ketua Komite Nasional Uji Kompetensi Perawat, Ketua IBI Pusat Jakarta dan dari MTKP Jawa Timur. Direktur STIKES Widyagama Husada DRA. Laily Amie, MMRS menyampaikan bahwa tujuan seminar tersebut adalah Membantu Pemerintah dalam menyebarluaskan informasi Sistem Registrasi Tenaga Kesehatan, selain itu setelah mengikuti seminar, para peserta dapat: Mengetahui dan memahami tanggung jawab MTKI dalam Registrasi Tenaga Kesehatan,

Mengetahui dan memahami peran MTKP Jawa Timur, Memahami tentang strategi mengikuti uji kompetensi nasional bagi perawat dan Memahami tentang strategi mengikuti uji kompetensi nasional bagi bidan. DRA. Laily Amie, MMRS lebih lanjut menjelaskan bahwa sebelum Permenkes No. 161 yang ditetapkan, uji kompetensi tenaga kesehatan yang merupakan syarat untuk registrasi tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi (MTKP). Dengan terbitnya Permenkes No. 161/2010, maka dibentuklah Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) yang bertanggung jawab tentang registrasi tenaga kesehatan sekaligus merubah proses registrasi, yang pada awalnya ditangani oleh pemerintah propinsi dan bersifat regional berubah menjadi tanggung jawab pusat yang bersifat nasional. Oleh karena itu perlu adanya sosialisasi agar tenaga kesehatan khususnya Perawat dan Bidan dapat mengetahui, memahami dan mengerti cara mengaplikasikan. http://www.widyagamahusada.ac.id/berita-pilihan/agenda-seminar-nasional-peran-majelistenaga-kesehatan-indonesia-mtki-dan-strategi-sukses-mengikuti-registrasi-bagi-perawat-danbidan.html Kesehatan merupakan hak azasi manusia. Berdasarkan amanat pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pelayanan kesehatan yang buruk selalu menjadi masalah di berbagai daerah di Republik ini. Bukan saja di daerah, namun komplain tentang pelayanan kesehatan yang buruk juga terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta. Kita masih ingat bagaimana kasus Prita yang mencuat menjadi masalah Nasional, sampai-sampai berbagai pihak turut berbicara tentang buruknya pelayanan kesehatan di negeri ini. Demi peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih baik, maka Kementerian Kesehatan dalam hal ini Menteri Kesehatan telah mengambil langkah-langkah nyata dalam rangka peningkatan pelayanan Kesehatan bagi masyarakat. Salah satu upayanya adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri kesehatan RI nomor 161/Menkes/Per/I/2010, yang kemudian

direvisi karena dirasa perlu untuk disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan hukum dengan Permenkes RI nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011, tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Keluarnya Permenkes tentang Registrasi Tenaga Kesehatan sebenarnya merupakan kelanjutan dari berbagai peraturan sebelumnya yang mengatur tentang peningkatan kualitas tenaga kesehatan melalui perijinan, uji kompetensi dan registrasi. Sebelumnya telah ada UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang juga menyebutkan bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, dan dalam rangka pemberian ijin, perlu mengatur registrasi tenaga kesehatan. UU RI nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang juga mengatur ijin praktik tenaga kesehatan di RS. Permenkes RI nomor HK.02.02/Menkes/148/I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat serta Permenkes RI nomor HK.02.02/Menkes/149/I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. Khusus tulisan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan tentang Permenkes tenaga RI nomor 1796/Menkes/Per/VIII/2011, dokter, dan apoteker dan pada tentang sarjana fasilitas Registrasi kesehatan pelayanan Tenaga Kesehatan. Sejak dikeluarkannya Permenkes ini, maka semua kesehatan yang (kecuali bekerja masyarakat) mengabdi

kesehatan, baik PNS/CPNS dan magang/honorer diwajibkan untuk memiliki STR (Surat Tanda Registrasi). Fasilitas pelayanan yang dimaksud adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah maupun masyarakat. Dengan demikian maka semua tenaga kesehatan yang bekerja pada Rumah Sakit Umum Pemerintah maupun Swasta, Puskesmas, Klinik Kesehatan sampai Praktek-praktek Dokter diwajibkan untuk memiliki STR.

STR (Surat Tanda Registrasi) hanya dapat diperoleh oleh seorang tenaga kesehatan setelah memiliki ijazah tanda lulus pendidikan profesi dari institusi pendidikan kesehatan dan lulus uji kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi. Sertifikat kompetensi merupakan surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seorang tenaga kesehatan untuk dapat menjalankan praktik atau pekerjaan profesinya. Sertifikat kompetensi ini berlaku diseluruh Indonesia. Penyelenggaraan uji kompetensi yang menurut rencana dilakukan 4 (empat) kali dalam setahun, diadakan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) yang berkedudukan di ibukota Negara yang mana pelaksanaannya didaerah dilakukan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi (MTKP). Untuk Papua Barat, Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi (MTKP) Papua Barat sudah dibentuk berdasarkan SK Kepala Badan PPSDMK Kementerian Kesehatan RI nomor HK.02.02/I/V.2/3547/2011 dan rencananya akan dikukuhkan dan diambil sumpah pada tanggal 5 desember 2011. Uji kompetensi sebagaimana yang dimaksudkan pada Permenkes ini adalah suatu proses untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi. Dengan diwajibkannya tenaga kesehatan yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan untuk memilki STR, maka secara otomatis tenaga kesehatan yang bersangkutan harus mengikuti uji kompetensi. Uji kompetensi ini juga sebagai seleksi terhadap lulusan-lulusan institusi pendidikan profesi kesehatan. Seperti diketahui, begitu menjamurnya institusi-institusi pendidikan tenaga kesehatan di Negeri ini. Hal ini tidak terlepas dari paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa lulusan sekolah kesehatan lebih mudah mencari kerja dan diterima sebagai PNS, sekolah di sekolah kesehatan bukan lagi panggilan hati untuk melayani sesama. Sehingga ada sebagian oknum pengelola institusi kesehatan yang pandai membaca pasar yang membuat sekolah-sekolah kesehatan tanpa

memikirkan kualitas lulusannya. Dengan adanya uji kompetensi, maka para lulusan dari sekolah/institusi pendidikan tenaga kesehatan yang betul-betul berkualitas yang akan lulus uji kompetensi dan memperoleh STR untuk dapat bekerja. Karena soal-soal maupun materi uji kompetensi diberlakukan secara Nasional, dibuat di MTKI pusat di Jakarta dan disebarkan pada MTKP di daerah dengan tetap menjaga kerahasiaannya. Dengan demikian maka diharapkan adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat. Berdasarkan Permenkes ini, seorang lulusan sekolah kesehatan yang telah memilki Ijazah kelulusannya dari institusi pendidikan belum boleh bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan sebelum memilki STR (Surat Tanda Registrasi). Sertifikat kompetensi yang diperoleh dari kelulusannya pada uji kompetensi berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang, terhitung sejak tanggal kelahiran tenaga kesehatan bersangkutan. Begitupun STR yang dikeluarkan oleh MTKI, masa berlakunya sepanjang masa berlakunya sertifikat kompetensi. STR atau Surat Tanda Registrasi ini berlaku secara Nasional. Jadi seorang tenaga kesehatan lulusan dari institusi pendidikan manapun yang telah memiliki STR, berhak dan layak untuk bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan diseluruh Indonesia. Kedepannya diharapkan dukungan semua pihak khususnya Pemerintah Daerah agar dalam seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) khususnya tenaga kesehatan agar dapat melampirkan sertifikat kompetensi dan STR (Surat Tanda Registrasi) tenaga kesehatan. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan untuk melayani masyarakat bisa lebih baik. Untuk tenaga kesehatan warga negara asing atau tenaga kesehatan warga negara Indonesia lulusan luar negeri dapat melakukan pekerjaan/praktiknya di Indonesia harus memenuhi ketentuan mengenai sertifikat kompetensi dan STR.

Perlu dipahami disini bahwa dikeluarkan MTKI berdasarkan

yang

diwajibkan memilki STR ini adalah semua

yang

Permenkes

tenaga

kesehatan, kecuali Dokter, Apoteker dan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Seorang Dokter dan Apoteker juga wajib melakukan uji kompetensi, namun pada wadah mereka sendiri bukan pada MTKI. Sedangkan seorang Sarjana Kesehatan Masyakarat tidak dilakukan uji kompetensi, karena orientasi pekerjaannya yang lebih pada pengelolaan manajemen kesehatan. Persyaratan untuk mengikuti uji kompetensi salah satunya adalah ijazah dari lembaga pendidikan profesi kesehatan. Bila seorang tenaga kesehatan dengan pendidikan terakhirnya Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM), namun karena tuntutan pekerjaannya mewajibkan memilki STR. Contohnya pada siang hari dia bekerja sebagai tenaga struktural pada Dinas Kesehatan, namun pada malam hari dia bekerja sebagai tenaga analis kesehatan pada sebuah yang klinik, maka dia harus untuk memliki STR untuk uji melaksanakan untuk pekerjaannya sebagai analis kesehatan. Untuk hal seperti ini, maka ijazah harus dia masukkan mengikuti kompetensi memperoleh STR adalah ijazah profesi analisnya. Begitupu untuk profesi lainnya seperti perawat, bidan, perawat gigi dan lainya. Untuk tahun 2011 ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuat kebijakan yang kiranya lebih mempermudah seorang tenaga kesehatan dalam pengurusan STR (Surat Tanda Registrasi) seperti yang tertera pada ketentuan peralihan Permenkes ini. Kemudahan yang dimaksud ini pada intinya adalah sebelum tahun 2012, kepada semua tenaga kesehatan atau tenaga kesehatan yang lulus sebelum tahun 2012 diberikan STR (Surat Tanda Registrasi) berdasarkan peraturan Menteri ini. Istilahnya dilakukan pemutihan atau pemberian STR gratis tanpa perlu mengikuti uji kompetensi. Namun yang tidak mengurus STR-nya tahun 2011 ini maka mulai tahun 2012 harus mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh STR (Surat Tanda Registrasi). Yang perlu anda lakukan untuk memperoleh STR

(Surat Tanda Registrasi) ini adalah anda tinggal melengkapi beberapa persyaratan diantaranya fotocopy ijazah profesi yang telah dilegalisir, surat keterangan kesehatan dari Rumah Sakit/Puskesmas atau Dokter praktek yang memilki ijin praktek dan pas foto ukuran 4x6 sebanyak 4 (empat) lembar dengan latar merah. Penulis Adalah Perawat Pada RSUD Manokwari Anggota MTKP Papua Barat (Arsip Harian MEDIA PAPUA, 30 November 2011) Reaksi:
http://keperawatanku.blogspot.com/2012/01/permenkes-ri-nomor-1796menkesperviii201.html