P. 1
SOP Subproyek Fasilitas Pembayaran Rekonstruksi Infrastruktur

SOP Subproyek Fasilitas Pembayaran Rekonstruksi Infrastruktur

|Views: 152|Likes:
Dipublikasikan oleh lutvyarisandi

More info:

Published by: lutvyarisandi on Jun 21, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd

)

Prosedur Standar Operasional

INCEPTION
Prosedur Standar Operational untuk Subproyek Fasilitas Pembayaran Rekontruksi Infrastruktur (IRFF )
Juni 2007

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 1 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 2 dari 125

SOP

i

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

Daftar Isi
Daftar Istilah 1. Pendahuluan 2. Identifikasi dan Persetujuan Subproyek 3. Proses Pengadaan 4. Pelaksanaan 5. Pemrosesan Pembayaran Kontrak 6. Pemantauan Kemajuan Proyek 7. Pemantauan Perlindungan Lingkungan dan Sosial 8. Pemantauan Anggaran 9. Penyelesaian Subproyek Apendik 2A: Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan 2B: Penilaian Subproyek 2C: Daftar Penilaian Bank Dunia/IPM 2D: Formulir Persetujuan Keuangan 2E: Format Memorandum Kesepakatan 2F: Proyek-Proyek untuk Rencana Investasi Tahunan 3A: Laporan Ringkasan Disain 3B: Kontrak dan Pengadaan 4A: Metodologi Jaminan Mutu 4B: Tanggung-jawab Organisasi Utama 4C: Daftar Tugas Kontraktor QA/QC 7A: Kerangka Perlindung Sosial dan Lingkungan 7B: Penyusunan Studi Lingkungan 9A: Prosedur Penutupan Subproyek 9B: Prosedur Serah Terima Pertama Pekerjaan (PHO) 9C: Prosedur Serah Terima Akhir Pekerjaan (FHO) 10A: Pelaporan Anti Korupsi 10B: Contoh Korupsi untuk Subproyek Konstruksi ii 1 5 7 9 10 12 13 15 16

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 3 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

Daftar Istilah
ISTILAH $ AASHTO ADB AIP AMDAL ANDAL APBN ASTM Bank BAPEDALDA BEC BOQ BP BPKP BRR CBR CPU DAMIJA DED & TD DHV DPRD DPU EA EIA ETESP FHO FIDIC FIRR FM FPUD GHD GIS Dolar Amerika American Association of State Highway & Transportation Official Asian Development Bank Annual Investment Plan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Analisa Dampak Lingkungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara American Soil Test Material Bank Dunia Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Bid Evaluation Committee (Panitia Evaluasi Pelelangan) Bill of Quantity Bank Procedures (Prosedur Bank) Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Aceh dan Nias California Bearing Ratio Central Procurement Unit (Unit Pengadaan Pusat) Daerah Milik Jalan Detailed Engineering Designs (Disain Teknis Rinci) Konsultan PDCS untuk Nias Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dinas Pekerjaan Umum Executing Agency Environmental Initial Assessment Earthquake and Tsunami Emergency Support Project Final Hand Over (Prosedur Serah Terima Akhir Pekerjaan) International Federation of Design and Consulting Engineers Financial Internal Rate of Return URAIAN

Financial Management
Flood Protection Urban Drainage Konsultan IPM Geographical Information System

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 4 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

ISTILAH GOI GPS GTZ ha ICB IDA IIPP IPAL IPM IREP IRFF Juklak KEPMEN Ketua PMU KLH Kontraktor KPA KPPN LARAP LSM M&E MB MDF MIS MOU MYIP NAD NCB NOL O&M OC OJT OP

URAIAN Government of Indonesia (Pemerintah Indonesia) Geo Positioning System Instansi milik Pemerintah Jerman Hektar International Competitive Bidding (Tender Kompetitif Internasional) International Development Association (Asosiasi Pembangunan Internasional) Immediate Investment Project Plan (Rencana Proyek Investasi Segera) Instalasi Pengolah Air Limbah Infrastructure Program Management (Manajemen Program Infrastruktur) Infrastructure Rehabilitation Enabling Program (Program Pendukung Rehabilitasi Infrastruktur) Infrastructure Reconstruction Financing Facility (Fasilitas Pembiayaan Rekontruksi Infrastruktur) Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri Manajer PMU yang bertanggung-jawab atas keseluruhan pelaksanaan subproyek Kementerian Negara Lingkungan Hidup (Ministry of Environmental) Orang atau badan usaha yang mendapatkan tender melaksanakan pekerjaan dari Pemberi Tugas Kuasa Pengguna Anggaran Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Land Acquisition and Resettlement Action Plan (Rencana Relokasi Penduduk dan Pembebasan Lahan) Lembaga Swadaya Masyarakat Monitoring & Evaluation (Pemantauan dan Evaluasi) Measurement Books (Buku Pengukuran) Multi-Donor Fund (Dana Multi Donor) Management Information System (Sistem Informasi Manajemen) Memoranduim of Understanding Multy Year Investment Plan (Rencana Investasi Tahun Ganda) Nanggroe Aceh Darussalam National Competitive Bidding (Tender Kompetitif Nasional) No Objection Letter (Surat Tidak Keberatan) Operation and Maintenance (Operasi dan Pemeliharaan) Operating Center (Pusat Operasi) On the Job Training Operational Policy (Kebijakan Operasional)

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 5 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

ISTILAH PAD PDCS PDRB Pemda Pemkab Pemkot Pemprop PERPU PHO PIP PIU PM PMU PPK PPM PQAM Program Project QA QC QMS RG RKL ROW Royal Haskoning RPL RTRW SAK Satker Sekber SI SIM SIRP

URAIAN Project Appraisal Document (Dokumen Evaluasi Proyek) Planning, Design, and Construction Supervision Consultants (Konsultan Perencanaan, Disain dan Supervisi Kontruksi) Produk Domestik Regional Bruto Pemerintah Daerah Pemerintah kabupaten Pemerintah Kota Pemerintah propinsi Peraturan Pengganti Undang-Undang Provinsional Hand Over (Prosedur Serah Terima Pertama Pekerjaan) Project Implementation Plan (Rencana Pelaksanaan Proyek) Project Implementation Unit (Unit Pelaksana Proyek) Project Manual (Petunjuk Proyek) Project Management Unit (Unit Manajemen Proyek) Pejabat Pembuat Komitmen (wakil Pemberi Tugas, dibawah SATKER, yang mengawasi kegiatan harian proyek) Project Preparation Manuals (Petunjuk Penyiapan Proyek) Procurement Quality Assurance and Monitoring (Pemastian dan Pemantauann Mutu Pengadaan) Infrastructure Rehabilitation Enabling Program (IREP) Infrastructure Program Management (IPM) Quality Assurance (Pemastian Mutu) Quality Control (Kendali Mutu( Quality Management Strategy (Strategi Manajemen Mutu) Regional Government (Pemerintah Regional) Rencana Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management Plan) Right of Way Konsutan PDCS untuk Pantai Barat Rencana Pemantauan Lingkungan (Environmental Monitoring Plan) Rencana Tata Ruang Wilayah Satuan Anti-Korupsi (unit anti kotupsi BRR) Satuan Kerja (Manajer subproyek) Sekretariat Bersama Strategic Infrastructure (Infrastruktur Strategis) Sistem Informasi Monitoring Strategic Infrastructure Reconstruction Plan (Rencana Rekontruksi Infrastruktur Strategis)

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 6 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

ISTILAH SK77 SMARTPro SMEC SNI SOP SP2D SPM SPP Subproyek TD TEC TNA TOR TPA UKL/UPL UNDP WB WC WP

URAIAN Surat Keputusan 77 (Permen PU No. 77 mengenai jalan kabupaten) System Monitoring Anggaran RKA-KL Terpadu Program Konsultan PDCS untuk Inrastruktur Strategis Standard Nasional Indonesia Standard Operating Procedures (Prosedur Standar Operasional) Surat Perintah Pencairan Dana Surat Perintah Membayar Surat Perintah Pembayaran Skema Pengembangan Pekerjaan Sipil Tertentu dari Proyek Tender Documents (Dokumen Tender) Tender Evaluation Committee (Panitia Evaluasi Tender) Training Need Assessment Terms of Reference (Kerangka Acuan) Tempat Pembuangan Akhir (Final Disposal Site) Upaya Pengelolaan Lingkungan / Upaya Pemantauan Lingkungan United Nation Development Program World Bank (Bank Dunia) West Coast (Pantai Barat) Warranty Period

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 7 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Prosedur Standar Operasional

1.

Pendahuluan
Setelah terjadi tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dan kemudian gempa yang menghancurkan di Nias, BRR dibentuk untuk mengawasi usaha-usaha rekontruksi. Exhibit 1.1 menunjukkan hubungan antara lembaga-lembaga IRFF. Dana Multi Donor yang dikelola Bank Dunia dibentuk untuk membantu pembiayaan proyek-proyek rekontruksi. Hal yang mendasar pada usaha rekonstruksi adalah rekonstruksi infrastruktur utama. Program Infrastructure Reconstruction Enabling (IREP) kemudian disusun untuk membantu BRR secara teknis dalam mewujudkan mandatnya. Dalam IREP ada lima paket bantuan. Paket Program Manajemen Infrastruktur (IPM) akan memberikan bantuan langsung pada BRR, yang berkaitan dengan Perencanaan Strategis, Manajemen Program, Prioritisasi Program Pemerintah Propinsi dan Kota/Kabupaten, Pengadaan, Kendali Mutu, Peningkatan Kapasitas untuk pemerintah-pemerintah kota/kabupaten, dan Pendekatan Masyarakat (Community Outreach). Ada tiga paket bantuan teknis lainnya, yang berkaitan dengan Perencanaan, Disain dan Supervisi Konstruksi (PDCS). Exhibit 1-2 menunjukkan peran dan tanggungjawab lima konsultansi. Bank Dunia mengelola salah satu dana hibah MDF dalam bentuk Fasilitas Pembiayaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF). Fasilitas inii menyediakan dana untuk rekonstruksi infrastruktur yang meliputi jalan dan jembatan, air bersih dan sanitasi, pengendalian banjir dan drainase, perlindungan pantai dan perbaikan saluran-saluran utama irigasi di NAD dan Nias. BRR adalah instansi pelaksana untuk IRFF. Proyek ini mencakup semua kegiatan dan subproyek yang dibiayai melalui IRFF/MDF. IRFF menyediakan 30% biaya subproyek dan BRR 70%. Prosedur Standar Operasional (SOP) ini disusun untuk membantu pemerintah propinsi dan kabupaten/kota, dalam memproses tender, melaksanakan proposal subproyek yang didanai melalui fasilitas IRFFF yang dikelola BRR. Sesuai permohonan BRR, dalam SOP ini akan dipakai pendekatan bagan alir (flow chart) dan untuk melengkapi informasi disertakan lampiran dan acuan lain. Exhibit 1-3 memberikan ringkasan dari keseluruhan proses pelaksanaan subproyek.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Hal 8 dari 125

SOP

Infrastructure Program Management Pty Ltd) Pty Ltd) Infrastructure Program Management (GHD (GHD

Prosedur Standar Operasional
Exhibit 1-1 LEMBAGA-LEMBAGA PELAKSANA IRFF

Prosedur Operasional Standar

BANK DUNIA

BRR
DEPUTI LINGKUNGAN, PEMELIHARAAN DAN INFRASTRUKTUR Hasil Tender Proses Pengadaan

Proposal Subproyek

PMU IPM

MANAJEMEN KEUANGAN

CP

SATKER PUSAT
Manajemen Keuangan

PEMERINTAH PROPINSI

PDC SEK
KANTOR REGIONAL

Supervisi

Manajemen Proyek, Keuangan & Kendali Mutu (QA) (Laporan keuangan Antara)

SATKER REGIONAL

PEMERINTAH KOTA ATAU KABUPATEN

KANTOR KABUPATE N

2000 KABUPATE N
KONTRAKTOR

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

DED and Tender Document

SOP Hal 2 dari 16

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

SOP Hal 1 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
Exhibit 1-2 Gambaran Umum Bantuan Teknis (TA) IREP
Komponen Gambaran Umum Peran

1. Infrastructure Program Management TA (IPM) (GHD Pty Ltd)

- Manajemen & kordinasi keseluruhan program infrastruktur BRR. - Melapor langsung ke BRR - Kordinasi TA IREP (kontrak 2, 3 & 4) - Membantu semua subproyek infrastruktur BRR di Aceh dan Nias (tidak termasuk tingkat kecamatan) - Program 3 tahun.

- Perencanaan strategis & penganggaran - Kendali mutu dan supervisi - Manajemen program IREP & TA supervisi - Mengkaji rencana investasi IRP untuk tingkat Kabupaten/Kota dan propinsi, dari kontrak TA 2, 3 & 4. - Kepatuhan perlindungan Lingkungan - Dukungan anti korupsi dan transparansi - Dukungan pengadaan untuk semua investasi IREP - Pemantauan dan evaluasi

2. Pantai Barat: Perencanaan, Disain, Supervisi Kontruksi (PDCSWC) (Royal Haskoning)

- Bantuan pelaksanaan infrastruktur - Melapor langsung ke BRR & pusat. - Bekerja-sama dan berkordinasi regional dengan pemerintah kabupaten di wilayah logistik Pantai Barat - Berkoordinasi dengan konsultan IPM - Melaksanakan infrastruktur tingkat kabupaten: jalan, drainase, air bersih & sanitasi, pengelolaan sampah, dll. (dan infrastruktur di beberapa kecamatan tertentu) - Program 3 tahun - Menyusun investasi senilai $ 150 juta (perkiraan)

- Prioritisasi proyek & perencanaan investasi - Penyusunan disain rinci dan dokumen tender (DED & TD) - Kordinasi pemangku kepentingan - Penyusunan perlindungan lingkungan - Supervisi konstruksi - Peningkatan kapasitas untuk pemerintahpemerintah daerah

3. Nias: Perencanaan, Disain, Supervisi Kontruksi (PDCSNias) (DHV)

- Bantuan pelaksanaan infrastruktur - Melapor langsung ke BRR regional & pusat. - Bekerja-sama dan berkordinasi dengan pemerintah kabupaten Nias - Berkordinasi dengan konsultan IPM - Melaksanakan infrastruktur tingkat kabupaten: jalan, drainase, air bersih & sanitasi, pengelolaan sampah, dll. - Program 3 tahun - Menyusun investasi senilai $ 80 juta (perkiraan)

- Prioritisasi proyek & perencanaan investasi - Studi khusus untuk penyusunan program transportasi - Penyusunan disain rinci dan dokumen tender (DED & TD) - Kordinasi dengan pemangku kepentingan - Penyusunan perlindungan lingkungan - Supervisi konstruksi - Peningkatan kapasitas untuk pemerintahpemerintah daerah

4. Infrastruktur Strategis: Perencanaan, Disain, Supervisi Kontruksi (PDCSSI) (SMEC)

- Bantuan pelaksanaan infrastruktur - Melapor langsung ke BRR - Bekerja-sama dan berkordinasi dengan pemerintah propinsi dan kabupaten di Aceh dan Nias - Berkordinasi dengan konsultan IPM - Melaksanakan investasi skala besar (pelabuhan, bandara & jalan) terutama di tingkat propinsi, tapi termasuk beberapa kabupaten tertentu & pemerintah pusat - Program 3 tahun - Menyusun investasi senilai $ 100 juta (perkiraan)

- Identifikasi & prioritisasi proyek, dan perencanaan investasi - Studi khusus untuk penyusunan program transportasi - Penyusunan disain rinci dan dokumen tender (DED & TD) - Penyusunan perlindungan lingkungan - Supervisi konstruksi

5. Manajemen Keuangan TA

- Meningkatkan kapasitas manajemen keuangan BRR dalam pelaksanaan proyek IREP - Melapor ke BRR, PIU & PMU IREP - Program 3 tahun

- Menyusun dan mengelola akuntansi keuangan - Memantau kegiatan proyek dibawah IREP, termasuk kendali internal atas pelaksanaan kontrak

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 1 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
Exhibit 1-3 Ringkasan Identifikasi dan Pelaksanaan Subproyek

RTRW Pem Prop/Kota/Kab.
Dikaji oleh IPM

Rencana Infrastruktur Strategis
SEKBER

“ SOP & JUKLAK”
- Prosedur untuk proposal subproyek - Seleksi subproyek IRFF - Pemrograman

- Seleksi - Prioritisasi - Investasi

Hasil evaluasi dari “ Draft RPJM” & Rencana Inevstasi Tahunan (AIP) yang diusulkan

Pendanaan Baru / Pendanaan Tambahan

Daftar Akhir Usulan Subproyek untuk pendanaan IRFF/BRR

Pendanaan lain

Penyaringan: AMDAL, UKL/UPL, SOP & LARAP lengkap & Catatan: - AMDAL, SOP, dan LARAP lengkap dilaksanakan oleh IPM - UKL/UPL dan LARAP sederhana dilaksanakan oleh PDCS

LARAP sederhana AMDAL UKL/UPL SOP LARAP lengkap - LARAP sederhana

- Pemprograman - Pemaketan subproyek - Penganggaran

Dokumen DED dan pelatihan

Pengadaan
QA dan QC (Pemastian dan Kendali mutu) oleh IPM

Pengadaan untuk tahun pertama dilaksanakan oleh CPU

Konstruksi

Penyelesaian Subproyek dan :Periode Penjaminan Subproyek

Penyerahan Subproyek ke penerima

Operasi & Pemliharaan

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 2 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

2. Identifikasi dan Persetujuan Subproyek
Subproyek-subproyek dari Pemprov/Pemkab, Cetak Biru BRR, Midterm Review, Donor, Sekretariat Bersama dan pemangku kepentingan yang lain Konsultan PDCS menghimpun usulan subproyek dari Pemprov/pemkab, BRR Pusat dan regional, donor, Bappeda dan lain-lain. Konsultan PDCS menseleksi proyek-proyek yang sesuai untuk pendanaan IRFF dan cocok pendanaan dari sumber-sumber lain.

Seleksi eligibilitas oleh konsultan PDCS

Prioritasi dan pentahapan dari subproyek dengan pemprov, pemkab

Konsultan PDCS bersama dengan pempprov/ pemkab, BRR, Sekretariat Bersama, dan dinas-dinas menyusun skala prioritas dan pentahapan proyek untuk pelaksanaan selama siklus anggaran mulai proyek-proyek anggaran 2007 Konsultan PDCS menyusun laporan-laporan proyek, studi-studi (yang diperlukan) dan checklist penilaian Bank Dunia bagi usulan subproyek untuk IIPP/AIP/MYIP

Checklist Penilaian subproyek oleh Konsultan PDCS

Cheklist penilaian subproyek oleh konsultan PDCS

Siklus budget 2008 dst

Hanya untuk proyek anggaran 2007

Proyek-proyek 2007 – Perencanaan Proyek Infrastructure mendesak (IIPP)

Rencana Investasi Tahunan (AIP) [Nias, W.Coast] dan Rencana Investasi Tahun Ganda (MYIP) [Provinsi/ strategic]

Konsultan PDCS membuat Rencana Investasi tahunan atau Rencana Investasi Tahun Ganda (lihat Lampiran 2F untuk usulan format). Untuk proyek 2007 diusulkan melalui IIPP

Persetujuan Pemprov / Pemkab

Persetujuan IIPP/AIP/MYIP oleh Pemprov/ Pemkab dikirim ke PMU BRR oleh Sekretariat Bersama

PMU / IPM mereview daftar (list) akhir

PMU BRR dan Konsultan IPM melakukan review IIPP/AIP/MYIP, dilampirkan laporan-laporan proyek dan checklist yang diserahkan oleh Sekretariat Bersama / PDCS

Usulan subrpoyek dimasukkan dalam pemutahiran triwulanan dari Rencana Pengadaan

PMU menyerahkan usulan subproyek ke Bank Dunia dengan pemutahiran triwulanan atas Rencana Pengadaan (sebagai bagian dari Laporan Keuangan Antara oleh BRR ke Bank Dunia)

PMU memberitahukan subproyek pemprov / pemkab yang disetujui. untuk di-disain, Konsultan PDCS mulai proses untuk mendapatkan dana pemeliharaan dari pemprov/ pemkab, penyelesaian DED dan studi-studi terkait, selanjutnya menyusun MOU

Review oleh Bank Dunia

Bank Dunia melakukan review terhadap usulan subrpoyek dalam pemutahiran Rencana Pengadaan beserta dokumen pendukungnya . Alternatif hasil:

Surat Persetujuan bersyarat untuk proses lanjut dengan DED dan studi-studi terkait

A: No Objection (Tidak Berkeberatan) untuk didanai melalui IRFF, sesuai kondisi-kondisi pada Perjanjian Hibah; B: Found Suitable (Layak) untuk didanai IRFF namun diperlukan langkah-langkah lanjut yang harus dilengkapi sesuia dengan Perjanjian Hibah . Review atas penilaian lanjut TIDAK diperlukan C: Found Suitable (Layak) untuk diusulkan melalui dana IRFF, namun diperlukan hal-hal yang perlu dilengkapi sesuai dengan Perjanjian Hibah . Diperlukan review atas penilaian lanjut. D: Tidak layak untuk didanai melalui IRFF

2

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 3 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

Exhibit 2-2

2

Konsultan PDCS

Disain Teknis
TIDA K YA YA TIDAK

Pertemuan Penyaringan bersama SATKER dan BAPEDALDA propinsi. Apakah AMDAL atau UKL-UPL diperlukan?

Apakah pembebasan lahan atau relokasi warga diperlukan? Konsultasi dengan Bank Dunia dan pemerintah setempat

Untuk semua disain, Standar disain yang dapat dipakai dari pemerintah berlaku, jika perkecualian tertentu telah mendapatkan persetujuan sebelumnya.

(Lihat Apendik Pedoman)

(Lihat Apendik Pedoman)

Prosedur Operasional Standar Lingkungan diperlukan dan sudah tersedia
YA Apakah AMDAL atau UKL-UPL telah disusun? TIDA K TIDA K Apakah LARAP telah disusun? YA

LARAP tidak diperlukan

∗ Dokumen Tender; ∗ Ringkasan Disain (Lihat Apendik 4); ∗ Rencana Pengadaan;

UKL/UPL Diberi waktu ± 1 bulan Penyusunan AMDAL/UKL-UPL dan/atau LARAP (IPM boleh mensubkotrakkan beberapa dari studistudi ini.

Dokumen Pendukung (termasuk anti-korupsi, draft Juklak O&M)

AMDAL Diberi waktu ± 8 bulan

∗ Jika AMDAL harus melalui proses pengadaan, maka pergunakan TOR dari BAPEDALDA. ∗ Untuk UKL-UPL dan LARAP, pergunakan format laporan dari IPM.

LARAP sederhana diberi waktu ± 1 bulan

LARAP lengkap diberi waktu ± 4 bulan

Studi diselesaikan AMDAL & LARAP boleh diselesaikan bersamaan dengan proses pengadaan, dengan persetujuan sebelumnya. SEMUA PERSETUJUAN DAN GANTI RUGI LAHAN HARUS DISELESAIKAN SEBELUM PEMBERIAN KONTRAK

Kajian oleh IPM/PMU (Daftar Evaluasi Bank Dunia yang sudah diselesaikan)

Kajian oleh Bank Dunia (jika masih diperlukan)

“ Surat Tidak Keberatan” (NOL) untuk pengadaan

Pengadaan

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 4 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

3. Proses Pengadaan
Pada saat Bank Dunia mengeluarkan persetujuan (NOL) atas Rencana Pengadaan/Dokumen Pelelangan, maka pihak Pengguna Barang (User) sudah memutuskan (a) Panitia Lelang, dan (b) Tata Cara Pengadaan

NOL dari Bank Dunia
Mengatur/Menunjuk Pejabat (a) Pelaksana Pelelangan dan (b) yang menandatangani Kontrak Kerja dengan pihak Penyedia Jasa

Jika Pengguna Barang/Jasa adalah pihak Pemerintah Propinsi/Kabupaten, maka perlu ada pengaturan tentang penyediaan dana, termasuk keperluan pengumuman pelelangan, biaya pembangunan dan pemeliharaan, serta sumber dana yang tersedia di BRR & IRFF.

Untuk pengadaan yang diselenggarakan BRR, panitia evaluasi lelang akan ditunjuk oleh Ketua PMU, dan kontrak akhir ditandatangani oleh SATKER; IPM mulai memberikan saran dan bantuan

Pengangkatan/Penunjukan Anggota Panitia Pelelangan

Untuk pengadaan yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi/kabupaten, maka Panitia Evaluasi Lelang akan ditunjuk oleh pemerintah daerah dan kontrak akhir ditandatangani oleh SATKER IPM mulai memberikan saran dan bantuan

Paket dengan nilai kontrak lebih besar dari US$ 5 Juta, sesuai dengan ketentuan World Bank diwajibkan mengikuti prosedur ICB (International Competitive Bidding) dan Tata Cara Kontrak mengikuti FIDIC Maret 2006.

Penentuan Tata Cara/Metoda Pengadaan Barang dan Jasa

Pengadaan untuk nilai kontrak yang kurang dari US$ 5 juta sesuai dengan WB Guidelines akan menggunakan NCB (National Competitive Bidding). Sesuai Keppres 80/2003, atau bila ada pengecualian

Panitia Evaluasi Lelang menyelesaikan jadwal pengadaan
Untuk metoda ICB iklan pengumuman harus dilakukan melalui iklan disurat kabar Lokal dan Nasional dalam bahasa Inggris. Dokumen Lelang dapat diambil 14 hari sesudah hari pertama pelelangan dengan biaya Rp. 250.000,Periode persiapan lelang 35 hari

Pemasangan Iklan Tender

Untuk metoda NCB iklan pengumuman harus dilakukan melalui iklan disurat kabar Nasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dokumen Lelang dapat diambil 14 hari sesudah hari pertama pengumuman dengan biaya Rp. 250.000,- Periode persiapan lelang 21 hari

Tim QA IPM memberikan informasi QA/QC kepada kontraktor

Penjelasan Pelelangan kepada Peserta Lelang (Pre-Bid Meeting)

Tim QA IPM menyampaikan tentang Ketentuan QA/QC kepada Kontraktor

Pengiriman Dokumen Tertulis Hasil Pertemuan Penjelasan Pelelangan

Pembukaan Lelang
Berita Acara Pembukaan Lelang akan dibuat dan ditanda tangani oleh anggota Panitia Lelang serta peserta lelang yang hadir.; Semua Dokumen Penawaran yang diserahkan sebelum batas waktu akhir akan dibuka secara resmi dan dibuatkan Berita Acaranya. Bagi yang terlambat/melewati batas waktu penutupan tidak akan dibuka; Semua peserta lelang boleh menghadiri pembukaan ini. Lelang dibuka, dicatat dan penawaran harga dibacakan dengan keras, termasuk alternatif diskon jika ada; Periksa jumlah dokumen-dokumen penawaran yang harus diserahkan; disegel dan ditanda tangani secara cukup. Periksa apakah surat jaminan penawaran (Bank Garasi) yang disampaikan adalah asli

Kehalaman berikutnya

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 5 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

Evaluasi Lelang
Periksa apakah secara Administratif Dokumen Penawaran tanggap terhadap persyaratan lelang; Apakah Dokumen Penawaran secara Teknis dan Finansial telah memenuhi seluruh syarat qualifikasi yang ditentukan oleh panitia

Rekomendasi dari Panitia Evaluasi untuk Pengajuan Pemenang Lelang/Penandatanganan Kontrak Kerja

Kajian oleh Bank Dunia

NOL-Surat Persetujuan Atas Hasil Evaluasi Panitia Lelang

Persetujan Final Atas Proses Pelelangan

Pengumuman Kepada Seluruh Peserta Lelang Atas Pemenang Lelang

Penunjukkan Pemenang

Cantumkan untuk semua peserta lelang, dan dalam website UNDP dan BRR, data berikut ini: 1. Nama setiap peserta lelang 2. Harga usulan lelang. 3. Nama dan harga, yang telah dilakukan Evaluasi. 4. Nama peserta/konsultan yang penawarannya ditolak, serta alasan penolakannya. 5. Nama peserta/konsultan yang penawarannya berhasil memenangkan lelang tsb, beserta harga, durasi dan ringkasan lingkup kontrak.

Penanda-tangan Kontrak dan Pernyataan untuk Dapat Memulai Pekerjaan

Kirimkan salinan kontrak ke Bank Dunia. Cantumkan dalam website BRR; antara lain: a. Daftar semua kontrak yang diberikan dalam 3 bulan terakhir, yang menyebutkan: • Nama pesertalelang kontraktor/konsultan yang dipilih • Nilai • Jumlah peserta lelang • Daftar peserta lelang • Metode Pengadaan (NCB/ICB) • Tujuan kontrak

Data Kontrak Kerja dimasukkan ke SMART oleh SATKER

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 6 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

4. Pelaksanaan
Unit Peran dan Tanggung-jawab Tim Kendali Mutu IPM

KPPN

KPPN membayar kontraktor Berdasarkan kemajuan pekerjaan yang disetujui SATKER (lihat Bab 5).

SATKER

SATKER adalah Direksi Proyek dan mewakili pemberi tugas; SATKER bertanggung-jawab menyetujui pembayaran bulanan untuk kontraktor agar diproses oleh KKPN (lihat Bab 5). SATKER juga beranggung-jawab memasukkan data utama kontrak kedalam sistem SMART Pro (lihat Bab 6).

Salinan laporan pemeriksaan lapangan akan ditembuskan kepada SATKER.

PPK

PPK diberi wewenang oleh SATKER untuk mewakili Pemberi Tugas dalam kegiatan harian pengawasan proyek. Untuk kontrak IRFF, Tim ini disediakan oleh konsultan PDCS. Kunjungan lapangan oleh Tim QA akan dikordinasikan melalui Ahli Teknik PDCS atau wakilnya, dan salinan laporan lapangan akan diberikan sebelum kunjungan selesai, termasuk pemantauan lingkungan dan sosial.

Tim Supervisi Kontruksi

Ahli Teknik, atau wakil ahli teknik

Ahli teknik untuk proyek IRFF disediakan oleh konsultan PDCS. Ahli ini akan hadir setiap hari di lokasi proyek. Jika mengawasi lebih dari satu kontrak., boleh menunjuk wakil ahli teknik yang sesuai dan memenuhi kualifikasi, melalui surat pelimpahan wewenang atas urusan harian, termasuk memastikan keakuratan dan penyelesaian pembayaran kemajuan.

Teknisi Kuantitas dan Kualitas

Umumnya, tim supervisi kontruksi akan terdiri dari paling sedikit 2 orang teknisi (atau lebih tergantung besaran dan kerumitan pekerjaan); satu surveyor kwantitas untuk melaksanakan survei bersama kontraktor, dengan satu surveyor kualitas untuk memastikan apakah spesifikasi pekerjaan sudah dipenuhi dan melakukan pengujian sesuai kebutuhan.

Tim QA akan memeriksa buku harian dan catatan teknisi.

Kontraktor Kantor Kontraktor di Lapangan berikut pencatatan Kontraktor bertanggung-jawab menyelesaikan pekerjaan sesuai spesifikasi dalam dokumen kontrak; kontraktor memiliki tangung-jawab utama atas jaminan dan kendali mutu; keselamatan di tempat kerja, dan melaksanaan perlindungan terhadap lingkungan sebagai mana seperti ditentukan dalam kontrak. Tim QA akan memeriksa buku harian dan catatan teknisi. Tim QA akan memeriksa hasil pekerjaan kontruksi, kepatuhan dalam hal memenuhi pada standar lingkungan, penyimpanan material, keselamatan kerja dan hal-hal utama lainnya seperti yang disebutkan dalam Manual QAQC.

Hasil kontruksi

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 7 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

5. Proses Pembayaran Kontrak
Proses Pembayaran kepada Kontraktor

Kontraktor Menyusun Laporan Progress/Kemajuan Pembayaran Bulanan

Teknisi atau Wakil Ahli Teknik melakukan survei bersama kontraktor.

Teknisi atau Wakil Ahli Menyetujui Pembayaran Bulanan

Saat menyetujui klaim pembayaran, Teknisi atau Wakil Ahli Teknik menyatakan bahwa kualitas pekerjaan yang akan dibayar sudah akurat dan memenuhi spesifikasi kontrak.

PPK

PPK sebagai manajer subproyek, memeriksa form klaim pembayaran untuk memastikan

SATKER

SATKER melaksanakan verifikasi dan menyetujui klaim pembayaran selanjutnya mengirimkan SPM (Surat Perintah Membayar) permohonan pembayaran ke KKPN.

Halaman Selanjutnya

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 8 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
Gambar 5-2 Proses Pembayaran oleh KPPN

SATKER

SPM (permohonan pembayaran)

SATKER mengeluarkan SPM, atau Form Permohonan Pembayaran, dan mengirimnya ke KKPN Khusus di Banda Aceh. KKPN Khusus hanya berurusan dengan BRR. KPPN mengkaji SPM untuk memastikan bahwa form ini sudah sesuai dengan peraturan, tarip unit dan anggaran. Jika tidak disetujui, SPM dikirim kembali ke SATKER.

Salinan SP2D

KPPN
(hanya memeriksa kemajuan finansial, bukan fisik)

Jika KPPN menyetujui SPM, maka akan dikeluarkan SP2D. SP2D adalah surat perintah pembayaran untuk kontraktor. Salinan SP2D dikirim ke SATKER dan dimasukkan kedalam database SP2D. Database SmartPro mengambil rincian pembayaran dari database SP2D untuk tujuan pelaporan proyek. SATKER memakai SP2D yang dikembalikan untuk menyusun laporan bulanan yang akan diserahkan ke manajer Akuntansi & Pelaporan BRR. Setelah masuk dalam sistem akuntasi, data dipakai oleh BRR untuk menyusun Rekening Masuk dan Saldo (Income Statement and Balance Sheet)

Data

SP2D (Pengeluaran disetujui)

Database SmartPro (Konsultan IPM)

Pembayaran
(netto, dari pengurangan pajak, dll)

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 9 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

6. Pemantauan Kemajuan Proyek
Masukan Data (Data Input)
Data Kemajuan Lapangan dan Pembayaran (dari Konsultan PDCS)

Laporan Kemajuan OC-1 (BRR)

Data Kontrak & Pembayaran (dari SATKER)

Data dari Tim QA/QC dan Tim Pengadaan

Laporan Bulanan, Tri-wulanan dan Tahunan dari IREP/IRFF untuk BRR dan Bank Dunia

Tim Keuangan/Kordinasi Donor, QA/QC dan Pengadaan IPM, Konsultan IREP FM

Laporan Tingkat SATKER

Laporan Direktur

Laporan Tingkat Deputi

Laporan Tingkat Manajer

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 10 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

7. Pemantauan Perlindungan Lingkungan dan Sosial
7.1. Pemantauan Lingkungan BAPEDALDA setempat bertanggung-jawab memastikan kepatuhan perlindungan lingkungan selama kontruksi. IPM akan menyusun seluruh lembar pro-forma untuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan, yang dilaksanakan oleh PDCS dan terdiri dari:

1

Rencana Pengelolaan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan(RPL)

Setiap tiga bulan selama kontruksi, laporan pemantauan disampaikan kepada BAPEDALDA kabupaten dan propinsi Setiap enam bulan disampaikan kepada Bank Dunia Setiap tiga bulan selama kontruksi, laporan pemantauan disampaikan kepada BAPEDALDA kabupaten dan propinsi Jika dirasa perlu selama operasi, melapor setiap 12 bulan ke BAPEDALDA kabupaten. Setiap enam bulan disampaikan kepada BAPEDALDA kabupaten dan propinsi Jika dirasa perlu selama operasi, melapor setiap 12 bulan ke BAPEDALDA kabupaten.

2

Pelaksanaan UKL / UPL

3

Pelaksanaan SOP

4

LARAP Sederhana

Setelah pemberian kontrak, periksa apakah ganti rugi sudah diberikan sebelum kontruksi dapat dimulai. Setelah pemberian kontrak, periksa apakah ganti rugi sudah diberikan sebelum kontruksi dapat dimulai. Setiap 12 bulan, yang dilakukan disampaikan kepada Bank Dunia studi evaluasi bekerja sama dengan konsultan lokal yang memenuhi kualifikasi.

5

LARAP Lengkap

7.2. Pemantauan Perlindungan Sosial

7.2.1

Pengarus-utamaan Jender
• Memastikan bahwa pembangunan kembali infrastruktur tertentu dapat memenuhi kebutuhan perempuan, karena perempuan adalah kelompok yang paling langsung merasakan dampak tsunami dan gempa bumi. Selain itu, perempuan juga berperan penting dalam menghadapi tantangan langsung dari rekontruksi fisik, dan dalam memastikan pemulihan sosial dan ekonomi yang merata dan berkelanjutan untuk jangka panjang. • Masalah perempuan harus ditangani dalam pembangunan sektoral, seperti dalam pengembangan air bersih dan sanitasi. • Memastikan bahwa pria dan perempuan sudah terwakili secara adil dan partisipasi mereka meningkat dalam proses pembuatan keputusan yang terkait dengan pembangunan infrastruktur.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 11 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
• Memastikan bahwa disain proyek dan rencana pelaksanaan sudah tanggap terhadap kebutuhan masyarakat, melalui pembedaan dan prioritisasi kebutuhan mereka berdasarkan jender.

7.2.2

Masalah Sosial – Penduduk Asli
• Memastikan bahwa penduduk suku asli dilibatkan dalam proses perencanaan dan merasakan manfaat proyek. • Penduduk asli di Nias memerlukan langkah khusus yang harus dilakukan oleh Proyek, untuk memastikan bahwa mereka secara bermakna telah dilibatkan dalam proses konsultasi yang terkait dengan disain perencanaan dan kontruksi infrastruktur yang diusulkan.

7.2.3

Budaya Lokal dan Peraturan Adat
• Proses rekontruksi akan menerapkan prosedur yang transparan dan partisipatif, untuk memastikan bahwa semua orang yang memenuhi syarat dan terpengaruh menyepakati opsi yang memerlukan pembebasan lahan dan relokasi penduduk. • Budaya lokal dan peraturan adat harus dipertimbangkan dalam proses perencanaan, terutama untuk rencana pembebasan lahan dan relokasi penduduk. Jika ada pertentangan antara aturan adat dan kebijakan Bank Dunia atau peraturan Pemerintah RI, maka masalah ini harus diatasi selama proses konsultasi masyarakat, dan harus ada usaha untuk menyelesaikan pertentangan ini melalui proses pembuatan keputusan secara adat.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 12 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

8. Pemantauan Anggaran
Pembayaran yang dilakukan proyek dicatat di KPPN dan dipantau melalui program SMARTPro. Standar lain seperti dilaksanakan oleh konsultan IREP 5 (FM).

Pembayaran

Auditing

Rekening subproyek harus diaudit sesuai prosedur standar dari pemerintah RI.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 13 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

9.

Penyelesaian Subproyek

PDCS membuat konsep manual O&M 1 bulan sebelum pekerjaan selesai, disertai kajian pihak penerima dan komentar BRR dan IPM- pihak Penerima

Konsep awal manual O&M sudah harus selesai disusun selama perencanaan rinci (detailed design). Manual O&M akhir harus sesuai dengan fasilitas yang sudah dibangun. Laporan harus mencantumkan prosedur pemeliharaan, waktu, perkiraan biaya, kebutuhan tenaga, dll. .

PDCS membuat laporan penyelesaian pekerjaan dengan melampirkan manual O&M

Laporan harus memberikan ringkasan rincian kontrak seperti disepakati semula dan pada saat selesai, dengan menyebutkan biaya atau kelebihan waktu, penaksiran kerusakan terganti, mutu pekerjaan, kualitas kinerja kontraktor, output yang sesuai dengan kontrak dan masalah-masalah lingkungan yang belum diselesaikan.

Serah terima pekerjaan ke Pemprop/Pemkab untuk pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh BRR

Memo kesepatan resmi akan disusun untuk setiap konrtak, yang menyebutkan sarana yang diserahkan dengan melampirkan manual O&M.

Laporan evaluasi penyelesaian subproyek

PDCS akan menyusun laporan evaluasi penyelesaian proyek untuk setiap kontrak. Format tersebut terdapat didalam manual O&M

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 14 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan

Lampiran 2A
Kriteria Eligibilitas (Keadaan Memenuhi Syarat) dan Jadual Pelaksanaan
Semua proposal yang diajukan ke BRR oleh pemerintah propinsi dan kota/kabupaten perlu sesuai dengan target ‘ Cetak Biru’ yang dimandatkan, didukung oleh Sekretariat Bersama dan dicantumkan dalam rencana rekontruksi infrastruktur strategis dari masing-masing unit pemerintah. Proposal subproyek harus memenuhi tiga kriteria eligibilitas dasar (lokasi geografis, sektor dan nilai investasi), sebelum ditentukan menjadi prioritas untuk pembiayaan melalui IRFF. 1. Lokasi Geografis Subproyek harus berada di 12 wilayah pemerintah daerah yang memenuhi syarat, atau masuk dalam klasifikasi infrastruktur strategis propinsi, untuk menangani dampak tsunami, gempa bumi atau rekontruksi atau rehabilitasi pasca konflik. 1.1 Kabupaten yang Memenuhi Syarat (Eligible) 12 pemerintah kota/kabupaten yang memenuhi syarat untuk Proyek atau Program IRFF adalah: • Banda Aceh • Aceh Besar • Sabang • Aceh Jaya • Aceh Barat • Nagan Raya • Barat Daya • Aceh Selatan • Aceh Singkil • Simeulue • Nias • Nias Selatan 1.2 Infrastruktur Strategis Propinsi (Tunjukkan Lokasi)
Subproyek infrastruktur strategis propinsi juga diharapkan memenuhi syarat untuk pembiayaan melalui IRFF, meski belum dicantumkan dalam Perjanjian Hibah. Subproyek seperti ini terutama berkaitan dengan jalan propinsi, pelabuhan, air bersih dan sanitasi.

2. Sektor yang memenuhi Syarat (Pekerjaan Sipil dan Barang) Sektor yang memenuhi syarat adalah: • Jalan dan jembatan • Pelabuhan • Air bersih dan sanitasi • TPA untuk limbah padat • Pengendalian banjir dan drainase • Perlindungan pantai • Saluran irigasi utama

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 15 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
Investasi tipikal adalah (dari Evaluasi IRFF Lampiran 2): • Sektor jalan dan jembatan: terutama peningkatan dan rekontruksi jalan raya yang ada, termasuk pengaspalan dan pelebaran, penataan kembali jalur untuk alasan keamanan, dan peningkatan mutu jalan. • Sektor pelabuhan, rekonstruksi dan peningkatan pelabuhan kapal feri, bongkar-muat dan penumpang, termasuk dermaga yang ada dan yang terkena tsunami, konstruksi dan rehabilitasi tempat tambatan kapal muatan, terminal kapal feri dan penumpang, kegiatan pengerukan dan reklamasi lahan jika diperlukan, dan investasi untuk menigkatkan persimpangan transportasi muli-moda di pelabuhan angkut.

• Air bersih dan sanitasi, terutama intake dan penampungan, perluasan dan rehabilitasi fasilita pengolahan air, jaringan pasokan primer dan sekunder, termasuk sarana penyimpanan, dan rehabilitasi dan perluasan jaringan saluran air limbah dan saluran kolektor (terutama kolektor utama dan stasiun pompa). Jika membangun sambungan baru, maka biayanya kalau memungkinkan akan diambil dari pemakai. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) untuk limbah padat juga memenuhi syarat. • Pengendalian banjir dan drainase, terutama rehabilitasi dan perluasan jaringan drainase dan bangunan penahan banjir kecil, termasuk dam tanah dan beton. Subproyek investasi kemungkinan meliputi juga dranase utama dan jaringan sekunder, lobang periksa (manholes) dan persimpangan, stasiun pompa terpasang dan peralatan terkait. • Investasi perlindungan pantai, termasuk kontraksi dan rehabilitasi dinding penahan ombak dan infrastruktur penahan bawah laut dan kegiatan restorsi wilayah pantai termasuk pengerukan dan pengisian pasir di pantaipantai yang rawan. • Investasi sektor irigasi secara umum terbatas pada rekonstruksi, rehabilitasi dan peningkatan saluran irigasi utama propinsi dan kabupaten, serta infrastruktur dan peralatan pompa.
Secara umum, untuk memenuhi syarat, subproyek harus berkaitan dengan rekontruksi atau rehabilitasi infrastruktur yang rusak karena tsunami dan gempa bumi. Namun, dapat dipertimbangkan juga infrastruktur baru yang akan menutup elemen penting yang hilang atau mempersempit kesenjangan antara proyek rekonstruksi lain, tapi ini harus dijelaskan dalam proposal.

3.

Pembiayaan
Nilkai investasi minimum telah ditentukan oleh IRFF untuk memfokuskan sumber-sumber pada investasi prioritas. Investasi yang lebih kecil dari nilai minimum harus mencari sumber pembiayaan alternatif atau sumberdaya pemerintah daerah sendiri. Jika dalam situasi dan kondisi khusus, proposal terpisah dengan dasar justifikasi guna mengabaikan persyaratan ini, maka harus diserahkan ke Bank Dunia untuk disetujui. .

Sponsor Subproyek 1 2 4. Prioritisasi Awal Pemerintah kota/kabupaten Pemerintah propinsi

Memenuhi Syarat (US $) ≥ $300.000 ≥ $1.000.000

Proses prioritisasi awal akan dipakai untuk menyaring daftar global proposal Sub-proyek, agar subproyek dapat disertakan dalam jalur IRFF. Semua subproyek yang dikaji untuk prioritisasi perlu tercantum dalam rencana strategis pemerintah kota/kabupaten dan propinsi, serta memenuhi persyaratan eligibilitas (lihat atas). Prioritas subproyek akan dipakai untuk menentukan waktu pemrosesannya. Subproyek yang memenuhi syarat dalam tingkat prioritas seperti jumlah penerima manfaat dan potensi kecepatan dari implementasi, dapat dipertimbangkan juga.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 16 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kriteria Eligibilitas dan Jadual Pelaksanaan
Prioritas Kebutuhan Sosial, Ekonomi, Komunikasi atau lainnya Hambatan Lingkungan, sosial, pembebasan lahan, kesiapan kapasitas lokal Tidak ada Ada beberapa, tapi dapat ditangani dalam jangka pendek Ada beberapa yang belum terselesaikan Tidak ada Tindakan Disain, penilaian perlindungan lingkungan, evaluasi, persetujuan, pelelangan, pemberian kontrak & kontruksi Percepat semuanya Dipercepat Selesaikan semua masalah kecil sebelum persetujuan final, pemberian kontrak & konstruksi. Percepat penilaian. Tentukan terhadap tender kasus per kasus. Tangani tapi tergantung ketersediaan sumberdaya

Tinggi 1 Tinggi 2

Kebutuhan Utama Kebutuhan Utama

Tinggi 3

Kebutuhan Utama

Memenuhi syarat

Memenuhi syarat tapi belum ada kebutuhan/permintaan langsung dari masyarakat lokal

5.

Jadual Pelaksanaan dan Rencana Pengadaan (Procurement)

Susun ringkasan jadual pelaksanaan (termasuk pengadaan, kontruksi dan penyerahan) dalam teks/tulisan dan chart (bagan) yang rinci.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program Lampiran 2A Hal. 17 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Exhibit 2
Period e

: Jadwal Perencanaan, P
2007

Tugas / Tanggung Jawab

Waktu

7 8 9

10

11

12

1

Melakukan seleksi atas proyek-proyek yang diterima dari Bappeda, donors, BRR Pusat and Regional . Membantu Pemda dalam mempersiapkan IIPP/AIP/MYIP: Konsultan PDCS , BRR, LG/PG, Bappeda, Sekretariat Bersama

Sedang berlangsung IIP (2007)

Menyelesaikan daftar subproyek IIPM (subproyek 2007), AIP/MYIP (untuk tahun 2008 dan selanjutnya), menyusun studistudi ringkas sesuai kebutuhan dan mengisi daftar (checklist) Bank Dunia untuk usulan-usulan subproyek dan diserahkan ke PMU/IPM: PDCS Consultants, BRR, LG/PG, Bappeda, Sekretariat Bersama Melakukan penilaian (review) dan persetujuan rencana investasi oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten difasilitasi oleh Konsultan PDCS Melakukan review atas laporan-laporan penilaian/ checklists: PMU/IPM Penyerahan subrpoyek ke Bank Dunia sebagai Rencana Pengadaaan/ Procurement Plan (bagian dari IRFF dalam Laporan Kuartalan / Quarterly Report): PMU/IPM

AIP/MYIP (2008) bervariasi

AIP/MYIP (20

IIP (2007)

1 bulan

AIP/MYIP (2008)

2 minggu

2 minggu

Bank Dunia mereview dan memberikan saran-saran (untuk dilanjutkan ke DED, dst.) Bank Dunia Melakukan review DED dan/atau disain, dengan menggunakan disain standar Indonesia, Ringkasan Disain,Dokumen Tender, Rencana Pengadaan: Konsultan PDCS AMDAL, LARAP dan/atau UKL/UPL jika diperlukan (umumnya antara 1 to 6 bulan): IPM atau Konsultan PDCS Dokumen Anti-korupsi dan isu jender: Konsultan PDCS Melakukan review atas studi-studi / dokumen, penyelesaian Checklist Penilaian Bank Dunia: PMU/IPM

2 minggu
(Program 2007)

( Program 2008

1 - 4 bulan
(Program 2007)

bervariasi: 1 - 8 bulan bervariasi 2 minggu

( Program 20

(Selur

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 18 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Review Bank Dunia, pengesahan Surat Tidak Keberatan (NOL) atas pengadaan / procurement: World Bank Proses Pengadaan (Tender,Evaluasi Tender, Persetujuan Kontrak): CPU/IPM/Panitia Lelang/Pemprov - Pemkab WB melaksanakan review atas proses tender, pemberian Surat Tidak Keberatan/ NOL: World Bank

2 minggu 3 bulan per paket 2 minggu

(Program-program tahun 2008)

Konstruksi dan QA (6 - 18 months): Contractor, PDCS Consultants, IPM/PMU

bervariasi: 6 - 18 bulan 12 bulan

Penyelesaian Subproyek dan Masa Penjaminan (Warantee Liability Period)

Lampiran 2B
PENILAIAN SUBPROYEK
1. Uraian Subproyek
1.1. Jenis proyek, lokasi, dasar pemikiran dan latar belakang Jelaskan jenis proyek,lokasinya, dasar pemikiran tingkat kepentingan, latar belakang dan instansi apa yang akan bertanggung-jawab atas sarana fasilitas jika sudah selesai. Jika subproyek telah diusulkan sebelumnya tapi ditolak, ini harus disebutkan dalam bagian ini. 1.2. Dampak dan Hasil Berikan deskripsi akurat mengenai dampak dan hasil subproyek yang direncanakan. Ini akan dipakai untuk pemantauan dan evaluasi subproyek, dan dalam evaluasi dampak keseluruhan program rekonstruksi. 6. Contohnya, untuk subproyek jalan, dampak dan hasil yang diharapkan dapat dijelaskan: “ ruas jalan akan memberikan akses sepanjang tahun untuk kegiatan ekonomi dan sosial dari sekitar … .. warga penerima manfaat, mengurangi jarak tempuh dari Kota 1 ke Kota 2 sebanyak … .. jam dan biaya perkiraan pengurangan pengapalan sekitar … .. %. 7. Subproyek pelabuhan dapat dijelaskan: Pelabuhan akan memberikan peningkatan akses untuk impor/ekspor dan diharapkan menampung … . Ton muatan kapal per tahun, dan mengurangi biaya transaksi pengapalan sebesar … ..%. 8. Subproyek air bersih dan sanitasi misalnya dapat dijelaskan: “ Subproyek ini akan menyediakan pasokan air bersih 24 jam untuk … .. warga penerima manfaat, … … … usaha kecil dan menengah, dan … industri. Subproyek ini juga akan mengurangi tugas mengambil air bersih yang dilakukan … .. perempuan, rata-rata sebanyak … jam per hari, dan meningkatkan kesehatan masyarakat.”

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 19 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

1.3.

Keluaran (Output) Jelaskan output yang diharapkan dari subproyek. Ini akan dipakai untuk pemantauan dan evaluasi subproyek, dan dalam evaluasi dampak keseluruhan program rekontruksi. 9. Untuk subproyek jalan, output yang diharapkan dapat berupa pembangunan jalan propinsi/kabupaten/desa sepanjang … … km dengan jembatan sepanjang … . Meter, serta fasilitas-fasilitas pendukung.” 10. Untuk pelabuhan, output dapat berupa pembangunan dermaga sepanjang … … … meter, pengerukan sebesar … … meter kubik agar kapal berbobot hingga … . ton dapat merapat secara bersamaan, dengan kapasitas bongkar muat sebesar … . Ton per hari.” 11. Untuk proyek air bersih, output dapat berupa pembangunan instalasi pengolahan air dengan kapasitas … .. liter/detik dan jaringan pipa distribusi utama dan sekunder sepanjang … . Km, dan … . sambungan.”

1.4.

Dasar Justifikasi Subproyek 1.4.1 Eligibilitas dan Prioritisasi Bahas proses seleksi awal untuk subproyek, bagaimana subproyek dapat mendukung target “ Cetak Biru, “dan apakah diusulkan oleh SEKBER dan tercantum dalam rencana pemerintah propinsi atau daerah. Buat ringkasan mengenai kriteria eligibilitas IRFF dan metoda prioritisasi untuk pemilihan proyek, termasuk: • Lokasi geografis (yakni, di 12 pemerintah kabupaten/kota Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Simeulue, Nias, Nias Selatan. • Subproyek-subproyek propinsi untuk rehabilitasi infrasruktur pasca-konflik (masih belum resmi disepakati sebagai memenuhi syarat) • Sektor (jalan & jembatan; air bersih dan sanitasi; drainase dan pengendalian banjir; perlindungan pantai; dan perbaikan saluran irigasi utama); dan • Biaya (misalnya, proposal kabupaten paling tidak harus senilai US$ 300.000 dan subproyek propinsi palingtidak US$ 1 juta). 1.4.2. Analisis Teknis Bahas perhitungan teknis yang telah dibuat pada tahap studi kelayakan, dan disain standar yang dipakai serta parameter dasar yang menjadi dasar kelayakan dan disain akhir, seperti diusulkan termasuk cara menentukan parameter. (misalnya, penilaian saat ini dan kebutuhan yang akan datang). Jika alternatif dipertimbangkan, maka bahas alternatif ini dan alasan alasannya untuk seleksi akhir. 1.4.3. Finansial dan Ekonomi Subproyek memerlukan penilaian ekonomi dan finansial, tapi persyaratan rinci berbedabeda antara donor dan Perjanjian Hibah (Grant Agreement) meminta agar konsultan IPM IREP untuk mengusulkan kriteria yang memuaskan bagi IDA dan Instansi Mitra Dana. Penilaian finansial untuk semua subproyek harus mencantumkan paling tidak analisis biaya dan penyusunan rencana pembiayaan untuk investasi dan pengoperasian. Keduanya ditentukan dalam Perjanjian (5b&c).

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 20 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Subproyek untuk penghasil pendapatan juga memerlukan analisis Tingkat Internal Pengembalian Finansial (FIRR), yang membandingkan perkiraan biaya dan pendapatan. Namun untuk IRFF ini, digantikan oleh persyaratan bahwa Pemda yang bertanggung-jawab bersedia membiayai defisit operasi dan pemeliharaan. Jika Pemda berpendapat bahwa pendapatan neto tidak memungkinkan untuk melakukan hal ini, maka Pemda harus (a) menunjukkan ini melalui analis perkiraan biaya dan pendapatan; (b) mendapatkan dan menyepakati sumber pendanaan alternatif. Penaksiran kuantifikasi ekonomi memakan banyak waktu, karena menyertakan shadow pricing dan perkiraan manfaat ekonomi. Mengingat sifat mendesak dari failitas ini, PAD IRFF meminta hanya bahwa analisis ekonomi subproyek harus menyertakan penyaringan cepat. Ada tiga alasan lain mengapa penilaian quantifikasi tidak perlu dlaksanakan. Alasan ini adalah: • Ukuran atau nilai: BankDunia sebelumnya menyetujui bahwa subproyek kecil dengan nilai kurang dari US$ 250.000 memerlukan penilaian hanya untuk verifikasi bahwa subproyek ini mewakili prioritas Pemda dan mengikuti standar perencanaan/disain nasional dan biaya unit. Paket subproyek-subproyek untuk IRFF minimal harus senilai US $ 300,000. Namun, persyaratan ukuran untuk analisis ekonomi berkaitan dengan subproyek, jadi misalnya dua subproyek senilai US$ 200.000 dalam satu paket senilai US$ 400.000 tidak memerlukan penaksiran yang memakai kriteria ini. • Penggantian: Jika subproyek untuk mengganti sarana sebelumnya, yang diperhitungkan layak menurut studi kelayakan atau menurut pemanfaatannya, maka diasumsikan kelayakan ekonomi sudah ada. • Pengalihan Manfaat: Jika subproyek yang diusulkan hampir sama dengan subproyek yang sudah ada dan terbukti layak, maka subproyek ini dapat dianggap mempunyai benefit yang sama (hal ini sudah digunakan oleh Bank Dunia untuk justifikasi proyekproyek jalan dan lingkungan di Indonesia). Sebagian besar atau mungkin semua proyek yang didanai IRFF akan masuk dalam salah satu dari kelompok-kelompok ini, jadi tidak memerlukan penaksiran kuantifikasi ekonomi. Hal yang sama juga berlaku bagi subproyek lain yang didanai BRR. Persyaratan untuk subproyek selanjutnya yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah perlu ditentukan nilainya bersama lembaga pendanaan terkait. Mungkin akan ada subproyek IRFF yang terlalu besar atau terlalu mahal untuk ditangani menurut yang disebutkan diatas. Dalam beberapa hal, mungkin sudah disusun analisis kuantifikasi. Untuk lainnya beberapa model telah dikembangkan misalnya dari model IUIDP yang dapat diperbaharui dan dipakai. Jika konsultan PDCS merasa perlu bahwa subproyek seperti ini memerlukan bantuan atau keputusan, maka pihak yang mengajukan harus menghubungi IREP dan/atau Bank Dunia. Perlindungan Lingkungan dan Sosial Dampak sosial dan lingkungan proyek harus dievaluasi sesuai prosedur standar dari pemerintah Indonesia. Hasil evauasi harus dijelaskan dalam bagian ini. Klasifikasi lingkugan subproyek harus dicantumkan beserta alasan evaluasi. Pertimbangan lingkungan khusus atau langkah penanganan yang dirancang untuk proyek harus dijelaskan. Lingkup konsultasi masyarakat dan penaksiran kebutuhan/permintaan masyarakat untuk proyek, juga harus dijelaskan. Masalah penduduk suku asli atau jender perlu dibahas dan cara penanganan masalah ini oleh subproyek. Kebutuhan dan status lahan perlu dibahas.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 21 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

AMDAL dan penaksiran dampak sosial atau LARAP perlu diserahkan ke BRR dan Bank Dunia jika sudah selesai.

Lingkungan Sesegera mungkin setelah disain pendahuluan, penyokong subproyek dan/atau konsultan PDCS harus menghubungi BAPEDALDA di tingkat propinsi untuk pertemuan penyaringan awal. Untuk memastikan bahwa tingkat penyaringan sudah tepat, maka setiap penyokong proyek harus merencanakan presentasi bersama Tim Teknis BAPEDALDA dan membahas tingkat penaksiran yang akan diperlukan. Secara umum, ada saran dalam Peraturan MKLH No. 308 yang menetapkan batasan UKL/UPL atau AMDAL Namun dalam banyak hal tingkat dampak proyek perlu penjelasan tambahan untuk Tim Teknis. Ini harus berarti bahwa jumlah AMDAL harus dibatasi karena sebagian besar proyek adalah pengganti dari yang ada sebelum bencana. Dalam banyak hal, UKL/UPL harus mencukupi dan mencantumkan rencana manajemen lingkungan yang spesifik yang melengkapi informasi seperti umumnya dalam UKL/UPL.

Perlindungan Sosial Pembebasan Lahan dan Relokasi Penduduk Jika proyek memerlukan keterangan penting mengenai pembebasan lahan dan relokasi penduduk, maka diperlukan LARAP deserhana dan lengkap. LARAP lengkap, yakni lebih dari 40 Kepala Keluarga (KK) atau 200 orang yang terkena dampak subproyek. Terkena dampak disini berarti orang yang terkena dampak akan kehilangan lebih dari 10% aset dan sumber penghidupannya. LARAP sederhana, yakni kurang dari 40 KK atau 200 orang. Jika ada kemungkinan tingkat atau posisi yang signifikan yang tersedia bagi pemerintah daerah melalui Konsultan PDCS, perlu menginformasikan ke Bank Dunia, dan ajukan permohonan untuk dibantu konsultan. Idealnya, ini harus dilakukan selama fase perencanaan strategis, agar Pemda dapat mengalokasikan anggaran yang mencukupi untuk orang-orang yang akan menerima ganti rugi. Kontruksi tidak boleh dimulai sampai ada kejelasan bahwa semua ganti rugi yang disepakati telah dibayar. • Penduduk Asli • Jender Bagian ini harus menyebutkan juga bahwa kontraktor diminta melaksanakan pekerjaannya dengan mengikuti kriteria manajemen lingkungan yang dicantumkan dalam spesikasi kontrak. IPM mempunyai satu set contoh spesifikasi manajemen lingkungan untuk kontrak pekerjaan sipil, yang dipakai PDCS untuk menyusun dokumen tender.

Operasi dan Pemeliharaan Pengaturan operasi dan pemeliharaan (termasuk kepemilikan aset) dan persyaratan untuk subproyek harus dijelaskan dalam bagian ini. Perkiraan biaya tahunan untuk O&M harus dihitung dan dasar perhitungannya dijelaskan juga, serta cara memenuhi biaya ini (misalnya, melalui anggaran berjalan Pemda, tarip, atau kombinasi dua sumber ini). Untuk tarip, perkiraan tarip yang diperlukan untuk kelayakan ekonomi dan finansial (yang meliputi biaya amortisasi modal tahunan dan biaya O&M) harus dibahas (tingkat diskon yang dipakai untuk perkiraan tersebut). Aspek Khusus

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 22 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Jelaskan aspek-aspek khusus mengenai sifat mendesak proyek, hubungan dengan subproyek lain, sejarah tersendiri, dll. Dan apakah ada risiko luar biasa yang terkait dengan subproyek.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 23 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

2. Perkiraan Biaya dan Rencana Pembiayaan
2.1 Perkiraan Biaya Rinci Buat ringkasan mengenai perkiraan biaya dalam teks, dengan memakai tabel sederhana yang menunjukkan biaya pertukaran mata uang asing dan nasional, secara terpisah dalam Rupiah (dengan nilai tukar disebutkan). Perkiraan biaya rinci harus dilampirkan. Umumnya, perkiraan biaya yang berdasarkan disain teknis rinci harus mempunyai kontingensi fisik sebesar 5%. Jika ada jaminan untuk kontingensi fisik tambahan, maka ini harus dijelaskan dan dicantumkan dalam perkiraan biaya (misalnya, pekerjaan di laut mungkin memerlukan kontingensi fisik lebih tinggi). Kontingensi biaya yang memperhitungkan inflasi dan nilai tukar harus diperkirakan berdasarkan tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan yang dikontrakan. Perkiraan biaya harus ditunjukkan dalam mata uang nasional, juga biaya langsung/tidak langsung terhadap pertukaran mata uang. Jika rincian ini tidak ada, maka biaya lokal sebesar 70% dan 30% biaya tidak langsung dari pertukaran mata uang asing dapat dipakai untuk pekerjaan sipil (lihat Exhibit 2.1 dibawah). 2.2 Rencana Pembiayaan Rencana pembiayaan harus menunjukkan persentase pembiayaan dan sumbernya untuk perkiraan biaya. Untuk IRFF, rencana pembiayaan umumnya 70% dari BRR dan 30% dari Proyek IRFF, untuk semua biaya termasuk pajak. Namun persentase relatif ini dapat berubah dalam tahap belakangan, jika otoritas memberikan kontribusi pembiayaan subproyek. Jika persentase dan sumber berbedabeda antar komponen (atau kontrak), maka tunjukkan persentase relatif masing-masing dan ringkasan keseluruhan rencana pembiayaan. Exhibit 2.1 Contoh Tabel Biaya dan Pembiayaan Subproyek Perkiraan Biaya Subproyek Item Biaya Dasar Proyek Kontingensi fisik Kontingensi harga Subtotal Biaya Dasar Pajak Pertukaran Mata Uang (5% untuk disain rinci) (sekitar 10%) (10%) (perkiraan porsi 30/70 asing/nasional) 37,95 Rencana Pembiayaan Subproyek (pakai porsi 30/70 Bruto Neto dipisahkan BRR/IRFF) IRFF 37,95 37,95 BRR 88,55 88,55 Total 126,5 126,5 88,55 5 10 115 11,5 Biaya Lokal Biaya Total 100

Total

126,5

* Porsi IRFF lebih kecil (30%) dari PPN 10% yang tidak dikenakan.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 24 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Lampiran 2C
Daftar Penilaian Bank Dunia/IPM
Infrastructure Reconstruction Financing Facility (IRFF) Didukung dengan Dana Multi Donor (MDF) Daftar Penilaian Subproyek dan Formulir Persetujuan
Nama Proyek: Nomer Proyek: Sektor: Lokasi: Mitra: Total Biaya: Rupiah Rencana Pembiayaan Rupiah BRR MDF Lainnya ( Total Biaya Subproyek Daftar 1. 2. 3. 4. Latar Belakang & Tujuan Proyek Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.1 & 2 Uraian Rinci Proyek Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.1, 2 & 3 Pengaturan pelaksanaan, instansi pelaksana: jelaskan Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 3 Apakah subproyek memenuhi batasan geografis dan minimum biaya proyek sesuai syarat IRFF? Jika tidak, apakah Surat Tidak Keberatan (NOL) telah diperoleh dari Bank Dunia? Jelaskan. Dari Prosedur Operasional Standar (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.1 Apakah laporan Studi Kelayakan Teknis dan Disain Teknis Rinci (DED) terbukti memuaskan? Jika tidak, langkah apa yang diusulkan? Dari Prosedur Operasional Standar (SOP), Lampiran 2B bagian 1.4.2 Disain/metode alternatif apa yang dipertimbangkan? Apakah analisis finansial dan/atau ekonomi sudah mendukung kebenaran proyek dan pilihan? Jika tidak, langkah apa yang diusulkan? Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.3 Apakah konsultan PDCS setuju kalau biaya terkecil yang dipilih? Apakah sudah disusun rencana pembiayaan investasi (FP)? Apakah FP mencantumkan pembiayaan dari sumber selain IRFF/BRR? Jika ya, apakah sudah ada perjanjian tertulis? apakah penilaian kuantifikasi ekonomi sudah disusun? Jika ya, berapa EIRRnya? Jika tidak, apa dasar pemikirannya: a. - terlalu kecil? b. - hanya penggantian? c. - pengalihan manfaat? Jika ya, dbandingkan dengan apa (sebutkan EIRR dan sumbernya)? Memuaskan Ya Tidak ) US$
Nilai Tukar: US 1 =

US$

Rupiah
Tanggal Estimasi Biaya

5.

6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 25 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20. 21. 22.

23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30.

31.

32.

Ya Tidak d. - IRFF? Jika ya, berikan penjelasan secara kualitatif Waktu yang diusulkan untuk kontruksi (lihat juga Program Bar Chart Proyek yang rinci) Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 3 Tanggal Mulai: Tanggal Selesai: Status dan dokumentasi pemerintah daerah dan keterlibatan serta penerimaan masyarakat: apakah proyek disetujui dan tercantum dalam Rencana Investasi Pemda kabupaten/kota atau propinsi? Jika tidak, jelaskan alasannya, dan langkah alternative yang diusulkan dan waktunya. Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.1 Jelaskan Tanggung-jawab Penyiapan Proyek kesiapan pelaksanaan, apakah Studi Kelayakan dan terbukti lengkap? Jika TIDAK, jelaskan usulan untuk penyelesaian subproyek. Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.1 Apakah semua pemetaan, lokasi dan penyeledikan tanah, serta DED lengkap, dengan kualitas yang sepenuhnya dapat diterima, dan disetujui sesuai praktek terbaik dan peraturan perundang-undangan Indonesia? Jika TIDAK, apa yang masih diperlukan, oleh siapa, kapan,sumber pendanaan, dan factor-faktor lain? Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.2 Ringkasan Rencana Pengadaan dan prosesnya, termasuk jumlah serta jenis-jenis kontrak, dan waktu. Apakah dokumen tender yang komprehensif dan dapat diterima sudah selesai, dikaji dan disetujui oleh BRR/klien? Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 3 Apakah dokumen tender sudah selesai dan, jika diperlukan, apakah dokumen tender sudah mendapatkan Surat Tidak Keberatan (NOL) dari hasil pre evaluasi Bank Dunia?. Jika TIDAK, langkah apa yang diperlkukan, oleh siapa dan kapan? Apakah Satker sudah ditunjuk? Nama Satker: Pengaturan Manajemen Kontruksi dan Pengawasan Lapangan: jelaskan pengaturan, status dan sumber pendanaan. Apakah ini memuaskan? Pengaturan Operasi dan Pemeliharaan, termasuk Kepemilikan Aset, komitmen finansial untuk operasi dan pemeliharaan, pengaturan Transisi: jelaskan pengaturan, apakah sudah memuaskan? Jika TIDAK, jelaskan langkah dan waktu untuk mengatasi kelemahan ini. Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.5 Apakah perkiraan biaya operasi dan pemeliharaan (O&M) sudah dihitung? Apakah perkiraan O&M disetujui oleh konsultan terkait dari PDCS dan dibahas bersama pemerintah daerah? Apakah O&M akan dibiayai pihak pengguna? Apakah kesediaan membayar (willingness to pay) dari pengguna untuk membayar telah didukung dengan survei? Apakah Pemda setuju secara tertulis untuk membiayai kekurangan O&M? Jika tidak, apakah Pemda mempunyai dasar pembenaran untuk ini melalui perkiraan biaya mereka sendiri? Demikian juga, apakah Pemda telah mengatur dan menyepakati sumber alternatif? Apakah parameter Pemantauan & Evaluasi (M&E) yang dapat diterima telah dikembangkan? Jelaskan. Jika TIDAK, jelaskan waktu dan usulan untuk mengembangkan ini. Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.2,3 Perlindungan Lingkungan: apakah persyaratan Lingkungan sudah dipenuhi? Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.4 31a. Bagaimana kategori penilaian Bapedalda? 31b. Apakah persyaratan Bapedalda telah dipenuhi? Jika TIDAK, jelaskan langkah yang diperlukan untuk memenuhinya, dan waktunya/kapan. Perlindungan Lingkungan: apakah persyaratan Sosial/Lahan telah dipenuhi? Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.4 32a. Apakah LARAP diperlukan? (YA/TIDAK)

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 26 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Ya 32b. Jika YA, apakah LARAP sudah disusun? (lihat lampiran 8 dalam PAD) YA/TIDAK 32c. Jika diperlukan, tapi belum disusun, jelaskan usulan dan waktu untuk menangani ini. 33. Apakah proyek akan mempengaruhi peninggalan budaya atau sejarah? Jika ya, jelaskan. 34. Risiko: Apakah ada risiko-resiko tidak biasa? Jelaskan Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.4.6 35. Pengajuan Sebelumnya: apakah proyek pernah diajukan sebelumnya ke IRFF untuk disetujui? Jika ya, sebutkan tanggal pengajuan dan jelaskan langkah-langkah yang sudah selesai, dan tegaskan isinya Dari Prosedur Standar Operasional (SOP), Lampiran 2B Bagian 1.1 36. Komentar tambahan Kami sarankan subproyek ini masuk kategori: Prioritas Tinggi 1 Prioritas Tinggi 2 Prioritas Tinggi 3 Memenuhi Syarat

Tidak

PDCS

WAKIL PEMDA

WAKIL BRR DI LAPANGAN

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 27 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Lampiran 2D
Formulir Persetujuan Keuangan
Infrastructure Reconstruction Financing Facility (IRFF) Didukung oleh the Multi Donor Fund (MDF) Formulir Persetujuan Keuangan
Nama Proyek: Nomor Proyek: Disetujui dan diserahkan oleh BRR untuk Dana IRFF

BRR: Tanggal: Dinas atau Instansi Terkait

_______________________________ (nama & jabatan)

Instansi Dinas Terkait: Tanggal:

_______________________________ (nama & jabatan)

Dikaji oleh Bank Dunia untuk Pengajuan Dana IRFF Kesimpulan: (pilih salah satu dibawah ini)

A: Tidak ada keberatan (No Objection) untuk pendanaan melalui IRFF, yang mengacu pada kondisi-kondisi Kesepakatan Hibah (Grant Agreement); B: Layak untuk pendanaan melalui IRFF, namun perlu penyelesaian langkah berikutnya (lihat dibawah) berdasarkan Kesepakatan Hibah. Penilaian lebih lanjut tidak diperlukan. C: Layak untuk mengajukan pendanaan IRFF, namun perlu ada beberapa hal yang perlu dilengkapi sesuai Kesepakatan Hibah. Penilaian lebih lanjut diperlukan. Tidak layak untuk Pendanaan IRFF.

Bank Dunia: Tanggal:

_______________________________ (nama & Jabatan)

Penyelesaian dan/atau pemberian komentar atas langkah tambahan (apabila ada); dijelaskan secara rinci dengan beberapa tanggal jatuh tempo.

Disetujui oleh BRR

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 28 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

BRR: Tanggal:

____________________________ (nama & Jabatan)

Persiapan Pertanggung Jawaban Tim Penilai BRR:

BRR: Tanggal:

_______________________________ ( nama & Jabatan)

Tim Penilai Bank Dunia:

BRR: Tanggal:

_______________________________ (nama & Jabatan)

Informasi tambahan yang diperlukan perlu disediakan dapat berupa informasi atau lampiran. Apabila Lampiran tidak dicantumkan, sumber dan lokasi data perlu untuk dicantumkan.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 29 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Yang diperlukan: 1. 2. 3. 4. 5. Penjelasan Rinci Subproyek dan Biaya Subproyek (hal ini termasuk Studi Kelayakan, Laporan Akhir Desain, Laporan Biaya, dan laporan-laporan yang terkait lainnya). Bagan implementasi Subproyek yang menunjukkan waktu kegiatan, dan Rencana Rinci Pengadaan. Pengaturan Operasional & Pemeliharaan, komitmen, dan biaya. Perlindungan Lingkungan dan Sosial, termasuk perolehan lahan (meliputi; EA, LARAP, dan laporan-laporan terkait lainnya). Rencana Persiapan Proyek, Managemen Kualitas, dan Supervisi Konstruksi.

Tambahan: 1. 2. 3. Fitur khusus mengenai Sosialisasi dan Peran Masyarakat. Analisa Keuangan dan Ekonomi, apabila tidak tercantum dalam laporan studi kelayakan. Lampiran lainnya yang diperlukan.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 30 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Lampiran 2E
MEMO KESEPAKATAN SUBPROYEK NO. _______ DISUSUN OLEH DAN ANTARA BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI (BRR) UNTUK DAN ATAS NAMA PEMERINTAH INDONESIA (GOI) DAN NAMA PENYOKONG (SINGKATAN PENYOKONG) DAN NAMA PENERIMA (SINGKATAN PENERIMA)
Kode Subproyek Nama Subproyek Lokasi Subproyek Penerima : _____ : ____________________ : Kecamatan _____, _______ (Kabupaten or Kota), _______ Propinsi : __________, Propinsi __________

Penyokong Subproyek : __________ Durasi Subproyek : _____-bulan untuk konstruksi ditambah _____-bulan masa penjaminan Biaya Subproyek : _____ juta Rupiah (sekitar _____ US$) DIMAKLUMATKAN DENGAN INI BAHWA: Memo Kesepakatan ini yang selanjutnya disebut “ Kesepakatan”ditanda-tangani dan dilaksanakan pada hari ___ tanggal ______ tahun oleh dan antara: Badan Rehabilitasi and Rekonstruksi (BRR), dengan dana pendamping dari Pemerinah Indonesia serta Dana Multi Donor (MDF) untuk Aceh dan Sumatera Utara (MDF) dalam Perjanjian Nomer TF056894 tertanggal 13 Juli 2006, yang beralamat di Jalan Ir. Muhammad Thaher No. 20, Lueng Bata, Banda Aceh dan diwakili oleh _________ (jabatan), ___ (nama) yang selanjutnya disebut “ BRR” , -dan__________ (nama Penyokong), yakni sebuah instansi yang dibentuk berdasarkan peraturan perundangundangan Pemerintah Indonesia, dengan kegiatan usaha utama di jalan _______ dan diwakili oleh _______ (jabatan wakil) _______ (nama wakil) yang selanjutnya disebut sebagai “ Penyokong” ; -dan__________ (nama Penerima), yakni __________ (tipe entitas) yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan Pemerintah Indonesia, dengan kegiatan usaha utama di jalan _______ dan diwakili oleh _______ (jabatan wakil) _______ (nama wakil) yang selanjutnya disebut sebagai “ Penerima” MENYATAKAN bahwa: MENGINGAT ketentuan dalam kontrak diatas, bahwa BRR setuju untuk menyediakan __________________________________________________________ (jelaskan hasil utama pekerjaan) di

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 31 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Kabupaten __________, Kota __________, Propinsi __________ (yang selanjutnya disebut sebagai “ Subproyek” dan menyerahkannya ke Penerima, dan ) MENIMBANG, bahwa BRR, Penyokong, dan Penerima berkeinginan menetapkan ketentuan dan kondisi untuk pelaksanaan Subproyek ini. DENGAN INI MEMUTUSKAN, untuk dan dengan mempertimbangkan dasar pemikiran diatas dan perjanjian antara masing-masing pihak diatas, semua pihak menyepakati berikut ini: Uraian Subproyek Subproyek akan _______________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ II. Tujuan 1. Untuk _____ (cantumkan dengan benar); 2. Untuk _____ (cantumkan dengan benar); 3. Untuk menyediakan akses yang lebih baik ke sumberdaya pemerintah dan swasta demi kesejahteraan penduduk jangka panjang warga penghuni; 4. Untuk memberikan kesempatan kerja jangka pendek pada paling tidak ________ penduduk kabupaten (atau entitas lain); dan 5. Untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut. III. Target Penerima-manfaat Subproyek diharapkan memberikan manfaat bagi _____ keluarga penduduk Kabupaten ______. Banyak warga terkena dampak tsunami 2004 (ubah sesuai keperluan).

IV. Kontribusi Berikut ini adalah kontribusi masing-masing dari tiga pihak tersebut diatas untuk pelaksanaan Subproyek: A. BRR wajib:
§ Menugaskan Konsultan Perencanaan, Disain dan Kontruksi (PDCS) untuk menyusuan disain pekerjaan dan mengawasi kegiatan kontruksi yang dilaksanakan kontraktor untuk _______ (cantumkan dengan benar); Mendapatkan persetujuan lingkungan dari BAPEDALDA; Mengadakan kontraktor untuk meningkatkan ___________ (cantumkan dengan benar); dan Mengadakan kontraktor untuk membangun ___________ (cantumkan dengan benar).

§ § §

B. Penyokong wajib:

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 32 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

§ § § § §

Mendapatkan ijin pemerintah yang diperlukan; Melakukan tindakan pengamanan yang diperlukan untuk kelancaran dan keamanan pelaksanaan pekerjaan kontraktor, petugasnya, tempat kerja, peralatan dan bahan; Melepaskan hak royalti atas sumber daya/material lokal, pasir dan bahan campuran, sebagai bagian dari kontrbusi pendampingnya (lengkapi kausal ini jika diperlukan); Menyelesaikan semua tuntutan atas Daerah Milik Jalan, dan tidak membebankan tanggung-jawab atas pembayaran Daerah Milik Jalan ke BRR, MDF atau kontraktor. Memastikan pelaksanakan langkah perbaikan lingkungan seperti ditetapkan dalam sertifikasi persetujuan lingkungan BAPEDALDA (ubah dengan benar).

C. Penerima wajib: § § Menyiapkan tempat Subproyek untuk kegiatan kontruksi; dan Bertanggung-jawab atas operasi dan pemeliharaan Subproyek yang sudah selesai dan sudah diserahkan ke Penyokong dan Penerima.

V. Operasi, Pemeliharaan dan Keberlanjutan Subproyek _____ (nama Penyokong dan Penerima) wajib menyediakan Rp. ___ per tahun untuk pemeliharaan rutin bagi sarana pendukung hasil Subproyek. . VI. Perkiraan Biaya Subproyek dan Kontribusi Pendamping: Item Uraian Survei topografis dan penyelidikan geoteknis Layanan Disain dan Supervisi Kontruksi Buat daftar komponen subproyek dengan benar Penerima (__Nama) Penyokong (__Nama)

BRR

Nilai (Rp.)

%

1 2 3 4 5 6 7 8

TOTAL BIAYA SUBPROYEK Pemeliharaan dan Perawatan Persentase

100

Dipahami bahwa Perkiraan Biaya Subproyek diatas hanya bersifat indikatif, tergantung penyusunan perkiraan akhir biaya dan hasil pelelangan kompetitif.
VII. Hak MDF

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 33 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

MDF, diwakili oleh Bank Dunia, adalah sumber pendamping untuk dana Subproyek dan karena itu mempunyai hak-hak tertentu sesuai Memo Kesepakatan ini. Meliputi fasilitas bebas pajak dan akses untuk mendapatkan semua catatan yang terkait dengan kontruksi serta operasi dan pemeliharaan Subproyek. BRR adalah instansi pelaksana Subproyek. VIII. Penghentian

BRR berhak menghentikan secara sepihak Kesepakatan ini setiap waktu, melalui surat pemberitahuan tertulis yang berlaku 15 hari untuk Penerima dan Penyokong. Kesepakatan ini dapat dihentikan, seluruhnya atau sebagian, atau pembayaran ditangguhkan, jika keadaan berikut ini terjadi:
A. BRR tidak menyetujui mutu kontruksi hasil Subproyek; B. Penolakan atau ketidak-mampuan Penerima atau organsasi pendamping lain untuk menyediakan sumberdaya pendamping secara tepat waktu sesuai yang disepakati oleh wakil resminya; C. Penolakan atau ketidak-mampuan Pemerintah Daerah (atau organisasi lain yang benar) untuk menyediakan keamanan yang memadai bagi staf BRR dan pemasok, Kontraktor dan petugas pemantauan Bank Dunia, seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Hibah; dan D. Korupsi, pemerasan, penipuan atau tindakan melanggar-hukum lainnya. IX. Laporan Penerima akan menyerahkan semua laporan yang diperlukan akibat Kesepakatan ini, ke BRR dengan alamat berikut ini: Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Ir. Muhammad Thaher No. 20 Lueng Bata Banda Aceh, Indonesia Tel. No. 0651 - 636666 Fax No. 0651 - 637777 MASA BERLAKU. Memo Kesepakatan ini berlaku langsung setelah ditanda-tangani oleh PihakPihak tersebut diatas dan akan tetap berlaku sampai penghentian oleh semua Pihak. DENGAN KESAKSIAN INI, pihak-pihak tersebut dibawah ini menanda-tangani pada tanggal dan tempat tersebut diatas: Infrastructure Reconstruction Enabling Program Oleh: Wakil BRR Jabatan Wakil BRR Tanggal: Nama Penyokong Nama Penerima

Wakil Penyokong Jabatan Wakil Tanggal:

Wakil Penerima Jabatan Wakil Tanggal:

Disaksikan oleh:

Disaksikan oleh:

Disaksikan oleh:

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 34 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

NAMA Jabatan Saksi Tanggal:

NAMA Jabatan Saksi Tanggal:

NAMA Jabatan Saksi Tanggal:

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 35 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

PENGAKUAN [Pemerintah Indonesia] _____________________________ . . . . . .]

S.S X - - - - - - - - - - - - - - - - - -X

DIHADAPAN SAYA, Notaris Publik untuk dan di __________________ pada hari ini tanggal ________ bulan __________, 200__ secara pribadi dihadapan:

NAMA 1) Nama Wakil BRR 2) Nama Penyokong 3) Nama Penerima

NOMER KARTU IDENTITAS

TANGGAL DIKELUAR KAN

TEMPAT DIKELUAR KAN

yang saya ketahui sebagai orang yang sama yang menanda-tangani kesepakatan diatas, mengakui bahwa orang-orang tersebut bertindak tanpa-paksaan dan sukarela dan atas nama kantor-kantor yang mereka wakili. Kesepakatan ini terdiri dari _____ (_____) (jumlah halaman) yang masing-masing ditandatangani oleh pihak-pihak tersebut diatas dan saksinya. DENGAN PENGAKUAN INI, saya menanda-tangani dan membubuhkan stempel notaris.

Dokumen No. _______ Halaman No. _______ Buku No. _______ Seri 200___

Lampiran 1. (cantumkan dengan benar) misalnya, keputusan dewan, surat kuasa departemen, dll.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 36 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Lampiran 2F

Proyek-Proyek untuk Rencana Investasi Tahunan
Tanggal :

No

Uraian Paket Pekerjaan
GRAND TOTAL

Volum e

Satua n

Lokasi (Kab/kota) Biaya

Sumber Dana dan Perkiraan Biaya (Rpx1000) IRFF (MDF) Funding Kabupaten/ Provinsi Pinjaman Kota Pendamping MDF

Hib

I

JALAN DAN JEMBATAN

II

PELABUHAN dan TRANSPORTASI LAUT

III

SUMBER DAYA AIR Irigasi

Pengamanan Pantai

Pengendalian Banjir

IV

AIR BERSIH DAN SANITASI Air Bersih

Persampahan

Drainase

Air Limbah

Catatan: Berdasarkan hasil konsultasi dengan Pemprov/Pemkab/BRR, konsultan PDCS memodifikasi format sesuai kebutuhan dalam mengakomodasikan sumber-sumber dana yang layak sektorsektor sub-proyek yang sesuai dengan sumber dana yang ada.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 37 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Lampiran 3A
LAPORAN RINGKASAN DISAIN
1. Parameter Perencanaan

Meringkas parameter dasar perencanaan yang digunakan, dasar perhitungan, asumsi, dan beberapa proyeksi yang digunakan dalam perencanaan.

2.

Standar Perencanaan 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 Standar perencanaan yang digunakan Kekuatan material yang digunakan (beton 28 hari, dll.) Parameter Gempa bumi dan beban bergerak. Baku mutu kualitas air yang digunakan untuk proyek penyediaan air bersih. Standar pembuangan limbah yang digunakan dalam proyek sanitasi.

3.

Penyelidikan Geoteknik 3.1 Ringkasan penyelidikan (termasuk jumlah/jarak antara/kedalaman contoh uji, hasil uji laboratorium pada sample tanah, dll). 3.2 Nota perencanaan perancangan, pondasi dan drainase tertutup. 3.3 Studi terkait pesisir dan gelompang untuk perencanaan struktur pelabuhan dan pengamanan pantai. 3.4 Penilaian kualitas air.

4. Penyelidikan Hidrologi dan Hidrolika 4.1 Ringkasan laporan hidrologi (tanggal, pengamatan perencanaan penanggulangan banjir dan period ulang, dll.) 4.2 Studi Hidrolika analisis penggerusan dan pengalihan 4.3 Studi drainase pada potongan jalan raya. 5. Nota Perencanaan 5.1 Ringkasan pelaksanaan survai 5.2 Jangka waktu dan biaya survai 6. Catatan Rancangan

Nota perencanaan yang menggambarkan perhitungan dan asumsi untuk perencanaan struktur.

LAMPIRAN 4C

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 38 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Daftar Tugas Kontraktor QA/QC
Kegiatan Merencanakan kontrak harga satuan • • • Tugas QA / QC Kontraktor Memonitor rencana/disain dan gambar di lokasi proyek. Hanya menggunakan gambar yang telah disetujui untuk konstruksi. Menyediakan ke Konsultan PDCS rincian dan tanggal penyelesaian berikut sertifikat pabrik dan kalibrasi yang disyaratkan atau memperoleh sertifikat dari sebuah laboratorium yang layak Menjaga peralatan dalam kondisi baik dan mengkalibrasinya jika diperlukan. Melakukan pengujian-pengujian material. Menyerahkan laporan hasil uji kepada Konsultan PDCS berikut laporan bulanannya. Memonitor catatan hasil uji. Mencatat jenis-jenis material yang ada di lokasi. Memberitahukan ke Konsultan PDCS secara tertulis tanggal pengajuan penolakan barang dari lokasi proyek serta mengkonfirmasikannya kembali setelah barang tersebut benar-benar dikeluarkan. Mencatat penggunaan barang setiap hari pada Catatan Penggunaan Barang berikut mencantumkan jumlah terakhir untuk keperluan kontrak ICB. Menyediakan rincian serta tanggal mobilisasi berikut sertifikat asuransinya ke Konsultan PDCS Menjaga peralatan dalam kondisi yang baik. Memberitahukan kepada Konsultan PDCS secara tertulis, kapan konstruksi akan dilaksanakan berikut jenis aktifitas usulan yang diambil. Memberitahukan Konsultan PDCS pekerjaan-pekerjaan kritis, seperti pengecoran beton, pembuatan tanggul, pembuatan trotoar, penanaman perpipaan dan penyambungan pipa, pengujian, dll yang akan dilaksanakan berikut sertifikat pengujian material yang diajukan untuk digunakan dalam proyek. Tidak ada kegiatan kritis yang dapat dimulai sebelum sertifikat pengujian material diketahui dan disetujui oleh Konsultan PDCS. Menyediakan QA/QC yang layak. Memonitor catatan harian.

Uji coba laboratorium beserta alatnya

• Pengujian bahan-bahan material • • • Bahan-bahan material yang ditolak • •

Penggunaan bahan-bahan material

Peralatan konstruksi

• •

Konstruksi

• Progres kerja harian •

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 39 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Kegiatan Pengujian kerjaan yang sedang berjalan • • • Jenis-jenis pekerjaan yang ditolak. •

Tugas QA / QC Kontraktor Melakukan pengujian sesuai kebutuhan kontrak. Menyerahkan laporan hasil pengujian kepada Konsultan PDCS. Memonitor laporan hasil uji. Memberitahukan Konsultan PDCS secara tertulis tanggal pengajuan pengeluaran material dari lapangan dan mengkonfirmasikannya kembali setelah material benar-benar keluar. Memperbaiki pekerjaan yang rusak serta mengundang Konsultan PDCS untuk menginspeksinya kembali (apabila disetujui oleh Konsultan PDCS). Mencatat beberapa pesanan, instruksi di lokasi, surat dan catatan rapat yang dikeluarkan oleh PMU dalam catatan instruksi. Mencatat instruksi dalam Buku Pesanan di lokasi. Menyarankan PDCS untuk penyelesaian pekerjaan. Mempersiapkan dan menjaga jadwal subproyek dan menjalankan pekerjaan berdasarkan jadwal yang telah disetujui. Mempersiapkan dan menyerahkan Laporan Bulanan Kemajuan Pekerjaan.

Perbaikan

Instruksi dari PMU

Inspeksi oleh PMU

• • •

Kemajuan penjadwalan dan pengendalian

Pelaporan

Pencatatan

Menjaga beberapa catatan lapangan sebagai berikut: • • • • • • • • • • • • Buku pemesanan barang Catatan perencanaan atau gambar Buku catatan hasil uji Buku catatan instruksi (untuk selalu disimpan, baik oleh Konsultan PDCS dan kontraktor) Gambar-gambar konstruksi yang disetujui Laporan hasil uji Daftar peralatan laboratorium di lapangan Ijin yang dikeluarkan oleh Departemen/Instansi yang terkait Catatan korespondensi Salinan laporan bulanan kemajuan pekerjaan subproyek Catatan-catatan lainnya seperti yang disebutkan dalam kontrak dan/atau di instruksikan oleh PMU Catatan kegiatan pengelolaan lingkungan dalam lokasi konstruksi Apendik 7A

Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 40 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

1. Pendahuluan
Tujuan layanan konsultan IPM adalah untuk membantu BRR dan pemerintah daerah dalam perancanaan strategis dan proses disain pembangunan infrastruktur di Aceh dan Nias, untuk memastikan bahwa proyek dirancang dan dilaksanakan secara berkelanjutan dan memadukan semua kebijakan lingkungan dan sosial dari Bank Dunia / MDF dalam keseluruhan perencanaan dan disain proyek.

Draft strategi lingkungan iini disusun oleh Tim Perlindungan Lingkungan yang merupakan bagian dari Tim Manajemen Program Infrastruktur, untuk mengkonsolidasikan dan menjelaskan Kerangka Manajemen Perlindungan Lingkungan dan Sosial yang telah disepakati MDF dan Pemerintah Indonesia dalam pelaksanaan bantuan IREP dan IRFF. Ada beberapa permasalahan pada periode pendahuluan, yang memerlukan penjelasan dan pemikiran lebih lanjut sebelum menerapkan prosedur dan kebijakan dalam petunjuk pelaksanaan proyek. Tidak diragukan lagi permasalahan selanjutnya akan muncul, tapi draft ini dapat dianggap sebagai dokumen dapat disempurnakan terus-menerus dalam keseluruhan strategi, yang dapat menjadi bagian dari Strategi Peralihan ke Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota.

Setelah pendahuluan singkat mengenai Proyek dan peran BRR (Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi), ada beberapa pembahasan mengenai masalah utama lingkungan. Kemudian diberikan gambaran umum mengenai tujuan penugasan IPM dan pembahasan lebih rinci mengenai aspek-aspek Perlindungan Sosial dan Lingkungan. Beberapa permasalahan penting antara lain: • Kategori penyaringan (screening) • Tempat proyek yang sensitif • Pendekatan kelompok (cluster) AMDAL yang diusulkan • Prosedur pemilihan konsultan yang diusulkan • Proses perlindungan lingkungan dalam kaitannya dengan keseluruhan proyek, yang dirinci menjadi beberapa fase yang berbeda: − Fase identifikasi proyek dan penyaringan − Fase disain dan perencanaan − Fase pelaksanaan 2. Peran BRR Aceh-Nias Pemerintah Indonesia membentuk Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias (BRR Aceh-Nias), badan pemerintah setingkat menteri, sebagai pemimpin untuk pemulihan dengan penekanan pada proses swakarsa masyarakat. Misi utama BRR adalah untuk mengembangkan prosedur operasional standar dan melaksanakan kordinasi, kepemimpinan dan kendali mutu kegiatan yang didanai BRR atau yang sedang berjalan dengan dana dari lembaga donor dan LSM. Walau pada mulanya BRR dimaksudkan sebagai instansi kordinasi kontruksi, tapi badan ini terus-menerus mengalami penguatan kelembagaan dan manajemen untuk rekontruksi – dan pada bulan Desember 2005, badan ini diberi kuasa untuk melaksanakan subproyek rekontruksi melalui pengaturan pengadaan darurat. Kebijakan BRR saat ini adalah melakukan regionalisasi perannya sebagai pelaksana di enam daerah hingga tahun 2008. Perencanaan dan kebijakan, dan fungsi manajemen keseluruhan program tetap ditangani Kantor Pusat di Banda Aceh. Kabupaten dan kota yang masuk wilayah kerja BRR meliputi semua kabupaten dan kota di NAD dan Nias. 3. Lingkup Proyek
Kerusakan infrastruktur akibat tsuami sangat parah di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat. Di kabupaten lain kerusakan akibat gempa bumi paling parah berada di Nias dan Nias Selatan. Unsur utama infrastruktur yaang terpengaruh adalah sanitasi dan air bersih, jalan, pelabuhan, drainase, pembangkit listrik dan penahan gelombang laut, juga infrastruktur yang penting untuk penghidupan masyarakat seperti saluran irigasi dan bangunan pengendali banjir. Infrastruktur air bersih dan sanitasi (instalasi pegolahan air, truk tangki air, jaringan pipa, sumur, truk penyedot, dan instalasi pengolah tinja, jalan, drainasi, penahan gelombang laut dll.) diperkirakan bernilai US$ 35 juta. Baik infrastruktur fisik maupun tenaga masih sangat terbatas sebelum tsunami (tidak ada sistem saluran air limbah dan kurang dari 30% populasi menerima layanan air ledeng). Jadi prinsip membangunan kembali sarana yang lebih baik akan membutukan jauh lebih banyak investasi daripada mengganti sarana yang hilang. Saat ini kebutuhan dasar secara umum sudah dipenuhi, tapi diperlukan penekanan pada pembangunan jaringan yang berkelanjutan, dan pengaturan kelembagaan yang diperlukan untuk operasi dan pemeliharaan investasi sektoral.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 41 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Jaringan transportasi (darat dan laut) juga terkena dampak yang parah disepanjang pantai barat. Sekitar 454 km jalan nasional, propinsi dan kecamatan harus diganti, beserta jaringan jembatan pantai temporer. Selanjutnya, jalan propinsi dan kabupaten sepanjang 2000 km dan 200 jembatan di pulau Nias dan Simelue perlu dibangun kembali, sebagian karena gempa bumi. Pelabuhan utama yang perlu diganti berada di Calang, Meulaboh, Sinabang, Gunung Sitoli, Banda Aceh, dan dua di pantai timur di Lhokseumawe dan Langsa. Banyak sarana nelayan lainnya juga hancur atau rusak sepanjang pantai barat dan sebagian Sabang. 4. Masalah Lingkungan
Pertama-tama, dampak rekontruksi infrastruktur perlu dikaji dalam kontek kondisi lingkungan yang ada, terutama disepanjang Pantai Barat dan di Nias. Penting untuk dipahami bahwa rekontruksi akan membawa dampak pada kondisi lingkungan yang sudah tertekan. Sebaliknya, penting diingat bahwa sebagian besar investasi yang direncanakan sebelumnya adalah untuk mengganti atau memperbaiki sarana ,yang sudah ada sebelum tsunami dan berfungsi kurang dari kapasitas penuhnya akibat prosedur operasional yang kurang optimal dan biaya pemeliharaan yang tertunda dan biaya lingkungan.

Populasi penduduk di banyak daerah telah banyak berkurang akibat tsunami, jadi penting untuk merancang sarana dalam kontek ini. Gangguan pada ekonomi lokal karena konflik di Aceh juga telah mengubah kebutuhan sarana karena meningkatnya angka kemiskinan dan, menuruninya, kemampuan masyarakat membayar layanan. Masalah ini penting dalam memahami mengapa kualitas penyediaan infrastruktur begitu buruk sebelum tsunami. Walau begitu, banyak lingkungan laut dan darat di wilayah pantai rusak parah akibat tsunami. Garis pantai sudah banyak yang berubah, terutama di zona pasang-surut. Terumbu karang banyak terkena dampak limbah padat, endapan lumpur dan tanah liat yang terbawa ombak. Bahan buangan dan lumpur menyumbat saluran. Banyak tanah liat mengotori pantai dan air laut. Di Nias sekitar 250 hektar terumbu karang dilaporkan telah hancur. Dengan hilangnya penahan gelombang laut, terjadi genangan di sepanjang pantai dan timbulnya daerah rawa yang berdekatan dengan permukiman manusia.
Selain itu, harus diakui bahwa kondisi yang ada juga terkena dampak proses rekontruksi yang sedang berjalan sejak 2005, yang sekarang semakin meningkat intensitas dan lingkupnya. Dampak paling penting (yang dianggap sebagai titik tekanan penting) yang diidentifikasi adalah sebagai berikut:

• • • • • • • •

Dampak pembangunan perumahan karena pengambilan bahan baku seperti kayu, pasir, karang dan tanah liat, yang menyebabkan pengaruh berganda pada sifat-sifat air permukaan, geomorfologi pantai, daerah lindung dan daerah aliran sungai; Dampak pembangunan perumahan, yang lebih besar dari kemampuan layanan air bersih dan sanitasi untuk memenuhi permintaan; Limpahan limbah dari tempat pembuangan yang ada, dan pembuatan tempat pembuangan baru tanpa mempertimbangkan lingkungan sekitar; Lemahnya kontrol lingkungan dan standar pembangunan yang terkait dengan kontruksi jalan, menyebabkan timbulnya genangan, longsor dan dampak kontruksi lainnya; Pembalakan liar mendapat legitimasi sosial dengan dalih rekontruksi yang cepat, padahal sebenarnya untuk pasar diluar Aceh; Banjir pasir dan air laut yang mengalir deras ke sawah, telah menghacurkan sistem drainase dan saluran di tingkat yang lebih rendah; Permukiman dibawah garis pasang-surut; Kerusakan akibat gempa bumi pada bangunan dan kanal dapat dibagi menjadi kerusakan pada bangunan utama yang menyumbat aliran pasokan air bersih dan kerusakan kecil pada sistem kanal; Kerusakan berat pada ekosistem pantai, termasuk hutan bakau, rawa dan sistem muara terkait lainnya;

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 42 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

• • •

Perubahan penting dalam pemanfaatan lahan dan ketidak-pastian periode pemanfaat lahan; Dampak sosial dan psikologis pada masyarakat; Konflik sosial terkait dengan pengambil-alihan lahan (untuk perumahan, pembangunan kembali jalan, penanaman kembali bakau) karena ganti-rugi yang tidak mencukupi dan proses yang tidak tepat; dan Kebutuhan mendesak akan pemulihan penghidupan yang mengakibatkan eksploitasi berlebihan (misalnya budidaya air berbasis kolam dengan penanganan masalah kualitas air yang buruk).

Sebagian besar subproyek infrastruktur, yang akan dirancang dan dilaksanakan, merupakan penggantian infrastruktur yang ada sebelumnya. Akibatnya, tingkat risiko sosial dan lingkungan dianggap terbatas. Analisis lingkungan, perlu difokuskan pada masalah sebenarnya, namun kadang salah sasaran masuk ke proses AMDAL. Sudah banyak sumberdaya dipakai untuk menyusun ANDAL/RKL/ RPL untuk pelabuhan-pelabuhan di Pantai Barat, dengan bantuan UNDP. Tapi tampaknya ada potensi bahwa analisis menyentuh permasalahan yang keliru. Kajian mengenai ANDAL Meulaboh tampaknya tidak ada uraian mengenai subproyek, apakah membangun pelabuhan baru atau menggantikan yang lama. Jelas ini penting artinya dalam pelaksanaan dampaknya. Tampaknya juga hanya sedikit penjelasan yang diberikan mengenai situasi sebelum tsunami. Berdasarkan pengalaman lalu, penekanan analisis tersebut seharusnya diberikan pada perencanaan manajemen, dan kontruksi. Ini lebih baik daripada terjebak dalam prakiraan dampak yang kurang memadai.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur dianggap sangat penting artinya. Untuk memastikan bahwa kebutuhan infrastruktur sudah diprioritaskan secara mencukupi, maka perlu juga memastikan bahwa keseluruhan program untuk setiap tahun sudah dipublikasikan secara mencukupi agar masyarakat dapat ikut menentukan prioritas. Kelompok rentan (seperti perempuan, penduduk asli dan warga miskin) perlu disertakan dalam proses perencanaan. Karena itu, strategi jender dan kemiskinan akan disusun oleh spesialis jender lokal.

5. Tujuan Penugasan IPM
Layanan konsultan IPM dirancang untuk mendukung BRR dalam perencanaan, pengelolaan dan pelaksanaan keseluruhan program infrastruktur, melalui perumusan strategi dan identifikasi subproyek, penyiapan dan pelaksanaannya. Layanan difokuskan pada poin-poin utama yang terkait dengan prioritisasi, mutu, transparansi, akuntablitas dan pengembangan kelembagaan. Strategi tersebut harus menyertakan pengembangan sistem organisasi dan manajemen yang ada dan yang direncanakan untuk BRR.

Tugas utama perlindungan lingkungan adalah sebagai berikut:

Untuk semua subproyek tanpa memandang sumber dananya. • • • • Perencanaan keseluruhan infrastruktur strategis untuk Aceh dan Nias, sesuai strategi infrastruktur BRR; Manajemen program untuk proses rekonstruksi di Aceh dan Nias; Bantuan penguatan kelembagaan untuk Pemda, terutama bantuan pengembangan dan kordinasi program; dan Pemantauan program dan evaluasi keluaran.

Untuk subproyek yang didanai BRR/MDF: • • • • • Kajian mengenai rencana pemerintah kabupaten/kota dan propinsi untuk investasi infrastruktur sebagai dasar investasi BRR; Manajemen, supervisi dan pemantauan mutu subproyek infrastruktur yang didanai BRR; Dukungan pengadaan untuk subproyek infratsruktur yang didanai BRR; Dukungan anti-korupsi untuk subproyek infratsruktur yang didanai BRR; dan Dukungan untuk BRR dalam pengelolaan tim konsultan yang akan membantu pelaksanaan komponen lain dari subproyek yang diusulkan.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 43 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Pedoman operasional ini disusun untuk menangani komponen bantuan perlindungan lingkungan yang termasuk dalam lingkup pekerjaan IPM. Jelas dalam kerangka acuan bahwa penugasan ini berlaku hanya untuk subproyek yang didanai BRR/MDF. 6. Tujuan Kerangka Lingkungan dan Sosial
Kerangka perlindungan lingkungan daan sosial memberikan gambaran umum mengenai kebijakan dan pedoman untuk tujuan berikut:

• • • •

melindungi kesehatan manusia; mencegah kerusakan lingkungan akibat investasi-investasi individual atau dampak kumulatifnya; meningkatkan hasil lingkungan yang positif; menghindari atau memperkecil pembebasan lahan dan pemaksaan relokasi penduduk dan, jika tidak bisa dihindari, memberikan ganti rugi sesuai nilai yang berlaku dan memberikan bantuan dalam menata kembali penghidupan berdasarkan hasil konsultasi dengan warga yang terkena dampak; dan hindari konflik antar warga masyarakat dan perkuat kesatuan sosial masyarakat.

Mekanisme untuk pelaksanaan kerangka tersebut dimasukkan dalam struktur, pedoman dan alat pengawasan Proyek serta kerangka acuan untuk IPM dan PDCS dibawah kantor regional BRR (Pantai Barat, Nias dan tingkat Propinsi). 7. Kerangka Manajemen Lingkungan dan Sosial 7.1. Proses Prosedur kajian lingkungan dari Pemerintah Indonesia, secara umum sesuai dengan yang dipakai Bank Dunia, dan menjadi bagian dari kerangka pendekatan proyek IREP/IPM untuk penyaringan lingkungan dan pelaksanaan tindakan perbaikan dan langkah-langkah pemantauan. Prosedur perlindungan lingkungan ditunjukkan dalam Exhibit 7A-1 dan dijelaskan secara singkat dalam bagian berikut. 7.2. Fase Perencanaan dan Disain
Fase perencanaan dan disain dimulai di tingkat pemerintah daerah. Setiap Pemda harus menyusun rencana investasi tahunan untuk infrastruktur, yang dikembangkan dari strategi pembangunan lima-tahunnya dan rencana strategis tahunan. Penyaringan lingkungan awal dilakukan oleh PDCS bekerja sama dengan Pemda dan Sekber di daerah. Hasilnya akan dikirim ke IPM untuk dipelajari. Rencana investasi dapat diubah berdasarkan hasil penyaringan awal, agar subproyek yang memerlukan AMDAL dan LARAP dapat diundur ke tahun berikutnya.

Draft Rencana Investasi Tahunan (AIP) diserahkan ke kantor regional BRR. Sekber akan menentukan prioritas program yang dilaksanakan BRR, bersama dengan pemerintah daerah lain. Daftar panjang ini diserahkan ke BRR dan IPM untuk prioritisasi dan penyusunan daftar pendek subproyek yang akan dilaksanakan. BRR/IPM mengkaji dan menyusun daftar pendek subproyek paling tepat dalam kaitannya dengan kesuluruhan strategi BRR untuk rekontruksi infrastruktur. Salah satu masukan untuk prioritisasi ini adalah hasil kajian tim perlindungan lingkungan IPM, untuk memeriksa apakah daftar pendek berisi subproyek yang memerlukan AMDAL atau pembebasan lahan atau relokasi penduduk. Jika memang demikian, maka subproyek ditempatkan, pada prioritas lebih rendah agar tersedia cukup waktu untuk menyusun studi yang diperlukan. Penyusunan dokumen AMDAL kemudian dimulai oleh subkonsultan AMDAL IPM, yang akan ditugaskan melalui proses tender. Informasi lebih lanjut akan diminta dari Pemda, untuk melengkapi proses penyaringan. Wakil instansi lingkungan daerah terkait (BAPEDALDA Propinsi) akan diundang untuk ikut serta dalam proses penyaringan. Hasil penyaringan, yang perlu disepakati dan disetujui bersama, akan disampaikan secara Jika AMDAL/EIA lengkap atau LARAP lengkap diperlukan, maka IPM menjadi bertanggungjawab atas seleksi dan manajemen subkonsultan. IPM akan menyusun draf kerangka acuan untuk AMDAL dan mengirim ke BAPEDALDA Propinsi atau BAPEDALDA akan menyusun sendiri kerangka acuan (TOR) tersebut. Penyusunan TOR ini diiklankan di harian lokal untuk mendapat persetujuan Komisi AMDAL. Proses ini memerlukan waktu 2 bulan. Total waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Infrastructure Reconstruction Enabling Program AMDAL minimum 8 bulan. Pengaturan seperti ini dari 125 Lampiran 7A Hal. 44 sekarang sedang dirundingkan dan disepakati oleh BAPEDALDA NAD dan Propinsi Sumut untuk Nias.

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

resmi ke Pemda dan BAPEDALDA. BAPEDALDA akan menjadi pembuat keputusan akhir dalam proses penyaringan.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 45 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Kerangka Perlindungan Sosial dan Lingkungan

Exhibit 7A-1

Prosedur Lingkungan IREP dan Hubungannya dengan Komponen- Komponen Proyek yang lain
KABUPATEN PDCS

Prosedur Lingkungan
Penyaringan awal dilaksanakan oleh PDCS bekerja-sama dengan Pemda dan Sekretariat Bersama di daerah. Kirimkan hasilnya ke IPM untuk

• • • •

BRR/IPM

Strategi pembangunan ekonomi (20 tahun) Rencana strategi 5 tahun Rencana pembangunan jangka menengah Rencana pembangunan tahunan (Repeta)

• • •
Penilaian & Kajian

Cetak Biru Rehabilitasi Rekonstruksi Rencana Strategis BRR Rencana Rehabilitasi & Rekontruksi dari Pemprop/Pemkab dan Donor Lain/LSM

Penaksiran & Kajian

Proyek AMDAL dipindahkan ke Proyek tahun selanjutnya. Untuk UKL/UPL atau SOP untuk investasi

Identifikasi Proyek

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Lokal
Bagan Penilaian Kelembagaan

Penilaian & Kajian

Perencanaan Strategis

Rencana Rekontruksi Infrastruktur Strategis [SIRP]

Prioritisasi & Rencana Investasi

Format & Bagan AIP
[SOP/ Petunjuk Seleksi Proyek, Pemograman, Penyerahan

Konsultasi awal dan iklan TOR untuk AMDAL

Uraian rinci subproyek untuk AMDAL dan UKL /UPL dikirimkan oleh

IPM/BAPEDALDA bekerjasama menyusun TOR dan melaksanakan pengadaan konsultan AMDAL .

Daftar pendek subproyek untuk UKL /UPL dikirimkan ke BAPEDALDA untuk disetujui dan persetujuan

Rencana Investasi Tahunan AIP/ IIPP

Kajian & Rekomendasi

Rencana InvestasiTahunan

Dok. Standar Tender &

Potensi IREP

GAPS yang teridentifikasi Finance & Donor Coordination

Non IREP

Donor yang ada/sedang berjalan / Program Pemda Program Baru

Dokumen AMDAL/RKL/RPL disusun oleh konsultan AMDAL

Penyusunan UKL/UPL atau pencantumkan SOP kedalam dokumen kontrak oleh PDCS

Penyusunan DED,
NOL dari Bank Dunia
PROPOSAL PROYEK IREP

Penyaringan Lingkungan & Sosial (Penyusunan Dokumen Lingkungan & Perlindungan)

FASILITAS PEMBIAYAAN

Dokumen dimasukkan dalam website atau media massa

IREP/PIU PDCS mengawasi langkah penanganan lingkungan yang dilakukan kontraktor. IPM melaksanakan kendali mutu/QA dan pemeriksaan

Pengadaan oleh BRR [hanya Tahun 1]
Pengaturan, Dukungan & Pemberian Saran untuk Unit Pengadaan

KONTRAKTOR
Supervisi & Sistem & Prosedur P e

Kajian dan persetujuan dokumen oleh Komisi AMDAL dan Gubernur

KABUPATEN

Sistem & Prosedur Manaje men

BAPEDALDA propinsi dan kabupaten bertanggungjawab setelah kontruksi selesai.

Operasi & Pemeliha raan

Pelaksanaan Manajemen
STRATEGI KELUAR (Exit Strategy)

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Lampiran 7A Hal. 46 dari 125

Lampiran 7A Hal. 6 dari 21

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

Program yang disetujui kemudian dikirim kembali ke daerah, dan PDCS bertanggung-jawab atas penyusunan dokumen tender dan UKL/UPL. UKL/UPL dan LARAP sederhana yang sudah selesai disusun oleh spesialis perlindungan lingkungan dari PDCS untuk Pantai Barat, Nias dan Propinsi diserahkan ke tim BRR/IPM untuk kajian dan komentar. Setelah semua dokumen diserahkan ke BRR dan IPM untuk kajian akhir oleh Tim Pengadaan IPM, BRR akan secara resmi menyerahkan semua dokumen ke MDF untuk disetujui pendanaannya melalui fasilitas IRFF. Ini akan menyertakan dokumentasi lingkungan dan pembebasan lahan. Bukti-bukti harus diberikan ke MDF, termasuk persetujuan resmi dokumen lingkungan oleh BAPEDALDA Propinsi untuk UKL/UPL, atau, persetujuan resmi dari Gubernur. Untuk dokumen AMDAL, BRR akan mengkaji dan menyetujui semua dokumen DED dan dokumen tender yang sudah selesai. Ini termasuk juga kajian perlindungan untuk memastikan bahwa dampak utama yang diidentifikasi sudah ditangani secara mencukupi. Ini meliputi: • • • Langkah struktural yang harus dicantumkan dalam DED; Langkah non-struktural yang harus dibuat menjadi daftar dalam ketentuan kontrak; dan Prosedur Standar Operasional yang disempurnakan untuk manajemen dampak dan sosial yang dipadukan dalam dokumen tender dan kontrak.

Perlu dicatat bahwa ketentuan dalam perjanjian hibah IREP dan IRFF –untuk subproyek pertama di setiap kabupaten, UKL/UPL atau AMDAL harus diserahkan ke Bank Dunia untuk disetujui, bukan hanya kajian. Akibatnya, disarankan agar PDCS menyerahkan UKL/UPL atau AMDAL pertama di setiap kabupaten ke IPM dan BRR sedini mungkin dalam fase disain, agar ada cukup waktu bila diperlukan penyusunan ulang disain.

7.2.1. Kriteri eligibilitas Subproyek dari Perjanjian Hibah Subproyek harus sesuai dengan Kerangka Perlindungan Lingkungan dan Sosial dan kemungkinan tidak: (i) membawa dampak penting pada tempat yang sensitif dari segi lingkungan dan budaya; (ii) menyebabkan aliran sumberdaya air lintas daerah (iii) menyebabkan pembabatan hutan dalam jumlah besar; (iv) memakai atau mengeluarkan racun dan/atau limbah berbahaya; atau (v) menyebabkan permukiman kembali dalam jumlah besar. 7.2.2. Pemberitahuan kepada MDF dan/atau Ketentuan Persetujuan Ketentuan berikut ini diperlukan: (i) MDF harus diberitahu mengenai penyusunan dokumen analisis lingkungan, baik AMDAL maupun UKL/UPL; (ii) Pemberitahuan persetujuan oleh BAPEDALDA atau Komisi AMDAL sebelum penyerahan, untuk persetujuan proyek oleh MDF; dan (iii) Jika ini adalah AMDAL pertama atau UKL/UPL pertama untuk subproyek di kabupaten tertentu, maka perlu juga disetujui oleh MDF.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 47 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
7.3. Fase Pelaksanaan

Penyusunan Studi Lingkungan

Setelah subproyek dilaksanakan, tanggung-jawab pemantauan pelaksanaan perlindungan lingkungan berada pada PDCS, yang mempunyai konsultan lingkungan dalam timnya. Tanggung-jawab melaksanakan perlindungan lingkungan yang disarankan dipikul oleh kontraktor. Semua kontrak harus mencantumkan ketentuan untuk melaksanakan perlindungan lingkungan yang disarankan, agar kontraktor dapat menyertakan ketentuan mengenai pelaksanaan semua persyaratan dalam kontraknya. Tim pengadaan IPM harus memastikan bahwa ketentuan mengenai pemantauan sosial dan lingkungan ini sudah dicantumkan dalam lingkup kontrak. Staf perlindungan lingkungan dan sosial dari MDF juga diminta memeriksa keberadaan ketentuan ini. Tim Pemastian Mutu IPM menyertakan juga komponen manajemen lingkungan, yang akan dipakai untuk pemantauan lingkungan dan sosial. Tindak-lanjut pemantauan dan evaluasi setelah kontruksi menjadi tanggung-jawab BAPEDALDA kabupaten bekerjasama dengan BAPEDALDA Propinsi. Perlu dianggarkan pengeluaran rutin kedua instansi ini. Keterbatasan anggaran sering menjadi masalah dalam manajemen lingkungan di Indonesia secara umum, tapi penting diperhatikan untuk menjamin keberlanjutan selama proses transisi pengelolaan ke Pemda di Aceh dan Nias. 8. Kategori Penyaringan
Subproyek yang sedang, dirancang terlebih dahulu akan disaring secara individual dan diklasifikasikan sebagai berikut:

8.1. Perlindungan Lingkungan
Secara umum persyaratan perlindungan lingkungan adalah bahwa:

• Analisis lingkungan lengkap (proses AMDAL - ANDAL/RKL/RPL) diperlukan; • Upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL/UPL) diperlukan dengan ketentuan dalam kontrak kontruksi untuk melaksanakan semua langkah pengelolaan lingkungan yang diusulkan; dan • Prosedur operasional standar lingkungan dengan ketentuan dalam kontrak kontruksi diperlukan untuk melaksanakan semua langkah pengelolaan lingkungan yang diusulkan.
Dasar penyaringan adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 308/2005. Ini adalah usaha untuk merampingkan proses yang umum dipakai. Menurut Permen No. 308/2005, tidak ada kriteria yang tersedia untuk menentukan apakah UKL/UPL diperlukan. Karena peraturan ini berlaku hanya untuk AMDAL, maka diasumsikan ada keluwesan mengartikan peraturan ini. Pendekatan umum yang dimaksud adalah, untuk semua subproyek dengan dampak kecil, UKL/.UPL diperlukan. Ini mengacu pada Keputusan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003 mengenai kriteria permukiman dan kegiatan infrastruktur yang pada dilengkapi dengan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL/UPL). Ketentuan mengenai SOP lingkungan mencantumkan kategori ketiga untuk kontrak subproyek yang tidak dicantumkan dalam peraturan tersebut. Namun, ini mulai dipakai dalam praktek proyek jalan oleh Departemen Pekerjaan Umum diseluruh Indonesia.

Exhibit 7A-2 memberikan kriteria penyaringan yang telah dipilih (umumnya untuk pembangunan baru atau pembebasan lahan) yang akan memerlukan analisis lingkungan lengkap. Kriteria tersebut diambil dari KepMen No. 308/2005. Exhibit 7A-2 hanya memberikan kriteria yang dipilih. Dalam menerapkan kerangka ini, maka lampiran dalam keputusan ini diacu secara langsung. Kriteria ini hanya mewakili batasan maksimum (contohnya, untuk pelebaran sepanjang 15 km di daerah perdesaan). AMDAL/EA lengkap dapat diminta dari subproyek walau subproyek masih dalam batasan maksimum, bedasarkan diskusi antara IPM dan BAPEDALDA (contohnya, TPA baru dengan luas kurang dari 10 hektar).

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 48 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
Exhibit 7A-2

Penyusunan Studi Lingkungan

Kriteria Penyaringan Studi Lingkungan (AMDAL, UKL-UPL atau SOP Lingkungan) Besaran UKL-UPL (Keputusan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003)

No

Tipe Kegiatan

AMDAL (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 308/ 2005)

SOP

I 1

Jalan Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran hingga keluar daerah milik jalan a) Kota Besar b) Kota Menengah Panjang 5 km atau luas 5 ha. Panjang 10 km atau Luas 10 ha. Panjang 15 km. Panjang 1 hingga <5km Panjang< 1 km atau luas 2 hingga <5ha. atau Luas < 2 ha. Panjang 3 hingga <10km atau Luas 5 hingga <10ha. Panjang 5 hingga <15km Panjang< 3 km atau Luas < 5 ha. Panjang< 5 km.

c) Perdesaan 2 Peningkatan jalan didalam daerah milik jalan a) Kota Besar II b) Kota Menengah Perumahan a) Kota Besar b) Kota Menengah III c) Perdesaan Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk Air Bersih dan Sanitasi Jaringan air bersih a) Pembangunan jaringan distribusi b) Pembangunan jaringan tranmisi 2

Panjang

10 km

Panjang< 10km Semua ukuran

Luas Luas

25 ha 50 ha

Luas 2 hingga <25 ha Luas 2 hingga <50 ha Luas 2 hingga <100 ha Relokasi untuk 50 hingga 200 kepala keluarga atau luas: 2 hingga 100 ha

Luas < 2 Ha Luas < 2 Ha Luas < 2 Ha Relokasi untuk < 50 kepala keluarga atau luas <2 ha

Luas 100 ha Relokasi untuk 200 kepala keluarga atau luas 100ha

IV 1

Daerah layanan 500 ha Panjang 10km

Daerah layanan 100 s/d <500 ha

Daerah layanan < 100 ha

Panjang 2 hingga <10km Panjang < 2 km

Pengambilan air dari danau, Debit pengambilan sungai, sumber permukaan 250 liter/detik atau sumber lain Pembangunan instalasi pengolahan air Sumur arteri Pembangunan instalasi pengolahan tinja termasuk IPLT Pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Luas 2ha

Debit pengambilan 50 to <250 liter/detik Debit >50 liter/detik Debit >5 hingga <50 liter/detik Luas <2ha

Debit pengambilan < 50 liter/detik Debit <50 liter/detik Debit <5 liter/detik

3 4 5

6

Luas 3ha

Luas <3ha

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 49 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
Besaran UKL-UPL (Keputusan Menteri Kimpraswil No. 17/KPTS/M/2003) Daerah Layanan <500ha

No

Tipe Kegiatan

7

Pembangunan sistem pemipaan air limbah

AMDAL (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 308/ 2005) Daerah layanan 500ha atau sama dengan 17.000 sambungan rumah

SOP

V 1 2 3

Persampahan Pembuangan melalui pengurugan terkendali Pembuangan di daerah pasang surut Pembangunan tempat pembuangan sementara (TPS) Daerah Irigasi Pembangunan dengan perluasan Peningkatan dengan penambahan luas Pembentukan sawah dengan perluasan (per kelompok) Pengaman Pantai Tembok laut / revetment Groin/pemecah ombak Pelabuhan Pembangunan pelabuhan dengan dermaga Pengerukan utama Bandara Pembangunan bandara baru Pengembangan bandara Perluasan bandara Semua kelas l hingga V Kelas I, II, III Relokasi penduduk 200 kepala keluarga atau pembebasan lahan 100 Ha Panjang 200 m, atau Luas 6.000 m2. Volume 250.000m3 Panjang >1km Panjang 10m hingga <500m Panjang <1km Panjang <10m Luas 2000 ha 1000ha Luas 500ha Luas 500 ha hingga <2000ha 500ha hingga <1000ha Luas 200ha hingga <500ha Luas <500 Ha Luas <500 Ha < 200 Ha
Luas 10ha atau Luas <10ha atau kapasitas 10.000 ton kapasitas <10.000 ton

Luas 5ha atau Luas <5ha atau kapasitas 5.000 ton kapasitas <5.000 ton Kapasitas 1000 ton/hari Kapasitas <1000 ton/hari

VI 1 2 3

VII 1 2 VIII 1

2 IX 1 2 3

Penyaringan pendahuluan untuk subproyek ditunjukkan di Exhibit 7A-3 Exhibit 7A-3 Penyaringan Pendahuluan Studi Lingkungan untuk Subproyek IRFF yang Diusulkan

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 50 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No
I

Kabupaten

Subproyek IRFF yg Diusulkan

Sektor (tahun)

Penyaringan Lingkungan

Status Lingkungan pada Juni 2007

Banda Aceh

Banda Aceh – Pantai & FPUD Perluasan TPA Gampong Jawa (… . Ha) Pelabuhan Ulee Lheue Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Syiah Kuala (3.10 Km) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan AMD (3.70 Km)

WR/IRFF 2007

UKL-UPL

Air Bersih & Sanitasi / IRFF Pelabuhan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2008 SOP

ANDAL dalam proses

Jalan / IRFF 2008 SOP

II

Aceh Besar

Pelabuhan laut Malahayati

Pelabuhan / IRFF 2007 Lhoong-Coastal & FPUD WR/IRFF 2007 IPA Siron (yang ada 80 l/d, Air Bersih & Sanitasi / IRFF peningkatan 40 l/d, pipa 2008 19km) TPA (±100ha) Air Bersih & Sanitasi / IRFF Jalan / IRFF 2007 Pasar Lhoong - Umong Seribee-Lamkuta, Lampadang - Lamteh Lambadeuk (JK1) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Krueng Gelumpang - Seunelop (2.70 Km) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Blang Mee - Geunteut (2.00 Km)

UKL-UPL

UKL-UPL

AMDAL SOP

SOP

SOP

III

Sabang

Air bersih Kota Sabang (pipa>10km)

UKL-UPL Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Jalan Lingkar Pulau Weh, Jalan / AMDAL Sabang (60,05km) (APBN + APBN+IRFF 2008 IRFF) SDA/IRFF 2007 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2007 Pelabuhan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL UKL-UPL

ANDAL dalam proses

IV

Aceh Jaya

Calang – Pantai & FPUD Air bersih Kota Teunom

TPA Calang (>10ha?)

AMDAL

AMDAL/APBN 2007 ANDAL dalam proses

Pelabuhan Calang Dayah Baro - Ujong Serangga

AMDAL SOP

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 51 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No

Kabupaten

Subproyek IRFF yg Diusulkan
Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Keudee Teunom - Sarah Raya ( 3.00 Km) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Sp. II Gunung Meunasah (6.00 Km) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Abu Tuha - Dayah Baroe (0.75 Km) Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Ali Makruf Kp. Blang (1.20 Km)

Sektor (tahun)

Penyaringan Lingkungan

Status Lingkungan pada Juni 2007

Jalan / IRFF 2007 SOP

Jalan / IRFF 2007 SOP

Jalan / IRFF 2007 SOP

Jalan / IRFF 2007 SOP

V

Aceh Barat

Meulaboh – pekerjaan pantai & FPUD Samatiga – Pantai & FDUD Air bersih Meulaboh (40l/d, pipa>10km)

SDA/IRFF 2007

UKL-UPL UKL-UPL UKL-UPL

SDA/IRFF 2007 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 TPA, Meulaboh (<5ha?) Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Tanjung Meulaboh - Pante Jalan / IRFF 2007 Cermin Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Beringin Maju (1.4 Km) Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Tgk. Chik Ali Akbar (0.3 Km) Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Beringin Jaya (0.7 Km) Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Suak Sigadeng - Seunebok (1.7 Km) Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Air Bersih & Sanitasi / IRFF

UKL-UPL

SOP SOP

SOP

SOP

SOP

VI

Nagan Raya

Drainase Kec.Seunagan Jl.Nasional (1300m) Water supply Kec. Seunagen Timur, Kec.Seunagan, Kec.Kuala (10l/s) TPA Seunagan (<5ha?)

UKL-UPL

UKL-UPL

UKL-UPL

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 52 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No

Kabupaten

Subproyek IRFF yg Diusulkan

Sektor (tahun)

Penyaringan Lingkungan

Status Lingkungan pada Juni 2007

Kabu Baroh - Pulo Teungoh, Jalan / IRFF 2007 SOP Kd Simpang Blang AraLhok Tonge, Jeuram - Kulu VII Aceh Barat Daya Drainase Kec.Blang Pidie (2288m) Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Air bersih Kec.Blang Pidie, Air Bersih & Sanitasi / IRFF Kec.Susoh (10l/d) 2008 Pengendalian banjir sungai Air bersih/IRFF Babah (… .km?) 2007 Jembatan Lama Muda Jalan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Kp. Rambong - Ujong Tanoh (4.0 Km) Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Sp. Lhok Pawoh - Lhok Pawoh (3.5Km) Jalan / IRFF 2007 Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Pante Raja - Blang Manggeng (1.8Km) Drainase primer Kota Tapak Tuan UKL-UPL

UKL-UPL

SOP SOP

SOP

SOP

VIII Aceh Selatan

IX

Aceh Singkil

Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 TPA (… ..ha?) Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Drainase primer Jl.T.Umar Air Bersih & Kec.Simpang Kiri (1500m) Sanitasi / IRFF 2008 Air bersih Kec.Singkil(20 Air Bersih & Sanitasi / IRFF l/d, pipa<10km) 2008 IPAL Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 TPA Kota Singkil(<5ha) Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Sp. Kerenjala - SKPD SP. I Jalan / IRFF 2007

UKL-UPL

UKL-UPL

AMDAL

UKL-UPL

UKL-UPL

UKL-UPL

SOP ANDAL dalam proses ANDAL dalam proses ANDAL dalam proses

X

Simeulue

Ruas 1 Lasikin - Nasreuhe, Jalan / IRFF 2007 AMDAL (18.71km) Ruas 2 Lasikin - Nasreuhe, Jalan / IRFF 2007 AMDAL (23.00km) Pelabuhan Sinabang Pelabuhan / IRFF AMDAL 2007

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 53 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No

Kabupaten

Subproyek IRFF yg Diusulkan

Sektor (tahun)

Penyaringan Lingkungan

Status Lingkungan pada Juni 2007

Teluk Pusong Reservoir dan SDA/IRFF+APBN perbaikan sistem drainase 2007 Kota Lhokseumawe (IRFF+APBN) XI Nias

AMDAL

ANDAL dalam proses

Hilinaa-Alasa-Tumula (40km) Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL

Peningkatan Jl.Gn SitoliJalan / IRFF 2007 UKL-UPL Lahewa-Afulu Jl.Gn Sitoli-Alasa (lengkap) Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Pelabuhan Gn. Sitoli Pelabuhan / AMDAL IRFF 2007 XII Nias Selatan Lolowa'u - Teluk Dalam (58.4km) Lahusa-Gomo (17km) Jl. SisarahililoyoTuhemberua (full) Keumala-Geumpang, Ruas 1& 2 Geumpang-Tutut,Ruas 1 Geumpang-Tutut,Ruas 2 Tutut-Meulaboh IRFF Meuhlaboh-Tapak Tuan Ruas 1 IRFF Meuhlaboh-Tapak Tuan Ruas 5 IRFF Meuhlaboh-Tapak Tuan Ruas 3 IRFF Tapak Tuan - Batas Sumut Ruas 2 IRFF Tapak Tuan - Batas Sumut Ruas 4 IRFF Tapak Tuan - Batas Sumut Ruas 6 XIV Jalan Propinsi Jalan Isaq - Gelelungi (Aceh Tengah) XV Lhokseumawe Lhokseumawe seaport Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 AMDAL Jalan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2007 Jalan / IRFF 2007 AMDAL AMDAL AMDAL UKL-UPL

ANDAL in process

XIII Jalan Nasional

TOR AMDAL disetujui

Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL

UKL-UPL disetujui UKL-UPL disetujui UKL-UPL disetujui UKL-UPL disetujui UKL-UPL disetujui UKL-UPL disetujui UKL-UPL/APBN 2007

Jalan / IRFF 2007 UKL-UPL

Pelabuhan / IRFF UKL-UPL 2007 Teluk Pusong Reservoir dan SDA/IRFF+APBN AMDAL perbaikan sistem drainase 2007 Kota Lhokseumawe (IRFF+APBN) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan / IRFF 2007 SOP Jalan Stadion (1.50 Km ) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Merdeka (2.90 Km ) Jalan / IRFF 2007 SOP

ANDAL dalam proses

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 54 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No

Kabupaten

Subproyek IRFF yg Diusulkan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jalan Sp. Poska - Jalan Elak (2.40 Km ) Pelabuhan Kuala Langsa IPAL (<1ha)

Sektor (tahun)

Penyaringan Lingkungan

Status Lingkungan pada Juni 2007

Jalan / IRFF 2007 SOP

XVI Langsa

Pelabuhan / IRFF 2007 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008 Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2007 Jalan / IRFF

AMDAL UKL-UPL

TOR AMDAL disetujui

XVII Pidie

Air bersih (80l/d & pipa 13.6km) Trieng gadeng - Pangwa, Gigieng- Iboih Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Jalan Ie Leubeu - Kuala ( 1.10 Km)

UKL-UPL

SOP

Jalan / IRFF 2007 SOP

XIX Bireuen XX Aceh Utara

Sp. Mamplam-Bantayan (6.8 km) – JK 5.07 Seunuddon - Bantayan

Road / IRFF

SOP

Jalan / IRFF 2007 SOP Air Bersih & Sanitasi / IRFF 2008

XXI Aceh Tengah TPA (… .ha?)

XXII Aceh Timur XXIII Bener Meriah 8.2. Area-area yang Sensitif
Persyaratan AMDAL / EA lengkap dapat juga dilakukan jika subproyek kemungkinan besar berdampak pada area yang sensitif, karena dekat dengan area yang sensitif atau jika kegiatan subproyek dapat membawa dampak langsung pada area yang sensitif. Area atau daerah penting yang dianggap sensitif menurut kerangka lingkungan dan sosial tersebut meliputi:

• • • • • • • • • • • • • •

Taman nasional Hutan taman Suaka margasatwa Suaka tanaman yang dilindungi Hutan lindung untuk daerah aliran sungai Suaka budaya nasional Suaka laut Sistem bukit pasir dan garis pantai Daerah hutan bakau dan rawa Daerah suku terasing Kemiringan yang curam (>40%) Daerah perladangan dan permukiman Lahan produktif Daerah lain seperti yang ditentukan BRR selama pelaksanaan

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 55 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

Pemakaian kriteria tempat sensitif mengalami kesulitan karena kurangnya informasi yang dikumpulkan pemrakarsa mengenai kondisi lingkungan sekitar subproyek. Akibatnya, pendekatan penyaringan lingkungan, yang disusun dengan bantuan Bank Dunia untuk DPU Sektor Jalan Kabupaten, dipakai oleh spesialis PDCS sebagai dasar untuk melakukan penyaringan awal. Pendekatan ini sudah dinyatakan dalam bahasa Indonesia di SK 77 (Keputusan Menteri PU No. 77) dan dilampirkan sebagai Lampiran 2 dari dokumen ini. 9. Pendekatan Kelompok (Cluster) AMDAL yg Diusulkan
Pendekatan kelompok adalah bagian dari keseluruhan kerangka sosial dan lingkungan yang disetujui untuk IREP. Alasan pemakaian pendekatan kelompok dipicu oleh sejumlah faktor yang djelaskan dibawah ini:

Kurangnya kejelasan dalam peraturan penyaringan dasar, yang dipakai untuk penyaringan awal. Dalam banyak hal, tidak ada perbedaan antara pembangunan baru dan penggantian atau rehabilitasi sarana. Perbedaan ini penting artinya untuk prakiraan dampak sebelum dan sesudah tsunami. Ada beberapa kasus di daerah yang lebih terpencil, tingkat kegiatan sarana mungkin sebenarnya lebih kecil daripada sebelum tsunami karena berkurangnya populasi. Akibatnya, tingkat dampak lingkungan fisik sebenarnya dari penggantian atau rehabilitasi mungkin tidak begitu penting. Peraturan No. 308 mengandung keluwesan untuk pemakaian kategori penyaringan.
Juga jelas dalam diskusi dengan KLH dan BAPEDALDA, bahwa PP No. 308 cukup luwes untuk membahas dan menyesuaikan kategori penyaringan sesuai keperluan, jika tingkat dampak lebih tinggi daripada yang tersirat dalam kriteria batasan ukuran.

Kurangnya diskusi antara pemrakarsa dan tim teknis dari BAPEDALDA. Tampak jelas dalam periode pendahuluan, bahwa komunikasi kurang terjalin antar tim-tim perencana subproyek infrastruktur, Satker dan BAPEDALDA Propinsi, dalam kaitannya dengan penjelasan akurat mengenai lingkup setiap subproyek. Jika pandangan BAPEDALDA tidak jelas, maka peraturan akan diartikan secara harafiah. Ini artinya banyak subproyek yang mungkin seharusnya cukup UKL/UPL telah diajukan untuk proses AMDAL.

Perlunya mengurangi fokus pada penyusunan TOR, tapi lebih pada konsultasi dengan masyarakat yang terpengaruh dan pemrakarsa subproyek. Usaha peningatan kapasitas hingga hari ini mungkin terlalu menekankan pemakaian banyak sumberdaya untuk mendapatkan bantuan dalam penyusun TOR AMDAL oleh tim teknis. Selain itu, penyusunan materi penyaringan oleh konsultan AMDAL tampaknya tidak begitu berguna. Jumlah proyek yang menjalani penyaringan AMDAL melebihi proporsi jika dibandingkan dengan perencanaan awal subproyek dalam dokumen penaksiran (PAD) yang menyiratkan 15% dari semua subproyek. Saat ini, keseimbangan tampaknya terbalik sepenuhnya.

ADB telah berhasil memakai pendekatan ini untuk pengelompokkan UKL/UPL, dengan memakai kesepakatan bersama (MOU) antara ADB dengan dua BAPEDALDA propinsi. Dengan memakai pendekatan ini, ADB telah menyaring lebih dari 100 subproyek dan dalam setiap kasus, kecuali subproyek yang mengakibatkan peralihan antar daerah aliran sungai. Pendekatan ini menghasilkan penyaringan UKL/UPL bukan AMDAL lengkap.

Semua faktor tersebut menimbulkan situasi dimana pendekatan yang lebih inovatif telah dipertimbangkan dan disetujui secara prinsip oleh KLH pada pertemuan bersama tanggal 31 Mei 2007 di Jakarta. Ada potensi keterlambatan pelaksanaan subproyek untuk program tahun 2008, terutama subproyek APBN, karena lamanya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proses AMDAL. Ironisnya, ini adalah apa yang dirancang dalam PP No. 38 untuk dihindari. Seperti disebutkan diatas, banyak subproyek suharusnya dapat ditangani dengan lebih baik dengan memakai UKL/UPL rinci dengan penekanan lebih pada manajemen dampak kontruksi.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 56 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
9.1. Kriteria dan Pendekatan yg Diusulkan

Penyusunan Studi Lingkungan

Untuk menangani masalah ini, Proyek akan memakai opsi pendekatan kelompok UKL/UPL atau AMDAL. Jika setelah penyaringan ada subproyek yang sama dan membutuhkan AMDAL atau banyak UKL/UPL, maka pertimbangan lebih lanjut akan diberikan terkait dengan pemakaian pendekatan kelompok AMDAL. Pendakatan ini telah mendapat persetujuan prinsip dari Kementrian Lingkungan Hidup di Jakarta, juga dari BAPEDALDA Propinsi Aceh dan Sumatera Utara (Nias). Kriteria untuk pesetujuan pemakaian kelompok AMDAL diringkas dibawah ini: • • • • • • • Kriteria penyaringan sebagai kelompok AMDAL terpadu Sama atau sektor terkait Lokasi geografis yang sama Tatanan lingkungan yang sama dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) yang sama Tipe dan tingkat dampak yang sama Langkah penanganan (mitigasi) yang sama Sumber dana yang sama, seperti IRFF atau APBN

10. Prosedur Pemilihan Konsultan IPM akan bertanggung-jawab menugaskan tenaga konsultan spesialis tambahan untuk penyusunan studi lingkungan dan sosial yang diperlukan (AMDAL dan LARAP lengkap). IPM akan memberikan kontrak tahunan yang dapat diperpanjang, ke perusahaan atau gabungan perusahaan yang terbukti banyak melakukan analisis lingkungan dan sosial sesuai standar Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia. Memang perusahaan seperti ini kebanyakan berada di Jawa, tapi perusahaan tersebut didorong untuk membentuk kemitraan dengan organisasi setempat (LSM dan lembaga akademis) untuk melaksanakan fungsi riset lapangan.
Diharapkan sekitar 10 –15% (atau sekitar 8 –10 subproyek) dari total 80 subproyek akan memerlukan AMDAL da/atau LARAP, dan 40-50% memerlukan UKL/UL dan/atau LARAP singkat. Sudah jelas dalam penaksiran bahwa, seandainya angka-angka ini terbukti tidak mencukupi, maka sumberdaya tambahan untuk studi akan disediakan sebagai bagian dari pendanaan yang diberikan melalui Fasilitas Rekontruksi Infrastruktur Lokal yang diusulkan. Saat ini ada tujuh subproyek yang sedang dipersiapkan untuk dilaksanakan dalam program tahun 2007, yang memerlukan AMDAL. Pada tahun 2008, angka ini diharapkan berkurang karena komunikasi antara Staker dan BAPEDALDA semakin baik, juga pemakaian pendekatann kelompok kapanpun dianggap memungkinkan.

Prosedur untuk penyusunan dan penyelesaian AMDAL dan UKL/UPL sudah dijelaskan dalam KepMen No. 308/2005. Untuk AMDAL, tim teknis dari Pemda dan Pemprop akan menyusun dan menyetujui TOR (Kerangka Acuan) AMDAL, konsultan melaksanakan studi, dan kajian akhir dan persetujuan dilakukan oleh Komisi AMDAL Tingkat Propinsi lalu Gubernur. Mengingat kurangnya kapasitas otoritas lingkungan lokal untuk menanggung beban kerja ini, mak IPM akan menyerahkan draf TOR ke tim teknis untuk disetujui. Pengaturan seperti ini saat ini sedang dirundingkan dengan BAPEDALDA. Format dasar untuk menyelesaikan UKL/UPL diberikan di Lampiran 2 dalam KepMen 308/2005. Form UKL/UPL umumnya diserahkan ke otoritas lingkungan lokal untuk dikaji dan disetujui. Sudah banyak dari pekerjaan ini dilimpahkan ke otoritas propinsi karena banyak BAPEDALDA kabupaten tidak mempunyai kapasitas yang memadai. Jika diperlukan pembebasan lahan dan ganti rugi, maka pendekatan standar Bank Dunia akan dipakai untuk penyusunan LARAP. 10.1. TOR (Kerangka Acuan) untuk Perusahaan Konsultan atau LSM yg Berkualifikasi Penunjukkan langsung konsultan yang memenuhi kualifikasi harus disetujui MDF untuk kontrak dengan nilai hingga $60.000. Satu kelompok kecil perusahaan konsultan akan diperkerjakan dengan basis masa kontrak, dan anggaran untuk subproyek diserahkan hingga nilai ini. 10.2. TOR Generik Berikut adalah komponen yang disarankan untuk dicantumkan dalam lingkup kerja semua TOR, berdasarkan pencitraan satelit dan pemetaan yang disediakan oleh Proyek ADB ETESP.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 57 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

• Menyepakati bersama konsultan IPM Proyek mengenai batas-batas bidang studi yang ditentukan; • Menyusun inventarisasi bidang studi dan sumberdaya alam dan manusia spesifik tempat, dengan skala masing-masing 1 : 5000. Inventarisasi ini harus meliputi tapi tidak terbatas pada: − Bidang ekologi lokal termasuk fauna darat dan flora daerah rawa, hutan bakau, muara atau laguna pantai yang dekat dengan subproyek; − Daerah atau tempat penting bermakna khusus bagi budaya, arkeologi atau peradaban lokal; • Melaksanakan pemantauan dasar untuk kualitas air, kualitas udara dan suara, mempergunakan hanya parameter yang dapat diukur dengan alat genggam, misalnya DO, pH dan salinitas. • Berkonsultasi erat dengan kelompok pengguna lokal dan membahas pendapat dan usulan mereka untuk disain ulang proyek; • Bekerja-sama dengan ahli perencanaan sosial; identifikasi kemungkinan pembebasan atau pertukaran lahan yang diperlukan unntuk mewujudkan rasionalisasi pemanfaatan lahan subproyek; • Identifikasi kemungkinan dan adanya tanah yang mengandung asam sulfat di setiap daerah studi; • Identifikasi dengan beberapa rincian mengenai cara pemanfaatan lahan sebelum tsunami dan cara perencanaan infrastruktur tertentu yang dipakai sebelum tsunami, dan apa kemungkinan dampaknya; • Menjelaskan ekonomi lokal sebelum dan sesudah tsunami atau gempa bumi, dan cara pengoperasian infrastruktur sebelum tsunami (misalnya: jika pelabuhan, berapa banyak kapal yang keluar masuk sebelum tsunami); • Menaksir pentingnya inventarisasi sumberdaya dan mengusulkan opsi untuk restorasi dan peningkatan pendapatan; • Bekerja-sama dengan tim perencanaan dan teknik sosial, pergunakan hasil dari tugastugas sebelumnya untuk bersama-sama merancang sarana; dan • Menyusun Rencana Manajemen Lingkungan (RKL/RPL) dengan mempergunakan Pedoman Lingkungan Bank Dunia, serta rekomendasi mengenai cara penanganan dan pemantauan dampak kontruksi dengan lebih baik. Tim konsultan yang ditugaskan harus beranggotakan: - Perencana/ahli lingkungan dengan Sertifikat AMDAL B untuk mengelola pekerjaan. Dia harus mempunyai pengalanan mengkordinir dan menyusun ANDAL/RKL/RPL, menurut peraturan perundang-undangan Indonesia. - Ahli ekologi darat atau disiplin ilmu yang erat kaitannya, dengan pengalaman dalam ekosistem pantai dan muara. - Ahli tanah / geo-kimia dengan pengalaman menangani masalah drainase asam jika kondisi tanah mengandung asam sulfat; - Ahli informasi geologi atau sistem pemetaan; dan - Perencana sosial dengan pengalaman dalam penyusunan LARAP untuk proyek Bank Dunia

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 58 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
11. Disain Langkah Penanganan (Mitigasi)

Penyusunan Studi Lingkungan

Disain yang tepat dapat menyisihkan dan mengurangi sebagian besar dampak buruk kegiatan proyek. Disain teknis yang bagus akan membawa dampak positif pada kondisi lingkungan di tempat proyek seperti banyak terbukti. IPM akan mempelajari dampak buruk pada ekologi lokal berdasarkan kasus per kasus. PDCS akan melakukan pengamatan pra-disain bersama-sama dengan spesialis/ahli lingkungannya di setap tempat subproyek. Selain itu, kearifan lokal dari pemangku kepentingan lain dan warga penghuni dapat ditampung untuk memastikan bahwa subproyek tidak akan menimbulkan dampak sumberdaya lingkungan yang penting. Kordinasi dengan instansi utama dan pemangku kepentingan lain harus dimulai sejak fase disain. Ini akan memastikan bahwa setiap subproyek siap menangani dampak seperti yang terkait dengan permukiman ulang dan layanan kesehatan, jika diperlukan. IPM telah menyusun draf dokumen kontrak standar yang mencantumkan langkah penanganan dampak lingkungan dan sosial.

12. Langkah Penanganan Dampak Kontruksi Proyek akan menekankan manajemen lingkungan selama fase kontruksi karena pengelolaan infrastruktur rehabilitasi, yang sesuai dengan parameter disain selama tahap operasi, dapat memperkecil atau mengurangi potensi dampak buruk. Dokumen tender standar akan mencantuman klausul lingkungan berikut ini: • Kontraktor harus melestarikan lansekap kultural sebaik mungkin, dengan cara menjalankan operasinya sedemikian rupa sehingga dapat mencegah kerusakan yang tidak perlu atau mencemari alam sekitar. Kecuali jika diperlukan untuk pekerjaan permanen, kontraktor harus melindungi tambang pasir batu, lobang galian, tempat penahapan dan pemrosesan, tempat sampah, dan tempat pekerja (camp), semua pohon, p0ohon muda dan semak belukar dari kerusakan yang tidak perlu. Kontraktor harus melaporkan kerusakan yang tidak dapat dihindari dan mengembalikan ke kondisi semula jika perlu. • Kontraktor harus mencegah bahan pencemar, sampah atau polutan lain yang tak sengaja tumpah , terutama ke aliran air atau sumber air bawah-tanah. Polutan ini bisa berupa air limbah takteroleh, limbah sanitasi, tailing, produk perminyakan, kimia, biosida, garam mineral dan polusi thermal. • Air limbah, termasuk agregat pemrosesan dan adonan beton, tidak boleh memasuki aliran air sebelum melewati kolam dan saringan bertahap, atau pemrosesan lain, dan tidak boleh menurunkan kualitas air atau membahayakan kehidupan air. • Kontraktor harus memastikan bahwa bahan limbah, sampah dan bahan galian sudah dibuang dengan benar dari permukaan jalan. Jika pembuangan dengan api atau dipendam, maka ini tidak boleh menimbulkan dampak negatif pada air, tanah dan sumber air tanah. • Kontrak tor harus memperkecil emisi yang menyebabkan polusi udara dan air. Kontraktor harus memperkecil debu akibat penangan atau pengakutan agregat, semen, dll, melalui metode penyiraman air atau lainnya. Kontraktor boleh membakar material, semak atau pohon hanya jika diijinkan pemiliknya dan dalam kondisi cuaca yang mendukung. • Kontraktor harus merencanakan gudang, tempat pekerja, tempat penyimpanan dan sarana lain sebelumnya dan menentukan bagaiman wujud lingkungan setelah kontruksi selesai. Kontraktor harus menempatkan sarana ini sedemikian rupa sehingga dapat menjaga sebaik mungkin kelestarian lingkungan alam seperti pohon dan vegetasi lain.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 59 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

• Bangunan dan tempat pekerja harus dapat berfungsi sebagai permukiman permanen atau nantinya menjadi bagian masyarakat setelah subproyek selesai, jika PMU memperkirakan manfaatnya akan seperti ini. Atau, kontraktor harus merobohkannya setelah kontruksi selesai dan mengembalikan lingkungan sekitar ke kondisi semula. • Kontraktor harus menata lasekap dan menutup kembali lobang galian dengan tanaman dan, sesuai disain ekologi, memberikan daerah pengganti lansekap alami dan habitat yang hilang. 13. Perlindungan Sosial Strategi terpisah saat ini sedang disusun untuk Perlindungan Sosial, bekerjasam dengan kantor Bank Dunia di Jakarta. Dokumen ini akan menjelaskan prosedur perlindungan sosial untuk LARAP Lengkap dan Singkat untuk semua prosedur pelaksanaan proyek IREP/IRFF. Ini termasuk penjelasan mengenai persyaratan dan mekanisme penanganan keluhan. 13.1. Kerangka Perlindungan Sosial Proyek akan memberikan manfaat bagi masyaakat umum melalui peningkatan penyediaan layanan seperti air bersih, sanitasi dan transportasi. Memang, perempuan dan anak tidak menjadi target khusus proyek, tapi mereka menjadi penerima utama manfaat intervensi di sektor air bersih dan sanitasi yang membuat kesehatan mereka meningkat dan mengurangi tugas mengumpulkan air. Menyediakan pendidikan kesehatan sebagai bagian dari intervensi di sektor sanitasi dan air bersih, akan banyak membantu terwujudnya manfaat-manfaat tersebut. Pembebasan lahan luas diperkirakan tidak akan terjadi untuk sebagian besar subproyek, karena Proyek kebanyakan menangani rehabilitasi sarana yang ada sebelum tsunami 2004, dan kontruksi biasanya dilakukan di daerah milik jalan atau pipa air bersih. Namun mungkin akan ada beberapa komponen investasi yang diusulkan jika pembebasan lahannya kecil, seperti air bersih di waduk atau tandon air atau penjajaran/penataan kembali jalan yang ada. Jika memang diperlukan tanah dengan luas kecil, maka tanah ini harus diperoleh melalui sumbangan, pembayaran ganti rugi untuk aset yang diperoleh masyarakat, atau memakai tanah pemerintah yang ada. PDCS harus mencatat semua sumbangan sukarela dan pembayaran ganti rugi dari masyarakat. Dokumentasi tanah ini harus menjamin bahwa tanah ini tidak dalam keadaan sengketa atau kasus lain, dan bahwa pihak berwenang telah memberikan tanah ini untuk kepentingan subproyek. Proyek akan berusaha menghindari kegiatan yang memerlukan pembebasan lahan secara tidak sukarela, yang memerlukan pemindahan atau relokasi penduduk, atau yang menyebabkan pemberian ganti rugi untuk lebih dari 200 KK. Jadi, sebagian besar subproyek tidak memerlukan LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan). 13.2. Peningkatan Kapasitas Akan diberikan pelatihan untuk pelaksanaan operasi yang didanai MDF di Indonesia. Pejabat Perlindungan, staf BRR dan Pemda terkait, dan staf dari instansi pelaksana atau konsultan akan diberi pelatihan mengenai aplikasi Kerangka Perlindungan sebagai bagian dari kegiatan peningkatan kapasitas lingkungan dan sosial. IPM akan menyusun materi khusus pelatihan dan menyelenggarakan lokakarya. Modul pelatihan dari spesialis mungkin akan dipertimbangkan setelah tingkat pengetahuan dasar yang dapat diterima sudah terbentuk. Proyek akan melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas sebagai bagan dari program

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 60 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

kabupaten untuk manajemen Lingkungan dan Sosial. Bank Dunia akan menilai pelaksanaan kerangka ini sebagai bagian dari pengawasan Proyek, dan akan memberikan saran peningkatan tambahan jika perlu. 13.3. Konsultasi dan Sosialisai

Kerangka Perlindungan dan Sosial dikembangkan dengan dasar keseluruhan kerangka kegiatan rekontruksi yang didanai MDF. Kerangka ini disusun melalui konsutasi dengan Pemda-Pemda dan mitra pembangunan yang ikut serta dalam kegiatan rekontruksi di Indonesia. Kerangka ini akan disediakan di website BRR. Selain itu, IPM bermaksud menyediakan untuk umum semua dokumentasi Proyek melalui SMART Pro.

Proyek akan mendukung studi kelayakan untuk skema infrastruktur di masa depan, yang berkaitan dengan kebijakan perlindungan Bank Dunia. Konsultasi dan sosialisai diwajibkan, jika kegiatan ini didanai MDF. Instansi pelaksana akan melakukan konsultasi dengan LSM dan warga masyarakat yang terkena dampak untuk tujuan menampung pendapat mereka, yang berkaitan dengan aspek sosial dan lingkungan. Instansi pelaksana akan memulai konsultasi ini sedini mungkin, dan menyediakan materi terkait agar konsultasi bermakna dan dilakukan pada saat yang tepat sebelum kegiatan kontruksi. Materi ini harus dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dapat diperoleh oleh kelompok warga yang sedang diajak konsultasi.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 61 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

Lampiran 7B
Penyusunan Studi Lingkungan
1. Pedoman Penyusunan AMDAL
1.1 Pendahuluan Dalam kerangka penyusunan AMDAL sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 38/2005, Tim Khusus AMDAL Propinsi telah dibentuk untuk menyusun Kerangka Acuan (TOR) AMDAL yang diperlukan untuk subproyek rehabilitasi dan rekontruksi NAD-Nias. Tim Khusus AMDAL Propinsi beranggotakan berbagai praktisi, akademisi dan tenaga ahli dari KLH (Kementrian Lingkungan Hidup) dan tenaga-tenaga ahli dari BAPEDALDA. 1.2 Proses AMDAL Khusus Seperti disebutkan sebelumnya, proses AMDAL untuk subproyek rehabilitasi dan rekontruksi memakai mekanisme khusus yang berlaku hanya di NAD dan Nias, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 38/005. Singkatnya, proses AMDAL tersebut mengacu pada skema berikut:

Error!
BRR (bersama IPM) membantu dengan data subproyek (uraian dan ukuran proyek) Tim Teknis AMDAL Propinsi menyusun TOR (KA-ANDAL) BAPEDALDA dan BRR (IPM) mengumumkan AMDAL dalam media masa untuk mendapatkan masukan/komentar dari masyarakat. Membahas TOR (KA-ANDAL) dengan Komisi AMDAL Propinsi dan BRR (IPM)

Proses tender untuk mendapatkan sumberdaya luar untuk penyusunan AMDAL (ANDAL, RKL, RPL). Penyusunan AMDAL (Dokumen ANDAL, RKL, RPL)

Membahas dokumen ANDAL, RKL, RPL dengan Komisi AMDAL Propinsi

Persetujuan oleh BAPEDALDA

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 62 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
1.3 Lingkup Pekerjaan

Penyusunan Studi Lingkungan

Tugas sumber daya luar (sub-konsultan) adalah untuk menyusun dokumen AMDAL, yang terdiri dari Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dokumen-dokumen ini harus berdasarkan pada Kerangka Acuan (KA-ANDAL) yang disusun oleh Tim Teknis AMDAL Popinsi. Penyusunan dokumen ANDAL, RKL, RPL harus mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 8/2006 mengenai Pedoman Penyusunan AMDAL. 1. Menentukan Batas Studi Batas studi AMDAL perlu ditentukan agar pelaksanaan dapat terfokus, akurat dan efektif. Setiap garis batas digambar di pet a dengan skala yang memadai, juga harus disesuaikan dengan dasar yang rasional dan akurat. Dalam menentukan batas studi, perlu dipertimbangkan hal berikut ini: a. b. c. d. Batas proyek harus dipusatkan pada tempat kontruksi dan wilayah pembangunan yang direncanakan, yang diprakirakan akan menimbulkan dampak negatif dan positif pada daerah sekitarnya. Batas Ekologi harus mempertimbangkan luas persebaran dampak. Batas administrasi harus difokuskan desa tempat subproyek dilaksanakan. Batas sosial harus difokuskan pada daerah permukiman tempat proyek berada.

Sebagai hasil akhir, penentuan seluruh batas studi memberikan gambaran mengenai lingkup studi. Penggambaran lingkup ini harus dilakukan dengan dasar dan pembenaran yang rasional, bukan sekedar menggambar seluruh garis batas yang ada.

2. Penyusunan Dokumen ANDAL

Dokumen ANDAL pada dasarnya harus berisi hal-hal berikut ini:
Pendahuluan yang harus menjelaskan maksud dan tujuan khusus pelaksanaan subprroyek. Uraian kesesuaian rencana proyek dengan RTRW dan kebijakan pembangunan propinsi dan kabupaten, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kondisi kualitas lingkungan di lokasi proyek.Konsultan harus mengambil sampel tanah, air dan udara. Kajian mengenai dampak subproyek, yang harus mencakup semua perkiraan dampak yang tertuang dalamTOR (KA-ANDAL). 3. Penyusunan Dokumen RKL Dokumen RKL harus mencantumkan upaya untuk mencegah, menangani, mengelola dan mengendalikan dampak yang mungkin terjadi. Dokumen ini secara umum harus berisi perihal-perihal berikut ini: • • • • • • Komponen atau parameter lingkungan yang diprakirakan akan mengalami perubahan mendasar, dan sumber dampak seperti yang dikaji dalam dokumen ANDAL. Tolok ukur dampak untuk mengukur perubahan pada komponen lingkungan. Tujuan rencana pengelolaan lingkungan dan tolok ukur pengelolaan lingkungan. Upaya pengelolaan lingkungan. Lokasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Lembaga yang bertanggung-jawab atas pengelolaan lingkungan.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 63 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
4. Penyusunan Dokumen RPL

Penyusunan Studi Lingkungan

Dokumen RPL pada dasarnya berisi perihal-perihal berikut ini:
a. Komponen atau parameter lingkungan yang dipantau. b. Sumber dampak seperti yang dikaji dalam dokumen ANDAL c. Maksud pemantauan lingkungan. d. Metode pemantauan lingkungan. e. Periode dan frekuensi pemantauan. f. Lokasi pelaksanaan pemantauan lingkungan. g. Lembaga yang bertanggung-jawab atas pemantauan lingkungan. 5. Pembahasan Dokumen ANDAL, RKL, RPL

Dokumen ANDAL, RKL dan RPL dibahas bersama Komisi AMDAL, sebelum disetujui oleh BAPEDALDA.

1.4 Metodologi Metodologi untuk penyusunan AMDAL terdiri dari (1) metode pengumpulan dan analisis data, (2) metode peramalan dampak penting, dan (3) metode evaluasi dampak penting, seperti dijelaskan diawah ini: 1.4.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data Jenis data yang dikumpulkan harus memenuhi ketentuan seperti disebutkan dalam Kerangka Acuan. Umumnya data yang harus dikumpulkan seperti tertera dibawah ini: Tabel: Data yang Harus Dikumpukan No 1 2 3 4 5 6 7 Macam Data Kualitas air Kualitas udara sekitar (ambien) Tingkat Kebisingan Kualitas biota Data kualitas tanah Data kepadatan lalu-lintas darat,kondisi jalan dan kecelakaan lalu-lintas Data ekonomi lokal dan regional - Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pertumbuhannya RTRW Kabupaten Keterangan Sampel dan analisis laboratorium Sampel dan analisis laboratorium Ukuran tingkat kebisingan Data sekunder & pengamatan Data sekunder & pengamatan Data sekunder & pengamatan Data sekunder dari instansi statistik dan sumber-sumber lain Data sekunder dari Bappeda

8

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 64 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No 9 10 11 12 13 14

Macam Data Data tenaga kerja dari kecamatan dan desa Wawancara dengan responden masyarakat lokal Wawancara dengan responden masyarakat lokal Data demografi Data kegiatan usaha non-formal dari kecamatan dan desa Data ekonomi lokal dan regional – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten dan pertumbuhannya Data sanitasi lingkungan dan kesehatan masyarakat

Keterangan Konsultasi dengan kantor kecamatan dan kantor desa Wawancara responden dan diskusi kelompok Wawancara responden dan diskusi kelompok Data sekunder dari kantor statistik kabupaten Konsultasi dengan kantor kecamatan dan kantor desa Data sekunder dari instansi statistik dan sumber-sumber lain Data sekunder dari Dinas Kesehatan kabupaten

15

Data dan informasi harus dikumpulkan dari sumber yang sahih, melalui riset langsung (pengambilan sampel kualitas air, kualitas udara, wawancara reponden). Konsultasi dengan lembaga terkait dan masyarakat harus dilakukan dengan acuan yang benar. Jika menggunakan pendapat ahli dipakai, maka pendapat ini harus ditentukan dengan jelas. Penilaian atau pendapat ahli ini harus mempunyai dasar pembenaran, atau didukung dengan alasan yang kuat. Jika kajian mengenai suatu masalah diperlukan pertimbangan teknis (misalnya unuk debu dan gas buang, emisi, kepadatan lalu-lintas, erosi, pengelolaan limbah padat atau drainase), maka diharapkan disertai dengan penilaian profesional untuk verifikasi kesimpulan dan rekomendasi yag diberikan.

1.4.2 Metode Prakiraan Dampak Penting Metode untuk prakiraan dampak penting dan evaluasi holistik akan mengacu pada Pedoman Penentuan Dampak Penting. Seperti ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Indonesia No. 27/1999, kriteria dampak penting adalah sebagai berikut: • Jumlah orang yang terkena dampak proyek • Penyebaran dampak • Lama dampak berlangsung • Intensitas dampak • Jumlah komponen lingkungan lain yan terkena dampak • Dampak kumulatif • Berbalik-tidaknya dampak 1.4.3 Metode Evaluasi Dampak Penting Evaluasi dampak penting menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 8/2006 –terdiri dari (1) analisis dampak penting, (2) pemilihan alternatif terbaik dan (3) analisis untuk penyusunan pengelolaan lingkungan.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 65 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

• • •

• • • • •

Analisis dampak penting Metode analisis dampak penting secara holistik akan mempergunakan metode flow chart. Semua dampak penting akan dianalisis secara terpadu agar dapat mengetahui keseimbangan antara dampak positif dan negatif. Semua dampak penting harus dikelola. Pemilihan dampak penting akan didasarkan pada perbandingan antar lokasi subproyek dengan lokasi lain. Analisis untuk dasar penyusunan pengelolaan lingkungan Uraian mengenai karateristik dampak penting: - Apakah dampak penting terjadi selama kegiatan dilakukan - Apakah ada kontradiksi atau sinergi antar dampak-dampak. Kelompok masyarakat mana yang akan terkena dampak positif atau negatif. Penyebaran dampak penting (lokal, regional dan nasional) Analisis bencana alam dan analisi risiko Pendekatan pengelolaan lingkungan untuk kegiatan subproyek, sebagai sumber dampak penting. Pendekatan pemantauan komponen lingkungan sebagai evaluasi kepatuhan, garis kecenderungan dan titik kritis pelaksanaan pengelolaan lingkungan.

Personil
Kebutuhan tenaga ahli tergantung pada tipe subproyek (jalan, pelabuhan, air bersih, sanitasi, dan perumahan). Tim AMDAL paling tidak terdiri dari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tim AMDAL (ketua tim harus mempunyai setifikat AMDAL) Ahli kualitas Udara dan Air Ahli hidrologi (ahli oseanografi) Ahli biologi Ahli sosial-budaya Ahli kesehatan masyarakat Ahli jalan (atau ahli pelabuhan atau

ahli

teknik

sanitasi)

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 66 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd) 2. Pedoman Penyusunan UKL-UPL

Penyusunan Studi Lingkungan

Penyusunan UKL-UPL harus berdasarkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 308/2005, yang memberikan format penyusunan UKL-UPL sebagai berikut: UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UKL-UPL) UNTUK SUBPROYEK … … … .. … … … … ...........

di Desa .....… … Kecamatan … … … … … . Kabupaten

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.308/2005 mengenai AMDAL dan UKL-UPL, untuk rehabilitasi dan rekontruksi di Propins NAD dan Nias, kami menyerahkan dokumen UKL/UPL untuk subproyek di desa … … … . Kecamatan … … … … .. kabupaten. Kami akan mematuhi dan melaksanakan rencana manajemen dan pemantauan lingkungan seperti disebutkan dalam UKL-UPL dibawah ini: I. Identitas Pemrakarsa 1. 2. 3. Nama Instansi Nama Penanggung Jawab Alamat Telpon II. Subproyek 1. 2. 3. Nama Subproyek Lokasi Uraian Subproyek : : : : : :

4

Ukuran Subproyek (Panjang atau bidang atau kapasitas)

:

unit

5

Kegiatan Subproyek

:

Jelaskan subproyek (tahap pra-kontruksi, kontruksi, operasi) yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan:
(1) Pra-kontruksi: (2) Kontruksi: (3) Operasi:

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 67 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
III. Daftar Evaluasi

Penyusunan Studi Lingkungan

A. Tata Ruang Wilayah Tidak

Ya

No

Kriteria Evaluasi

Keterangan

A.1

Apakah subproyek didalam atau didekat: a. Hutan lindung b. c. d. e. f. Daerah rawa

A.2

Daerah tangkapan air Sempadan sungai Daerah sekitar danau Daerah sekitar mata-air Suaka alam (suaka marga satwa, g. hutan wisata, cagar alam) h. Suaka laut (terumbu karang) i. Hutan bakau j. Taman nasional k. Taman hutan l. Daerah wisata m. Peninggalan budaya n. Daerah rawan bencana Apakah ada pertentangan dengan RTRW kabupaten?

Jelaskan alokasi pemanfaatan lahan menurut RTRW kabupaten.

B.

Lahan ( ) ya ( ) tidak

B-1

Apakah subproyek memerlukan pembebasan lahan?

Jika ya, jelaskan lahan yang perlu dibebaskan, statusnya dan rencana tindakan. ( ) ya ( ) tidak

B-2

Apakah subproyek berpotensi menyebabkan tanah longsor?

Jika ya, jelaskan dampaknya pada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 68 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
( ) ya ( ) tidak

B-3

Apakah subproyek berpotensi menyebabkan perubahan bentang alam dalam skala yang cukup besar atau melakukan pemindahan tanah dalam jumlah yang besar?

Jika ya, perkirakan luas bentang alam yang akan berubah dan volume tanah yang dipindahkan, serta cara memperkecil dampak lingkungan. B-4 Apakah subproyek akan mempergunakan lahan pertanian atau hutan produktif? ( ) ya ( ) tidak Jika ya, jelaskan daerahnya. B-5 Apakah subproyek berpotensi mengubah kontur garis pantai, atau menyumbat drainase atau aliran sungai? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan daerah yang terkena dampak, apakah bersifat permanen atau sementara: B-6 Apakah subproyek berpotensi merusak, menguruk atau mengubah bentang alam yang unik secara permanen ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan luas yang terpengaruh dan jelaskan sifat-sifat unik dari bentang alam yang akan terpengaruh B-7 Apakah subproyek berpotansi menyebabkan erosi tanah? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan lokasi yang terkena dampak dan cara memperkecil dampak: . ( ) ya ( ) tidak

B-8

Apakah subproyek berpotensi menyebabkan perubahan pemanfaatan lahan di masa depan?

Jika ya, jelaskan pemanfaatan lahan di masa depan. .

C.

Udara / Klimatologi ( ) ya ( ) tidak

C-1

Apakah subproyek menimbulkan gas buang yang mempengaruhi kualitas udara?

Jika ya, perkiraan penyebaran dampak ini dan cara memperkecil dampak. C-2 Apakah subproyek berpotensi menyebabkan perubahan arah angin, suhu udara dan kelembaban? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, perkirakan intensitas dampak dan cara pengelolaannya. C-3 Apakah subproyek berpotensi menimbulkan bau? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan intensitasnya dan cara memperkecil dampak ini.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 69 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
D. Air Bersih

Penyusunan Studi Lingkungan

D-1

Apakah subproyek akan mempergunakan air permukaan untuk kontruksi dan operasi?

( ) ya ( ) tidak

Jelaskan volume air yang dipakai dan sumbernya. D-2 Apakah subproyek akan mengalirkan air limbah ke sungai danau atau laut? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya,jelaskan volume air limbah yang dibuang, terus-menerus atau kadang-kadang, juga parameter penting yang berpotensi menyebabkan dampak pada kualitas air, dan cara memperkecil dampak ini. . D-3 Apakah subproyek akan memakai air tanah? Apakah akan mempengaruhi debit air tanah? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan metode pengambilan air tanah dan volume yang dipakai, sementara atau permanen? D-4 Apakah kegiatan kontruksi subproyek berpotensi mempengaruhi aliran dan debit air tanah? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan dan cara mengelola dampak ini? D-5 Apakah subproyek berpotensi menimbulkan dampak pada kualitas air tanah? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan parameter dampak pada kualitas air, perkiraan sebaran dampak dan cara memperkecil dampak ini. D-6 Apakah subproyek berpotensi mencemari air untuk keperluan rumah-tangga? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan volume air limbah yang dibuang dan cara pengelolaannya. D-7 Apakah subproyek membuang air limbah rumah-tangga dalam jumlah banyak (dari WC, dapur, kamar mandi)? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan volume air limbah dan cara pengelolaannya. D-8 Apakah subproyek berpotensi menyebabkan banjir? ( ) ya ( ) tidak

Jik ya, jelaskan cara pengelolaannya:

E.

Limbah Padat Apakah kegiatan kontruksi dan operasi subproyek menimbulkan limbah beracun dalam jumlah banyak? ( ) ya ( ) tidak

E-1

Jika ya, jelaskan sumbernya, jenis, volume dan cara pengelolaan.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 70 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
( ) ya ( ) tidak

E-2

Apakah kegiatan kontruksi dan operasi subproyek menimbulkan limbah beracun?

Jika ya, jelaskan sumbernya, jenis, volume dan cara pengelolaan. E-3 Apakah akan dilakukan pengelolaan limbah padat di dalam lokasi proyek ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan pengelolaan yang dilakukan dan lokasi pengelolaanya.

F. F-1

Kebisingan, Getaran, Radiasi dan Kesilauan

Apakah proyek akan menyebabkan peningkatan kebisingan disekitar proyek, pada saat ( ) ya konstruksi dan operasi ? ( ) tidak Jika ya, identifikasi sumber kebisingan, jelaskan sifat kebisingan terus menerus atau hanya terjadi sewaktu-waktu, identifikasi luasan daerah yang kemungkinan terkena dampak dan jelaskan upaya pengelolaannya ( ) ya Apakah proyek akan menyebabkan gangguan getaran, radiasi dan kesilauan bagi F-2 masyarakat ? ( ) tidak Jika ya, identifikasi sumber dampak, jelaskan sifat pemaparan apakah bersifat terus menerus atau hanya terjadi sewaktu-waktu, identifikasi luasan daerah yang kemungkinan terkena dampak dan jelaskan upaya pengelolaannya. G. Flora G-1 Apakah proyek akan menyebabkan perubahan diversitas atau produktivitas spesies tumbuhan ? Apakah proyek juga menyebabkan perubahan jumlah spesies tumbuhan ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, identifikasi tingkat perubahan dan jelaskan upaya pengelolaannya. G2 ( ) ya Apakah proyek akan mempengaruhi habitat tumbuhan langka atau tumbuhan yang dilindungi ? ( ) tidak Jika ya, identifikasi spesies tumbuhan langka/dilindungi tersebut, luasan habitat yang terpangaruh serta upaya pengelolaannya. H. H-1 Fauna Apakah proyek mempengaruhi habitat satwa liar atau satwa yang dilindungi ?

( ) ya ( ) tidak Jika ya, jelaskan luasan habitat yang terpengaruh langsung dan yang terpengaruh tidak langsung serta indentifikasi satwa liar atau dilindungi tersebut : ( ) ya H-2 Apakah proyek menyebabkan introduksi spesies hewan baru ? ( ) tidak Jika ya, sebutkan spesies yang dimasukkan dan proses perijinan yang telah dilakukan. H-3 Apakah proyek menyebabkan barier yang dapat membatasi migrasi / perpindahan hewan dan ikan ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, identifikasi spesies yang akan terpengaruh dan upaya pengelolaan yang dilakukan.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 71 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

( ) ya ( ) tidak Jika ya, identifikasi spesies yang akan terpengaruh, luasan dan karakteristik habitat yang terpengaruh serta upaya pengelolaan yang dilakukan. ( ) ya Apakah proyek menyebabkan terjadinya migrasi satwa liar dan memungkinkan H-5 terjadinya interaksi antara penduduk dengan satwa liar akibat migrasi tersebut ? ( ) tidak Jika ya, identifikasi spesies yang akan bermigrasi, dan lokasi yang akan terpengaruh serta upaya pengelolaan yang dilakukan. H-4 Apakah proyek menyebabkan gangguan terhadap habitat ikan dan habitat satwa liar ? I. I-1 Sumber Daya Alam Apakah proyek menyebabkan peningkatan penggunaan sumber daya alam ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, identifikasi sumberdaya yang digunakan dan prakiraan penggunaannya. I-2 Apakah proyek menyebabkan penurunan kuantitas sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui secara signifikan ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, sebutkan sumberdaya yang terpengaruh dan jumlahnya.

J. J-1

Energi Apakah proyek akan menggunakan energi dalam jumlah yang signifikan ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, sebutkan kebutuhan energi yang dan sumber energi yang digunakan. J-2 Apakah proyek dapat mempengaruhi peningkatan kebutuhan energi di luar lokasi proyek karena adanya kegiatan-kegiatan ikutan dimasa mendatang ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, sebutkan. J-3 Apakah perlu dibangun sumber energi baru untuk memenuhi kebutuhan proyek atau mengantisipasi perkembangan wilayah disekitar proyek ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan kebutuhan sumber energi tersebut dan prakiraan kapasitasnya..

K. K-1

Transportasi Apakah proyek akan menyebabkan peningkatan jumlah dan mobilisasi kendaraan bermotor ?

( ) ya ( ) tidak Jika ya, jelaskan peningkatan intensitasnya dan identifikasi apakah pengaruh tersebut bersifat permanen atau sementara. K-2 Apakah proyek akan berdampak pada lahan parkir yang ada saat ( ) ya ini dan peningkatan kebutuhan lahan parkir ? ( ) tidak Jika ya, jelaskan peningkatan intensitasnya dan identifikasi apakah pengaruh tersebut bersifat permanen atau sementara serta upaya penanggulangannya. ( ) ya K-3 Apakah proyek akan berpengaruh terhadap sistem lalu lintas saat ini ? ( ) tidak Jika ya, jelaskan pengaruhnya dan hal-hal apa saja yang diperlukan untuk menjaga agar pengaruh negatip dapat dicegah atau diminimalkan.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 72 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

( ) ya ( ) tidak Jika ya, jelaskan pengaruhnya dan hal-hal apa saja yang diperlukan untuk menjaga agar pengaruh negatif dapat dicegah atau diminimalkan. K-4 Apakah proyek akan mengubah sistem sirkulasi barang, jasa dan manusia ? K-5 Apakah proyek akan meningkatkan resiko kecelakaan bermotor, pengendara sepeda dan pejalan kaki ? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan upaya untuk mengatasinya. ( ) ya ( ) tidak Jika ya, jelaskan panjang dan spesifikasi jalan tersebut. Jelaskan pula siapa yang diharapkan menyediakan prasarana tersebut. K-6 Apakah proyek akan memerlukan konstruksi jalan baru L. Fasilitas Umum Apakah proyek menyebabkan perubahan kebutuhan fasilitas umum, pelayanan jasa dan kelembagaan-kelembagaan pemerintah, misalnya instansi pemadam kebakaran, sekolah, kantor kelurahan, puskesmas dan lain sebagainya ? ( ) ya ( ) tidak

L-1

Jika ya, identifikasi kebutuhan yang diperlukan dan jelaskan siapa yang diharapkan menyediakan fasilitas tersebut. M. Utilitas Apakah proyek akan memerlukan pembangunan fasilitas baru atau mempengaruhi fasilitasfasilitas jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, penyediaan air bersih, sistem drainase dan sebagainya? ( ) ya ( ) tidak

M-1

Jika ya, identifikasi fasilitas-fasilitas yang akan terganggu dan upaya untuk menanggulanginya.

N. N-1

Penduduk Apakah proyek akan memindahkan penduduk atau akan mengubah komposisi penduduk? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan jumlah penduduk yang akan dipindahkan dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk meminimalkan dampak pemindahan penduduk. O. Resiko Kecelakaan

( ) ya Apakah kegiatan proyek menyebabkan terjadinya resiko pemaparan bahan-bahan berbahaya seperti minyak, pestisida, bahan-bahan kimia, radiasi atau bahan-bahan lain ( ) tidak O-1 pada saat terjadi kecelakaan kerja atau pada saat operasional kegiatan mengalami gangguan? Jika ya, sebutkan bahan-bahan berbahaya tersebut, tingkat resiko dan kemungkinan penyebaran serta upaya untuk mencegah dan mengatasinya. O-2 Apakah di dalam kegiatan proyek terdapat kegiatan penggunaan, penyimpanan, penimbunan dan pembuangan bahan-bahan berbahaya dan beracun? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, sebutkan bahan-bahan berbahaya tersebut, tingkat resiko dan kemungkinan penyebaran serta upaya untuk mencegah dan mengatasinya.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 73 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
( ) ya ( ) tidak

O-3

Apakah kegiatan proyek baik pada saat persiapan, konstruksi, operasi, dan pasca operasi memiliki resiko tinggi terjadinya kecelakaan atau bencana?

Jika ya, jelaskan resiko tersebut dan upaya pengelolaannya. O-4 Apakah kegiatan proyek rawan terhadap terjadinya kecelakaan karena lokasi proyek berada di daerah yang rawan? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan resiko tersebut dan upaya pengelolaannya.

P. P-1

Perekonomian Apakah proyek dapat menyebabkan dampak negatif terhadap perekonomian setempat atau perekonomian regional? ( a) gangguan terhadap turisme ( ( b) gangguan terhadap pendapatan lokal masyarakat ( ( c) penurunan nilai jual tanah ( ( d) pengurangan lapangan kerja dan menimbulkan pengangguran ( ( e) pemindahan sarana-sarana perekonomian, fasilitas perdagangan dan perindustrian (

) ya ) tidak ) ya ) tidak ) ya ) tidak ) ya ) tidak ) ya ) tidak

Jika ya, jelaskan

Q. Q-1

Persepsi Masyarakat

( ) ya Apakah proyek yang direncanakan dapat menimbulkan kontroversi dengan masyarakat setempat? ( ) tidak Jika ya, jelaskan bentuk kontroversi tersebut dan upaya penanggulanganya serta upaya untuk mencegah dan mengatasinya. ( ) ya Apakah proyek yang direncanakan bertentangan dengan nilai-nilai budaya masyarakat Q-2 setempat? ( ) tidak Jika ya, jelaskan Q-3 Apakah proyek yang direncanakan menimbulkan gangguan terhadap fasilitas ibadah masyarakat setempat? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan lokasi dan jenis fasilitas ibadah tersebut; dan jelaskan upaya untuk mengatasinya:

R. R-1

Kesehatan Masyarakat Apakah terdapat pekerja pendatang yang berpotensi membawa penyakit ke daerah proyek? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan:

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 74 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
( ) ya ( ) tidak

R-2

Jika proyek mengakibatkan terjadinya pemindahan penduduk, apakah lokasi pemukiman baru mempunyai potensi yang lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan?

Jelaskan: R-3 Apakah proyek yang direncanakan dapat meningkatkan beban fasilitas kesehatan masyarakat setempat (jamban, air bersih dsb)? ( ) ya ( ) tidak

Jelaskan. R-4 Apakah proyek yang direncanakan akan memberikan dampak negatif terhadap sanitasi lingkungan melalui: a) perubahan sistem hidrologi (kecepatan aliran air, kedalaman, suhu, genangan air dan sebagainya)

( ) ya ( ) tidak ( ) ya b) perubahan morphologi (kemiringan lereng, penutupan pohon- pohonan) ( ) tidak ( ) ya c) perubahan iklim (curah hujan dan klimatologi) ( ) tidak ( ) ya d) perubahan biologi (komposisi tumbuhan dan rantai makanan) ( ) tidak Jika ya, jelaskan perubahan yang akan terjadi dan kemungkinan intensitas dampaknya. Jelaskan pula upaya pencegahan dan pengelolaannya. S. S-1 Estetika Apakah proyek yang direncanakan akan merubah pemandangan alam atau mempengaruhi ruang-ruang publik? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan.

T. T-1

Arkeologi, Cagar Budaya dan Situs Sejarah Apakah proyek yang direncanakan dapat mengganggu situs-situs arkeologi, cagar budaya atau situs sejarah? ( ) ya ( ) tidak

Jika ya, jelaskan.

IV.

DAMPAK LINGKUNGAN Berdasarkan daftar evaluasi yang telah dilengkapi, uraikan secara singkat dan jelas dalam format tabel: 1. Kegiatan yang menjadi sumber dampak terhadap lingkungan 2. Jenis dampak lingkungan 3. Ukuran yang menyatakan besaran dampak 4. Hal-hal lain yang perlu disampaikan untuk menjelaskan dampak lingkungan yang akan terjadi terhadap lingkungan

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 75 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

No I

Sumber Dampak Tahap Prakonstruksi

Jenis Dampak

Besaran Dampak

Keterangan

II

Tahap Konstruksi

III

Tahap Operasi

V.

PROGRAM PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Inti dari dokumen UKL-UPL adalah program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dilakukan selama kegiatan berlangsung. Untuk itu bagian ini menguraikan secara jelas dan lengkap masingmasing dampak, sejalan dengan daftar evaluasi di bagian III, hal-hal sebagai berikut: 1. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah dan mengelola dampak termasuk upaya untuk menangani dan menanggulangi keadaan darurat. 2. Kegiatan pemantauan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas pengelolaan dampak dan ketaatan terhadap peraturan di bidang lingkungan hidup. 3. Tolok ukur yang digunakan untuk mengukur efektifitas pengelolaan lingkungan hidup dan ketaatan terhadap peraturan bidang lingkungan hidup. Pengelolaan Lingkungan & Pelaksana Pemantauan Lingkungan & Pelaksana

No I

Jenis Dampak Tahap Prakonstruksi

Tolok Ukur

II

Tahap Konstruksi

III

Tahap Operasi

Penanggung Jawab Kegiatan............. (tanda tangan dan cap)

...................................................................

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 76 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd) 3. Manual Penyusunan Larap

Penyusunan Studi Lingkungan

Tinjauan aspek social terutama terkait dengan keperluan pengadaan tanah. Pada prinsipnya, pembebasan tanah masyarakat sedapat mungkin dihindari, dengan menyesuaikan ’ tapak lokasi’dengan ’ desain teknis proyek’– walaupun mungkin ada konsekuensi biaya. Jika terpaksa ada pembebasan tanah, harus dilaksanakan dengan prinsip-prinsip keterbukaan, partisipatif, adil untuk kehidupan yang lebih baik. Sesuai dengan ketentuan Bank Dunia (World Bank Policy), bila jumlah kepala keluaga yang terkena proyek >40 KK atau >200 jiwa, maka perlu disusun studi sosial yang disebut LARAP (Land Acquisition and Resettlement Action Plan) atau Rencana Kerja Pembebasan Tanah dan Pemukiman Kembali. Bila jumlah kepala keluaga yang terkena proyek <40 KK atau <200 jiwa maka yang diperlukan adalah LARAP sederhana (Simplified LARAP), dengan asumsi dampak sosial/ekonomi pembebasan tanah tidak signifikan. LARAP merupakan dokumen rencana kerja operasional pelaksanaan proyek, dalam hal ini BRR dan Pemda dan harus mendapat persetujuan Bank Dunia. LARAP merupakan suatu keharusan untuk memastikan bahwa: - Prinsip-prinsip dan tahap-tahapan pembebasan tanah dilakukan secara memadai. - Pembebasan tanah dilakukan secara terencana. - Memastikan bahwa tanah dapat dibebaskan sebelum konstruksi dimulai. Penyusunan LARAP lengkap (Comprehensive LARAP) disertai dengan: - Survei social ekonomi yang mendalam untuk mengetahui dampak social yang mungkin terjadi sebagai akibat pembebasan tanah - Wawancara persepsi dan keinginan masyarakat yang tanahnya akan dibebaskan. - Memberikan sistem monitoring dan evaluasi yang sistematis untuk kurun waktu tertentu sampai pembebasan tanah selesai. Semua jenis LARAP harus disahkan oleh Kepala Daerah dengan Surat Keputusan Bupati atau Walikota. LARAP disusun oleh Pemerintah Daerah/Sekretariat Bersama bersama-sama dengan BRR, yang dibantu konsultan IPM. Proses penyusunannya melalui dialog antar instansi terkait, guna mencapai kesepakatan dan komitmen indikator dan waktu pencapaian, serta penyediaan sumberdaya (staf dan finansial) yang diperlukan. Dokumen LARAP berisi: - Deskripsi proyek (dengan alternatif) - Sensus warga yang terkena pembebasan (format pendataan tertera pada tabel berikut) - Sensus tanah dan aset yang terkena pembebasan - Penaksiran ’ nilai’ dari tanah dan aset yang terkena - Deskripsi rinci tentang pilihan bentuk-bentuk kompensasi atau bantuan pemulihan yang dibutuhkan. - Deskripsi rencana sosialisasi rencana proyek dan kemungkinan pembebasan tanah, serta negosiasi tentang bentuk-bentuk kompensasi dan besarnya kompensasi termasuk bantuan pemulihan. - Indikator dan target waktu pencapaian setiap langkah kegiatan. - Apa yang sudah dilakukan hingga saat LARAP disusun (tabel dibawah) - Instansi/pihak yang bertanggungjawab untuk setiap kegiatan - Sistem penanganan keluhan - Rencana besarnya anggaran, tahun dan sumber pembiayaan - Deskripsi mekanisme monitoring dan pelaksanaan - Penjelasan – bila diperlukan – bagaimana setiap kegiatan itu dilakukan dan status kemajuan sampai sekarang.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 77 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
-

Penyusunan Studi Lingkungan

Kesepakatan tertulis antara Pemerintah Daerah dan warga yang terkena pembebasan tentang besar, bentuk dan waktu kompensasi diberikan.

Laporan LARAP dilengkapi: - SK Bupati tentang penetapan lokasi - SK Bupati tentang Pembentukan Panitia Pembebasan Tanah - SK Bupati tentang Pembentukan Tim Penilai Harga - Hasil Inventarisasi warga yang terkena, meliputi: nama, alamat, luas tanah yang terkena, luas tanah sisa, bukti kepemilikan atau hak (jika dokumen hilang, ada bukti dari para pemilik yang bersebelahan yang disahkan oleh keuchik dan camat sebagi PPAT) - Bukti ketersediaan anggaran yang cukup (ada di DASK APBN) - Rekomendasi taksiran harga oleh Tim Penilai Harga - Berita acara/notulensi hasil pertemuan dengan warga. - Kesepakatan harga dan waktu pembayaran antara warga dengan Panitia Pembebasan Tanah. - Fotokopi rekening bank pemilik tanah atau yang berhak. - Fotokopi KTP pemilik tanah atau yang berhak. - Pembayaran ganti rugi dan kuitansi/bukti pembayaran - Dokumen pengaduan dan penanganan keluhan - Daftar nominatif - Peta bidang - Surat pernyataan penanggalan/pelepasan hak atas tanah - Berita acara pelepasan hak atas tanah/aset - Pengukuran/pematokan - Sertifikat tanah sisa.

Tabel: Pendataan Penduduk Terkena Proyek Nama KK Jumlah anggota keluarga No 1 2 3 4 : ................ : Data Keterangan

5 6

7

Uraian Pekerjaan Penghasilan rata-rata/bulan Alamat tempat tinggal Akses terhadap fasilitas umum: a. Jarak ke tempat kerja b. Jarak ke sekolah c. Jarak ke pasar terdekat d. Jarak ke puskesmas terdekat c. Ketersediaan air bersih d. Ketersediaan listrik Kompensasi yang dipilih (uang, tanah, atau yang lain) Tanah yang akan dibebaskan a. Luas tanah yang dimiliki b. Status kepemilikan c. Penggunaan/fungsi tanah d. Nilai produksi/tahun (untuk tanah pertanian) e. Luas tanah yang akan dibebaskan f. Informasi harga pasar dan NJOP Bangunan yang akan terkena proyek a. Luas bangunan yang dimiliki

m atau km m atau km m atau km m atau km ada/tidak ada ada/tidak ada m2 atau ha

m2 atau ha Rp/m2 m2

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 78 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
b. Status kepemilikan c. Penggunaan/fungsi bangunan d. Kondisi bangunan e. Luas bangunan yang terkena proyek f. Informasi harga pasar Tanaman dan aset lain yang akan terkena proyek a. Jumlah tanaman yang akan terkena proyek b. Informasi harga kompensasi tanaman c. Jenis dan jumlah aset lain yang terkena proyek d. Informasi harga kompensasi aset lain

Penyusunan Studi Lingkungan

m2

8

Rp/m2 Rp/m2

MANUAL PENYUSUNAN LARAP SEDERHANA Penyusunan LARAP Sederhana hampir sama dengan LARAP Lengkap, kecuali pada persyaratan administrasi. Sebagaimana diurai diatas, pada LARAP Lengkap disertakan dengan Surat Keputusan Bupati/Wali Kota, sedangkan pada LARAP Sederhana cukup dengan Surat dari Bupati/Wali Kota kepada World Bank dan instansi terkait.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 79 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan
Tabel: Rencana Pengadaan Lahan Instansi yang bertanggungjawab Bupati Bupati Panitia pembebasan tanah Panitia pembebasan tanah Panitia pembebasan tanah Tim penaksir (harga) tanah Panitia pembebasan tanah Panitia pembebasan tanah Dinas terkait dan Bappeda, dikuasakan oleh Sekda Dinas terkait dan Bappeda Bupati Direktorat Lahan, BRR

Penyusunan Studi Lingkungan

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Aktivitas Pembentukan panitia pembebasan tanah Pembentukan tim penaksir (harga) tanah Sosialisasi proyek pada masyarakat dan media masa Identifikasi batas lokasi proyek dan konfirmasi pada pemerintah kabupaten. Identifikasi pemilik lahan yang terkena proyek dan lahan yang akan dibebaskan. Penetapan harga pasar Perkiraan jumlah biaya pengadaan lahan yang perlu dialokasikan pada APBD tahun 2007/2008 Konsultasi dan negosiasi dengan pemilik lahan. Penyiapan anggaran yang diperlukan untuk pengadaan lahan dan biaya operasional yang perlu dialokasikan pada APBN. Cek kecukupan dan waktu penganggaran Permohonan tambahan biaya kepada BRR, jika diperlukan Proses penganggaran biaya tambahan Pembayaran Pembuatan sertifikat tanah sisa 4.

Tanggal

Keterangan

Sosialisasi mengenai: lokasi, desain proyek, penanganan komplain, rencana pembebasan tanah. Cek bila hal ini sudah dilaksanakan, apa yang sudah disosialisasikan dan dimana.

Akan menjadi dasar kelayakan pengadaan tanah.

Hanya perkiraan kasar. Termasuk bentuk-bentuk kompensasi Tergantung proses penganggaran, jika APBN sudah disahkan DPRD, kemudian Bupati mengusahakan mencari sumber lain biaya pengadaan tanah, sambil menunggu revisi APBN.

Pada APBN yang telah disahkan Sesuai perhitungan kekurangan biaya Satu minggu setelah permohonan Max. 1 tahun setelah pembayaran

Bila sebagian biaya berasal dari BRR. Biaya yang diperlukan berasal dari APBN. BRR tidak bisa membiayai pembuatan sertifikat tanah sisa.
Lampiran 7B Hal. 80 dari 125

Infrastructure Recontruction Enabling Program

Lampiran 7B Hal. 80 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

4. Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan pada Perencanaan Jalan,
Konstruksi dan Pemeliharaan 4.1. Kriteria AMDAL, UKL-UKL Dan SOP Kegiatan (sub-proyek) pekerjaan jalan yang perlu dilengkapi Prosedur Standar Operasional (SOP) adalah kegiatan yang tidak termasuk kriteria Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 308 Tahun 2005 dan tidak termasuk kriteria Upaya Pengelolaan Lingkungan –Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) berdasarkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Kegiatan Bidang Permukiman dan Prasarana Wilayah Yang Wajib Dilengkapi UKL-UPL. Selanjutnya kriteria kegiatan (sub-proyek) pekerjaan jalan yang wajib AMDAL, UKL-UPL dan SOP sebagaimana disajikan pada tabel berikut: Tabel 1 Kriteria AMDAL, UKL-UPL dan SOP Pekerjaan Jalan Skala/Besaran UKL-UPL (Kepmen Kimpraswil No.17 tahun 2003)

No

Jenis Kegiatan Pekerjaan Jalan Pembangunan dan/atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar daerah milik jalan a). Kota besar*)/ metropolitan b). Kota sedang*)

AMDAL (PermenLH No.308 tahun 2005)

SOP Lingkungan

1

Panjang 5km atau Luas 5ha. Panjang 10km atau Luas 10ha. Panjang 15km

2

c). Pedesaan*) Peningkatan jalan dalam daerah milik jalan (DAMIJA) Kota Besar Kota Sedang

Panjang 1 s/d <5km atau Luas 2 s/d <5ha. Panjang 3 s/d <10km atau Luas 5 s/d <10ha. Panjang 5 s/d <15km

Panjang < 1 km atau Luas < 2 ha. Panjang < 3 km atau Luas < 5 ha. Panjang < 5 km.

Panjang
: Penduduk 500.000 –1.000.000 : Penduduk 200.000 –500.000 : Penduduk 20.000 –200.000

10 km

Panjang < 10km Semua ukuran

*) Kota Besar *) Kota Sedang *) Pedesaan

4.2. Tujuan SOP

Tujuan penyusunan Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan pada Pekerjaan Jalan adalah untuk dapat memberikan pertimbangan perlindungan lingkungan (baik komponen fisik, biologi maupun sosial) dalam perencanaan jalan, pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan. Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 81 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)

Penyusunan Studi Lingkungan

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 82 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
4.3. Deskripsi Kegiatan

Penyusunan Studi Lingkungan

Pada dasarnya SOP berisi upaya mencegah atau meminimumkan dampak negatif terhadap lingkungan dari kegiatan pekerjaan jalan. Tahap-tahapan kegiatan pekerjaan jalan, terutama yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan (bila kurang dikelola dengan baik), meliputi: 4.3.1. Tahap Pra-Konstruksi • Sosialisasi
Kegiatan sosialisasi rencana peningkatan jalan dapat dilakukan dengan pemasangan papan informasi mengenai rencana pekerjaan jalan, pada tempat-tempat yang mudah dibaca masyarakat (misalnya seperti gambar dibawah).

Akan Dilaksanakan Pekerjaan Peningkatan Jalan ..... dari km ...... sampai km ...... sepanjang ......... km

Sosialisasi bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai rencana kegiatan, sehingga dapat mencegah timbulnya dampak-dampak sosial yang tidak diinginkan.

Survei & pengukuran Kegiatan survei dan pengukuran rencana pekerjaan jalan perlu didahului dengan pemasangan papan sosialisasi (gambar di atas), sehingga masyarakat bisa lebih awal mengetahui rencana kegiatan.

4.3.2. Tahap Konstruksi • Perekrutan tenaga kerja Perekrutan tenaga kerja konstruksi perlu memprioritaskan masyarakat setempat untuk mencegah kemungkinan timbulnya dampak-dampak kecemburuan sosial. • Mobilisasi material Kegiatan mobilisasi material (terutama tanah) menggunakan truk dengan bak berpenutup terpal.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 83 dari 125

Infrastructure Program Manegement (GHD Pty Ltd)
• Pengoperasian basecamp

Penyusunan Studi Lingkungan

Pengoperasian bascamp kerja berpotensi menimbulkan dampak pada sanitasi lingkungan (bila kurang dikelola dengan baik). Pada basecamp perlu dilengkapi toilet, tempat sampah. • Penyiapan lahan Penyiapan lahan mencakup penebangan pohon (sesuai keperluan). Bila ada penebangan pohon, maka dilakukan penanaman pohon pengganti. • Pekerjaan tanah (galian dan timbunan) Pekerjaan tanah (terutama penggalian) berpotensi menimbulkan gangguan utilitas eksisting bawah tanah (kabel atau pipa). Kontraktor perlu memperoleh informasi mengenai keberadaan utilitas tersebut sebelum pekerjaan penggalian. • Pekerjaan jembatan Pekerjaan jembatan berpotensi menimbulkan dampak pada kestabilan sisi sungai sekitar lokasi pekerjaan jembatan. Kontraktor perlu mengembalikan kestabilan sisi jembatan setelah pekerjaan jembatan (misalnya pembuatan turap). • Pengaspalan Kegiatan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan. Pekerjaan ini berpotensi berdampak pada kelancaran arus lalu lintas, perlu dilaksanakan sedemikian rupa sehingga memungkinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang dilaksanakan dan dampak pada gangguan lalu lintas dapat diminimalkan. 4.3.3. Tahap Pemeliharaan • Pemeliharaan Jalan Pemeliharaan jalan meliputi kegiatan menjaga kualitas permukaan jalan tetap baik. Termasuk pemeliharaan jalan adalah kegiatan pengaspalan kembali, perawatan rambu lalu lintas, dan sebagainya. 4.4. Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Perencanaan Jalan, Konstruksi Dan Pemeliharaan Penyajian Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan dikelompokkan menjadi 3, yaitu: (1) SOP pada tahap perencanaan (untuk konsultan perencana), (2) SOP pada tahap konstruksi (untuk kontraktor) dan (3) SOP pada tahap operasi pemeliharaan (untuk dinas terkait). Prosedur Standar Operasional (SOP) disajikan pada tabel-tabel berikut berisi kolom-kolom: • • • Perlindungan Lingkungan, merupakan komponen lingkungan sekitar lokasi pekerjaan jalan yang perlu diberikan perhatian/perlindungan. Prosedur Standar Operasional (SOP) Lingkungan, merupakan pelaksanaan mitigasi yang harus dijalankan untuk menjaga lingkungan. Tolok Ukur, merupakan ukuran yang hendak dicapai dari pelaksanaan SOP.

Infrastructure Recontruction Enabling Program Lampiran 7B Hal. 84 dari 125

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Tabel 2 Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan pada Tahap Perencanaan Jalan (untuk Konsultan Perencana) Prosedur Standar Operasional SOP Perlindungan Lingkungan Pada tahap Perencanaan Sedapat mungkin perencanaan rute jalan menghindari sumberdaya budaya (masjid, kuburan, monumen dan sebagainya). Namun bila tidak memungkinkan, konsultan perlu terlebih dahulu berkonsultasi dengan masyarakat yang berkepentingan, misalnya untuk menjajagi kemungkinan pemindahan kuburan atau membangun mesjid pengganti yang dekat tempat semula. Rencana rute jalan harus sesuai dengan peruntukkannya dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW). Konsultan perlu melakukan review terhadap RT/RW

No

Perlindungan Lingkungan

Tolok Ukur

1

Perlindungan terhadap cagar budaya (mesjid, kuburan, monumen)

Tidak ada konflik dengan masyarakat menyangkut cagar budaya (mesjid, kuburan, monumen dan sebagainya)

2

Kesesuaian dengan tata ruang (RT/RW)

-

Peruntukan area rute jalan yang direncanakan sudah sesuai dengan RTRW

-

Tabel 3 Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi Jalan (Untuk Kontraktor)

No 1

Perlindungan Lingkungan Peluang kesempatan kerja bagi masyarakat setempat Utilitas bawah tanah

Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi Dalam perekrutan tenaga kerja, sedapat mungkin kontraktor memberikan prioritas kepada masyarakat setempat yang memenuhi persyaratan, atau mereka yang dinilai mempunyai kemampuan untuk dilatih. Sebelum melaksanakan pekerjaan tanah (penggalian), kontraktor perlu mencari informasi mengenai keberadaan utilitas bawah tanah (seperti pipa, kabel, gorong-gorong) pada rute jalan. Bila terdapat utilitas bawah tanah, kontraktor perlu berkoordinasi dengan instansi pemilik dan bertanggung jawab melindungi utilitas tersebut. Bila terjadi kerusakan, kontraktor bertanggung jawab

Tolok Ukur Ada sebagian tenaga kerja dari masyarakat setempat. Pekerjaan tanah tidak menimbulkan kerusakan utilitas bawah tanah.

2

-

-

-

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

No

Perlindungan Lingkungan

Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi memperbaiki, sesuai persetujuan pemilik

Tolok Ukur

3

Perlindungan terhadap sumber quarry

-

Untuk memenuhi kebutuhan material kontraktor mencari quarry harus mendapat ijin dari instansi berwenang. Menghindari atau setidaknya mengurangi pilihan sumber daya alam (hutan lindung, sungai,dsb). Untuk meminimumkan konflik dengan masyarakat, libatkan masyarakat dalam setiap langkah proses pembangunan jalan termasuk rancangan lebar jalan, daerah milik jalan. Tidak ada komplain/keberata n dari instansi pemerintah yang berwenang terhadap pengambilan quarry. Mobilisasi material tidak menimbulkan kerusakan jalan yang dilalui. Lereng pada kondisi aman dari bahaya longsor.

4 Menjaga hubungan sosial kemasyarakatan -

5

Mencegah kerusakan jalan eksisting oleh mobilisasi material

-

Tonase pengangkutan material tidak melebihi kapasitas jalan yang dilalui. Bila mobilisasi material menyebabkan kerusakan jalan, kontraktor bertanggung jawab memperbaiki seperti kondisi semula. Menutupi atau melindungi lereng sampai upaya pengendalian erosi dilakukan - perlindungan sementara dilakukan pada semua sisi lereng sampai grading selesai. Perlindungan dapat dilakukan dengan mempercepat tumbuhnya vegetasi permanen, vegetasi sementara, penanaman rumput atau pemasangan jaring. Menanami kembali lereng yang rusak selama konstruksi. Meminimalkan pembersihan tumbuhan pada sisi jalan Tidak menumpuk material sekitar aliran air atau lereng. Membuat pagar sedimen (dari bambu atau bahan lain) dan kolam penampung lumpur sedimentasi (pada saluran air) untuk menghalangi lumpur masuk ke sungai –foto ilustrasi di bawah. Tutupi material dengan penutup plastik atau bahan lain yang ada.

6

Perlindungan terhadap lereng di kiri kanan jalan yang rawan tererosi

-

7 Perlindungan kualitas air sungai (dari lumpur sedimentasi) -

-

Tidak ada lumpur sedimen yang masuk ke sungai (pada radius 30 meter dari lokasi jalan).

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

No

Perlindungan Lingkungan

Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi

Tolok Ukur

Pagar penghalang

Pagar penghalang

Kolam penampung lumpur pada saluran drainase

8

Mencegah genangan air/ melancarkan aliran drainase

- Menjaga kelancaran aliran air selama kegiatan konstruksi (misalnya dengan menyediakan gorong-gorong sementara) –foto ilustrasi di bawah.

Tidak terjadi genangan air.

Gorong-gorong sementara

- Mengerjakan kegiatan konstruksi pada musim kemarau apabila memungkinkan.

- Mengembalikan area ke kondisi awal atau kontur yang
lebih baik (melancarkan drainase) mengikuti konstruksi. - Pada saluran air yang curam, dibangun pasangan batu dan drop inlet untuk menjaga bentuk dan formasi saluran air. 9 Perlindungan terhadap akuifer air tanah Penghijauan dan - Bila terdapat sumur dekat lokasi galian yang terpengaruh, kontraktor mengganti membuat sumur baru sedekat mungkin dengan sumur lama, sesuai kesepakatan dengan pemilik sumur. - Sedapat mungkin mempertahankan pohon yang ada di Tidak ada komplain dari pemilik sumur. Pohon

10

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

No

Perlindungan Lingkungan perlindungan terhadap sumberdaya alam

Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan Pada Tahap Konstruksi tepi jalan. - Penanaman pohon baru pengganti yang ditebang. - Disarankan jenis tanaman berakar panjang (tidak mudah tumbang), tidak membahayakan stabilitas jalan, serta biaya pemeliharaan yang murah. - Berbagai jenis tanaman yang baik untuk penanaman kembali: Kaliandra (Calliandra calonthrysus), Akasia (Acacia auriculi-formis), Acacia ducurrens, Gliricidia sepium, Luecaena luecocephala. - Pohon ditanam pada jarak yang cukup dari tepi jalan. - Pohon ditanam pada lubang minimal berukuran 2 m x 2 m dengan kedalaman 1 m. Diameter pohon 8 - 20 cm. - Jarak tanam antar pohon sekitar 15 meter. - Pepohonan atau benda lainnya sebagai lansekap yang terganggu atau rusak oleh operasi peralatan, harus diperbaiki dan/atau dikembalikan ke seperti kondisi awal dengan pohon dari setempat. - Utamakan penggunaan tenaga kerja manual daripada mesin terutama bila terdapat sumber daya yang penting dilindungi

Tolok Ukur penghijauan tumbuh dengan baik. Bila pertumbuhan kurang baik, kontraktor mengganti dengan pohon baru dan perawatan yang lebih baik.

11

Kelancaran lalu lintas selama konstruksi

- Pekerjaan galian saluran atau galian lainnya yang memotong jalan harus dilakukan dengan pelaksanaan setengah badan jalan sehingga jalan tetap berfungsi untuk lalu lintas setiap saat. - Bila lalu lintas terganggu oleh pekerjaan jalan, kontraktor harus mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang dan juga dari Direksi Pekerjaan. - Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, maka setiap galian perkerasan beraspal harus ditutup kembali dengan campuran aspal pada hari itu juga sehingga dapat berfungsi untuk lalu lintas.

Tidak terjadi kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh pekerjaan konstruksi

12

Perlindungan kualitas udara

-

Kontraktor menggunakan peralatan dan kendaraan yang telah lulus uji emisi. Diperlukan operator untuk menerapkan pengendali emisi Pelihara dan operasikan dengan baik mesin gas dan diesel. Sesuaikan mesin dan peralatan dengan alat pengendali polusi, dan lakukan pengecekan berkala.

-

Masyarakat tidak mengeluhkan gangguan pencemaran debu. Kandungan debu tidak melampaui

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

-

Tutupi tumpukan material dengan terpal. Truk memuat tanah, pasir, atau batu harus ditutup dengan terpal untuk mencegah tumpahan. Tempatkan mesin pencampur aspal dan hot-mix sekurangnya 500m dari daerah sensitif seperti sekolah, rumah sakit, dan habitat yang penting. Penyiraman bagian-bagian permukaan yang berdebu foto ilustrasi di bawah.

baku mutu 230 ug/Nm3 (PP No. 41 tahun 1999).

-

-

13 Minimalisasi kebisingan -

Pertahankan pagar hidup Jangan biarkan tanah terbuka, segera ditanami, terutama pada batas jalan dengan pemukiman Kontraktor menggunakan peralatan dan kendaraan yang terawat baik sehingga tidak menimbulkan gangguan kebisingan. Kendalikan kebisingan pada sumbernya Berikan perhatian (pemasangan rambu) untuk mengurangi kebisingan, terutama pada daerah yang peka seperti sekolah, rumah sakit, klinik, dan dekat mesjid pada saat ibadah (misal saat shalat Jumat) Tingkatkan kepedulian masyarakat melalui pemberitahuan dan rambu-rambu yang sesuai. Sediakan alat pengendali kebisingan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja konstruksi (misalnya menyediakan pelindung telinga untuk kegiatan yang melebihi 85 dB) Gunakan dengan hati-hati peralatan konstruksi dan dikurangi kebisingannya dan terapkan batas kebisingan serta waktu terbatas terutama pada daerah penerima yang peka. Tempatkan peralatan berat sekurangnya 200m dari penerima yang peka. Pantau dampak kebisingan jangka pendek. Hasil dari pengukuran lapangan akan dibandingkan dengan standar kebisingan yang berlaku. Masyarakat tidak mengeluhkan gangguan kebisingan. Tingkat kebisingan tidak melampaui standar 55 dBA (pada pemukiman)

-

-

-

-

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

14

Perlindungan terhadap flora fauna

-

Upayakan kegiatan konstruksi berada 200m dari batas air pasang tertinggi –apabila memungkinkan. Minimalisasi gangguan pada tumbuhan, terutama tanaman di kawasan hutan dan lahan basah. Cegah terjadinya gangguan/perusakan habitat spesies laut yang hampir punah dan Lindungi lokasi potensial untuk bertelur spesies laut yang hampir punah dari dampak yg mungkin timbul. Tempatkan jalan pada kemiringan ke arah daratan daripada ke arah laut. Cegah dan minimalisasi gangguan pada habitat satwa dan kawasan hutan. Rancang mess konstruksi sementara dengan baik, lokasi, dan pemeliharaannya untuk memastikan tersedia fasilitas sanitasi dan air yang memadai, mengurangi genangan air dengan membuat saluran yang baik, dan untuk menghindari tercemarnya air Menyediakan toilet lapangan dengan resapan:

Tidak ada gangguan signifikan pada flora fauna

15 Sanitasi lingkungan -

Kondisi sanitasi pada tempat kerja terpelihara baik (bersih). Kualitas air sumur tidak mengandung bakteri coliform.

-

-

Mengolah air limbah dengan baik sebelum memasuki badan air untuk menghindari pencemaran badan air atau laut. Melakukan pengecekan parameter sanitasi air limbah pada tempat pengaliran secara periodik, termasuk bakteri coliform, untuk memastikan bahwa kualitasnya memenuhi standar air limbah Aspal dan minyak buangan disimpan dalam tangki diletakkan di atas lantai beton yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya dan dikelilingi dinding sehingga bila bocor tidak menyebar. Kontraktor harus melakukan pembersihan tempat kerja, kantor sementara, tempat hunian secara teratur. Menyediakan drum di lapangan untuk menampung sementara sisa bahan bangunan dan sampah, untuk kemudian dibuang ke tempat yang telah ditentukan. Kontraktor tidak diperkenankan mengubur sampah atau sisa bahan bangunan di lokasi proyek tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan. Kontraktor tidak diperkenankan membuang limbah

-

-

-

-

-

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

berbahaya seperti cairan kimia, minyak atau thinner cat ke dalam saluran atau sanitasi yang ada. 16 Minimalisasi kontaminasi bahan cair 17 Perlindungan terhadap kesehatan Kontraktor tidak diperkenankan membuang sisa bahan bangunan ke sungai atau saluran air. Pada saat pekerjaan selesai, tempat kerja harus ditinggal dalam keadaan bersih dan siap dipakai oleh pemilik. Gunakan penampung sekunder untuk menampung bocoran saat memindahkan atau mengganti bahan cair. Gunakan alat yang sesuai (pompa, corong) untuk memindahkan bahan cair. Tempatkan bahan berbahaya di tempat tertutup. Latih pekerja untuk pengelolaan bahan dan limbah berbahaya dengan baik. Menyediakan sarana sanitasi yang baik, termasuk tempat pembuangan sampah di lokasi proyek dan tempat tinggal pekerja. Tempatkan sumur air minum (untuk pekerja) sekurangnya 30m dari septic tank. Berikan label yang sesuai pada perlengkapan kesehatan dan tablet/cairan penjernih air dengan bahasa setempat serta berikan penjelasan dan penerangan atas penggunaannya. Segera setelah pekerjaan jembatan selesai, pengembalian tepi sungai dilaksanakan dengan pemadatan tanah yang cukup, terutama untuk bagianbagian yang kurang stabil, dan diberi tanaman pelindung yang cepat tumbuh (rumput atau semak). Bilamana kelandaian tepi sungai sekitar 1:3 dan aliran cukup deras, tepi sungai sekitar jembatan dilindungi turap papan kayu (atau bahan lain). Pekerja menggunakan perlengkapan keselamatan kerja (topi, sepatu, pakaian kerja). Pengamanan pekerjaan galian: lereng sementara galian harus stabil dan mampu menahan pekerjaan, struktur atau mesin di sekitarnya. Bila lereng galian tidak stabil, harus dipasang penyokong (shoring) dan pengaku (bracing). Bila diperlukan, kontraktor harus menyokong atau mendukung struktur di sekitarnya, yang jika tidak dilaksanakan dapat menjadi tidak stabil atau rusak oleh pekerjaan galian tersebut. Peralatan berat tidak diijinkan berada lebih dekat 1,5 meter dari tepi galian parit. Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade) yang cukup (foto ilustrasi di bawah) untuk mencegah pekerja atau orang terjatuh ke Tidak ada peningkatan jumlah pasien pada puskesmas setempat antara periode selama konstruksi dengan sebelumnya Kondisi tepi sungai sekitar jembatan aman dari kemungkinan longsor Tidak ada kebocoran bahan cair yang mencemari lingkungan.

-

18

Perlindungan tepi sungai

-

-

19

Peningkatan keselamatan masyarakat dan pekerja

-

Angka kecelakaan kerja adalah nol.

-

-

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

dalamnya.

-

Setiap galian terbuka pada jalur lalu lintas maupun pada bahu jalan harus diberi rambu tambahan pada malam hari berupa drum yang di cat putih (atau yang sejenis) beserta lampu merah atau kuning guna mencegah keselamatan pengguna jalan. Bahan peledak yang diperlukan untuk galian batu harus disimpan, ditangani, dan digunakan dengan hati-hati dan di bawah pengendalian ekstra ketat sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Kontraktor harus menjamin penanganan peledakan hanya dipercayakan kepada orang berpengalaman dan bertanggungjawab. Pada pekerjaan pengaspalan, kontraktor harus melengkapi tempat pemanasan dengan fasilitas pencegahan atau pengendalian kebakaran yang memadai, juga sarana pertolongan pertama. Menugaskan pegawai lapangan untuk mengatur lalu lintas selama mobilisasi alat berat dan pada pengalihan arus lalu lintas. Menyediakan pagar yang sesuai & rambu-rambu khusus di sekitar area konstruksi & fungsi pendukung lainnya. Cegah akses pihak yang tidak berwenang ke lokasi. Sediakan lampu penerangan di lokasi, lapisan refleksi, dan rambu-rambu yang sesuai. Memberikan pelatihan bagi perkeja secara berkala, rapat keselamatan harian, dan pemantauan menerus kegiatan pekerja Perlengkapan K3 harus tersedia pada tempat kerja.

-

-

-

-

-

Tabel 4 Prosedur Standar Operasional (SOP) Perlindungan Lingkungan pada Tahap Operasi dan Pemeliharaan Jalan (untuk Dinas Terkait) Prosedur Standar Operasional SOP Perlindungan Lingkungan pada Tahap Operasi Pemeliharaan

No

Perlindungan Lingkungan

Tolok Ukur

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

No 1

Perlindungan Lingkungan Keselamatan pengguna jalan

Prosedur Standar Operasional SOP Perlindungan Lingkungan pada Tahap Operasi Pemeliharaan - Pemeliharaan rutin rambu lalu lintas. - Pemeliharaan rutin kondisi permukaan jalan. - Pemeliharaan rutin saluran drainase jalan untuk mencegah genangan air hujan pada permukaan jalan.

Tolok Ukur Angka kecelakaan rendah

2

Pemeliharaan Pohon peneduh jalan

- Pemeliharaan teratur pohon peneduh jalan. - Pupuk yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman terdiri dari nitrogen total, oksida phosphor dan garam kalium yang dapat larut dalam air. Pupuk dikirim ke lapangan dalam kemasan yang aman dan berlabel lengkap. Bila diperlukan penggunaan pupuk ditabur merata 5 kg per 100 m2. - Untuk penghijauan juga harus disediakan batu kapur untuk pertanian yang 100% lolos ayakan No.8 dan 25% lolos ayakan No.100. Batu kapur mengandung tidak kurang dari 50% Kalsium Oksida. Penggunaan batu kapur ditabur 20 kg per m2. - Pohon yang rusak diganti dengan penanaman pohon baru

Suasana lingkungan teduh

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

LAMPIRAN 9A

Prosedur Penutupan Proyek

1.

Penutuan Proyek
Pekerjaan untuk menyiapkan penutupan proyek harus dimulai paling tidak enam bulan sebelum tanggal berakhirnya proyek. Saran untuk isi Laporan Penutupan subproyek dijelaskan di bawah ini.
1.1. Tujuan Subproyek • • • • Tujuan subproyek Komponen kegiatan subproyek Metode pelaksanaan yang digunakan Uraian dan dasar pembenaran (justifikasi) untuk perubahan dari komponen atau metode pelaksanaan subproyek, jika ada.

1.2. Pelaksanaan Subproyek

• •

• •

Perbandingan antara jadual pelaksanaan semula subproyek dengan kinerja aktual. Tunjukkan apa yang terlambat, lama keterlambatan, sebab keterlambatan dan tindakan yang diambil untuk mengatasinya. Perbandingan antara perkiraan biaya yang dibuat pada awal dengan biaya aktual. Buat daftar biaya yang dikeluarkan dalam mata uang lokal, nilai tukar yang sesuai untuk US$, dan biaya mata uang asing yang dibayar penyandang dana utama atau pendamping. Tunjukkan faktor yang menyebabkan kelebihan dan sisa biaya yang penting. Pernyataan mengenai masalah atau kesulitan yang ditemui dalam rekrutmen staf, dengan mengacu pada prosedur yang ditetapkan Bank Dunia. Penilaian pekerjaan staf dan hubungan kerja dengan PMU dan staf lapangan. Pernyataan mengenai masalah atau kesulitan yang ditemui dalam pengadaan pekerjaan sipil, dengan mengacu pada prosedur dan persyaratan Bank Dunia. Penilaian kinerja kontraktor dengan membandingkannya dengan ketentuan dalam kontrak. Alasan keterlambatan dalam alokasi anggaran. Ketepatan metode pembayaran yang digunakan. Jika ada alokasi ulang dalam perjanjian hibah, sebutkan dasar pembenarannya.

1.3. Operasi Awal • • • Berikan uraian mengenai operasi awal program subproyek. Masalah transisional yang ditemui dari operasi awal hingga penutupan proyek. Langkah-langkah yang diambil untuk memastikan lancarnya operasi program subproyek, tergantung kepada manajemen, penempatan staf dan pemeliharaan sarana proyek. Analisis mengenai prospek subproyek: apakah manfaat benar-benar terwujud.

1.4. Evaluasi Kinerja BRR dan Bank Dunia selama Pelaksanaan • Penilaian kinerja BRR dalam mengawasi pelaksanaan program subproyek.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Ini harus menyertakan komentar mengenai ketepatan dan kecukupan prosedur pelaksanaan. Efektivitas dan ketepatan waktu bantuan yang diberikan BRR dalam mengatasi masalah yang ditemui selama pelaksanaan. Komentar mengenai pedoman, prosedur dan persyaratan BRR. Masalah yang ditemui dan langkah yang diambil untuk mengatasi masalah. Perubahan yang disarankan untuk prosedur dan persyaratan ini.

2.

Prosedur Penutupan Subproyek
PMU harus menyerahkan subproyek yang selesai ke Penerima dan Penyokong terkait operasi dan pemeliharaan. Setelah PMU mengeluarkan sertifikat penyelesaian, maka PMU menyerahkan seluruh pekerjaan (subproyek) ke Penerima, beserta rincian lengkap biaya yang dikeluarkan untuk subproyek.

PMU akan memegang catatan mengenai pekerjaan-pekerjaan yang selesai dan yang sudah diserahkan ke Penerima, sampai semua bagian subproyek sudah selesai. Setelah subproyek sudah sepenuhnya selesai atau tanggal akhir proyek sudah dekat, yakni 30 September 2008, maka PMU akan menyerahkan semua catatan, dokumen dll. kepada penerima.

3

Penutupan Rekening saat Subproyek Selesai
3.1. Penyelesaian Rekening Penting artinya menutup rekening pekerjaan subproyek secepat mungkin, setelah pekerjaan aktual selesai. Jika terpaksa ada keterlambatan dalam penutupan rekenening, maka Konsultan PDCS akan mengenakan beban tambahan tanpa perlu ijin PMU. Jika ada sebagian atau seluruh pengeluaran yang dapat diminta kembali dari kontraktor, perseorangan atau lembaga lain, maka harus dilakukan tindakan yang diperlukan agar pengeluaran tersebut dapat kembali sebelum rekening pekerjaan subproyek ditutup.. 3.2. Memasuki Masa Penutupan dan Kajian Pengeluaran

Jika kontrkator sudah menyelesaikan pekerjaannya dan PMU telah menutup rekeningnya, maka PMU harus menggaris-bawahi masa akhir dan menuliskan dengan tinta: “ Pekerjaan selesai pada ______ 200__. PMU harus menandatangani catatan ini setelah memeriksa bahwa semua perkerjaan dan prosedur telah diselesaikan. Tanda-

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

tangan ini berarti wewenang menutup relening, dan pekerjaan harus dilaporkan seperti saat selesai dalam rekening PMU, kecuali PMU memerintahkan lain.

3.3. Koreksi Kesalahan dan Penutupan Rekening

Jika ada seseorang yang melihat ada kesalahan atau penghilangan bukti pengeluaran pekerjaan yang tercatat setelah rekening proyek sudah ditutup, maka PMU boleh membuka kembali rekenig tertentu untuk membetulkan kesalahan atau penghilangan ini.

3.4. Audit Internal 3.4.1 Buku Pengukuran/Measurement Books (MB) Konsultan PDCS harus melacak semua pengeluaran kontraktor hngga ke MB. Ahli teknik Konsultan PDCS akan mencatat semua tanggal pengukuran dalam Buku Pengukuran. Ahli teknik Konsultan PDCS juga akan memberikan tanda silang pada pengukuran langsung setelah tagihan diajukan, mencatat nomer tagihan dan perintah pembayaran yang ditandatangani Pimpinan Tim PMU segera setelah pembayaran. Jika ada kesalahan atau pengukuran yang perlu dikoreksi, maka ahli teknik Konsultan PDCS harus menyatakan alasannya dan mencatatnya dalam MB. Konsultan PDCS juga harus memeriksa apakah ada kejadian dimana orang yang tidak berwenang melakukan pengukuran. Konsultan IPM harus memeriksa semua MB yang dipakai selama paling tidak satu tahun, dan memastikan bahwa Konsultan PDCS sudah mengirimkan MB dengan tepat ke PMU untuk arsip. Konsultan IPM juga harus melakukan verifikasi apakah Konsultan PDCS mengukur berbagai tipe perkerjaan dengan akurat. PMU harus menyimpan catatan yang menunjukkan gerakan MB dan harus memeriksa keterlambatan pengembalian MB. 3.4.2 Perjanjian
Pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum ada persetujuan dari Bank Dunia. PMU harus menyimpan nomer daftar perjanjian dan jaminan kontrak, serta memastikan bahwa dokumen diberi nomer seri pada saat ditanda-tangani.

PMU juga harus memeriksa apakah harga yang diberikan kontraktor sesuai dengan yang ada dalam perkiraan kontrak dan pengaturan harga satuan. 3.4.3 Rekening Kontraktor
Rekening harus jelas dan benar. PMU harus memeriksa apakah ada pembayaran yang menonjol tanpa alasan yang memuaskan untuknya.

Konsultan PDCS akan memastikan apakah persyaratan mengenai uang muka mobilisasi sudah dipenuhi. Mereka juga harus memastikan apakah persyaratan jaminan kinerja dan jaminan uang sudah memuaskan.

3.4.4 Umum

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Ahli teknik PDCS akan menyatakan masalah kontrak yang ditemukan selama pemeriksaan. Jika ada masalah penting, maka IPM akan menjelaskan dan memberikan informasi yang diperlukan ke Konsultan PDCS dan stafnya.

LAMPIRAN 9B

Prosedur Serah Terima Pertama Pekerjaan (PHO)
1. Tujuan Untuk mendapatkan hasil pelaksanaan yang sesuai dengan ketentuan dan dapat dipertanggung jawabkan secara teknis dan administrasi. Prosedur ini memuat proses Serah Terima Sementara Pekerjaan dimulai dari permohonan kontraktor, evaluasi dan penelitian baik teknis maupun administrasi terhadap hasil pekerjaan oleh Panitia sampai dengan selesainya Berita Acara Serah Terima Pekerjaan. 1. Serah Terima Sementara Pekerjaan (Provisional Hand Over) adalah peristiwa penyerahan hasil pekerjaan kontraktor secara menyeluruh sesuai kontrak dan amandemennya kepada Pemilik/Direksi Pekerjaan, yang masih harus dipelihara dan dijamin mutunya sampai dengan masa jaminan selesai sesuai yang diatur dalam Kontrak. 2. Daftar kerusakan dan cacat adalah daftar kerusakan dan cacat-cacat hasil pekerjaan yang harus diperbaiki disertai cara pelaksanaan perbaikannya. 3. Masa jaminan pemeliharaan adalah kerangka waktu yang ditentukan dalam dokumen kontrak untuk menjamin & memelihara hasil pelaksanaan pekerjaan. 4. Acuan 1. Keppres Nomor : 80 tahun 2003 2. Kepmen PU nomor 67/KPTS/1998 3. Dokumen Lelang

2.

Ruang Lingkup

3.

Definisi

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

5.

Ketentuan Umum

1. Permintaan Serah Terima Sementara Pekerjaan ( Provisional Hand Over ), dapat diajukan oleh kontraktor menjelang penyelesaian pekerjaan sesuai yang tertuang dalam kontrak dan amandemennya dengan memberitahukan secara tertulis kepada Satker/PPK dengan menyebutkan perkiraan waktu penyelesaian pekerjaan. 2. Untuk keperluan Serah Terima Pekerjaan, Satker/PPK harus membentuk Panitia dengan susunan kepanitiaan dapat terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota : : : : Unsur Pengendali Unsur Administrasi Proyek Unsur Bidang Pengujian Unsur Pembinaan Pelaksanaan dan Sistem Mutu Unsur Pembinaan Perencanaan Unsur Keuangan Unsur Pelaksana (PPK)

Dalam hal-hal tertentu atau apabila diperlukan, ketua panitia dapat menunjuk atau mendelegasikan wewenangnya kepada pejabat lain namun demikian tanggung jawab tetap kepada yang bersangkutan. Demikian pula, Ketua Panitia dapat membentuk Tim Pembantu yang terdiri dari unsur konsultan, pengawas proyek dan dari kontraktor untuk membantu tugas-tugas Panitia. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias Hal xiv / 5

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

3. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima surat tersebut, Satker/PPK harus sudah memberitahukan secara tertulis kepada kontraktor mengenai jadwal waktu rencana pemeriksaan pekerjaan oleh staf proyek/bagian proyek atau oleh panitia yang ditunjuk oleh Satker/PPK. 4. Dalam tempo paling lama 28 hari sejak surat pemberitahuan dari Satker/PPK, Panitia harus sudah ke Proyek/lapangan. 5. Penilaian hasil pekerjaan yang dilakukan Panitia yang ditunjuk oleh Satker/PPK harus dibahas dalam rapat Panitia , dibuatkan jadwal pelaksanaannya, jenis-jenis pengujian yang akan dilaksanakan, dan penilaian Panitia harus meliputi : a. Penilaian Visual, penilaian yang dilakukan dari hasil penelitian secara visual di lapangan terhadap hasil pekerjaan kontraktor. b. Penilaian Teknis, pemeriksaan terhadap kualitas hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh Kontraktor melalui serangkaian pengujian jaminan/kendali mutu c. Penilaian Administrasi, pemeriksaan terhadap kelengkapan administrasi pelaksanaan Kontrak, serta kesesuaian antara hasil dan administrasi pendukungnya. 6. Penyerahan sementara pekerjaan ( Provisional Hand Over ), dapat dilakukan dengan ketentuan antara lain : a. Kontraktor telah menyelesaikan pekerjaan fisik keseluruhan dari lingkup pekerjaan atau sesuai ketentuan yang tercantum dalam dokumen kontrak. b. Kontraktor telah mengajukan permintaan Serah Terima Pekerjaan (PHO) secara tertulis kepada Satker/PPK dengan menunjuk Wakil Kontraktor untuk keperluan tersebut. c. Direksi Teknik mengadakan penelitian paling lambat dalam 10 hari dari tanggal diterimanya surat permohonan Penyerahan Sementara Pekerjaan/PHO. d. Pemilik pekerjaan telah mengirimkan pemberitahuan secara tertulis kepada kontraktor dengan memberitahukan komposisi dari panitia. e. Direksi Teknik harus sudah membuat program pengujian yang akan dilakukan oleh panitia dan diberitahukan kepada kontraktor. f. Kontraktor mempersiapkan segala sesuatu sehubungan dengan kunjungan panitia ke lapangan dan menyelenggarakan pengujian yang diperlukan yang disaksikan oleh Direksi Teknik. g. Panitia kemudian membuat daftar kekurangan-kekurangan dan cacat-cacat ( list of defects & deficiencies ) dan melampirkan hasil pengujian yang bersangkutan yang dilampirkan dalam Berita Acara. h. Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dan cacat-cacat tersebut, panitia harus memberikan tenggang waktu sebagaimana diatur dalam syarat-syarat umum dan khusus kontrak.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xvi / 5

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

i.

Apabila kekurangan & cacat hasil kerja tersebut disebabkan oleh material dan kecakapan kerja kontraktor yang kurang baik (kesalahan kontraktor), maka perbaikan tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor. Apabila bukan kesalahan kontraktor, maka perbaikan juga harus dikerjakan kontraktor dan merupakan pekerjaan tambah dalam kontrak. Konfirmasi bahwa kekurangan & cacat hasil kerja telah diperbaiki sernuanya oleh kontraktor dilampirkan lagi dalam Berita Acara dan tanggal Penyerahan Pekerjaan Sementara harus disertifikasi. Dengan sendirinya harus didahului kontraktor dan merupakan pekerjaan tambah dalam kontrak.

j.

7. Selama masa pemeliharaan ( Warranty Period = WP ) kontraktor wajib memelihara sehingga kondisi tetap seperti pada saat Penyerahan Sementara Pekerjaan/PHO disyahkan oleh Panitia. Untuk maksud tersebut kontraktor harus menyediakan beberapa peralatan dan personil secukupnya di tempat pekerjaan. 8. Apabila terdapat kerusakan-kerusakan dan cacat-cacat selama WP karena penggunaan material dan kecakapan kerja kontraktor, maka kontraktor dibebani untuk memperbaiki dan membiayainya. Sebaliknya apabila bukan kesalahan kontraktor, maka kontraktor wajib memperbaiki dan dimasukkan dalam tambahan pekerjaan. 9. Apabila kontraktor tidak bisa memperbaiki kerusakankerusakan selama WP karena berbagai sebab, maka Satker/PPK dapat menunjuk pihak lain untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan tersebut dan biayanya dibebankan kepada kontraktor dengan dipotongkan dari uang kontraktor yang masih ditahan oleh Satker/PPK yang berupa Retention of Money atau uang jaminan pemeliharaan. 10. Serah Terima Pekerjaan Sementara harus dituangkan dalam Berita Acara yang ditandangani oleh Satker/PPK dan Kontraktor, berdasarkan rekomendasi dari Panitia Serah Terima Pekerjaan. 11. Pembayaran dilakukan sebesar 95% dari nilai kontrak, sedangkan 5% merupakan retensi selama masa pemeliharaan (WP), atau pembayaran dilakukan sebesar 100 % dan kontraktor harus menyerahkan jaminan Bank yang dikeluarkan oleh Bank Umum atau perusahaan asuransi yang mempunyai program asuransi kerugian (surety bond) dan direasuransikan sesuai dengan ketentuan Menteri Keuangan. 12. Pada saat Serah Terima Pekerjaan, Kontraktor wajib menyerahkan Gambar Rencana Terlaksana (As Built Drawing) dan atau Manual Pengoperasian dan Pemeliharaan. Apabila gagal, maka pembayaran akan ditahan yang nilainya ditentukan dalam dokumen kontrak.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xviii / 5

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

6. Prosedur dan Tanggungjawab Pelaku Penanggung Jawab Kontraktor

No 1

Kegiatan 1. Mengajukan permintaan serah terima pekerjaan menjelang pekerjaan selesai dengan menyebutkan perkiraan tanggal selesai 100 %. 1. Membuat rencana kerja 2. Menugaskan Konsultan memeriksa kelayakan paket yang akan PHO.

Rekaman Surat Permohonan PHO

2

PPK

3

PPK

1. Melaporkan rencana pelaksanaan PHO paketpaket pekerjaan kepada KPA. 2. Membentuk dan menetapkan Panitia/TIM PHO.

SK Panitia

4

KPA

1. Merekomendasikan kepanitiaan dan mengeluarkan persetujuan pelaksanaan PHO 1. Melaporkan penyelesaian pekerjaan paket yang akan di PHO kepada PPK. 1. Atas dasar laporan konsultan, mengajukan permohonan Serah Terima Pekerjaan Sementara dan mengirimkan nama-nama wakil kontraktor untuk keperluan tersebut. 2. Melakukan persiapan-persiapan pelaksanaan PHO meliputi administrasi, peralatan pengujian dan teknisi pelaksana untuk penyelenggaraan pengujian-pengujian yang dibutuhkan

5

Konsultan

6

Kontraktor

7 8

PPK Panitia / TIM PHO

1. Permintaan pelaksanaan PHO kepada Panitia
1. Berdasarkan permintaan Satker/PPK mengadakan rapat pleno menyusun rencana dan penugasan Panitia/TIM PHO.

3. Melaksanakan Kunjungan I untuk pemeriksaan lapangan (fisik) dan verifikasi administratif (dokumen kontrak dan data pendukungnya). 4. Melakukan pengujian lapangan dan laboratorium 5. Hasil Evaluasi & kunjungan I lapangan Panitia dituangkan dalam Risalah Rapat, 6. Bila belum terpenuhi atau terdapat cacat mutu (fisik), hasil pekerjaan belum bisa diterima, maka dibuatkan daftar kekurangan dan cacat-cacat dan diberikan waktu yang cukup kepada Kontraktor untuk melakukan perbaikan. 7. Bila hasil pekerjaan diterima, Panitia langsung membuat Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias Hal xix / 5 Daftar kerusakan dan cacat mutu

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

9

Kontraktor

1. Melaksanakan perbaikan-perbaikan sesuai yang diminta Panitia dalam daftar kerusakan dan cacat-cacat pada Risalah Hasil Kunjungan I 2. Melaporkan penyelesaian perbaikan kepada Panitia PHO

Risalah Hasil Kunjungan I

10

Panitia/Tim PHO

1. Melaksanakan Kunjungan II setelah menerima laporan penyelesaian perbaikan atau saat berakhirnya waktu yang diberikan untuk pelaksanaan perbaikan dan hasilnya dituangkan dalam Risalah Rapat Hasil Kunjungan II. 2. Setelah semuanya persyaratan dalam dokumen dan ketentuan telah terpenuhi , disusun Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan yang ditandatangani oleh Seluruh Panitia, Kontraktor, Konsultan dan PPK dan kemudian diserahkan kepada PPK.

Risalah Rapat Kunjungan II

Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan

11

PPK

1. Atas rekomendasi Panitia sesuai dalam Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan, membuat Berita Acara Serah Terima Sementara dan menandatangani bersama Kontraktor 1. Berdasarkan Berita Serah Terima Pekerjaan, dapat mengajukan Pembayaran akhir pekerjaan dengan menyerahkan jaminan pemeliharaan 1. Melaksanakan pembayaran akhir pekerjaan. 2. Melaporkan penyelesaian pekerjaan PHO kepada BRR/ atasan langsung.

Berita Acara Serah Terima Pekerjaan

12

Kontraktor

13

KPA/PPK

14

BRR Distrik

1. Melaporkan rekapitulasi hasil pelaksanaan penyelesaian paket-paket proyek kepada BRR Wilayah VI Nias

7 8

Pengecualian Lampiran

Tidak ada 1. 2. 3. 4. 5. 6. Contoh Surat Permohonan Serah Terima Sementara Pekerjaan. Contoh SK. Pembentukan Panitia PHO Contoh Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan Contoh Berita Acara Penyerahan Pekerjaan sementara. Contoh Formulir Daftar Cacat dan Kerusakan. Contoh Formulir Hasil Pemeriksaan dan Pengujian.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xxi / 5

LAMPIRAN 9C

Prosedur Serah Terima Akhir Pekerjaan (FHO)
1. Tujuan Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan ketentuan dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan setelah melalui proses Waranty Period (masa pemeliharaan) dari kontraktor. Prosedur ini memuat proses penyerahan / serah terima akhir pekerjaan dimulai dengan permohonan kontraktor, pemeriksaan lapangan sampai dengan diterbitkannya Berita Acara Serah Terima Akhir Pekerjaan. Serah Terima Akhir Pekerjaan (Final Hand Over) adalah peristiwa penyerahan hasil pekerjaan kontraktor secara menyeluruh sesuai kontrak berikut amendemannya kepada Pemilik/Direksi Pekerjaan, setelah selesainya masa pemeliharaan sesuai ketentuan yang diatur dalam kontrak. 1. Keppres RI Nomor : 80 tahun 2003 2. Kepmen PU nomor 67/KPTS/1998 3. Dokumen Lelang 1. Serah Terima Akhir Pekerjaan (Final Hand Over) dapat diajukan oleh Kontraktor secara tertulis kepada Direksi paling lambat 21 (dua puluh satu) hari sebelum berakhirnya masa pemeliharaan atau sesuai yang diatur dalam kontrak. 2. Panitia/Tim FHO yang dibentuk oleh PPK akan memeriksa ke lapangan. Apabila Panitia menilai masih terdapat kerusakan / cacat baru yang muncul dalam masa Waranty Period sehingga belum dapat menerima pekerjaan, maka kontraktor harus diberitahu secara tertulis dengan menyebutkan sebab-sebabnya dan perbaikan apa saja yang harus dikerjakan serta kontraktor wajib memperbaiki sebagaimana mestinya sesuai permintaan Panitia. 3. Rekomendasi Panitia kepada KPA/PPK akan dikeluarkan apabila kontraktor dinilai telah menyelesaikan semua kewajibannya selama Waranty Period dengan baik yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Akhir Pekerjaan. 4. Tanggal keabsahan berlakunya serah terima pekerjaan akhir (FHO) tersebut diatas adalah pada saat tercapainya kesepakatan dapat diterimanya serah terima pekerjaan dilapangan (berdasarkan hasil opname lapangan), walaupun belum semua anggota panitia menandatangani, oleh karena suatu hal dan sehingga berhalangan hadir. 5. Serah Terima Pekerjaan Akhir (FHO) harus dituangkan dalam Berita Acara yang ditandangani oleh Satker/PPK dan Kontraktor, berdasarkan rekomendasi dari Panitia. 6. Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Akhir, uang yang ditahan bisa dibayarkan atau Jaminan Pemeliharaan dikembalikan kepada Kontraktor.

2.

Ruang Lingkup

3.

Definisi

4.

Acuan

5.

Ketentuan Umum

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xxii / 3

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

6

Prosedur dan Tanggungjawab

No

Pelaku Penanggungjawab Kontraktor

Kegiatan

Rekaman

1

1. Mengajukan Surat Permohonan Serah Terima Akhir Pekerjaan kepada PPK. 1. Melaporkan rencana pelaksanaan FHO terhadap paket tertentu kepada KPA. 2. Membentuk Panitia Serah Terima Akhir Pekerjaan / FHO (jika belum dibentuk)

Surat Permohonan FHO Srt Keputusan Pembentukan Panitia/Tim FHO

2

PPK

3

KPA

1. Melaporkan rencana pelaksanaan FHO paket-paket Pekerjaan kepada BRR Distrik dan Wilayah VI Nias 1. Meminta Panitia untuk melaksanakan FHO 1. 2. Mengadakan rapat pleno dan mengatur penugasan Panitia FHO Mengadakan pemeriksaan lapangan ( fisik ) dan pemenuhan kewajiban pemeliharaan dan perbaikan yang disyaratkan sebelumnya(bila ada) dan membuat Risalah Hasil Kunjungan Lapangan yang selanjutnya disampaikan kepada Satker Bila masih ada yang belum terselesaikan atau masih terdapat kerusakan dan cacat mutu, Kontraktor diperintahkan melakukan perbaikan sebagaimana mestinya. Bila semuanya kewajiban telah terpenuhi dan perbaikan kerusakan-kerusakan sudah diselesaikan, Panitia membuat rekomendasi yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan Akhir yang ditanda tangani oleh Panitia, Kontraktor dan diketahui oleh Satker. Menentukan tanggal definitif Serah Terima Akhir (FHO). Membuat dan menandatangani Berita Acara FHO dengan Kontraktor Berita Acara FHO Formulir BA Pemeriksaan Akhir Pekerjaan

6 7

PPK Panitia/TIM FHO

3.

4.

5.

8

PPK

1.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xxiv / 3

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

No

Pelaku Penanggungjawab Kontraktor 1.

Kegiatan

Rekaman

9

Berdasarkan Berita Acara FHO, Kontraktor dapat mengajukan surat permintaan pembayaran retensi atau pengembalian jaminan pemeliharaan.

10

PPK

1. Memberikan rekomendasi pengembalian jaminan pemeliharaan kepada Kontraktor. 2. Melaporkan penyelesaian pelaksanaan FHO kepada KPA untuk diteruskan kepada BRR Distrik dan Wilayah VI Nias.

7 8

Pengecualian Lampiran

:

Tidak ada 7. Contoh Surat Permohonan Serah Terima Akhir Pekerjaan. 8. Contoh SK. Pembentukan Panitia FHO 9. Contoh Berita Acara Pemeriksaan Akhir Pekerjaan. 10. Contoh Berita Acara FHO

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah VI Nias

Hal

xxvi / 3

LAMPIRAN 10A

Pelaporan Anti Korupsi
1. Contoh Korupsi Tidak ada definisi hukum yang berlaku universal untuk korupsi. Untuk keperluan Proyek ini, korupsi meliputi penyuapan, pemerasan, penipuan, kolusi dan pencucian uang. • Penyuapan dilakukan ketika seseorang menawarkan atau memberikan beberapa keuntungan ke orang lain, sebagai pemancing agar orang atau orang lain tersebut dapat bertindak tidak jujur dalam kaitan dengan bisnis majikannya. • Pemerasan adalah salah satu bentuk pemaksaan ketika seseorang menyatakan ancaman yang berakibat buruk ke orang lain, kecuali jika orang lain tersebut memenuhi permintaannya, biasanya permintaan uang. • Penipuan melibatkan satu orang atau sekelompok orang yang menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan finansial atau manfaat lain. Contohnya adalah manipulasi informasi tender agar menguntungkan peserta tertentu, menyembunyikan cacat, merekayasa bukti. • Kolusi terjadi terjadi ketika satu atau lebih pihak bekerja-sama untuk menggelapkan uang pihak lain. Contohnya adalah jika peserta tender berkolusi untuk mengatur kecurangan agar memenangkan kontrak dengan harga tertentu. • Pencucian-uang terjadi ketika suatu pihak memindahkan uang atau aset hasil kejahatan dari satu tempat ke tempat lain. 2. Langkah Persiapan

Agar dapat secara efektif mengatasi korupsi, sebuah organisasi harus mempunyai sistem pelaporan dan penasehatan yang berfungsi, dan masing-masing anggotanya harus memahami kerangka hukum dan usaha yang mereka jalankan. Langkah-langkah berikut harus dilakukan sebelum memulai pekerjaan. Jika tidak dilakukan sebelum memulai pekerjaan, maka langkah ini harus dilakukan segera setelah pekerjaan mulai. Kerangka organisasi harus memastikan bahwa ada sistem yang berfungsi untuk pejabat dan karyawan biasa untuk melaporkan korupsi. Kerangka ini harus mampu memberikan informasi ke pejabat atau karyawan yang menghadapi situasi yang korup. Selain itu, sistem ini harus memastikan bahwa pejabat dan karyawan yang membuat laporan korupsi menerima pemberitahuan ini secara rahasia dan tidak perlu takut akan akibat buruknya.
3. Tindakan yang Mungkin Dilakukan oleh Perseorangan Bagaimana cara seseorang menangangi situasi tertentu akan tergantung pada situasi dan kondisi itu sendiri. Setiap situasi berbeda. Akal sehat dan kebijakan perlu dipakai dalam setiap kejadian. Tindakan langsung yang disarankan meliputi: • Dengan sopan menolak untuk terlibat dalam tindakan korupsi. • Jika orang yang meminta ngotot, beritahu dia bahwa anda akan melaporkan tindakannya ke atasan anda, pihak berwenang, atau Divisi Integritas Bank Dunia.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

• Jika ajakan korupsi dilakukan oleh pejabat pemerintah, dan ada prosedur pemerintah untuk melaporkan pejabat ini, maka katakan bahwa prosedur tersebut meminta pejabat tersebut untuk melapor. • Jika situasi seperti ini tidak terselesaikan, maka minta dia untuk meghadap pejabat senior atau manajer. • Jika permintaan ini ditolak, atau pejabat senior atau manajer tidak banyak membantu, maka katakan bahwa organisasi anda akan mengajukan keluhan resmi ke satu atau lebih departemen terkait, pemilik Proyek, lembaga pembiayaan, dan kedutaan (jika relevan) dan pihak berwenang. 3.1. Mencatat Kejadian • Buat catatan rinci mengenai kejadian korupsi • Jika memungkinkan, dapatkan bukti kejadian, dan bukti ini harus dalam bentuk bukti pernyataan tertulis yang sah secara hukum sebagai bukti untuk yuridiksi terkait. 3.2. Pelaporan yang Disarankan untuk Korupsi Jika anda percaya bahwa atasan anda mempunyai prosedur pelaporan yang tepat, maka: • Laporkan kejadian tersebut ke petugas terkait dari atasan anda; • Minta, jika perlu, identitas anda dirahasiakan oleh atasan anda; • Jika dianggap tepat, beri atasan anda salinan catatan anda dan pernyataan kesaksian mengenai kejadian korupsi. Pastikan bahwa anda menyimpan dokumen asli, kecuali anda menganggap lebih aman disimpan oleh atasan anda. Jika anda menyerahkan yang asli, maka anda harus mempunyai salinannya. Jika anda tidak percaya bahwa atasan anda tidak mempunyai prosedur pelaporan yang benar, dan/atau, melaporkan akan membawa dampak buruk pada anda, maka pertimbangkan situasi ini masak-masak sebelum memutuskan untuk melaporkannya atau tidak ke atasan anda.

Jika anda tidak melaporkan ke atasan anda atau, jika sudah melaporkan ke atasan anda, anda berpikir bahwa atasan anda tidak mengambil tindakan yang mencukupi, maka pertimbangkan melapor (tanpa nama atau sebaliknya) ke:
• Penaksir atau pemantau independen yang ditunjuk dalam kaitannya dengan Proyek; • Kedutaan di tingkat lokal (jika relevan); dan • Pihak berwenang. Apendik 10B memberikan contoh bahwa kegiatan infrastruktur, kontruksi and industri rekayasa/teknik bisa menjadi ajang tindakan kejahatan seperti penyuapan, penipuan, kolusi atau pelanggaran lain. Contoh-contoh dalam Apendik tersebut hanya bersifat indikatif (untuk menunjukkan), bukan sebagai daftar lengkap yang menunjukkan semua kemungkinan tindakan korupsi yang mungkin terjadi. Contoh tersebut sengaja dibuat sederhana dan dirancang untuk memberikan infomasi mengenai tipe tindakan yang dapat dianggap sebagai tindakan kejahatan. . Contoh dalam Apendik ini banyak memakai istilah dalam kontrak seperti pemilik / ahli teknik / kontraktor Proyek. Tidak praktis, seperti contoh dibawah, membuat daftar semua kategori

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

orang yang rentan pada tindakan kejahatan tersebut. Bahkan jika contoh menjadi fakta tapi tidak mengarah pada kecenderungan kejahatan, perlu dilaporkan juga bahwa ini cukup menjadi bukti bahwa oknum terkait tidak bertindak sesuai tujuan etika profesi dan pekerjaan. 4. Sistem Pelaporan Pemerintah RI

Pemerintah RI telah mengeluarkan peraturan perundang-undangan untuk mencegah dan membasmi korupsi, seperti:
• UU. No. 28/1999 tentang Pemerintahan Bersih dari Korupsi. Kolusi dan Nepotisme. • UU. No. 31/1999 tentang Pembasmian Kejahatan Korupsi • UU. No. 20/2001 tentang amandemen pada UU. No. 31/1999 • UU. No. 15/2002 tentang Pembasmian Pencucian Uang • Keputusan MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang Pemerintahan Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme • Keppres No. 127/1999 tentang Pembentukkan Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelengggara Negara dan Sekretariat Jenderal Komosi Kekayaan Penyelenggara Negara Diagram berikut memberikan skema umum dari usaha pembasmian korupsi yang dapat dilakukan. Usaha Pembasmian Korupsi

Tindakan Kejahatan Korupsi

Penyelidikan

Pencegahan

Pendidikan

Pendidikan Sosialisasi Laporkan tindakan Kampanye Dll.

BPKP NAD Phone (0651)28133 – 28134 Divisi Penyelidikan BPKP Sumut (061) 847 2843 847 3989

Polisi

Jaksa

5. Sistem Pelaporan Bank Dunia

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

INT, atau Departemen Integritas Bank Dunia, bertugas menyelidik dugaan penipuan atau korupsi dalam operasi yang dibiayai Bank Dunia, juga dugaan tindakan pelanggaran oleh staf dalam Kelompok Bank Dunia.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Contoh masalah yang harus dilaporkan ke INT untuk dikaji meliputi:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Ketidak-beraturakan kontrak yang mencurigakan dan pelanggaran pedoman Bank Dunia Manipulasi tender Kolusi tender Praktek pemaksaan Tender curang Kecurangan dalam kinerja kontrak Kecurangan dalam prose audit Penggantian produk Bagian material yang substandar atau tidak bermutu Pengenaan biaya atau tenaga yang tidak benar Pembayaran kembali, suap atau penerimaan persen Penyalah-gunaan wewenang Penyalah-gunaan dana Kelompok Bank atau dana yang dipercayakan ke Kelompok Bank Kecurangan terkait dengan perjalanan kerja Pencurian dan penggelapan Kecurangan uang saku dan tunjangan Konflik kepentingan Mengemukakan kenyataan yang tidak benar Pemalsuan Melibatkan staf Kelompok Bank dalam tindakan diatas.

Ketika menghubungi INT, pastikan bahwa keluhan anda sudah sejelas mungkin dan mencantumkan rincian seperti: tindakan salah apa yang diduga dilakukan, dimana dan kapan (tanggal dan jam jika ada), siapa pelakunya, bagaima cara orang atau perusahaan tersebut melakukan tindakan salah tersebut, mengapa anda percaya bahwa kegiatan ini tidak benar. Cantumkan nama proyek, jika anda tahu, dan nama saksi mata. Beritahu INT cara menghubungi anda untuk informasi lebih lanjut atau klarifikasi.
Dugaan untuk INT ini dapat diserahkan langsung Kantor Pusat Bank Dunia: Telpon: 1-202-458-7677 Fax: 1-202-522-7140 Email: investigation_hotline@worldbank.org Website: http://www.worldbank.org/integrity Jika anda ingin nama anda tidak diketahui, anda dapat memanfaatkan layanan email gratis (seperti Yahoo atau Hotmail) untuk mengirimkan dugaan tersebut dengan memakai nama samaran. Dengan cara ini, INT dapat menghubungi anda sesuai keperluan untuk meminta klarifikasi atau informasi tambahan. Dugaan tersebut juga dapat diserahkan ke Fraud and Corruption Hotline yang disewa INT untuk tujuan ini (24 jam/hari, tersedia layanan penterjemahan). Toll Free: 1-800-831-0463* Collect Calls: 1-704-556-7046* Mail: PMB 3767 13950 Ballantyne Corporate Place Charlotte, NC 28277 USA

* Menerima juga panggilan telpon dengan nama samaran.

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

Orang yang mengajukan keluhan diminta memberikan nama dan nomer telpon atau alamat email, agar INT dapat menghubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan menindak-lanjuti laporan. Jika ada memilih memberikan nama anda tapi tetap dirahasiakan, Bank Dunia tidak akan mengungkapkan nama anda dalam proses pengadilan dan tidak akan memberikan informasi yang dapat membuka identitas anda, ke orang diluar anggota tim penyelidik dan ketuanya dan jaksa, kecuali Bank menentukan bahwa anda telah dengan sengaja mengemukakan atau menghilangkan kenyataan secara tidak benar, atau Bank diminta untuk melakukannya menurut hukum. Jika anda mengijinkan Bank untuk menyebutkan nama anda, mohon jangan kuatir karena Bank tidak akan mentolerir tindakan penghukuman dan pembalasan yang ditujukan pada orang yang melaporkan dengan niat baik dugaan kecurangan atau korupsi. Jika anda ingin nama anda tidak diketahui, maka Bank akan terus menyelidiki keluhan anda dan berusaha sebaik mungkin memeriksa dugaan yang anda ajukan. Namun, mohon diingat bahwa dugaan tanpa nama sering lebih sulit diurus dan tidak berkaitan dengan kepentingan orang yang mengajukan keluhan, tapi kami menghargai keiinginan anda untuk tidak memberikan nama anda. Catatan: Untuk melindungi reputasi dan hak pribadi semua pihak, dan menumbuh-kembangkan proses yang benar dan keadilan penyelidikan, penting artinya bahwa informasi yang anda berikan benar, akurat dan diberikan dengan niat baik. Walau INT mempunyai kemampuan untuk mengetahui asal pesan elektronis. Tapi kami tidak akan berusaha mengungkapkan identitas pengirim. Mohon diingat bahwa kerahasian email tidak sepenuhnya terjaga dari penyelundup. Jika anda merasa komunikasi yang ingin anda sampaikan sangat sensitif, kami sarankan lebih baik anda mengirimkannya ke alamat dibawah ini:

PMB 3767 13950 Ballantyne Corporate Place Charlotte, NC 28277 USA

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

Infrastructure Program Management (GHD Pty Ltd)

LAMPIRAN 10B
Contoh Korupsi Untuk Subproyek Konstruksi
Pelaku No. Tindakan Ahli Tekn ik Peja bat Pem erint ah Subk ontra ktor atau Pem asok Pene liti Kuan titas

Kontra ktor

Agen

Saksi

TAHAP PRA-KONTRUKSI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Uang rokok Mengatur harga Manipulasi pra dan paska qualifikasi Suap untuk mendapatkan kontrak utama Suap selama pengadaan subkontrak Kontrak dirundingkan secara korup Manipulasi disain Niat menahan pembayaran Penyerahan tender palsu Invoice tidak benar Sertifikat kerja yang tidak benar Pekerjaan perbaikan yang berlebihan Mark-up orang-hari (person-month) Klaim variasi yang tidak benar Keterlambatan mengeluarkan sertfikat pembayaran Menyembunyikan cacat Diminta membayar lebih rendah daripada yang seharusnya Pemerasan oleh wakil Pemilik Proyek Ongkos untuk memperlancar Penyerahan tagihan yang tidak benar atau menyesatkan Penyembunyian dokumen Saksi atau bukti ahli palsu Penyuapan saksi Pemerasan oleh saksi Pekerjaan kontruksi tidak memenuhi spesifikasi teknis Kontraktor lari setelah menerima uang muka mobilisasi sebesar 20% X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X

TAHAP PELAKSANAAN SUBPROYEK

Infrastructure Reconstruction Enabling Program

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->