Anda di halaman 1dari 6

Referat PATOFISIOLOGI TROMBOSITOPENIA dan SYOK DBD Nama NIM : Welly Wijayanti : 030.06.

274

Kepaniteraan Klinik SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

1. PATOFISIOLOGI TROMBOSITOPENIA (1) a. Kegagalan produksi trombosit i. Kegagalan sumsung tulang generalisata a. Anemia aplastik, Anemia megaloblastik b. Sindroma Mielodisplastik, Mielofibrosis, Myeloma multiple c. Infiltrasi sumsum tulang, missal karsinoma, limfoma d. Radioterapi e. Obat sitotoksik f. Leukemia g. Infeksi HIV ii. Penekanan megakarosit selektif a. Defek kongenital yang langka b. Obat-obatan, bahan kimia, infeksi virus

b. Peningkatan destruksi trombosit i. Purpura trombositopenia autoimun/idiopatik (ITP) Sensitisasi trombosit oleh autoantibodi (biasanya IgG)

menyebabkan disingkirkanya trombosit tersebut secara premature dari sirkulasi oleh makrofag system retikuloendotel, khususnya limpa. Pada banyak kasus, antibody tersebut ditunjukan terhadap tempat-tempat

antigen pada glikoprotein IIb-IIIa atau kompleks Ib. masa hidup normal untuk trombosit adalah sekitar 7 hari tetapi pada ITP masa hidup ini memendek menjadi beberapa jam. Massa bosit meningkat secara sejajar sekitar 5 kali normal. ii. Purpura pascatranfusi Rombositopenia yang terjadi sekitar 10 har setelah transfuse daah telah dikaitkan dengn terbentuknya antibody pada penerima darah terhadap antigen-1a trombosit manusia(HPA-1a) pada trombosit yang ditranfusikan (yang tidak erdapat pada trombosit pasien itu sendiri). iii. Purpura trombositopenia trombotik (TTP) TTP terjadi dalam bentuk familial atau didapat. Terdapat

defisiensi metalloprotease (kaspase) yang memecah multimer factor von willebrand (vWF) berberat molekul tinggi, bentuk familial terjadi karena defek genetic, sedangkan bentuk didapat TTP terjadi setelah terbentuknya antibody inhibitor, yang keberadaanya dapat dirangsang oleh infeksi. Multimer vWF berat molekul tinggi dalam plasma menginduksi agregasi trombosit, menyebabkan pembentuknya

mikrotrombus dalam pembuluh darah kecil. iv. Sindrom hemolitik uremik Toksin shiga masuk kedalam sirkulasi intestinal dan berjalan didalam plasma dan permukaan trombosit atau monosit. Toksin beikatan dengan molekul endotel kapiler glomerular,sel mesangia, dan sel epitel glomerular dan tubular yang kemudian merusak endotel sel melalui pembentukan factor von Willebrans multimer besar yang tidak biasa. v. Koagulasi intravaskular diseminata (KID) DIC dapat dicetuskan oleh masuknya materi prokoagulan kedalam darah pada keadaan-keadaan berikut ini: emboli cairan amnion, solusio plasenta, adenokarsinoma yang menyekresi musin secara luas, leukemia promiolistik akut (LMA tipe M3), penyakit hati, malaria falciparum berat, reaksi transfuse hemolitik, dan beberapa gigitan ular.

DIC dapat juga dicetuskan oleh kerusakan endotel luas dan pemajanan kolagen (missal endotoksemia, septicemia gram negative, dan meningococus, aborsi septic), infeksi virus tertentu dan luka bakar berat atau hipotermia.

vi.

Trombositopenia imun yang diinduksi obat (terutama heparin) Ini terjadi akibat pengikatan heparin pada thrombosis yang dikuti dengan pembentan antibodi IgG terhadap kompleks heparin-platelet factor 4 (PF4) yang menyebabkan aktivasi trombosit.

c. Distribusi trombosit abnormal (Splenomegali) Pada splenomegali. Hingga 90% trombosit dapat mengalami sekuestrasi dalam limpa, sedangkan pada keadaan normal sekuestrasi hanya terjadi pada sekitar sepertiga massa trombosit total. Lama hidup trombosit normal dan tidak terdapat defek hemostasis lain.

d. Kehilangan akibat dilusi (Sindroma tranfusi massif) Trombosit tidak berada dalam keadaan stabil bila dara disimpan pada suhu 40C dan jumlah trombosit menurun dengan cepat bila darah disimpan selama lebih dari 24 jam. 2. PATOFISIOLOGI SYOK DEMAM BERDARAH DENGUE(2) Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperandalam terjasdinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue. Respos imun yang diketahi berperan dalam patogenensis DBD adalah: a. Respon humoral berupa pembentukan antibody yang berperan dalam nutralisasi virus, sitolisis yang dimediasi complement dan sitotoksisitas yang dimediasi antibody. Antibody terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat alam replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement (ADE) b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) bereran dalam respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH1 akan

memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin, sedangn TH2 memproduksi IL-4, IL-5,IL-6 dan IL-10 c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag d. Selain itu aktivasi complement oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a. Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnestik antibody sehingga mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi. Kurane dan Enis pada tahun 1994 merangkum pendapat halstead dan peneliti lain; menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang mefagositosis kompleks virus-antibodi non neutralisasi sehingga virus replikasi di makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNF-alfa, IL-1, PAF, IL-6, dan Histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma. Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme Supresi sumsung tulang serta destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran sumsung tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) manunjukan keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan akhir tercapai akan terjadi peningkatan proses hematopoesis termasuk megakariopoesis. Kadar trombopoetin dalam darah saat terjadi trombositopenia justru menunjukan kenaikan, hal ini menunjukan terjadinya stimulasi trombopoesis sebagai mekanisme kompensasi pada keadaan trombositopenia. Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen C3g, terdapatnya antibody VD, komsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. Gangguan fungsi

trombosit terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar btromboglubin dan PF4 yang merupakan pertanda degranulasi trombosit. Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang

mengakibatkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukan terjadinya koagulopati konsumtif pada demam berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi koagulasi padan demam berdarah dengue terjadi melalui aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi factor Xia namun tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein C1-inhibitor complex) Virus Antibodi

XIIa

Trombosit

Pembekuan

Fibrinolisis

Kinin

Komplemen

Agregasi

TF3

Plasmin

RES

Fibrin

Anafilatoksin

Trombositopenia

FDP

Permeabilitas Pb. Darah

Hipoksi asidosis

Volume plasma

Perdarahan

KID

SYOK

Gambar : Patofisiologi Syok pada BDB (3)

DAFTAR PUSTAKA

1. Blanchet VS, Johnson J.dkk; Kelainan Perdarahan akibat Kelainan Vascular dan Trombosit; 2005 Kapita Selekta Hematologi; Hofbrand A, Pettit J, Moss P; EGC; 2005; Jakarta, Ed. Kedua; pp. 234-241 2. Suhendro, Nainggolan L.dkk; Demam Berdarah Dengue; 2007 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007; Jakarta, Ed. Keempat, Jilid ketiga; pp.1709-1710 3. Gatot Djajadiman; Perubahan Hematologi pada Infeksi Dengue; 2002 Demam Berdarah Dengue; Hadinegoro S, Satari H; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2002; Jakarta, pp. 53