Anda di halaman 1dari 7

Muh. Ihsan A.

Dagong dan Syahdar Baba : Tanaman Campuran Antara Rumput dan Legum Pada Lahan Kritis

PENANAMAN CAMPURAN ANTARA RUMPUT DAN LEGUM PADA LAHAN KRITIS DENGAN MUSIM BERBEDA DAN KEMIRINGAN LAHAN YANG BERBEDA
Muhammad Ihsan Andi Dagong dan Syahdar Baba Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRACT

Multiple cropping of grasses and leguinose on critical land with different climate and slope. These study was to see the affect of the multiple cropping in wet and dry season at the different land slope. Experiment were done in Timoreng Village, Panca Rijang District, Sidenreng Rappang Regency, South Sulawesi Propvince. The grasses planted were Setaria ancep Stapf., Cenhrus ciliaris, and Centrosema pubescens. The result indicated that: 1) The grass with highest production of botanic composition in S. ancep, 2) The crude protein content and green crude fibber were higher in wet season than in dry seaseon, 3) While stope degree of land and interaction between slope and climate did not organing dry material from wet season was significant higher than from dry season, however the slope and interaction between the slope and climated did not significant different. Key words : Multipe cropping, season, and land slope ABSTRAK Pertanaman campuran antara rumput-rumputan dengan leguminosa merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi dan mutu hijauan dan memperbaiki kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak pertanaman campuran pada musim hujan dan kemarau di dalam kondisi kemiringan lahan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi Selatan pada kemiringan lahan yang berbeda dan dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Hijauan pakan yang digunakan adalah Setaria ancep Stapf (rumput setaria), Cenchrus ciliaris (rumput buffel), Cenrosema pubescens (legume centro). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Jenis hijauan yang diproduksi komposisi botanis tertinggi adalah rumput setaria, 2) Kandungan protein kasar dan serat kasar hijuan pada musim hujan persentasenya lebih tinggi dari musim kemarau, sedangkan tingkat kemiringan lahan dan interaksi antara faktor kemiringan dan musim tidak menunjukkan pengaruh nyata, dan 3) Kecernaan bahan kering dan bahan kering organic pada musim hujan berpengaruh sangat nyata lebih tinggi dari pada musim kemarau, sedangkan tingkat kemiringan dan interaksi antara tingkat kemiringan dan musim tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Kata kunci : Penanaman campuran, lahan kriris, musim, dan kemiringan lahan. PENDAHULUAN Ketersediaan hijauan pakan ternak merupakan salah satu faktor dalam peningkatan produktivitas ternak ruminansia, karena 70-90% makanan yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia berasal dari hijauan seperti rerumputan dan daun-daun baik dalam bentuk segar maupun kering. Pada dasarnya pemberian hijauan pada ternak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertambahan berat badan dan untuk keperluan reproduksi bagi ternak dewasa (Maynard dan Loosli, 1969). Penyediaan hijauan makanan ternak masih merupakan masalah yang belum terpecahkan. Kekurangan hijauan makanan ternak sepanjang tahun merupakan tantangan bagi setiap petani peternak yang ingin maju dalam bidang peternakan (Nitis,

17

Jurnal Vegeta Vol. 1 No.2, Desember 2007

1980; Sajimin dkk, 2001). Hijauan pakan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia sering mengalami kekurangan, terutama pada musim kering/kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut diatas maka perlu dilakukan upaya pemanfaatan lahan kering yang dapat menunjang pelestarian lahan. Namun masalah lain yang terjadi dan tak kalah pentingnya adalah pergantian dari musim hujan ke musim kemarau sehingga ketersediaan air dalam tanah yang tidak memiliki vegetasi akan terbatas sehingga tidak dapat menunjang pertumbuhan tanaman diatasnya, terutama pada musim kemarau (Tadjang, 1990; Hasan dkk, 1996.). Serta tingkat kemiringan lahan pada tanah yang tersedia pada umumnya melebihi 15% (Anonim, 1990). Kondisi lahan pada kemiringan 15 - 30 % sangat peka terhadap ancaman kerusakan, berdrainase jelek dan kedalaman solum juga sedang sehingga memerlukan tindakan khusus untuk memelihara dan meningkatkan kesuburannya. Untuk mengatasi kerusakan lahan maka perlu dilakukan upaya pemanfaatan lahan kering yang ada dengan mengintroduksikan komoditi yang dapat menunjang pelestarian lahan. Pertanaman campuran antara rumputrumputan dengan leguminosa merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi dan mutu ternak ruminansia dan memperbaiki kesuburan tanah. Untuk memanfaatkan lahan marginal perlu dilakukan penelitian-penelitian guna mendapatkan metode yang terbaik terutama dalam pengembangan hijauan pakan. Hal ini sangat penting pada daerah yang mengusahakan ternak ruminansia yang memiliki lahan marginal. Karena hijauan pakan selalu bermasalah pada musim kering (Hasan dkk, 1996). Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan pertanaman campuran rumput dan leguminosa pada lahan kering dengan kemiringan dan musim yang berbeda. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Desa Timoreng Panua, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi-Selatan pada dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Lahan penelitian berupa petak lahan kering seluas

16240 meter bujur sangkar, yang dibagi menjadi 4 petak utama dengan luasan masing-masing 0,4 ha ( 40 x 100 meter). Setiap petak utama dibadi 4 anak petak sehingga seluruhnya berjumlah 16 plot, setiap plot berukuran 10 x 100 meter. Jarak antar petak utama yang satu dengan lainnya adalah dua meter. Hijauan pakan yang digunakan adalah Setaria ancep Stapf (rumput setaria), Cenchrus ciliaris (rumput buffel), Centrosema pubescens (legum centro). Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan petak terbagi dalam waktu (split plot in time) dalam rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 4 kali. Perlakuan adalah tingkat kemiringan lereng masing-masing kemiringan 0 5 % (0-3); 6-10 % (3,5-6); 11-15 % (6,5 9); 16-20% (9,5 11) yang diamati sebanyak dua periode musim yaitu pada musim hujan dan musim kemarau. Pengamatan dilakukan terhadap produksi dan komposisi botanis hijauan; komposisi kimia hijauan; daya cerna dengan teknik in vitro. Pengambilan sampel tanaman dan tanah dilakukan 2 kali yaitu pada musim hujan dan musim kemarau. HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Bahan Kering Tabel 1. Produksi bahan kering hijauan yang ditanam dengan sistem pertanaman campuran pada lahan kering. Tingkat Kemiringa n % 0-5 6-10 11-15 16-20 Rataan Produksi Bahan Kering Hujan Kemarau Rataan 9,82 5,88 5,80 1,82 5,80a Ton/ha 4,88 3,29 2,08 1,46 2,93b 7,34a 4,59b 3,94b 1,64c

Angka yang diikuti oleh huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0,01) dan perbedaan nyata pada (P<0,05).

Analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat kemiringan lahan berpengaruh sangat nyata terhadap produksi bahan kering, sedangkan musim dan interaksi antara musim dengan kemiringan lahan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap produksi bahan kering hijauan. Demikian halnya

18

Muh. Ihsan A. Dagong dan Syahdar Baba : Tanaman Campuran Antara Rumput dan Legum Pada Lahan Kritis

interaksi antara musim dengan tingkat kemiringan lahan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap produksi bahan kering hijauan. Produksi bahan kering pada kemiringan 0-5% lebih tinggi dari tingkat kemiringan 11-15% dan 16-29%. Dengan demikian diasumsikan bahwa semakin tinggi tingkat kemiringan maka makin rendah produksi hijauan, ini berarti bahwa penanaman hijauan pakan pada tanah yang agak miring tidak bisa menghasilkan produksi yang sama pada tanah datar. Sehingga untuk penanaman hijauan pada lahan yang mempunyai kemiringan yang lebih tinggi (1520%) sebaiknya diterapkan sistem cut and carry untuk mencegah kerusakan lahan. Pada musim hujan dengan tingkat kemiringan 0-5% mampu menyediakan air pada tanaman. Tetapi pada musim kemarau, dimana air tidak tertinggal dalam tanah dalam waktu lama, karena tekstur tanah yang didominasi oleh pasir (55,94 76,11 %); yang diikuti oleh debu (20,99 -36,24 %) dan liat (2,90 7,93 %), yang oleh Hakim dkk (1986) bahwa tanah pasir berlempung. Lebih lanjut Djalaluddin (1986) bahwa tanah yang termasuk pasir berlempung termasuk tanah yang rusak dan tidak dapat diandalkan untuk memegang air, sehingga untuk termanfaatkannya tanah-tanah tersebut harus memerlukan perbaikan-perbaikan fisik.

Komposisi Botani Analisis statistik menunjukkan bahwa musim berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan rumput Setaria tapi berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan rumput Buffel dan legum Cetro. Tingkat kemiringan dan interaksi antara musim dan tingkat kekeringan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata, baik terhadap rumput Setaria, rumput Buffel maupun terhadap legum Cetro. Hasil uji banding menunjukkan bahwa komposisi rumput setaria pada musim hujan sabgat nyata lebih tinggi dibanding persentase rumput setaria pada musim kemarau. Hal ini mungkin disebabkan karena rumput Setaria mempunyai kemampuan adaptasi terhadap berbegai kondisi tanah, serta curah huja yang tinggi. Hal ini sejalan dengan Waryanto (1986) bahwa rumput setaria dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi tanah yang luas, tumbuh baik pada berbagai tipe tanah mulai dari tanah berpasir hingga tanah liat dan berlumpur. Lebih lanjut dikatakan bahwa rumput Setaria tidak cocok pada kondisi tanah yang curah hujannya kurang dari 625 mm/tahun. Hal lain yang mungkin menyebabkan rendahnya legum Cetro baik pada musim hujan maupun musim kemarau adalah pH tanah masam (4-5) sehingga bakteri rhizobium pada bintil akar tak mampu menfiksasi N dari udara secara optimal.

Tabel 2. Rata-rata komposisi botani (%) hijauan pakan dengan sistem pertanaman campuran pada lahan kering
Tingkat Kemiringan (%) 11 15 16 20 Rata Rata2 Rata H K Rata H K 2 H 2 2 K Setaria 64, 61, 62, 59, 60,3 60, 58, 59,3 61, 58, 59,8 61,9 59,3 0 5 0 3 a 0 5 a 7 0 a a b Buffel 21, 21, 21,4a 22, 23, 23,0 22, 25, 23,8 22, 23, 23,0 22,1 23,5 5 3 3 7 a 3 5 a 3 7 a a a Centro 14, 17, 16,0a 15, 17, 16,4 17, 16, 16,8 16, 18, 17,2 16,0 17,2 5 5 7 0 a 7 0 a 0 3 a a a Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata; Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang beda pada baris yang sama tidak berbeda nyata H = Hujan K = Kemarau Jenis Hijauan 0 H K 5 rataa n 62,6a 6 H 10 K

Hal tersebut sejalan dengan Hakim dkk (1986) bahwa kemasaman tanah merupakan hal

yang biasa terjadi di wilayah-wilayah bercurah hujan tinggi yang menyebabkan

19

Jurnal Vegeta Vol. 1 No.2, Desember 2007

terhambatnya fiksasi N oleh kacangkacangan. Lebih lanjut Whiteman (1974) bahwa rumput Setaria dapat tumbuh dengan baik pada lahan dengan kondisi berat karena mempunyai sistem perakaran kuat yang memungkinkan untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah. Disamping itu, pH tanah juga menentukan produktivitas hijauan. Menurut Anonimous (1978) pada umumnya tanaman jenis leguminosa untuk pertumbuhan optimalnya menghendaki tanah alkalis (basa), sedanmg pH tanah selama masa percobaan lebih cendrung bersifat asam. Kondisi ini menyebabkan produksi legum jauh lebih sedikit dari produksi rumput setaria. Produksi legum pohon pada musim kemarau lebih tinggi daripada musim hujan (Hasan dkk, 1996) Hasil pada Tabel 2. menunjukkan bahwa rumput setaria cenderung lebih tinggi persentasenya pada musim hujan

dibandingkan pada musim kemarau, tetapi pada rumput buffel dan legum Centro terjadi sebaliknya dimana pada musim hujan persentase hijauan lebih rendah dibanding pada musim kemarau. Hal ini disebabkan karena perakaran rumput Buffel dan Centro yang dalam memungkinkan mempergunakan air dalam tanah. Hasil ini sesuai dengan penelitian Bahar dkk (1992) bahwa komposisi rumput pada musim hujan tinggi cenderung menurun menjelang musim kemarau, pada saat yang sama diikuti meningkatnya komposisi leguminosa. Kadar Protein Kasar dan Kadar Serat Kasar Rata-rata kadar protein kasar dan kadar serat kasar hijauan pada pertanaman campuran pada lahan kering dengan musim dan kemiringan lahan yang berbada ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata kadar protein kasar dan kadar serat kasar hijauan yang ditanam dengan sistem pertanaman campuran pada lahan kering Tingkat Kemiringan (%) 05 6 10 11 15 16 20 Rataan Kadar Protein Kasar (%) Hujan Kemarau Rataan 8,86 3,76 6,3a 7,12 4,24 5,7a 7,05 4,32 5,7a 7,03 3,96 5,4a 7,52a 4,07b Kadar Serat Kasar (%) Hujan Kemarau Rataan 28,02 34,03 31,02a 32,25 32,66 33,45a 28,63 32,16 30,39a 29,75 34,68 32,22a 29,66a 33,69b

Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris sangat nyata

yang sama menunjukk perbedaan

Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tingkat kemiringan lahan tidak berpengaruh terhadap kadar protein kasar dan kadar serta kasar hijauan yang ditanam dengan sistem pertanaman campuran di lahan kering. Kadar protein kasar hijauan pada musim hujan lebih tinggi dari musim kemarau, karena kandungan unsur hara dalam tanah utamanya N serta curah hujan yang tinggi (curah hujan harian 17 mm) pada musim hujan memungkinkan unsur hara tersedia pada musim hujan dibanding pada musim kemarau. Hal tersebut dimungkinkan karena air tidak lagi menjadi faktor penghambat, sehingga unsur hara terutama N mudah diserap oleh tanaman. Interaksi antar musim dan tingkat kemiringan tidak mempengaruhi kadar protein kasar karena komposisi botanis pada tingkat kemiringan

tidak berbeda sehingga menyebabkan kadar protein kasarnya juga tidak. Tabel 3. menunjukkan bahwa rata-rata kandungan protein kasar pada musim kemarau sangat rendah jika dibandingkan dengan standar kebutuhan minimal protein kasar pada hijauan, sebagaimana di laporkan oleh Whiteman dkk (1974) bahwa kandungan protein kasar rumput tropis minimal 7%, jika kurang dari itu akan menekan komsumsi bahan kering ternak. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa musim memperlihatkan pengaruh sangat nyata terhadap kadar serat kasar hijauan, akan tetapi tingkat kemiringan pada dan musim tidak berpengaruh nyata. Namun uji BNT menunjukkan bahwa kadar serat kasar hijauan lebih tinggi pada musim kemarau daripada musim hujan.. Hal tersebut seseui

20

Muh. Ihsan A. Dagong dan Syahdar Baba : Tanaman Campuran Antara Rumput dan Legum Pada Lahan Kritis

dengan pendapat Donald (1963) bahwa fase pertumbuhan tanaman paling berpengaruh terhadap kualitas hijauan. Semakin tua umur tanaman kadar protein kasarnya semakin menurun dan serat kasarnya semakin meningkat. Perbedaan kadar serat kasar berdasarkan musim mungkin disebabkan oleh intensitas cahaya dan temperatur lebih tinggi pada musim kemarau. Kondisi ini memungkinkan respirasi tanaman meningkat sehingga mempercepat proses penuaan, Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik

sehingga tanaman cepat menimbun lignin (lignifikasi) pada dinding sel yang merupakan bagian dari serat kasar. Interaksi antara musim dan tingkat kemiringan tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap kadar serat kasar. Hal ini kemungkinan disebabkan karena komposisi botanis pada berbagai tingkat kemiringan tidak berbeda, sehingga kandungan serat kasarnya tidak berbeda pula.

Tabel 5. Rata-rata kecernaan bahan kering dan bahan organik hijauan yang ditanam dengan sistem pertanaman campuran pada lahan kering Kecernaan (% ) Tingkat kemiringan Hujan Kemarau Rataan (%) BK BO BK BO BK BO 05 65,77 61,21 52,12 46,85 58,94a 54,03a 6 10 64,26 60,69 48,40 43,49 56,33a 52,09a 11 15 57,17 51,43 54,14 46,62 55,65a 69,03a 16 20 64,86 60,96 51,92 47,02 58,39a 53,99a Rataan 63,02a 58,57b 51,65c 46d Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata. Uji BNT menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering dan bahan organik pada musim hujan lebih tinggi dan berbeda sangat nyata dengan musim kemarau. Pada musim kemarau intensitas cahaya dan temperatur lingkungan cukup tinggi, mengakibatkan aktivitas metabolisme tanaman berlangsung terus menerus termasuk pada malam hari. Kondisi ini menyebabkan tanaman cepat menjadi tua sebelum mencapai pertumbuhan maksimal sesuai dengan potensi genetiknya. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat korelasi antara tingkat kematangan dengan daya cerna bahan kering hijauan. Semakin tua umur hijauan semakin tinggi kandungan dan kualitas bahan keringnya, yang pada akhirnya semakin sulit pula untuk dicerna baik secara in vitro maupun secara in vivo. Tingkat kemiringan tidak menunjukkan pengaruh yang nyata baik terhadap kecernaan bahan keringmaupun kecernaan bahan organik. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemiringan lahan sampai 20% tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik hijauan. Dari Tabel 4 terlihat bahwa kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau lebih rendah daripada daya cerna berbagai rumput tropis yang dilaporkan oleh More and Mott (1973) dimana didapatkan kecernaan pada rumput tropis rata-rata diatas 65 persen. Selanjutnya dikatakan bahwa apabila daya cerna lebih rendah dari 65 persen maka komsmsi ternak menjadi tertekan. KESIMPULAN 1. Jenis hijauan yang menunjukkan produksi komposisi botanis tertinggi adalah rumput setaria. 2. Kandungan protein kasar dan serat kasar hijauan pada musim hujan persentasenya lebih tinggi dari musim kemarau, sedangkan tingkat kemiringan lahan dan interaksi antara faktor kemiringan dan musim tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap persentase protein dan serat kasar.

21

Jurnal Vegeta Vol. 1 No.2, Desember 2007

3. Kecernaan bahan kering dan bahan kering organik pada musim hujan berpengaruh sangat nyata lebih tinggi daripada musim kemarau, sedangkan tingkat kemiringan dan interaksi antara tingkat kemiringan dan musim tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.

McIlroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Runput Tropika. Pradnya Paramita, Jakarta. Moore, J.E. and Gerald, O. M. 1973. Structural Inhibitors of Quality in Tropical Grasses. In Anti Quality Components of Forages. Symposium sponsored by the Crop Science Siciety of America, CSSA Spesial Publication No. 4, Winsconsin. Nitis, I. M. 1980. Makanan Ternak; Salah Satu Sarana untuk Meningkatkan Produksi ternak. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tadjang, M. H. L. 1980. Penelitian Curah Hujan Efektif dan Neraca Air Tanah Untuk Tanah Kering pada Dua Lokasi Di Sulawesi-Selatan. Tesis sekolah Pascasarjana IPB, Bogor. Vallentine, J. F. 1989. Range Development and Impropments. Third Edition. Academic Press, INC. New York.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1990. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanah dan Tanaman dalam RangkaPelestarian Alam dan Konservasi Lahan. Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan, Direktorat Bina Rehabilitasi dan Pengembangan Lahan, Departemen Pertanian, Jakarta. Bulo, D. 1992. Pengaruh Interval Pemotongan dan Pemupukan Terhadap Produksi Lamtoro (Laicaena laucephala) yang Ditanam Dibawah Tegakan Pakan Kelapa. Proceeding Pertemuan Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan, Ujungpandang Sulawesi-Selatan. Djalaluddin S, 1989. Pengaruh Pemupukan N, P, dan K Terhadap Produksi Beberapa Jenis Rumput Pakan Ternak pada Tanah Gusuran Tambang Batubara Ombilin. Tesis Pendidikan Pascasarjana KPK IPB UNAND, Universitas Andalas. Padang (tidak dipublikasikan). Donald, J. P. 1968. Beff Cattle Science. 4 Ed. The in Tertate Printers Publisher and Ville Felinolis. Hakim. N., Yusuf M. Nafka, A.M. Lubis, Sutopo Gani Nugroho, Rusdi M. S, Amin Diha, Go Ban Hong, H.H. Bailey. 1986. Dasardasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Mathius, W., M. Rangkuti, dan A. Djajanegara. 1981. Daya Komsumsi dan Daya Cerna Terhadap Daun Gliciridia. Lembaran LPP. Th. XI. No. 2-4; 25-30 Maynard, L. K. and Loosli. 1969. Animal Nutrition. Sixth Edition, Mc Grow-Hill Book Company, New York.
th

Wariyanto A, 1986. Teknik dan Pengembangan Peternakan Direktorat Bina Produksi Peternakan, Jakarta. Bulletin No: 17/I/85/86 Whiteman, P. C., L. R. Humphreys, N. H. Monteith, E,H. Houlth, P.M. Bryant, and J. E. Slater. 1974. A Course Manual In Tropical Pasture Science. Australian Vice-Chancellors Committee, A,A,U.C.S. Brisbane.

22

Muh. Ihsan A. Dagong dan Syahdar Baba : Tanaman Campuran Antara Rumput dan Legum Pada Lahan Kritis

23