Anda di halaman 1dari 12

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

PENERAPAN ANALISIS RANTAI NILAI (VALUE CHAIN ANALYSIS) DALAM RANGKA AKSELERASI PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DI SULAWESI UTARA Jantje G. Kindangen dan Bahtiar Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara Jl. Kampus Pertanian Kalasey, Sulut

ABSTRACT
Perolehan pendapatan petani dari berbagai produk komoditas pertanian di Sulawesi Utara umumnya masih relatif rendah oleh karena sebagian aset yang dimiliki oleh para pelaku utama di sektor pertanian belum dikelola secara optimal dan berkelanjutan. Penerapan Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis, VCA) dalam pengembangan sektor pertanian di daerah ini pada umumnya hanya dilakukan secara parsial. Permasalahan utama dalam pengembangan sektor pertanian adalah perolehan nilai ekonomi masih sangat tergantung dari produk primer sehingga perolehan nilai pendapatan per satuan unit usaha dari berbagai komoditas masih sangat rendah. Pemahaman serta penerapan VCA pada sector pertanian akan memberikan pandangan yang optimis bahwa sesungguhnya perolehan nilai pendapatan masih berpeluang diperoleh sekitar 2 3 kali lipat. Berdasarkan potensi sumberdaya yang tersedia, melalui pendekatan VCA menunjukkan bahwa selama ini pada setiap desa sentra pertanian telah kehilangan nilai tambah hingga mencapai lebih dari satu milyar rupiah/tahun. Materi inti yang disajikan mencakup konsepsi, tahapan pelaksanaan analisis, implementasi analisis rantai nilai, serta prospek pengembangan usaha dalam menerapkan VCA di sektor pertanian. Makna utama dari penyajian materi ini agar segera dapat merancang suatu sistem usaha yang saling terkait dan diupayakan adanya berbagai aktivitas produktif dari para pelaku utama dalam tatanan sistem agribisnis sehingga diperoleh nilai tambah dari setiap komoditas yang maksimal. Aktivitas selanjutnya adalah membangun kelembagaan ekonomi yang solid disertai pengembangan usaha kemitraan guna memperlancar distribusi berbagai produk yang dihasilkan, penyediaan sarana produksi, serta informasi teknologi yang dibutuhkan secara spesifik. Untuk mewujudkan nilai maksimal dari rantai nilai usaha sektor pertanian disarankan agar pada setiap desa perlu dibangun suatu kelembagaan ekonomi dan sosial yang dibentuk, dikelola dan dimiliki oleh masyarakat tani di perdesaan secara spesifik. Keywords : Rantai nilai, akselerasi pembangunan, sektor pertanian

PENDAHULUAN Sektor pertanian masih tergolong sebagai sektor unggulan dalam membangun perekonomian di Provinsi Sulawesi Utara, kontribusinya terhadap perekonomian daerah masih dominan yaitu sekitar 40 50 % (BPS Sulut, 2008). Lebih dari 90 persen usaha disektor ini di daerah ini dikelola oleh masyarakat tani yang sampai saat ini perolehan nilai dari berbagai produk
Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

196

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

masih terbatas pada produk primer. Oleh karena itu perolehan pendapatan petani dari usaha sektor ini tergolong masih sangat rendah, belum sebanding dengan potensial sumberdaya yang tersedia untuk menghasilkan berbagai produk yang berdaya saing dan bernilai ekonomi. Permasalahan pokok sekarang adalah pada umumnya masyarakat tani masih sulit keluar dari kondisi perolehan nilai produk mereka, hanya tergantung dari nilai produk primer. Kondisi seperti ini telah memberi dampak keberadaan petani semakin tidak berdaya dan cenderung semakin banyak petani menjadi miskin. Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut maka dapat dipertanyakan seperti apa kondisi generasi dari masyarakat petani yang menekuni usahanya di sektor pertanian pada bahwa pada 5, 10, 15 dan 20 tahun mendatang ? Selama ini pihak pemerintah telah mencanangkan berbagai program untuk mengangkat harkat masyarakat petani dari berbagai komoditas dengan alokasi dana yang cukup besar, bahkan semakin banyak teknologi serta SDM yang dianggap pakar untuk memfasilitasi dan mendorong pengembangan berbagai komoditas dengan tujuan agar diperoleh nilai tambah yang maksimal. Namun fakta aktual menunjukkan hasil yang diperoleh masih cukup jauh dari yang diharapkan karena program dan kegiatan yang dilaksanakan belum berorientasi sepenuhnya pada pemberdayaan masyarakat, terkesan masyarakat tani masih menjadi obyek dalam pembangunan. Hal ini bisa dibuktikan apabila kita hadir ditengah-tengah masyarakat tani dan secara langsung mencermati segala aktivitas dan hasil yang diperoleh selama periode tertentu. Bila dicermati hasil-hasil yang dicapai selama ini, adakah perubahan bagi kalangan petani kelapa terhadap perkembangan usaha rumah tangga masing-masing untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga tani secara layak ? Disanalah akan diperoleh jawaban kongkrit bagaimana sebenarnya kinerja pembangunan pertanian terimplementasi pada berbagai aktivitas petani dalam pengelolaan usahatani berbagai komoditas. Solusi permasalahan di atas, seyogianya masyarakat tani harus keluar dari zone ketidaknyamanan tersebut dengan cara memberdayakan seluruh potensi sumberdaya yang ada. Untuk keluar dari permasalahan ini tentu harus melalui proses dan akan diperhadapkan dengan berbagai rintangan sehingga sangat diperlukan suatu sikap gigih, ulet dan penuh keyakinan. Revitalisasi sektor pertanian yang telah dicanangkan sejak bulan Juni 2005 nampaknya setelah 5 tahun (tahun 2010) terkesan belum menunjukkan adanya perbaikan taraf hidup petani secara signifikan oleh karena dalam memperjuangkan nasib masyarakat petani belum dilakukan secara sungguh-sungguh dan terpadu. Keberhasilan setiap usahatani adalah sangat tergantung dari kemampuan petani secara individu dalam pengelolaan usahatani. Hernanto

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

197

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

(1988) mengemukakan bahwa pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktorfaktor produksi yang dikuasai sebaik-baiknya dan mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Dikemukakan pula bahwa ukuran dari keberhasilan pengelolaan itu adalah produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya. Aspek pemasaran berbagai produk pertanian hingga saat ini belum mengalami parbaikan yang berarti, boleh dikata system pemasaran yang terjadi hampir sama saja dengan system pemasaran yang berlaku pada beberapa puluh tahun lalu. Contoh konkrit yang bisa kita lihat sehari-hari di daerah ini yaitu komoditas kelapa dimana bentuk produk yang dihasilkan untuk dijual masih dalam bentuk dan warna kopra hampir sama saja dengan bentuk dan warna kopra pada 3 hingga 5 dekade yang lalu. Begitu juga dengan produk lainnya dari komoditas kelapa seperti tempurung, sabut, batang, dan lainlain pada umumnya belum dilakukan pengolahan yang dapat memberi nilai tambah, sementara teknologi pengolahan berbagai produk ini telah tersedia cukup memadai. Uraian dalam tulisan ini hendak menyajikan pemahaman dan penarapan tentang analisis rantai nilai (Value Chain Analysis) dari usaha berbagai produk pertanian. Diharapkan para peserta dapat memahami dengan jelas bahwa betapa penting melakukan berbagai aktivitas oleh para pelaku utama dalam tatanan sistem agribisnis terutama yang ada di perdesaan sehingga diperoleh nilai tambah yang maksimal. Selanjutnya materi ini diharapkan akan terinformasi secara luas bagi para pelaku agribisnis, lebih khusus masyarakat petani akan memperoleh pendapatan yang layak, proporsional, serta berkelanjutan. Selain itu diharapkan pula materi ini akan menjadi acuan dalam merancang program pembangunan pertanian yang lebih spesifik dan prospektif di Kabupaten Kepulauan Sangihe. KONSEPSI ANALISIS RANTAI NILAI Mewujudkan nilai ekonomi yang maksimal dari suatu produk dalam alur pemasaran perlu membuka wawasan bahwa sebenarnya besar kecilnya nilai suatu produk sangat tergantung dari luar system, terutama kita harus mengetahui tingkat kebutuhan dan keinginan konsumen. Selama ini dalam kajian pengembangan suatu produk masih terkesan terfokus pada kebutuhan konsumen, yang sebetulnya besarnya nilai produk akhir lebih dominan ditentukan oleh sejauh mana keinginan konsumen terhadap suatu produk. Biasanya berapapun nilai suatu produk, namun bila konsumen telah berkeinginan kuat untuk membeli produk tersebut maka konsumen akan

198

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

membelinya. Dalam rangka pemahaman tentang bagaimana memperbesar nilai sesuatu produk dalam tatanan sistem agribisnis maka perlu mendalami tentang Value Chain Analysis (VCA) atau analisis rantai nilai. Langkah awal pelaksanaan analisis rantai niai maka perlu memahami sedikit tentang Supply Chain Management (SCM) atau manajemen rantai pasok sebagai landasan untuk melakukan analisis dalam kegiatan ini. Rantai pasok adalah sistem yang mengkoordinasi organisasi, orang, aktivitas, informasi dan sumberdaya yang terlibat dalam pemindahan sebuah produk/jasa dalam bentuk fisik atau virtual dari supplier ke konsumen (Andri, 2009). Konsepsi rantai pasok adalah suatu sistem mulai dari pelayanan input hingga ke konsumen. Rantai nilai memberikan wahana mengidentifikasi cara untuk menciptakan diferensiasi melalui pengembangan nilai (Raras, 2009). Aktivitas rantai nilai dikategorikan menjadi dua jenis; yaitu aktvitas primer (logistic inbound, operasi, logistic out-bound, pemasaran, penjualan, dan jasa) dan aktivitas pendukung (infrastruktur, manajemen sumberdaya manusia, pengembangan teknologi dan pengadaan). Aktivitas pendukung ini senantiasa akan menyatukan fungsi-fungsi yang melintasi aktivitas primer yang beraneka ragam serta juga bermanfaat untuk membagi lebih lanjut aktivitas primer spesifik di dalam rantai nilai. Dalam rangka mewujudkan nilai produk secara maksimal perlu mengetahui apa kebutuhan dan keinginan konsumen, nilai ekonomi maksimal lebih fokus pada keinginan konsumen. Berapapun nilai suatu produk namun pihak konsumen telah berkeinginan kuat untuk membeli maka konsumen akan tetap membeli. Value Chain Analysis (VCA) atau Analisis Rantai Nilai merupakan salah satu konsep pendekatan bagaimana menambah aktivitas dan memperbesar nilai produk secara maksimal dalam tatanan rantai pasok (Stringer, 2009). Yang masuk dalam kategori umum rantai nilai adalah tambahan aktivitas dalam sebuah organisasi (Andri, 2009) Rantai Pasok adalah Aliran barang/material bagaimana menurunkan biaya sepanjang rantai antara lain dengan cara memperpendek rantai pemasaran. Rantai Nilai adalah menambah kegiatan pada setiap canel/organisasi serta kolaborasi melalui perjanjian atau contract farming sehingga tercipta nilai tambah dan terbuka lapangan kerja. Produsen/petani tidak lagi mensuplai apa yang mereka inginkan atau tanam melainkan harus mensuplai apa yang para konsumen inginkan. Analisis rantai suplai berpikir mengurangi biaya sedangkan analisis rantai nilai: berpikir bagaimana menambah nilai dengan melakukan koordinasi vertical dan kolaborasi (Stringer, 2009)

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

199

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

Pendekatan rantai nilai membantu kita memahami bagaimana tren membentuk kembali rantai nilai, melakukan identifikasi siapa yang memimpin dan menanganinya, menjawab pertanyaan yang luas dan spesifik, serta melakukan pendekatan membangun hubungan/persahabatan. Kita dapat mendesain analisis rantai nilai antara lain dengan memperbaiki kemampuan perusahan lokal untuk berkompetisi, meningkatkan hasil untuk konsumen, mendorong target kebijakan, serta memperbaiki partisipasi petani kecil. Menciptakan lapangan kerja dan pendapatan secara regional senantiasa mengacu pada rantai nilai dengan pemahaman apa yang pasar akan bayar (Stringer, 2007; Stringer 2009). Karena itu tujuan utama dari manajemen rantai nilai adalah untuk memaksimalkan jumlah penerimaan (gross revenue). Analisis rantai nilai senantiasa terus mengacu kepada berapa harga dan berapa lama menyiapkan atau menyajikan barang untuk dijual. Tetapi semuanya harus menyadari bahwa untuk membangun rantai nilai yang baik hendaknya terkondisi rantai suplai (SC) yang baik. Reformasi arah gerakan rantai nilai khususnya pada penjualan eceran bahan makanan terus mengalami perubahan oleh karena akan beriringan dengan adanya perubahan/pergeseran berupa: pendapatan, urbanisasi, gaya hidup, perubahan diet, perubahan generasi, dan perubahan pola makan, media masa, konvergensi global dan perbedaan lokal, teknologi dan hasil-hasil penelitian, dan lain-lain. Beberapa isu menjadi penghalang dalam pengembangan rantai nilai yaitu: kurangnya partisipasi petani dalam rantai modern, kekuatan pasar dan akses pemasaran, sertifikasi, kekuatan hubungan melalui kontrak perjanjian, kesehatan dan nutrisi/gizi, serta pembangunan daerah dan penyediaan lapangan kerja. Beberapa tantangan mendasar, yaitu tidak mau mensuplai (tidak percaya dalam pembayaran), tidak mampu mensuplai (input, modal kerja terbatas), tidak mampu mensuplai kualitas ( kualitas input, teknologi, dan manajemen). Solusi bisa membutuhkan beberapa bentuk agrimen di antaranya: dapat bernegosiasi untuk pembayaran tepat waktu , melakukan asistensi/ input, serta melakukan sistensi manajemen dan teknologi. Tantangan akses pemasaran untuk jaringan produsen skala kecil dengan rantai modern yaitu: (1) kesadaran (pemahaman tentang pemasaran; pembeli, permintaan, dan tren; standard), (2) keterampilan organisasi dan manajemen (skala ekonomi; produksi, financial dan keterampilan marketing; kolaborasi dengan pihak lain, (3) teknologi (mesin dan peralatan; teknik produksi; keterampilan teknis), (4) sumberdaya financial ( modal kerja dan investasi; akses kredit dan alternative perbankan tradisional), (5) infrastruktur (jalan desa; tempat pemasaran; pedagang besar), dan (6) aspek kebijakan (kerangka

200

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

kerja yang legal; hambatan sistem tarif dan non tarif; lingkungan perdagangan). Value Chain Analysis (VCA ) atau Analisis Rantai Nilai (ARN)) adalah suatu pendekatan dengan melakukan satu atau beberapa kegiatan tambahan dalam sebuah organisasi yang dapat memperoleh nilai lebih beberapa kegiatan produktif sehingga diperoleh nilai tambah yang maksimal. Value Chain Analysis (VCA) atau Analisis Rantai Nilai (ARN) adalah suatu pendekatan dengan melakukan satu atau beberapa kegiatan tambahan dalam sebuah organisasi yang dapat memperoleh nilai lebih beberapa kegiatan produktif beri nilai tambah. TAHAPAN PELAKSANAAN ANALISIS RANTAI NILAI Tahapan untuk kegiatan VCA/ARN adalah sebagai berikut: (1) Menyajikan situasi masalah nyata, (2) Analisa kondisi situasi bersama stakeholder dengan analisis inventarisasi rantai nilai, kelembagaan, sistem sosial, (3) Menyusun urutan permasalahan yang dihadapi, (4) Melakukan perbaikan dan solusi dari permasalahan yang ada melalui identifikasi sistem, perancangan model, saran perbaikan dalam beberapa tahap uji coba, (5) Membedakan antara model yang dirancang dengan situasi nyata dilapang, (6) Perubahan keinginan secara sistematis yang memungkinkan, dan (7) Kegiatan aksi/implementasi untuk merubah situasi menjadi lebih produktif utk memperoleh nilai tambah Penambahan nilai melalui inovasi proses dapat dilakukan seperti: system pelayanan yang baik, tampil beda, melakukan promosi, membangun canel distribusi, melakukan beberapa metode pemasaran, pengelolaan tarnsportasi, system penyimpanan, system pendinginan, ada jaminan mutu dan asuransi, menerapkan teknologi produksi, penanganan pasca panen, pembersihan, teknik panen, penerapan budaya, menggunakan bahan tanaman yang baik, menata musim tanam, sertifikasi, serta pengelolaan tenaga kerja. Penambahan nilai melalui inovasi produk dapat dilakukan berupa: adanya atribut produk, informasi keoriginelan, ramuan, campuran dan tempat adonan, kotak kemasan yang sesuai, bentuk kemasan, penjelasan indentitas produk, keterangan kesehatan, mutu hasil, menggunakan varietas tanaman yang sesuai, waktu yang sesuai, konsistensi penyediaan produk, serta volume produk. PENERAPAN ANALISIS RANTAI NILAI Hasil penelitian menunjukkan proporsi usaha beberapa jenis tanaman pada areal tanaman kelapa, yaitu ada 40 % diusahakan 1 jenis tanaman, 24 %

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

201

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

diusahakan 2 jenis tanaman, 8 % diusahakan 3 jenis tanaman dan 5 % diusahakan 4 jenis tanaman. Baik yang telah menerapkan usaha diversifikasi maupun masih secara monokultur pada umumnya masih dikelola secara tradisional. Perolehan pendapatan petani pada umunya masih kurang dari Rp 5.000.000/ha/tahun yang memberikan gambaran bahwa pendapatan setiap rumah tangga tani relatif masih rendah. Persepsi petani tentang apakah usahatani kelapa masih memberikan keuntungan terhadap perkembangan ekonomi rumah tangga tani diperoleh respon sekitar 17 % hingga 26 % tergolong masih menguntungkan (Kindangen, 2007). Suatu indikasi bahwa dengan kondisi nilai produk kelapa sekarang yaitu hanya berupa kopra atau butiran dari waktu ke waktu perlu segera beralih menjadi produk lain yang dianggap lebih menguntungkan. Dalam rangka upaya memperbesar pendapatan dari usahatani kelapa maka pengolahan produk kelapa menjadi pilihan yang relevan. Pada dua lokasi contoh mulai berkembang usaha pengolahan produk kelapa berupa arang tempurung, Virgin Coconut Oil (VCO), dan pengolahan air kelapa. Demikian pula dengan usaha jenis tanaman lain atau ternak pada areal tanaman kelapa merupakan pilihan yang relevan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Kelapa yang dijual petani pada umumnya hanya dalam bentuk kelapa butiran atau kopra. Pada umumnya petani kelapa menjual produk kelapa secara individu langsung ke pedagang pengumpul. Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani kelapa dengan cara memperpendek rantai pemasaran dengan sistem kolektif. Bentuk produk kopra antara harga pedagang pengumpul desa dengan pihak pedagang besar atau pabrikan biasanya terdapat selisih harga sekitar Rp 300 Rp 400/kg dan bentuk butiran terdapat selisih sekitar Rp 100 Rp 150/kg. Kalau petani memiliki kopra sebanyak 4.000 kg kopra /tahun maka setiap tahun ada peluang tambahan pendapatan dengan cara memperpendek saluran pemasaran dengan cara dijual secara kolektif. Melalui penjualan secara kolektif maka setiap keluarga tani akan ada ketambahan pendapatan setiap tahun sebesar sekitar Rp 1.200.000 Rp 1.600.000 untuk kopra dan Rp 1.600.00 Rp 2.400.000 untuk kelapa butiran. Kalau pada 1 desa terdapat produksi sebanyak 800 ton setara kopra maka dengan menerapkan sistem penjualan kolektif terjadi peningkatan pendapatan Rp 240.000.000 Rp 320.000.000 untuk kopra serta Rp 320.000.000 Rp 480.000.000 untuk kelapa butiran. Nilai pendapatan sebesar ini sudah sangat layak dibangun suatu Badan Usaha Desa (BUDES) di setiap desa sentra kelapa, minimal usaha ini sudah dapat menjangkau kebutuhan sarana produksi dan kebutuhan konsumsi setiap rumah tangga di desa. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa andalan perolehan nilai produk kelapa masih sangat tergantung pada produk primer berupa kelapa

202

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

butiran atau kopra. Bentuk dan warna produk kopra yang dijual petani kelapa tergolong masih sama dengan bentuk dan warna kopra pada sekitar 30 40 tahun lalu. Beberapa bentuk produk yang dapat memberikan nilai tambah antara lain kelapa dapat diolah menjadi kopra putih, diolah menjadi minyak VCO, atau dalam bentuk bahan pangan menggunakan bahan baku dari kelapa. Bila setiap petani memiliki kelapa dengan produk rata-rata 4 ton/tahun setara kopra maka dengan pengolahan kopra putih dengan selisih harga dengan kopra biasa sebesar Rp 700 Rp 1.000/kg sehingga setiap petani dengan menerapkan sistem pengolahan kopra putih ada peluang tambahan pendapatan sekitar Rp 2.400.000 Rp 4.000.000/kk/tahun. Kalau pada satu desa menghasilkan produk kelapa dalam bentuk kopra sebesar 800 ton kopra/tahun maka melalui penerapan kopra putih diperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp 560.000.000 Rp 800.000.000/desa/tahun. Demikian pula kalau kelapa di desa ini dapat beralih kepada pengolahan VCO maka akan diperoleh pendapatan yang lebih besar lagi. Kalau produk kelapa yang ada di desa sekitar 25 % dapat diolah menjadi VCO maka produksi kelapa setara kopra 200 ton/desa/tahun diperoleh produk VCO sebanyak 6500 liter atau senilai Rp 1.850.000.000/desa/tahun (harga VCO Rp 30.000/liter). Nilai produk VCO ini akan terjadi selisih nilai yang cukup besar dibanding hanya dibuat kopra senilai Rp 600.000.000/tahun/desa. Penerapan analisis rantai nilai pada komoditas strategis yaitu padi sawah menunjukkan hingga saat ini perolehan nilai tambah masih belum berubah yaitu dijual secara individu, bentuk kemasan karungan, tidak dilakukan standarisasi dan grading. Sebagai contoh pada satu desa sentra padi sawah terdapat areal padi sawah irigasi seluas 200 ha. Bila capaian produktivitas bisa mencapai 5 ton GKG/panen dengan penerapan IP 300 maka dalam setiap tahun diperoleh produksi padi sebanyak 3000 ton GKG setara dengan 1700 ton beras. Bila dilakukan intervensi kegiatan produktif berupa perlakukan pembersihan dan kemasan (5 kg, 10 kg, 20 kg, 25 kg, dan 50 kg) maka dapat tercipta nilai tambah minimal sebesar Rp 100,-/kg ditambah dengan adanya sistem penjualan secara kolektif dengan nilai tambah juga Rp 100,-/kg maka potensi nilai tambah dari kedua aktivitas ini bisa mencapai sebesar Rp 600.000.000/tahun. Bila dikembangkan lebih lanjut berupa penambahan aktivitas untuk pembuatan pakan ternak dari dedak, penerapan teknologi budidaya secara intensif, menambah kegiatan melalui pengolahan hasil maka akan diperoleh gross margin yang lebih besar lagi.

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

203

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA PERTANIAN MELALUI PENERAPAN ANALISIS RANTAI NILAI DI SULAWESI UTARA Potensi perolehan nilai pendapatan sekitar 2 5 kali lipat dari kondisi yang ada sangat memungkinkan untuk dicapai dengan membangun dan memberdayakan suatu kelembagaan ekonomi dan social berupa suatu Badan Usaha Milik Desa dengan bidang usaha yang beragam. Apabila dalam rangkaian produksi ditambah aktivitas pengolahan maka nilai tambah petani akan menjadi lebih besar lagi, seperti pada komoditas kelapa dapat dihasilkan berbagai produk olahan berupa: tempurung untuk karbon aktif, sabut untuk jok mobil dan kasur, air kelapa untuk kecap, nata de coco, sirup, cuka dan lain-lain. Kalau potensi kelapa sebesar 800 ton setara kopra/desa seperti di atas berarti selama ini (1 dekade) masyarakat petani kelapa telah kehilangan kurang lebih mencapai sepuluh milyar rupiah. Seandainya semua komoditas andalan/unggulan di daerah ini system pengembangannya melakukan pendekatan analisis rantai nilai maka berarti selama periode ini pada setiap desa sentra pertanian di daerah ini telah kehilangan puluhan milyar rupiah. Harus disadari bahwa akibat dari ketidak berdayaan seperti inilah yang menjadi penyebab utama semakin banyak masyarakat yang terus menekuni usaha di sektor pertanian menjadi miskin, bahkan menjadi sangat miskin. Pengembangan usahatani yang dikelola oleh petani identik dengan pengembangan bisnis masyarakat petani di perdesaan dimasa yang akan datang. Karena itu apabila usaha ini mulai diupayakan sekarang yang dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan dan ditunjang sepenuhnya oleh semua lembaga yang terkait termasuk tidak adanya keseriusan dari pemerintah untuk memfasilitasi maka sudah dapat kondisi masyarakat tani pada 5,10 hingga 20 tahun mendatang menjadi lebih baik. Dornan dan Maxwel (1998), mengemukakan bahwa keberhasilan sesungguhnya ditentukan olah sikap kita sendiri. Tinggi rendahnya keberhasilan yang kita raih lebih banyak bergantung dari cara kita berpikir daripada faktor lainnya. Kesuksesan dalam pengembangan usahatani berbagai komoditas, faktor manusia merupakan faktor yang paling menentukan dalam hal ini menyangkut sikap para pelaku utama terutama masyarakat petani sendiri maupun unsur pendukung yang terkait. Dalam tahap awal sikap dari pengelola kelembagaan petani (contoh dalam gapoktan) adalah sangat menentukan mencapai suatu keberhasilan. Hal utama yang harus ditanamkan kepada para pengelola kelembagaan masyarakat tani adalah menyikapi secara positif bahwa lembaga ini sebagai landasan untuk mewujudkan kesejahteran masyarakat tani dimasa yang akan datang.

204

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

Pembentukan pelaku bisnis yang profesional merupakan suatu proses yang panjang, pembentukannya hanya hanya dapat dilkukan melalui praktek dunia usaha melalui proses strukturisasi, komunikasi, sistem manajemen dan kepemimpinan yang rasional, serta rencana karier yang mantap (Rintuh dan Miar, 2005). Oleh karena itu mengharuskan semua anggota dalam suatu kelembagaan (gapoktan) untuk belajar dan menerapkan sikap berpikir positif dikala menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan bisnis pertanian dengan hasil yang dapat diukur. Selaku pengelola kelembagaan, tanggung jawab mereka dalam tahap awal adalah menetapkan suatu rancangan usaha bisnis secara sederhana pada lingkungan sendiri yang selanjutnya akan terkondisi peran dari setiap pelaku untuk bersikap dan berperilaku positif untuk pengembangannya menjadi semakin lebih baik dimasa yang akan datang. Masa depan masyarakat petani di perdesaan diharapkan bukan hanya sekedar terjadi pertumbuhan ekonomi setiap petani dan wilayah akan tetapi lebih dari itu. Masa depan petani ini diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan yang dapat diukur yaitu terwujud suatu jaminan kehidupan keluarga tani yang layak dan berkelanjutan. Dalam diskusi dari berbagai kalangan dengan penulis banyak yang memberi respon bahwa untuk mencapai kondisi sejahtera seperti itu adalah mustahil. Penulis berkeyakinan bahwa hal ini sangat mungkin untuk dicapai apabila hal itu mulai diusahakan dari sekarang. Gabungan para petani di desa kedepan akan menjadi suatu kekuatan ekonomi dan sosial pada setiap desa dalam bentuk suatu Badan Usaha Desa dimana pertumbuhannya harus bertumpuh dari kekuatan masyarakat tani sendiri. Terwujudnya hal seperti ini adalah sangat mungkin karena kalau semua sumberdaya pertanian yang ada didesa menjadi asset untuk pengembangan ekonomi desa nilainya setiap tahun akan menjadi puluhan miliaran rupiah. Provinsi Sulawesi Utara memiliki jumlah desa sekitar 1500 desa/kelurahan, bila setiap desa dapat merancang pengembangan usahatani melalui pendekatan VCA dengan perolehan nilai tambah rata-rata sebesar Rp 300.000.000/desa/tahun maka perolehan nilai tambah seluruhnya sebesar Rp 450 milyar/tahun atau sekitar 1,8 2 % dari PDRB harga yang berlaku. Perolehan nilai tambah sebesar ini sudah memungkinkan pada setiap desa secara bertahap dapat dibangun suatu badan usaha milik desa. Dalam Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 2004 disebutkan Desa dapat mendirikan badan usaha miliki desa sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa ( Pasal 213 Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2004).

PENUTUP

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

205

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

Analysis rantai nilai merupakan alat analisis yang dibutuhkan oleh para pelaku utama dan pelaku penunjang untuk menjadi landasan pengembangan usaha agribisnis di perdesaan. Pendekatan analisis rantai inilai memberikan gambaran bahwa berbagai produk sektor pertanian di Sulawesi Utara masih berpeluang ditingkatkan sekitar 3 5 kali dari kondisi sekarang. Mengingat pemilikan aset dari masyarakat tani relatif kecil maka tindakan secara individu dalam pengembangan usaha akan sangat sulit diperoleh nilai ekonomi secara maksimal. Karena itu pengembangan usahatani kedepan yang bernilai tambah maksimal perlu segera melakukan tindakan kolektif dalam penjualan hasil, pembelian sarana produksi, perolehan dana investasi, serta akses informasi teknologi baru. Pengembangan usahatani berorientasi untuk peningkatan nilai tambah hendaknya para pelaku utama, khususnya masyarakat tani berada dalam suatu kelembagaan ekonomi dan sosial di desa yang kuat dan harus tumbuh dari bawah dan mengacu pada potensi sumberdaya lokal secara spesifik. Kelembagaan yang dibangun sentiasa dibangun oleh petani, dikelola oleh petani dan menjadi milik petani. Untuk menopang pertumbuhan kelembagaan ini menjadi lebih bermakna maka secara bertahap dapat diterapkan sistem manajemen yang lebih maju disesuaikan dengan tingkat kemajuan pengelolaan dari lembaga yang ada. Kelembagaan yang berkembang diharapkan akan menjadi lembaga kekuatan ekonomi dan sosial di desa yang dapat mengakses segala kebutuhan petani terutama dalam penyelenggaraan pengelolaan usahatani. Adanya kelembagaan seperti ini diharapkan pertumbuhan ekonomi baik secara individu maupun wilayah (desa) akan tumbuh secara proporsional berkelanjutan yang diharapkan akan segera diikuti terwujud kesejahteraan masyarakat tani secara nyata. Melalui pengembangan kelembagaan seperti ini didesa diharapkan akan terwujud jaminan kehidupan masyarakat tani yang terus membaik seyogyanya dikelola menjadi suatu badan usaha milik desa.

DAFTAR PUSTAKA Andri, K.B. 2009. Pengantar Pemahaman SCM dan VCA Komoditas Pertanian. Bahan Lokakarya Value Chain Analysis (Analisis Rantai Nilai) Tanggal 5 7 Juni 2009 di Mataram, NTB. Badan Litbang Pertanian.

206

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara

Dornan, J. dan J.C. Maxwell. 1998. Strategi Menuju Sukses. Langkah demi langkah pengantar anda menuju sukses. Network Twentyone. USA. Hernanto, 1988. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya, Jakarta. Kindangen, J.G. 2007. Analisis Kelayakan Usaha Pengembangan Industri Kelapa Terpadu Skala Pedesaan di Sulawesi Utara. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Vol. 10 No.3 November 2007. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Bogor. Badan Litbang Pertanian. Raras, A.TS. 2009. Menjadi Manager Sukses, Melalui Empat Aspek Perusahaan. Alfabeta, Bandung. Rintuh, C. Dan Miar. 2005. Kelembagaan dan Ekonomi Rakyat (Edisi pertama). BPTE Yogyakarta. Stringer, R. 2007. Why a Value Chain Approach is useful for Policy and Practise. Sustainable Food and Wine Value Chains Workshop, 12 November 2007. University of Adelaide. Stringer, R. 2009. Value Chain Analysis. Workshop Value Chain Analysis Tanggal 5 -7 Juni 2009 di Mataram NTB. Badan Litbang Pertanian.

Lampiran : Diskusi Pertanyaan Ir. Ventje Runtuwarow,MSi (Bakorluh Sulawesi Utara) a. Penerapan VCA tidak akan terealisasi kalau tidak didahului dengan kegiatan identifikasi pada setiap desa, bagaimana tindak lanjutnya sehingga pendekatan alat ini dapat segera terwujud dilapangan. b. Kalau di tingkat desa, siapa sebenarnya yang paling berperan agar terwujud penerapan VCA itu. ? Ir. Umar Buhari (Bakorluh Sulawesi Utara) c. Penerapan VCA memang bisa menghasilkan seperti yang disampaikan oleh pemakalah, apakah kegiatan ini bisa diterapkan oleh masyarakat tani ? sepertinya agak sulit

Penerapan Analisis Rantai Nilai Dalam Rangka Akselerasi Pembangunan Pertanian Di Sulawesi Utara

207