Anda di halaman 1dari 33

TUGAS INDIVIDU MATA KULIAH INOVATION AND ENTREPRENEURSHIP

PENANGANAN DAN PENGADAAN BAHAN BAKU SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA (Studi Kasus di PT Sido Muncul)

Dosen Pengajar : Prof. Dr. Ir. Rizal Syarief, DESS

Oleh: Kelompok Yellow B


1. 2. 3. 4. 5.

Aprilia Sukmawati Dian Luthfianingtyas Febi Muryanto Iradati Zahra Irfan Handrian

P056111061.47 P056111141.47 P056111171.47 P056111201.47 P056111211.47

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

DAFTAR ISI

hal
DAFTAR ISI..............................................................................................................i hal........................................................................................................................... i 2.4.Material Requirements Planning (MRP)..........................................................7 2.6 Jamu.........................................................................................................10 Simplisia............................................................................................................12

I. PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang Kegiatan industri memiliki tujuan dasar untuk mengembangkan dan mengolah

suatu produk yang memiliki daya guna, yang nantinya dipasarkan sehingga mampu menghasilkan laba atau keuntungan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan enam dasar pembentuk kewirausahaan, yaitu Men (Sumber Daya Manusia), Material (Bahan Baku), Money (Sumber Daya Modal), Machine (Mesin dan Peralatan Produksi), Methode (Cara Kerja), serta Market (Pasar). Bahan baku produksi merupakan salah satu aspek yang paling penting bagi suatu usaha (industri), khususnya yang menghasilkan suatu produk. Tidak ada suatu industri yang dapat berjalan tanpa adanya bahan baku. Hal inilah yang menyebabkan ketersediaan bahan baku pada tingkat kuantitas, kualitas, waktu dan tempat, serta tingkat harga yang tepat merupakan kunci penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri. Kegagalan penyediaan material akan berpengaruh langsung terhadap kinerja dan laba perusahaan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi keberlangsungan usaha di masa depan. Pada umumnya, biaya bahan baku mencakup 60-70% dari total biaya yang dikeluarkan oleh suatu industri. Penghematan dari sisi pengadaan maupun penanganan bahan baku tentunya akan memberikan arti penting bagi suatu industri sehingga mampu meningkatkan daya saingnya di tengah kompetesi global yang semakin lama semakin ketat. Dalam makalah ini, kami menguraikan tentang pengadaan dan penanganan material dari PT Sido Muncul yang merupakan industri pembuat jamu tradisional yang terbesar di Indonesia. Trend kehidupan masyarakat yang semakin hari semakin mengarah pada penggunaan bahan-bahan alami yang tidak merusak tubuh maupun lingkungan (Back To Nature atau kembali ke alam) telah mendorong total permintaan pada produk-produk berbahan alami, termasuk dalam hal ini adalah penggunaan obat-obatan herbal dan jamu. Untuk Indonesia, yang sudah dikenal sebagai Mega Bio-Diversity, Mega Centre keanekaragaman hayati terbesar di dunia, dimana terdapat lebih dari 300.000 jenis tumbuhan, dimana lebih dari 7000 tumbuhan tersebut berkhasiat obat (90 % spesies tumbuhan di kawasan Asia ) mendorong PT Sido Muncul untuk terus menerus memantapkan diri sebagai produsen jamu dan obat herbal dan senantiasa melakukan
1

perbaikan kualitas produk serta efisiensi untuk menjamin mutu dan keberlangsungan usaha di masa depan.
1.2.

Tujuan

1. Menguraikan arti penting material (bahan baku) dalam suatu industri. 2. Menguraikan cara pengadaan dan penanganan bahan baku simplisia sebagai bahan baku

utama produk jamu di PT Sido Muncul.

II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Material dan Manajemen Material Menurut Hadi (2012) material adalah item (barang) yang dibeli atau dibuat, yang disimpan untuk keperluan kemudian, baik untuk dipakai, diproses lebih lanjut atau dijual. Bahan baku pada dasarnya berbeda dengan apa yang disebut sebagai bahan mentah (raw materials). Bahan mentah diartikan sebagai bahan dasar yang berasal dari berbagai tempat, dimana barang tersebut dapat digunakan untuk diolah dengan suatu prses tertentu ke dalam bentuk lain yang memiliki wujud yang berbeda dengan bentuk aslinya. Sedangkan bahan baku didefinisikan sebagai bahan mentah yang menjadi dasar dibuatnya suatu produk yang mana bahan tersebut dapat diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan wujud yang lain. Menurut Adisaputro dan Asri (1982), jenis-jenis bahan baku dapat dikelompokkan menjadi : 1. Bahan Baku Langsung Bahan baku langsung atau direct material adalah semua bahan baku yang merupakan bagian daripada barang jadi yang dihasilkan. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku langsung ini memiliki hubungan yang erat dan sebanding dengan jumlah barang jadi yang dihasilkan. 2. Bahan Baku Tidak Langsung Bahan baku tidak langsung atau indirect material adalah bahan baku yang ikut berperan dalam proses produksi tetapi tidak secara langsung tampak pada barang jadi yang dihasilkan. Menurut Revino (2005) manajemen material dapat didefinisikan sebagai Sekumpulan material atau aktivitas atau kegiatan pengaturan yang dilakukan terhadap mana jemen mater ial memperoleh, bahan-bahan utama. Dalam praktiknya,

mem anfaatkan suatu manaj emen terpadu

untuk merencanakan,

mengkonversi, menga lirkan dan mendistr ibusikan "Material atau Bahan produksi
3

mulai dari bahan baku sampai menjadi barang jadi. Dorongan manajemen material ini adalah untuk memuaskan kebutuhan dari suatu sistem operasi atau kerja. Manajemen secara sederhana didefinisikan sebagai pengaturan,

pengorganisasian, ataupun pengendalian. Sedangkan material pada dasarnya didefinisikan sebagai apapun yang dapat disentuh ataupun digunakan. Dalam manajemen material, pengertian ini tidak berhenti sampai disini, akan tetapi istilah material juga digunakan untuk menyatakan setiap bahan baku, elemen bahan mentah, unsur-unsur zat, komponen setengah jadi dihasilkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen material merupakan suatu ilmu untuk mengatur atau mengendalikan material agar dapat menghasilkan suatu produk atau barang yang memiliki nilai tambah. Fungsi dari manajemen material adalah untuk menyediakan material secara tepat, pada lokasi operasi yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam kondisi yang dapat digunakan serta dengan biaya seminimal mungkin. Kebijakan dalam manajemen material hendaknya harus meliputi kualitas material, kesesuaian harga, penjadwalan produksi, serta manajemen persediaan.

2.2. Pengadaan Material Menurut Revino (2005) p engadaan atau yang dalam praktiknya kita sebut pembelian atau purchasing merupakan kegiatan yang memegang peranan penting dalam suatu perusahaan secara umum, dan pada sebuah perusahaan manufaktur pada khususnya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh bagian dari peranannya itu sendiri dalam bisnis, yaitu:
1. 2. 3.

Fungsi bisnis dalam menentukan laba usaha melalui penghematan biaya material, Salah satu bagian vital yang turut menyempurnakan kegiatan produksi, Departemen yang bertanggungjawab terhadap material di luar manufaktur. Peranan dasar purchasing tersebut sudah umum diterapkan pada perusahaan-

perusahaan bisnis, di mana perusahaan tidaklah mungkin melaksanakan operasinya tanpa pembelian atau pengadaan barang dan atau pun jasa. Karenanya, pembelian bagian bertanggung jawab penuh terhadap pengadaan material, peralatan (equipment) dan jasa dalam suatu perusahaan manufaktur.

Pembelian dapat dibedakan menjadi pembelian barang dan pembelian jasa, dimana keduanya memiliki perbedaan. Barang yang dimaksudkan dalam hal ini meliputi bahan baku, komoditas, peralatan, komponen, dan produk jadi dari suatu hasil pabrikasi. Sedangkan pembelian jasa merupakan suatu aktivitas yang semakin meningkat kepentingannya. Pembelian jasa berbeda dengan pembelian bahan baku, komponen atau peralatan yang dibutuhkan oleh pabrik pada umumnya. Permintaan jasa dalam hal ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Fasilitas yang berhubungan dengan kontruksi, peralatan perawatan dan rumah tangga; Material dan logistik, sehubungan dengan manajemen inventory, biaya audit, transportasi dan gudang; Komunikasi, seperti otomatisasi pemprosesan data, fotografi, percetakan, telepon, dan hubungan masyarakat; Berhubungan dengan karyawan, seperti kanton, pelatihan dan penyuluhan, perjalanan bisnis, pakaian seragam dan kesejahteraan tertentu;
5. Professional, seperti akuntan dan pemeriksa, arsitektur dan engineering, pelelangan,

konsultasi dan aspek hukum. Terdapat empat faktor yang menentukan tingkat mutu jangka panjang pada saat perusahaan membeli material, yaitu (Revino, 2005) : 1. 2. 3. 4. Mencantumkan spesifikasi yang benar dan lengkap untuk tingkat mutyu yang dibutuhkan; Memilih pemasok yang memiliki kemampuan produksi dan teknik pengerjaan yang baik secara mutu maupun biaya; Membina dan mengembangkan pengertian bersama yang realistis dengan pemasok mengenai mutu yang dibutuhkan dan menciptakan motivasi untuk mewujudkannya; Mengukur unjuk kerja mutu maupun biaya pemasok dan menerapkan kontrol secara logis dan layak.
2.3. Manajemen Persediaan ( Inventory )

Menurut Handoko (1999) persediaan atau inventory adalah istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Permintaan tersebut meliputi bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi ataupun produk final (produk jadi). Pengertian persediaan yang disampaikan Harjanto (2004) yaitu barang atau bahan yang disimpan dan digunakan
5

untuk memenuhi tujuan tertentu. Misalnya saja untuk proses produksi, perakitan, untuk dijual kembali dan sebagai suku cadang dari sebuah mesin. Pendapat lain mengatakan bahwa persediaan adalah barang yang dimiliki untuk diproses selanjutnya dijual (Achun, 2008). Berdasarkan pengertian tersebut maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi siap disalurkan pada konsumen. Sedangkan Revino (2005) mendefinisikan persediaan melalui dua sisi, yaitu : 1. Sisi yang berkenaan dengan biaya atau finansial, maka persediaan berarti uang, asset, atau uang tunai dalam bentuk barang; 2. Sisi yang lain merupakan sisi yang berkenaan dengan operasional, dimana hal ini dilihar dari sudut pandang material atau barang secara fisik, baik berupa bahan baku, barang setengah jadi, maupun barang jadi dalam bentuk yang siap untuk dijual. Klasifikasi persediaan menurut Revino (2005) dijelaskan sebagai berikut :
1. Persediaan bahan baku (raw materials)

Merupakan material dasar atau material yang belum mendapat sentuhan operasi pabrik sejak pertama kali diterima dari pemasok.
2. Barang beli di luar (Bought Out Part)

Merupakan barang jadi atau semi jadi yang dibeli dari pihak luar sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan.
3. Produk setengah jadi (Work in Process)

Merupakan barang-barang yang masih dalam tahap poses penyelesaian produksi dan baru dalam proses setengah jadi.
4. Persediaan barang jadi (Finished Goods)

Barang yang telah selesai diproduksi dan siap untuk dipasarkan.


5. Perawatan, perbaikan, dan operasi (maintenance, repair and operation)

Barang-barang yang digunakan untuk kepentingan pendukung proses operasional pabrik dan bukan sebagai bahan pembuat barang jadi. Misal : suku cadang mesin, oli, solar, gas, dan sebagainya. 6. Perkakas Merupakan peralatan perkakas kerja pada pabrik, baik yang standar maupun yang khusus. 7. Aneka ragam
6

Termasuk di dalamnya adalah peralatan kantor, alat tulis kantor, kertas fotokopi, dan sebagainya. Menurut Revino (2005), dari sisi akuntansi, terdapat empat metode dalam menghitung dan mengatur persediaan, yaitu : 1. Identifikasi Barang Metode ini dilakukan dengan melakukan pembebanan biaya aktual pada barang atau material itu sendiri. Cara ini dipandang tidak praktis dalam banyak kasus, sehingga dikembangkanlah tiga metode dalam manajemen persediaan sebagaimana diuraikan pada nomor selanjutnya. 2. Biaya rata-rata Pada metode ini, diasumsikan bahwa masing-masing barang menanngung biaya yang sama, dimana biaya total daribarang siap jual sehingga menjadi biaya unit rata-rata.
3. First in First Out (FIFO)

Pada metode ini diasumsikan bahwa biaya-biaya dari barang-barang yang dibeli saat awal dibenankan pada barang-barang yang dijual pada saat awal atau pertama dijual, dan biaya barang yang dibeli terakhir dibebankan pada barang persediaan sisa.
4.

Last in First Out (LIFO) Dalam metode ini, diasumsikan bahwa biaya barang yang dibeli pada saat akhir dibebankan pada barang yang pertama kali dijual, sehingga biaya persediaan di tangan terdiri dari biaya-biaya barang dari pembelian yang paling awal atau pertama.

2.4.Material Requirements Planning (MRP) Perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning) adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned orders. Metode MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan inventori untuk itemitem dependent demand (antara lain: bahan baku, parts, subassemblies, dan assemblies), dimana permintaan cenderung discontinuous and lumpy (Russel dan Taylor, 2000). Metode MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan inventori untuk item-item dependent demand, di mana permintaan cenderung discontinuous and lumpy. Item-item yang termasuk dalam dependent demand adalah : bahan baku (raw materials), parts, subassemblies, dan assemblies, yang kesemuanya disebut manufacturing inventories. Teknik-teknik MRP dan CRP paling cocok diterapkan dalam lingkungan job
7

shop manufacturing, meskipun MRP dapat pula diadopsi dalam lingkungan repetitive manufacturing. Menurut Baroto (2002) MRP adalah suatu prosedur logis berupa aturan keputusan dan teknik transaksi berbasis komputer yang dirancang untuk menterjemahkan jadwal induk produksi menjadi kebutuhan bersih untuk semua item. Sistem MRP dikembangkan untuk membantu perusahaan manufaktur mengatasi kebutuhan akan item-item dependent secara lebih baik dan efisien. Disamping itu, sistem MRP dirancang untuk membuat pesananpesanan produksi dan pembelian untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam proses sehingga sesuai dengan jadwal produksi untuk produk akhir. Hal ini memungkinkan perusahaan memelihara tingkat minimum dari item-item yang kebutuhannya dependent, tetapi tetap dapat menjamin terpenuhinya jadwal produksi untuk produk akhirnya. Sistem MRP juga dikenal sebagai perencanaan kebutuhan berdasarkan tahapan waktu (Time-phase requirements planning). Time phased MRP dimulai dengan mendaftar item pada MPS untuk: 1. 2. Menentukan jumlah semua komponen dan material yang dibutuhkan untuk produksi Menentukan waktu komponen dan material dibutuhkan Material Requirements Planning merupakan suatu konsep dalam sistem produksi untuk menentukan cara yang tepat dalam perencanaan kebutuhan material dalam proses produksi, sehingga material yang dibutuhkan dapat tersedia sesuai dengan yang dijadwalkan. Tujuannya untuk mengurangi kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan material, karena kebutuhan material didasarkan atas rencana jumlah produksi. Material Requirements Planning mulai digunakan secara meluas dalam sistem produksi seiringdengan semakin berkembangnya pemakaian komputer dalam bidang apapun (sekitar awal tahun 1970 an).
2.5.

Supply Chain Manajemen (SCM) Supply Chain Management atau dikenal dengan manajemen rantai pasok mencakup semua bagian bisnis perusahaan mulai dari suppliers, produsen, distributor dan pelanggan, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memenuhi permintaan pelanggan. Rantai pasokan tidak hanya meliputi pembuat dan suppliers tetapi juga pengangkut, gudang, pengecer, dan bahkan pelanggan itu sendiri. Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah proses payung di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang
8

mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001, h5). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Pada tiap-tiap organisasi seperti perusahaan manufaktur, rantai pasokan meliputi seluruh fungsi-fungsi yang terlibat dalam penerimaan dan pengisian permintaan pelanggan. Fungsi ini termasuk, tetapi tidak dibatasi, perkembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan customer service. Rantai pasokan merupakan hal yang dinamis dan melibatkan aliran informasi yang konstan, produk, dan keuangan antar tingkat-tingkat yang berbeda. Pada kenyataannya, tujuan utama dari berbagai rantai pasokan adalah memenuhi kebutuhan pelanggan dan dalam prosesnya, menghasilkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Rantai pasokan menimbulkan gambaran atas pergerakan produk atau pasokan dari supplier kepada pembuat produk, distributor, pengecer, pelanggan sepanjang rantai.

Gambar 5. Bagan Tingkatan Supply Chain Management Keterlibatan banyak pihak dalam SCM, membuat perusahaan harus berpikir keras untuk menjamin jalannya sistem tersebut. Peranan sistem informasi menjadi sangat penting disini, hanya sistem informasi yang dapat menghubungkan seluruh kompenen tersebut dengan baik. Proses pengolahan data juga menjadi lebih mudah, bahkan perusahaan dapat mengakses data di setiap tempat secara real time.

Sumber: http://janduennebier.wordpress.com/2009/01/05/supply-chain-management/

Gambar 6. Sistem Informasi pada Supply Chain Management Secara sederhana gambaran peranan sistem informasi dalam SCM digambarkan pada Gambar 6. Melalui fasilitas inter-networking, setiap bagian pada perusahaan terhubung, mulai dari proses distribusi dari gudang ke distribution center (DC), departemen penjualan, departemen manufacture, departemen penjualan, kantor pusat, bahkan terkoneksi pada konsumen.

2.6 Jamu Di Indonesia demikian pula keadaannya, terjadi perkembangan serupa yaitu sejak jaman dahulu kala, nenek moyang kita memanfaatkan tumbuhan untuk bahan obat-obatan. Jamu sudah dikenal sudah berabad-abad di Indonesia, sejarah tersebut terekam dalam sebuah dokumen tertua, yakni tahun 772 setelah Masehi, pada relief candi Borobudur berupa lukisan tentang obat, yang sampai sekarangpun masih digunakan sebagai obat. Dokumen serupa terdapat pula pada relief candi Prambanan, Penataran dan Tegalwangi. Pertama kali jamu dikenal dalam lingkungan Istana atau keraton yaitu Kesultanan di Djogjakarta dan Kasunanan di Surakarta. Jaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak diperbolehkan keluar dari keraton. Pada zaman keraton-keraton Indonesia, misalnya Keraton Surakarta, pengetahuan tentang ramuan-ramuan obat dari bahan alam ini telah dibukukan kedalam " Kawruh Bab Jampi Jawi " atau " Pengetahuan tentang Jamu Jawa", yang diterbitkan pada tahun 1858 dan memuat sebanyak 1734 ramuan jamu. Awalnya sebagai bahan baku obat
10

asal tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh nenek moyang kita diambil dari tumbuhan liar yang tumbuh di sekeliling tempat tinggalnya. Namun ketika tumbuh-tumbuhan di sekeliling rumahnya tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya, maka mulailah pencarian bahan baku dilakukan di tempat yang lebih jauh lagi, bahkan sampai ke wilayah hutan. Namun karena obat-obat nabati tersebut berasal dari tumbuhan liar, yang umurnya tidak seragam, maka mutunya tidak seragam pula. Karenanya mulai dipikirkan untuk membudidayakan tumbuhan sumber bahan baku tersebut agar dapat diatur pertumbuhan yang seragam, sehingga pada waktu pengumpulan bahan baku obat nabati tersebut dapat mempunyai umur yang bersamaan. Dengan cara tersebut, maka dapat diupayakan bahan baku obat nabati memilki mutu yang seragam. Tinggallah sekarang dipikirkan kapan pengumpulan (panenan) bahan baku tersebut dilakukan, agar memilki mutu yang baik (optimal). Untuk rimpang , biasanya pemanenan sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau, saat pertumbuhan tumbuhtumbuhan tersebut berhenti. Kondisi terbaiknya dapat diketahui jika batang atau daunnya mulai mengering dan menguning, dan dipilih akar yang berdaging / gemuk. Selanjutnya untuk daun, pucuk berbunga atau seluruh bagian tumbuhan di atas permukaan tanah, sebaiknya dipanen antara jam 09.00 - 11.00, karena belakangan diketahui bahwa pada saat itu pertukaran zat ( asimilasi ) berlangsung maksimal. Disamping itu hendaknya dipanen pada saat tumbuhan itu berbunga atau sebelum masknya buah. Kemudian kulit batang (misalnya kulit batang pulai), berdasarkan pengalaman dikumpulkan pada musim penghujan, ketika pertunasan mulai terjadi. Diketahui bahwa pada saat itu kulit batang paling banyak mengandung zat-zat berkhasiat. Sementara bunga-bunga berdasarkan pengalaman dipanen sebelum atau ketika terjadi penyerbukan (sudah mulai didatangi lebah atau kupu-kupu). Kemudian untuk buah dipanen sebelum masak (cabe jawa, kemukus dan lada hitam ) atau pada saat masak ( adas manis, adas atau lada putih ). Akhirnya biji dikumpulkan pada saat buah yang mengandungnya masak. Bagi masyarakat Indonesia, Jamu adalah resep turun temurun dari leluhurnya agar dapat dipertahankan dan dikembangkan. Bahan-bahan jamu sendiri diambil dari tumbuhtumbuhan yang ada di Indonesia baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu. Sejak dahulu kala, Indonesia telah dikenal akan kekayaannya, tanah yang subur dengan hamparan bermacam-macam tumbuhan yang luas. Tanah yang subur dengan kekayaan tanaman sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia karena mereka bergantung dari alam dalam usahanya untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Pengolahan tanah, pemungutan hasil panen, proses alam tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga berbagai produk yang berguna untuk perawatan kesehatan dan kecantikan. Leluhur kita
11

menggunakan resep yang terbuat dari daun, akar dan umbi-umbian untuk mendapatkan kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit, serta persiapan-persiapan lain yang menyediakan perawatan kecantikan muka dan tubuh yang lengkap. Campuran tanaman obat traditional ini di kenal sebagai JAMU. Dimana Indonesia dikenal sebagai Negara nomor 2 dengan tanaman obat tradisional setelah Brazilia. Jamu dapat dibedakan atas 2 golongan, yaitu: 1. Jamu sebagai penyedap dengan bahan baku atau simplisia yangbelum distandardisasikan dan belum pernah diteliti. Bentuk sediaannya masih sederhana, yaitu berwujud serbuk seduhan, rajangan untuk seduhan,dan sebagainya. Istilah kegunaan masih sepenuhnya memakai pengertian tradisional, seperti galian singset, sekalor, pegal linu, tolak angin, dan sebagainya. 2. Fitoterapi adalah simplisia yang telah mendapat standardisasi dantelah dilakukan penelitian alas sediaan galeniknya. Indikasi sudah menggunakan istilah farmakologi, seperti diuretika, obstipansia, kolagoga,dan sebagainya. Khasiatnya dapat diandalkan sesuai dengan basil penelitian yang sudah dikerjakan. Dengan adanya obat kelompok fitoterapi ini, diharapkan obat-obat dari alam secara bertahap dapat dimanfaatkan dalam sistem pelayanan kesehatan formal ini, diharapkan obat-obat dari alam secara bertahap dapat dimanfaatkan dalam sistem pelayanan kesehatan formal. Kandungan jamu sangat beragam, tergantung dari jenis bahan yang dipakai. Secara keseluruhan, jamu mengandung zat kurkumin, yaitu suatu zat yang bisa berguna sebagai antioksidan yang menurunkan risiko terkena kanker.Selain itu, jamu juga mengandung protein, karbohidrat, vitamin dan beberapa mineral, seperti zat besi, kalsium, fosfor.

Simplisia Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kucuali dinhyatakan lain simplista merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplista hewani, dan simplisia pelikan atau mineral, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau

eksudat tanaman. Yang dimaksud eksudat tanaman ialah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya.

12

2. Simplisia hewani ialah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni. 3. Simplisia pelikan atau mineral ialah simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

III. PEMBAHASAN III.1. Profil Perusahaan A. Sejarah dan Perkembangan PT Sido Muncul
13

Gambar 1. Logo PT Sido Muncul PT Sido Muncul bermula tahun 1940 dari sebuah industri rumah tangga pada yang dikelola oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta dan dibantu oleh 3 orang karyawan. Ibu Rakhmat kemudian memproduksi jamu dalam bentuk yang praktis (serbuk) karena banyaknya permintaan akan jamu yang mudah dikonsumsi dan mudah disajikan. Tahun 1951 didirikan perusahaan sederhana yaitu Sido Muncul yang berarti Impian yang terwujud yang berlokasi di Jalan Mlaten Trenggulun. Tolak Angin merupakan produk pertama dan andalan Ibu Rahkmat. Jamu ini mulai dikenal dan disukai masyarakat sehingga permintaan pun meningkat. Seiring perkembangannya, pabrik tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang besar akibat permintaan pasar yang terus meningkat. Tahun 1984 pabrik dipindahkan ke Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe, Semarang. Untuk memenuhi demand pasar yang terus meningkat, maka pabrik mulai dilengkapi dengan mesin-mesin modern, jumlah karyawan ditambah sesuai dengan kapasitas yang diperlukan. Saat ini jumlah karyawan PT Sido Muncul mencapai sekitar 2000 orang sebagai usaha untuk mengantisipasi kemajuan pabrik di masa mendatang. Tahun 1997 diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas 29 ha oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X disaksikan oleh Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Drs. Wisnu Katim). Pabrik baru ini diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia, dr. Ahmad Sujudi pada 11 November 2000 (Gambar 1). Pada waktu peresmian, pabrik mendapatkan 2 sertifikat yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) setara dengan farmasi. Hal ini menjadikan PT Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi. Pada 8 Maret 2001, PT Sido Muncul menerima Kehati Award untuk kategori Peduli Lestari Kehati, yang merupakan salah satu penghargaan di bidang pelestarian lingkungan untuk dunia usaha.
14

Gambar 2. Foto udara Pabrik PT Sido Muncul yang baru selesai dibangun pada tahun 2000 dengan luas 29 ha Setelah 66 tahun terlibat dalam industri jamu tradisional PT Sido Muncul mulai memproduksi produk-produk baru yang berbahan dasar alami seperti minuman serbuk Alang Sari, Alang Sari plus Fiber, Kunyit Asam, Kunyit Asam Fiber, Kunyit Asam Sirih, Anak Sehat aneka rasa, Jahe wangi, STMJ aneka rasa, permen Jahe Wangi. Permen Tolak Angin dan Permen Kunyit Asam. Sampai saat ini PT Sido Muncul telah memproduksi sekitar 200 produk yang berbeda untuk memperluas pasar. Keberadaan PT Sido Muncul tidak hanya untuk mengembangkan usaha, namun juga menjadi bagian dari masyarakat dengan adanya kegiatan-kegiatan sosial. PT Sido Muncul mempunyai 2 lokasi untuk pabrik, yaitu pabrik lama yang ukurannya lebih kecil terletak di Jl. Industri IIA nomor 19 A di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Jalan Raya Demak Km. 4 Semarang dengan area seluas 20.000 m2 dan luas bangunan 14.000 m2, sedangkan pabrik baru berlokasi di Jl. Soekarno Hatta Km. 28 Klepu, Kec. Bergas, Ungaran di atas tanah seluas 29 ha. Peta lokasi pabrik dapat dilihat pada Lampiran 1. PT Sido Muncul memiliki beberapa lokasi yang berbeda-beda untuk masing-masing bagian yang diberi nama berdasarkan huruf capital. Letak dari masing-masing bagian denah dapat dilihat lebih lanjut pada Lampiran 2. B. Visi dan Misi PT Sido Muncul Visi PT Sido Muncul adalah mengembangkan produk yang berkualitas dan bersahabat dengan lingkungan.

Misi PT Sido Muncul antara lain: 1. Meningkatkan mutu pelayanan di bidang herbal tradisional.
15

2. Mengembangkan penelitian yang berhubungan dengan perkembangan pengobatan dengan bahan-bahan alami. 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami dan pengobatan secara tradisional. 4. Ikut mendorong pemerintah / instansi resmi agar lebih berperan dalam mengembangkan pengobatan tradisional. Dalam rangka mewujudkan misi tersebut maka semua rencana pengeluaran produk baru selalu didahului dengan studi pustaka maupun penelitian yang intensif, menyangkut keamanan, khasiat, maupun sampling pasar. Untuk memberikan jaminan kualitas pada konsumen, maka setiap langkah produksi mulai dari barang datang hingga produk sampai di pasaran dilakukan di bawah pengawasan mutu yang ketat. Seluruh karyawan juga bertekad untuk mengadakan perbaikan setiap saat, sehingga diharapkan dapat lebih baik dari sebelumnya. C. Ketersediaan Fasilitas PT Sido Muncul memiliki fasilitas yang mendukung terciptanya produk yang semakin maju dan inovatif dari waktu ke waktu. Fasilitas tersebut antara lain laboratorium, kebun percobaan dan budidaya tanaman, gedung ekstraksi, tempat pengolahan air bersih, tempat pengolahan limbah, dan perpustakaan. Fasilitas penting yang dimiliki PT Sido Muncul adalah empat laboratorium yang dibangun di atas lahan seluas 1200 m. Keempat laboratorium tersebut memiliki kekhususan seperti: a. Laboratorium Kimia Untuk melakukan pengawasan mutu (quality control) secara kimiawi, dilengkapi dengan peralatan High Pressure Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography (GC) dan Thin Layer Chromatography (TLC) Scanner. Laboratorium Kimia bekerjasama dengan laboratorium instrumentasi untuk melakukan pengawasan mutu terhadap produk jadi dan bahan baku. b. Laboratorium Mikrobiologi Untuk melakukan pengawasan mutu (quality control) secara mikrobiologi atau yang berhubungan dengan bakteri dan jamur. c. Laboratorium Formulasi Untuk melakukan formulasi bahan-bahan yang akan digunakan saat produksi juga sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Research and Development untuk mencoba produk-produk baru. d. Laboratorium Uji Stabilitas
16

Untuk melakukan uji stabilitas terhadap produk-produk jadi. Selain empat laboratorium tersebut diatas, PT Sido Muncul juga dilengkapi dengan Laboratorium Instrumentasi, Laboratorium Farmakologi, Laboratorium Farmakognosi, Laboratorium Stabilitas, dan Laboratorium Kultur Jaringan. Laboratorium Analisa yang terdiri atas Laboratorium Kimia, Mikrobiologi dan Instrumentasi telah mendapat sertifikat ISO 17025. Kebun percobaan dan budidaya tanaman obat dibangun untuk mendukung terciptanya tanaman obat yang berkualitas. Kebun percobaan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu kebun pertanian dan agrowisata. Agrowisata merupakan area seluas 1,5 hektar yang berisikan berbagai jenis tanaman obat dan dapat diakses secara umum. Tanaman yang tumbuh di area ini juga digunakan sebagai bahan baku produksi PT Sido Muncul. Gedung ekstraksi berfungsi sebagai tempat pembuatan ekstrak yang akan digunakan dalam proses produksi selanjutnya. Gedung ekstraksi merupakan bagian penting bagi terciptanya produk dengan kualitas tinggi sehingga harus terjaga dari kontaminan dengan kebersihan yang sangat diperhatikan. Kebersihan sangat dipengaruhi oleh pencucian alat dan gudang yang dilakukan secara berkala. Perusahaan ini membutuhkan jumlah air yang banyak untuk pembersihan lahan (58 hektar), gudang dan seluruh kantor (24 wilayah), serta peralatan pabrik (mesin dan peralatan). Oleh karena itu, PT Sido Muncul menggunakan sistem pengolahan air tanah yang efisien dan sistem pengolahan air limbah yang sistematis sehingga air tanah yang digunakan lebih sedikit dan ketersediaan air tanah terjaga. PT Sido Muncul juga memiliki perpustakaan skala kecil sebagai sarana untuk staff (karyawan) sehingga dapat memperluas ilmu pengetahuan baik tentang tanaman obat, penelitian, produksi, sampai dengan pengolahan limbah dan hasil limbah yang masih bisa digunakan kembali. D. Struktur Organisasi PT Sido Muncul merupakan sebuah perusahaan yang memiliki badan hukum Perseroan Terbatas (PT), yang dipimpin oleh Dewan Komisaris yang membawahi Presiden Direktur yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan perusahaan. Presiden Direktur PT Sido Muncul membawahi Direktur Umum, Direktur Pabrik dan Direktur Keuangan. Direktur Keuangan membawahi beberapa manajer antara lain Manajer Keuangan, Manajer Akuntansi dan Manajer Pembelian. Pada pengoperasiannya, Manajer Keuangan dibantu oleh Kepala Bagian Pembiayaan dan Kepala Bagian Akuntansi Keuangan Biaya, Kepala Bagian Anggaran dan Kepala Bagian Pengolahan Data. Direktur Umum membawahi Manajer Personalia, sedangkan Direktur Pabrik membawahi tujuh Manajer, yaitu : Manajer Produksi, Manajer Product Planning Inventory Control (PPIC), Manajer Quality Assurance (QA), Manajer Research and
17

Development (R & D), Manajer Lingkungan, Manajer Teknik, dan Manajer Budidaya Pertanian. Struktur Organisasi PT Sido Muncul dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan struktur organisasinya, terdapat Internal Audit yang bertugas memantau kinerja perusahaan. Secara garis besar masing-masing bagian dapat dijelaskan seperti berikut : 1. Manajer Produksi, bertugas:
a. Membuat rencana pelaksanaan proses produksi

b. Mengkoordinir masalah pengaturan tenaga di bagian produksi c. Bertanggung jawab penuh terhadap kegiatan produksi d. Membuat laporan pertanggungjawaban terhadap pimpinan produksi e. Bekerjasama dengan unit lain dalam rangka melaksanakan kegiatan produksi
2. Manajer Product Planning Inventory Control (PPIC), bertanggung jawab untuk

merencanakan, mengatur dan mengontrol semua proses produksi.


3. Manajer Quality Assurance (QA), bertanggung jawab dalam menjamin mutu produk.

Tugas dari Manajer QA : a. Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pemeriksaan yang berlangsung di bagian produksi dan di laboratorium mikrobiologi. b. Menganalisa hasil pemeriksaan yang berlangsung di bagian produksi dan di laboratorium mikrobiologi. c. Membuat laporan hasil Analisa kepada Manajer laboratorium. d. Melakukan Pengawasan internal di bagian produksi. 4. Manajer Research and Development (R & D), bertanggung jawab dalam hal penelitian dan pengembangan produk. Tugas dari Manajer R & D antara lain : a. perusahaan. b. c. Memeriksa Mengadakan semua laporan-laporan dengan yang diterima dari laboratorium untuk dibuat dan disampaikan kepada pimpinan (Direktur dan Konsultan). hubungan konsultan, instansi pemerintahan, institusi dan pihak luar yang berhubungan dengan R & D. 5. Manajer Lingkungan, yang bertanggung jawab mengelola departemen lingkungan dalam mengendalikan lingkungan dan pengolahan limbah. Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut : Sebagai koordinator dan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan jamu dan obat yang berlangsung di

18

a. Mengatur dan bertanggung jawab penuh terhadap masalah proses limbah produksi baik limbah cair maupun limbah padat. b. Melakukan evaluasi dan estimasi terhadap proses yagn berlangsung dan melakukan langkah-langkah pengembangan yang lebih baik dan ekonomis.
c. Melakukan pengoperasian pendistribusian sistem utilitas yang menjadi sarana

pendukung proses limbah seperti pengaturan air, steam, tekanan udara, cooling tower dan lain sebagainya. 6. Manajer Teknik, bertanggung jawab untuk memimpin departemen teknik yang berkaitan dengan kerusakan dan perbaikanlistrik, mesin dan kelengkapannya. 7. Manajer Budidaya Pertanian, bertanggung jawab dalam pembudidayaan dan pelestarian tanaman obat selain itu juga bertanggung jawab untuk melakukan berbagai macam penelitian dan percobaan tanaman. 8. Manajer Umum, bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan yang mendukung produksi seperti penyediaan tenaga kerja, menyediakan sarana dan prasarana, juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi kegiatan manajerial. 9. Manajer Keuangan, bertanggung jawab dalam merinci dan memberikan laporan keuangan yang sifatnya khusus. 10. Manajer Akuntansi, bertanggung jawab untuk perician dan pemberian laporan keuangan yang sifatnya umum. 11. Manajer Pembelian, bertanggung jawab terhadap pembelian barang-barang untuk kepentingan produksi. E. Sumber Daya Manusia Sampai saat ini jumlah total staff dan karyawan yang bekerja di PT Sido Muncul adalah 2200 orang yang terdiri dari 900 pekerja di Lingkungan Industri Kecil Kaligawe dan 1300 pekerja di Pabrik Klepu. Bidang pendidikan karyawan meliputi Ekonomi, Hukum, Psikologi, Peternakan, Kimia, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, Teknik Elektro, Kedokteran Hewan, Biologi, Pertanian, Farmasi, Teknologi Pangan dan lain lain. Untuk mengembangkan kemampuan, pada waktu-waktu tertentu kepada karyawan diberikan kesempatan mengikuti training kursus maupun seminar. Untuk mendukung penelitian dan pengembangan, PT Sido Muncul juga merekrut konsultan yang ahli di bidangnya, misalnya : apoteker, dokter, dokter gigi dan dokter spesialis. Untuk mengembangkan kemampuan serta pengetahuan tenaga kerjanya, PT Sido Muncul memberikan kesempatan pada karyawannya untuk mengikuti beberapa pelatihan, kursus, dan seminar. Untuk meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan keinginan
19

masyarakat dan kemajuan teknologi, PT Sido Muncul melakukan kerjasama ilmiah dengan institusi dan lembaga-lembaga penelitian seperti : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Universitas Diponegoro, Semarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Obat Tradisional (PPOT) dan Fakultas Fakultas Farmasi, Universitas Widya Mandala, Surabaya Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Lembaga Penelitian dan Fakultas Farmasi, Institut Teknologi Bandung Balai Penelitian Tanaman Obat, Departemen Kesehatan, Tawangmangu Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, Bogor Institut Pertanian Bogor, Bogor

Farmasi, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta

Di samping beberapa lembaga yang telah disebutkan di atas, PT .Sido Muncul tetap membuka diri untuk kerjasama dengan lembaga manapun. Melalui serangkaian kerjasama ilmiah tersebut PT Sido Muncul berusaha menghasilkan produk yang teruji dan dapat dipertanggung jawabkan khasiatnya secara ilimiah. Karyawan bulanan bekerja dari pukul 08.00 hingga 16.00 dengan waktu istirahat antara pukul 12.00 sampai 12.30. Karyawan mingguan dibagi menjadi dua shift; shift pertama mulai pukul 07.00 hingga 14.30 dan shift kedua mulai pukul 15.00 hingga 22.00. Jam lembur akan diberlakukan apabila seorang karyawan masih bekerja di luar jam kerja yang ditetapkan. Segenap staff dan karyawan mendapatkan hak untuk memperoleh kesejahteraan yang diberikan oleh PT Sido Muncul yaitu pengupahan, pengobatan, Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK), Tunjangan Hari Raya (THR), cuti haid, cuti hamil, cuti tahunan, bantuan melahirkan, bantuan kacamata, bantuan menikahkan dan mengkhitankan anak yang sah, bantuan pengobatan bagi keluarga karyawan, sumbangan uang duka bagi keluarga karyawan, program rekreasi dan sarana transportasi. Penggolongan karyawan di PT Sido Muncul terdiri atas karyawan tetap dan karyawan kontrak. Karyawan tetap terdiri atas karyawan bulanan dan mingguan. Karyawan bulanan yaitu karyawan dengan sistem penggajian yang diberikan setiap bulan (satu bulan sekali). Karyawan bulanan umumnya karyawan bagian kantor atau administrasi. Karyawan mingguan yaitu karyawan yang penggajiannya satu minggu sekali tiap Jumat. Karyawan mingguan umumnya bertugas di bagian produksi. Sedangkan karyawan kontrak adalah karyawan yang mempunyai masa kontrak yang tidak tetap atau dikontrak bila ada proyek atau adanya peluncuran produk baru. Karyawan kontrak mendapatkan gaji secara harian serta tidak memiliki ijin untuk cuti.
20

III.2. Pemasaran Produk Pemasaran produk PT Sido Muncul mencakup seluruh Indonesia melalui saluran distribusi PT Muncul Mekar yang mana merupakan anak perusahaan PT Sido Muncul, produkproduk tersebut kemudian disalurkan ke subpemasaran, kemudian ke distributor, grosir, toko, dan terakhir konsumen. PT Muncul Mekar memiliki perwakilan di beberapa kota besar seperti Semarang, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota lainnya. Pemasaran produk juga didukung oleh tim marketing yang solid, serta iklan melalui media cetak maupun elektronik. Selain dipasarkan di dalam negeri, produk PT Sido Muncul juga mulai diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Cina, Jepang, Rusia dan Arab Saudi.

III.3. Produk yang Dihasilkan PT Sido Muncul memproduksi 3 jenis produk yang dibedakan menjadi jamu, minuman, dan permen. Jenis produk jamu dan minuman dibedakan menurut bentuknya yaitu jamu serbuk, jamu pil, jamu kaplet, jamu cair, minuman serbuk, serta minuman cair. Jenis-jenis dan merek produk dapat dilihat pada Tabel 1. Beberapa jenis produk PT Sido Muncul dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Produk PT Sido Muncul yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia

Tabel 1. Produk dan Brand yang dihasilkan oleh PT Sido Muncul


Produk Jamu tradisional (serbuk, pil) Merek Bancar Darah, Batuk, Bersalin, Bersih Darah, Cabe Puyung, Cuci Perut, Demam Malaria, Encok, Galian Delima Putih, Galian Montok, Galian Param, Galian Putri, Galian Rapat Wangi, Galian Singset, Gatal Gudik, Gemuk Sehat, Hamil Muda, Hamil Tua, Influensa, Jampi Usus, Jerawat, Kencing Batu, Klingsir, Kolesom, Melen, Mens Kapsul, Nifas, Olah Raga, PaTani Kuat, 21

Produk

Merek Param Tahun, Pasutri, Pegal Linu, Pegal Linu Gingseng, Penenang, Perokok, Pewangi Bulan, Pria Perkasa, Sakit Kencing, Sakit Perut, Sakit Pinggang, Sambang, Sari Turas (kencing manis), Sariawan, Sehat Pria, Sehat Wanita, Segar Bugar, Sekalor, Selokarang Sekalor, Tensi (darah tinggi), Terlambat Bulan, Tujuh Angin, Ulu Hati (maag), Tujuh Angin Kuku Bima Komplit, Sakit Pinggang, Komplit, Pegal Linu Komplit, Sehat Wanita Komplit Tolak Angin Serbuk, Tolak Angin Cair, Tolak Angin Ekstra Hangat Kaplet Permen Tolak Angin, Permen Kunyit Asam, Permen Jahe Wangi Kuku Bima Serbuk, Kuku Bima Gingseng Serbuk, Kuku Bima TL Serbuk, Kuku Bima TL Kapsul, Kuku Bima TL Cair, Kuku Bima TL + Tribulus Serbuk, Kuku Bima TL + Tribulus Kapsul, Kuku Bima TL + Tribulus Cair Galian Putri Instan, Pegelinu Instan, Pelangsing Perut Instan, Sehat Pria Instan, Sehat Wanita Instan, Kuku Bima Gingseng Instan, Kuku Bima TL + Tribulus Instan JKI Kuku Bima Gingseng, JKI Kuku Bima TL + Tribulus, JKI Pegelinu, JKI Sehat Pria Sehat Bersalin 40 Hari Alang Sari Original, Alang Sari plus Fiber, Kunyit Asam, Kunyit Asam Sirih, Anak Sehat Aneka Rasa, Jahe Wangi, Este-Emje Aneka Rasa Filantra Tea, Ginger Milk, Ginger Tea, Alang Tea, V-Talytea, Turmerric Plus, Red Gingseng Tea

Jamu Serbuk Komplit Tolak Angin Permen Kuku Bima Tradisional Jamu Instan

Jamu Komplit Instan (JKI) Jamu Bersalin Minuman Kesehatan Minuman Eksport

III.4. Bahan Baku Produk PT Sido Muncul memproduksi jamu dan minuman yang diambil dari bahan baku alami. Jumlah bahan baku pada perusahaan ini sekitar 180 bahan alami yang dikelompokan menurut morfologinya. Tabel 2. Pengelompokan Bahan Baku Alami pada PT Sido Muncul
Bentuk Rimpang Buah Biji Daun Akar Kulit Cair Bahan Baku Kunyit, Kencur, Jahe, Laos, Temulawak, Temu Hitam, Temu Giring, Rumput Teki, dan Kunci Pepet Pala, Asam Jawa Merica Hitam, Merica Bolong, Ketumbar, dan Biji Gasomsi Daun Kepel, Daun Salam, Serai, Daun Cengkeh, Daun Asam, Daun Teh Hijau, Daun Keji Beling, Daun Tapak Liman, Daun Sirih, Daun Jati Belanda, Daun Curahap Akar Pasak Bumi, Gingseng, Purwoceng Kulit Kayu Cendana, Kulit Kayu Cina, Kulit Kayu Manis Madu Murni, Minyak Kelapa, dan Minyak Adas

III.5. Kapasitas Produksi


22

Kapasitas produksi perusahaan bergantung pada permintaan konsumen, jika permintaan meningkat maka dilakukan produksi dalam skala besar dan sebaliknya jika permintaan menurun. Namun, perusahaan ini tidak pernah menghentikan proses produksi karena hampir setiap hari terdapat permintaan dari konsumen walaupun dalam jumlah yang kecil. Kapasitas produksi dalam gram tiap jenis produk pun berbeda tergantung pada ukuran sachet tiap produk. Namun, secara keseluruhan PT Sido Muncul menghasilkan sekitar 8000 sachet per produk yang dipesan per hari terlebih untuk produk unggulan seperti jamu Tolak Angin dan Kuku Bima. III.6. Penanganan dan Pemrosesan Bahan Baku
A. Penanganan Bahan Baku

Secara umum, bahan baku yang digunakan oleh PT Sido Muncul pada pembuatan produk-produknya membutuhkan suatu bahan penting yang disebut simplisia. Simplisia merupakan bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun. Simplisia dibedakan dalam 2 bentuk yaitu simplisia nabati kering dan basah. Simplisia basah merupakan bagian-bagian tanaman obat yang belum mengalami pengolahan apapun, sedangkan simplisia kering merupakan bagian-bagian tanaman obat yang telah mengalami proses pengeringan. Jenis bahan baku yang digunakan tergantung dari khasiatnya masingmasing, dimana bisa berupa batang, rimpang, daun, akar, maupun buahnya. Untuk memperoleh bahan baku yang baik, PT Sido Muncul melakukan berbagai usaha yaitu dengan membudidayakan bahan tanaman tertentu. Budidaya tanaman dilakukan dengan cara membuka kebun budidaya tanaman obat dan bekerja sama dengan petani yang dibina oleh pihak PT Sido Muncul.Hasil yang diperoleh dari kedua upaya di atas dapat member sumbangan 10% terhadap keperluan bahan baku di bagian produksi. Bahan baku lainnya masih dipasok dari daerah Blitar, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur serta dari luar negeri seperti gingseng, ginkobiloba, Echinaceae, Ganorderma, dan lainnya. PT Sido Muncul memiliki standar penerimaan dan penggunaan bahan baku alami untuk meminimalisir kehilangan (losses) dalam proses dan meningkatkan efisiensi perusahaan. Sebagai acuan standar tanaman obat PT Sido Muncul menggunakan Farmakope dan Materi Medika Indonesia (MMI), sedangkan acuan bahan baku lain seperti gula, pemanis, perasa, dan pewarna digunakan SNI dan Codex Alimentarius. Dari keseluruhan bahan baku (180 jenis), tidak semua tanaman obat memiliki standarnya masing-masing, oleh karena itu PT Sido Muncul membuat standar sendiri sehingga memudahkan proses produksi selanjutnya. Standar
23

perusahaan diambil dari referensi penelitian tentang tanaman obat dari dalam dan luar negeri serta penelitian langsung yang dilakukan oleh tim peneliti PT Sido Muncul. Standarisasi bahan baku yang ditetapkan untuk industri jamu berbeda dengan standarisasi bahan baku untuk industri farmasi. Walaupun spesies dan jenis tumbuhan bahan baku sama, standarisasi bahan baku penting dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kualitas bahan baku yang berbeda-beda sesuai dengan musim, cuaca, dan asal tumbuhnya. Tiga standarisasi penerimaan bahan baku antara lain: 1. Kebenaran Bahan Bahan yang masuk dalam gudang bahan baku PT Sido Muncul harus diperiksa kebenarannya. Hal ini sangat penting dalam proses pengolahan karena bahan-bahan dari industri ini yang sangat beragam dan memungkinkan adanya kesalahan dalam penerimaan serta distribusi bahan baku dari supplier. Kelangkaan bahan baku dapat terjadi karena musim dan iklim yang berubah. Hal ini akan menyebabkan bahan baku sulit didapat sehingga kemungkinan pemalsuan bahan akan lebih tinggi. Oleh karena itu PT Sido Muncul menerapkan sistem kepercayaan pada supplier dan petani yang memasok barang ke perusahaan sehingga pemasok akan mempunyai tanggung jawab besar pada perusahaan tentang kebenaran bahan. Umumnya, perusahaan akan mendatangi pemasok bahan baku dan memberikan penjelasan tentang varietas yang diinginkan oleh perusahaan sehingga khasiat dan zat aktif didalamnya sesuai dengan keinginan perusahaan. Untuk membuktikan kebenaran bahan, dapat dilakukan dengan pengujian secara organoleptik (melihat kenampakan fisik bahan) dan juga melalui laboratorium Quality Control (pengujian kimia). 2. Kadar Air Bahan Bahan baku yang diterima oleh PT Sido Muncul disimpan dalam gudang dan harus dalam bentuk yang kering. Hal ini bertujuan untuk menjaga bahan baku dari kerusakan karena bahan baku tidak langsung diolah. Bahan baku yang diinginkan harus dalam keadaan siap stok sehingga dapat memenuhi permintaan. Oleh karena itu bahan baku harus siap untuk disimpan dalam waktu yang lama. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan mikrobiologis bahan, maka perusahaan membuat standarisasi simplisia kering yaitu dengan kadar air maksimal 10%. Namun, hal ini bukan berarti PT Sido Muncul tidak menerima bahan baku segar. Bahan baku segar seperti rimpang Jahe dan Kunyit tidak melalui proses penyimpanan. Bahan baku ini dipasok dan diolah setiap hari karena permintaannya yang tinggi. 3. Kebersihan Bahan
24

Bahan baku yang diterima dan diolah oleh PT Sidomucul harus dalam keadaan bersih. Keadaan ini meliputi kebersihan bahan baku secara fisik (tanah, debu, pasir) dan mikrobiologi (bebas dari bakteri pathogen). Hal ini sangat penting mengingat keberadaan kontaminan yang sangat berpengaruh pada pengolahan selanjutnya. Standar yang digunakan oleh perusahaan untuk bahan baku adalah standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan pengecekan selalu dilakukan oleh bagian Quality Control. Proses penyimpanan dan penggunaan bahan baku dilakukan dengan prinsip First In First Out (FIFO) yaitu bahan baku yang lebih dulu diterima diproses lebih awal. Setelah penyimpanan yang panjang PT Sido Muncul selalu melakukan pengujian pada bagian Quality Control. Bahan baku yang diproses adalah bahan baku yang telah lolos dari proses pengecekan QC. Pengujian yang dilakukan PT Sido Muncul adalah pengujian kadar air, kekerasan, analisa keseragaman berat, analisa keseragaman volume, waktu hancur, dan analisa mikrobiologi. Sebelum proses peracikan, bahan baku harus diproses terlebih dahulu agar lebih mudah dimixing. Oleh karena itu, gudang bahan baku juga didampingi oleh gudang pengolahan bahan Pencampuran dalam batch (peracikan) baku yang memproses bahan baku sebelum diracik. Proses ini untuk mengolah bahan baku yang telah disimpan dan untuk memastikan keberadaan bahan baku yang pantas diolah. Proses Giling kasar ini meliputi sortasi, pencucian, dan pengeringan. Proses sortasi bertujuan untuk menghilangkan Proses ekstraksi atau memisahkan bahan pengotor maupun bahan-bahan asing yang terdapat diantara bahan baku tersebut sehingga dapat diperoleh bahan baku yang sesuai dengan kualifikasi proses Proses evaporasi selanjutnya. Sedangkan proses pencucian dilakukan dengan penyemprotan dan perendaman Ekstrak kental untuk menghilangkan debu, tanah, dan kotoran lain yang masih tertinggal dan menempel pada simplisia sehingga dapat mereduksi jumlah mikroba pathogen yang berpotensi menyebabkan kebusukan. Proses pengeringan bertujuan untuk memudahkan proses penggilingan. Pembuatan produk Pemrosesan Bahan Baku Menjadi Produk Jadi Proses pengecekan oleh bagian QC dilakukan diberbagai proses produksi. Proses Pencampuran ekstrak & bahan pengering produksi setelah bahan baku diolah secara umum dapat dilihat pada Gambar 4. Pengeringan Pencampuran dengan bahan tambahan makanan Packing primer Packing sekunder
25

Produk Jadi Penyimpanan

Gambar 4 . Diagram Alur Produksi Minuman Serbuk PT Sido Muncul Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat alur proses produksi secara umum dari PT Sido Muncul dengan tahapan sebagai berikut: a. Peracikan Peracikan dilakukan dalam suatu gudang yang dibatasi untuk karyawan tertentu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan produk. Peracikan dilakukan dengan menimbang bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan formulasinya masing-masing. b. Penggilingan Proses ini dilakukan untuk memperbesar luas permukaan simplisia dengan menggunakan mesin penggiling. Simplisia yang telah digiling ditempatkan pada wadah besar untuk proses ekstraksi. c. Ekstraksi Ekstraksi dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan ethanol dan pengepresan air bersih. Ekstraksi dengan etanol dilakukan untuk melarutkan zat aktif yang terkandung didalam bahan baku kering. Sedangkan ekstraksi dengan pengepresan dilakukan untuk melarutkan
26

rasa, warna, dan mengeluarkan seluruh kandungan air yang terdapat dalam simplisia sehingga didapatkan sari murni. Pengepresan dilakukan dengan menggunakan tekanan. d. Evaporasi Proses ini dilakukan untuk menguapkan air dari ekstrak, sehingga didapatkan ekstrak kental yang merupakan sari murni dari bahan baku. Hasil dari proses ini adalah ekstrak kental. e. Pembuatan Produk Pembuatan produk dapat dilakukan dengan berbagai macam proses tergantung pada hasil akhir yang diinginkan. Proses ini dapat berupa penggilingan untuk pembuatan produk, pemadatan pada cetakan untuk pembuatan kaplet, dan sebagainya. f. Pencampuran Ekstrak dengan Bahan Pengering dan Bahan Tambahan Makanan Proses pencampuran bahan pada umumnya sama. Bahan yang telah diformulasikan dicampur dengan mixer sehingga didapatkan campuran bahan yang homogen. g. Pengeringan Pengeringan dilakukan untuk mendapatkan kadar air standar yang diinginkan sebelum proses pengemasan. Hal ini dilakukan untuk memperpanjang proses penyimpanan dari produk.
h. Packing Primer dan Sekunder

Kemasan primer pada produk PT Sido Muncul umumnya terbuat dari bahan metalized dan dikemas menggunakan automatic packaging machine vertical. Kemasan primer yang digunakan dalam bentuk sachet dan setiap sachet nya terdapat cap expired date. Setelah tahapan pengemasan primer selesai, diambil beberapa sampel oleh bagian laboratorium QC untuk dilakukan pemeriksaan mutu (kadar air, mikrobiologis, dan organoleptik). Setelah mendapatkan pengesahan dari laboratorium QC, dilakukan pengemasan sekunder dengan menggunakan karton kotak. Setelah itu, dilakukan laminasi dengan plastic menggunakan mesin shrinking. i. Produk Jadi dan Penyimpanan Produk jadi yang disimpan dalam gudang penyimpanan akan keluar dari gudang untuk beredar di pasaran setelah ada permintaan dari divisi marketing perusahaan, namun sebelumnya harus dilakukan tahap penimbangan untuk mengetahui terjadinya kekurangan isi dalam dos maupun kesalahan pengisian produk dalam dos. Selain itu juga dilakukan pencatatan tanggal kadaluarsa dari produk yang akan dipasarkan oleh bagian dokumentasi. III.7. Sanitasi Sebagai perusahaan yang unggul, PT Sido Muncul sangat mengutamakan produk yang aman dengan memperhatikan kebersihan serta sanitasi perusahaan. PT Sido Muncul melakukan
27

pembersihan secara berkala baik pada gudang penyimpanan bahan baku dan pada area lain yang berkaitan dengan produksi.

28

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan


1. Bahan baku merupakan salah satu dari enam elemen dasar dasar pembentuk

kewirausahaan, yaitu Men (Sumber Daya Manusia), Material (Bahan Baku), Money (Sumber Daya Modal), Machine (Mesin dan Peralatan Produksi), Methode (Cara Kerja), serta Market (Pasar). Tanpa bahan baku, suatu industri tidak dapat berjalan. Hal inilah yang menyebabkan ketersediaan bahan baku pada tingkat kuantitas, kualitas, waktu dan tempat, serta tingkat harga yang tepat merupakan kunci penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri. 2. Pemilihan bahan baku dan penanganannya sebelum maupun selama proses produksi sangat penting untuk selalu dikontrol agar faktor penyebab kerusakan bahan baku yang dapat menyebabkan penurunan kualitas produk dapat diminimalisir. Pengetahuan tentang karakteristik bahan baku dalam hal ini sangat penting dalam penanganan bahan baku. 3. PT Sido Muncul telah menerapkan sistem penerimaan dan penanganan bahan baku secara baik untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi yang mampu bersaing secara global.
4. PT Sido Muncul dalam hal ini juga telah memperhitungkan faktor kontinuitas ketersediaan

bahan baku melalui penerapan Supply Chain Management. B. Saran


1. Perlu diterapkannya manajemen dan penanganan yang baik tidak hanya dalam

faktor bahan baku, namun juga pada kelima elemen lain, yaitu Methode (Cara Kerja), serta Market (Pasar).

Men (Sumber Daya

Manusia), Money (Sumber Daya Modal), Machine (Mesin dan Peralatan Produksi),

2. Terdapat dua faktor lain yang perlu dilakukan selain 6 M, yaitu faktor persaingan dan

kepemimpinan sehingga keberhasilan usaha dan daya saing di masa depan dapat diraih.

29

DAFTAR PUSTAKA

Achun.

2008.

Manajemen

Persedisaan

dan

Produksi.

(http://www.dataon.com/library/files/Persediaan.htm, diakses 15 Mei 2012). Baroto, Teguh. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Ghalia Indonesia. Jakarta Bintari, Anwar. 1993. Ringkasan Ekonomi program A3. Bandung: Graneca Exact Gunawan, D. dan S. Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1. Penebar Swadaya. Jakarta. 140 hlm. Gilarso, T. 1992. Pengertian Dasar Ekonomi, Yogyakarta: Kanisius Handoko, T. H. 1999. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Oprasi cetakan keduabelas. Yogyakarta: BPFE Harjanto, E. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi kedua cetakan keempat. Jakarta: PT Grasindo. Hadi, Mustofa. Manajemen Material. http://markbiz.files.wordpress.com/2008 /06/ manajemen-material-persediaan.pdf. Diakses pada tanggal 8 mei 2012 Russell, Roberta S, dan Bernard W. Taylor. (2000). Operations Management. Prentice Hall S. Chopra & P. Meindl. Supply Chain Management: Strategy. Planning, and Operation. Prentice Hall. 2001. Tersine, R.J., 1998. Principles of Inventory and Materials Management. North Holland. New York. Supriadi. 2001. Tumbuhan Obat Indonesia: Penggunaan dan Khasiatnya. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta http://www.scribd.com/doc/59288909/40/Struktur-Organisasi-PT-Sido-Muncul http://www.scribd.com/doc/59288909/7/Produk-yang-Dihasilkan http://usahasuksesmandiri.blogspot.com/2011/09/profil-sejarah-pt-sido-muncul.html
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12462/A05hel.pdf? sequence=1

30