Anda di halaman 1dari 16

PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL (Test Urea dengan Metode Kinetika Enzimatis)

I.

Tujuan Percobaan Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat: 1. Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal denga test urea secara kinetika enzimatis 2. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II.

Prinsip Percobaan Reaksi enzimatis


urease

Urea + H2O

2NH3 + CO2
GLDH

NH3 + -KG + NADH

L-glutamat + NAD

III.

Teori Dasar
Anatomi Ginjal Ginjal merupakan organ ganda yang terletak di daerah abdomen, retroperitoneal antara vetebra lumbal 1 dan 4. pada neonatus kadang-kadang dapat diraba. Ginjal terdiri dari korteks dan medula. Tiap ginjal terdiri dari 8-12 lobus yang berbentuk piramid. Dasar piramid terletak di korteks dan puncaknya yang disebut papilla bermuara di kaliks minor. Pada daerah korteks terdaat glomerulus, tubulus kontortus proksimal dan distal (Price, 1995). Panjang dan beratnya bervariasi yaitu 6 cm dan 24 gram pada bayi lahir cukup bulan, sampai 12 cm atau lebih dari 150 gram. Pada janin permukaan ginjal tidak rata, berlobus-lobus yang kemudian akan menghilang dengan bertambahnya umur. Tiap ginjal mengandung 1 juta nefron. Pada manusia, pembentukan nefron selesai pada janin 35 minggu. Nefron baru tidak dibentuk lagi setelah lahir. Perkembangan selanjutnya adalah hipertrofi dan hiperplasia struktur yang sudah ada disertai maturasi fungsional. Tiap nefron terdiri dari glomerulus dan kapsula

bowman, tubulus proksimal, anse henle dan tubulus distal. Glomerulus bersama denga kapsula bowman juga disebut badan maplphigi. Meskipun ultrafiltrasi plasma terjadi di glomerulus tetapi peranan tubulus dala pembentukan urine tidak kalah pentingnya (Price, 1995).

Fungsi Ginjal Fungsi dasar nefron adalah membersihkan atau menjernihkan plasma darah dan substansi yang tidak diperlukan tubuh sewaktu darah melalui ginjal. Substansi yang paling penting untuk dibersihkan adalah hasil akhir metabolisme seperti urea, kreatinin, asam urat dan lain-lain. Selain itu ion-ion natrium, kalium, klorida dan hidrogen yang cenderung untuk berakumulasi dalam tubuh secara berlebihan (Nelson, 2000). Mekanisme kerja utama nefron dalam membersihkan substansi yang tidak diperlukan dalam tubuh adalah : Nefron menyaring sebagian besar plasma di dalam glomerulus yang akan menghasilkan cairan filtrasi. Jika cairan filtrasi ini mengalir melalui tubulus, substansi yang tidak diperlukan tidak akan direabsorpsi sedangkan substansi yang diperlukan direabsorpsi kembali ke dalam plasma dan kapiler peritubulus. Mekanisme kerja nefron yang lain dalam membersihkan plasma dan substansi yang tidak diperlukan tubuh adalah sekresi. Substansi-substansi yang tidak diperlukan tubuh akan disekresi dan plasma langsung melewati sel-sel epitel yang melapisi tubulus ke dalam cairan tubulus. Jadi urine yang akhirnya terbentuk terdiri dari bagian utama berupa substansi-substansi yang difiltrasi dan juga sebagian kecil substansi-substansi yang disekresi (Nelson, 2000).

Definisi Ureum Ureum adalah suatu molekul kecil yang mudah mendifusi ke dalam cairan ekstrasel, tetapi pada akhirnya dipekatkan dalm urin dan diekskresikan. Jika keseimbangan nitrogen dalam keadaan mantap ekskresi ureum kira-kira 25 mg per hari (Widman K, 1995), ureum merupakan produk akhir dari metabolism

nitrogen yang penting pada manusia, yang disintesis dari ammonia, karbon dioksida dan nitrogen amida aspartat (Murray dkk., 1999). Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum (Dyan, 2005).

Rumus Ureum Rumus bangun ureum

Rumus molekul ureum adalah CO(NH2)2, dengan berat molekul 60. (Bishop, L. Michael, dkk., 2000)

Ginjal merupakan salah satu organ yang penting bagi makhluk hidup. Ginjal memiliki berbagai fungsi seperti pengaturan keseimbangan air dan elektrolit, pengaturan konsentrasi osmolalitas cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit, pengaturan keseimbangan asam-basa, ekskresi sisa metabolisme dan bahan kimia asing; pengatur tekanan arteri, sekresi hormon, dan glukoneogenesis. Jika ginjal dibagi dua dari atas ke bawah, akan terlihat dua bagian utama yaitu korteks di bagian luar dan medulla di bagian dalam. Unit terkecil dari ginjal adalah nefron. Ginjal tidak dapat membentuk nefron baru sehingga apabila terjadi trauma pada ginjal, penyakit ginjal, atau terjadi penuaan normal, akan terjadi penurunan jumlah nefron secara bertahap (Guyton, 2006).

Setiap nefron mempunyai dua komponen utama yaitu bagian glomerulus yang dilalui sejumlah besar cairan yang difiltrasi dari darah dan bagian tubulus yang panjang di mana cairan hasil filtrasi diubah menjadi urin dalam perjalanannya menuju pelvis. Glomerulus tersusun dari suatu jaringan kapiler glomerulus yang bercabang dan beranastomosa yang memiliki tekanan hidrostatik lebih tinggi dibandingkan jaringan kapiler lainnya. Kapiler glomerulus dilapisi oleh sel-sel epitel dan dibungkus dalam kapsula Bowman. Cairan yang difiltrasi dari kapiler glomerulus mengalir ke dalam kapsula Bowman dan kemudian masuk ke tubulus proksimal, yang terletak pada korteks ginjal. Dari tubulus proksimal, cairan mengalir ke ansa Henle yang masuk ke dalam medulla renalis. Setiap lengkung terdiri atas cabang desenden dan asenden. Dinding cabang desenden sampai ujung cabang asenden merupakan bagian ansa Henle yang paling tipis. Pada perjalanan kembali ke cabang asenden, dinding akan kembali menebal seperti bagian lain dari sistem tubular sehingga bagian cabang asenden merupakan bagian yang paling tebal dari ansa Henle. Dari ansa helen, cairan akan menuju ke makula densa dan kemudian ke tubulus distal. Selanjutnya cairan akan menuju ke tubulus rektus, tubulus kolingentes, dan berakhir di papilla renal. Setiap ginjal mempunyai sekitar 250 duktus kolingentes yang sangat besar dan masing-masingnya mengumpulkan urin dari kira-kira 4.000 nefron (Guyton, 2006).

Metabolisme ureum Gugusan amino dilepas dari asam amino bila asam amino ini didaur ulang menjadi sebagian dari protein atau dirombak dan dikeluarkan dari tubuh, aminotransferase yang ada di berbagai jaringan mengkatalisis pertukaran gugusan amino antara senyawa-senyawa yang ikut serta dalam reaksi-reaksi sintetsis. Deaminasi oksidatif memisahkan gugusan amino dari molekul aslinya dan gugusan amino yang dilepaskan itu diubah menjadi ammonia. Amonia diangkut ke hati dan diubah menjadi reaksi-reaksi bersambung. Hampir seluruh urea dibentuk di dalm hati, dari katabolisme asam-asam amino dan merupakan produk

ekskresi metabolisme protein yang utama. Konsetrasi urea dalam plasma darah terutama menggambarkan keseimbangan antara pembentukkan urea dan katabolisme protein serta ekskresi urea oleh ginjal : sejumlah urea dimetabolisme lebih lanjut dan sejumlah kecil hilang dalam keringat dan feses (Baron D. N, 1995).

Tinjauan Klinis Urea Plasma yang tinggi (Azotemia) Urea plasma yang tinggi merupakan salah satu gambaran abnormal yang utama dan penyebabnya diklasifikasikan sebagai berikut : a. Peningkatan katabolisme protein jaringan disertai dengan keseimbangan nitrogen yang negative. Misalnya terjadi demam, penyakit yang menyebabkan atrofi, tirotoksikosis, koma diasbetika atau setelah trauma ataupun operasi besar. Karena sering kasus peningkatan katabolisme protein kecil, dan tidak ada kerusakan ginjal primer atau sekunder, maka ekskresi ke urin akan membuang kelebihan urea dan tidak ada keanikan bermakna dalam urea plasma. b. Pemecahan protein darah yang berlebihan Pada leukemia, pelepasan protein leukosit menyokong urea plasma yang tinggi. c. Pengurangan ekskresi urea Merupakan penyebab utama dan terpenting bias prerenal, renal atau postrenal. Penurunan tekanan darah perifer adatau bendungan vena atau volume plasma yang rendah dan hemokonsentrasi, mengurangi aliran plasma ginjal. Filtrasi glomelurus untuk urea turun dan terdapat peningkatan urea plasma, pada kasus yang ringan, bila tidak ada kerusakan struktur ginjal yang permanen, maka urea plasma akan kemabli normal bila keadaan prerenal dipulihkan ke yang normal. d. Penyakit ginjal yang disertai dengan penurunan laju filtrasi glomelururs yang menyebabkan urea plasma menjadi tinggi e. Obstruksi saluran keluar urin menyebabkan urea plasma menjadi tinggi.

Urea plasma yang rendah (Uremia) Uremia kadang-kadang terlihat pada kehamilan, bias karena peningkatan filtrasi glomelurus, diversi nitrogen ke foetus atau karena retensi air. Pada nekrosis hepatic akuta, sering urea plasma rendah karena asam-asam amino tak dimetabolisme lebih lanjut. Pada sirosis hepatis, urea plasma yang rendah sebagian disebabkan oleh kecepatan anabolisme protein yang tinggi, bias timbul selama pengobatan dengan androgen yang intensif, juga pada malnutrisi protein jangka panjang (Baron D. N, 1995). Ureum digunakan untuk menentukan tingkat keparahan status

azotemia/uremia pasien, menentukan hemodialisis (BUN serum . 40 mmol/l atau lebih dari 120 mg). Hemodialisis tidak adekuat apabila rasio reduksi ureum ,65%. Reduksi ureum yang tidak adekuat tersebut meningkatkan angka mortalitas pasien hemodialisa. Penurunan BUN (,50 ml/dl predialisis tidak menunjukkan dialysis yang baik, tetapi justru adanya malnutrisi dan penurunan massa otot karena dialysis inadekuat (Nyoman Suci W., 2003).

Metode pemeriksaan Ureum Kadar ureum dalam serum/ plasma mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi. Metode penetapan adalah dengan mengukur nitrogen, di Amerika Serikat hasil penetapan disebut sebagai nitrogen ureum dalam darah (Blood Urea Nitrogen, BUN). Dalam serum normal konsentrasi BUN adalah 8-25 mg/dl, dan kadar ureum dalam serum normal adalah 10-50 mg/dl. Nitrogen menyusun 28/60 bagian dari berat ureum, karena itu konsentrasi ureum dapat dihitung dari BUN dengan menggunakan factor perkalian 2,14 (Widman, Frances, K., 1995). Faktor perkalian 2,14 berasal dari:

(Bishop, L. Michael, dkk., 2000).

Pemeriksaan kadar ureum dapat dilakukan dengan metode kolorimetri dan Uv auto Fat-rate. 1. Calorimetri Prinsip pemeriksaan ureum dengan metode colorimetric adalah urea dihidrolisis oleh urease menjadi ammonia dan karbon dioksida. Kemudian ammonia beraksi dengan alkalin hipoklorit dan sodium salisilat dengan adanya sodium nitropusid membentuk warna komplek berwarna hijau, intensitas warna yang terbentuk sebanding dengan kadar ureum dalam sampel, dan dibaca pada photometer DTN 410 dengan 550 nm. 2. UV Auto Fast Rate Prinsip pemeriksaan ureum metode UV auto fast-rate adalah urea ditambah air dengan adanya urease membentuk 2 amonium dan 2 HCO3, kemudian ammonium beraksi dengan 2 Oxoglutarate dan NADH dengan GLDH menjadi L-glutamate dan NAD+ serta air, perjalanan reaksi konstan selama 60 detik, peningkatan absorban dari GLDH sebanding dengan kadar Urea dalam sampel, dan dibaca pada photometer DTN 410 dengan 340 nm.

Gagal Ginjal Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine. Penyakit gagal ginjal ini dapat menyerang siapa saja yang menderita penyakit serius atau terluka dimana hal itu berdampak langsung pada ginjal itu sendiri. Penyakit gagal ginjal lebih sering dialamai mereka yang berusia dewasa, terlebih pada kaum lanjut usia (Dyan, 2005).

Penyebab Gagal Ginjal Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang di dedrita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Adapun beberapa penyakit yang sering kali berdampak kerusakan ginjal diantaranya : Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension) Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus) Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu, tumor, penyempitan/striktur) Kelainan autoimun, misalnya lupus eritematosus sistemik Menderita penyakit kanker (cancer) Kelainan ginjal, dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri (polycystic kidney disease) Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi atau dampak dari penyakit darah tinggi. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis (Dyan, 2005).

IV.

Alat dan Bahan Alat 1. Kuvet 2. Pipet Piston 3. Spektrofotometer UV 4. Stopwatch Bahan 1. Aqua destilata 2. Reagen 1 3. Reagen 2 4. Sampel

V.

Prosedur Dibuat 3 macam campuran yaitu campuran pertama hanya blanko, campuran kedua hanya reagen1 dengan reagen2, dan yang terakhir adalah campuran sampel dan reagen. Untuk pembuatan blanko, aquadest dimasukan kedalam kuvet. Untuk pembuatan standar, masukan reagen 1 ke dalam kuvet, lalu diinkubasikan 5 menit. Setelah itu, reagen ke2 dimasukan kedalam kuvet yang sama. Untuk pembuatan larutan sampel, pertama adalah sampel dipipet sebanyak 10 reagen 1 sebanyak 1000 . Kemudian dimasukan juga

ke dalam kuvet. Setalah itu didiamkan selama dan dimasukan

5 menit. Kemudian, reagen ke 2 dipipet sebanyak 250

ke dalam kuvet yang berisi campuran reagen 1 dan reagen 2. Setelah semuanya siap, dilakukan uji absorbansi dengan menggunakan

sepektrofotometer UV. Pertama, larutan blanko dimasukan ke dalam spektro, lalu adsorbansinya diukur. Kemudian, larutan standar dimasukan ke dalam spektro, lalu dihitung juga Adsorbansinya. Kemudian, larutan sampel dimasukan ke dalam spektro, lalu dihitung adsorbansinya. Kemudian ditunggu 1 menit, adsorbansi larutan sampel diukur kembali.

VI.

Data Pengamatan dan Perhitungan A1 0 0,517 0,577 0,512 0,591 A2 0 0,358 0,554 0,452 0,418 A3 0 0,159 0,023 0,02 0,092

Kuvet Blanko Standar Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Urea 1

Urea 2

Urea 3

VII.

Pembahasan Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum. Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati, dari metabolisme protein (asam amino). Urea berdifusi bebas masuk ke dalam cairan intra sel dan ekstrasel. Zat ini dipekatkan dalam urin untuk diekskresikan. Pada keseimbangan nitrogen yang stabil, sekitar 25 gram urea diekskresikan setiap hari. Kadar dalam darah mencerminkan keseimbangan antara produksi dan ekskresi urea. Ureum berasal dari penguraian protein, terutama yang berasal dari makanan. Pada orang sehat yang makanannya banyak mengandung protein, ureum biasanya berada di atas rentang normal. Kadar rendah biasanya tidak dianggap abnormal karena mencerminkan rendahnya protein dalam makanan atau ekspansi volume plasma. Namun, bila kadarnya sangat rendah bisa mengindikasikan penyakit hati berat. Kadar urea bertambah dengan bertambahnya usia, juga walaupun tanpa penyakit ginjal. Kadar ureum (BUN) diukur dengan metode kolorimetri menggunakan fotometer atau analyzer kimiawi. Pengukuran berdasarkan atas reaksi enzimatik dengan diasetil monoksim yang memanfaatkan enzim urease yang sangat spesifik terhadap urea. Konsentrasi urea umumnya dinyatakan sebagai kandungan nitrogen molekul, yaitu nitrogen urea darah (blood urea nitrogen, BUN). Namun di beberapa negara, konsentrasi ureum dinyatakan sebagai berat urea total. Nitrogen menyumbang 28/60 dari

berat total urea, sehingga konsentrasi urea dapat dihitung dengan mengalikan konsentrasi BUN dengan 60/28 atau 2,14. Pada praktikum kali ini, ureum ditentukan kadarnya dengan menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Visible. Instrumen ini

digunakan untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Spektrofotometer merupakan

gabungan dari alat optik dan elektronika serta sifat-sifat kimia fisiknya dimana detektor yang digunakan secara langsung dapat mengukur intensitas dari cahaya yang dipancarkan (It) dan secara tidak lansung cahaya yang diabsorbsi (Ia), jadi tergantung pada spektrum

elektromagnetik yang diabsorb (serap) oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawaan atau warna terbentuk. Adapun matriks yang digunakan adalah plasma urin. Meski ureum terdatat juga dalam bentuk serum, plasma urin dipilih karena ureum terlarut dalam plasma serta supaya terpisah dari senyawa lain sebagai parameter kerusakan ginjal seperti kreatinin. Pemeriksaan kadar ureum dalam darah dapat menjadi acuan untuk mengetahui adanya Gagal ginjal akut (GGA) yaitu suatu sindrom klinis yang ditandai dengan penurunan mendadak (dalam beberapa jam sampai beberapa hari) kecepatan penyaringan ginjal, disertai dengan penumpukan sisa metabolisme ginjal (ureum). Dalam hal ini, dibutuhkan blangko, standar, dan sampel. Blangko yang digunakan berisi 1000L reagen. Blangko selalu dibutuhkan dalam pemeriksaan menggunakan metode instrumentasi, karena metode

instrumentasi merupakan metode komparatif, yaitu dalam pengukurannya membutuhkan pembanding. Dengan blangko yang hanya berisi reagen ini, diharapkan yang akan diukur selanjutnya hanyalah standar dan sampel yang hanya berisi ureum. Pada spektrofotometer UV-Vis double beam,

kita hanya perlu memasukkan blangko pada satu sisi penyimpanan kuvet, kemudian sampel atau standar pada sisi penyimpanan kuvet yang lainnya. Tidak perlu meng-nol-kan instrument, namun hasil pengukuran trigliserida sudah dapat diperoleh. Namun, karena instrumen yang digunakan adalah spektrofotometer UV-Vis single beam, sehingga harus blangko yang lebih dahulu daripada sampel dan standar, untuk meng-nol-kan pembacaan absorbansi pada instrumen. Semua prosedur ini dilakukan pada panjang gelombang 340 nm (Hg 344 nm atau Hg 365 nm). Adapun reagen yang digunakan dalam analisis ureum ini terbagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah tris buffer. Sedangkan yang kedua adalah Urease, GLDH, NADH, Adenosin-5-diphospat dan alfa oxoglutarat. Selain mempertahankan pH, tris buffer berfungsi untuk mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit. Pada pembuatan reagen pertama ini perlu diinkubasi selama 5 menit kemudian dibaca dengan alat spektrofotometer. Sedangkan reagen bagian kedua berisi enzim dan energi yang dibutuhkan untuk reaksi enzimatis penguraian ureum. Reaksi enzimatis ini dapat terjadi di luar tubuh, dengan inkubasi selama 1 menit pada suhu kamar (25oC) kemudian dibaca dengan alat spektrofotometer untuk mendapatkan Absorbansi pertama (A1). Setelah itu inkubasikan 1 menit lagi suhu kamar (25oC) kemudian dibaca dengan alat spektrofotometer untuk mendapatkan Absorbansi kedua (A2). Setelah meng-nol-kan instrument, selanjutnya adalah membaca absorbansi dari standar. Larutan standar disiapkan dengan memasukkan 1000 L reagen dan 10 L berisi standar urea lalu dikocok hingga

homogen. Disiapkan kuvet yang transparan menghadap ke arah sumber sinar, sehingga larutan standar dapat diserap dengan baik. Kuvet terdiri dari bagian yang transparan dan bagian yang buram. Sebelum memasukkan kuvet dalam spektrofotometer UV-Vis, sebaiknya kuvet dibersihkan terlebih dahulu menggunakan tissue lensa. Hal ini disebabkan

pori-pori yang dimiliki tissue lensa sangat kecil, dan memiliki daya kapilaritas yang lebih baik daripada tissue biasa. Selain itu, tissue lensa tidak akan meninggalkan serat ketika diaplikasikan, sehingga menghindari adanya pengotor. Namun, kelemahan dari tissue ini yang kurang terjangkau dan kurang mudah dicari, sehingga pada percobaan ini tidak digunakan tissue lensa, dan untuk mengantisipasinya, sebelum digunakan, kuvet dicuci bersih menggunakan larutan sabun, lalu dibilas dengan air bersih, dikeringkan menggunakan lap bersih, lalu diangin-anginkan, dan selama penggunaan dihindari kontak dengan bagian yang transparan. Bagian yang buram aman untuk disentuh dengan tangan telanjang karena tidak akan memberikan absorbansi jika dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Sedangkan bagian yang transparan merupakan bagian yang secara langsung akan disinari oleh sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis. Sampel dibuat triplo untuk melihat presisi dari alat spektrofotometer UV-Vis. Dari hasil pengukuran didapat nilai absorbansi standar adalah 0,577 pada pengukuran pertama sebelum sampel pertama dan pengukuran kedua sebelum sampel kedua 0,358. Standar ini memiliki konsentrasi urea dalam darah sebesar 50 mg/100 mL. Ini akan menjadi pembanding untuk menginterprestasikan hasil pengukuran. Kemudian selanjutnya adalah membaca absorbansi dari sampel. Larutan sampel disiapkan dengan memasukkan 1000 L reagen dan 10 L berisi sampel plasma urin, lalu dikocok hingga homogen, dan diinkubasikan selama 1 menit pertama pada suhu ruang (25oC) Untuk mendapatkan A1. Prosedur ini dilakukan triplo. Sama seperti sebelumnya, pada saat ini kuvet bagian transparan harus menghadap sumber sinar, sehingga larutan dapat diabsorpsi dengan baik. Dari hasil pengukuran didapat nilai absorbansi pada kelompok 1 (A1) yaitu 0,577; 0,512; dan 0,591. Kemudian diinkubasikan selama 1 menit keduaa pada suhu ruang

(25oC) untuk mendapatkan A2. Dari hasil pengukuran didapat nilai absorbansi pada kelompok 2 (A2) yaitu 0,554; 0,493; 0,418. Nilai ini masih dibilang baik, karena masih termasuk dalam rentang nilai absorbansi yang disarankan untuk menggunakan hukum Lambert-Beer, yang merupakan prinsip kerja dari spektrofotometri UV-Visible. Setelah data terkumpul dihitung Delta Absorbansi standar dan Delta Absorbansi sampel. Dari hasil ini dapat diinterprestasikan bahwa konsentrasi ureum dalam plasma urin adalah:

Setalah dihitung kadar urea dalam satuan mg/dl, hasil dapat dikonversi kedalam satuan mmol/L. Dari hasil tersebut juga dapat ditentukan Nilai BUN dengan mengkalikan dengan angka konversi 0,467. Setelah dirataratakan hasil diperoleh 14,14 mg/dL. Angka ini menunjukan bahwa kadar ureum pasien normal sesuai kriteria kadar normal berikut Dewasa : 5 25 mg/dl, Anak-anak : 5 20 mg/dl, Bayi : 5 15 mg/dl, Lanjut usia : kadar sedikit lebih tinggi daripada dewasa.

Daftar Pustaka

Baron D. N, 1995. Kapita Selekta Patologi Klinik (A Short Text Book of Chemical Pathology) Edisi 4. EGC. Jakarta. Bishop L. Michael, Duben L, Janet Kirk Engelel, Fody P. Edward. 2000. Clinical Chemistry: Principles, Procedures, Correlations. Edisi 4. Lippincott Williams & Willkins (A Wolters Kluwer Company): Baltimore. Dyan. 2005. Ureum dan Kreatinin.

http://dyanelekkodhog.blogspot.com/2011/09/ureum-dan-kreatinin.html [diakses 6 April 2012] Guyton, Arthur C. 2006. Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta. Murray, Robert, K. Darylk, Granner, Peter, A. mayos, Victor, W. Rodwell. 2003. Biokimia Harper. EGC: Jakarta. Nelson. 2000. Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus vol.3. Ed 15. 1813-1814. EGC. Jakarta. Nyoman Suci W. 2008. Kadar Ureum dalam Penderita Gagal Ginjal yang Menjalani Terapi Hemodialisis. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimusgdl-tantikurni-5215-2-bab2.pdf [ diakses 6 April 2012]. Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. ed 4. EGC Widmann, Frances Jakarta. K. 1995. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan

Laboratorium. Edisi 9. Terj. : Gandasoebroto, et al. EGC. Jakarta.