Anda di halaman 1dari 3

ADA INDIKASI KARTEL DI LEMBAGA PERBANKAN

Oleh: Agus Herta Sumarto, Peneliti PRIDE Indonesia dan mahasiswa pascasarjana ilmu ekonomi IPB

Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin dari 6,50% menjadi 6,75%. Kenaikan ini merupakan imbas dari terjadinya kenaikan inflasi yang cukup tajam pada akhir 2010 sampai awal 2011. Kenaikan BI Rate merupakan hal yang wajar dalam sistem keuangan Indonesia yang menganut suku bunga mengambang (floating rate) di mana tingkat suku bunga ditentukan oleh mekanisme pasar. Dalam sistem keuangan yang menganut suku bunga mengambang kenaikan suku bunga acuan akan memicu kenaikan suku bunga bank umum. Meningkatnya suku bunga bank umum akan membawa dampak yang kurang baik terhadap perkembangan ekonomi nasional. Meningkatnya suku bunga bank umum akan membawa dampak yang kurang baik terhadap iklim investasi. Sektor investasi akan menghadapi kelesuan karena beban biaya yang harus ditanggung perusahaan menjadi meningkat. Sadar akan dampak yang kurang baik ini, beberapa saat setelah BI menaikkan suku bunga acuan, pemerintah melalui beberapa menterinya menyerukan supaya bank-bank umum tidak menaikkan suku bunganya padahal beberapa tahun terakhir ini pola penentuan BI Rate untuk menentukan tingkat suku bunga bank-bank umum tidak efektif lagi. Penurunan BI Rate tidak selalu serta merta diikuti oleh menurunnya tingkat suku bunga bank-bank umum. Tingginya resiko investasi di Indonesia selalu dijadikan alasan oleh bank-bank umum untuk tetap menjaga tingkat suku bunganya tetap. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai, inefisiensi birokrasi, dan hal-hal lain yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi menjadi alasan kuat dan selalu diterima masyarakat kenapa bank-bank umum tidak menurunkan suku bunga kreditnya ketika BI Rate turun. Walau korelasi antara BI Rate dan suku bunga bank umum masih dalam perdebatan, pemerintah tetap melakukan permintaan terhadap lembaga perbankan untuk tidak menaikkan suku bunga reditnya. Hal ini dilakukan supaya kondisi ekonomi tetap tumbuh sesuai dengan target awal pemerintahan SBY-Boediono. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam merespon kenaikan suku bunga acuan seolah-olah tampak seperti suatu hal yang positif di mana pemerintah berupaya supaya perkembangan ekonomi tetap positif tanpa terpengaruh oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Pasca permintaan pemerintah, menteri BUMN mengumumkan bahwa bank-bank BUMN bersepakat menerima permintaan pemerintah untuk tidak menaikkan suku bunga kreditnya mengikuti kenaikkan BI Rate. Hal ini mereka lakukan untuk menjaga agar marjin bunga bersih (NIM) tetap kompetitif. Kesepakatan kolektif yang terjadi dalam kasus ini memang berdampak positif terhadap perkembangan dunia usaha dalam jangka pendek tetapi akan terjadi kerugian dalam jangka panjang. Pasar yang efisien adalah pasar yang membolehkan pelaku pasar bebas keluar masuk dengan tingkat harga yang kompetitif. Dengan adanya kesepakatan kolektif antar beberapa perusahaan akan mengakibatkan adanya halangan atau rintangan bagi industri baru yang mau masuk ke dalam pasar. Kondisi ini mengakibatkan pasar hanya dikuasai oleh beberapa kelompok perusahaan saja dalam kasus ini adalah kelompok bank-bank BUMN dan bank-bank non BUMN. Jika kondisi pasar perbankan sudah terbagi ke dalam beberapa kelompok industri saja maka hal ini bisa diindikasikan sebagai pola keterbentukan pasar oligopoly dengan kartel. Istilah kartel atau pembentukan pasar oligopoly merupakan fenomena yang baru dalam dunia ekonomi. Kartel merupakan kesepakatan bersama antara beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama untuk membentuk suatu kekuatan bersama dalam menentukan harga. Kesepakatan tersebut bisa dilakukan dengan menggabungkan beberapa perusahaan ke dalam satu perusahaan baru atau kesepakatan tersebut hanya berupa kesepakatan bersama tanpa ada peleburan tetapi beberapa perusahaan tersebut memiliki kebijakan yang sama sehingga seolah-olah menjadi satu perusahaan. Pada akhirnya, kekuatan kartel hampir menyeruapai kekuatan monopoly (monpolistic competition) di mana harga dalam pasar bisa diatur oleh beberapa perusahaan yang telah bersepakat tersebut.

Kartel muncul pertama kali di Amerika Serikat sebagai respon dari diberlakukannya Antitrust Law pada tahun 1904 yang melarang kekuatan monopoly. Kekuatan monopoly pada waktu itu telah merugikan masyarakat (konsumen) dalam pasar di mana tingkat harga bisa ditentukan oleh satu perusahaan yang menjadi pemain tunggal dalam industri tersebut. Kecenderungan perusahaan adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan tingkat biaya sekecil-kecilnya sehingga harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut sangat mahal dan merugikan konsumen. Kemunculan keputusan Northern Securities dalam bentuk Antitrust Law di Amerika Serikat telah memukul perusahaan-perusahaan monopoly dan beberapa perusahaan yang berniat melakukan monopoly. Untuk menyiasati pelarangan tersebut, beberapa perusahaan yang akan bergabung membentuk monopoly akhirnya bergabung menjadi dua sampai tiga perusahaan. Sedangkan perusahaan yang sudah berbentuk monopoly memecah perusahaannya menjadi beberapa perusahaan. Dengan begitu, perusahaan monopoly tidak terkena sanksi Antitrust Law tetapi masih bisa menikmati keuntungan sebagai perusahaan yang memiliki kekuatan monopoly. Di Indonesia, kasus kartel pernah beberapa kali terjadi seperti kartel pada kasus pengadaan tepung terigu, minyak goreng, dan yang paling menghebohkan adalah kartel tarif Short Message Service (SMS). Kartel pada seluruh pasar di Indonesia telah lama dilarang bahkan Indonesia mempunyai lembaga khusus yang menangani kasus kartel tersebut yaitu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Namun permasalahan kartel ini adalah permasalahan yang unik. Fenomena kartel bisa muncul dalam dua bentuk, kartel dalam bentuk sebenarnya di mana beberapa perusahaan melebur menjadi satu dan memiliki kekuatan monopoly yang besar tetapi ada pula kartel terselubung yang penggabungannya tidak dalam arti fisik. Kartel terselubung tidak melakukan penggabungan dalam arti fisik perusahaan tetapi lebih berdasar pada kesepakatan kolektif di bawah meja sehingga keberadaan kartel tidak terdeteksi. Fenomena kartel dalam kasus perbankan di Indonesia lebih bersifat sebagai benih atau indikasi terjadinya kartel terselubung di mana tidak ada peleburan fisik tetapi yang terjadi adalah peleburan kebijakan. Kelompok bank BUMN yang telah melakukan kesepakatan kolektif akan memiliki tingkat biaya marginal yang semakin menurun tetapi dengan tetap memiliki margin keuntungan yang memadai. Dengan kondisi seperti ini, perusahaan-perusahaan baru yang berniat bersaing di pasar perbankan harus menyesuaikan tingkat biayanya dengan bank-bank mapan yang telah bersepakat dan memiliki biaya yang lebih efisien. Kondisi seperti ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan baru tidak bisa bersaing dengan perusahaan yang telah mapan sehingga dalam jangka menengah tidak akan ada perusahaan baru yang masuk. Kondisi pasar yang tidak memungkinan perusahan baru masuk, dalam jangka menengah akan menciptakan pola monopolystic competition dan tidak menutup kemungkinan dalam jangka panjang akan menciptakan perfect monopoly. Setelah perusahaan-perusahaan dalam industri perbankan bergabung dan melakukan kesepakatan kolektif, maka tidak menutup kemungkinan pada waktu yang akan datang mereka akan bersepakatan untuk memainkan harga atau suku bunga yang hanya menguntungkan perusahaan mereka saja tanpa melihat kepentingan publik yang jauh lebih besar. Permainan harga ini sangat mungkin mereka lakukan karena pada saat pasar berada pada kondisi monopolystic competition mereka mempunyai kekuatan pasar yang sangat besar. Keberadaan KPPU sebagai wasit dalam dunia usaha termasuk dalam dunia perbankan belum terbukti keefektifannya. Kondisi perekonomian Indonesia yang belum efektif bisa dijadikan alasan kuat bagi dunia perbankan untuk memainkan tingkat suku bunga mereka. Oleh karena itu, kebijakan moneter sampai saat ini masih dianggap sebagai kebijakan yang kurang efektif dan memiliki korelasi yang rendah dalam mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kesepakatan yang dipromotori oleh para menteri tersebut bisa menjadi cikal bakal dan indikasi awal dari terjadinya kartel dalam dunia perbankan yang menjurus pada dua kelompok yaitu bank BUMN dan bank non BUMN. Pada saat ini memang tidak terjadi hal yang ditakutkan bahkan kesepakatan tersebut bisa menimbulkan dampak positif bagi dunia usaha. Tetapi pada masa yang

akan datang, kesepakatan kolektif ini bisa dijadikan modal awal oleh para bankir untuk melakukan kesepakatan lanjutan untuk menaikkan keuntungan mereka.