Anda di halaman 1dari 50

ANAK SASTRA ANAK ZAMANNYA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Pengkajian Puisi Indonesia Dosen Baban Banita, M.Hum Kuliah

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

Inventarisasi Penyair Indonesia dan Karyanya I.1 Periode 20-an (Angkatan Balai Pustaka) I.1.1 Tanah Air karya Muhammad Yamin (Tanah Air, 1922) pada batasan, bukit barisan memandang aku, ke bawah memandang tampak hutan rimba dan ngarai lagi pun sawah sungai yang permai serta gerangan lihatlah pula langit yang hijau bertukar warna oleh pucuk daun kelapa itulah tanah, tanah airku sumatra namanya, tumpah darahku

sesayup mata, hutan semata bergunung bukit lembah sedikit lauh di sana, di sebelah situ dipagari gunung satu per satu adalah gerangan sebuah surga bukannya janat bumi kedua firdaus melayu di atas dunia itulah tanah yang kusayangi

sumatra namanya, yang kujunjungi

pada batasan, bukit barisan memandang ke pantai teluk permai tampaklah air, air segala itulah laut samudra hindia tampaklah ombak, gelombang pelbagai memecah ke pasir lalu berderai ia memekik berandai-andai "wahai Andalas pulau sumatra, "Harumkan nama, selatan utara! (Jong Sumtra, Th. III, no 4, april 1920, h. 52) Pada tahun 1922, Yamin muncul untuk pertama kali sebagai penyair dengan puisinya, Tanah Air, maksud "tanah air"-nya ialah Sumatera. Tanah Air merupakan himpunan puisi modern Melayu yang pertama yang pernah diterbitkan. Sumber: 15 Tokoh Minangkabau-Terbaca.com-Gambar Foto Paling Unik Aneh Lucu Gokil Kocak Keren Terbaik di Dunia

I.1.2 Mengeluh Karya Roestam Effendi (Percikan Permenungan,1926) I Bukan beta berpijak bunga, melalui hidup menuju makam. Setiap saat disimbur sukar, bermandi darah, dicucurkan dendam. Menangis mata melihat makhluk, berharta bukan, berhak pun bukan. Inilah nasib negeri nanda, Memerah madu menguruskan badan. Bamana beta bersuka cita, Ratapan rayat riuh gaduh, membobos masuk menyayu kalbu. Bamana boleh berkata beta, suara sebat, sedanan rusuh, menghimpit madah, gubahan cintaku. II Bilakah bumi bertabur bunga, Disebarkan tangan yang tiada terikat, Dipetik jari yang lemah lembut, Ditanai sayap kemerdekaan rayat? Bilakah lawang bersinar Bebas, Ditinggalkan dera yang tiada berkata? Bilakah susah yang kita benam, Dihembus angin kemerdekaan kita? Di sanalah baru bermohon beta, Supaya badanku berkubur bunga, Bunga bingkisan, suara syairku. Di situlah baru bersuka beta, Pabila badanku bercerai nyawa, Sebab menjemput Manikam bangsaku.

I.1.3 Bukan Beta Bijak Berperi Karya Roestam Efendi (1920) Bukan beta bijak berperi Pandai mengubah madahan syair Bukan beta bujak berperi Musti menurut undangan mair Sarat sarf saya mungkiri Untai rantaian seloka lama Beta buang beta singkir Sebab laguku menurut sukma Sebab laguku menurut sukma. Susah sungguh saya sampaikan, Degap degupan di dalam kalbu, Lemah laun lagu dengungan, Matnya digamat rasaian waktu. Sering saya susah sesaat, Sebab madahan tidak nak datang, Sering saya sulit menekat, Sebab terkurung lukisan mamang. Bukan beta bijak berlagu,

Dapat melemah bingkaian pantun, Bukan beta berbuat baru, Hanya mendengar bisikan alun.

I.1.4 Kesadaran Karya Sanusi Pane (1920) Pada kepalaku sudah direka, Mahkota bunga kekal belaka, Aku sudah jadi merdeka, Sudah mendapat bahagia baka. Aku melayang kelangit bintang, Dengan mata yang bercaya-caya, Punah sudah apa melintang, Apa yang dulu mengikat saya. Mari kekasih, jangan ragu Mencari jalan; aku mendahului, Adinda kini Mari, kekasih, turut daku Terbang kesana, dengan melalui, Hati sendiri I.1.5 Teratai Karya Sanusi Pane Kepada Ki Hajar Dewantoro Dalam kebun di tanah airku Tumbuh sekuntum bunga teratai; Tersembunyi kembang indah permai, Tidak terlihat orang yang lalu. Akarnya tumbuh di hati dunia, Daun berseri Laksmi mengarang; Biarpun ia diabaikan orang, Seroja kembang gemilang mulia. Teruslah, O Teratai Bahagia Berseri di kebun Indonesia, Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat, Biarpun engkau tidak diminat, Engkau turut menjaga Zaman

I.2 Periode 30-an (Pujangga Baru 1933-1945) I.2.1 Doa Karya Amir Hamzah (1933-1945) Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa melayang pikir, membawa angan ke bawah kursiMu Hatiku terang menerima kataMu, bagai bintang memasang lilinNya Kalbuku terbuka menuggu kasihMu, bagai setia malam menyirak kelopak Aduh kekasihku, isi hatiku dengan kataMu, penuhi dadaku dengan cayaMu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar galakku rayu! I.2.2 Ibuku Dehulu Karya Amir Hamzah Ibuku dehulu marah padaku diam ia tiada berkata akupun lalu merajuk pilu tiada peduli apa terjadi matanya terus mengawas daku walaupun bibirnya tiada bergerak

mukanya masam menahan sedan hatinya pedih kerana lakuku HTerus aku berkesal hati menurutkan setan, mengkacau-balau jurang celaka terpandang di muka kusongsong juga - biar chedera Bangkit ibu dipegangnya aku dirangkumnya segera dikucupnya serta dahiku berapi pancaran neraka sejuk sentosa turun ke kalbu Demikian engkau; ibu, bapa, kekasih pula berpadu satu dalam dirimu mengawas daku dalam dunia.

I.2.3 Betalah Tahu Karya Sutan Takdir Alisyahbana Aku melihat mereka berjalan, Rapat dekat sesak menyesak. Mata bersinar kasih mesra, Muka berkembang cinta berahi. Suara merayu berbisik-bisik, Cumbu pujuk kata semata. Berlimpah bahagia kalbu remaja, Seluruh dunia rasa terlupa. Dalam gua batu jiwaku Tersenyum beta laksana arca: Kecaplah hidup muda belia, Lezat nikmat sebanyak dapat, Betalah tahu, betalah tahu: Turun tabir sesal menjelma. I.2.4 Selamat Tinggal, Periangan Karya Asmara Hadi Taman sari, tanah Periangan, Sekarang ini berpisah kita, Kereta api hampir berjalan, Selamat tinggal alam jelita, Negeri lain datang meminta, Engkau kan hanya tinggal kenangan, Tempat, di mana mendapat cinta Akan selalu terangan-angan.

Peluit berbunyi, tinggallah engkau, Bukit dan gunung hijau berkilau, Alam rupawan menawan hati Tinggallah kota, tinggallah dusun, Tinggallah sawah turun bersusun, Kamu kucinta sampaikan mati.

I.2.5 Berikan Daku Belukar Karya Jan Engel Tatengkeng Terhanyut oleh aliran zaman, Indahlah taman, Aku terdampar di dalam taman, Indahlah taman, Kuheran amat, Di mata zaman! Memandang tempat! . . . . . . . . . . . . . Di situ nyata kuasa otak, Dan kalau hari sudah petang, Taman dibagi berpetak-petak, Ribuan orang ke taman datang, Empat segi, tiga segi . . . . . . . . . . . . . Yang coreng-moreng tak ada lagi. Berikan daku Belukar saja, Rumput digunting serata-rata. Tempat aku memuji Rasa! Licin sebagai birun kaca. Bunga ditanam beratur-atur, Tegak sebagai bijian catur. Jalan digaris selurus-lurus, Bersih, sehari disapu terus!

I.3 Periode 40-an (Angkatan 45 1945-1953) I.3.1 Derai-derai Cemara Karya Chairil Anwar (1949) Cemara menderai sampai jauh Terasa hari akan jadi malam Ada beberapa dahan akan ditingkap marapuh Dipukul angin yang terpendam Aku sekarang orangnya bisa tahan Sudah berapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan Yang bukan dasar perhitungan kini Hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah I.3.2 Kaliurang (Tengah Hari) Karya Sitor Situmorang (1948) Kembali kita berhadapan Dalam relung sepi ini Dari seberang lembah mati Bibirmu berkata lagi Napasmu mengelus jiwaku Tersingkap kabut Dataran Dan kutahu di tepi selatan Laut manggil aku berlayar dari sini Tungguhlah aku akan datang Biar kelam datang kembali Dengan angin malam aku bertolak Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang Mati, berarti kita akan bersatu lagi.

I.3.3 Mantera Karya Asrul Sani Raja dari batu hitam, di balik rimba kelam, Naga malam, mari kemari ! Aku laksamana dari lautan menghantam malam hari Aku panglima dari segala burung rajawali Aku tutup segala kota, aku sebar segala api, Aku jadikan belantara, jadi hutan mati

Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa Budak-budak tidur di pangkuan bunda Siapa kenal daku, aku kenal bahagia tiada takut pada pitam, tiada takut pada kelam pitam dan kelam punya aku Raja dari batu hitam, Di balik rimba kelam, Naga malam, Mari kemari ! Jaga segala gadis berhias diri, Biar mereka pesta dan menari Meningkah rebana Aku akan menyanyi, Engkau berjaga dari padam api timbul api. Mereka akan terima cintaku Siapa bercinta dengan daku, Akan bercinta dengan tiada akhir hari Raja dari batu hitam Di balik rimba kelam, Naga malam, Mari kemari Mari kemari, Mari !

I.3.4 Batu Tapal Karya Rivai Avin daerah jang belum didapat Ingatlah anak jang tidak punja kebun tempat Batu Tapal Pengertian kita ditapali batu dari Djokja Pengertian kita ditapali batu dari Djokja Biarpun apa jang terdjadi Pengertian kita ditapali batu dari Djokja.

Angin bangkit berembus sarat mengandung bau majat-majat dari daerah mimpi jang telah terdjadi Ingatlah bila angin bangk Ingatlah bila angin bangk Bahwa daerah jang kita mimpikan Telah bermajat, banjak bermajat. Pengertian kita dapali batu dari Djokja Pengertian kita dapali batu dari Djokja Dan tidak ada jang dapat menggolakkannja. Ingatlah bila angin bangk dan mengandung majat bermain Anak jang tidak punja matahari untuk mainan. Musuh kita dapat memudja mati Dan merangkak dimalam bertanda mati Tapi pengertian kita tidak dapali, tidak dapali mati. Pengertian kita dapali batu dari Djokja Daerah kebun tempat anak bermain Dan matahari memburu awan. Pengertian kita dapali batu dari Djokja Pengertian kita dapali batu dari Djokja Biarpun opa jang terdjadi Pengertian kita dapali batu dari Djokja. (Siasat, 16/1/49) I.3.5 Tandus karya Rasyid Syahbana (1945-1952)

aku berjalan di bara api asmara tergopoh aku mengikutimu kerongkongan terasa tersekat ketika aku memandangmu walau kau tak memandangku aku lelah membopong cinta yang tak tahu pasti akan berlabuh dimana tak bisakah kau lihat diriku tak cukupkah bahasa tubuhku tak bisakah kau baca hatiku separuh langkahku saat ini berjalan tanpa tambatan hati hidupku bagaikan musim kemarau tandus tak ada cinta tak sampai aku berpikir hebatnya cinta ini melayang meniti angin di langit asmaraku tanpa sekali pun mengepak sayapnya

kini aku tak tahu dimana jalanku walau sampai letihku mencari aku mungkin tak temukan yang sejati karena aku adalah seorang pengecut oh, mata hati kenapa kau butakan aku begitu rupa hingga aku terjatuh dalam lumpur cinta yang penuh kepedihan kini aku tak mampu lagi mengingat jalan yang pernah aku lalui saat rindu memuncak diujung malam dingin I.4 Periode 50-an (1953-1966) I.4.1 Gadis Peminta-minta Karya Toto Sudarto Bachtiar (1953) Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka Tengadah padaku, pada bulan merah jambu Tapi kotaku jadi hilang tanpa jiwa Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap Gembira dari kemayaan riang Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal Jiwa begitu murni, terlalu murni Untuk bisa membagi dukaku Kalu kau mati, gadis kecil berkaleng kecil Bulan di atas itu tidak ada yang punya Dan kotaku, ah, kotaku Hidupnya tak lagi punya tanda I.4.2 Tentang Kemerdekaan Karya Toto Sudarto Bahtiar (1945) Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara janganlah takut kepadanya Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara janganlah takut padanya Kemerdekaan ialah cinta salih yang mesra Bawalah daku kepadanya

I.4.3 Nyanyian untuk yang Dilupakan Karya Ramadhan K.H Tuhan yang menciptakan seni dan bumi, air dan udara dan api menciptakan semua kita yang ada, selalu hormat dan cinta padamu. Langit dan dedaunan gemelepar, bulan danbintang hidup berkhitmat selalu bagimu dan bagimu dan bagimu Sebanyak daunan digantung di dahan pohonan untuk memeriahkan istana yang asing dan tetap asing bagimu meja bangket dan kemwahan dibuka, berbatasan dengan lingkaran dunia yang pahit, duniamu.

Bulan dn bintang yang setia dan tetap setia padamu, meredupkan lampu-lampu yang banyak dusta dan penipuan. Namamu tergoreskan di setiap rangka tulang bangunan dan keuntungan kendatipun tidak dicanangkan, malahan dilupakan. Kaulah sebenarnya yang lahirkan kemerdekaan, tanpa idamkan taman dan tugu kemerdekaan. Kaulah sebenarnya yang bangkitkan pembebasan. Butir padi, garam dan perlindungan ladang daratan, air dan kekuatan, adalah kepunyaan dan kelahiranmu. Warisanmu adalah sungai, tanaman, warisanmu adalah tiap tegukan dan santapan. Kau adalah kapten barisan yang selalu ada di depan untuk kemerdekaan dan kemanusiaan. Kau adalah pertahanan utama yang selalu pantang menyerah untuk pembebasan dan keagungan. Pahlawan kemerdekaan, kaulah satu-satunya pahlawan kemerdekaan, dan tiada yang lainyang lebih patut pakaikan mahlota kemerdekaan ! pejuang perdamaian, kaulah satu-satunya pejuang perdamaian, dan tiada yang lain yang lebih patut kenakan bintang perdamaian. Waktu pestol pertama meletus untuk kemerdekaan, adalah pestol jantungmu yang ditembakkan. Waktu bendera pertama berkibar untuk pembebasan, adalah bendera semangatmu yang diacungkan. Waktu kurban pertama diminta untuk keagungan, adalah nyawamu yang pertama dikurbankan. Kau adalah alas dan puncak semua pujian dan pujaan; Sejak fajar sampai jadi sasaran penipuan dan pencekikan.

I.4.4 Tamu Karya W.S. Rendra Dari mula hadir dan semerbak aku percaya bukan racun dupa dan sedap malam duka lembut yang datang dari luka tersibak: kenangan yang menang kerna diri terbenam. (Kenangan malam, tak bisa ku tidur bila kau datang!) Ah, candu kenikmatan dari luka! Duka itu bagai orang tua yang tenang berkata: "Willy sedang nulis Malam Stanza!" I.4.5 Dari Dunia Belum Sudah Karya Rivai Avin (1950) Pagi itu aku dengar beritanya, Aku ke jalan Orang-orang jualan dan hendak pergi kerja menepi-nepi

Oto-oto kencang, berat dengan serdadu-serdadu dan tank-tank tak dapat digolakkan Ada yang meronda, berdua-dua dan bersenjata Di antaranya ruang lapan-lapan, tapi ada isi! Semuanya beku padu: manusia benda dan udara, tapi memperlihatkan harga. Aku pergi ke teman-teman berbicara, isi mengendap ke kelam Berita: Yogya sudah jatuh, Maguwo Karno tertangkap Hatta, Syahrir Kami terus berbicara, atau ke teman, ke teman dan ke teman Kami berbicara, menimbang dan melihat kemungkinan Semua dari satu kata dan untuk satu kata. Senja itu aku pulang, sarat dengan berita dan kemungkinan, Di rumahku aku disambut oleh keakuanku yang belum sudah: Buku yang terbuka, yang belum dibaca dan buku yang harus aku sudahkan. Tapi untuk ini aku sudah tinggalkan Bapa dan Abang Dan baru pula teringat ini hari baru satu kali makan. yang periuknya selalu terbukaDan aku sudahkan keakuanku di dalam ruang kuburan yang digalikan oleh nyala pelita di dalam kegelapan Tapi malam itu menghentam, sepatu lars pada dinding kegelapan yang tebal. Dan ketika mereka telah pergi terdengar ratap perempuan, bininya atau ibunya. Padaku tak usah lagi diceritakan, bahwa ada yang dibawa Aku hanya bisa menekankan kepala pada papan meja, Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi tapi telah mengejar pula ke dalam dunia yang belum sudah. Puisi di atas dikutip dari buku Tiga Menguak Takdir yang terbit pada 1950. Pesan yang ingin disampaikan Rivai Apin adalah adanya penangkapan-penangkapan yang dilakukan Belanda terhadap pemimpin dan orang-orang republik. Penyair merasa gelisah karena Proklamasi Kemerdekaan yang telah didengungkan pada 17 Agustus 1945 mengalami ganjalan karena Belanda melakukan agresi militernya yang kedua pada 1948. Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan diduduki Belanda dan para pemimpin Republik Indonesia seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Sjahrir, dan H. Agus Salim ditangkap. Kata merdeka yang menjadi impian bangsa Indonesia saat itu seperti tertutup kabut hitam. Dalam suasana yang tidak menentu itu Rivai Apin mengatakan

dalam puisinya, Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi, tapi telah mengejar pula ke dalam dunia yang belum sudah. Dunia yang belum sempurna.

Teeuw mungkin tidak menganggap penting puisi itu. Tapi, bagi bangsa yang setengah terjajah atau 50% merdekaistilah Heri Latiefperistiwa yang mencekam semacam itu penting dalam sejarah perjuangan. Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia telah membuat perasaan bangsa Indonesia buncah, kacau, kalut, dan gelisah, sehingga untuk berbicara dengan teman-teman sekalipun harus berbisik-bisik. Kegelisahan seorang inlander inilah yang ditangkap Rivai Apin dan diekspresikan dalam puisinya. Teeuw tampaknya alergi dengan puisi-puisi realisme sosialis. Dan karenanya ia menganggap puisi semacam itu tidak penting. Karena sejatinya puisi itu menusuk ke ulu hati penguasa Belanda saat itu. Tertangkapnya trio founding father kita, Soekarno-Hatta-Syahrir dalam peristiwa pendudukan Yogyakarta adalah masa-masa yang mencemaskan bagi bangsa Indonesia.

Kemerdekaan yang telah didapat bagaikan bangunan istana dari pasir di tepi pantai yang sewaktu-waktu bisa hancur digerus ombak. Jadi, bagi kami, Rivai Apin adalah penyair yang penting dan patut diperhitungkan. (Sumber: Rumah Asep Sambodja.blogspot.com)

I.5 Periode 60-an (Angkatan 66 1966-1970) I.5.1 1946: Larut Malam Suara Sebuah Truk Karya Taufiq Ismail (1963) Sebuah Lasykar truk Masuk kota Salatiga Mereka menyanyikan lagu 'Sudah Bebas Negeri Kita' Di jalan Tuntang seorang anak kecil Empat tahun terjaga : 'Ibu, akan pulangkah Bapa, dan membawakan pestol buat saya ?' I.5.2 Aku Karya Ajip Rosidi (1963) Tinju menghantam. Belati menikam. Seluruh dunia bareng menyerang, menerkam. Aku bertahan. Karena diriku Dalam badai, gunung membatu. Lengang sebatang pinang Di padang pusaran topan.

Segala arah menyerang. Dari luar, dalam. Tikaman tiada henti. Siang, malam. Aku bertahan. Karena hidup Muatan duka nestapa Yang kuterima ganda ketawa I.5.3 Mata Pisau Karya Sapardi Djoko Damono mata pisau itu tak berkejap menatapmu kau yang baru saja mengasahnya berfikir: ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam; ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

I.5.4 Gereja Ostankino, Moskwa Karya W.S. Rendra Menaranya cukup tinggi tapi menggapai sia-sia. Pintunya mulut sepi rapat terkunci derita lumat dikunyahnya. I.5.5 Alibi Karya Linus Suryadi AG antara ayat-ayat suci engkau pun mencari halaman yang hilang (anak kecil mengejar layang-layang) kapan cuaca tiba meredakan gemuruh kedirian (terompah impian di sisi kesepian) adalah sesuatu derasnya topan deru rindu dendam kekecewaan I.6 Periode 70-an I.6.1 O Karya Sutardji Calzoum Bachri (1970) Hilang (ketemu) Batu kehilangan diam Jam kehilangan waktu

Pisau kehilangan tikam Mulut kehilangan lagu Langit kehilangan jarak Tanah kehilangan tunggu Santo kehilangan berak Kau kehilangan aku I.6.2 Gerimis Pagi Ini Karya Korrie Layun Rampan (1974) Gerimis pagi ini Adalah gerimis tangis zaman Ketika sekawanan burung luka Mencakar tangkai jantung derita Gerimis pagi ini Adalah gerimis tangis insani Karena rahang-rahang kemerdekaan Disekap moncong-moncong pertikaian Dan tersumpal luka yang tak kunjung tersembuhkan Gerimis pagi ini Adalah gerimis tangis kita Karena di tengah kelu dan borok dunia Tuhan tetap mengulurkan berjuta sauh cinta

I.6.3 Bunga-bunga Daun Luruh Karya Korrie Layun Rampan (1974) Bunga-bunga daun luruh Halaman ditinggal adzan jalanan senyap lubuk terpendam Ke ujung tangisan Suara menyapa dalam luruhan Beranda sunyi menatap halaman Apakah engkau apakah bosan Yang setia berdiri di sisi kesepian Bunga-bunga daun luruh Halaman itu sunyi ditinggal diam Pelangi mencium lubuk dan kolam Kita pun di sini ngungun dalam gerimis duka jatuh Menghitung-hitung sukma hari-had dekat dan jauh

I.6.4 Doa untuk Indonesia Karya Abdul Hadi WM (1971) Tidakkah sakal, negeriku ? Muram dan liar Negeri ombak Laut yang diacuhkan musafir karena tak tahu kapan badai keluar dari eraman Negeri batu karang yang permai, kapal-kapal menjauhkan diri Negeri burung-burung gagak Yang bertelur dan bersarang di muara sungai Unggas-unggas sebagai datang dan pergi Tapi entah untuk apa Nelayan-nelayan tak tahu Aku impikan sebuah tambang laogam Langit di atasnya menyemburkan asap Dan menciptakan awan yang jenaka Bagai di badut dalam sandiwara Dengan cangklong besar dan ocehan Batuk-batuk keras Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia Adalahberita-berita yang ditulis Dalam bahasa yang kacau Dalam huruf-huruf yang coklat muda Dan undur dari bacaan mata Di manakah ia kausimpan dalam dokumntasi dunia ? Kincir-kincir angin itu Seperti sayap-sayap merpati yang penyap Dan menyebarkan lelap ke mana-mana Sebagai pupuk bagi udaranya Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya Ratusan gerobag melintasi jembatan yang belum selesai kaubikin Kota-kotanya bertempat di sudut belakang peta dunia Negeri ular sawah Negeri ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur Tumpukan jerami basah Minyak tanahnya disimpan dalamkayu-kakyu api bertumpuk Dan bisa kau jadikan itu sebagai api unggun Untuk persta-pesta barbar Indonesia adalah buku yang sedang dikarang Untuk tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan Di kantor penerimaan tenaga kerja Orang-orang sebagai deretan gerbong kereta Yang mengepulakan asap dan debu dari kaki dan keningnya Dan mulutnya ternganga Tatkala bencana mendamprat perutnya

Berapa hutangmu di bank ? Di kantor penenaman modal asing ?

Di dekat jembatantua malaikat-malaikat yang celaka Melagu panjang Dan lagunya tidak berarti apa-apa Dan akan pergi ke mana hewan-hewan malam yangterbang jauh Akan menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ? Ratusan gagak berisik menuju kota Menjalin keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan Puluhan orang bergembira Di atas bayangan mayat yang berjalan Memasuki toko dan pasar Di mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak Dan emas tiruan Indonesia adalah kantor penampungan para penganggur yang atapnya bocor dan administrasinya kacau Dijaga oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk Indonesia adalah sebuah kamus Yang perbendaharaan kata-katanya ruwet Dibolak-balik, digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik Sampai mata menjadi bengkak Kata kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang, kata sifat Kata sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu Di mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia ? Di manakah kamus itu kaujual di pasaran dunia ? Berisik lagi, berisiklagi : Gerbong-gerbong kereta membawa penumpang yang penuh sesak dan orang-orang itu pada memandang ke sorga Dengan matanya yang putus asa dan berkilat : Tuhanku, mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini Melata di bumi merusaki hutan-hutan Dan kebun-kebunmu yang indah permai Mengapa kaubiarkan mereka . Negeri ombak Badai mengeram di teluk Unggas-unggas bagai datang dan pergi Tapi entah untuk apa Nelayan-nelayan tak tahu I.6.5 Solitude Karya Umbu Landu Paranggi (1977) dalam tangan sunyi jam dinding masih bermimpi di luar siang menguap jadi malam tiba-tiba musim mengeristal rindu dendam dalam detik-detik, dalam genggaman usia mengombak suaramu jauh bergema

menggilkan jemari, hati pada kenangan bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kikinian seberkas cahaya dari menara waktu menembus tapisan untung malang nasibku di laut tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai dalam gaung kumandang bait demi bait puisi Antologi Puisi Penyair Yogya, 1977

I.7 Periode 80-an I.7.1 Tahajjud Cintaku Karya Emha Ainun Najib (1988) Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya

Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya I.7.2 Manusia Cacing Karya Gus tf Sakai (Payakumbuh 1980--1981) Mencari tapal tuahku. tanya, tanya, tanya Kehilangan tahun, musim bertarung dengan cuaca Ambar di jalan, kesturi di halaman, dupa di taman Jadi debu di tangan. Permainan? tanyamu. Aku orang Tak berlabuh, buat apa tahun jika kita tak saat. Hanya Sari hidup (batas) cinta dengan akhirat Tahun keluar dari orbit Perjalanan yang luas, keluhmu. Satu titik. Tanya, Tanya. Siapa menyambung apa, memburu perburuan apa Dagingku (beraga) di atas sukma berjiwa. Makna, Kuliti aspal jalan raya. O traffic light Hendak ke mana Tahun keluar dari manusia Tanya, tanya, tanya. Cacing saja I.7.3 Doa Jenazah Karya Isbedy Stiawan ZS (1984/1986 ) aroma dupa dan wangi sayur yang ditawarkan dari sudut-sudut rumah ini kuharap jangan dihidangkan di atas piring kerandaku lalu turunkan muatan! buka palka dan kuburkan kepasrahanmu. beri jalan aku kembali kepada-Nya. tanpa asap dupa tanpa pesta!

I.7.4 Ksur Karya L. K. Ara (1986) Kau rajut daun Dengan benang kasih Kau susun pasir Dengan nada rindu Menyiapkan kasurku Untuk tergolek tidur Dan mimpi Di sampingmu Ujung Bate, 1986

I.7.5 Sajak Sikat Gigi Karya Yudhistira Anm Massardi (1974-1983) Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur Di dalam tidur ia bermimpi Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka Ketika ia bangun pagi hari Sikat giginya tinggal sepotong Sepotong yang hilang itu agaknya Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali Dan ia berpendapat bahwa, kejadian itu terlalu berlebih-lebihan I.8 Periode 90-an I.8.1 Soal Karya A. Mustofa Bisri (1993) Rakyat - (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) + (Legislatif - Eksekutif) + (Cendekiawan x Kiai) = ? (Mustofa Bisri 1993) I.8.2 Lidah Karya Gola Gong (1998) Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara kutata kalimat alif bata, walau tak peduli hati patah Betapa takjub aku pada lidah, tak bertulang pula Lidah kubasahi ludah, begitu jika bermain lidah Lidah bikin hati gundah, tubuhku jadi basah Tapi ada orang tak tahu diri pada lidah dipakainya lidah untuk sumpah serapah Padahal lidah tajam bagai pedang membelah Beruntung aku punya lidah, sehingga bisa bicara tak peduli pada siapa benar siapa salah kebon jeruk, Februari 1998 I.8.3 Beri Aku Kekuasaan Karya Afrizal Malna (1991)
Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. tetapi aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka di Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama : Jakarta 1945 yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa. Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir : Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman. Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun,

membuka toko, bank dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi. Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi sepatuku goyah, menyimpan dirimu. Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu : Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada setiap kata............

I.8.4 Colombella Karya Zam-zam Noor (1993-1997) Aku masih digayuti kabut yang semalam melaju dalam tidurku Melewati petakpetak ladang, tangki air dan lengkung biru Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang kecoklatan Jalan-jalan kecil yang melingkar serta sebuah sungai Yang berliku membelah perkampungan Semuanya bermuara di mataku Ini masih awal musim semi, kureguk Hangatnya kopi serta bait-bait pendek Ungaretti Betapa angin telah menggemburkan permukaan tanah Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan wajah bebatuan Sebuah lapangan kota lama yang lahir kembali Dengan katedralnya yang lain Ini masih awal musim semi Semburat matahari menerobos kaca dan sayup-sayup Kudengar dengus pepohonan yang menahan getar birahi Akar-akarnya. Ladangladang menghamparkan tikar pandan Sungguh musim semi telah membangunkan tidur bumi Yang panjang. Ketika langit menguraikan rambut ikalnya Sebuah kastil putih muncul dari balik pebukitan Dengan air mancurnya yang menyemburkan kilatan cahaya

I.8.5 Melankolia Karya Beni R. Budiman (1996) Seperti barisan mahoni di tepi jalan Tubuhku tegak sepanjang ceruk subuh Dan bayang hitamku terkapar di aspal Menekuri arah kendaraan dan merkuri Azan berkumandang mengajakku pulang Tapi gema membuat banyak makna suara Menggambar persimpangan bagi langkah Dan cuaca menawarkan mimpi indah juga Derita. Aku bimbang di antara bintang Sisa. Dan sebuah tabrakan keras sulit Terhindarkan. Aku berantakan dan luka Hati belah dua dalam langit melankolia

I.9 Periode 2000-an I.9.1 Tembang di Atas Perahu Karya Dorothea Rosa Herliany (2000) seperti di atas perahu kecil sendirian aku terombangambing ombak kecil dalam tubuhku jika aku terlelap, kumimpikan pangeran dengan jubah berderai dan rambut mengurai beribu kalimat dengusnya yang dusta. kulihat pancuran dari pedangnya yang panjang dan gagah. kutiup terompet gairahku dalam tetembangan dari tanah jauh. alangkah ngelangut. alangkah deras rindu tanpa alamat. alangkah sunyi dan palsu impian. seperti di atas perahu kecil sendirian aku terjaga. tak teratur napasku. mencari beribu nama dan alamt. dalam berjuta situs dan bermiliar virus. berbaris cerita cabul pesanpesan asmara yang memualkan. aku sendirian, seperti lukisan perempuan di depan jendela : memandang laut biru di batas langit. sambil membendung badai dan ombak yang mengikis karangkarang. Februari, 2000

I.9.2 Kepada Diko Reyhan Karya Kurnia Effendi (2000) Butir salju mulai terseret pergi Di tikungan fajar, telah menunggu sesosok musim Yang dengan cekatan meminta daun-daun semi kembali Itu sebabnya, sepanjang pagi Keluarga burung pelatuk sibuk membangun rumah Untuk menyimpan percik matahari Di antara kulit kayu pohon-pohon yang bergembira Sebenarnya, di sela suara tambur jantung Samar kudengar ketukan di pintu rahim "Tuhan, demikian santun cara-Mu mengirim anugerah membuat kami semua berdebar dan menanti tak sabar." Itu sebabnya, sebagian airmata kusiapkan untuk cinta Kepadamu, anakku Bukankah engkau akan jadi kekasih semua orang? Lihatlah airmata yang menggenang Seperti leleh salju yang mulai terseret pergi Dan kami selalu saja berdoa

Jakarta, Februari 2000

I.9.3 Sisifus Jam 7 Pagi Karya Ook Nugroho (2000) Sisifus kikuk berdiri di simpang jalan. Menunggu bis jemputan sebentar membawanya paksa, masuk medan Kurusetra belantara Jakarta. Dulu sekali, dewa-dewa menggodanya, menyuruhnya mendorong bongkahan nasib ke puncak gunung. Tapi zaman sudah berubah. Dewa-dewa sialan yang sekarang bertukar nama jadi atasan berdasi, dan bersemayam dalam gedung-gedung bagus yang dibeli dengan uang pinjaman bank itu, cukup menyuruhnya bolak balik rumah dan kantor -

sampai tua. Sampai lupa buat apa ini semua I.9.4 Lukisan Jiwa Karya Toni Saputra (2009) Gunung Mendung Benang kusut Rumput Samudra Badai Api Air Rambu lalu lintas Batu dan kapas Dan yang tak dapat di lukiskan Lukisan Jiwa Dapatkah terbaca? Bisakah di artikan? Mampukah di mengerti? Lukisan jiwa Malam benderang Siang kalah terang Malam kalah petang Hitam kalah pekat Putih kalah bersih Tuba Kalah noda Lukisan Jiwa buah karya Tuhan Yang tak dapat disalahkan Di terbitkan Toni Saputra bab puisi TOSA pada 9/05/2009 10:43:00 PM I.9.5 Sajak Musim Rontok Karya Lutfi Mardiansyah (Dari Senja ke Malam, 2012) Musim rontok yang membatukan angin, meranggas habis daunan. Di tubuhku kini setumpuk berserakan, yang telah kau tandaisebagai kenangan: debu setangkup dari selipat surat cinta masalalu.

Kecuali kelopak kembang senja yang layu ke dalam kubur malam, berulang kita ziarahi, masing-masing diri yang rahasia. Berulang kita merayakan doa-doa, serupa pesta pemujaan dewa-dewi di Olympia.

Tapi masa kali itu telah lama lewat, kini kita asing sendiri-sendiri. Di tubuhku, angin masih sebongkah batu, rasa sepi jadi serupa katil-katil mati, menanti lagi datangnya semi, sewaktu di pohonan ada lagi terbit mimpi. Ketika angin jadi cair serta berhembus biasa, ditidurkannya satu selembar dari tiap-tiap malam, atau kita selipkan sekali di balik bantal pada waktu larut kali kita tundakan rasa lelap, sementara memanjangkan jam-jam terjaga.

Jatinangor, 30/4/2012

Apresisasi Puisi Indonesia 45 puisi telah dilampirkan di atas dari periode Balai Pustaka (1920) sampai tahun 2000-an. Dari puisi-puisi tersebut ada satu puisi yang sangat saya sukai karena paling menarik. Penyairnya pun memiliki latar belakang yang mengesankan dan membanggakan bagi saya. Puisi yang lahir di periode tahun 70-an, yaitu O Karya Sutardji Calzoum Bachri (1970). Berikut isi puisi Beliau. Hilang (ketemu) Batu kehilangan diam Jam kehilangan waktu

Pisau kehilangan tikam Mulut kehilangan lagu Langit kehilangan jarak Tanah kehilangan tunggu Santo kehilangan berak Kau kehilangan aku Puisi tersebut sangat menarik dikaji karena saya menyukai puisinya, dari mulai tema (sense), perasaan (feeling), nada atau suasana (Tone), amanat (invention), pemilihan kata (diksi), makna, citraan (imagery), bunyi, hingga tipografi. Secara tidak langsung, puisi Sutardji tersebut bertemakan tentang cinta. Bisa dibuktikan dari baris terakhir puisi tersebut Kau kehilangan aku. Penggalan puisi tersebut sangat menyentuh menurut saya. Tiap baris yang dikarangnya tidak menggunakan bahasa kias (majas), tetapi sangat menyentuh hati bagi pembaca, membuat pembaca merasakan suatu kehilangan, lalu di akhir baris disudahi dengan kata yang padat makna. Hal tersebut menjadikan puisinya sangat mengesankan, langsung memberikan kesan dalam di hati pembaca. Tanpa panjang-panjang ia menjelaskan hanya dengan pilihan kata-kata yang menggunakan analogi. Dibuktikan dengan penggalan-penggalan puisi yang dicetak tebal di atas.

Hal yang menarik lagi dari puisi Beliau, yaitu perasaan panyair kepada tokoh dalam puisinya sendiri dan kepada pembaca terlihat tenang, jujur, tidak memunculkan amarah, tidak mencerminkan sikap berkobar atau membara. Tulisannya mengalir begitu saja sangat indah sarat makna tidak bertele-tele. Amanat yang disampaikan Sutardji pun tidak tersurat, tetapi pembaca yang menyimpilkan sendiri, sehinga sangat menarik untuk didiskusikan. Sutardji Calzoum Bachri seorang pujangga terkemuka di Indonesia. Setelah lulus

SMA Beliau melanjutkan sekolahnya ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung (FISIP UNPAD). Hal tersebut yang membuat saya kagum terhadap Beliau. Latar belakang pendidikan yang sama dengan saya membuat saya mempunyai kebanggaan tersendiri menjadi mahasiswa Universitas Padjadjaran. Kampus tempat saya menuntut ilmu memiliki penyair sehebat beliau. Selain itu, kampus FISIP dahaulu tempat Beliau menuntut ilmu pun bersebelahan dengan kampus tempat saya menjalani perkuliahan, FIB UNPAD. Hal tersebut juga yang menjadi motivasi untuk saya ingin benar-benar fokus berkarya meneruskan sastrawan, ahli bahasa, bahkan orang-orang hebat yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Padjadjaran lainnya, seperti J. S. Badudu, Megawati Soekarno Putri, Juhana Sutisna (Bang Joe), dan lain-lain.

Mengkaji Sajak Mei Karya Joko Pinurbo MEI Jakarta, 1998 Tubuhmu yang cantik, Mei telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. II.1 Judul Kritik Sosial Terhadap Etnis Tionghoa Masa Orde Baru dalam Puisi Mei

II.2 Latar Belakang Kegiatan perkuliahan khususnya mata kuliah Pengkajian Puisi Indonesia tentunya tidak pernah lepas dari karya berbentuk puisi, selain teori-teori dan para penyairnya.

Pembahasan kali ini terpilih puisi berjudul Mei karya Joko Pinurbo sebagai bahan untuk dikaji. Hal tersebut dimaksudkan untuk memenuhi tugas akhir semester dua jurusan sastra Indonesia yang dibimbing oleh Baban Banita, dosen jurusan Sstra Indonesia Universitas Padjadjaran. Pengkajian puisi ini dilaksanakan untuk menerapkan teori-teori yang sudah dipelajari selama kegiatan perkuliahan. Kegiatan mengkaji puisi ini melatih daya tangkap, kepekaan, pola pikir, sifat objektif, kritis, dan analitis mahasiswa. Selain itu, puisi ini sangat menarik untuk dikaji kerena menggunakan bahasa yang indah dan mengandung makna yang memberikan tafsir banyak. Hal tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Kurangnya minat baca masyarakat khususnya di bidang karya sastra memicu pembuatan dan penyusunan laporan ini. Masyarakat yang sibuk dengan kehidupan modernya mengakibatkan kurangnya pengetahuan sejarah dan kisah yang tersimpan dalam karya sastra. Sesungguhnya karya sastra merupakan jalan lain menuju kebenaran, cerminan kehidupan atau kenyataan, media pengobatan, kritik dan kontrol sosial yang bisa bersifat membangun menuju arah kebaikan. Masyarakat yang tidak kenal dengan sejarahnya tidak menyayangi bangsanya. Zaman sekarang masyarakat kurang apresiatif terhadap karya-karya sastra, sehingga hasil pemikiran dan perjuangan bangsa tidak terpelihara dengan baik. Hal tersebut mengakibatkan harta yang sudah didapat terdahulu tidak dapat dimanfaatkan dengan baik juga. Sebagai wadah pembentuk moral, kepribadian, dan sistem pertahanan bangsa belum menghasilkan sesuatu yang sempurna untuk masyarakatnya sendiri.

II.3

Landasan Teori

II.3.1 Pengertian Puisi Menurut Para Ahli Young Bong Puisi adalah sesuatu yang mengalir dari lubuk hati yang paling dalam (Nadoak, 1988: 18), ungkapan perasaan manusia.

Shahnon Ahmad Puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan terindah. Carlyle Puisi merupakan pemikiran bersifat musikal. Wordsworth Puisis adalah pernyataan perasaan yang imajinatif yang direkakan atau diangankan. Auden Puisi adalah pernyataan perasaan yang bercampur berbaur. Dunton Puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional dan berirama. Sapardi Djoko Damono Karya sastra yang ditulis dalam bentik apa pun adalah puisi. Slametmuljana (Waluyo) Puisi adalah bentuk kesusastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya yang menghasilkan rima, ritma, musikalisasi (struktur fisik).

II.3.2 Struktur Fisik Puisi Diksi (diction) Pemilihan kata, kata-kata yang dipilih pengarang sehingga timbul simpati dari pembaca. Kata-kata yang tidak sesuai diganti, lalu timbil kata-kata baru. Citraan (Imagery) Pmakaian bahasa untuk melukiskan lakuan, seperti orang, benda, atau gagasan secara deskriptif merangsang indra, sehingga terbayang. Bahasa kias (Figurative) Susunan dan artinya sengaja disampingkan dari sususan dan arti yang biasa. Memanfaatkan perbandingan, pertentangan, pertautan (majas), dengan cara: Mampu menghasilkan kesenangan imajinatif. Mampu menghasilkan imaji tambahan sehingga yang abstrak menjadi konkret. Menambah intensitas perasaan penyair untuk mengungkapkan sikapnya. Mengonsentrasikan makna yang hendak disampaikan (memfokuskan). Sengaja disampingkan dari susunan dan arti yang biasa. Contoh: Simile, bahasa kias yang membedakan atau membandingkan dua hal atau lebih yang secara hakiki berbeda, tetapi seginya serupa. Metafora, bahasa kias mengandung perbandingan tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran.

Perbandingan epos (apic simile), Perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat atau frase berturut-turut. Fungsi perbandingan epos seperti simile juga untuk memberi gambaran yang jelas. Lebih dimaksudkan untuk memperdalam dan menegaskan sifat-sifat. Personifikasi, membandingkan bnda mati seakan-akan seperti hidup, digambarkan seperti makhluk hidup yang bergerak, beraktifitas. Mengandaikan bukan manusia seperti insan. Metonimia, Kiasan, membedakan dengan cara mengganti nama. Pnggunaan atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang dekat hubungannya dengan objek yang menggantikan objek tersebut. Sinekdoke, yang menyebutkan bagian penting suatu benda atau hal untuk benda atau hal itu sendiri. Pars Pro Toto, melukiskan sebagian, tetapi yang dimaksud seluruhnya. Pars Pro Totem, melukiskan keseluruhan, tatapi yang dimaksud sebagian. Bunyi (Sounds) Bersifat estetik untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, bayangan, dan susunan khusus. Bunyi menghasilkan rama atau irama. Rima adalah pengulangan bunti berselang dari kata berikut ke kata sebelumnya. Irama adalah alunan yang dikesankan oleh perulangan dan pergantian kesatuan bunyi, seperti panjang-pendek, keras-lembut, tinggi-rendah: Eufoni, harmonis dan enak didengar untuk menggambarkan cinta, kasih, sayang, mesra, romantis, menyenangkan, dll. Kakofoni, tidak harmonis dan tidak enak didengar, suasana yang berkebalikan dengan eufoni, seperti marah, benci, tidak menyenangkan, dll.

Semua bunyi menguatkan suasana, sehingga memunculkan makna. Contohnya, kombinasi bunyi vokal a, i, u, e, o dengan konsonan hambat p, b, d, g, dan nasal m, n, ny ,ng menciptakan bunyi yang harmonis. Seperti puisi Gunawan Muhammad Ranjang Pengantin berikut. Hanya ingin, hanya senyap, hanya rusuk, dari mana engkau ada. (GM Ranjang Pengantin). Tipografi Bentuk atau susunan baris pada tiap bait. Kesejajaran bait-bait diatur oleh penyair, kadang memiliki makna juga atau ada alasan dari bait yang dibentuk atau disusun secara acak. II.3.3 Struktur Batin Puisi Tema (Sense) Pokok pasti pembicaraan, sesuatu yang menjiwai karya tersebut. Perasaan (feeling) Perasaan atau sikap penyair tentang atau terhadap pokok itu. Nada atau suasana (Tone) Sikap penyair terhadap pembaca puisi itu. Amanat atau tujuan (Intention) Tujuan penyair menulis puisi itu. Isi atau kesan, sesuatu yang ingin disampaikan.

II.4 Kajian (Isi) Diksi (diction) Dari baris pertama dalam bait pertama, Joko Pinurbo memilih kata yang lugas. Kata cantik dalam kalimat Tubuhmu yang cantik, Mei yang dipilih oleh beliau merupakan makna sedungguhnya (denotasi) tidak bertele-tele. Pembaca bisa langsung memahami apa yang ingin disampaikan oleh Beliau, bahwa Mei memiliki tubuh yang cantik. Sedangkan api yang sering dipakai oleh pengarang mengandung makna bukan sebenarnya (konotasi). Api di sini berarti sesuatu yang buas, ganas, binal, brutal, bergejolak, panas penuh nafsu yang membara, yaitu para laki-laki bernafsu panas. Kata-kata yang dicetak tebal dibawah ini dipilih pengarang untuk menjadikan karyanya menunjukkan sesuatu yang berhasrat atau bernafsu panas namun klasik dan sarat akan makna sastranya. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei.

Di akhir baris puisi, pengarang mengkritik peristiwa yang lalu dengan memilih kata-kata yang halus dan tepat sasaran tanpa harus menyindir dapat menyadarkan pembaca. Dibuktikan dengan penggalan puisi berikut. ketika tak ada yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. Citraan (Imagery) Dalam karyanya kali ini, melalui kata-kata yang dipilih Joko, pembaca tergugah citra lihatannya dengan menggunakan indra penglihatan setelah membaca Mei. Dapat dilihat dari penggalan puisi berikut. Tubuhmu yang cantik, Mei Memaknai sesuatu yang cantik tentu diperlukan indra penglihatan secara visual untuk melihat wujud yang dinamakan kecantikan. Juga dengan penggalan-penggalan puisi berikut malalui kata-kata yang dicetak tebal. sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. ... sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. ... tubuhmu yang cantik, Mei ... ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. Penggalan puisi di bawah mengugah citra rabaan pembaca menggunakan indra peraba secara non-visula melalui kata pilihan pengarang yang saya cetak tebal. Api mengucup tubuhmu

Mengucup dilakukan harus menggunakan alat indra yang digerakan berupa kulit, atau yang disebut indra peraba. Begitu juga dengan beberapa kata yang dicetak tebal dari penggalan-penggalan puisi berikut. sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis Kau sudah mandi api. Citra dengaran juga terdapat dalam puisi Mei ini dalam penggalan puisi berikut. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei Kata meronta menggambarkan suatu kegiatan yang terjadi disertai dengan raungan atau teriakan sebagai upaya pembebasan diri. Tentunya hal tersebut dibutuhkan indra pendengaran secara non-visual untuk mendengarkan raungan atau pun teriakan. Bahasa kias (Figurative) Pengarang menggunakan majas personifikasi dalam puisinya kali ini. Contohnya dalam penggalan puisi berikut. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu ... Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna Api ingin membersihkan tubuh maya ... Api telah mengungkapkan rahasia cintanya Kata-kata yang dicetak tebal menggambarkan seolah-olah api bertindak seperti manusia. Mencintaimu, Mengucup, dilumatnya, membersihkan, dan mengungkapkan merupakan kata-kata kerja yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk hidup. Pengarang menggunakan majas personifikasi untuk memprindah karyanya.

Joko juga menggunakan majas metafora dalam karyanya. Kau mandi api mengandung makna tersirat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Makna sesungguhnya tidak disampaikan secara langsung sehingga puisinya indah sarat dengan unsur sastra. Mandi api dipilihnya untuk menunjukkan suatu simbol yang memiliki suatu arti, seperti kegiatan yang panas, membara, ganas atau bergejolak. Bunyi (Sounds) Pengarang tidak membuat bunyi yang sangat beraturan dalam puisinya. Irama atau ritme pada setiap bait tidak disusun beraturan seperti aturan puisi lama yang bersajak a-ba-b. Tiap baris pada bait-bait berbunyi begitu saja tanpa aturan. sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Tipografi Pengarang membuat puisi sebanyak tiga bait. Beliau memperlakukan setiap baris puisinya dengan sejajar atau tidak berpola mengacak, namun setiap bait tidak sama banyak jumlah barisnya. Tiap bait disusun sejajar.

II.3.3 Struktur Batin Puisi Tema (Sense) Pengarang ingin menyampaikan kritik sosial mengenai tragedi sejarah yang terjadi pada Mei tahun 1998 di Jakarta. Masa pemerintahan Soeharto, namun dalam peralihan kekuasannya kepada B.J. Habibie. Masa peralihan dari Orde Baru menuju Reformasi terjadi penjarahan atau pembantaian terhadap etnis Tiongkok. Hal tersebut disebabkan oleh kebebasan di bidang perdagangan bagi rakyat Indonesia yang memicu suksesnya para pedagang beretnis Tiongkok. Kecemburuan terjadi di kalangan pribumi karena pasar pribumi tidak sesukses pasar milik etnis Tiongkok. Pecah belah terjadi. Padahal sebelumnya terjadi pemerataan dan pengakuan etnis Tiongkok sebagai Warga Negara Indonesia. Sejarah tersirat berhasil disampaikan Joko Pinurbo melaui puisinya, Mei. Lagilagi wanita menjadi sasaran para pria. Pada masa penjarahan marak sekali pemerkosaan massa terhadap etnis Tiongkok. Wanita-wanita putih berish dan mulus, tubuh indah, mata sipit, bibir mungil, rambut hitam menjadi pelampiasan kecemburuan sekaligus pemanfaatan nafsu birahi pria-pria. Kemarahan yang membara akibat persaingan perdagangan digambarkan dengan api dalam puisi Beliau. Mei, nama bulan terjadinya tragedi tersebut, bisa jadi kebetulan dikaitkan dengan nama khas Tiongkok dipilih untuk puisinya. Penghabisan para Mei oleh api disampaikan secara hikmat melalui pilihan kata-kata yang sederhana membuat pembaca bisa ikut merasakan tragedi yang terjadi pada Mei tanpa .

Perasaan (feeling) Joko bersikap jujur terhadap karyanya. Adegan-adegan dalam puisi yang terjadi disebutkan satu demi satu apa adanya. Pengarang tidak mencerminkan sikap marah, kesal, dan tergesa-gesa untuk para tokoh dalam puisinya. Tokoh Mei yang diperkosa oleh para api digambarkan sangat rinci dan hikmat oleh pengarang hanya dengan kata-kata. Mei ditakdirkan sebagai tokoh yang pasrah dan api sebagai tokoh yang pemaksa, binal, ganas, dan penuh nafsu. Dibuktikan dengan penggalan puisi berikut. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis Kepasrahan Mei digambarkan dengan kata-kata meronta dan meleleh dalam api, sementara kebinalan api digambarkan dengan kata-kata yang dicetak tebal. Adanya unsur sikap pemaksa yang dilakukan tokoh api dibuktikan dengan kata-kata yang digaris bawahi. Nada atau suasana (Tone)

Joko tidak memihak kepada pembaca maupun para tokoh dalam puisi. Pengarang tidak menyudutkan api sebagai pelaku pemerkosa dan tidak menyudutkan Mei sebagai etnis Tiongkok, tetapi jujur terhadap pembaca. Beliau hanya fokus terhadap karyanya mengenai pesan yang ingin disampaikan, sehingga peristiwa dalam puisi mengalir begitu saja, walaupun dirasa tegang oleh pembaca. Adegan-adegan dalam puisi yang terjadi disebutkan satu demi satu apa adanya tanpa emosi yang berlebihan.

Amanat atau tujuan (Intention) Joko Pinurbo ingin menyampaikan kritik dan kontrol sosial melalui karyanya mengenai penindasan terhadap kaum wanita di Indonesia. Beliau memanfaatkan tragedi yang sedang marak, Mei 1998, sebagai kesempatan melahirkan karya. Perpecahan terjadi karena kesuksesan etnis tertentu di bidang perdagangan dalam sebuah negara yang memiliki berbagai kebudayaan. Parahnya, lagi-lagi harus wanita sebagai kaum yang dianggap lemah menjadi sasaran. Di sinilah letak kelemahan sistem di negara kita. Ketika perbedaan diuji dan dijadikan kambing hitam, persatuan dan kesatuan runtuh, lalu yang lemah selalu menjadi korban. Cambuk untuk kita sebagai rakyat perlu mengoreksi hanya karena perbedaan, persatuan dan kesatuan hilang, kekejaman terhadap wanita merajalela, moral bangsa rusak, dan lemahnya perlindungan, pertahanan, dan keamanan. Seharusnya perbedaan yang membuahkan kesuksesan bagi salah satu pihak dijadikan pembelajaran dan teladan yang baik. Kaum wanita dilindungi sebagaimana fitrahnya seperti perhiasan. Moral meningkat karena sumber daya manusia pun sudah teruji. Inilah saat-saat masyarakat perlu membuka kembali kenangan sejarah pemikiran dan perjuangan bangsa. Digugah pengetahuannya, sehingga mengenal lalu bisa menyayangi harta warisan bangsa terdahulu. Mulailah membaca!

II.5 Simpulan Puisi Mei karya Joko Pinurbo merupakan kritik dan kontrol sosial mengenai penindasan terhadap kaum wanita di Indonesia saat perbedaan menguji. Melalui kata-kata yang dipilih oleh pengarang dapat menggugah citraan pembaca melalui panca indra. Kemudian panca indra yang terhubung oleh saraf pembaca bisa memengaruhi kerja otak dan hormon, sehingga memicu pola pikir dan moral pembaca. Pesan-pesan tersirat sengaja pengarang ciptakan untuk menggugah sikap kritis pembaca terhadap keadaan demi terwujudnya perubahan bangsa menjadi lebih baik. Karya sastra tidak bisa lepas dari kehidupan, apa pun yang terjadi pada zaman bisa melahirkan karya sebagai wadah koreksi. Joko haus akan perubahan, membuatnya bicara atas pikiran dan perasaannya melalui tulisan. Seharusnya perbedaan yang membuahkan kesuksesan bagi salah satu pihak dijadikan pembelajaran dan teladan yang baik. Kaum wanita dilindungi sebagaimana fitrahnya seperti perhiasan. Moral meningkat karena sumber daya manusia pun sudah teruji. Inilah saat-saat masyarakat perlu membuka kembali kenangan sejarah pemikiran dan perjuangan bangsa. Digugah pengetahuannya, sehingga mengenal lalu bisa menyayangi harta warisan bangsa terdahulu. Pengarang ingin memperbaiki kekacauan sosial melaui karya sastra agar

masyarakat senang membaca. Membaca karya, buku, berita, dan keadaan agar tidak mengulangi kesalahan. Hanya dengan kata-kata hati dan pikiran masyarakat yang sakit bisa terobati.

II.6 Daftar Pustaka http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/puisi-puisi-online-joko-pinurbo.html (diakses 13 Juni 2012 pukul 18:26 WIB) http://www.anneahira.com/contoh-puisi-kontemporer.htm (diakses 13 Juni 2012 pukul 18:26) http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=159182 (diakses 13 Juni 2012 pukul 18:27) http://www.banyakilmu.com/angkatan-pujangga-baru/ (diakses 22 Juni 2012 pukul 11:22:13) http://www.banyakilmu.com/angkatan-66/ (diakses 22 Juni 2012 pukul 11:26:38) http://www.banyakilmu.com/angkatan-balai-pustaka/ (diakses 22 Juni pukul 2012 11:47:51) http://syairsyiar.blogspot.com/2009/05/kemerdekaan-toto-sudarto-bahtiar.html 22 Juni 2012 pukul 11:48) https://www.facebook.com/note.php?note_id=163563180339222 (diakses 22 Juni 2012 (diakses

pukul 12:25:02) http://asepsambodja.blogspot.com/2009/10/rivai-apin-menguak-teeuw.html (diakses 22 Juni 2012 pukul 12:47)