Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN Kebutuhan dunia akan energi terus mengalami peningkatan yang sangat drastis. Hal ini sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dunia yang semakin meningkat. Dengan kenaikan jumlah penduduk dan peningkatan standar kehidupan serta perubahan dunia industri, akan berhubungan erat dengan volume konsumsi energi. Jika dilihat dari volume konsumsi energi primer berdasarkan jenis bahan bakarnya, maka kebutuhan energi dunia dipasok dari minyak bumi sekitar 40%, batubara sekitar 25%, gas alam juga sekitar 25% dan tenaga nuklir sekitar 7%. Dengan kata lain bahan bakar fosil menutup sekitar 90% sumber kebutuhan energi. Dan dari jumlah tersebut, batubara menyumbang dari kebutuhan energi primer dari kebutuhan dunia tersebut. (Bambang Heriyadi; 2005) Di Indonesia kecenderungan untuk menggantikan minyak bumi sebagai sumber energi terbesar sudah sangat jelas terlihat pada era ini dan upaya untuk mencari energi alternatif sumber energi lain sedang dikembangkan, karena cadangan minyak bumi di indonesia sudah semakin menipis. Jelas bahwa diantara bahan bakar fosil, batubara memperlihatkan potensi yang paling besar, dan dengan pengembangan batubara bersih, kecemasan manusia akan dampak pembakaran batubara dapat diredakan. Banyak negara di dunia termasuk negara maju kini beralih kembali ke batubara untuk penyediaan energi masa depan, khususnya dalam jangka pendek dan menengah. Indonesia mempunyai cadangan batubara yang cukup besar dengan kualitas yang cukup baik sebagai sumber daya energi. Batubara ini memiliki nilai yang strategis dan potensial untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan dalam negeri. Sejalan dengan perkembangan zaman, peningkatan energi untuk kebutuhan hidup dengan pertumbuhan industri yang sangat pesat, hal ini mengakibatkan meningkatnya permintaan akan sumber energi. Disisi lain tumbuh kesadaran untuk

mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak bumi dan juga untuk pencegahan penebangan hutan yang tidak terkendali. Sebagian besar konsumsi energi di sektor rumah tangga dan industri menggunakan bahan bakar minyak yang kapasitas produksinya didalam negeri semakin menurun. Pada tahun 1990, konsumsi energi Indonesia berkisar 144 ton atau 40,3% dari total keseluruhan energi nasional. Ratarata laju penambahan penggunaaan energi pada kedua sektor ini masingmasing adalah 1,7% dan 6,1% pertahun dalam satu dekade. Permintaan energi akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya populasi, dimana masih tetap didominasi oleh bahan bakar minyak. Oleh karena itu, dalam rangka penghematan pemakaian bahan bakar minyak (BBM), pemerintah mencanangkan program diversifikasi energi, salah satu program diversifikasi energi yang diperkenalkan adalah pemakaian batubara. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 02 Maret 1981 dengan dasar peraturan pemeritah No. 42 tahun 1980 berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Penambangan di PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, diawali dengan kegiatan eksplorasi pada tahun 1915 1918 dan produksi pertama kali pada tahun 1919, batubara yang telah dieksploitasi dari tahun 1919 1987 sebanyak kurang lebih 23 juta ton. Beberapa lembaga pengurus di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Secara berturut turut adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. a. b. c. Tahun 1919 1942 Pemerintahan Hindia Belanda Tahun 1942 1945 Pemerintahan Militer Jepang Tahun 1945 1947 Pemerintahan Republik Indonesia Tahun 1950 sampai dengan sekarang pemerintahan Republik Indonesia yang terdiri dari : Tahun 1950 1958 pengelola pertambangan diberi nama Perusahaan Tambang Arang Bukit Asam (PN.TABA) Tahun 1959 1960 pengelola penambangan dilaksanakan oleh Badan Urusan Perusahaan Tambang Negara (BUPTAN) Tahun 1961 1967 beralih menjadi Badan Pimpinan Umum (BPU) yang membawahi 3 perusahaan negara, yaitu perusahaan

negara tambang batubara Ombilin di Sumatera Barat, perusahaan negara arang Bukit Asam di Tanjung Enim, dan perusahaan negara tambang batubara Mahakam di Kalimantan Timur. Dengan adanya peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1968 Badan Pimpinan Umum (BPU) tersebut dijadikan satu unit produksi perusahaan negara tambang batubara sehingga pada tahun 1981 perusahaan negara tambang batubara berganti menjadi PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). Setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 56 tahun 1990, pemerintah menggabungkan perusahaan umum tambang batubara diseluruh Indonesia dengan nama PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). Sesuai dengan kebijakan pemerintah pada penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta penganekaragaman penggunaan sumber energi, maka dibentuk proyek Pengembangan Pertambangan dan Pengangkutan Batubara Bukit Asam (P4BA) yang meliputi : 1. ton/tahun. 2. 3. Lampung. 4. 5. 6. 7. Pengembangan pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung. Kapal laut yang lengkap dengan peralatan bongkar muat untuk mengangkut batubara dari Tarahan menuju PLTU Suralaya di Jawa Barat. Gerbong kereta api dari stasiun Kertapati untuk mengangkut dan memuat batubara non Suralaya. Sistem komunikasi terpadu dan modern antara PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), PERUMKA, kapal laut dan PLTU Suralaya. Pada saat ini PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. Memiliki dua unit produksi, yaitu : Daerah pemukiman untuk menampung kurang lebih 5000 karyawan PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. Sistem Pengangkutan kereta api untuk mengangkut batubara dari Tanjung Enim ke Kertapati, Palembang dan Pelabuhan Tarahan, Bandar Penambangan terbuka Bukit Asam dengan kapasitas 5 juta

1. Unit Tambang Batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan terdiri dari : a. Tambang Air Laya b. Tambang non Air Laya c. Tambang Banko Barat d. Tambang Muara Tiga Besar 2. Unit penambangan Ombilin, Sumatera Barat terdiri dari : a. Tambang terbuka b. Tambang Bawah tanah Untuk mendukung produktivitas dan efisiensi kerja PT. Bukit Asam (Persero) Tbk mengoperasikan tiga pelabuhan khusus batubara, yaitu 1. Pelabuhan Tarahan (Lampung) 2. Pelabuhan Kertapati (Sumatera Selatan) 3. Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat) :

Gambar 1. Peta Lokasi Unit Produksi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

Gambar 2. Tambang Air Laya Pada tahun 1993, Perusahaan ditugaskan oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan proyek Briket Batubara yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor.483/201/M.DJP/1993 tanggal 9 Pebruari 1993. Pada tahun 1996, Perusahaan mendirikan Anak Perusahaan PT Batubara Bukit Kendi (BBK) yang berkedudukan di Tanjung Enim dengan kepemilikan saham sebesar 75% dan sisanya dimiliki oleh PT Delta Bentala Perintis. Ruang lingkup kegiatan BBK terutama mengusahakan pertambangan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pengangkutan dan pemasaran batubara. Pada tahun 2006 juga dibentuk anak perusahaan baru, PT Bukit Pembangkit Innovative (BPI) yang bergerak dalam bidang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan daya 2 x 100 MW yang berlokasi di Banjarsari Kabupaten Lahat Sumatera Selatan. PT BPI merupakan perusahaan patungan yang 41% sahamnya dimiliki PTBA, 39% PT Navigat Innovative Indonesia (NII) dan 20% PT Pembangkit Jawa-Bali (PJB). Pada tanggal 28 Pebruari 2007, setelah memiliki dua anak perusahaan, masing-masing PT Batubara Bukit Kendi dan PT Bukit Pembangkit Innovative,

Perusahaan kembali mengembangkan sayap usahanya dengan mendirikan

PT

Bukit Asam Prima (BAP). PTBA (99% saham) bersama dengan Dana Pensiun Bukit Asam (DPBA) (1% saham) menandatangani akta pendirian perusahaan PT Bukit Asam Prima (BAP). Akta tersebut mendapat pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI melalui Keputusan Nomor: W7-03848HT.01.01-TH.2007 tertanggal 9 April 2007. Anak Perusahaan ini (BAP) berkedudukan di Jakarta dan bergerak di bidang pembelian batubara, pengangkutan, penanganan dan pemasaran batubara termasuk jasa serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan perdagangan batubara. 1.2. LOKASI DAN TATA LETAK PERUSAHAAN Lokasi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk berkantor pusat di Jalan Parigi No. 1 Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Lokasi penambangan batubara terletak di Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan. Lokasi dapat dijangkau melalui jalan darat ke arah Barat Daya sejauh 200 km dan jalan kereta api 165 km dari kota Palembang. Lokasi kuasa penambangan (KP) yang dimiliki PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Penambangan Tanjung Enim, meliputi wilayah Tanjung Enim dan sekitarnya seluas 7.700 ha. Wilayah tersebut berada pada posisi (1030 45-1030 50) bujur timur dan (30 42 30-40 47 30) lintang selatan. Area tambang air laya (TAL) terdiri dari 560 ha daerah penggalian dan 650 ha daerah penimbunan tanah yang berjarak sekitar 5 km sebelah utara lokasi penggalian. Daerah tambang merupakan daerah berbukit dan daerah landai, dilalui oleh aliran sungai enim. Elevasi terendah pada dasar sungai 40 m di atas permukaan laut dan tertinggi di puncak bukit asam sekitar 282 m di atas permukaan laut.

Gambar 3. Peta Pemantauan dan Lokasi Tanjung Enim

Gambar 4. Layout Lokasi Pertambangan PT Bukit Asam

10

Dilokasi perkantoran terdapat dua gedung pusat yang merupakan gedung pusat administrasi, seperti pada Gambar 4. Selain itu terdapat juga Rumah Sakit, Kantor Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat), Kantor PT. Batubara Bukit Kendi, Perpustakaan, Laboratorium Tanjung Enim, serta Stasiun Radio Bukit Asam FM. Lokasi pusat perkantoran PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, berada di jalan Parigi No. 1 Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan.

Gambar 5. Kantor Pusat PT. Bukit Asam Tanjung Enim Lokasi Laboratorium Tanjung Enim berada di jalam Parigi dalam No.4 Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim Propinsi Sumatera Selatan.

Gambar 6. Laboratorium PT. Bukit Asam Tanjung Enim

11

1.3. VISI DAN MISI PERUSAHAAN 1. Visi Perusahaan Sebagaimana dinyatakan dalam angggaran dasar, maksud dan tujuan didirikannya PT. Bukit Asam ( Persero) Tbk adalah untuk turut melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan serta program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, serta pembangunan dibidang pertambangan bahan bahan galian, terutama pertambangan batubara. Dalam usaha untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, dengan memperhatikan faktor faktor internal perusahaan yang meliputi kekuatan dan kelemahan, serta faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yang akan dihadapi, maka ditetapkan visi perusahaan, yaitu : Menjadi perusahaan energi berbasis batubara yang ramah lingkungan. Dengan visi tersebut berarti pada masa yang akan datang PT. Bukit Asam (Persero) Tbk diharapkan tidak hanya sebagai produsen batubara saja, melainkan juga dicita citakan berkembang menjadi suatu perusahaan energi berbasis batubara yang berdaya saing dan memberikan nilai optimal bagi stakeholders (pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekitar perusahaan). 2. Misi Perusahaan Untuk mencapai visi jangka panjang perusahaan tersebut, maka ditetapkan misi bisnis perusahaan untuk 5 tahun kedepan (2006 2010), yaitu : a. Fokus kepada core competency dan pertumbuhan yang berkesinambungan. b. Memberikan tingkat pengembalian yang optimum kepada pemegang saham c. Meningkatkan budaya korporasi yang mengutamakan kinerja d. Memberikan kontribusi pengembangan ekonomi nasional e. Memberikan kontribusi yang maksimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan Dengan misi tersebut diharapkan dalam 5 tahun kedepan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk dalam pengoperasiannya menerapkan cara produksi terbaik (best mining practice) dengan mengacu pada penentuan harga komersial dan kompetitif (best pricing practice).

12

3. Strategi Perusahaan Berdasarkan hasil pertimbangan pemetaan maka untuk meningkatkan nilai perusahaan dan menjamin terjadinya pertumbuhan secara berkesinambungan disusun strategi utama perusahaan, yaitu: a. Fokus pada pertumbuhan produksi dan penjualan batubara b. Fokus pada proyek-proyek dengan skala kesiapan satu c. Restrukturisasi korporasi d. Meningkatkan kompetensi dan regenerasi SDM serta meningkatkan budaya korporasi yang mengutamakan kinerja e. Meningkatkan sistem remunerasi berdasarkan kinerja f. Meningkatkan peringkat kinerja penataan pengelolaan lingkungan 4. Kebijakan Mutu Perusahaan Kebijakan perusahaan secara umum digariskan sebagai pedoman operasional bagi manajemen untuk mencapai sasaran strategis, antara lain berkenaan dengan efisiensi biaya, target pasar, manajemen mutu dan lingkungan serta peningkatan kualitas dan taraf hidup karyawan dan masyarakat sekitar perusahaan. 1.4. STRUKTUR ORGANISASI DAN MANAGEMEN PERUSAHAAN Dalam menjalankan bisnisnya PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Memilki dewan direksi yang terdiri dari Direktur Utama, Direktur Pengembangan Usaha, Direktur Operasi/Produksi, Direktur Keuangan, Direktur Niaga dan Direktur Sumber Daya Manusia Umum,

13

Gambar 7. Struktur Organisasi Umum PT. Bukit Asam

Jumlah karyawan PTBA saat ini 3.486 orang, yang bekerja di PTBA 3.346 orang dan yang diperbantukan di anak perusahaan serta dana pensiun sebanyak 122 orang. PTBA terus meningkatkan kompetensi SDM-nya melalui perancangan sistem administrasi dan pengembangan SDM yang kredible. Beberapa langkah

14

strategis yang telah dijalankan PTBA untuk mempersiapkan manajemen dan pemimpin profesional yang meliputi: penyelarasan (alignment) organisasi dan penyempurnaan sistem manajemen SDM, serta pembentukan dan sosialisasi budaya unggul yang menekankan pada motivasi diri dan peningkatan kesadaran akan peran dan kontribusi untuk meningkatkan performa PTBA. Sedangkan untuk menyiapakan supervisor dan tingkatan dibawahnya, PTBA memfokuskan pengembangan pada pemenuhan kompetensi teknis terutama di bidang pertambangan, mesin, dan listrik. Dalam menjalankan tugas sebagai karyawan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Seluruh karyawan diwajibkan mematuhi peraturan kerja yaitu : 1. Memakai pakaian tugas/dinas karyawan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk selama bekerja. 2. Untuk karyawan tambang diwajibkan memakai helm untuk menjaga Keselamatan Kerja Karyawan (K3). Di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Terdapat pembagian jam kerja yaitu : 1. Tenaga staff, hari kerja senin sampai jumat 2. Tenaga Penunjang, 3 shift kerja dengan grup A,B,C dan D, waktu kerja untuk setiap shift adalah 8 (delapan) jam dengan rincian sebagai berikut : a. Shift 1 (malam), pukul 23.00 WIB s/d pukul 07.00 WIB. b. Shift II (pagi), pukul 07.00 WIB s/d pukul 15.00 WIB. c. Shift III (siang), pukul 15.00 WIB s/d pukul 23.00 WIB Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk menyediakan beberapa fasilitas yaitu : 1. Perumahan Karyawan Perumahan karyawan ini diberikan menurut jabatan karyawan tersebut. Bagi karyawan yang memiliki jabatan tinggi seperti General Manager, Manager, Asisten Manager diberikan perumahan khusus yang berada di Town site dan Base Camp Tanjung Enim dan masa berlakunya sampai akhir jabatan (pensiun. Disamping itu disediakan juga perumahan untuk karyawan PT

15

Bukit Asam (Persero), Tbk. Yang berada di BTN. Perumahan karyawan ini diperoleh dari potongan gaji setiap bulannya sampai batas tempo pembayaran rumah tersebut. 2. Rumah Sakit PT Bukit Asam (Persero), Tbk Rumah Sakit PT Bukit Asam (Persero), Tbk ini dapat digunakan untuk seluruh karyawan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk masyarakat lainnya. 3. Sarana Ibadah Untuk kelancaran beribadah karyawan PT Bukit Asam (Persero), Tbk dan seluruh masyarakat maka perusahaan mendirikan beberapa masjid diantaranya Masjid Jami Bukit Asam, Masjid Jami Al-Hikmah dan lainlain. 4. Sarana Pendidikan Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Tanjung Enim, perusahaan juga mendirikan beberapa sarana pendidikan, seperti TK Antrasita, SMU PTBA dan SMK YPBA. 5. Sarana Transportasi Untuk mempermudah kelancaran kerja, maka perusahaan menyediakan beberapa transportasi, seperti bis antar jemput karyawan baik yang berada di kantor maupun di tambang Bukit Asam (Persero), Tbk.
6. Sarana Olahraga Untuk menjaga kesehatan karyawan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk mendirikan gedung olahraga (GOR) yang didalamnya terdapat beberapa lapangan olahraga.

1.4.1 Laboratorium PT Bukit Asam Secara organisasi, Laboratorium Penanganan & Angkutan Batubara PTBA Tanjung Enim memiliki dua macam struktur organisasi, yaitu: struktur organisasi menurut internal PTBA dan struktur organisasi menurut ISO/IEC 17025:2005. Berdasarkan SK Direksi No. 084/SK/PTBA-PERS/2007 tanggal 06 Maret 2007, secara internal Laboratorium PTBA Tanjung Enim bertanggung jawab secara

16

langsung kepada satuan kerja Penanganan dan Angkutan Batubara (PAB). Struktur organisasinya dapat diamati pada skema berikut.

P en an g an an d an A n g ku tan Batub ara (1 3 2 0 0 0 0 0) 7 0 Ken d ali P ro d u k (1 3 2 0 1 0 0 0) 7 0

Ken d ali P ro d u k G ro up A-D (1 3 2 0 1 1 0 0) 7 0

P enan g an an Batu b ara (1 3 2 1 0 0 0 0) 7 0

Lab o rato rium (1 3 2 2 0 0 0 0) 7 0

A n g ku tan Batu b ar a (1 3 2 3 0 0 0 0) 7 0

O p erasi P en an g an an Batu b ara 1 (1 3 2 1 1 0 0 0 ) 7 0

O p erasi P en ang an an Batu b ara 2 (1 3 2 1 2 0 0 0) 7 0

O p erasi P en an g an an Batu b ara 3 (1 3 2 1 3 0 0 0) 7 0

P en g u jian (1 3 2 2 1 0 0 0) 7 0

Kalib rasi (1 3 2 2 2 0 0 0) 7 0

O p er asi S to ck P1ile G ro u p -D A (1 3 2 1 1 1 0 0 ) 7 0

O p erasi S to ck P2ile G ro u p -D A (1 3 2 1 2 1 0 0) 7 0

Op erasi S to ck P3ile G ro u p -D A (1 3 2 1 3 1 0 0) 7 0

P rep arasi A n alisis & Batu b ara G ro u -D A p (1 3 2 2 1 1 0 0) 7 0

Gambar 8. Struktur Organisasi Satuan Kerja Penanganan dan Angkutan Batubara (PAB) Dalam melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari, Laboratorium PTBA Tanjung Enim didukung oleh 2 unit kerja, yaitu : 1. Laboratorium Penguji, yang berperan untuk melaksanakan kegiatan pengujian batubara mulai dari tahap preparasi contoh, analisis proksimat, analisis ultimat, indeks kekerasan batubara, analisis ukuran butiran, nilai kalor, titik leleh abu hingga komposisi abu, serta melaksanakan pengujian air asam tambang untuk parameter pH, total zat padat terlarut, total zat padat tersuspensi, logam Fe dan Mn.

17

2. Laboratorium Kalibrasi, yang berperan untuk melaksanakan kegiatan kalibrasi peralatan uji/ukur laboratorium supaya memiliki tingkat akurasi yang tinggi, serta melaksanakan perawatan/perbaikan peralatan uji/ukur laboratorium. Di luar struktur organisasi yang menginduk ke internal PTBA, Laboratorium PTBA Tanjung Enim juga memiliki struktur organisasi tersendiri yang mengacu kepada ISO/IEC 17025:2005. Struktur organisasi tersebut dapat diamati pada skema berikut ini. (Untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen sesuai dengan ISO/IEC 17025:2005)

Gambar 9. Struktur Organisasi Laboratorium Pengujian & Kalibrasi PT BA Tanjung Enim Keterangan : LP LK AM : Laboratorium Penguji : Laboratorium Kalibrasi : Asisten Manajer

18

Spv.Prep & Analisis BB

: Supervisor Preparasi & Analisis Batubara

Adapun deskripsi jabatan untuk masing-masing jabatan struktural di Laboratorium PTBA Tanjung Enim sebagai berikut. 1. Manajer Laboratorium Mengorganisir dan mengkoordinir seluruh kegiatan Laboratorium meliputi: pelaksanaan preparasi contoh dan analisis batubara, air, tanah dan batuan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; kalibrasi peralatan (volumetrik, gaya, tekanan, massa dan temperatur); perawatan, perbaikan serta merencanakan penyediaan suku cadang peralatan Laboratorium; menerapkan Sistem Mutu Laboratorium sesuai ISO 17025 dan ISO 9001, sehingga dapat mendukung kelancaran operasional Perusahaan. 2. Asisten Manajer Pengujian Mengkoordinir dan mengatur seluruh kegiatan pengujian di laboratorium yang meliputi: evaluasi dan kajian kesesuaian operasional, rencana pengembangan laboratorium, pengujian (kualitas batubara, air, tanah dan batuan), pendistribusian hasil analisis (air, tanah dan batuan) serta penerapan sistem mutu laboratorium, sehingga operasional laboratorium berjalan dengan lancar sesuai ketentuan yang berlaku. 3. Asisten Manajer Kalibrasi Mengkoordinir dan mengatur seluruh kegiatan kalibrasi peralatan Laboratorium yang meliputi: perawatan, perbaikan dan kalibrasi seluruh peralatan uji/ukur laboratorium, serta penerapan sistem mutu laboratorium, sehingga peralatan laboratorium memenuhi standar mutu dan operasional laboratorium berjalan dengan lancar sesuai ketentuan yang berlaku. 4. Supervisor Preparasi dan Analisis Batubara Group A-D Mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan preparasi dan analisis batubara sesuai ketentuan yang berlaku meliputi: preparasi contoan batubara, pengujian contoan batubara, pendistribusian hasil analisis batubara, penerapan sistem mutu laboratorium serta perawatan peralatan laboratorium, sehingga diperoleh data hasil analisis batubara yang akurat.

19

1.5. Pemasaran PT. Bukit Asam (Persero). Tbk merupakan pemasok batubara terbesar kedua di pasar dalam negeri dan perusahaan terbesar kelima di Indonesia. Kegiatan pemasaran PTBA secara agresif terus-menerus berusaha dalam mendapatkan pasar potensial dengan harga yang terbaik. Untuk mencapai sasaran tersebut, PTBA telah menetapkan kebijaksanaan dan strategi pemasaran. 1. Kebijaksanaan Pemasaran Kebijaksanaan yang diterapkan yaitu mendapatkan harga yang terbaik, mempertahankan pasar potensial dengan mengupayakan kontrak jangka panjang, serta memperluas pangsa pasar dengan memanfaatkan kondisi perkembangan harga. 2. Strategi Pemasaran Dalam pemasarannya, PTBA telah mempunyai sistem pemasaran yang dapat menembus pasar nasional maupun pasar internasional. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya permintaan batubara dari Indonesia dan negara lain. Batubara dipasarkan berdasarkan market brand-nya ke wilayah domestik maupun luar negeri yang melalui beberapa wilayah pemasaran seperti berikut ini: 1. Tanjung Enim Batubara yang akan dipasarkan oleh PTBA diberi kode BA (Bukit Asam) misalnya BA 59. Kode BA ini menunjukkan bahwa batubara tersebut berasal dari PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Sedangkan untuk 59 menunjukkan nilai kalor batubara tersebut. Produk yang dipasarkan meliputi batubara jenis BA 59 dan BA 63 yang dipasarkan ke PLTA Bukit Asam (gambar 8), PT. Semen Baturaja dan lain-lain. 2. Pelabuhan Tarahan Produk yang dipasarkan meliputi batubara jenis BA 58 dan BA 59 yang dipasarkan ke PLTU Suralaya. Selain itu juga menjual Batubara jenis BA 63, dan BA 70 ke berbagai Negara lain seperti China, Korea, Switzerland, Taiwan, Delta

20

Holding PTE, Ltd India, Eropa, Pakistan, Jepang dan beberapa wilayah Eropa lainnya. Sistem transportasi batubara PT. Bukit Asam dengan jalur laut, 3. Pelabuhan Kertapati Produk yang dipasarkan meliputi batubara jenis BA 59, BA 67 dan BA 70 yang dipasarkan ke wilayah domestic seperti PLTU Suralaya, PT. Indocement, dll. Untuk penjualan ke luar negeri meliputi batubara jenis BA 63 dan BA 67 yang diekspor ke India, Malaysia, Cina, Thailand, dan Negara-negara Asia lainnya. Data statistik unit pelabuhan PT. Bukit Asam, seperti pada Tabel 1. 4. Ombilin Produk yang dipasarkan dari Ombilin memiliki nama/kode khusus yaitu OMB yang dominan dipasarkan ke PLTU Suralaya. Tabel 1. Data Statistik Unit Pelabuhan PT.Bukit Asam Uraian Lokasi Luas Stock Pile Kemampulaluan Kapal Tarahan Tarahan, Lampung 42,5 hektar 560.000 ton 12 juta ton/tahun Max : 80.000 DWT Kertapati Palembang, SumSel 1,5 hektar 50.000 ton 2,5 juta ton/tahun Max : 8.000 DWT Teluk Bayur Padang, Sumbar 2,8 hektar 90.000 ton 2,5 juta ton/tahun Max : 40.000 DWT

Sumber: Firmansyah. 2010

21

BAB II URAIAN PROSES 2.1 Bahan Baku Bahan organik utama batubara yaitu tumbuhan yang berupa jejak kulit pohon, daun, akar, struktur kayu, spora, polen, damar dan lain-lain. Selanjutnya bahan organik tersebut mengalami berbagai tingkat pembusukan (dekomposisi) sehingga menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik maupun kimia baik sebelum ataupun sesudah tertutup oleh endapan lainnya. Hal ini berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Batubara merupakan suatu campuran padatan heterogen yang terdapat di alam dengan tingkat atau grade yang berbeda mulai dari gambut, lignit, subbituminus, bituminus dan antrasit yang dibedakan berdasarkan kandungan zat terbang (volatile matter) dan besaran kalor. Unsur-unsur yang ada dalam batubara terdiri dari Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Belerang (S) dan Nitrogen (N). Karbon, hidrogen dan oksigen adalah unsur utama pembentuk batubara, sedangkan belerang dan nitrogen hanya sebagai bahan pengikut, seperti pada Gambar 8.

Gambar 8. Substansi Batubara

22

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan tahap geokimia (pembatubaraan). 1. Pembentukan Gambut dan Batubara Tumbuh-tumbuhan yang tumbang atau mati dipermukaan tanah pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian tidak terlihat lagi bentuk asalnya. Pembusukan atau penghancuran tersebut merupakan proses oksidasi yang disebabkan oleh adanya oksigen atau aktifasi bakteri aerob hidup, maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna sehingga tidak akan terjadi proses oksidasi sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob saja yang melakukan proses dekomposisi yang kemudian membentuk gambut. 2. Pembentukan Batubara Proses pembentukan gambut akan berhenti karena beberapa alasan seperti penurunan secara cepat dasar cekungan. Jika lapisan gambut yang telah terbentuk kemudian ditutupi oleh lapisan sedimen , maka tidak ada lagi bakteri anaerob atau oksigen yang dapat , mengoksidasi, maka lapisan gambut akan mengalami tekanan oleh lapisan sedimen. Tekanan terhadap lapisan gambut akan meningkat dengan bertambah tebalnya lapisan sedimen. Tekanan yang bertambah besar akan mengakibatkan peningkatan temperatur yang juga akan meningkat akibat bertambahnya kedalaman. Selain karena adanya lapisan sedimen, kenaikan temperatur juga disebabkan oleh aktifitas magma proses pembentukan gunung, serta aktifitas-aktifitas tektonik lainnya. Peningkatan tekanan dan temperatur pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara yang dicirikan dengan terjadinya proses pengurangan air, pelepasan gas-gas CO2, H2O, CO dan CH4, peningkatan kepadatan dan kekerasan serta nilai kalor, Faktor tekanan (P), Temperatur (T) dan Waktu (t)

23

merupakan faktor-faktor yang menentukan kualitas batubara, seperti pada Gambar 10. Ada 2 teori yang menerangkan terjadinya batubara yaitu ; 1. Teori In-situ Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan dimana batubara tersebut. Batubara yang terbentuk biasanya terjadi di hutan basah dan berawa, sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan roboh, langsung tenggelam ke dalam rawa tersebut dan sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami pembusukan secara sempurna dan akhirnya menjadi fosil tumbuhan yang membentuk sedimen organik. 2. Teori Drift Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang bukan ditempat dimana dimana batubara tersebut. Batubara yang terbentuk biasanya terjadi di delta mempunyai ciri-ciri lapisannya yaitu tipis, tidak menerus (splitting), banyak lapisannya (multiple seam), banyak pengotor (kandungan abu cenderung tinggi). Tingkatan batubara berdasarkan sifat-sifatnya yaitu: 1. Antrasit Batubara yang terjadi pada umur geologi yang paling tua. Adapun sifatsifatnya sebagai berikut :
a. Kalau dibakar, hampir seluruhnya habis terbakar tanpa timbul nyala. b. Warna hitam mengkilat dan kompak. c. Nilai kalor > 32558,2 kJ/kg.

d. Kandungan karbon berkisar antara 86% 98%.


e. Kandungan air < 8 %, sedangkan kandungan abu dan sulfur 0,5 %.

2.

Bituminus

24

Terbentuk pada periode geologi carboniferous dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami karbonisasi. Sifat-sifatnya sebagai berikut :
a. Warna hitam mengkilat dan kurang kompak. b. Nilai kalor 26744,4 32558,2 kJ/kg. c. Kandungan air berkisar antara 5 10%, sedangkan abu dan sulfur 0,5 %. d. Kandungan karbon berkisar antara 70% 85%.

3.

Sub-bituminus Batubara yang berumur 100 juta tahun, memiliki sifat :


a. Nilai kalor 19302,5 26744,4 kJ/kg. b. Merupakan sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan

bituminus.
c. Kandungan karbon berkisar antara 45% 69%.

4.

Lignit Terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami karbonisasi di bawah lapisan tanah dalam jangka waktu yang lama . Mempunyai sifat :
a. Warna kecoklatan dan sangat rapuh . b. Nilai kalor sekitar 14651,3 19302,5 kJ/kg. c. Kandungan karbon berkisar antara 15% 45%. d. Kandungan air berkisar antara 35% 75% wt, sedangkan kandungan abu

dan sulfurnya berkisar antara 0,7%. 5. Peat (gambut), dengan ciri : a. Warna coklat dan belum kompak. b. Berpori dan memiliki kandungan air di atas 75 %. c. Nilai kalor < 14651,3 kJ/kg.

25

Gambar 9. Proses Terbentuknya Batubara


S is atu m b u h ans li a
O rig in a l p la n t re s id u e

P e m b e n tu k a n m b u t ga (F a seb io k im ia )

P eatifica tion (biochem ical phase)

G a m bu t
P eat

B ro w n co al

P e m b e ntuka n tu ba ra b atub a em en tu kan ba


C o alifica tio n oa lifica

(fa seg e o kim ) ia


S u b b itu m ino u s
(g e o ch em ica l p ha se )

B itu m in o u s

P e rin g k a ta tu b a ra b
R an ko f c oa l

A n th ra cite

P en g g rafita n
G ra p h itiza tio n

= T in g kap e m b a tu b a ra a n t
(D e g re e of a lifica tion co )

M etaa n th racite G ra p h ite

= P e m a s a kazna to rg a n ik
(m a tu rity o f o rg a n ic m a tte r)

= T in g kam e ta m o rfo sis a n ik t o rg


(le ve l of o rg a n ic m e ta m o rp h ism )

Gambar 10. Peringkat Pembentukan Batubara 2.2 Proses Produksi

26

Proses produksi batubara dimulai dari terbentuknya batubara, penggalian dengan menggunakan Bucket Wheel Excavator, penumpukan yang dilakukan pada stock pile hingga ke konsumen. 2.2.1 Penggalian Batubara Penambangan dilakukan dengan membuat suatu galian bukaan terbentuk jenjang-jenjang (bench) sebagai langkah pertama dalam pengupasan tanah maupun pengupasan batubara, dengan alat gali berupa Bucket wheel Excavator (BWE). BWE diletakkan disetiap jenjang-jenjang penggalian tersebut yang kemudian untuk menggeruk lapisan penutup batubara maupun untuk mengeruk batubara itu sendiri. Dalam melakukan penambangan batubara, PT. Bukit Asam (Persero) Tbk menerapkan metoda tambang bawah tanah di Unit Penambangan Ombilin (UPO) dan metoda tambang terbuka di Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE). Proses penambangan batubara di TAL, seperti pada Gambar 11.

Gambar 11. Diagram Alir Proses Penambangan di Tambang Air Laya

a. Tambang Terbuka

27

Disebut juga tambang permukaan yang hanya memiliki nilai ekonomi bila lapisan batubara berada dekat dengan permukaan tanah. Tambang terbuka terdiri dari dua metoda, yaitu :
1. Penambangan menerus dengan Bucket Wheel Excavator (BWE).

Untuk pengangkutan batubara dari daerah penambangan digunakan coal conveyer ke lokasi tempat penumpukan (stock pile), yang selanjutnya melalui stasiun pemuat (train loading station atau TLS) batubara dimuatkan ke kereta api untuk diangkut ke pelabuhan. BWE merupakan alat gali muat yang cocok dipergunakan untuk material tanah penutup bijih yang lunak baik lapisan tipis maupun lapisan tebal, terutama yang berupa tanah atau lempeng, pasir merupakan serpih lunak dimana tidak terdapat formasi batuan yang keras. BWE dalam pengoperasiannnya ditunjang oleh : 1. 2. 3. Belf Wagon (BW) yang merupakan alat bantu untuk memperpanjang Hopper Car (HC) yang merupakan corong penerima material dari Cable Reel Car (CRC) yang berfungsi untuk menggerakkan HC jangkauan penggalian BWE. BW yang kemudian diteruskan ke Belt Conveyer yang berada dibawahnya. mengikuti arah penggalaian BWE. Dalam pengoperasiannya, alat ini dibantu oleh beberapa perangkat pembantu seperti : 1. Conveyer Excavating (CE) Merupakan conveyor pengangkut material yang diterima langsung dari BWE melalui BW dan HC untuk dibawa ke CS dan CDP, CE terdiri dari dua tipe yaitu dapat digeser dan CE yang tetap. 2. Conveyer Shuting (CS) Merupakan conveyor pengangkut material yang menghubungkan CE ke CDP 3. Conveyer Distribution Point (CDP)

28

Merupakan conveyor pengatur distribusian material tanah atau batuan ketempat penimbunan dengan cara memaju-mundurkan Hopper. Tanah akan dialirkan ke jalur Conveyer Dumping (CD), sedangkan batubara dialirkan ke Conveyer Coal (CC) 4. Conveyer Dumping (CD) Merupakan conveyer untuk mengangkut tanah yang diterima langsung dari CDP ke daerah penimbunan tanah diluar tambang. 5. Conveyer Coal (CC) Merupakan conveyer yang digunakan untuk mengangkut batubara yang diterima langsung dari CDP ke Stoke pile.

2. Penambangan Konvensional

Penambangan konvensional menggunakan alat gali mekanis (backhoe dragline) untuk menggali batubara dan lapisan tanah penutup. Sebagai alat transportasi digunakan dump truck untuk mengangkut batubara dan tanah penutup di lokasi tambang.

b. Tambang Bawah Tanah Digunakan pada penambangan ombilin yang meliputi tambang terbuka dengan metode konvensional dan tambang bawah tanah (underground mining). 2.2.2 Proses Penumpukkan Hasil kerukan yang berupa tanah maupun batubara dari BWE dialirkan ke unit Stock pile dengan menggunakan alat Belt Conveyer akan ditimbuk atau ditimbun di Stock pile oleh Stracker/Reclainer (S/R), dimana Stracker/Reclainer berfungsi untuk menyebarkan batubara di Stock pile yang diteruskan ke Train Loading Station (TLS). Selain itu alat ini juga berfungsi sebagai pengambil atau

29

penggali kembali batubara yang selanjutnya disalurkan ke Train Loading Station, yang merupakan stasiun pemuat batubara ke gerbong kereta api. 2.2.3 Penyaluran Batubara Tanah penutup sebelum batubara ditambang akan terpisah dengan batubara di Conveyer Dumping (CD). Tanah penutup batubara dialirkan menggunakan Conveyer Dumping (CD) dan akan dihamparkan diluar daerah penambangan dengan menggunakan alat Spreader. Sedangkan batubaranya dialirkan ke Train Loading Station menggunakan Belt Conveyer. Di Train Loading Station, batubara selanjutnya dikirim ke Pelabuhan Tarahan dan Kertapati menggunakan Kereta Api Babaranjang. 2.3 Produk Berdasarkan klasifikasi batubara yang ditetapkan PTBA, mulai dari penambangan sampai dengan batubara dijual kepada konsumen batubara. Produk batubara Bukit asam mulai dari lokasi penambangan sampai dengan lokasi pelabuhan (dermaga Kertapati dan pelabuhan tarahan) disebut produk tambang (Mine Brand), dan produk batubara yang siap dikirim PTBA ke konsumen batubara disebut produk pasar (Market Brand) berdasarkan KEPUTUSAN DIREKSI PT. BUKIT ASAM (PERSERO), Tbk Nomor : 134/KEP/Int-0100/PR.08/2010. Spesifikasi kualitas batubara Bukit asam, seperti pada Tabel 6. dibawah ini : Parameter Tabel 2. Spesifikasi Kualitas Batubara PT. Bukit Asam TE 55 TE 59 TE63 TE 67 5.500-5600 23,76-29,64 11,79-18,12 4,48-10.90 36,67-40,70 36,70-40,15 5.601-6.000 23,54-29,51 11,10-15,91 3,41-7,56 38,34-42,06 39,06-42,30 6.100-6.400 19,47-28,52 9,80-13,54 2,58-6,27 39,61-42,76 41,29-44,08 6.401-6.800 13,57-20,32 6,56-10,74 2,30-6.93 39,86-42,99 43,48-46,95 TE 70 6.801-7.200 9,44-15,89 4,46-8,09 2,25-5,86 40,17-41,00 46,40-49,70

CV (kkal/kg, adb) TM (%, ar) IM (%, adb) Ash (%, adb) VM (%, adb) FC (%, adb)

30

TS (%, adb)

0,12-1,01

0,08-0,94

0,53-1,87

0,21-0,93

0,17-1,18

Sumber : Laboratoriu m PT Bukit Asam Tanjung Enim, 2012 Keterangan : CV = Calorific Value TM = Total Moisture IM = Inherent Moisture VM = Volatile Matter FC = Fixed Carbon TS = Total Moisture

2.3.1

Kualitas Batubara Kualitas batubara dapat dinyatakan dengan parameter yang ditunjukkan

pada saat memberikan perlakuan panas terhadap batubara, cara ini biasa disebut Analisa proksimat dan analisa ultimat. Parameter-parameter yang terukur pada analisa proksimat adalah kandunagn abu, lengas tertanbat (inherent moisture), kadar karbon, hydrogen, sulfur, nitrogen dan oksigen. Pengujian sifat fisik batubara yang juga sering dilakukan yaitu pengujian nilai kalor (Calorific Value), indeks kegerusan hirdgrove (Hirdgrove Gridability Index), analisis titik leleh abu (Ash Fusion Temperature), pengujian nilai muai bebas (Free swelling Index) dan lainlain. 1. Lengas (Moisture) a. Lengas permukaan (Free Moisture) merupakan lengas yang berada pada permukaan batubara akibat pengaruh dari luar seperti cuaca, iklim, penyemprotan di stock pile pada saat penimbangan atau pada saat transportasi batubara. b. c. Lengas tertambat (Inherent Moisture) merupakan nilai yang Lengas total (Total Moisture) merupakan banyaknya air yang menunjukkan persentasi lengas yang terikat secara kimiawi batubara. terkandung dalam batubara sesuai dengan kondisi diterima, baik yang treikat secara kimiawi maupun akibat pengaruh kondisi luar seperti iklim, ukuran butiran, maupun proses penambangan. 2. Zat Terbang (Volatile Matter)

31

Zat terbang (Volatile Matter) merupakan nilai yang menunjukkan persentasi jumlah zat-zat terbang yang terkandung didalam batubara, seperti H2, CO, metan dan uap-uap yang mengembun seperti gas CO2, dan H2O. Volatile Matter sangat erat kaitannya dengan rank batubara, makin tinggi kandungan Volatile Matter makin rendah kelasnya. Dalam pembakaran batubara dengan Volatile Matter tinggi akan mempercepat pembakaran Karbon Padat (Fixed Carbon/FC). Sebaliknya bila Volatile Matter rendah mempersulit proses pembakaran. Volatile Matter merupakan saah satu parameter yang sangat penting dalam klasifikasi batubara. Di samping itu, Volatile Matter juga dipakai sebagai parameter dalam penentuan proporsi pencampuran (blending). 3. Abu (Ash) Abu didalam batubara atau bisa disebut mineral metter yaitu yang dapat dicuci dari batubara extraneous mineral matter yang tidak dapat dicuci atau dihilangkan dari batubara. Kandungan Abu adalah zat organik yang dihasilkan setelah batubara dibakar. Kandungan abu dapat dihasilkan dari pengotoran bawaan dalam proses pembentukan batubara maupun pengotoran yang berasal dari proses penambangan. Kandungan abu terutama sodium (Na2O) sangat berpengaruh terhadap titik leleh abu dan dapat menimbulkan pengotoran atau kerak pada peralatan pembakaran batubara. 4. Karbon tertambat (fixed carbon) Merupakan karbon yang tertinggal sesudah pendeterminasian zat terbang. Dengan adanya pengeluaran zat terbang dan kandungan air maka, karbon tertambat secara otomatis akan naik sehingga makin tinggi kandungan karbonnya, kelas batu bara semakin baik. Karbon tertambat menggambarkan penguraian sisa komponen organik batubara dan mengandung sebagian kecil unsur kimia nitrogen, belerang, hidrogen dan oksigen atau terikat secara kimiawi. Perbandingan antara karbon padat dengan zat terbang disebut Fuel ratio. Berdasarkan fuel ratio tersebut dapat ditentukan derajat batubara. 5. Bentuk-bentuk sulfur dan Total sulfur Kandungan belerang total (total sulfur) adalah jumlah kandungan belerang secara keseluruhan yang terkandung dalam batubara yang berasal dari belerang

32

pirit, sulfat dan anorganik. Analisa kandungan belerang atau sulfur ini dalam batubara menggunakan pembakaran pada suhu tinggi. Batubara ukuran 0,212 mm sebanyak 0,3200 0,3500 gr akan dibakar dengan suhu 1350oC dengan laju alir oksigen 3,5 l/menit. Sehingga terbentuklah reaksi oksidasi antara sulfur dan O2 menjadi SO2 dan H2O selanjutnya SO2 dan H2O akan dilewatkan ke magesium perklorat untuk menyerap H2O. Selanjutnya SO2 akan dianalisa kadarnya dengan menggunakan sinar IR dan hasil penyinaran IR akan dibaca oleh detektor. Pembakaran dan penganalisaan kadar sulfur ini 180 detik dengan basis adb dan ar tergantung dari permintaan pasar, adb untuk normal test dan ar untuk quick test Sulfur didalam batubara terdapat dalam tiga bentuk yaitu : a. Sulfur Pirintik Jumlahnya sekitar 20%-30% dari sulfur total dan terasosiasi dalam abu. b. Sulfur Organik Jumlahnya sekitar 20%-80% dari sulfur organik total dan terikat secara kimiawi didalam batubara. c. Sulfur Sulfat Kebanyakan sebagai kalsium sulfat, natrium sulfat, dan besi sulfat. 6. Nilai kalor Nilai kalor batubara adalah pans yang dihasilkan oleh pembakaran setiap satuan berat batubara pada kondisi standar. Terdapat 2 macam nilai kalor yaitu: a. Nilai kalor net (net calorific value) yang merupakan nilai kalor pembakaran dimana semua air (H2O) dihitung dalam keadaan wujud gas. b. Nilai kalor gross (gross calorific value) yang merupakan nilai kalor pembakaran dimana semua air (H2O) dihitung dalam keadaan wujud cair. 7. Kegerusan Hardgrove Nilai kegerusan adalah angka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus. 8. Ash Fusion Temperature (Titik leleh abu) Titik leleh abu adalah suhu yang menunjukkan terjadinya perubahan karakteristik dari abu batubara apabila dipanaskan pada kondisi standar.

33

9. Free swelling Index (nilai muai bebas) Nilai muai bebas adalah angka yang menunjukkan kecendrunagan melelehnya batubara menjadi material yang mencair dan kemudian mengeras membentuk kokas ketika batubara dipanaskan.. 10. Trace Elements Dalam batubara juga terdapat unsur-unsur minor yang dapat membantu ahli geokimia mempelejari lebih lanjut tenteng penegndapan batubara dengan diikuti sejarah geologi batubara. Beberapa unsur yang ada dalam jumlah sangat kecil 9trace elements) yaitu boron, arsen, klor, fluor, dan fosfor. Boron digunakan sebagai indikator tingkat salinitas lingkungan selama proses pembentukan batubara. Arsen, selenium dan merkuri sering ada dalam jumlah trace didalam batubara dan dapat berbahaya pada lingkunagn jika dibebaskan pada waktu pembakaran batubara. Kualitas batubara ditentukan berdasarkan hasil analisis terhadap beberapa parameter, seperti pada Tabel 3. yaitu: Tabel 3. Basis Pelaporan Kualitas Batubara
No 1 2 Parameter Total Moisture (TM) Analisa Proksimat - Inherent Moisture (IM) - Ash Content (A) - Volatile Matter (VM) - Fixed Carbon (FC) Analisa ultimat - Karbon - Hidrogen - Nitrogen - Sulfur - Oksigen Bentuk Sulfur - Sulfur Printik - Sulfur Organik - Sulfur Sulfur Total Sulfur Basis Pelaporan As reseived (ar) Air Dried (ad) Keterangan Untuk transportasi dan perhitungan parameter lain Sebagai data dasar dalam mendeskripsikan jenis batubara. Jumlahnya sama dengan 100%

Dry Mineral Matter Free (dmmf)

Dihitung koreksi kadar TM dan Mineral Matter. Jumlahnya = 100%. Kadar hidrogen dan oksigen penting dalam memperkirakan nilai kalor bersih (net calorific value) dari data nilai kalor. Memberikan informasi tentang produk pembakaran sulfur selama pembakaran dan karbonisasi. Jumlahnya sama dengan sulfur total. Berkaitan dengan masalah lingkungan

Air dried

Air dried

34

6 7

Nilai Kalor (MJ/kg) Analisa Abu - SiO2 - MgO - AL2O3 - Na2O - Fe2O3 - K2O - TiO2 - P2O5 - Mn3O5 - SO3 - CaO Ash Fusion temperature - ISO A (IDT) - ISO B (MT) - ISO C (FT) Hardgrove Grindability index (HGI)

Kotor, Air dried Total Abu

Penting bila batubara sebagai bahan bakar. 1MJ/kg = 430 Btu/lb = 239 kkal/kg Penting untuk memperkirakan sifat abu, khususnya untuk mengidentifikasi komponen tertentu yang dapat memberikan masalah saat pemakaiannya.

Air dried

Penting dalm memperkirakan sifat abu. Umumnya diukur dibawah kondisi oksidasi dan reduksi Memberikan informasi sulit atau mudahnya batubara untuk digerus.

Sumber: Meyra. 2010

2.4 Utilitas Utilitas yang mendukung operasional penambangan di PT. Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk terdiri dari jaringan air dan listrik. 2.4.1 Penyediaan Kebutuhan Air Mengingat kebutuhan air sangat penting, maka PT. Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk mendirikan tempat pengolahan air bersih sendiri yang sangat baik dan sangat mencukupi kebutuhan perkantoran, rumah sakit (kesehatan), perumahan, dan fasilitas umum lainnya. Sumber air bersih PT. Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk berasal dari sungai enim yang diolah instansi air bersih. Tempat pengolahan air bersih ini terletak ditepi sungai enim, yang diberi nama Water Treatment Plant (WPT) Sistem pengolahan air bersih di Water Treatment Plant kramat secara besar dimulai dengan menghisap air sungai sebagai bahan baku dengan pompa intake dan dialirkan menuju ke bak prasedimentasi dan disini terjadi pengendapan awal . Air dari bak prasedimentasi akan masuk kedalam bak pengaduk cepat dan ditambahkan tawas untuk proses koagulasi agar tewas bentuk koagulan bak pengaduk cepat, air akan terus mengalir ke bak pengaduk lambat agar koagulan yang terbentuk semakin

35

banyak dan pada flokulator ini ditambahkan larutan kapur tohor untuk menaikkan pH air agar menjadi netral. Dari flokulator air akan masuk ke bak sedimentasi dan pada bak sedimentasi ini akan terjadi pemisahan air yang jernih dan sisa koagulan yang terbentuk. Air yang jernih akan masukn ke filter kemudian kan mengalir menuju bak penampung air bersih dan ditambahkan kaporit untuk membunuh bakteri yang terdapat dalam air. Dari bak penampungan air kan dialirkan ke Water tank 1 dan water tank 2. Dapun sistem pendistribusi sebagai berikut : 1. Dari Water Treatment Plant air dipompakan menuju Water Tank 1 untuk daerah perkantoran dan pertambangan 2. Dari Water Treatment Palnt air dipompakan menuju Water Tank 2 untuk daerah perumahan, rumah sakit, dan fasilitas lainnnya. 2.4.2 Penyediaan Kebutuhan Listrik Sumber listrik yang digunakan oleh PT. Bukit Asam (Persero) Tbk berasal dari PT. PLN Bukit Asam (Persero) dengan kapasitas sebesar 5.500 KVA (Kilo volt ampere), tegangan 3 phasa, 20.000 volt, 50 HZ. Sumber listrik digunakan untuk perkantoran Bukit Asam, Perumahan Bukit Asam, Rumah Sakit Bukit Asam dan fasilitas lainnya. Sumber listrik ini disuplai melalui Gardu Induk Sentral Bukit Asam dengan tegangan listrik yang digunakan Laboratorium Tanjung Enim (Analisa Batubara dan AMDAL (Analisis Mengenai dampak lingkungan)) PT. Bukit Asam (Persero) sebesar 3 phasa, 380 volt, 50bHz digunakan untuk instalansi penerangan dengan total kapasitas 197 KVA. Selain menggunakan sumber listrik dari PT. PLN Bukit Asam (Persero) juga menggunakan sumber listrik cadangan dengan mengoperasikan generator yang kapasitasnya 875 KVA, tegangan 3 phasa, 380 volt, 50 Hz. Generator digunakan apabila sumber listrik dari PT. PLN Bukit Asam (Persero) mengalami gangguan atau mati lampu. 2.5 Pengelolaan Lingkungan

36

PT Bukit Asam (Persero), Tbk telah melakukan kebijakan dalam pengelolaan dan pematauan lingkungan demi tercapainya tujuan agar dapat menambang batubara dengan cara ramah lingkungan serta tidak merugikan masyarakat sekitar daerah penambangan. PTBA sangat serius dalam menangani berbagai masalah lingkungan di sekitar wilayah pertambangan maka dari itu PTBA telah menerapkan sistem pemantauan yang terdiri dari beberapa bidang seperti: 2.5.1 Kualitas Air Baku mutu air yang telah ditetapkan untuk sungai berdasarkan SK Gubernur Sumatera Selatan No.16 tahun 2005 terdiri dari berbagai parameter yaitu: a. pH b. TDS c. Mn d. Fe =69 = 50 mg/l = 0.1 mg/l = 0.3 mg/l

Kualitas air di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air, SK Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan No.37 tahun 2003 tentang metode pengujian kualitas air permukaan dan contoh air permukaan dan peraturan Perundang-undangan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan No.18 tahun 2005. Dalam proses penambangan Batubara akan menghasilkan air asam yang akan dialirkan kembali ke sungai Air Laya, namun air asam memiliki kandungan asam yang tinggi dan mengandung material yang berbahaya bagi lingkungan seperti (Fe dan Mn) maka dari itu sebelum air tersebut dibuang harus diolah di Kolam Pengendap. Kolam pengendap berupa kolam yang dibuat diatas tanah langsung dan dirancang sedemikian rupa sehingga ketika air asam dilewatkan akan mengendapkan bahan-bahan terlarut secara bertahap dari kolam awal (depan) ke kolam selanjutnya. Selain berfungsi sebagai kolam pengendap bahan terlarut kolam ini berfungsi menetralkan nilai kandungan asam dengan mencampurkan kapur (CaCO3) ke kolam yang ke-2 atau ke-3 (pilihan operator), dan keluaran air di kolam ujung akan diuji parameter-parameter kualitasnya di Laboratorium PTBA dalam jangka waktu dua minggu sekali dan dalam jangka waktu 3 bulan juga di uji oleh pihak ketiga yaitu Baristand propinsi Sumatera Selatan.

37

2.5.2 Kualitas Udara Udara yang bersih sangat dibutuhkan bagi para pekerja tambang juga bagi makhluk hidup lainnya telah mengeluarkan SK Menteri KLH No. Kep. 13/MENKLH/3/1995 yang salah satunya berisi kadar debu yang masih diizinkan yaitu 230 mg/m3 dengan kadar zat-zat seperti:
-

CO NOx NO2 SOx

= 3 x 105 mg/m3 = 1000 mg/m3 = 400 mg/m3 = 800 mg/m3

Debu banyak berasal dari proses spreading di stockpile yaitu ketika debunya dengan menyemprotkan air dari atas spreader ke batubara yang berjatuhan. PTBA juga telah bekerjasama dengan pihak Bappeda untuk menguji kadar debu di sekitar daerah tambang. 2.5.3 Kualitas Tanah Pada proses penggalian batubara yang terdapat didalam tanah, tanahnya harus dikeruk terlebih dahulu lalu dihamparkan di suatu lokasi dan terus ditumpuk selama proses penggalian berlangsung. Suatu daerah tambang yang telah habis batubaranya selalu meninggalkan lokasi (area) bekas penambangan. Hal ini merupakan suatu permasalahan tersendiri yang dihadapi oleh PTBA. Oleh karena itu, PTBA telah bekerjasama dengan UNSRI untuk melakukan pengujian atas kualitas tanah setelah penambangan dan telah menyiapkan beberapa cara yang dapat dilakukan guna mengelola lokasi bekas penambangan. Cara-cara tersebut antara lain: a. Menimbun daerah bekas tambang menggunakan tanah penutup b. Memadatkan tanah penutup menggunakan buldozer c. Membuat dam dari batu pecah untuk pengendalian erosi d. Membuat kolam pengendap lumpur e. Melakukan revegetasi atau penanaman kembali pada daerah bekas penambangan

38

2.5.4 Vegetasi dan Satwa Liar Sebelum digali lokasi penambangan merupakan daerah perhutanan yang banyak hidup berbagai jenis vegetasi dan satwa liar. Untuk tetap melestarikan vegetasi telah di lakukan reklamasi atau pembangunan wilayah hutan kembali dan secara tidak langsung akan secara bertahap mengembalikan satwa-satwa liar yang telah lari ke hutan lain. Selain menjaga hewan dan vegetasi darat PTBA juga memperhatikan biota air dengan bekerjasama dengan Bappeda untuk melestarikan biota air. 2.5.5 Revegetasi Revegetasi bertujuan memulihkan lahan yang sudah final akibat penambangan. Manfaatnya, antara lain, merehabilitas lahan yang rusak/gundul, menghindari kelongsoran pada lereng-lereng bekas galian atau timbunan, mencegah erosi oleh air permukaan, mengembalikan fungsi lahan daerah yang telah terganggu, dan menampilkan bukti bahwa kegiatan penambangan ramah dengan alam. Ada sejumlah lokasi bekas aktivitas penambangan yang harus dilakukan kegiatan revegetasi. Lokasi-lokasi itu meliputi daerah galian (mined out pit) yang sudah final, daerah timbunan yang belum final tapi ditinggalkan sampai dua tahun berpotensi terjadi erosi, serta area kegiatan penunjang yang ditinggalkan. Agar proses revegetasi berjalan dengan baik, maka harus disediakan bibit yang baik melalui proses pembibitan. Penanaman dilakukan pada daerah yang sudah ditata dan dihamparkan dengan tanah pucuk yang terdiri atas tanah humus dan tanah merah yang merupakan hasil pelapukan tanah induk. Sebelum penanaman, dilakukan kajian tentang kriteria tanaman yang cocok untuk lahan yang akan direvegetasi dengan memperhatikan rekomendasi pihakpihak yang berkepentingan (stakeholders) atau sesuai dengan dokumen amdal. Jenis-jenis tanaman harus memenuhi persyaratan untuk reklamasi. Persyaratan itu adalah sesuai dengan kegunaan reklamasi, mudah diperbanyak secara generatif, toleran terhadap pemangkasan, mampu memberikan unsur-unsur kesuburan tanah, tahan terhadap kekeringan dan perawatan minim, mempunyai daya adaptasi yang

39

tinggi, tahan terhadap hama, mampu mengendalikan gulma, dan tidak mempunyai sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau banyak sulur yang membelit.

BAB III PENUTUP PT. Bukit Asam (Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 02 Maret 1981 dengan dasar peraturan pemeritah No. 42 tahun 1980 berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Penambangan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, diawali dengan kegiatan eksplorasi pada tahun 1915 1918 dan produksi pertama kali pada tahun 1919, batubara yang telah dieksploitasi dari tahun 1919 1987 sebanyak kurang lebih 23 juta ton. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk memiliki dua unit produksi, yaitu (1) Unit Tambang Batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan terdiri dari Tambang Air Laya, Tambang non Air Laya, Tambang Banko Barat, Tambang Muara Tiga Besar.(2) Unit penambangan Ombilin, Sumatera Barat terdiri dari, Tambang terbuka, Tambang Bawah tanah. Untuk mendukung produktivitas dan efisiensi kerja PT. Bukit Asam (Persero) Tbk mengoperasikan tiga pelabuhan khusus batubara yaitu Pelabuhan Tarahan (Lampung), Pelabuhan Kertapati (Sumatera Selatan), Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat).

40

Metode penambangan batubara di PT. Bukit Asam Tanjung Enim terdiri dari 2 metoda yaitu (1) Metode penambangan menerus dengan Bucket Wheel Excavator (BWE). (2) Metode penambangan konvensional menggunakan alat gali mekanis (backhoe dragline) untuk menggali batubara dan lapisan tanah penutup. Sebagai alat transportasi digunakan dump truck untuk mengangkut batubara dan tanah penutup di lokasi tambang. Spesifikasi kualitas batubara PT. Bukit Asam (Persero), Tbk (Mine Brand), antara lain : TE 55 (5500-5600 kkal/kg adb), (TS 0,14-1,01 % adb) TE 59 (5601-6000 kkal/kg, adb), (TS 0,08-0,94 % adb) TE 63 (6001-6400 kkal/kg, adb), (TS 0,08-1,87 % adb) TE 67 LS (6401-6800 kkal/kg, adb), (TS 0,24-0,70 % adb) TE 67 HS (6401-6800 kkal/kg, adb), (TS 0,71-1,48 % adb) TE 70 LS (6801-7200 kkal/kg, adb), (TS 0,22-0,70 % adb) TE 70 HS (6801-7200 kkal/kg, adb), (TS 0,71-2,07 % adb) TE 76/ANS (7501-8167 kkal/kg, adb), (TS 0,23-1,42 % adb) Metode standar yang digunakan untuk analisis kualitas batubara adalah ASTM ( American Society for Testing and Materials) dan BS (British Standard). Dalam sistem pemasaran untuk mencapai sasaran penjualan, PTBA telah menetapkan kebijaksanaan dan strategi pemasaran. PTBA telah mempunyai sistem pemasaran yang dapat menembus pasar nasional maupun pasar internasional. Ekspor terbesar PTBA untuk tahun ini yaitu ke China naik sekitar 63 persen dari realisasi ekspor ditahun 2010 selanjutnya Jepang, Taiwan, Malaysia, India, Korea, Thailand, dan Pakistan. Pada tahun 2010, PTBA telah menjual sebesar 12,224 juta ton batubara, dengan kontribusi ekspor batubara sebesar 4,46 juta ton, dan penjualan di dalam negeri 7,764 juta ton.

41

Unit utilitas sumber air bersih PT. Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk berasal dari sungai enim yang diolah instansi air bersih. Dan sumber listrik yang digunakan oleh PT. Bukit Asam (Persero) Tbk berasal dari PT. PLN Bukit Asam (Persero) dengan kapasitas sebesar 5.500 KVA (Kilo volt ampere), tegangan 3 phasa, 20.000 volt, 50 HZ. Selain menggunakan sumber listrik dari PT. PLN Bukit Asam (Persero) juga menggunakan sumber listrik cadangan dengan mengoperasikan generator yang kapasitasnya 875 KVA, tegangan 3 phasa, 380 volt, 50 Hz. Untuk pengolahan lingkungan PT Bukit Asam (Persero), Tbk telah melakukan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan demi tercapainya tujuan agar dapat menambang batubara dengan cara ramah lingkungan serta tidak merugikan masyarakat sekitar daerah penambangan. PTBA sangat serius dalam menangani berbagai masalah lingkungan di sekitar wilayah pertambangan maka dari itu PTBA telah menerapkan sistem pemantauan yang terdiri dari beberapa bidang seperti kualitas air, kualitas udara, kualitas tanah, vegetasi, satwa liar, dan revegetasi DAFTAR PUSTAKA Bisman, S dan Thoufiq, R. 2009. Pengujian Kualitas Batubara.PT. Bukit Asam (Persero), Tbk: Tanjung Enim Firmansyah, M. 2009 Kontrol Kualitas Batubara. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim. Hadi, Anwar. 2007. Pemahaman dan Penerapanm ISO/IEC 17025 : 2005. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Harmita. 2010. Petunjuk pelaksanaan validasi Metode dan cara Perhitungannya. www.wikipedia. Petunjuk pelaksanaan validasi Metode dan cara Perhitungannya. Departemen Farmasi FMIFA-UI.diakses pada tanggal 15 maret 2012. Meyra. 2010. Verifikasi dan validasi metode di laboratorium. http://www.chem-istry.org/artikel_kimia/kimia_analisis/verifikasi-dan-validasi-metoda-dilaboratorium, diakses pada tanggal 15 maret 2012. Meyra. 2010. Verifikasi dan Validasi Metode. http://yanharasitompul.blogspot. com. Verifikasi dan Validasi metode, diakses pada tanggal 15 maret 2012.

42

Meyra. 2010. Validasi Metode Pengujian. http://iyakuyagaya.wordpress.com. validasi-metode-pengujian, diakses pada tanggal 15 Maret 2012. Meyra. 2010. Akurasi Presisi. http://www.raharjo.org/gps/antara-akurasiaccuracy-precision.html, diakses pada tanggal 15 maret 2012. Sunarijanto, dkk. 2008. Batubara. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk : Jakarta. Triprapto. 2009. Tata Cara Kerja Analisa TM Batubara. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk: Tanjung Enim. Utami, Galuh. 2010. Peta Pengendali kualitas Batubara. PT. Bukit Asam (Persero),Tbk, tanjung Enim. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Negeri Yogyakarta.